KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

dokumen-dokumen yang mirip
GAYA HIDUP DAN STATUS GIZI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS PADA PRIA DAN WANITA DEWASA DI DKI JAKARTA SITI NURYATI

METODE. Tabel 5 Pengkategorian variabel penelitian Variabel

Oleh: Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS Siti Nuryati, STP, MSi Muhammad Aries

PENDAHULUAN Latar Belakang

GAYA HIDUP DAN STATUS GIZI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN DIABETES MELITUS PADA WANITA DEWASA DI DKI JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus dilindungi dan

I. PENDAHULUAN. WHO (2006) menyatakan terdapat lebih dari 200 juta orang dengan Diabetes

BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk dunia meninggal akibat diabetes mellitus. Selanjutnya pada tahun 2003

Gambar Kerangka pemikiran hubungan faktor gaya hidup dengan kegemuka pada orang dewasa di Provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta, dan Gorontalo.

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi memiliki istilah lain yaitu silent killer dikarenakan penyakit ini

BAB I PENDAHULUAN. dari sepuluh masalah kesehatan utama di dunia dan kelima teratas di negara

BAB I PENDAHULUAN. Diabetes mellitus dapat menyerang warga seluruh lapisan umur dan status

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tubuh dan menyebabkan kebutaan, gagal ginjal, kerusakan saraf, jantung, kaki

7 Kebiasaan Penyebab Kadar Gula Darah Melonjak

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

HASIL PENELITIAN HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK DENGAN TEKANAN DARAH PADA NELAYAN DI KELURAHAN BITUNG KARANGRIA KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO

KUESIONER PENELITIAN PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP KEJADIAN STROKE BERULANG DI RSUD DR. PIRNGADI MEDAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. risiko PJK kelompok usia 45 tahun di RS Panti Wilasa Citarum

BAB I PENDAHULUAN. kematian yang terjadi pada tahun 2012 (WHO, 2014). Salah satu PTM

BAB I PENDAHULUAN. lum masa dewasa dari usia tahun. Masa remaja dimulai dari saat pertama

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penduduk Indonesia pada tahun 2012 mencapai 237,64 juta jiwa. Hal ini

BAB 1 PENDAHULUAN. penduduk. Menurut Kemenkes RI (2012), pada tahun 2008 di Indonesia terdapat

BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 90% penderita diabetes di seluruh dunia merupakan penderita

Konsumsi Pangan Sumber Fe ANEMIA. Perilaku Minum Alkohol

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. yang mendadak dapat mengakibatkan kematian, kecacatan fisik dan mental

BAB 1 PENDAHULUAN. aktivitas fisik dan meningkatnya pencemaran/polusi lingkungan. Perubahan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. makanan dan penggunaan zat-zat gizi yang dibedakan menjadi status gizi

BAB I PENDAHULUAN. 2009). Penyakit hipertensi sering disebut sebagai the silent disease atau penderita tidak

Lampiran Kuesioner KUESIONER GAMBARAN PERILAKU PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS NANGGALO TAHUN 2017

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkannya. Bila kondisi tersebut berlangsung lama dan menetap, maka dapat menimbulkan penyakit hipertensi.

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit degeneratif merupakan transisi epidemiologis dari era penyakit

BAB I PENDAHULUAN. terbesar di dunia. Menurut data dari International Diabetes Federation (IDF)

BAB 1 PENDAHULUAN. penyakit tidak menular banyak ditemukan pada usia lanjut (Bustan, 1997).

