Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Operasional

dokumen-dokumen yang mirip
Petunjuk Pelaksanaan KERJASAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN DENGAN SWASTA

Kerjasama Penelitian dan Pengembangan dengan Kooperator

Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Alih Teknologi Melalui KP-KIAT

Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Litbang dengan Instansi Pemerintah

Petunjuk Umum Pelaksanaan Kerjasama Dalam Negeri

BAB I PENDAHULUAN BAB II SYARAT DAN TATACARA PELAKSANAAN KERJASAMA

KONTRAK PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN/RENOVASI RUMAH TINGGAL. Pada hari ini,., tanggal.. kami yang bertanda tangan di bawah ini : :..

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 120/Permentan/OT.140/11/2013 TENTANG

PETUNJUK PELAKSANAAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN DALAM NEGERI

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA : 120/Permentan/OT.140/11/2013

TATACARA PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBERIAN HIBAH

SURAT PERJANJIAN SEWA RUMAH

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 89 TAHUN 2011

TENTANG BELANJA DANA HIBAH PENYELENGGARAAN PEMILIHAN BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT TAHUN 2017

Pada hari ini... tanggal... bulan... tahun dua ribu tujuh belas, kami yang bertandatangan dibawah ini :

NASKAH PERJANJIAN HIBAH DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG DENGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN BULELENG

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 60 TAHUN 2017 TENTANG

PERUBAHAN PERJANJIAN DANA HIBAH DAERAH NOMOR : 01/PH/HKM/2015 NOMOR : 01/KPU-Mdo-23/IV/2015 NASKAH PERJANJIAN HIBAH DAERAH PEMERINTAH KOTA MANADO

PROVINSI JAWA BARAT TENTANG PEDOMAN TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG,

Nomor 72 Berita Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2010 WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR : 72 TAHUN 2010 PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 72 TAHUN 2010 TENTANG

NASKAH PERJANJIAN HIBAH DAERAH ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT DENGAN KEPOLISIAN RESOR TULANG BAWANG TENTANG

KETENTUAN BERLANGGANAN

CONTOH SURAT PERJANJIAN PEMBORONGAN PENGADAAN DAN PENGIRIMAN BUKU

PAKTA INTEGRITAS. Alamat Jabatan Nama Lembaga : No. HP & Nama PTKI : Alamat PTKI :

PERJANJIAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI UNIT PENYERTAAN Nomor: SP- /BK/KSEI/mmyy

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG KEDUA ATAS PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 47A TAHUN

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

NASKAH PERJANJIAN HIBAH DAERAH ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT DENGAN KOMANDO DISTRIK MILITER 0412 LAMPUNG UTARA TENTANG

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PT. DWIDA JAVA TAMA DENGAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL TENTANG VERIFIKASI PETA CETAK PRODUKSI PT.

LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 11 TAHUN 2016 TANGGAL TENTANG TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA

BUPATI PACITAN PROVINSI JAWA TIMUR

NASKAH PERJANJIAN HIBAH DAERAH

[Sponsor][Title] TEAM

RANCANGAN KONTRAK PAKET PEKERJAAN PENGADAAN SARANA PRODUKSI PERTANIAN PAKET C UNTUK WARGA TRANSMIGRAN UPT. PELABI KABUPATEN LEBONG

CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA LOKASI PEMASANGAN PAPAN IKLAN

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 02/PRT/M/2009

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG

PERHATIAN! PERJANJIAN INI MERUPAKAN KONTRAK HUKUM, HARAP DIBACA DENGAN SEKSAMA PERJANJIAN PEMBERIAN AMANAT

PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN DESA JATILOR KECAMATAN GODONG PERATURAN KEPALA DESA JATILOR NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Dengan Sistim Pembiayaan Bersama BAB I PENDAHULUAN

KONTRAK PERJANJIAN PEKERJAAN BORONGAN NO: Pada hari ini hari tanggal bulan tahun, kami yang bertanda tangan dibawah ini masing-masing :

TENTANG PELAKSANAAN DANA HIBAH PENYELENGGARAAN PEMILIHAN WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA TAHUN 2017

Perjanjian Agen Pembayaran Nomor: SP- /AP/KSEI/mmyy

KONTRAK PENGADAAN BARANG DAN JASA. Oleh : Rusdian Rasih Hendrato, S.H. Surakarta, 2005

TATA CARA PELAKSANAAN TUKAR-MENUKAR BARANG MILIK NEGARA

CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH

SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN

BUPATI KULON PROGO PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 15 TAHUN TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN WONOSOBO

PASAL 1 DASAR. Perjanjian kerjasama ini dibuat berdasarkan referensi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini, yaitu:

TENTANG VERIFIKASI PETA CETAK PRODUKSI CV. PORI MEDIA 060 / PM - SK / V / 2015 B-25.1/PPKS/PU5/2015

TIM PENGELOLA KEGIATAN DESA KECAMATAN... Alamat : UNDANGAN PENGADAAN BARANG/JASA

BUPATI BULUNGAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA RANCANGAN PERATURAN BUPATI BULUNGAN NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA

NASKAH PERJANJIAN HIBAH DAERAH (NPHD) TENTANG PEMBERIAN HIBAH DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KABUPATEN PURWOREJO TAHUN ANGGARAN 2015

Pada hari ini tanggal bulan tahun, kami yang bertandatangan di bawah ini:

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b dan c, perlu ditetapkan Keputusan Gubernur Jawa Barat tentang Penunjukan

PERJANJIAN KERJASAMA INVESTASI INTERNET MARKETING PT GLODOK SUKSES NIAGA INTERNUSA

(KONTRAK) PELAKSANAAN PEKERJAAN SURAT PERJANJIAN. JUMLAH BTAYAAITLAT KONTRAK SEBE sar Rp , 000,000,-

SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUKO

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA

PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO DENGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM DAERAH KABUPATEN SITUBONDO. Nomor : 01/PERJAN/KPU-SIT/V/2015

BUPATI LUWU TIMUR PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI LUWU TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG MEKANISME PEMBUKAAN DAN PENUTUPAN REKENING SATUAN

PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH No. ***

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN BUPATI KARANGANYAR NOMOR 27 TAHUN 2012

!"#$#%&'#(&)*%*(%+#(&,*$-./.(#(&%$#(!#)!0&$*)!#&'#(#&

BERITA NEGARA. No.621,2013 KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI. Penyelesaian. Kerugian Negara. Bukan Bendahara. Tata Cara.

TIM PENGELOLA KEGIATAN KECAMATAN

BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

DATA HARVESTMON PARTNER DATA LAHAN

PERJANJIAN PENGGUNAAN C-BEST UNTUK POST TRADE PROCESSING Nomor: SP-000/MI/KSEI/mmyy

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07/PERMENTAN/OT.140/2/2015

Memperhatikan: berbagai saran dan pendapat dari unsur dan instansi terkait dalam rapat-rapat koordinasi.

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 29 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN KEKAYAAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Ar-Rajhi. SURAT KEPEMILIKAN INVESTASI Unit Usaha Griya Investa

CONTOH PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA... DENGAN RUMAH SAKIT/BALAI...

SURAT PERJANJIAN KONTRAK SEWA LOKASI PEMASANGAN REKLAME Di Jl... SURABAYA. Nomor :... /.../XII/2014. dalam perjanjian ini disebut sebagai PIHAK KEDUA.

TATA CARA PELAKSANAAN KERJASAMA PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA

KETENTUAN-KETENTUAN DAN SYARAT-SYARAT PPJB

KESEPAKATAN BERSAMA. Nomor : 11/SETMEN.PP&PA/08/2010 Nomor : 078/JN-MOU/VIII/2010

G. Kontrak Pengadaan Barang dengan nilai di atas Rp ,- (lima puluh juta rupiah) KONTRAK PENGADAAN BARANG Nomor :..

SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA KIOS

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PEMERINTAH KABUPATEN SABU RAIJUA DENGAN TENTANG

K. Kontrak Pengadaan Jasa Konsultansi dengan nilai di atas Rp ,- (lima puluh juta rupiah) KONTRAK PENGADAAN JASA KONSULTANSI Nomor :..

Draft LOGO PIHAK KEDUA KONTRAK KERJASAMA. Antara

BUPATI BELITUNG TIMUR PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG TIMUR NOMOR 56 TAHUN 2014 TENTANG

PERJANJIAN KERJASAMA ANTARA PT. PAMETERINDO EDUKATAMA ANEKA DENGAN TENTANG VERIFIKASI ATLAS DAN PETA CETAK PRODUKSI PT. PAMETERINDO EDUKATAMA ANEKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN CV. DELTA KONSULTANT

BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPIN NOMOR 07 TAHUN 2009 TENTANG

Perjanjian Pendaftaran Obligasi Di KSEI Nomor: SP- /PO/KSEI/mmyy

BUPATI SEMARANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG PENGELOLAAN ASET DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA HIBAH DAN BANTUAN SOSIAL

CONTOH SURAT PERJANJIAN PEMBORONGAN PEKERJAAN

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 4 TAHUN 1994 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENGESAHAN AKTA PENDIRIAN DAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR KOPERASI

H. Kontrak Pengadaan Jasa Konsultansi Pengawasan dengan nilai di atas Rp ,- (lima puluh juta rupiah)

PIAGAM KOMISARIS. A. Organisasi, Komposisi dan Keanggotaan

Transkripsi:

Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Operasional Pendahuluan Syarat dan Tatacara Pelaksanaan Kerjasama Hak dan Kewajiban Hasil Kerjasama Pembinaan dan Pengendalian Penutup Model-1 KSO Model-2 KSO Model-3 KSO Model-4 KSO Model-5 KSO I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi penelitian dan pengembangan di sektor pertanian memiliki tenaga, teknologi sarana yang memadai guna mendukung tugas pokok dan fungsinya. Optimalisasi pemanfaatan tenaga, teknologi, dan sarana dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Unit Kerja/Unit Pelaksana Teknis (UPT) dapat dilaksanakan melalui kerjasama operasional dengan dengan Mitra Kerjasama yang mempunyai Badan Hukum dan atau perseorangan di dalam negeri. Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Operasional ini merupakan penyempurnaan dari Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama dengan Pihak Ketiga yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Badan Litbang Pertanian No. TU.210.88.1997 tanggal 21 Agustus 1997. B. Maksud dan Tujuan Maksud ditetapkannya Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama ini adalah sebagai pedoman kerja bagi Unit Kerja/UPT dalam melaksanakan kerjasama operasional dengan Mitra Kerjasama. Tujuan ditetapkannya Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama ini adalah untuk meningkatkan dan menyempurnakan penyelenggaraan kerjasama dalam rangka pemanfaatan, pendayagunaan, dan pemeliharaan sarana milik Badan Litbang Pertanian untuk meningkatkan PNBP. C. Ruang Lingkup Ruang lingkup kerjasama operasional ini meliputi kerjasama dalam rangka pemanfaatan sarana tidak bergerak seperti kebun/kolam/ tambak/ bengkel percobaan dan sarana bergerak seperti kapal dan traktor penelitian, dengan sistem bagi hasil, tidak dalam rangka alih teknologi atau memproduksi hasil penelitian/teknologi dari Unit Kerja/UPT. II. SYARAT DAN TATACARA PELAKSANAAN KERJASAMA A. Syarat Pelaksanaan Kerjasama 1. Unit Kerja/UPT a. Unit Kerja/UPT yang akan melaksanakan kerjasama harus memiliki sarana sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan;

b. Kerjasama dapat dilakukan serendah-rendahnya oleh UPT setingkat IP2TP; c. Kerjasama tidak mengakibatkan beralihnya kepemilikan kekayaan negara kepada Mitra Kerjasama; dan d. Apabila dalam kerjasama akan mendirikan bangunan permanen/ mengubah peruntukannya/menanami dengan tanaman tahunan maka Unit Kerja/UPT harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Kepala Badan Litbang Pertanian. 2. Mitra Kerjasama a. Memiliki kesungguhan dalam bekerjasama; b. Tidak akan menuntut ganti rugi kepada Unit Kerja/UPT apabila dalam pelaksanaan kerjasama mengalami kerugian yang tidak disebabkan oleh kesalahan Unit Kerja/UPT; dan c. Bersedia mematuhi perjanjian kerjasama dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. B. Tatacara Pelaksanaan Kerjasama a. Persiapan Unit Kerja/UPT bersama dengan Mitra Kerjasama menyiapkan rencana kerjasama yang dituangkan dalam Kerangka Acuan seperti contoh Model-1 KSO. Naskah Perjanjian Kerjasama ditandatangani oleh kedua belah pihak dan dilengkapi dengan Kerangka Acuan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Naskah Perjanjian Kerjasama (contoh Model-2 KSO). Perjanjian kerjasama antara lain memuat hal-hal sebagai berikut: 1) Nama-nama pihak yang bekerjasama 2) Maksud dan tujuan kerjasama 3) Ruang lingkup kerjasama 4) Dasar pelaksanaan kerjasama 5) Hak dan kewajiban masing-masing pihak 6) Jangka waktu kerjasama 7) Tempat/lokasi kerjasama 8) Pembiayaan 9) Pembinaan dan pengendalian 10) Pengaturan hasil kerjasama 11) Keadaan memaksa (Force Majeure) 12) Penyelesaian perselisihan 13) Lain-lain dan 14) Penutup. b. Penandatanganan Naskah Kerjasama Perjanjian Kerjasama yang kerjasamanya dilaksanakan di tingkat Unit Kerja ditandatangani oleh Kepala Unit Kerja dan Mitra Kerjasama serta disahkan oleh Kepala Badan Litbang Pertanian. Kerjasama yang dilaksanakan di tingkat UPT apabila berjangka waktu kurang dari 3 (tiga) tahun dan atau nilai kontrak kurang dari Rp 50 juta, maka perjanjian kerjasamanya ditandatangani oleh Kepala Unit Kerja dan Mitra Kerjasama serta disahkan oleh Kepala Unit Kerja. Kerjasama dengan jangka waktu sampai dengan 3 (tiga) tahun atau lebih dan atau nilai kontrak Rp 50 juta keatas maka perjanjian kerjasamanya ditandatangani oleh Kepala UPT dan Mitra Kerjasama diketahui oleh Kepala Unit Kerja serta disahkan oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian atas nama Kepala Badan Litbang Pertanian.

