Busi untuk mesin pembakaran bagian dalam

dokumen-dokumen yang mirip
Mur roda untuk kendaraan bermotor roda empat

Katup tabung baja LPG

Papan partikel SNI Copy SNI ini dibuat oleh BSN untuk Pusat Standardisasi dan Lingkungan Departemen Kehutanan untuk Diseminasi SNI

Baja profil siku sama kaki proses canai panas (Bj P Siku sama kaki)

Baja profil kanal U proses canai panas (Bj P kanal U)

Baja tulangan beton dalam bentuk gulungan

Baja lembaran, pelat dan gulungan canai panas (Bj P)

Katup tabung baja LPG

SPESIFIKASI TEKNIK KOMPOR GAS BAHAN BAKAR LPG SATU TUNGKU DENGAN SISTEM PEMANTIK MEKANIK KHUSUS UNTUK USAHA MIKRO

Bambu lamina penggunaan umum

SNI 0103:2008. Standar Nasional Indonesia. Kertas tisu toilet. Badan Standardisasi Nasional ICS

Cara uji bakar bahan bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung

SNI. Baja Tulang beton SNI Standar Nasional Indonesia. Badan Standardisasi Nasional BSN

Baja lembaran lapis seng (Bj LS)

Letak sensor EFI pada toyota Avanza dan Daihatsu Xenia tak sensor pada Avanza/ Xenia tak Sensor dan Injektor Mesin Avanza/xenia

Cara uji viskositas aspal pada temperatur tinggi dengan alat saybolt furol

Baja profil I-beam proses canai panas (Bj.P I-beam)

Kompor gas bahan bakar LPG satu tungku dengan sistem pemantik

SNI Standar Nasional Indonesia. Baja tulangan beton. Badan Standardisasi Nasional

MEMPELAJARI PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK BUSI TIPE W PADA PT. DENSO INDONESIA Nama : Muhammad Rizki Syahputra NPM : Jurusan : Teknik

SISTIM PENGAPIAN. Jadi sistim pengapian berfungsi untuk campuran udara dan bensin di dalam ruang bakar pada.

Baja lembaran dan gulungan lapis paduan aluminium seng (Bj.L AS)

Baja lembaran lapis seng (Bj LS)

Regulator tekanan rendah untuk tabung baja LPG

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut ini tabel hasil pemeriksaan dan pengukuran komponen cylinder. Tabel 4.1. Hasil Identifikasi Mekanisme Katup

Spark Ignition Engine

Engine Tune Up Engine Conventional

LEMBAR KERJA SISWA TUNE UP MESIN 4 Tak 4 SILINDER

Selang karet untuk kompor gas LPG

SNI Standar Nasional Indonesia

Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 3 : Cara uji kendaraan bermotor kategori L Pada kondisi idle SNI

SNI 0123:2008. Standar Nasional Indonesia. Karton dupleks. Badan Standardisasi Nasional ICS

Kertas dan karton - Cara uji daya serap air- Metode Cobb

Kayu lapis untuk kapal dan perahu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Setelang melakukan proses overhoul cylinder head berdasarkan standar dan

Baja tulangan beton hasil canai panas Ulang

Kertas dan karton - Cara uji kekasaran Bagian 1: Metode Bendtsen

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN. Spesifikasi. Secara Wajib. Kompor Gas. Usaha Mikro. Pemberlakuan.

Cara uji sifat tahan lekang batu

SISTEM PENGISIAN SIRKUIT SISTEM PENGISIAN

BAB II LANDASAN TEORI. mekanik berupa gerakan translasi piston (connecting rods) menjadi gerak rotasi

Oleh: Nuryanto K BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN LITERATUR

PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA

D. LANGKAH KERJA a. Langkah awal sebelum melakukan Engine Tune Up Mobil Bensin 4 Tak 4 silinder

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

DAMPAK KERENGGANGAN CELAH ELEKTRODE BUSI TERHADAP KINERJA MOTOR BENSIN 4 TAK

Cara uji keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles

: Memelihara/servis engine dan komponen-komponenya(engine. (Engine Tune Up)

III. METODOLOGI PENELITIAN. waktu pada bulan Oktober hingga bulan Maret Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini :

SNI 7273:2008. Standar Nasional Indonesia. Kertas koran. Badan Standardisasi Nasional ICS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Troubleshooting Sistem Pengapian Dan Pengisian Sepeda Motor. 1. Cara Kerja Sistem Pengapian Sepeda Motor Yamaha Mio

BAB III METODE PELAKSANAAN. Yamaha Mio di Laboratorium, Program Vokasi Universitas Muhammadiyah

BAB III ANALISIS MASALAH. ditemukan sistem pengisian tidak normal pada saat engine tidak dapat di start

3.1 opasitas perbandingan tingkat penyerapan cahaya oleh asap yang dinyatakan dalam satuan persen

Semen portland pozolan

Lampu swa-balast untuk pelayanan pencahayaan umum-persyaratan keselamatan

Batang uji tarik untuk bahan logam

Emisi gas buang Sumber bergerak Bagian 1 : Cara uji kendaraan bermotor kategori M, N, dan O berpenggerak penyalaan cetus api pada kondisi idle

Cara uji berat jenis aspal keras

III. METODE PENELITIAN. : Motor Bensin 4 langkah, 1 silinder Volume Langkah Torak : 199,6 cm3

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Semen portland campur

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

Spesifikasi batang baja mutu tinggi tanpa pelapis untuk beton prategang

III. METODOLOGI PENELITIAN. Universitas Lampung. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada rentang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III KEGIATAN PENGUJIAN DAN PERAWATAN

Kayu lapis dan papan blok bermuka kertas indah

Kertas Cara uji ketahanan sobek Metode Elmendorf

Cara uji daktilitas aspal

Mesin pemecah biji dan pemisah kulit kakao - Syarat mutu dan metode uji

Toleransi& Implementasinya


BAB II LANDASAN TEORI. maka motor bakar dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam yaitu: motor

Pengaruh Kerenggangan Celah Busi terhadap Konsumsi Bahan Bakar pada Motor Bensin

BUKU PANDUAN Gasoline Generator SG 3000 & SG 7500

Tune Up Mesin Bensin TUNE UP MOTOR BENSIN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 12: Penentuan total partikel secara isokinetik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor.

Kawat baja tanpa lapisan untuk konstruksi beton pratekan (PC wire / KBjP )

Cara uji berat isi beton ringan struktural

TUNE UP MESIN TOYOTA SERI 4K dan 5K

BAB III PROSES OVERHAUL ENGINE YAMAHA VIXION. Proses Overhoul Engine Yamaha Vixion ini dilakukan di Lab. Mesin,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. stand dari pengapian ac dan pengisian dc yang akan di buat. Dalam metode

BAB III METODOLOGI PENGUJIAN

Ikan segar - Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

BAB III LANDASAN TEORI

Baja tulangan beton SNI 2052:2014

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

Cara uji jalar api pada permukaan bahan bangunan untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung

Pengaruh Penggunaan Busi Terhadap Prestasi Genset Motor Bensin

BAB II DASAR TEORI 2.1. Motor Bensin Penjelasan Umum

SNI Standar Nasional Indonesia. Semen portland putih

BAB II LANDASAN TEORI. Sebelum bahan bakar ini terbakar didalam silinder terlebih dahulu dijadikan gas

BAB 5 SAMBUNGAN BAUT

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Transkripsi:

Standar Nasional Indonesia Busi untuk mesin pembakaran bagian dalam ICS 43.060.50 Badan Standardisasi Nasional

Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Klasifikasi... 1 5 Bentuk dan ukuran... 2 6 Syarat mutu... 9 7 Cara pengambilan contoh... 10 8 Cara uji... 10 9 Syarat lulus uji... 14 10 Syarat penandaan... 14 i

Prakata Standar Nasional Indonesia (SNI), Busi untuk mesin pembakaran bagian dalam, merupakan revisi SNI 05-2929-1998, Busi untuk motor bensin. Adapun penyusunan standar ini didasarkan atas pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan penerapan standar industri komponen kendaraan bermotor sesuai dengan harmonisasi standar yang disepakati di lingkup negara-negara sekawasan ASEAN. Standar ini telah dibahas dalam rapat konsensus pada tanggal 22 Desember 2004 di Jakarta yang dihadiri wakil-wakil dari produsen, konsumen, lembaga penelitian, dan instansi terkait lainnya. Standar ini disusun oleh Panitia Teknis 43-01, Rekayasa kendaraan jalan raya. ii

