SALAH PERSEPSI SOAL KORUPSI

dokumen-dokumen yang mirip
2016, No Peraturan Komisi Pemberantasan Korupsi tentang Audit Penyadapan Informasi yang Sah (Lawful Interception) pada Komisi Pemberantasan Ko

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Keempat, Penyidikan Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 3.4 Penyidikan Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Komisi Pemberantasan Korupsi. Peranan KPK Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

STRATEGI KHUSUS PEMULIHAN ASET DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN KEWENANGAN PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kesatu, Wewenang-Wewenang Khusus Dalam UU 8/2010

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN KEWENANGAN PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN KEWENANGAN PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN KEWENANGAN PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, sehingga harus diberantas 1. hidup masyarakat Indonesia sejak dulu hingga saat ini.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

NOMOR : M.HH-11.HM th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. uang. Begitu eratnya kaitan antara praktik pencucian uang dengan hasil hasil kejahatan

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU SAKU UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI

PENEGAKAN HUKUM. Bagian Kedelapan, Permintaan Keterangan Kepada PPATK (Berdasarkan Informasi PPATK

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 20/PUU-XIV/2016 Perekaman Pembicaraan Yang Dilakukan Secara Tidak Sah

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 16/PUU-X/2012 Tentang KEWENANGAN KEJAKSAAN DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI

BAB I PENDAHULUAN. Negara yang terbukti melakukan korupsi. Segala cara dilakukan untuk

KEWENANGAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) DALAM UPAYA PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA

Korupsi dan Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Penanggulangannya. Oleh : Dewi Asri Yustia. Abstrak

BAB IV KEWENANGAN KEJAKSAAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI. A. Perbedaan Kewenangan Jaksa dengan KPK dalam Perkara Tindak

BAB I PENDAHULUAN. melakukan penyidikan tindak pidana tertentu berdasarkan undang- undang sesuai

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemberantasan tindak pidana korupsi di negara Indonesia hingga saat

KESEPAKATAN BERSAMA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI NOMOR: 01/KB/I-VIII.

BAB I PENDAHULUAN. dalam hal dan menurut tata cara yang diatur dalam undang-undang untuk

KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH

Revisi UU KPK Antara Melemahkan Dan Memperkuat Kinerja KPK Oleh : Ahmad Jazuli *

BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

TUMPANG TINDIH KEWENANGAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI. Oleh : Sulistyo Utomo, SH* *

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 016/PUU-IV/2006 Perbaikan 11 September 2006

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2000 TENTANG

KEPUTUSAN BERSAMA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAN KETUA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI

BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BAB I PENDAHULUAN. Korupsi merupakan salah satu bentuk fraud yang berarti penyalahgunaan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

KEPUTUSAN BERSAMA KETUA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA Nomor : KEP Nomor : KEP- IAIJ.

UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA Oleh Putri Maha Dewi, S.H., M.H

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

BAB I PENDAHULUAN. hidup masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga sekarang. banyaknya persoalan-persoalan yang mempengaruhinya. Salah satu persoalan

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

Matriks Perbandingan KUHAP-RUU KUHAP-UU TPK-UU KPK

KEWENANGAN PENYIDIK DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA

BAB I PENDAHULUAN. benar-benar telah menjadi budaya pada berbagai level masyarakat sehingga

PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN DALAM MENCEGAH DAN MEMBERANTAS TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG SULAIMAN BAKRI / D ABSTRAK

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

BAB I PENDAHULUAN. Jenis fraud (kecurangan) yang terjadi di setiap negara ada kemungkinan

BAB I PENDAHULUAN. terkait korupsi merupakan bukti pemerintah serius untuk melakukan

TENTANG KERJASAMA DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

BAB I PENDAHULUAN. Hukum adalah sesuatu yang sangat sulit untuk didefinisikan. Terdapat

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI BAB I

1.4. Modul Mengenai Pengaturan Pemberantasan Pencucian Uang Di Indonesia

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG TIM GABUNGAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2000 TENTANG TIM GABUNGAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan manusia Indonesia

BAB V ANALISIS. A. Analisis mengenai Pertimbangan Hakim Yang Mengabulkan Praperadilan Dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Setiap penegak hukum mempunyai kedudukan (status) dan peranan

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTAHANAN. INPRES. Korupsi. Monitoring. Percepatan.

