BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
EFEKTIVITAS MENDENGAR CERITA FIKSI TERHADAP PENINGKATAN KREATIVITAS VERBAL ANAK

EFEKTIVITAS PERMAINAN TRADISIONAL UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS VERBAL PADA MASA ANAK SEKOLAH SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan masalah yang cukup kompleks dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. sama halnya yang dikemukakan oleh Purdi E. Chandra yang merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh tingkat keberhasilan pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia yang dimiliki. Francis Fukuyama dalam bukunya trust

Studi Deskriptif Mengenai Profil Kekuatan Karakter Pada Mahasiswa Hafidz Qur an di Pesantren Daarut Tauhiid Bandung

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah character strength

I. PENDAHULUAN. memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi. penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan teknis (skill) sampai pada pembentukan kepribadian yang kokoh

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas. siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan

2015 PEMBINAAN KECERDASAN SOSIAL SISWA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA (STUDI KASUS DI SDN DI KOTA SERANG)

2015 PROGRAM BIMBINGAN PRIBADI BERDASARKAN PROFIL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kurikulum Nasional merupakan pengembangan dari Kurikulum 2013 yang

2016 PENGARUH PELAKSANAAN FULL DAY SCHOOL TERHADAP INTERAKSI SOSIAL DAN SOSIALISASI ANAK DI LINGKUNGAN MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu sendi kehidupan. Melalui pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. adalah aset yang paling berharga dan memiliki kesempatan yang besar untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak

MAKALAH TENTANG PERAN BIMBINGAN DAN KONSELING TERHADAP PELAJAR DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dan teknologi tersebut diperlukan sumber daya manusia yang

BAB I PENDAHULUAN. hidup dan kehidupan manusia, begitu pula dengan proses perkembangannya.

BAB I PENDAHULUAN. didik, sehingga menghasilkan peserta didik yang pintar tetapi tidak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. semakin pesat dapat membawa perubahan kearah yang lebih maju. Untuk itu perlu

2014 EFEKTIVITAS PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN READING COMPREHENSION

BAB I PENDAHULUAN. tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendidikan anak usia dini merupakan penjabaran dari sebuah pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 9. tentang Perlindungan Anak mmenyatakan bahwa setiap anak berhak

BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana yang tertuang dalam Undang Undang Nomor 20 tahun negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

BAB I PENDAHULUAN. merubah dirinya menjadi individu yang lebih baik. Pendidikan berperan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai makhluk hidup manusia dituntut memiliki perilaku yang lebih baik dari

PENDAHULUAN. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Mathla ul Anwar merupakan salah satu. Madrasah Swasta yang di selenggarakan oleh Perguruan Mathla ul Anwar Kota

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menimbulkan konflik, frustasi dan tekanan-tekanan, sehingga kemungkinan besar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia kaya dengan keberagaman, yang masing-masing

I. PENDAHULUAN. teratur, dan berencana yang berfungsi untuk mengubah atau mengembangkan

BAB V PEMBAHASAN. program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam membantu peserta didik agar mampu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar (Rustaman, 2005: 461).

BAB I PENDAHULUAN. yakni tingginya angka korupsi, semakin bertambahnya jumlah pemakai narkoba,

BAB I PENDAHULUAN. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gia Nikawanti, 2015 Pendidikan karakter disiplin pada anak usia dini

Studi Deskriptif Mengenai Kekuatan Karakter (Character Strength) pada Relawan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Bandung

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perkembangan baik fisik dan psikis dari waktu ke waktu, sebab

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. banyak faktor. Salah satu di ataranya adalah faktor guru. Guru memegang

BAB I PENDAHULUAN. terbebani bermacam-macam harapan, terutama dari generasi penerusnya. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. mengalami gejolak dalam dirinya untuk dapat menentukan tindakanya.

BAB I PENDAHULUAN. Dunia saat ini dilanda era informasi dan globalisasi, dimana pengaruh dari

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang sangat pesat.di mana pengalaman-pengalaman yang didapat

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang

BAB I PENDAHULUAN Penerapan Model Pembelajaran Active Learning Tipe Quiz Team Dengan Keterampilan Bertanya Probing Question

BAB I PENDAHULUAN. Mutu pendidikan di Indonesia saat ini belum tercapai seperti yang

BAB I PENDAHULUAN. yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan

I. PENDAHULUAN. yang terjadi. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. perubahan dan tuntutan baru dalam masyarakat. Perubahan tersebut. terlebih jika dunia kerja tersebut bersifat global.