1 Ruang lingkup Busi untuk mesin pembakaran bagian dalam Standar ini menetapkan busi digunakan untuk motor bensin/mesin pembakaran dalam (internal combustion engines), tetapi busi untuk pesawat terbang tidak termasuk dalam standar ini. Untuk selanjutnya dalam standar ini disebut busi. 2 Acuan normatif SNI 05-2392-1991, Ulir sekrup metrik, dimensi dasar. SNI 05-2933-1992, Ulir metrik halus- dan toleransi. SNI 05-2934-1992, Ulir metrik kasar- dan toleransi. ISO 2704: 1998, Road vehicles-m10x1 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings. ISO 2705: 1999, Road vehicles-m12x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings. ISO 2346: 2001, Road vehicles-m12x1,25 compact spark plugs with plate seating and 19 mm hexagon and their cylinder head housings. ISO 1919: 1998, Road vehicles-m14x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings. JIS B 8031-1995, Spark plugs for internal combustion engines. 3 Istilah dan definisi 3.1 busi salah satu komponen yang berfungsi untuk alat pembakaran pada motor bensin yang digunakan sebagai tenaga penggerak untuk kendaraan bermotor atau pada alat lain 4 Klasifikasi Berdasarkan ukuran ulir busi, diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu: - Tipe 14 mm - Tipe 12 mm - Tipe 10 mm Berdasarkan bentuknya busi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe, yang dibedakan berdasarkan panjang ulir dan jenis insulator yang digunakan. Untuk selanjutnya busi yang menggunakan resistor disebut busi resistor (resistor plugs). Klasifikasi busi secara rinci ditunjukkan dalam Tabel 1. 1 dari 14

Tipe 14 mm 12 mm 10 mm Tipe umum Bentuk Tipe segi enam ukuran kecil Tipe menyatu (compact type) Tipe umum Tabel 1 - Klasifikasi busi Ulir busi Ukuran nominal Panjang (A) mm Jenis insulator 9,5 Semua bentuk 12,7 mempunyai 2 19 jenis dengan atau M 14 S 12,7 tanpa resistor 19 12,7 19 M 12 S Tipe segi enam ukuran kecil 12,7 19 Tipe menyatu (compact 12,7 Semua bentuk type) 19 M 10 S CATATAN (1) Menunjukkan ukuran A di Gambar 1.4. 5 Bentuk dan ukuran 5.1 Bentuk dan ukuran luar 9,5 19 (1) mempunyai 2 jenis dengan atau tanpa resistor Bentuk dan ukuran luar busi masing-masing tipe ditunjukkan pada Gambar 2, Gambar 3 dan Gambar 4. ukuran celah cetus api pada busi dapat ditentukan berdasarkan persetujuan antara pihak yang berkepentingan. 5.1.1 Busi tipe umum 2 dari 14

a) Dengan terminal tanpa ulir b) Dengan terminal berulir Keterangan gambar: (2) Ukuran Ø d2 adalah diameter yang diukur pada rentang antara 29 mm dan 33 mm untuk busi tanpa ulir terminal (solid terminal), dan rentang antara 26 mm dan 30 mm untuk busi dengan terminal berulir (threaded terminal) dari ujung bagian atas terminal. 5.1.2 Busi tipe segi enam ukuran kecil Gambar 1 - Tipe umum a) Dengan terminal tanpa ulir b) Dengan terminal berulir 3 dari 14

Keterangan gambar: (3) Ukuran setelah dikencangkan dengan momen puntir sesuai dengan Tabel 5. Gambar 2 - Tipe segi enam ukuran kecil (Small-size hexagonal type) 5.1.3 Busi tipe kompak (compact type) a) Dengan terminal tanpa ulir b) Dengan terminal berulir Keterangan gambar: (4) Ukuran Ø d2 adalah diameter yang diukur pada rentang antara 29 mm dan 33 mm untuk busi tanpa ulir terminal (solid terminal) dan rentang antara 26 mm dan 30 mm untuk busi dengan terminal berulir (threaded terminal) dari ujung bagian atas terminal Gambar 3 - Tipe kompak (compact type) 4 dari 14

