BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. meningkat dengan tajam, sementara itu pertambahan jaringan jalan tidak sesuai

BAB I PENDAHULUAN. utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Kendaraan bermotor merupakan

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. KATA PENGANTAR... iii. ABSTRAK... vi. ABSTRACT... vii. DAFTAR ISI... viii. DAFTAR TABEL...

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan kota lebih banyak mencerminkan adanya perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. ini dalam mendukung perkembangan kemajuan kota-kota besar di dunia, namun

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

V. KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan dari hasil survei, perhitungan dan pembahasan dapat diperoleh

BAB I PENDAHULUAN. kota yang menjadi hunian dan tempat mencari kehidupan sehari-hari harus bisa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya dukung unsur unsur

BAB I PENDAHULUAN. orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan

ESTIMASI SEBARAN KERUANGAN EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR DI KOTA SEMARANG LAPORAN TUGAS AKHIR

4.1 Konsentrasi NO 2 Tahun 2011

BAB I PENDAHULUAN. konstan meningkat sebesar 5,64 % (BPS, 2012). Perkembangan pada suatu wilayah

BAB I PENDAHULUAN. dan pemukiman. Sebagaimana kota menurut pengertian Bintarto (1977:9)

BAB 1 : PENDAHULUAN. Udara tersebut berbentuk gas dan terdapat dimana-mana, sehingga akibatnya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah. Bagi masyarakat, transportasi merupakan urat nadi kehidupan sehari-hari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas lingkungan yang baik merupakan hal penting dalam menunjang kehidupan manusia di dunia.

I. PENDAHULUAN. Kota Bandar Lampung merupakan sebuah pusat kota, sekaligus ibu kota Provinsi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 : PENDAHULUAN. Akan tetapi udara yang benar-benar bersih saat ini sudah sulit diperoleh, khususnya

BAB 1 : PENDAHULUAN. kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara

Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software For evaluation only.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. gas nitrogen dan oksigen serta gas lain dalam jumlah yang sangat sedikit. Diantara

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas udara berarti keadaan udara di sekitar kita yang mengacu pada

BAB I PENDAHULUAN. pengaruhnya terhadap ekosistem secara global. Udara yang kita pakai untuk

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup lainnya (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41. Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara).

SUMMARY. ANALISIS KADAR NITROGEN DIOKSIDA (NO₂) dan KARBONMONOKSIDA (CO) DI UDARA AMBIEN KOTA GORONTALO

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LatarBelakang

BAB I PENDAHULUAN. sungai maupun pencemaran udara (Sunu, 2001). dan dapat menjadi media penyebaran penyakit (Agusnar, 2007).

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang semakin menurun untuk mendukung kehidupan mahluk hidup. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. dan sektor transportasi berjalan sangat cepat. Perkembangan di bidang industri

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PROFIL VOLUME LALU LINTAS DAN KUALITAS UDARA AMBIEN PADA RUAS JALAN IR. SOEKARNO SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Jalur hijau di sepanjang jalan selain memberikan aspek estetik juga dapat

PENCEMARAN UDARA AKIBAT KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN P. H. H. MUSTOFA, BANDUNG. Grace Wibisana NRP : NIRM :

Dosen pengasuh: Ir. Martono Anggusti.,S.H.,M.M,.M.Hum

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dengan perkembangan jumlah penduduk, ekonomi, industri, serta transportasi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan antara..., Dian Eka Sutra, FKM UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. dalam usaha di bidang kesehatan seperti di jelaskan dalam Undang-Undang Nomor

ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI KALOR PADA INDUSTRI TAHU

BAB I PENDAHULUAN. udara terbesar mencapai 60-70%, dibanding dengan industri yang hanya

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan bahan fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. beberapa tahun terakhir ini. Ekonomi kota yang tumbuh ditandai dengan laju urbanisasi yang

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)

ANALISIS PENERAPAN KEBIJAKAN PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DARI KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN ESTIMASI BEBAN EMISI (Studi Kasus : DKI JAKARTA)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu

BAB I PENDAHULUAN. lemahnya perencanaan dan kontrol membuat permasalahan transportasi menjadi

IV. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III PENCEMARAN UDARA YANG DIAKIBATKAN OLEH KENDARAAN BERMOTOR. A. Penyebab Terjadinya Peningkatan Pencemaran Udara yang Diakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. hidup terutama manusia. Di dalam udara terdapat gas oksigen (O 2 ) untuk