Saat ini, Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi penyebab kematian. utama sebesar 36 juta (63%) dari seluruh kasus kematian yang terjadi di

BAB 1 : PENDAHULUAN. kemungkinan diskriminasi dari lingkungan sekitar. Gizi lebih yang terjadi pada remaja,

BAB I PENDAHULUAN. dunia, lebih dari 1 milyar orang dewasa adalah overweight dan lebih dari 300

KORELASI PERILAKU MEROKOK DENGAN DERAJAT HIPERTENSI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN BANJARBARU

KARAKTERISTIK FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INSIDENSI DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAYANG DAN LEDOKOMBO

BAB I PENDAHULUAN. secara Nation Wide mengingat prevalensinya cukup tinggi umumnya sebagian

BAB 1 : PENDAHULUAN. pergeseran pola penyakit. Faktor infeksi yang lebih dominan sebagai penyebab

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kesejahteraan penduduk saat ini diketahui menyebabkan peningkatan usia harapan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gizi lebih adalah masalah gizi di negara maju, yang juga mulai terlihat

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) di dunia masih

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. didominasi oleh penyakit infeksi bergeser ke penyakit non-infeksi/penyakit tidak

BAB I. Pendahuluan. diamputasi, penyakit jantung dan stroke (Kemenkes, 2013). sampai 21,3 juta orang di tahun 2030 (Diabetes Care, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan transisi epidemiologi. Secara garis besar transisi epidemiologi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, yaitu adanya

BAB I PENDAHULUAN. gizi terjadi pula peningkatan kasus penyakit tidak menular (Non-Communicable

BAB 1 PENDAHULUAN. kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. (Awad,

BAB I PENDAHULUAN. pada beban ganda, disatu pihak penyakit menular masih merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu masalah yang dapat timbul akibat perkembangan jaman. adalah gaya hidup tidak sehat yang dapat memicu munculnya penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh PTM terjadi sebelum usia 60 tahun, dan 90% dari kematian sebelum

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. dapat ditarik simpulannya sebagai berikut : 1. Penderita hipertensi lansia di Desa Pingit Kecamatan Pringsurat

SATUAN ACARA PENYULUHAN MASALAH KESEHATAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)

BAB I PENDAHULUAN. di negara maju maupun negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Data

BAB I PENDAHULUAN. terus menerus mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari data WHO

B. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Lokasi penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kedungkandang. Waktu pelaksanaan April 2017.

dan rendah serat yang menyebabkan pola makan yang tidak seimbang.

BAB 1 PENDAHULUAN. dari persentase pria dan wanita dari penduduk lanjut usia berdasarkan estimasi

KERANGKA ACUAN PROGRAM PENYAKIT TIDAK MENULAR(PTM) Penyakit tidak menular (PTM) diperkirakan sebagai penyebab 58 juta kematian

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan kesehatan menuju hidup sehat 2010 yaitu meningkatkan

IMPLEMENTASI PENGENDALIAN FAKTOR RISIKO PTM DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT. Kepala Dinas Kesehatan Prov Kalbar Dr. Andy Jap, M.Kes

BAB 1 PENDAHULUAN. transisi epidemiologi. Secara garis besar proses transisi epidemiologi adalah

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. berpenghasilan rendah dan menengah. Urbanisasi masyarakat

I. PENDAHULUAN. tahun. Peningkatan penduduk usia lanjut di Indonesia akan menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. tidak adanya insulin menjadikan glukosa tertahan di dalam darah dan

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun terus meningkat, data terakhir dari World Health Organization (WHO)

BAB I PENDAHULUAN. disikapi dengan baik. Perubahan gaya hidup, terutama di perkotaan telah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung koroner (PJK) atau di kenal dengan Coronary Artery

BAB I PENDAHULUAN. tetapi kurang serat (Suyono dalam Andriyani, 2010). Ketidakseimbangan antara

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa Diabetes melitus

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pesat. Penyakit degeneratif biasanya disebut dengan penyakit yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh perilaku yang tidak sehat. Salah satunya adalah penyakit

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG. Secara global, penyakit terkait dengan gaya hidup. dikenal sebagai penyakit tidak menular (PTM).

