BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V ARAHAN RELOKASI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Secara astronomi Kecamatan Cipanas terletak antara 6 o LS-6 o LS

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei. Survei adalah

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB III METODE PENELITIAN

3/30/2012 PENDAHULUAN PENDAHULUAN METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. merupakan bencana banjir dan longsor (Fadli, 2009). Indonesia yang berada di

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian adalah sebuah cara yang digunakan untuk mencapai

PEMETAAN DAERAH RAWAN LONGSOR LAHAN DI KECAMATAN DAU, KABUPATEN MALANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN GEOMORFOLOGI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. sehingga masyarakat yang terkena harus menanggapinya dengan tindakan. aktivitas bila meningkat menjadi bencana.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dian Mayasari, 2013

BAB III METODE PENELITIAN. adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Ruang Lingkup Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Bencana geologi merupakan bencana yang terjadi secara alamiah akibat

APLIKASI SIG DALAM MENENTUKAN LOKASI TPA DI KECAMATAN BALEENDAH KABUPATEN BANDUNG

BAB 1 PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. seseorang untuk bermukim atau tidak bermukim di suatu tempat, preferensi bermukim

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bencana alam sebagai salah satu fenomena alam dapat terjadi setiap saat,

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi Penelitian dilakukan di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung

METODE PENELITIAN. deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu

BAB I PENDAHULUAN. Lahan merupakan sumber daya alam strategis bagi segala pembangunan. Hampir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS

Gambar 7. Lokasi Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuannya (Moh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jenuh air atau bidang luncur. (Paimin, dkk. 2009) Sutikno, dkk. (2002) dalam Rudiyanto (2010) mengatakan bahwa

ANALISIS DAERAH RAWAN LONGSOR DI KECAMATAN WAY KRUI TAHUN 2015 (JURNAL) Oleh. Catur Pangestu W

Gambar 3. Peta Orientasi Lokasi Studi

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BENCANA GERAKAN TANAH DI INDONESIA

Gambar 1 Lokasi penelitian.

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA BADAN GEOLOGI

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif

BAB III KEGIATAN KERJA PRAKTIK. a. Surat permohonan kerja praktik dari Fakultas Teknik Universitas. lampung kepada CV.

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian kuantitatif dengan pendekatan spasial. Metode penelitian kuantitatif dapat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah

KAJIAN PEMANFAATAN LAHAN PADA DAERAH RAWAN LONGSOR DI KECAMATAN TIKALA KOTA MANADO

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. tindakan dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat suatu bencana.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Menurut seorang ilmuwan kuno yang bernama Eratosthenes Geografi berasal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

I. Pendahuluan Tanah longsor merupakan sebuah bencana alam, yaitu bergeraknya sebuah massa tanah dan/atau batuan menuruni lereng akibat adanya gaya

Gambar 1.1 Wilayah cilongok terkena longsor (Antaranews.com, 26 november 2016)

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENILITIAN. Lokasi penelitian mengambil daerah studi di Kota Gorontalo. Secara

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BENCANA GERAKAN TANAH AKIBAT GEMPABUMI JAWA BARAT, 2 SEPTEMBER 2009 DI DESA CIKANGKARENG, KECAMATAN CIBINONG, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, terutama Pulau Jawa. Karena Pulau Jawa merupakan bagian dari

Metode Analisis Kestabilan Lereng Cara Yang Dipakai Untuk Menambah Kestabilan Lereng Lingkup Daerah Penelitian...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau menurunnya kekuatan geser suatu massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Penelitian memerlukan suatu metode untuk memudahkan peneliti untuk

KAJIAN KAWASAN RAWAN BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI DAS TAMALATE

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Kerangka Pikir Studi...