BAB I PENDAHULUAN. bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. Deasy Yunika Khairun, Layanan Bimbingan Karir dalam Peningkatan Kematangan Eksplorasi Karir Siswa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan zaman yang semakin modern terutama pada era

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hasil belajar merupakan sebuah tolak ukur bagi guru untuk dapat mengetahui

BAB I PENDAHULUAN. maupun warga di luar sekolah yaitu orang tua, akademisi, dan pihak pihak lain.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang

kreatif yang dimiliki oleh anak. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan muncul generasi-generasi yang berkualitas. Sebagaimana dituangkan

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan kurikulum

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan di bidang pendidikan sebagai salah satu bagian dari

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah menjadi landasan moral dan etik dalam

BAB I PENDAHULUAN. Dalam proses pemenuhan tugas perkembangan tersebut, banyak remaja yang

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan sebuah negara. Untuk menyukseskan program-program

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan ini mengindikasikan bahwa karakter memberikan peranan yang sangat penting dalam pembentukan generasi penerus yang sukses secara akademik dan berakhlak mulia. Realita permasalahan kasus-kasus sosial yang berkembang saat ini diindikasikan karena kurangnya pendidikan karakter pada masyarakat Indonesia. Misalnya saja disepanjang tahun 2011, Komisi nasional Perlindungan Anak mencatat 399 kasus tawuran, 2.508 kasus kekerasan terhadap anak, pasien narkoba pada tahun 2009 sebesar 2.090 dan meningkat menjadi 8.017 pada Oktober 2011 serta kasus aborsi yang terus meningkat dalam kurun waktu tiga tahun dimana pada tahun 2008 ditemukan dua juta jiwa anak korban aborsi, tahun 2009 menjadi 2.3 juta jiwa dan pada tahun 2010 naik menjadi 2.5 juta jiwa (Sirait & Ridwan, 2011). Potret nyata dekadensi moral di atas menjadi pertanyaan besar mengingat perilaku tersebut bertentangan dengan nilai-nilai karakter orang Indonesia yang berbudaya timur. Apriyanto (2012) mengungkapkan bahwa karakterteristik individu pada budaya timur adalah sangat santun, ramah, tidak individualis, saling menghargai, tolong-menolong, dan tingkat keagamaan atau religiusitas yang tinggi. Mempertimbangkan kenyataan tersebut, maka diperlukan adanya usaha yang komprehensif dan sistematik agar manusia mempunyai kekuatan karakter. Kekuatan karakter (character strength) menurut Peterson dan Seligman (2004) adalah suatu kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai

tantangan dalam keseluruhan hidupnya termasuk menyelesaikan berbagai masalah yang berhubungan dengan jati diri pribadi dan budaya. Kekuatan karakter menurut Peterson dan Seligman (2004) tergolong menjadi enam virtue atau keutamaan yaitu: kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge), keberanian (courage), kemanusiaan (humanity), keadilan (justice), pembatasan diri (temperance) dan transendensi (transcendence). Kemudian keenam virtue tersebut dijabarkan menjadi aspek-aspek, yaitu: kreativitas, keingintahuan, keterbukaan pemikiran, kecintaan belajar, perspektif, kecerdasan, kegigihan, integritas, vitalitas, kasih, kebaikan, kecerdasan bermasyarakat, kependudukan, keadilan, kepemimpinan, pengampunan, kerendahan hati, kebijaksanaan, pengaturan diri, pengagum keindahan, berterima kasih, harapan, humor, dan keagamaan. Kekuatan karakter mempunyai fungsi yang cukup potensial dalam kehidupan manusia. Penelitian Peterson, dkk (2006) berbasis web retrospektif terhadap 2.087 orang dewasa menunjukkan bahwa character strength dapat memulihkan individu dari penyakit fisik dan gangguan psikologis. Selain itu, Peterson dan Seligman (2003) melakukan studi oportunistik karakter terhadap warga Amerika sebelum dan setelah serangan teroris 11 September yang menunjukkan bahwa kekuatan karakter tertentu, yaitu iman, pengharapan dan kasih (cinta), meningkat diantara orang Amerika. Penelitian ini memberikan bukti bahwa ketangguhan character strength seseorang penting ketika menghadapi terjadinya krisis atau trauma. Hasil penelitian Peterson, dkk pada tahun 2006 (Peterson, dkk: 2007, hlm. 343) menunjukkan bahwa dalam proses pemulihan penyakit serius seseorang seperti kangker, terdapat peran perkembangan kekuatan karakter. Mereka mempunyai nilai yang lebih tinggi secara signifikan untuk apresiasi keindahan, keberanian, rasa ingin tahu, keadilan, pengampunan, rasa syukur, humor, kebaikan, cinta belajar dan spiritualitas. Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan karakter berkaitan erat dengan aspek-aspek penting dari kehidupan dan kesejahteraan sosial manusia walaupun kekuatan yang berbeda akan memprediksi hasil yang berbeda pula.