5.1.4 Busi tipe setengah ulir (Semi-threaded type) a) Dengan terminal tanpa ulir b) Dengan terminal berulir Keterangan gambar: (5) Ukuran Ø d2 adalah diameter yang diukur pada rentang antara 29 mm dan 33 mm untuk busi tanpa ulir terminal (solid terminal) dan rentang antara 26 mm dan 30 mm untuk busi dengan terminal berulir (threaded terminal) dari ujung bagian atas terminal. Gambar 5 - Tipe setengah ulir 5 dari 14

SNI 2929:2008 Tabel 2 - Ukuran bagian luar Satuan dalam millimeter Kelas 14 mm 12 mm 10 mm Bentuk Tipe umum (General type) Tipe segi enam ukuran kecil (Small-size hexagonal type) Tipe kompak (Compact type) Tipe umum (General type) Tipe segi enam ukuran kecil (Small-size hexagonal type) Tipe umum (General type) Ukuran nominal ulir Ukuran D Diameter utama Pitch M14S 14 1,25 M12S 12 1,25 M10S 10 1 A ± 0,2 B Maks. C C 1 Min. d 1 Maks. d 2 ± 0,3 d 3 Maks. l 1 Min. l 2 Min. l 3 Maks. 9,5 18 0 12,7 21 23 20,8 12,2 20,8-0,4 19 27 4 10 68 65 12,7 21 0-17,5 20 10,5 19 27 16-0,27 - - - 9,5 16 0 19-0,27 21 19 12,2 3 3 46 43 12,7 19 20 10 (6) 0 atau 19 27 18-0,3 17,5 10,5-4 6 61 58 12,7 19 0 17,5 10,5 19 27 16-0,27 12,7 19 17,5 16 10 (6) - 19 25 0 atau 16-0,27 19 25 10,5 11 4 6 61 58 Tipe segi enam ukuran kecil (Small-size hexagonal type) Keterangan (6) Dapat juga digunakan nilai lain berdasarkan persetujuan antara pihak yang berkepentingan, disarankan untuk menggunakan nilai 10,5 mm sejauh masih memungkinkan l 4 Maks. 6 dari 14

5.2 Ukuran dan toleransi ulir busi Tabel 3 Ukuran dan toleransi ulir besi Satuan dalam millimeter Ulir bagian luar Ulir bagian dalam Diameter utama Diameter pitch Diameter minor Diameter utama Diameter pitch Diameter minor Ukuran nominal ulir Pitch P Tolerasni Tolerasni Tolerasni Tolerasni Tolerasni M14S 1,25 13,937 13,725 0,212 13,125 12,993 0,132 12,404 12,181 0,223 14,000 13,368 13,188 0,180 12,912 12,647 0,265 M12S 1,25 11,937 11,725 0,212 11,125 10,993 0,132 10,404 10,181 0,223 12,000 11,368 11,188 0,180 10,912 10,647 0,265 M10S 1 9,974 9,794 0,180 9,324 9,212 0,112 8,747 8,563 0,184 10,000 9,500 9,350 0,150 9,153 8,917 0,236 Tidak ditentukan CATATAN 1. Bentuk dasar ulir busi sesuai dengan ketentuan dalam SNI 05-2933-1992, Ulir metrik halus- dan toleransi. 2. Batas penyimpangan ukuran sesuai dalam ISO 1919: 1998, Road vehicles-m14x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings, ISO 2704: 1998, Road vehicles-m10x1 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings dan ISO 2705: 1999, Road vehicles-m12x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings 7 dari 14