III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Bab I Pendahuluan I.1. Latar Belakang Penelitian

PEDOMAN TEKNIS PEMETAAN ZONA KERENTANAN GERAKAN TANAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang

METODE. Waktu dan Tempat

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. penelitian dengan baik dan benar, metode penelitian juga merupakan suatu cara

GERAKAN TANAH DAN BANJIR BANDANG DI WILAYAH KECAMATAN TAHUNA DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SANGIHE, SULAWESI UTARA

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Lokasi penelitan ini dilakukan di wilayah Sub Daerah Aliran Ci Keruh.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam

BAB I PENDAHULUAN. Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang

Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan adanya kondisi geologi Indonesia yang berupa bagian dari rangkaian

BAB III METODE PENELITIAN. merupakan daerah yang didominasi oleh dataran tinggi dan perbukitan. Kabupten

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMANFAATAN LAHAN BERBASIS MITIGASI BENCANA LONGSOR DI KOTA MANADO

GERAKAN TANAH DI KAMPUNG BOJONGSARI, DESA SEDAPAINGAN, KECAMATAN PANAWANGAN, KABUPATEN CIAMIS, JAWA BARAT

BAPPEDA Kabupaten Probolinggo 1.1 LATAR BELAKANG

BAB III METODE PENELITIAN. ditentukan sesuai dengan SNI nomor :1994 yang dianalisis dengan

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kerentanan longsor yang cukup besar. Meningkatnya intensitas hujan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI. Gambar 2. Peta lokasi penelitian di DAS Ciliwung bagian hulu

BAB I PENDAHULUAN. lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Daerah

KEJADIAN GERAKAN TANAH DAN BANJIR BANDANG PADA TANGGAL 20 APRIL 2008 DI KECAMATAN REMBON, KABUPATEN TANA TORAJA, PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

2016 STUDI PARAMATERIK PENGARUH INTENSITAS CURAH HUJAN TERHADAP JARAK JANGKAUAN DAN KECEPATAN LONGSOR BERDASARKAN MODEL GESEKAN COLOUMB SEDERHANA

Analisis Spasial Untuk Menentukan Zona Risiko Bencana Banjir Bandang (Studi Kasus Kabupaten Pangkep)

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

Transkripsi:

18 BAB III METODE PENELITIAN A. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah cara yang digunakan peneliti dalam menggunakan data penelitiannya (Arikunto, 2006). Sedangkan menurut Handayani (2010), metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam pengumpulan data atau informasi guna memecahkan permasalahan dan menguji hipotesis penelitian. Untuk mengetahui persebaran bahaya longsor di Kecamatan Parongpong serta untuk mengetahui bagaimana kesesuaiannya dengan penggunaan lahan, penulis menggunakan metode sistem informasi geografis (SIG) dengan teknik overlay dan pembobotan. Teknik overlay dilakukan dengan cara menumpangsusunkan semua layer indikator yang diperlukan dan kemudian dilakukan pembobotan untuk memperoleh peta tingkat kerawanan bencana gerakan tanah. Pada dasarnya, teknik pembobotan ini bertujuan agar data terkuantitasi dalam kelas-kelas sehingga terlihat urutan prioritasnya untuk peruntukkan tertentu. Kriteria pembobotan diambil dari buku Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor dari Departemen Pekerjaan Umum (2007). B. LOKASI PENELITIAN Lokasi penelitian adalah Kecamatan Parongpong yang termasuk ke dalam. Kecamatan ini terletak antara 06º42 00 LS sampai 06º 54 00 LS dan 107º1 0 BT sampai 107º 4 00 BT. Secara administratif, kecamatan ini terbagi ke dalam 7 desa yaitu Desa Cihideung, Desa Cihanjuang, Desa Cihanjuang Rahayu, Desa Karyawangi, Desa Cigugur Girang, Desa Ciwaruga dan Desa Sariwangi. C. POPULASI DAN SAMPEL 1. Populasi