Dalam character strength, terdapat dimensi-dimensi karakter yang saling menunjang dalam pembentukan manusia yang berakhlak mulia. Salah satunya adalah kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge). Karakter kearifan dan pengetahuan merupakan kekuatan kognitif yang menyangkut akuisisi dan penggunaan pengetahuan (Peterson & Seligman, 2004, halm. 29). Artinya bahwa dalam karakter kearifan dan pengetahuan terdapat sifat-sifat positif dalam perolehan, penggunaan dan pemindahan informasi dan dalam pelayanan kehidupan yang lebih baik. Dengan kekuatan karakter kearifan dan pengetahuan ini, maka diharapkan siswa mampu mengembangkan kreativitas (creativity) yang ditandai dengan keorisinalan serta banyak ide atau gagasan, mempunyai rasa ingin tahu (curiosity) yang tinggi, mampu berpikiran terbuka (open-mindedness) terhadap hal-hal baru, mempunyai cinta dan semangat belajar (love of learning) serta memiliki wawasan mengenai nilai-nilai kebaikan (perspective) dalam kehidupan. Sifat-sifat positif merupakan hal yang selalu diharapkan dari orang lain. Tanpa karakter yang baik, terdapat kemungkinan orang mempunyai kecenderungan untuk tidak memiliki keinginan untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar. Jadi ketika siswa mempunyai karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) yang rendah, maka dikhawatirkan siswa akan lebih tertarik untuk melakukan hal-hal yang negatif seperti tawuran, seks bebas, bolos sekolah, narkoba, malas belajar, malas membaca dan tidak tertarik untuk lebih mengembangkan diri dalam hal prestasi. Hasil survei International Education Achievement (IEA) pada awal tahun 2000 menunjukkan bahwa kualitas membaca anak-anak Indonesia menduduki urutan ke 29 dari 31 negara yang diteliti di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika (Ranis, 2013). Ini artinya bahwa kualitas membaca anak-anak Indonesia masih rendah. Kasus lain yang disinyalir terjadi karena siswa kurang minat dan kurang semangat belajar adalah kasus yang diberitakan redaksi radio smartfm Balikpapan. Menurut berita radio tersebut, sering terjadi pelajar bolos yang terjaring razia Satpol PP di Balikpapan dimana para pelajar sudah berani ke