5.3 Terminal Terminal diklasifikasikan ke dalam dua tipe, yaitu: - Terminal tanpa ulir (solid terminal) - Terminal berulir (thread terminal) Bentuk dan ukuran terminal ditunjukkan pada Gambar 5 dan Tabel 4. CATATAN Terminal tanpa ulir juga dapat dipasang mur dengan ketentuan dalam hal ini bentuk dan ukuran harus sesuai dengan terminal tanpa ulir sebagai tambahan. Keterangan gambar: (7) Ukuran menunjukkan panjang ulir efektif. Ukuran nominal ulir Pitch P Ulir bagian luar Diameter utama Batas dimensi maks. Batas dimensi min. Toleransi Gambar 5 - Bentuk dan ukuran terminal Diameter pitch Batas dimensi maks. Batas dimensi min. Toleransi M4 0,7 3,944 3,804 0,140 3,489 3,399 0,090 Diameter minor Batas dimensi maks. Batas dimensi min Tidak ditentukan Ulir bagian dalam Diameter Diameter pitch utama Batas dimensi maks. Batas dimensi min Tidak ditentukan Batas dimensi maks. 3,663 Batas dimensi min. 3,54 5 Toleransi Diameter minor Batas dimensi maks. Batas dimensi min 0,118 3,422 3,242 CATATAN 1. Bentuk dasar ulir terminal sesuai dengan ketentuan dalam SNI 05-2392-1991, Ulir sekrup metrik, dimensi dasar dan atau revisinya. 2. Batas penyimpangan ukuran untuk ulir luar mengacu pada 6e yang diuraikan dalan SNI 05-2933-1992, Ulir metrik halus- dan toleransi dan atau revisinya, 6H untuk ulir dalam menurut SNI 05-2934-1992, Ulir metrik kasar- dan toleransi dan atu revisinya. Toleransi 0,1 80 8 dari 14

5.4 Gasket Apabila dikencangkan dengan momen sesuai pada Tabel 5, tebal gasket harus mempunyai ketebalan sesuai dengan tingkat yang ditentukan. Diameter gasket harus lebih kecil dari ukuran lubang kepala silinder (cylinder head) sesuai dengan ISO 1919: 1998, Road vehicles- M14x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings, ISO 2704: 1998, Road vehicles-m10x1 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings, ISO 2705: 1999, Road vehicles-m12x1,25 spark plugs with plate seating and their cylinder head housings dan ISO 2346: 2001, Road vehicles-m12x1,25 compact spark plugs with plate seating and 19 mm hexagon and their cylinder head housings. Tabel 5 - Ukuran momen pengencang dan tebal gasket Tipe 14 mm 12 mm 10 mm Kekuatan momen pengencang, N.m 30 25 15 Tebal gasket, mm 1,3 2 1 1,6 1 1,6 CATATAN Tebal gasket diukur pada kondisi ulir busi baik, bebas dari pengaruh oli dan kerusakan 6 Syarat mutu 6.1 Sifat tampak Tampak luar busi apabila dilakukan pengujian secara visual harus bebas dari kerusakan, karat dan kerusakan lain yang dapat mengganggu dalam penggunaan. 6.2 Unjuk kerja (performance) Unjuk kerja busi apabila dilakukan pengujian sesuai dengan butir 8 hasilnya harus memenuhi ketentuan dalam Tabel 6, tetapi nomor (8) sampai nomor (10) pada Tabel 6 tidak berlaku untuk busi tanpa resistor. Jenis pengujian (1) Resistansi insulasi (insulation resistance) (2) Unjuk kerja cetus api (Spark performance) (3) Resistansi impak (Impact resistance) (4) Kebocoran udara (Airtighness) (5) Resistansi termal (Thermal resistance) (6) Resistansi kejut termal (Thermal shock resistance) Tabel 6 - Unjuk kerja Unjuk kerja Metode pengujian Resistansi insulasi harus 50 mω atau lebih tinggi 8.2.2 Kondisi loncatan bunga api harus memuaskan dan loncatan bunga api tidak boleh terjadi pada tempat lain selaincelah cetus api Masing-masing bagian busi diproduksi tanpa cacat. Selanjutnya variasi pada nilai resistansi dari busi dengan resistor (resistance value of resistor-incorporated plugs) tidak lebih dari ± 10 % sebelum pengujian Kebocoran udara dari dalam busi tidak boleh lebih dari 1 ml/min Tidak boleh terjadi cacat seperti retak pada masing-masing bagian busi Tiak boleh terjadi cacat seperti retak pada masing-masing bagian busi 8.2.3 8.2.4 8.2.5 8.2.6 8.2.7 9 dari 14