I. PENDAHULUAN. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kota-kota seluruh dunia.

BAB I PENDAHULUAN. hidup manusia terutama masalah lingkungan, Pencemaran udara yang paling

ESTIMASI KUALITAS UDARA AMBIEN KOTA BANDUNG DENGAN MENGGUNAKAN MODEL DISPERSI MUAIR

BAB 1 PENDAHULUAN. A World Health Organization Expert Committee (WHO) menyatakan bahwa

Winardi 1 Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Tanjungpura Pontianak

II.TINJAUAN PUSTAKA. tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan, baik yang digerakkan

BAB I. PENDAHULUAN. Yogyakarta merupakan kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di

II. TINJAUAN PUSTAKA. terjadinya perpindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lain.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sebagai Negara berkembang mirip dengan Negara lainnya. Pertumbuhan

GREEN TRANSPORTATION

PENDETEKSI DAN PENETRALISIR POLUSI ASAP DENGAN KONTROL MELALUI APLIKASI ANDROID (RANCANG BANGUN PERANGKAT KERAS)

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan kota sebagai pusat pemukiman, industri dan perdagangan

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi, sosial dan budaya dengan sendirinya juga mempunyai warna

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

DAFTAR ISI. Halaman Judul... Halaman Pengesahan... Kata Pengantar Dan Persembahan... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

S - 9 ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA UNTUK MENGUJI KETERKAITAN ANTARA KONSENTRASI PM 10 DENGAN CO DI DERAH TRANSPORTASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perubahan lingkungan udara pada umumnya disebabkan oleh pencemaran,

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Analisis faktor..., Agus Imam Rifusua, FE UI, 2010.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Gorontalo dibagi menjadi 9 kecamatan, terdiri dari 50 kelurahan. Secara

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Udara di perkotaan tak pernah terbebas dari pencemaran asap beracun yang dimuntahkan oleh jutaan knalpot kendaraan bermotor. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh JICA tahun 1995 dan ADB tahun 2002 kendaraan bermotor merupakan kontributor terbesar pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia. Emisi gas buang kendaraan seperti HC, CO, NOx dan PM merupakan polutan polutan dominan yang di keluarkan oleh kendaraan bermotor yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya. Tingkat pencemaran gas buang itu secara pasti akan terus naik dengan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang memadati jalan-jalan, yang hampir seluruhnya menggunakan bahan bakar fosil. Lebih dari 70% pencemaran udara di kota-kota besar disebabkan oleh kendaraan bermotor (sumber bergerak), padahal jumlah kendaraan di kota-kota besar terus meningkat hingga mencapai 15% per tahun. Sedangkan 30% sumber pencemar udara berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, pembakaran sampah, efek tambahan dari turbulensi zat pencemar udara pada lokasi pemusatan bangunan tinggi, dan lain-lain (Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, 2007). Penelitian yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) pada beberapa kota besar di Asia Tenggara menunjukkan bahwa di kota-kota besar tersebut ditemukan adanya gejala penurunan tingkat kecerdasan anak pada kawasan yang tercemar partikel timbal dari asap kendaraan bermotor. JICA pada tahun 1995 dan ADB tahun 2002 melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa kendaraan bermotor merupakan kontributor terbesar pencemaran udara di kota-kota besar di Indonesia. Emisi gas buang kendaraan seperti HC, CO, NO x dan PM merupakan polutan polutan dominan yang di keluarkan oleh kendaraan bermotor yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan 1