I. PENDAHULUAN. seseorang (pihak lain) kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagai

BAB I PENDAHULUAN. tabu untuk dilakukan bahkan tidak ada lagi rasa malu untuk

KEWENANGAN KEJAKSAAN SEBAGAI PENYIDIK TINDAK PIDANA KORUPSI

PERATURAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI

PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI. UU No. 31 TAHUN 1999 jo UU No. 20 TAHUN 2001

BAB I PENDAHULUAN. Korupsi sebagai bentuk kejahatan luar biasa (extra ordenary crime) telah

TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG. Oleh : PROF.DR.H.M. SAID KARIM, SH. MH. M.Si. CLA

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI. Komisi Pemberantasan Korupsi

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI. Komisi Pemberantasan Korupsi

Transkripsi:

SALAH PERSEPSI SOAL KORUPSI Oleh: ANATOMI MULIAWAN Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonusa Esa Unggul ABSTRAK Pemberantasan korupsi merupakan isu yang sedang hangat di Indonesia. Rasanya semua media massa, baik cetak maupun elektronik, menjadikan isu pemberantasan korupsi sebagai headline dalam pemberitaan mereka. Meskipun demikian, masih banyak kalangan masyarakat yang memiliki persepsi keliru soal pemberantasan tindak pidana korupsi. Semakin lama memang disadari akibat yang ditimbulkan korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi ternyata telah terbukti melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Sebagai kejahatan luar biasa, maka dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga independen yang memiliki kewenangan luas dan diharapkan mampu mengefektifkan pemberantasan korupsi yang selama ini tak kunjung menampakkan hasil maksimal. Key Words: Korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi, Audit PENDAHULUAN Pemberantasan korupsi merupakan isu yang sedang hangat di Indonesia. Rasanya semua media massa, baik cetak maupun elektronik, menjadikan isu pemberantasan korupsi sebagai headline dalam pemberitaan mereka. Meskipun demikian, masih banyak kalangan masyarakat yang memiliki persepsi keliru soal pemberantasan tindak pidana korupsi. Pengungkapan Kasus Korupsi Harus Melalui Audit BPK? Pertama yang perlu dikaji, benarkah pengungkapan kasus korupsi harus melalui audit BPK terlebih dahulu? Bapak Baharuddin Aritonang, seorang Anggota BPK, pernah mengemukakan pendapatnya pada Harian Kompas edisi Senin 10/5 dengan membuat sebuah artikel yang berjudul "Memberantas Korupsi, Efektifkan yang Sudah Ada." Pada alinea 12 artikel tersebut dinyatakan, "Jika kita membicarakan pemberantasan korupsi, semestinya kita mulai pemeriksaannya lebih dulu... Dan lembaga yang ditugaskan untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara tak lain dari BPK. Bahkan lembaga negara BPK dibentuk untuk tujuan itu, yakni memeriksa penggunaan keuangan Lex Jurnalica /Vol.2 /No.3 /Agustus 2005 41

negara... Pada bagian tersebut, terdapat kesan kuat kalau aksi pemberantasan korupsi haruslah didahului dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) karena BPK dibentuk untuk memeriksa penggunaan keuangan negara. Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah benar pengungkapan kasus korupsi harus didahului dengan pemeriksaan dari BPK atau tidak? Di Indonesia, ketentuan yang menjadi acuan utama terkait dengan tindak pidana korupsi adalah UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-undang tersebut tidak menyebutkan definisi tindak pidana korupsi, namun hanya menyebutkan perumusan tindak pidananya saja sebagaimana diatur dalam Bab II dan III. UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 merumuskan tindak pidana korupsi dalam artian yang luas. Tindak pidana korupsi tidak hanya menyangkut perbuatan yang mengakibatkan kerugian negara melainkan juga perbuatan-perbuatan koruptif lain yang tidak mengakibatkan terjadinya kerugian negara, tetapi merupakan perbuatan koruptif. Perhatikan saja secara cermat UU 31 Tahun 1999 tersebut. Unsur kerugian negara hanya dapat ditemukan dalam pasal 2 dan 3, padahal di pasalpasal lain tidak terdapat, seperti pasal 5 mengenai penyuapan kepada pegawai negeri, pasal 6 ayat (1) penyuapan terhadap hakim, ataupun pasal 12 B soal gratifikasi. Pasal-pasal lain tersebut tidak menyebutkan kerugian negara sebagai unsurnya. Ini membuktikan kalau tindak pidana korupsi tidaklah selalu berkaitan dengan kerugian negara. Dalam kasus Mulyana W Kusuma, misalnya, meskipun tidak terdapat kerugian negara tetapi dugaan penyuapan kepada auditor BPK termasuk sebagai tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pasal 5. Perlu diingat pula, sifat pelaku dari tindak pidana korupsi lebih lincah, mereka akan sangat cepat menyembunyikan dan menghilangkan barang bukti dan juga aset-aset hasil korupsi mereka. Oleh karena itu, kecepatan dan ketepatan dalam memberantas korupsi merupakan hal yang teramat penting. Selain itu, bila penegak hukum harus menunggu terlebih dahulu hasil pemeriksaan BPK yang biasanya memerlukan waktu yang lama, maka upaya-upaya pemberantasan korupsi akan terkendala dan para koruptor pun sudah berhasil menyembunyikan dan menghilangkan barang bukti dan aset-aset mereka. Lex Jurnalica /Vol. 3 /No. 2 /April 2005 42