19 Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian yang memiliki karakteristik tertentu yang akan dikaji oleh peneliti. Sedangkan menurut Yunus (2010), populasi merupakan kumpulan dari satuan-satuan elementer yang mempunyai karakteristik dasar yang sama atau dianggap sama. Populasi dalam penelitian ini diklasifikasikan berdasarkan luasan satuan lahan yang terdiri dari kemiringan lereng, jenis tanah, dan penggunaan lahan. Berikut adalah tabel populasi di daerah penelitian. Tabel.1 Satuan Lahan di Kecamatan Parongpong No Unit Lahan Populasi 1 2 4 5 6 7 8 9 10 11 Kemiringan Lereng Kelas I, Jenis Tanah Andosol, Penggunaan 4 Lahan Tegalan Kemiringan Lereng Kelas I, Jenis Tanah Andosol, Penggunaan 2 Lahan Sawah Kemiringan Lereng Kelas I, Jenis Tanah 21 Andosol, Penggunaan Lahan Permukiman Kemiringan Lereng Kelas I, Jenis Tanah 1 Andosol, Penggunaan Lahan Semak Belukar Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Andosol 15 Penggunaan Lahan Permukiman Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Tegalan Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Andosol 6 Penggunaan Lahan Sawah Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Andosol 2 Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Semak Belukar Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Latosol 1 Penggunaan Lahan Sawah Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Latosol 16 Penggunaan Lahan Permukiman

20 12 1 14 15 16 17 18 19 20 21 22 2 24 25 26 27 Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Latosol 9 Penggunaan Lahan Tegalan Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Latosol 2 Kemiringan Lereng Kelas II, Jenis Tanah Latosol 7 Penggunaan Lahan Semak Belukar Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Regosol 1 Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Regosol 1 Penggunaan Lahan Hutan Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Regosol Penggunaan Lahan Hutan Semak Belukar Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Andosol 24 Penggunaan Lahan Tegalan Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Andosol 105 Penggunaan Lahan Permukiman Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Hutan Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Andosol 17 Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Andosol 2 Penggunaan Lahan Sawah Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Andosol 5 Penggunaan Lahan Semak Belukar Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Latosol 25 Penggunaan Lahan Sawah Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Latosol 181 Penggunaan Lahan Permukiman Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Latosol 26 Penggunaan Lahan Tegalan Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Latosol 1 28 Kemiringan Lereng Kelas III, Jenis Tanah Latosol 1

21 29 0 1 2 4 5 6 7 8 9 40 41 42 Penggunaan Lahan Semak Belukar Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Regosol Penggunaan Lahan Hutan Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Regosol Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Regosol Penggunaan Lahan Tegalan Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Regosol Penggunaan Lahan Semak Belukar Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Tegalan Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Hutan Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Sawah Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Andosol Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Permukiman Kemiringan Lereng Kelas IV, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Semak Belukar Kemiringan Lereng Kelas V, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Tegalan Kemiringan Lereng Kelas V, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Permukiman Kemiringan Lereng Kelas V, Jenis Tanah Andosol Kemiringan Lereng Kelas V, Jenis Tanah Andosol Penggunaan Lahan Sawah Sumber: Hasil Analisis (2012) 1 5 18 5 11 84 2 1 29 9

22 2. Sampel Sampel adalah sebagian objek dari populasi. Sampel memiliki karakteristik-karakteristik tertentu yang mewakili populasi. Sampel dalam penelitian ini didasarkan pada satuan lahan di Kecamatan Parongpong. Sampel diambil dengan menggunakan teknik purpossive sampling karena populasi penelitian telah memiliki karakteristik tertentu. Jumlah seluruh sampel adalah 1. Dalam penentuan jumlah sampel, dari tiap-tiap macam unit lahan dengan kemiringan lereng kelas III sampai kelas V diambil satu sampel karena setiap unit lahan telah memiliki karakteristik kemiringan lereng, jenis tanah dan penggunaan lahan yang sama. Adapun pertimbangan dipilihnya unit lahan dengan kelas kemiringan III sampai V karena untuk unit lahan kelas I dan II memiliki kriteria kemiringan lereng yang rendah sehingga dalam hasil perhitungan tingkat bahaya longsor pasti akan masuk dalam kategori tingkat bahaya longsor rendah. D. VARIABEL PENELITIAN Menurut Arikunto (2006), variabel adalah objek penelitian yang bervariasi atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Sedangkan menurut Soewarno dalam Puadah (2011), variabel adalah karakteristik yang dapat diamati dari suatu (objek) dan mampu memberikan macam-macam nilai atau beberapa kategori. Maka dalam variabel bebas penelitian ini adalah bahaya gerakan tanah, sedangkan variabel terikatnya adalah penggunaan lahan, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