tempat-tempat rekreasi hingga membawa alat kontrasepsi pria dewasa di dalam tasnya. Menurut Syahrumsyah Setya yang menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan hal ini terjadi karena rendahnya motivasi belajar. Penilaian tersebut didasari alasan para pelajar yang dinilainya tidak rasional, sehingga menyiratkan bahwa memang tidak ada motivasi untuk belajar dari para pelajar itu sendiri (Redaksi radiosmartfm, 2012). Kasus lain yang menyakut rendahnya karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) pada aspek nilai-nilai kebaikan (perspective) siswa terlihat pada kasus tindakan kekerasan yaitu tawuran antar pelajar dimana disepanjang tahun 2012 sebanyak 82 pelajar tewas (Kompas.com, 2012). Belum lagi kasus bunuh diri remaja yang jumlahnya makin meningkat. Sepanjang tahun 2012, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) juga menerima pengaduan 31 kasus (percobaan) bunuh diri anak dengan rentang usia terbanyak 13-17 tahun bunuh. Korban berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Sementara modus yang digunakan yakni gantung diri 17 kasus, memakai senjata tajam tiga kasus, terjun dari ketinggian dua kasus, dan minum racun sembilan kasus (Permana, 2012). Adapun menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Hans Jellen dari Universitas Utah AS dan Klaus Urban dari Universitas Hannover Jerman pada Agustus 1987 terhadap anak-anak Indonesia yang berusia 10 tahun (dengan sampel 50 anak-anak di Jakarta), menunjukkan bahwa tingkat kreativitas anakanak Indonesia berada di urutan terakhir dari delapan negara yang menjadi sampel penelitian tersebut. Adapun urutan peringkatnya sebagai berikut (dari yang tertinggi sampai yang terendah): Filipina, AS, Inggris, Jerman, India, RRC, Kamerun, Zulu, dan Indonesia (Djunaedi, 2008). Berdasarkan pengamatan peneliti, karakter kearifan dan pengetahuan siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung tahun ajaran 2013/2014 belum berada pada tingkat yang optimal. Hal ini ditandai dengan rendahnya keinginan siswa untuk produktif dalam mengerjakan tugas, cepat puas dengan hasil prestasi yang dicapai, tidak memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk menyelesaikan tugas dan

masalah yang dihadapi, malas membaca dan kurang mengkondisikan pertemanan yang positif agar dapat menunjang proses belajar. Adapun gambaran umum karakter kearifan dan pengetahuan siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014 dari 65 siswa adalah tingkat pencapaian siswa pada indikator kreativitas sebanyak 38,46 %, tingkat pencapaian siswa pada indikator rasa ingin tahu sebanyak 59, 62%, tingkat pencapaian siswa pada indikator berpikiran terbuka sebanyak 68,46%, tingkat pencapaian siswa pada indikator mempunyai cinta dan semangat belajar sebanyak 52,31% dan tingkat pencapaian siswa pada indikator wawasan mengenai nilai-nilai kebaikan sebanyak 59,23%. Hasil studi pendahuluan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan karakter kearifan dan pengetahuan siswa perlu dioptimalkan. Bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari pendidikan yang aktivitas di dalamnya mengandung muatan nilai, mempunyai kontribusi dalam membangun karakter siswa. Beberapa strategi bisa digunakan untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan. Salah satunya adalah pemanfaatan teknik biblioterapi. Kata atau istilah biblioterapi berasal dari bahasa Yunani, yaitu biblus berarti buku dan therapy yaitu upaya bantuan psikologis (Eliasa, 2007). Jadi teknik biblioterapi merupakan suatu upaya bantuan penyembuhan dengan memanfaatkan buku. Dalam perkembangan selanjutnya, material teknik biblioterapi tidak hanya menggunakan buku tapi lebih luas lagi dengan menggunakan cerita, dongeng, film maupun gambar. Bahan bacaan yang digunakan dapat menginspirasi, memberikan pemahaman bahwa bukan hanya kita yang mempunyai masalah, memberikan pandangan yang lebih positif dan pada akhirnya memberikan motivasi kepada individu untuk menyelesaikan masalah dan mampu menata kembali kehidupannya. Menurut Forgan (2002, halm. 75), guru dapat menggunakan sastra untuk membantu siswa memecahkan masalah dan menghasilkan alternatif tanggapan untuk masalahmasalah mereka. Jadi, penggunaan bahan bacaan merupakan teknik yang murah, mudah dan efektif untuk membantu pemecahan masalah individu.

