BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

serta menumbuhkan inspirasi dan cinta terhadap alam (Soemarno, 2009).

TINJAUAN PUSTAKA. Ecotouris, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ekowisata. Ada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI

BAB I PENDAHULUAN. ekosistemnya. Pada Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi

II. TINJAUAN PUSTAKA. pariwisata, seperti melaksanakan pembinaan kepariwisataan dalam bentuk

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGEMBANGAN KAWASAN HUTAN WISATA PENGGARON KABUPATEN SEMARANG SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA TUGAS AKHIR

II. TINJAUAN PUSTAKA. Taman Nasional adalah Kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang kaya raya akan

KAWASAN KONSERVASI UNTUK PELESTARIAN PRIMATA JURUSAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PEMERINTAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA RANCANGAN PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR. TAHUN. TENTANG PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA BUNDER

KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481)

PENDAHULUAN. lebih pulau dan memiliki panjang garis pantai km yang merupakan

NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Ekowisata Di Kawasan Hutan Mangrove Tritih Cilacap

BAB I PENDAHULUAN. perubahan iklim (Dudley, 2008). International Union for Conservation of Nature

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara dengan lautan dan pesisir yang luas. memiliki potensi untuk pengembangan dan pemanfaatannya.

PEMERINTAH KABUPATEN SINTANG

BAB I PENDAHULUAN. sektor lain untuk berkembang karena kegiatan pada sektor-sektor lain

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK BARAT. Nomor 4 Tahun 2007 Seri E Nomor 4 Tahun 2007 NOMOR 4 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN JASA LINGKUNGAN

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH Nomor 68 Tahun 1998, Tentang KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan

NILAI EKONOMI TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI:

NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BENTUK PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP ATRAKSI WISATA PENDAKIAN GUNUNG SLAMET KAWASAN WISATA GUCI TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. penunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman Nasional Kerinci Seblat

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sedangkan kegiatan koleksi dan penangkaran satwa liar di daerah diatur dalam PP

1. PENDAHULUAN. jenis flora dan fauna menjadikan Indonesia sebagai salah satu mega biodiversity. peningkatan perekonomian negara (Mula, 2012).

GUBERNUR MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN TELUK DI PROVINSI MALUKU

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

VII PRIORITAS STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA TN KARIMUNJAWA

I. PENDAHULUAN. yang serius dari pemerintah. Hal ini didukung dengan adanya program

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. berupa produk jasa lingkungan yang manfaatnya secara langsung bisa di rasakan

NOMOR 18 TAHUN 1994 TENTANG PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM DI ZONA PEMANFAATAN TAMAN NASIONAL, TAMAN HUTAN RAYA, DAN TAMAN WISATA ALAM

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dr. Ir. H. NAHARDI, MM. Kepala Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah

BAB I. PENDAHULUAN. yang dimaksud adalah taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. individual tourism/small group tourism, dari tren sebelumnya tahun 1980-an yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa kekayaan sumber daya

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 12 TAHUN 2002 T E N T A N G RETRIBUSI IZIN PENGUSAHAAN OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

KRITERIA KAWASAN KONSERVASI. Fredinan Yulianda, 2010

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I. UMUM. Sejalan...

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Hutan di Indonesia memiliki peran terhadap aspek ekonomi, sosial maupun. (Reksohadiprodjo dan Brodjonegoro 2000).

PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KABUPATEN MANGGARAI BARAT MELALUI PEMBENTUKAN CLUSTER WISATA TUGAS AKHIR. Oleh: MEISKE SARENG KELANG L2D

Ekologi Hidupan Liar HUTAN. Mengapa Mempelajari Hidupan Liar? PENGERTIAN 3/25/2014. Hidupan liar?

I. PENDAHULUAN. Kawasan Pelestarian Alam (KPA). KSA adalah kawasan dengan ciri khas

II. TINJAUAN PUSTAKA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.49/Menhut-II/2014 TENTANG

TINJAUAN PUSTAKA. pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal penyediaan lapangan kerja,

II. TINJAUAN PUSTAKA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

I. PENDAHULUAN. Pariwisata merupakan sektor penunjang pertumbuhan ekonomi sebagai

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. salah satunya didorong oleh pertumbuhan sektor pariwisata. Sektor pariwisata

BAB I. PENDAHULUAN. sebagai sebuah pulau yang mungil, cantik dan penuh pesona. Namun demikian, perlu

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbentang antara

MENGAPA ASPEK RUANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA? 1. PERENCANAAN EKONOMI SERINGKALI BERSIFAT TAK TERBATAS 2. SETIAP AKTIVITAS SELAL

BUPATI NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN, PENGELOLAAN DAN PELAYANAN PARIWISATA

ANALISIS JASA LINGKUNGAN EKOWISATA AIR TERJUN LAHUNDAPE DI KAWASAN TAHURA NIPA-NIPA

EKOWISATA DI KAWASAN HUTAN MANGROVE TRITIH CILACAP (PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR)

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.378, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Kawasan Hutan. Fungsi. Perubahan.