Transkripsi:

53 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Faktor-faktor risiko hipertensi pada pria berdasarkan nilai odds ratio (OR) tertinggi ke terendah adalah: 1.1. Konsumsi minuman alkohol jenis tradisional berisiko 9.0 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi obes) dibanding yang tidak pernah minum alkohol. 1.2. Umur > 45 tahun berisiko 7.8 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi obes) dibanding umur < 45 tahun. 1.3. Umur > 45 tahun berisiko 5.2 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi tidak obes) dibanding umur < 45 tahun. 1.4. Umur > 45 tahun berisiko 3.3 kali lebih tinggi terkena hipertensi dibanding umur < 45 tahun. 1.5. Umur > 45 tahun berisiko 2.6 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding umur < 45 tahun. 1.6. Gangguan mental emosional berisiko 2.2 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi tidak obes) dibanding yang tidak mengalami gangguan emosional. 1.7. Gangguan mental emosional berisiko 2.2 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi obes) dibanding yang tidak mengalami gangguan emosional. 1.8. Status gizi kurus berisiko 1.9 kali lebih tinggi terkena hipertensi dibanding yang status gizinya normal.

54 1.9. Merokok setiap hari berisiko 1.7 kali lebih tinggi terkena hipertensi dibanding yang tidak pernah merokok. 1.10. Status gizi gemuk berisiko 1.5 kali lebih tinggi terkena hipertensi dibanding yang status gizinya normal. 1.11. Konsumsi buah dan sayur > 3 hari/minggu berisiko terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding yang konsumsinya < 3 hari/minggu. Hal ini kemungkinan karena gaya hidup yang lebih buruk pada pria obes yang mengkonsumsi buah dan sayur > 3 hari/minggu dibandingkan dengan yang konsumsi buah dan sayurnya < 3 hari/minggu, atau mungkin juga porsi konsumsinya yang terlalu rendah. 1.12. Merokok > 15 batang/hari berisiko terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding yang tidak pernah merokok. 1.13. Konsumsi buah dan sayur > 3 porsi/hari berisiko 30% lebih kecil terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding yang konsumsinya < 3 porsi/hari. 1.14. Merokok kadang-kadang berisiko 40% lebih kecil terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding yang tidak pernah merokok. Hal ini karena gaya hidup pria bukan perokok yang lebih buruk disbanding pria yang merokok kadangkadang. 1.15. Minuman alkohol jenis anggur/wine memberikan efek protektif/risiko lebih rendah 50% terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi tidak obes) dibanding yang tidak pernah mengkonsumsi alkohol. 1.16. Rokok putih dan rokok filter berisiko lebih rendah 50% terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi tidak obes) dibanding rokok non putih dan non filter.

55 1.17. Rokok putih dan rokok filter berisiko lebih rendah 60% terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding rokok non putih dan non filter. 2. Faktor-faktor risiko hipertensi pada wanita berdasarkan nilai odds ratio (OR) tertinggi ke terendah adalah: 2.1. Umur > 45 tahun berisiko 5.6 kali lebih tinggi terkena hipertensi dibanding umur < 45 tahun. 2.2. Gangguan mental emosional berisiko 5.4 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi tidak obes) dibanding yang tidak mengalami gangguan mental emosional. 2.3. Umur > 45 tahun berisiko 4.8 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi obes) dibanding umur < 45 tahun. 2.4. Umur > 45 tahun berisiko 4.7 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi tidak obes) dibanding umur < 45 tahun. 2.5. Umur > 45 tahun berisiko 3.6 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding umur < 45 tahun. 2.6. Gangguan mental emosional berisiko 2.2 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi tidak obes) dibanding yang tidak mengalami gangguan mental emosional. 2.7. Merokok di masa lalu berisiko 2.1 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi obes) dibanding yang tidak pernah merokok. 2.8. Gangguan mental emosional berisiko 2.1 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi tidak obes) dibanding yang tidak mengalami gangguan mental emosional.