mahluk hidup lainnya. Tingkat pencemaran gas buang itu secara pasti akan terus naik dengan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang memadati jalanjalan, yang hampir 100 persen masih menggunakan bahan bakar fosil. Pembakaran BBM oleh mesin kendaraan itu menghasilkan gas sisa pembakaran yang umumnya berupa gas-gas nitrogen (NO x ), sulfur (SO x ), gas-gas karbon (CO dan CO 2 ) dan partikel timbal. Emisi gas buang ini memberi kontribusi pencemaran udara yang terbesar dibandingkan sumber-sumber pencemar lain seperti industri. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor tanpa pengawasan emisi kendaraan bermotor tentunya akan memperparah kondisi udara. Menurut perkiraan JICA (Japan Indonesia Cooperation Agency) dibandingkan tahun 1995, polusi udara yang terdiri dari CO, HC, NO x, SO x akan meningkat dua kali lipat lebih pada tahun 2010. Beberapa penelitian yang dilakukan di bidang kesehatan menunjukkan bahwa bagian tengah kota menunjukkan suhu yang lebih tinggi 3-4 Celcius dibandingkan dengan wilayah sekitarnya (Caldwell, 1981) yang dapat terjadi sepanjang tahun. Pada musim panas, perbedaan suhu tersebut menjadi lebih tajam. Menurut Caldwell, hal ini terutama disebabkan oleh luasnya tutupan lahan yang berupa pengerasan (seperti semen dan aspal). Semakin kering tanah, semakin sedikit panas yang dipancarkan dengan evaporasi. Di sisi lain kota cenderung memiliki udara yang lebih buruk untuk melepaskan panas dibandingkan dengan wilayah pedesaan. Hal ini disebabkan luasnya daerah tutupan akibat pengerasan dan rapatnya bangunan. Hasil penelitian di atas menunjukkan betapa pentingnya penataan ruang kota yang baik agar masyarakat dapat hidup nyaman. Penataan ruang kota mampu memberikan upaya preventif dan rehabilitatif lebih pada sumber-sumber pencemar udara secara kontinu di berbagai titik dan jalur pencemaran udara kritis diharapkan mampu mengurangi dampak pencemaran udara, dan pada akhirnya dapat memberikan kesehatan dan kenyamanan bagi penghuninya. Dalam perwujudannya, kenyamanan tersebut dapat ditandai dengan (White, Rodney R, 1994, Urban Environmental Management & Change and Urban Design): 2

a. Tempat untuk hidup dan mencari penghidupan; b. Aksesibilitas dan transportasi; c. Kondisi lingkungan; d. Hubungan antara lingkungan fisik dan sosial; e. Privacy and neighbourliness; f. Kelenturan (flexibility). Kota Tangerang berdasarkan kriteria ukuran sebuah kota termasuk ke dalam kategori kota metropolitan. Seperti halnya pada kota besar lainnya di Indonesia, permasalahan yang sering timbul adalah menyangkut penurunan kualitas udara. Penurunan kualitas udara ini menjadi masalah karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan salah satunya adalah Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Pada tahun 2006 ada 11 penyakit menular yang diamati di Kota Tangerang dan tercatat sebanyak 155.397 kasus penyakit ISPA yang muncul paling tinggi dibanding penyakit menular yang lain serta menduduki peringkat pertama dalam 10 besar kasus penyakit yang terjadi di Kota Tangerang (Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Tangerang, 2007). Data dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang menunjukkan bahwa pada tahun 2006 jumlah kasus penderita penyakit ISPA yang terjadi meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dari jumlah kasus sebanyak 111.089 pada tahun 2003 menjadi 155.397 kasus pada tahun 2006. Kasus ISPA secara umum disebabkan oleh debu dan asap dari kendaraan bermotor. Meningkatnya kasus ISPA ini sejalan dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor (umum dan non-umum). Hingga tahun 2005 terdapat 7.556 kendaraan umum, 83.619 kendaraan non-umum dan 283.306 sepeda motor yang tercatat di Kota Tangerang (Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Tangerang, 2007). Penggunaan kendaraan roda dua (sepeda motor) lebih banyak dibanding kendaraan bermotor lainnya karena sepeda motor dianggap oleh masyarakat sebagai sarana yang paling efektif dan efisien, terutama setelah semakin tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) yang ditetapkan oleh pemerintah. Padahal berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, sepeda motor memiliki 3