Oleh karenanya, meskipun hasil pemeriksaan BPK dapat dijadikan sebagai bukti permulaan, namun hendaknya aparat penegak hukum tidak terbelenggu untuk menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan BPK. Penyelidikan ataupun penyidikan tetap dapat dilakukan, apabila dikemudian hari BPK menyampaikan laporan pemeriksaannya, maka laporan tersebut dapat dipergunakan sebagai petunjuk ataupun bukti untuk melengkapi berkasberkas penyelidikan ataupun penyidikan. Kesalahan Persepsi tentang KPK Semakin lama memang disadari akibat yang ditimbulkan korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi ternyata telah terbukti melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Sebagai kejahatan luar biasa, maka dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga independen yang memiliki kewenangan luas dan diharapkan mampu mengefektifkan pemberantasan korupsi yang selama ini tak kunjung menampakkan hasil maksimal. Independensi kewenangan KPK tertuang secara jelas dalam pasal 4 UU No. 30 Tahun 2002. Sebagai lembaga negara, KPK, melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Secara singkat, tugas-tugas yang diemban KPK adalah mengkoordinasi dan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan korupsi, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, melakukan pencegahan dan monitoring terhadap penyelenggaraan negara. Oleh karena itu, pembentukan KPK bukanlah untuk melengkapi Kepolisian dan Kejaksaan sebagaimana persepsi masyarakat selama ini tetapi KPK lebih ditujukan untuk mengefektifkan pemberantasan korupsi dan juga sebagai "trigger" atau pemicu bagi instansi lain yang berwenang dalam memberantas korupsi, sehingga terwujudnya Indonesia menjadi negara yang bersih dan bebas KKN bukanlah sebuah utopia. Kini, KPK mulai menemukan irama yang harmonis dan menunjukkan taring nya, sehingga tugas-tugas pemberantasan korupsi dan keinginan yang kuat untuk menjadi trigger mulai menampakkan hasil meskipun masih jauh dari memuaskan publik. Pasal 12 UU Nomor 30 Tahun 2002 telah memberikan kewenangan besar bagi KPK sebagai sebuah mekanisme luar biasa untuk memberantas korupsi. Salah satunya adalah kewenangan KPK untuk Lex Jurnalica /Vol. 3 /No. 2 /April 2005 43

menyadap dan merekam. Oleh karena itu, aktivitas menyadap dan merekam pembicaraan dipandang KPK sebagai aktivitas legal karena secara jelas telah diatur dalam pasal 12 huruf a UU Nomor 30 Tahun 2002. Penyadapan ataupun perekaman pembicaraan dilakukan secara sangat rahasia guna menemukan bukti-bukti akan terjadinya suatu tindak pidana korupsi yang tentunya tanpa sepengetahuan pihak yang dicurigai dan dapat dilakukan dengan atau tanpa bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Kemajuan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan perbankan, telah memberikan banyak kemudahan bagi pelaku-pelaku korupsi untuk menyembunyikan dan menghilangkan bukti-bukti dan aset hasil korupsinya. Oleh karenanya, terobosan-terobosan dalam sistem hukum di Indonesia agar mampu mengikuti perkembangan teknologi menjadi hal yang patut didukung selama tetap menghormati due process of law. Bila tidak, maka aparat penegak hukum akan semakin sulit mengungkap kasus-kasus korupsi yang sudah sistematik dan canggih ini. Akibatnya bangsa ini tidak akan pernah bangkit dari keterpurukan ekonomi dan akan selalu dikenal sebagai bangsa yang bersahabat dengan korupsi. Kesimpulan Pemberantasan Korupsi Adalah Tugas Penegak Hukum? Kesalahan mendasar mengenai pemberantasan korupsi adalah dibebankannya pemberantasan korupsi hanya kepada aparat penegak hukum, yaitu Aparat Kepolisian, Aparat Kejaksaan, Hakim, Advokat, maupun KPK. Padahal, dengan sifat kejahatan korupsi yang sistemik, maka pemberantasan korupsi tidak akan pernah efektif bila tidak terdapat peran aktif masyarakat karena masyarakatlah yang berinteraksi langsung dan merasakan langsung akibat yang ditimbulkan oleh budaya koruptif yang terjadi selama ini. Oleh karenanya, bagian terpenting yang harus ditumbuhkan adalah kesadaran kolektif seluruh komponen bangsa ini bahwa korupsi adalah kejahatan yang harus diperangi bersama karena pemberantasan korupsi tidak mungkin dimonopoli oleh satu orang atau satu kelompok atau satu instansi. Kesadaran untuk meninggalkan egoisme sektoral menjadi hal yang utama, bila hal ini belum terlaksana, maka nampaknya impian-impian pendiri bangsa ini untuk mewujudkan Indonesia yang berkeadilan, sejahtera dan bermartabat masih harus melalui jalan yang berliku. Oleh karenanya, marilah kita Lex Jurnalica /Vol. 3 /No. 2 /April 2005 44

bertekad bulat meninggalkan lembaran kelam bangsa ini menuju Indonesia cerah dengan menjadikan diri kita sebagai diri yang terhormat, bermartabat dengan menolak korupsi tanpa kompromi dan terus menancapkan kapak anti korupsi dimanapun kita berada. Lex Jurnalica /Vol. 3 /No. 2 /April 2005 45