56 2.9. Merokok di masa lalu berisiko 1.8 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi tidak obes) dibanding yang tidak pernah merokok. 2.10. Status gizi gemuk berisiko 1.6 kali lebih tinggi terkena hipertensi dibanding yang status gizinya normal. 2.11. Status gizi kurus berisiko 1.3 kali lebih tinggi terkena hipertensi dibanding yang status gizinya normal. 2.12. Status sosial ekonomi rendah berisiko 1.3 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding yang status sosial ekonominya tinggi. 2.13. Gangguan mental emosional berisiko 1.3 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah dan status gizi obes) dibanding yang tidak mengalami gangguan mental emosional. 2.14. Status sosial ekonomi rendah berisiko 1.2 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis dan status gizi obes) dibanding yang status sosial ekonominya tinggi. 2.15. Merokok kadang-kadang berisiko lebih kecil 60% terkena hipertensi dibanding yang tidak pernah merokok. Hal ini kemungkinan karena gaya hidup wanita bukan perokok yang lebih buruk dibanding wanita perokok kadang-kadang. 3. Faktor-faktor risiko diabetes melitus pada pria berdasarkan nilai odds ratio (OR) tertinggi ke terendah adalah: 3.1. Umur > 45 tahun berisiko 12.7 kali lebih tinggi terkena diabetes melitus (status gizi obes) dibanding umur < 45 tahun. 3.2. Umur > 45 tahun berisiko 4.4 kali lebih tinggi terkena diabetes melitus (status gizi tidak obes) dibanding umur < 45 tahun.

57 3.3. Umur mulai merokok pertama kali < 17 tahun berisiko 2 kali lebih tinggi terkena diabetes melitus (status gizi tidak obes) dibanding umur mulai merokok > 17 tahun. 3.4. Konsumsi buah dan sayur > 3 porsi/hari memberikan efek protektif/risiko lebih kecil terkena diabetes melitus (status gizi obes) dibanding konsumsi < 3 porsi/hari. 4. Faktor-faktor risiko diabetes melitus pada wanita berdasarkan nilai odds ratio (OR) tertinggi ke terendah adalah: 4.1. Umur > 45 tahun berisiko 13.0 kali lebih tinggi terkena diabetes melitus (status gizi obes) dibanding umur < 45 tahun. 4.2. Umur > 45 tahun berisiko 9.3.kali lebih tinggi terkena diabetes melitus (status gizi tidak obes) dibanding umur < 45 tahun. 4.3. Jarang mengkonsumsi makanan/minuman manis memiliki risiko 60% lebih kecil terkena diabetes melitus (status gizi tidak obes) dibanding yang sering mengkonsumsinya. 4.4. Jarang mengkonsumsi makanan/minuman manis memiliki risiko 60% lebih kecil terkena diabetes melitus (status gizi obes) dibanding yang sering mengkonsumsinya. 5. Faktor-faktor risiko hipertensi sekaligus diabetes melitus pada pria berdasarkan nilai odds ratio (OR) tertinggi ke terendah adalah: 5.1. Umur > 45 tahun berisiko 38.3 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi obes dibanding umur < 45 tahun. 5.2. Umur > 45 tahun berisiko 15.3 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi obes dibanding umur < 45 tahun. 5.3. Umur > 45 tahun berisiko 12.6 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding umur < 45 tahun.

58 5.4. Umur > 45 tahun berisiko 7.1 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasar pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding umur < 45 tahun. 5.5. Gangguan mental emosional berisiko 3.4 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi obes dibanding yang tidak mengalami gangguan mental emosional. 5.6. Gangguan mental emosional berisiko 3.2 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding yang tidak mengalami gangguan mental emosional. 5.7. Umur mulai merokok pertama kali < 17 tahun berisiko 3.3 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding umur mulai merokok > 17 tahun. 5.8. Umur mulai merokok pertama kali < 17 tahun berisiko 5.0 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi obes dibanding umur mulai merokok > 17 tahun. 5.9. Konsumsi buah dan sayur > 3 porsi/hari memberikan efek protektif/risiko lebih kecil 80% terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus (status gizi obes) dibanding konsumsi < 3 porsi/hari. 6. Faktor-faktor risiko hipertensi sekaligus diabetes melitus pada wanita berdasarkan nilai odds ratio (OR) tertinggi ke terendah adalah: 6.1. Umur > 45 tahun berisiko 16.9 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi obes dibanding umur < 45 tahun. 6.2. Umur > 45 tahun berisiko 12.7 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding umur < 45 tahun.