2 Variabel Bebas Tingkat Bahaya Longsor a. Kemiringan Lereng b. Kondisi Tanah c. Batuan Penyusun Lereng d. Curah Hujan e. Tata Air Lereng f. Kegempaan g. Vegetasi Tabel.2 Variabel Penelitian E. DEFINISI OPERASIONAL Variabel Terikat Eksisting Luas Permukiman 1. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung baik berupa berwawasan perkotaan ataupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan dengan fungsi utama sebagai lingkungan hunian yang dilengkapi sarana dan prasarana sehingga mencapai fungsi permukiman yang optimal. (UU no 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman) 2. Bahaya adalah suatu fenomena alam atau buatan yang mempunyai potensi mengancam kehidupan manusia, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan (Bakornas PB, 2006). Longsor (landslide) atau dapat disebut juga dengan gerakan tanah (mass movement) adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan timbunan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke arah bawah dan keluar lereng (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 2005). Bahaya longsor adalah potensi terjadinya pergerakan material pembentuk lereng berupa tanah, batuan, atau campuran keduanya yang dapat menimbulkan kerugian jiwa, harta benda maupun kerusakan lingkungan. F. BAHAN DAN ALAT PENELITIAN berikut. Untuk menunjang penelitian ini, diperlukan bahan-bahan sebagai

24 1. Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:25.000 Lembar 1209-1 Wanayasa Edisi 1-2001, BAKOSURTANAL 2. Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:25.000 Lembar 1209-4 Cimahi Edisi 1-2001, BAKOSURTANAL. Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat Tahun 2010 4. Peta Geologi Lembar Bandung, skala 1:100.000 oleh P.H. Silitonga, tahun 197 5. Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Parongpong Kabupaten Bandung Barat 6. Peta Jenis Tanah Kecamatan Parongpong sumber Peta Tanah Semi Detail Purlittanah 2010 Sedangkan alat-alat yang digunakan untuk mengolah bahan-bahan tersebut adalah sebagai berikut. 1. Komputer dengan sistem Microsoft Windows 7 Versi 2009, Intel(R), Atom(TM) 4 CPU N450 @1.66GHz 1,67GHz, RAM 2,00GB untuk pengolahan data-data penelitian 2. Software MapInfo Professional 8.5 untuk melakukan proses-proses atau manipulasi pada data-data spasial dan atribut untuk dioverlaykan menjadi suatu informasi baru.. Global Positioning System (GPS) untuk mencari koordinat lokasi saat observasi lapangan 4. Kamera digital, untuk mengambil gambar saat observasi lapangan sebagai dokumentasi penelitian. G. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, baik data primer maupun data sekunder, penulis menggunakan teknik sebagai berikut. 1. Observasi Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau

25 fenomena yang ada pada objek penelitian (Saepudin, 2012). Teknik observasi ini dilakukan setelah menginterpretasi peta. Observasi ini dilakukan untuk mengamati unsur fisik objek yang akan diteliti dengan menggunakan checklist. 2. Studi Literatur dan Studi Dokumentasi Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data-data sekunder. Data-data sekunder ini berguna sebagai bahan penelitian dan juga bahan materi sebagai pemahaman penulis terhadap penelitian ini. Data-data ini diperoleh dari berbagai sumber seperti skripsi-skripsi dan artikel ilmiah dari berbagai universitas, dokumen dari lembaga pemerintahan, literaturliteratur terkait serta situs-situs organisasi internasional yang mengkaji mengenai bahaya gerakan tanah. H. TEKNIK PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Setelah data-data yang diperlukan dapat dikumpulkan, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Analisis data dilakukan dengan cara pembobotan indikator tingkat kerawanan untuk zona berpotensi longsor. Metode ini merupakan suatu cara analisis data dengan memberikan nilai pada masing-masing karakteristik variabel, agar dapat diketahui nilainya serta dapat ditentukan peringkatnya, sehingga akan diketahui masing-masing parameter berdasarkan perhitungan harkatnya (Suharyono dalam Wisantisari, 2005). Untuk mengukur tingkat kerawanan longsor dapat ditentukan berdasarkan indikator fisik yang terdiri dari kemiringan lereng, kondisi tanah, batuan penyusun lereng, curah hujan, tata air lereng, kegempaan, dan vegetasi. Indikator-indikator ini kemudian diberikan bobot sesuai dengan besar kecilnya pengaruh indikator tersebut terhadap terjadinya longsor. Longsor terjadi karena adanya gaya gravitasi pada material pembentuk lereng yang ditentukan oleh besarnya sudut lereng. Kemiringan lereng merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan mengendalikan proses pembentukan tanah dan juga mempengaruhi kecepatan aliran air. Oleh karena itu pada penilaian tingkat kerawanan longsor, faktor kemiringan

26 lereng memiliki bobot yang lebih tinggi dibandingkan dengan faktor yang lain. Indikator batuan penyusun lereng diberikan bobot yang lebih tinggi dibandingkan dengan indikator tanah karena perubahan-perubahan yang terjadi pada batuan akan berpengaruh pada tanah. Curah hujan dapat meningkatkan kejenuhan tanah. Hal ini akan menyebabkan beban lereng bertambah dan akibatnya kestabilan lereng akan berkurang terutama pada lereng yang terdiri dari material tanah atau batuan yang lemah. Curah hujan juga mempengaruhi air tanah. Oleh karena itu bobot indikator tata air lereng lebih kecil dibandingkan dengan bobot curah hujan. Sedangkan indikator vegetasi dan tata air lereng diberikan bobot yang lebih kecil karena bukan pemicu utama terjadinya longsor. Indikator kegempaan juga bobotnya lebih kecil karena tidak semua jenis tanah dapat dipengaruhi oleh getaran. Secara rinci pembobotan untuk indikator-indikator tersebut adalah sebagai berikut. 1. Pembobotan Indikator Kemiringan Lereng Tabel.2 Pembobotan Indikator Kemiringan Lereng Bobot Tingkat Bobot Nilai Bobot Verifikasi Indikator Kerawanan Penilaian Tertimbang Lereng relatif curam dengan Tinggi kemiringan sekitar 6% - 0,90 40% 0% Lereng dengan kemiringan Sedang 2 0,60 landai (1% - 5%) Lereng dengan kemiringan Rendah 1 0,0 21% - 0%

27 2. Pembobotan Indikator Kondisi Tanah Tabel. Pembobotan Indikator Kondisi Tanah Bobot Tingkat Bobot Nilai Bobot Verifikasi Indikator Kerawanan Penilaian Tertimbang Kondisi tanah/ batuan penyusun lereng umumnya merupakan lereng yang tersusun oleh tanah Tinggi lempung yang mudah mengembang apabila jenuh air dan terdapat bidang kontras dengan batuan di bawahnya 0,45 15% Lereng tersusun oleh jenis tanah lempung yang mudah Sedang mengembang tapi tidak ada 2 0,0 bidang kontras dengan batuan di bawahnya Rendah Lereng tersusun oleh jenis tanah liat dan berpasir yang mudah, namun terdapat bidang kontras dengan batuan di bawahnya 1 0,15. Pembobotan Indikator Batuan Penyusun Lereng Tabel.4 Pembobotan Indikator Batuan Penyusun Lereng Bobot Tingkat Bobot Nilai Bobot Verifikasi Indikator Kerawanan Penilaian Tertimbang Tinggi Lereng tersusun oleh batuan dan terlihat banyak struktur retakan 0,15 Lereng tersusun oleh batuandan terlihat banyak struktur retakan, Sedang 20% tetapi lapisan batuan tidak miring ke arah luar lereng 2 0,60 Lereng tersusun oleh batuan dan Rendah tanah namun tidak ada struktur retakan/ kekar pada batuan 1 0,20