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 2 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN KARAWANG TAHUN

ANALISIS POTENSI WILAYAH UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IZIN USAHA JASA PARIWISATA

BAB I. PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BUPATI LOMBOK TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN JASA LINGKUNGAN

TINJAUAN PUSTAKA. Danau. merupakan salah satu bentuk ekosistem perairan air tawar, dan

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH NOMOR 46 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA POCUT MEURAH INTAN

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG IZIN USAHA SARANA PARIWISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEWENANGAN PENGELOLAAN TAMAN HUTAN RAYA.

BAB I PENDAHULUAN. menjanjikan memiliki prospek baik, potensi hutan alam yang menarik. memiliki potensi yang baik apabila digarap dan sungguh-sungguh

BAB I PENDAHULUAN. dalamnya, tergenang secara terus menerus atau musiman, terbentuk secara alami

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 34/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taman Nasional Undang-undang No. 5 Tahun 1990 menyatakan bahwa taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Menurut PP No. 68 Tahun 1998 kawasan taman nasional dapat dimanfaatkan sesuai dengan sistem zonasi pengelolaannya. Berdasarkan sistem zonasi pengelolaannya kawasan taman nasional dapat dibagi atas zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba atau zona lain yang ditetapkan Menteri berdasarkan kebutuhan pelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Zona pemanfaatan taman nasional adalah bagian kawasan taman nasional yang dijadikan tempat pariwisata alam dan kunjungan wisata. Menurut Muhdi 2008, pengelolaan taman nasional dapat memberikan manfaat antara lain: 1) Ekonomi, dapat dikembangkan sebagai kawasan yang mempunyai nilai ekonomis. 2) Ekologi, dapat menjaga keseimbangan kehidupan baik biotik maupun abiotik di daratan maupun perairan. 3) Estetika, memiliki keindahan sebagai obyek wisata alam yang dikembangkan sebagai usaha periwisata alam/bahari. 4) Pendidikan dan Penelitian, merupakan obyek dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan penelitian. 5) Jaminan Masa Depan, keanekaragaman sumberdaya alam kawasan konservasi baik di darat maupun di perairan memiliki jaminan untuk dimanfaatkan secara terbatas bagi kehidupan yang lebih baik untuk generasi kini dan yang akan datang.

2.2 Pariwisata / objek wisata alam Menurut UU No 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, dinyatakan bahwa Kawasan Hutan Pelestarian Alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Menurut UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Taman wisata alam adalah kawasan alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Dan UU No 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan disebutkan bahwa, wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakuakan secara sukarela dan bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serat usaha-usaha di bidang tersebut. Dirjen PHKA 2005 menyebutkan bahwa Kawasan Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata alam sesuai dengan fungsinya, taman wisata alam dapat dimanfaatkan untuk: 1) Pariwisata alam dan rekreasi 2) Penelitian dan pengembangan (kegiatan pendidikan dapat berupa karya wisata, widya wisata dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian serta peragaan dokumentasi tentang potensi kawasan wisata alam tersebut) 3) Pendidikan 4) Kegiatan penunjang budaya. Menurut Damanik (2006) berbeda dengan wisata konvensional, ekowisata merupakan kegiatan wisata yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian sumberdaya pariwisata. Masyarakat Ekowisata Internasional mengartikannya sebagai perjalanan wisata alam yang bertanggungjawab dengan cara mengkonservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Objek wisata adalah sesuatu yang menjadi pusat daya tarik wisatawan, dapat berupa 1) yang berasal dari alam, misalnya pantai, pemandangan alam, pegunungan, hutan, dan lain-lain, 2) yang merupakan hasil budaya, misalnya