Jenis pengujian (7) Resistansi insulasi termal (Heat insulation thermal) (8) Nilai resistansi pada busi dengan resistor (Resistance value of incorporated resistor) (9) Loading life of incorporated resistor (10) Heating characteristic of corporated resistor Tabel 6 (lanjutan) Unjuk kerja Resistansi insulasi termal harus 1 mω atau lebih tinggi Nilai resistansi pada busi dengan resistor harus 5 + kω 2,5 2,0 Perbedaan nilai resistansi pada busi dengan resistor (Resistance value of resistor incorporated plugs) tidak lebih dari ± 30 % dibanding sebelum pengujian Perbedaan nilai resistansi pada busi dengan resistor (resistance value of resistor incorporated plugs) dapat dilihat pada Tabel 7 Tabel 7 - Tingkat variasi nilai tahanan Metode pengujian 8.2.8 8.2.9 8.2.10 8.2.11 Satuan dalam % Tingkat variasi terhadap nilai resistansi sebelum pengujian Temperatur uji Kembali pada keadaan Kondisi keadaan panas temperatur awal 150 ºC + 25-40 ± 10 300 ºC - ± 25 7 Cara pengambilan contoh Pengambilan contoh dilakukan secara acak oleh Petugas Pengambil Contoh (PPC) dengan jumlah disesuaikan dengan persetujuan PPC dan produsen. 8 Cara uji 8.1 Sifat tampak (Appearance) Pengujian sifat tampak dilakukan secara visual. 8.2 Unjuk kerja (Performance) 8.2.1 Kondisi pengujian Busi harus diuji dengan kondisi seperti berikut: a) Temperatur ruang pengujian adalah 20 ºC ± 15 ºC dan kelembaban 65 % ± 20 %. b) Ammater, voltmeter dan ohmmeter yang digunakan dalam pengujian harus memiliki kelas indeks 0,5 sesuai dalam JIS C 1102 atau yang mempunyai ketelitian yang sama atau lebih. 10 dari 14

c) Alat uji resistansi insulasi yang digunakan dalam pengujian adalah 500 V atau 1000 V sesuai dalam JIS C 1302 atau yang mempunyai ketelitian yang sama atau lebih baik. 8.2.2 Uji ketahanan insulator (Insulation resistance test) Ukur ketahanan insulator (insulation resistance) antara pusat elektroda busi dan bagian grounding dengan menggunakan insulation resistance tester. 8.2.3 Uji kinerja cetus api (Spark performance test) Lakukan pengujian dengan menggunakan peralatan uji seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6 (tegangan penyedia sekitar 6 V atau 12 V; distributor berputar pada kecepatan 800 rpm), kemudian gunakan tekanan udara 0,785 MPa (8 kgf/cm 2 ) menuju celah cetus api dan periksa kondisi loncatan bunga api. Ukuran tripolar acicular gaps harus sesuai dalam Tabel 8. Keterangan gambar: (8) Ignition coil yang digunakan harus sesuai dengan JIS D 5121 Gambar 6 - Alat uji kinerja spark (contoh) Tabel 8 - Ukuran tripolar acicular clearance Satuan dalam milimeter Spark gap Tripolar acicular clearance < 0,5 10,0 0,5 < 0,6 11,5 0,6 < 0,7 13,0 0,7 < 0,8 14,5 0,8 < 0,9 16,0 0,9 < 1,0 17,5 1,0 < 1,1 19,0 1,1 < 1,2 20,5 1,3 < 1,4 23,5 1,4 < 1,5 25,0 > 1,5 26,5 11 dari 14