28 4. Pembobotan Indikator Curah Hujan Bobot Indikator 15% Tabel.5 Pembobotan Indikator Curah Hujan Tingkat Kerawanan Tinggi Sedang Rendah Verifikasi Curah hujan mencapai 70mm/jam atau 100mm/hari, curah hujan tahunan mencapai lebih dari 2500mm Curah hujan 0 70mm/jam, tidak lebih dari 2 jam dan hujan tidak setiap hari (1000-2500mm) Curah hujan kurang dari 0 70mm/jam, tidak lebih dari 2 jam dan hujan tidak setiap hari (kurang dari 1000mm) 5. Pembobotan Indikator Tata Air Lereng Bobot Indikator 7% Bobot Penilaian Nilai Bobot Tertimbang 0,60 2 0,40 1 0,20 Tabel.6 Pembobotan Indikator Tata Air Lereng Tingkat Kerawanan Tinggi Sedang Rendah Verifikasi Sering muncul rembesanrembesan air atau mata air pada lereng, terutama pada bidang kontak antara batuan kedap dengan lapisan tanah yang lebih permeabel Jarang muncul rembesanrembesan air atau mata air pada lereng, terutama pada bidang kontak antara batuan kedap dengan lapisan tanah yang lebih permeabel Tidak terdapat rembesan air atau mata air pada lereng Bobot Penilaian Nilai Bobot Tertimbang 0,21 2 0,14 1 0,07

29 6. Pembobotan Indikator Kegempaan Tabel.7 Pembobotan Indikator Kegempaan Bobot Tingkat Bobot Nilai Bobot Verifikasi Indikator Kerawanan Penilaian Tertimbang Tinggi Kawasan gempa 0,09 Frekuensi gempa jarang Sedang % terjadi (1 2 kali per tahun) 2 0,06 Rendah Lereng tidak termasuk daerah rawan gempa 1 0,0 7. Pembobotan Indikator Vegetasi Tabel.8 Pembobotan Indikator Vegetasi Bobot Tingkat Bobot Nilai Bobot Verifikasi Indikator Kerawanan Penilaian Tertimbang Alang-alang, rumputrumputan, Tinggi tumbuhan, 0,0 semak, perdu Sedang Tumbuhan berdaun jarum seperti cemara, pinus 2 0,02 Tumbuhan berakar tunjang 10% dengan perakaran menyebar seperti kemiri, Rendah laban, dlingsem, mindi, johar, bungur, banyan, mahoni, renghas, jati, kosambi, sonokeling, trengguli, tayuman, asam jawa san pilang 1 0,01 Penilaian terhadap tingkat kerawanan longsor berdasarkan aspek fisik alami dilakukan melalui penjumlahan nilai bobot tertimbang dari tujuh indikator pada aspek fisik alami. Adapun kriteria tingkat kerawanan longsor

0 berdasarkan aspek fisik alami melalui pengkelasan bobot tertimbang adalah sebagai berikut. Tabel.9 Kriteria Tingkat Kerawanan Longsor Total Nilai Bobot Tertimbang Tingkat Kerawanan 2,01 2,50 Tinggi 1,51 2,00 Sedang 1,00 1,50 Rendah

1 I. DIAGRAM ALUR PENELITIAN