kontribusi pencemaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan bermotor lainnya. Data beberapa tahun terakhir menunjukkan selalu terjadi peningkatan jumlah titik kemacetan di Kota Tangerang. Kinerja pembakaran bahan bakar kendaraan dalam keadaan macet lebih rendah dibandingkan dengan pada saat melaju cepat sehingga hal ini memicu pembakaran yang tidak sempurna yang pada akhirnya akan meningkatkan emisi polutan dari kendaraan bermotor. Terkonsentrasinya zat pencemar pada satu lokasi dalam selang waktu yang cukup lama, juga menjadi sebab mengapa kemacetan merupakan salah satu masalah yang membahayakan kualitas udara di lingkungan perkotaan. I.2 Perumusan Masalah Pesatnya perkembangan aktivitas perkotaan di berbagai sektor dapat memberikan dampak negatif yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan. Dampak negatif yang muncul sering dianggap hanya sebagai dampak sementara dari proses perkembangan perkotaan. Namun dalam perkembangannya diketahui bahwa ternyata dampak lingkungan tersebut dapat memberikan efek divergensi pada berbagai indikator kualitas hidup masyarakat kota, antara lain penurunan tingkat kesehatan dan kenyamanan lingkungan. Perubahan pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan menyebabkan terjadinya perubahan aktivitas penduduk. Perubahan ini menyebabkan terjadinya pemusatan kegiatan-kegiatan tertentu yang disebabkan adanya perubahan pemanfaatan ruang yang disesuaikan dengan fungsi ruang tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan mobilitas penduduk untuk melakukan aktivitas tertentu pada suatu lokasi yang memiliki fungsi tertentu pula. Misalnya akibat perencanaan tata ruang yang memfungsikan suatu kawasan sebagai kawasan industri, pada akhirnya akan menyebabkan peningkatan mobilitas penduduk dari suatu kawasan permukiman untuk mencapai kawasan industri tempat mereka bekerja. Peningkatan mobilitas ini pada akhirnya akan mendorong pemanfaatan kendaraan bermotor oleh masyarakat. Kurang tersedianya sarana transportasi yang memadai 4

serta distribusi pusat aktivitas ekonomi yang tidak merata memicu pemanfaatan kendaraan bermotor pribadi yang semakin tinggi. Peningkatan pemanfaatan kendaraan bermotor ini menyebabkan terjadinya peningkatan emisi kendaraan bermotor yang dapat menyebabkan penurunan kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Karena besarnya peranan dan kontribusi kendaraan bermotor dalam pencemaran udara di kawasan perkotaan, maka upaya penghijauan di sepanjang jalur lalu lintas menjadi syarat utama dalam perencanaan dan penataan ruang. Di samping itu pengadaan taman-taman kota serta ruang terbuka hijau (RTH) lainnya yang tersebar di berbagai tempat dapat mengurangi kadar zat pencemar udara dan menambah tingkat kenyamanan kota. Puslitbang Jalan pada tahun 2006 telah melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa tanaman-tanaman yang terdapat di RTH dapat mereduksi polusi udara sekitar 5 hingga 45%. Penyediaan RTH dipandang sebagai salah satu unsur dalam upaya penanganan pencemaran kendaraan bermotor yang paling implementatif dibandingkan dengan cara lainnya. Pembatasan kendaraan bermotor di Indonesia masih sulit untuk dilakukan mengingat sampai saat ini Pemerintah masih belum mampu menyediakan sarana angkutan umum yang memadai untuk mengakomodir mobilitas penduduknya. Pencemaran udara bisa juga dilakukan dengan menekan mobilitas penduduk melalui pengembangan compact city agar setiap aktivitas penduduk bisa dilakukan pada satu lokasi dengan area yang relatif terbatas sehingga mengurangi penggunaan kendaraan bermotor untuk mendukung aktivitasnya. Namun hal ini juga cukup sulit diterapkan di kota-kota besar di Indonesia karena membutuhkan biaya yang cukup besar serta perencanaan dalam periode yang cukup panjang. Dengan dasar pertimbangan itulah RTH dianggap sebagai cara tepat dalam upaya peningkatan kualitas udara di kota besar karena bisa diintegrasikan dengan perencanaan tata ruang yang sudah ada dan membutuhkan biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan kedua opsi lainnya. RTH juga sangat efektif mengurangi efek-efek climatological heath pada lokasi pemusatan bangunan tinggi yang berakibat pada timbulnya anomali dalam 5