Gambar 7 - Lay out diagram tripolar acicular gap CATATAN 1. Tipe 90 º atau tipe 60 º juga dapat digunakan. 2. Elektroda yang digunakan bagian ujung yang lancip harus halus. 8.2.4 Uji tahanan impak (Impact resistance test) a) Pasangkan busi pada peralatan pengujian seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8. b) Jalankan impak selama 10 menit dengan kecepatan 400 kali per menit. c) Periksa terjadinya perubahan pada busi. Untuk resistor busi, ukur nilai resistansi sebelum dan sesudah pengujian sesuai dalam butir 8.2.9 dan periksa perubahan yang terjadi. Sebagai peralatan pengujian dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8 - Contoh peralatan pengujian resistansi impak 8.2.5 Uji kebocoran udara (Airtightness) Setelah busi dibiarkan dalam atmosfir pada suhu 150 ºC selama 30 menit, berikan tekanan udara 1,5 MPa pada bagian igniting dan ukur jumlah kebocoran udara dari dalam busi. 8.2.6 Uji resistansi terhadap termal (Thermal resistance test) Setelah ujung insulator busi pada elektroda bagian tengah dipanaskan sampai 800 ºC dengan gas burner, perlahan-lahan didinginkan pada temperatur ruang lalu lakukan 12 dari 14

pengujian penetrant pada insulator dan secara visual tidak diperbolehkan ada kerusakan seperti retak. 8.2.7 Uji resistansi terhadap termal kejut (Thermal shock resistance test) Cara pemanasan busi diulangi 3 kali selama 30 menit dan lakukan pendinginan segera dengan mencelupkan ke dalam air pada temperatur udara normal, dan periksa adanya kerusakan pada masing-masing bagian busi. Perbedaan temperatur dalam uji coba ini tidak lebih dari 130 ºC. Pada pengujian penetrant pada insulator tidak diperkenankan adanya seperti retak. 8.2.8 Uji resistansi dari insulator yang dipanaskan (Heated insulation resistance test) Saat busi dibiarkan pada suhu 400 ºC, lakukan pengukuran nilai resistansi insulasi (insulation resistance) antara ujung elektroda bagian tengah dan bagian ground menggunakan alat penguji resistansi isolasi. 8.2.9 Uji nilai resistansi dari resistor (Incorporated resistor resistance test) Memakai sebuah tegangan penyedia DC 12 volt di antara elektroda tengah dan terminal dari busi dengan resistor (terminal of the resistor incorporated plugs), ukur nilai resistansi di antara keduanya dan koreksi nilai resistansi yang berlaku pada suhu 20 ºC dengan menggunakan preliminary determined resistance-temperature characteristics. 8.2.10 Uji incorporated resistor loading life Setelah mengukur nilai resistansi pada busi dengan resistor termasuk 8.2.9, hubungkan busi dalam metode yang ditunjukkan pada contoh di Gambar 9, dan setelah pengujian selama 250 jam dalam keadaan yang ditunjukkan pada Tabel 9, biarkan bertahan selama 1 jam. Kemudian ukur nilai resistansi lagi dan bandingkan perubahan dari nilai-nilai sebelum pengujian. Keterangan gambar: (9) Tripolar acicular gap yang digunakan harus mempunyai kondisi yang ditunjukkan pada Tabel 9. Gambar 9 - Diagram hubung untuk incorporated resistor loading 13 dari 14

Item Tripolar acicular clearance Uji voltage Distributor revoiving speed Tabel 9 - Kondisi pengujian 8.2.11 Uji karakteristik pemanasan resistor incorporated Kondisi uji 10 mm 14 V 800 rpm Ukur nilai resistansi dari busi dengan resistor menurut 8.2.9 lalu biarkan busi pada suhu 150 ºC selama 2 jam dan setelah itu kembalikan busi segera ke dalam udara yang bertemperatur normal dan ukur lagi nilai resistansi setelah restorasi temperatur normal. Kemudian setelah busi dibiarkan pada suhu 300 ºC selama 20 menit, kembalikan busi segera ke dalam temperatur normal, ukur nilai resistansi setelah kembali ke temperatur normal dan bandingkan perubahan nilai resistansi dengan sebelum pengujian. 9 Syarat lulus uji Busi dinyatakan lulus uji apabila setelah dilakukan pengujian sesuai dengan butir 8 hasilnya memenuhi ketentuan dalam butir 6. 10 Syarat penandaan 10.1 Penandaan pada produk Setiap produk busi harus diberi tanda dengan mencantumkan: - Kelas - Jenis insulator - Kode produksi - Merek produk 10.2 Penandaan pada kemasan Pada setiap kemasan busi harus diberi tanda dengan mencantumkan: - Nama produk - Kelas - Tipe - Jumlah 14 dari 14