Pembentukan dimensi karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) dimungkinkan meningkat melalui aktivitas kreatif bahan pustaka. Dengan bahan bacaan yang up to date dan terus berganti, maka siswa menjadi kaya akan wawasan, ilmu pengetahuan, informasi, tidak gaptek serta menjadi siswa pintar yang mempunyai segudang prestasi (Yuliawati, 2011). Artinya, dengan proses membaca dan memaknai intisarinya, maka cakrawala berfikir siswa akan lebih kaya sehingga dapat meningkatkan kreativitas, rasa ingin tahu, lebih berfikiran terbuka, cinta belajar dan mempunyai kemampuan untuk memberikan saran yang positif kepada orang lain. Selain itu, bahan pustaka sebagai sumber informasi dapat berkontribusi dalam menggali inspirasi, meningkatkan motivasi untuk mencari ilmu pengetahuan, meningkatkan minat membaca dan mempunyai kekuatan pengubah sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah yang dialaminya. Adapun hubungannya dengan karakter, Andrayana (2011) mengemukakan bahwa biblioterapi merupakan teknik yang bersifat edukasi untuk membantu individu dalam memberikan wawasan, mencapai kesadaran, membentuk karakter dan memperbaiki tingkah lakunya melalui pengalaman orang lain. Artinya, setelah membaca dan dapat memahami intisari bahan bacaan melalui pengalaman tokoh yang ada di dalamnya, maka dapat mempengaruhi tumbuhnya sifat-sifat positif dalam diri individu. Sehingga itu mengkarakter dalam perilaku individu sehari-hari. Selain itu, menurut Sridhar dan Vaughn (2000 dalam Forgan, 2002, hlm. 76) bahwa manfaat tambahan dari biblioterapi adalah meningkatkan konsep diri dan perilaku siswa. Jadi, siswa akan mengalami identifikasi dengan tokoh utama dalam cerita, kemudian pengalaman katarsis dan pelepasan emosi dan pada akhirnya mereka mengembangkan wawasan untuk memecahkan masalahnya. Secara sederhana, teknik biblioterapi merupakan proses pemilihan bahan bacaan yang akan digunakan, penyajian materi, dan membangun pemahaman siswa terhadap masalahnya. B. Identifikasi dan Rumusan Masalah

Kearifan merupakan jenis kecerdasan dimana individu mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk melalui kesulitan hidup dan berbagi dengan orang lain apa yang telah dipelajari. Menurut Kramer (dalam Peterson & Seligman, 2004, halm. 39) kearifan melibatkan keleluasaan dan kedalaman pengetahuan tentang kondisi kehidupan dan urusan manusia serta penilaian reflektif tentang penerapan pengetahuan. Dalam kehidupan, kearifan berfungsi dalam proses penilaian yang baik serta nasihat tentang hal-hal penting namun pasti. Karakter kearifan dan pengetahuan merupakan keutamaan kognitif mengenai pemerolehan dan penggunaan pengetahuan (Peterson & Seligman, 2004). Jadi, kekuatan kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) ini melibatkan akuisisi dan penggunaan pengetahuan dalam kehidupan manusia. Artinya, dalam kekuatan karakter ini terdapat proses perolehan, akumulasi, transfer dan penggunaan ilmu pengetahuan. Siswa SMP diharapkan mempunyai pemahaman terhadap nilai-nilai kekuatan karakter yang ditanamkan oleh agama, undang-undang dan pemerintah.. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah. Dengan memiliki dimensi kekuatan karakter kearifan dan pengetahuan, maka diharapkan siswa mampu mengeksplorasi dirinya sehingga prestasi belajarnya meningkat. Dimensi kekuatan karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) mempunyai indikator bahwa siswa memiliki creativity (orisinal, banyak ide/gagasan), memiliki rasa ingin tahu (curiosity), mampu berpikiran terbuka (open-mindedness), memiliki cinta (semangat) belajar (love of learning) dan memiliki wawasan nilai-nilai kebaikan (perspective). Studi pendahuluan menunjukkan bahwa karakter kearifan dan pengetahuan siswa masih harus ditingkatkan. Dalam mencapai tujuan tersebut, guru bimbingan dan konseling hendaknya memberikan layanan kepada siswa agar dimensi karakter tersebut meningkat. Konselor sekolah hendaknya merancang dan mengimplementasikan suatu program kerja yang dapat meningkatkan kreativitas,