pergerakan zat pencemar udara yang berdampak destruktif baik terhadap fisik bangunan maupun mahluk hidup. Hal ini menuntut perencanaan khusus bagi berbagai pihak yang bergerak dalam bidang perencanaan kota agar lebih memperhitungkan distribusi ruang terbuka hijau dalam upaya mengatur distribusi dan kerapatan bangunan-bangunan sehingga dampak terhadap kesehatan dan kenyamanan kondisi udara dapat dikurangi. Secara skematis perumusan masalah dapat disimpulkan dalam gambar berikut ini: SOCIAL ECONOMICS DRIVERS: Urbanisasi Perubahan Guna Lahan Peningkatan Mobilitas Perkembangan Transportasi RESPONSES: Policy& Action in Air Pollution Reduction Menekan pemanfaatan kendaraan pribadi dengan SAUM: Minimasi Mobilitas Penduduk dengan Compact City Perencanaan lebih kompleks Periode implementasi cukup panjang Perlu perubahan Tata Ruang Kualitas udara tidak bisa ditingkatkan dengan segera Reduksi Zat Pencemar dengan RTH Perencanaan lebih sederhana periode implementasi lebih pendek Terintegrasi dengan tata ruang eksisting memperbaiki kualitas udara dengan segera ENVIRONMENTAL PRESSURES: Peningkatan Polusi akibat Emisi Kendaraan Bermotor ENVIRONMENTAL STATE: Kualitas Udara Kota Menurun ENVIRONMENTAL IMPACTS: Penurunan kesehatan masyarakat Penurunan kenyamanan kota Gambar I.1 Skema Perumusan Masalah Mengingat besarnya aktivitas kendaraan bermotor di Kota Tangerang maka perlu dilakukan studi mengenai kebutuhan RTH untuk menurunkan tingkat pencemaran udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Studi ini dilakukan sebagai dasar perencanaan infrastruktur ruang terbuka hijau di Kota Tangerang. 6

Beberapa hal yang perlu dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pola bangkitan dan tarikan perjalanan di Kota Tangerang serta perkiraan peningkatannya dimasa yang akan datang (2) Bagaimana kualitas udara di Kota Tangerang saat ini dan bagaimana perkiraannya di masa yang akan datang bila dihubungkan dengan kondisi sistem transportasi yang akan dikembangkan (3) Seberapa besar kebutuhan akan ruang terbuka hijau di Kota Tangerang dalam upaya menurunkan tingkat pencemaran udara oleh emisi kendaraan bermotor (4) Apa yang menjadi faktor penentu dalam penurunan kualitas udara di Kota Tangerang I.3 Tujuan, Sasaran dan Manfaat Penelitian I.3.1 Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dampak peningkatan kebutuhan perjalanan terhadap penurunan kualitas udara serta menilai potensi RTH untuk meningkatkan kualitas udara di Kota Tangerang dalam upaya mencari yang paling aplikatif untuk meningkatkan kualitas udara di Kota Tangerang. I.3.2 Sasaran Sasaran yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Melakukan analisis bangkitan dan tarikan perjalanan di Kota Tangerang (2) Melakukan analisis kualitas udara di Kota Tangerang dengan ISPU (3) Melakukan analisis kebutuhan ruang terbuka hijau (4) Melakukan analisis faktor dominan dalam peningkatan kualitas udara I.3.3 Manfaat Beberapa manfaat yang diharapkan dapat diambil dari penelitian ini adalah: (1) Adanya gambaran mengenai perkembangan kualitas udara di Kota Tangerang akibat adanya emisi kendaraan bermotor 7

(2) Adanya prediksi mengenai kebutuhan RTH aktual dalam suatu sub wilayah yang lebih kecil di Kota Tangerang yang ditujukan untuk menurunkan pencemaran udara akibat emisi kendaraan bermotor (3) Diharapkan melalui studi kebutuhan RTH ini diharapkan dapat tercipta kualitas udara yang memenuhi syarat kesehatan di Kota Tangerang. I.4 Ruang Lingkup Penelitian I.4.1 Ruang Lingkup Wilayah Penelitian Penelitian akan dilakukan di seluruh wilayah administratif Kota Tangerang, meliputi seluruh jalan mayor dan minor di Kota Tangerang. Luas wilayah Kota Tangerang adalah 18.424 hektar yang terdiri atas 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan, dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 8.397 jiwa/km² (Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Tangerang 2007). I.4.2 Ruang Lingkup Materi Penelitian Materi penelitian akan mencakup 7 (tujuh) bahasan sebagai berikut: (1) Mengukur beban pencemaran yang dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor di Kota Tangerang. (2) Mengukur kualitas udara ambien pada seluruh wilayah Kota Tangerang secara spasial dalam subwilayah-subwilayah yang lebih kecil. (3) Menghitung luasan RTH eksisting dan kemampuannya dalam meningkatkan kualitas udara. (4) Menghitung luasan RTH yang maksimal dan kemampuannya dalam meningkatkan kualitas udara (5) Menghitung luasan RTH 30% dari luas wilayah dan kemampuannya dalam meningkatkan kualitas udara. (6) Menghitung kebutuhan luasan RTH yang mampu menurunkan tingkat pencemaran udara oleh polutan dominan dari kendaraan bermotor hingga tercapai kualitas udara yang memenuhi standar sehat. (7) Menganalisis keterkaitan antara guna lahan, pengembangan luas RTH dan pengembangan sistem jaringan jalan dengan kualitas udara di Kota Tangerang. 8