museum, candi, galeri, 3) yang merupakan kegiatan, misalnya kegiatan masyarakat keseharian, tarian, karnaval, dan lain-lain. Objek wisata bersifat statis, yakni cara penjualannya di tempat, tidak bisa dibawa pergi. Oleh karena itu supaya bisa menikmatinya, seseorang perlu aktif mendekatinya (Wardiyanta 2006). Pengamatan terhadap objek wisata dapat ditujukan antara lain untuk mengetahui jenis obyek wisata, kondisi obyektifnya, daya tariknya, sarana dan prasarana pendukungnya, pengelolaannya, peran mayarakat, dunia usaha atau sektor swasta dan pemerintah setempat dalam pengembangan pariwisata, rencana pengembangannya, tujuannya, realisasi pengembangan-pengembangannya dan lain-lain. Penelitian terhadap obyek dan daya tarik wisata memiliki arti strategis dalam pengembangan suatu obyek dan daya tarik wisata. Sebagaimana diketahui, untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang terus berubah dan mengalami perkembangan yang sangat cepat, daya tarik obyek dan wisata pun harus senantiasa dikembangkan. Supaya tepat dalam setiap langkahnya atau dalam pembuatan kebijakan perusahaan yang dikelolanya maka pengelola pariwisata perlu mengawali pengembangan pariwisata dengan penelitian pariwisata (Wardiyanta 2006). 2.3 Sumber Daya Air Menurut Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004, air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya air, masyarakat berhak untuk: 1) memperoleh informasi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air; 2) memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan pengelolaan sumber daya air; 3) memperoleh manfaat atas pengelolaan sumber daya air;

4) menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan sumber daya air yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat; 5) mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya yang berkaitan dengan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air; dan/atau 6) mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah sumber daya air yang merugikan kehidupannya. 2.4 Nilai Ekonomi Penentuan nilai ekonomi sumberdaya alam merupakan hal yang sangat penting sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam mengalokasikan sumberdaya alam yang semakin langka. Nilai total suatu kawasan terdiri atas nilai penggunaan dan nilai non penggunaan. Nilai penggunaan terdiri dari penggunaan langsung, nilai penggunaan tidak langsung dan nilai pilihan. Sedangkan nilai non penggunaan terdiri dari nilai keberadaan dan nilai warisan (Davis 1987). Menurut Bahruni (2004) nilai adalah merupakan persepsi manusia, tentang makna sesuatu objek (sumberdaya hutan), bagi orang (individu) tertentu, tempat dan waktu tertentu pula. Nilai ekonomi total berdasarkan cara atau proses manfaat diklasifikasikan : 1) Nilai guna (use value) Nilai guna langsung (direct use value) Nilai guna tak langsung (indirect use value) 2) Nilai pilihan atau harapan masa yang akan datang (option value) 3) Nilai keberadaan (existence value) Menurut Field (2001), nilai adalah sebuah kata dengan banyak pengertian, tetapi dalam ekonomi nilai berarti harga yang seseorang atau kelompok berikan pada sesuatu seperti barang dan jasa. Davis dan Johnson (1987) membuat klasifikasi nilai menurut bagaimana cara penilaian atau penentuan besar nilai dilakukan, yang dikelompok atas: 1) Nilai pasar (market value), merupakan nilai yang ditetapkan melalui transaksi (pasar). 2) Nilai kegunaan (value in use) bagi individu tertentu (induce value)

3) Nilai sosial (social value) nilai tidak dapat ditetapkan melalui kedua metode di atas, sehingga ditetapkan melalui peraturan, hukum ataupun perwakilan masyarakat. 2.5 Manfaat Wisata Menurut Undang-undang No. 9 Tahun 1990, wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Kemudian Suyitno (2001) menyatakan bahwa wisata adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang, yang bersifat sementara, unuk menikmati obyek dan atraksi di tempat tujuan. Berbicara mengenai wisata maka tidak akan lepas dari pembicaraan tentang perjalanan (travel), karena berdasarkan sejarahnya, perjalanan merupakan cikal bakal dari wisata. Untuk membedakannya dengan perjalanan pada umumnya, maka wisata mamiliki karakteristik sebagai berikut: 1) Bersifat sementara, bahwa dalam jangka waktu pendek pelaku wisata akan kembali ke tempat asalnya. 2) Melibatkan beberapa komponen wisata, misalnya sarana transportasi, akomodasi, restoran, obyek wisata, toko cinderamata, dan lain-lain. 3) Umumnya dilakukan dengan mengunjungi obyek dan atraksi wisata, daerah atau bahkan negara secara berkesinambungan. 4) Memiliki tujuan tertentu yang intinya untuk mendapatkan kesenangan. 5) Tidak untuk mencari nafkah di tempat tujuan, bahkan keberadaannya dapat memberikan kontribusi pendapatan bagi masyarakat atau daerah yang dikunjungi, karena uang yang dibelanjakannya berasal dari tempat asal. Walaupun kegiatan wisata berasal dari kegiatan perjalanan (travel), tetapi wisata memiliki ciri-ciri yang dapat membedakannya dengan produk lain, yaitu: 1) Tidak berwujud (intangible) 2) Tidak memiliki ukuran kuantitatif (unmeasurable) 3) Tidak tahan lama dan mudah kadaluwarsa (perishable) 4) Tidak dapat disimpan (unstorable) 5) Melibatkan konsumen (wisatawan) dalam proses produksinya 6) Proses produksi dan konsumsi terjadi dalam waktu yang sama.