rasa ingin tahu, mampu berfikir terbuka, mempunyai semangat belajar yang tinggi dan mempunyai wawasan mengenai nilai-nilai kebaikan. Untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan, teknik biblioterapi dapat digunakan sebagai upaya bantuan dengan menggunakan literatur bahan pustaka. Menurut Andrayana (2011), teknik biblioterapi salah satunya berfungsi untuk pembentukan karakter. Siswa akan terlibat dalam karakter utama tokoh yang ada dalam bahan bacaan, kemudian menyelami dengan pengalaman dirinya dan pada akhirnya mampu memutuskan solusi yang terbaik untuk hidupnya. Jadi, siswa akan mengambil karakter inti dari bahan bacaan, membandingkan dengan kondisi dirinya dan mengaplikasikan karakter positif tersebut dalam kehidupannya. Selain itu, teknik biblioterapi dapat merangsang remaja untuk berfikir, mudah, murah, dan dapat dilakukan kapan saja serta melibatkan kemandirian dan partisipasi remaja sendiri secara penuh sehingga efektivitas hasilnya cukup baik (Eliasa,2007). Berdasarkan identifikasi masalah, maka permasalahan utama yang akan diteliti adalah bagaimanakah efektivitas bimbingan melalui teknik biblioterapi untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) siswa?. Rumusan masalah penelitian dijabarkan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana profil karakter kearifan dan pengetahuan siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung tahun ajaran 2013/2014? 2. Bagaimana rumusan bimbingan melalui teknik biblioterapi untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung tahun ajaran 2013/2014? 3. Bagaimana efektivitas bimbingan melalui teknik biblioterapi untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung tahun ajaran 2013/2014? C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui efektivitas bimbingan melalui teknik biblioterapi untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung tahun ajaran 2013/2014. Adapun secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Profil karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung tahun ajaran 2013/2014 2. Rumusan program bimbingan melalui teknik biblioterapi untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung tahun ajaran 2013/2014 3. Efektivitas bimbingan melalui teknik biblioterapi untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) siswa kelas VIII SMPN 26 Bandung tahun ajaran 2013/2014. D. Manfaat Penelitian Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan ilmu bimbingan dan konseling terutama pada teori tentang karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) dan program bimbingan melalui teknik biblioterapi untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) siswa SMP. Adapun manfaat praktis penelitian ini adalah: 1. Bagi guru BK atau konselor sekolah, hasil penelitian berkontribusi dalam memberikan panduan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling melalui biblioterapi untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan siswa SMP 2. Bagi civitas akademika jurusan Bimbingan dan Konseling, hasil penelitian dapat menambah wawasan mengenai karakter kearifan dan pengetahuan 3. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut mengenai karakter kearifan dan pengetahuan.

E. Asumsi Penelitian didasari oleh beberapa asumsi sebagai berikut: 1. Orang dewasa telah menggunakan buku sebagai tambahan untuk membimbing pemikiran anak-anak dalam proses konseling, memperkuat karakter mereka, membentuk perilaku mereka dan membantu untuk memecahkan masalah mereka (Myracle, 1995). 2. Ketika anak-anak membaca dan berempati dengan karakter dalam buku, maka mereka mendapatkan wawasan tentang masalah yang mereka alami sendiri (Cook et al., 2006). 3. Bibliotherapy uses books as teaching interventions in the classroom after careful matching between students and books chosen to facilitate development and achievement (Cook et al., 2006). Cook dkk mendeskripsikan bahwa buku dapat dimanfaatkan untuk mengintervensi pengajaran di kelas sebagai upaya memfasilitasi pengembangan dan prestasi siswa. 4. Teknik biblioterapi merupakan teknik yang bersifat edukasi untuk membantu individu dalam memberikan wawasan, mencapai kesadaran, membentuk karakter dan memperbaiki tingkah lakunya melalui pengalaman orang lain (Andrayana, 2011). F. Hipotesis Penelitian Hipotesis adalah jawaban awal penelitian dari rumusan penelitian yang telah ditetapkan, yaitu: Teknik biblioterapi efektif untuk meningkatkan karakter kearifan dan pengetahuan (wisdom and knowledge) siswa SMP, dengan hipotesis statistik sebagai berikut: H 0 : µ eksperimen = µ kontrol : Karakter kearifan dan pengetahuan kelompok eksperimen yang diberikan bimbingan melalui teknik biblioterapi sama dengan karakter kearifan dan pengetahuan kelompok kontrol yang tidak diberikan bimbingan melalui teknik biblioterapi

H 1 : µ eksperimen > µ kontrol : Karakter kearifan dan pengetahuan kelompok eksperimen yang diberikan bimbingan melalui teknik biblioterapi lebih tinggi dengan karakter kearifan dan pengetahuan kelompok kontrol yang tidak diberikan bimbingan melalui teknik biblioterapi.