I.5 Metode Penelitian I.5.1 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data akan dilakukan dengan survei primer dan sekunder dengan rincian sebagai berikut: (1) Survei primer Survei primer dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai kondisi jalan sistem jaringan jalan sekunder di Kota Tangerang Jenis dan intensitas aktivitas penduduk di setiap sub wilayah untuk mengetahui pola penggunaan lahan aktual di Kota Tangerang 2) Survei sekunder dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai Tata guna lahan eksisting Luasan RTH eksisting Volume dan komposisi kendaraan pada ruas jalan utama berdasarkan hasil traffic counting pada tahun-tahun sebelumnya Volume bangkitan dan tarikan perjalanan pada subwilayahsubwilayah di Kota Tangerang I.5.2 Metode Analisis Analisis studi kebutuhan akan RTH untuk menurunkan tingkat pencemaran udara oleh kendaraan bermotor di Kota Tangerang ini dilakukan secara spasial. Hal ini disebabkan karena tingkat pencemaran yang dihasilkan oleh aktivitas kendaraan bermotor akan sangat berbeda pada sub wilayah. Intensitas kendaraan bermotor, jenis kendaraan bermotor, waktu tempuh dan panjang perjalanan akan mempengaruhi perbedaan tingkat pencemaran pada setiap sub wilayah. Perbedaan tingkat pencemaran ini akan menyebabkan perbedaan tingkat kebutuhan akan RTH di masing-masing lokasi. Selain itu ketersediaan lahan dan pemilihan jenis RTH untuk menurunkan tingkat pencemaran polutan tertentu juga menjadi alasan mengapa analisis secara spasial menjadi penting. 9

Dua pendekatan utama yang dilakukan sebelum melakukan analisis kebutuhan RTH secara spasial adalah pendekatan perhitungan beban pencemaran dari kendaraan bermotor dan pendekatan pemilihan jenis RTH. Kerangka penelitian didasarkan pada perbandingan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal yang didasarkan pada kajian teoritis, standar RTH dan standar kualitas udara yang sehat. Dalam melakukan kajian mengenai kondisi eksisting maka akan dianalisa tata ruang eksisting, luasan RTH eksisting, serta tingkat pemanfaatan kendaraan bermotor dan kuantitas emisi yang dihasilkannya. Kajian kondisi eksisting akan meliputi pula prediksi mengenai pertumbuhan pemanfaatan kendaraan bermotor dan emisi yang dihasilkannya, sehingga dapat diperoleh gambaran mengenai kuantitas emisi yang dihasilkan pada periode perencanaan tertentu yang dijadikan dasar dalam menentukan jumlah pencemar yang harus direduksi oleh RTH. Kesenjangan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal ini yang menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan RTH di Kota Tangerang. Bila kualitas udara eksisting di Kota Tangerang lebih buruk daripada kondisi ideal, maka diperlukan RTH sebagai alat untuk mereduksi polutan di udara. Bila kualitas udara eksisting masih memenuhi standar kualitas udara yang berlaku, maka analisa kebutuhan RTH akan dilakukan lebih didasarkan pada kebutuhan RTH akibat adanya pertumbuhan pemanfaatan kendaraan bermotor. 10