Beberapa aspek penelitian manfaat rekreasi yang diperlukan menurut Yoety (1997), biasanya meliputi beberapa informasi data kuantitatif mengenai wisatawan yang datang, seperti: 1) Waktu atau bulan wisatawan berkunjung 2) Negara asal wisatawan 3) Umur dan jenis kelamin 4) Maksud kunjungan 5) Transportsi yang digunakan 6) Hotel atau akomodasi yang dipakai 7) Rata-rata lama tinggal di daerah tujuan wisata 8) Rata-rata pengeluaran wisatawan tiap orang per hari 9) Objek/atraksi wisata yang dilihat 10) Menggunakan jasa Tour Operator atau mengatur sendiri. Menurut Wahab (1989), karakteristik wisatawan merupakan variabel penting dalam melakukan suatu kegiatan perencanaan pariwisata. Karakteristik tersebut antara lain, umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, jabatan, jumlah anggota keluarga, jumlah anggota yang berkunjung bersama, musim/waktu kunjungan, lama kunjungan, jarak yang ditempuh, maksud kunjungan, jenis transportasi yang digunakan, jumlah pengeluaran yang dihabiskan dan jenis akomodasi yang dimanfaatkan. 2.6 Penelitian Sebelumnya 1) Ridha (2008) Penelitian ini dilakukan di kawasan wisata Situ Lengkong Panjalu, Desa Panjalu, Propinsi Jawa Barat dengan judul Nilai Ekonomi Wisata Kawasan Situ Lengkong Panjalu Kabupaten Ciamis dengan Metode Kontingensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai ekonomi wisata kawasan Situ Lengkong Panjalu sebagai kawasan wisata yeng mempunyai fungsi ekologi bagi kelestarian kawasan Situ Lengkong dan Cagar Alam Panjalu dengan metode kontingensi melalui pendekatan kesediaan membayar dan dibayar masyarakat di lokasi tersebut. Hasil penelitian ini nilai ekonomi kawasan dengan menggunakan metode kontingensi melalui pendekatan kesediaan membayar masyarakat di kawasan wisata Situ Lengkong Panjalu, yaitu sebesar Rp 701.147.641 per tahun,

sedangkan melalui pendekatan kesediaan membayar masyarakat di kawasan wisata Situ Lengkong Panjalu, yaitu sebesar Rp 877.092.044 per tahun. 2) Sumaryati (2005) Penelitian ini dilakukan di Gili Sulat dengan judul Studi Potensi Wisata Alam di Kawasan Gili Sulat, Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali potensi wisata alam yang terdapat di kawasan Gili Sulat, Kabupaten Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat dan menyusun konsep awal pengembangan wisata alam yang memberikan keuntungan ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian kawasan. Metode pengumpulan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif untuk data primer dan dengan melakukan studi pustaka untuk data sekundernya. Sedangkan untuk analisis data digunakan metode SWOT. Hasil penelitian ini adalah bahwa kekuatan yang dimiliki oleh kawasan adalah adanya kekhasan ekosistem mangrove alami dan perairan yang jernih dengan pemandangan bawah lautnya serta adanya panorama alam puncak Gunung Rinjani dan adanya lokasi budidaya mutiara. 3) Wenda Akhmadi (2010) Penelitian ini dilakkan di Kabupaten Tegal di lokasi Taman Wisata Pemandian Air Panas Guci dengan judul yaitu Penilaian Manfaat Ekonomi dan Pengelolaan Lingkungan Taman Wisata Pemandian Air Panas Guci Kabupaten Tegal. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui nilai manfaat ekonomi intangible sumber daya alam dan lingkungan TWPAP Guci sebagai tempat wisata, mengetahui pengaruh tingkat pendapatan, persepsi responden terhadap kualitas lingkungan, dan substitusi wisata alam yang lain terhadap minat wisatawan untuk melakukan kunjungan ke TWPAP Guci, dan untuk mengetahui strategi pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan untuk pengembangan kawasan TWPAP Guci. Metode yang digunakan yaitu metode biaya perjalanan (travel cost method). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran penerapan metode penilaian manfaat ekonomi dari tempat rekreasi yang tidak mempunyai nilai pasar agar memiliki nilai secara kuantitatif dengan menggunakan metode biaya perjalanan.