59 6.3. Umur > 45 tahun berisiko 11.7 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding umur < 45 tahun. 6.4. Umur > 45 tahun berisiko 10.0 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasar diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi obes dibanding umur < 45 tahun. 6.5. Gangguan mental emosional berisiko 2.3 kali lebih tinggi terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding yang tidak mengalami gangguan mental emosional. 6.6. Jarang mengkonsumsi makanan/minuman manis memiliki risiko 60% lebih kecil terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding yang sering mengkonsumsinya. 6.7. Jarang mengkonsumsi makanan/minuman manis memiliki risiko 60% lebih kecil terkena hipertensi (berdasarkan pengukuran tekanan darah) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi obes dibanding yang sering mengkonsumsinya. 6.8. Jarang mengkonsumsi makanan/minuman manis memiliki risiko 70% lebih kecil terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi obes dibanding yang sering mengkonsumsinya. 6.9. Jarang mengkonsumsi makanan/minuman manis memiliki risiko 70% lebih kecil terkena hipertensi (berdasarkan diagnosis) sekaligus diabetes melitus dengan status gizi tidak obes dibanding yang sering mengkonsumsinya. Saran 2. Upaya-upaya pencegahan atas faktor-faktor risiko penyakit degeneratif (hipertensi dan diabetes melitus) terutama yang terkait gaya hidup dan status

60 gizi perlu dilakukan segenap komponen masyarakat. Berbagai cara bisa dilakukan diantaranya dengan melakukan kampanye di media massa dan sosialisasi ke sekolah-sekolah, kampus, puskesmas, rumah sakit, posyandu, klinik gizi dan ruang-ruang publik lainnya. Disarankan juga kepada masyarakat usia > 20 tahun untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah dan gula darah secara rutin setiap 2 tahun sebagaimana dilakukan di negaranegara maju. 3. Dalam rangka penyempurnaan pengembangan instrumen pengukuran dalam Riskesdas yang akan datang, perlu dilakukan perbaikan instrumen pengukuran, terutama terkait kebiasaan konsumsi makanan berisiko dan aktivitas fisik. a. Kebiasaan konsumsi makanan berisiko responden sebaiknya diukur juga porsi yang dikonsumsi, tidak hanya frekuensi. Selain itu, perlu juga dikaji lebih lanjut tentang cut off point frekuensi konsumsi sering dan jarang agar lebih sesuai. b. Aktivitas fisik yang dilakukan responden sebaiknya tidak hanya menggunakan kartu peraga, tetapi dirinci jenis-jenis aktivitas fisik berikut kategori berat, sedang dan ringan. Hal ini untuk mengurangi salah persepsi reponden terhadap kategori aktivitas fisik yang dilakukannya. 4. Berdasarkan hasil penelitian ini, khususnya terkait dengan standar kecukupan konsumsi buah dan sayur, ke depan bisa dilakukan penelitian khusus yang mengarah pada perancangan standar kecukupan konsumsi buah dan sayur bagi penduduk Indonesia, mengingat selama Indonesia masih merujuk kepada standar FAO. Perlu juga adanya penelitian lanjutan yang menganalisis kadar kolesterol dan gula darah dikaitkan dengan kejadian berbagai penyakit degeneratif, mengingat dalam penelitian ini kejadian hipertensi dan diabetes melitus serta komplikasinya sebatas didekati dengan diagnosis dan pengukuran fisik, tidak didukung dengan pengukuran aspek biomedis.