Variabel KLASIFIKASI LUASAN RTH KEBUTUHAN PERJALANAN 2006 Skenario Pengembangan RTH Eksisting RTH Maksimal RTH 30% Analisis Beban Emisi Analisis Beban Emisi Analisis Beban Emisi Analisis ISPU Analisis ISPU Analisis ISPU RTH Eksisting RTH Maksimal RTH 30% Analisis Beban Emisi Analisis Beban Emisi Analisis Beban Emisi Analisis ISPU Analisis ISPU Analisis ISPU Ya Memenuhi standar kualitas udara sehat? Tidak Perhitungan Kebutuhan Luas RTH 1. Target Nilai ISPU 50 (baik) atau 100 (sedang) 2. Beban emisi maksimal 3. Beban emisi yang harus diserap 4. Data daya serap RTH terhadap zat pencemar Luas RTH Ideal Analisis Potensi Penerapan Luasan RTH Terpilih (eksisting-maksimal-30%-ideal) 1. Presentase luas RTH ideal terhadap luas wilayah 2. Ketersediaan Lahan 3. RTRW SELESAI Ya Aplikatif? Tidak mencari alternatif pemecahan masalah melalui analisis faktor dominan dalam peningkatan kualitas udara 1. Keterkaitan dengan guna lahan 2. Keterkaitan dengan pengembangan luasan RTH 3. Keterkaitan dengan skenario pengembangan jaringan jalan Gambar I.2 Skema Kerangka Analisis 11

Tabel I.1 Ruang Lingkup, Data, Metode dan Analisis untuk Mencapai Sasaran Penelitian No. Sasaran Penelitian Lingkup Data Metode Analisis 1. Melakukan analisis Analisis volume kendaraan bermotor Luas sub wilayah Proyeksi Distribusi bangkitan dan Analisis komposisi jenis kendaraan Panjang jalan peningkatan volume tarikan perjalanan di Analisis jumlah kendaraan berdasarkan jenisnya Volume perjalanan kendaraan per kendaraan Kota Tangerang Analisis dilakukan pada periode analisis sampai hasil pemodelan jenis selama bermotor secara 2015 dan untuk beberapa skenario pengembangan Komposisi jenis periode analisis spasial jaringan jalan kendaraan 2. Melakukan analisis kualitas udara di Kota Tangerang dengan ISPU Analisis beban emisi dari kendaraan bermotor Penentuan beban emisi per sub wilayah Sumber emisi dari seluruh jenis kendaraan bermotor Analisis jenis zat pencemar utama yang paling mempengaruhi kualitas udara Analisis distribusi kualitas udara secara spasial dengan luas RTH eksisting Analisis distribusi kualitas udara secara spasial dengan pengembangan RTH luasan maksimal Analisis distribusi kualitas udara secara spasial dengan pengembangan RTH 30% Analisis dilakukan hingga tahun 2015 dan untuk beberapa skenario pengembangan jaringan jalan Faktor emisi Luas sub wilayah Beban emisi Kecepatan angin rata-rata Ketinggian pencampuran zat pencemar di atmosfer Jumlah arah angin Perhitungan beban pencemar dengan metode bottom-up Perhitungan konsentrasi zat pencemar di atmosfer Konversi konsentrasi zat pencemar menjadi angka nyata ISPU Distribusi beban emisi secara spasial untuk setiap jenis zat pencemar Distribusi konsentrasi zat pencemar di atmosfer secara spasial Distribusi nilai ISPU secara spasial 12

Tabel I.1 Ruang Lingkup, Data, Metode dan Analisis untuk Mencapai Sasaran Penelitian (lanjutan) No. Sasaran Penelitian Lingkup Data Metode Analisis 3. Melakukan analisis Melakukan analisis ketersediaan lahan untuk Daya serap RTH Pengelompokan jenis Kesenjangan kebutuhan ruang RTH terhadap pencemar guna lahan yang antara luas terbuka hijau Melakukan analisis kebutuhan dan potensi ISPU batas atas berpotensi dijadikan lahan pengembangan RTH untuk memenuhi ISPU batas bawah RTH tersedia dan standar kualitas udara sehat Ambien batas atas Estimasi beban emisi luas Analisis dilakukan berdasarkan pada Ambien batas bawah maksimal yang kebutuhan kebutuhan luas RTH per sub wilayah pada Konsentrasi menghasilkan nilai RTH secara periode analisis sampai 2015 dan untuk pencemar di ISPU sehat spasial beberapa skenario pengembangan sistem atmosfer jaringan jalan 4. Melakukan analisis faktor dominan dalam peningkatan kualitas udara Analisis keterkaitan antara guna lahan dengan kualitas udara Penentuan faktor yang lebih dominan antara klasifikasi pengembangan RTH dan skenario pengembangan jaringan jalan dalam peningkatan kualitas udara Periode analisis sampai 2015 Analisis dilakukan pada periode analisis sampai 2015 dan untuk beberapa skenario pengembangan jaringan jalan 13 Peta digital guna lahan eksisting Luas lahan yang masih tersedia Peta kualitas udara Perbandingan antara luas lahan tersedia dan luas RTH yang dibutuhkan Overlay peta guna lahan dan peta kualitas udara Perbandingan presentase terjadinya perbaikan ISPU terhadap seluruh peluang kejadian Frekuensi perubahan nilai ISPU pada skenario tertentu Frekuensi perubahan nilai ISPU pada guna lahan tertentu

I.6 Jadwal Pelaksanaan Penelitian dilakukan selama 4 (empat) bulan dari awal Juli sampai dengan akhir Oktober 2008 dengan tahapan kegiatan sebagai berikut: N O KEGIATAN 1. Persiapan 2. Inventarisasi data sekunder 3. Inventarisasi data primer 4. Analisis komposisi jenis kendaraan 5. Perkiraan jumlah kendaraan dengan variabel: a. Periode analisis b. Skenario pengembangan sistem jaringan jalan 6. Analisis beban emisi secara spasial dengan variabel: a. Periode analisis b. Skenario pengembangan sistem jaringan jalan c. Klasifikasi luasan RTH 7. Analisis jenis polutan dominan 8. Perhitungan konsentrasi polutan di udara 9. Analisis kualitas udara secara spasial dengan ISPU 10. Analisis kebutuhan luasan RTH 11. Analisis potensi perbaikan kualitas udara dengan RTH 12. Keterkaitan guna lahan dengan kualitas udara 13. Analisis faktor yang lebih menentukan kualitas udara di Kota Tangerang 14. Penarikan kesimpulan dan rekomendasi 15. Penulisan laporan Tabel I.2 Tahapan Penelitian BULAN 1 BULAN 2 BULAN 3 BULAN 4 Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 14

I.7 Sistematika Pembahasan Pembahasan akan dilakukan dengan sistematika sebagai berikut: BAB I : PENDAHULUAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang, perumusan masalah, tujuan, sasaran dan manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, metode penelitian, jadwal tahapan pelaksanaan penelitian dan sistematika pembahasan penelitian. BAB II : PERENCANAAN RUANG TERBUKA HIJAU UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS UDARA DI PERKOTAAN Pada bab ini akan dibahas teori yang menjelaskan tentang pengaruh penggunaan kendaraan bermotor terhadap kualitas udara di perkotaan dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Dalam bab ini terdapat penjelasan tentang bagaimana merencanakan RTH untuk meningkatkan kualitas udara di perkotaan serta dasar hukum dan pedoman-pedoman yang melandasinya. Bab ini juga mencakup penjelasan mengenai pilihan metode yang dapat digunakan untuk melakukan inventarisasi beban pencemaran dari kendaraan bermotor dan perhitungan kebutuhan luas RTH di perkotaan. BAB III : SISTEM TRANSPORTASI, RUANG TERBUKA HIJAU DAN KUALITAS UDARA DI KOTA TANGERANG Bab ini memberikan gambaran mengenai kondisi di daerah studi yang meliputi gambaran umum wilayah, pola penggunaan lahan, kondisi RTH saat ini, sistem transportasi yang diterapkan serta gambaran tentang kualitas udara dan kesehatan masyarakat Kota Tangerang. 15

BAB IV : ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA TANGERANG Bab ini akan membahas mengenai metode analisis yang terpilih serta pembahasan hasil analisis yang meliputi analisis bangkitan dan tarikan perjalanan di Kota Tangerang, analisis beban emisi kendaraan bermotor, analisis kualitas udara di Kota Tangerang dengan ISPU, analisis kebutuhan RTH dan analisis faktor dominan dalam peningkatan kualitas udara di Kota Tangerang. BAB V : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini akan menyajikan hasil analisis yang berupa temuan dan kesimpulan disertai dengan uraian tentang kelemahan dalam studi ini. Dari hasil temuan dan kesimpulan maka disusun suatu rekomendasi yang dapat diterapkan dalam upaya peningkatan kualitas udara di Kota Tangerang. 16