c. Pelaksanaan Kerjasama Unit Kerja/UPT yang melaksanakan kerjasama diwajibkan membentuk unit pengelola kerjasama untuk melakukan penatausahaan kerjasama yang meliputi penatausahaan keuangan, sarana, hasil dan pelaporan kerjasama sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Unit pengelola kerjasama melaporkan hasil penatausahaan kerjasama kepada Kepala Unit Kerja/UPT. Kepala Unit Kerja/UPT dapat menunjuk Tim Teknis untuk mengevaluasi laporan hasil kerjasama sebelum disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait. Selanjutnya secara hierarhis setiap Kepala Unit Kerja/UPT menyampaikan laporan yang terdiri atas laporan teknis dan penatausahaan kerjasama kepada Kepala Badan Litbang Pertanian, sebagai Laporan Triwulan (contoh Model-3 KSO). d. Pelaporan Akhir Pada saat berakhirnya kerjasama, Unit Kerja/UPT wajib menyampaikan laporan akhir yang terdiri atas laporan teknis dan laporan penatausahaan kerjasama kepada Kepala Badan Litbang Pertanian, sebagai Laporan Akhir (contoh Model-4 KSO). Barang-barang bergerak milik Mitra Kerjasama yang digunakan untuk pelaksanaan kerjasama dapat menjadi barang inventaris Unit Kerja/UPT, setelah serah terima diproses dalam berita acara, kecuali apabila diperjanjikan lain. Untuk sarana yang tidak bergerak yang berasal dari Mitra Kerjasama dan berada di lahan Unit Kerja/UPT menjadi barang inventaris Unit Kerja/UPT melalui proses serah terima barang. Dalam hal kewajiban pelaporan tidak dilaksanakan oleh Unit Kerja/UPT seperti diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan ini, maka Badan Litbang Pertanian dapat mengenakan sanksi administratif sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. III. HAK DAN KEWAJIBAN A. Hak dan Kewajiban Unit Kerja/UPT 1. Hak Unit Kerja/UPT a. Memberikan saran dalam pemanfaatan sarana; b. Menandatangani perjanjian kerjasama sesuai dengan Model 2 KSO; c. Menerima dan mengelola bagian dari bagi hasil kerjasama operasional yang diterima dari Mitra Kerjasama sesuai dengan perjanjian; d. Menggunakan sebagian biaya kerjasama untuk pembinaan dan pengendalian pelaksanaan kerjasama dan untuk memelihara/memperbaiki sarana milik Unit Kerja/UPT sesuai dengan rencana penggunaan hasil kerjasama yang disusun sebelumnya; dan e. Menghentikan kerjasama jika pelaksanaannya tidak sesuai dengan perjanjian dengan terlebih dahulu memberitahukan kepada mitra kerjasama. 2. Kewajiban Unit Kerja/UPT a. Menyediakan sarana dan tenaga yang diperlukan dalam rangka operasionalisasi sarana. Apabila dalam kerjasama ini diperlukan jasa tenaga peneliti, maka hal ini akan diatur

lebih lanjut sesuai dengan peraturan yang berlaku; b. Menyusun rencana penggunaan hasil kerjasama yang disahkan oleh Kepala Unit Kerja/UPT; c. Menerima dan menyetorkan PNBP yang diperoleh kepada Rekening Kas Negara setempat, berupa uang tunai; d. Melakukan pembinaan, pengendalian, serta pemeliharaan bangunan, sarana dan lingkungan; dan e. Menyampaikan laporan pelaksanaan kerjasama kepada Kepala Badan Litbang Pertanian dan pihak-pihak yang terkait. B. Hak dan Kewajiban Mitra Kerjasama 1. Hak Mitra Kerjasama a. Memanfaatkan sarana; b. Menandatangani perjanjian kerjasama; c. Menghentikan kerjasama yang tidak sesuai dengan perjanjian dengan terlebih dahulu memberitahukan kepada Unit Kerja/UPT; dan d. Mendapatkan bagian dari bagi hasil. 2. Kewajiban Mitra Kerjasama a. Menyusun rencana kegiatan bersama Unit Kerja/UPT; b. Menyediakan biaya operasional yang diperlukan sesuai dengan perjanjian. Apabila biaya operasional berubah, maka perubahan tersebut akan dituangkan dalam adendum dan disetujui oleh kedua belah pihak pada saat terjadinya perubahan tersebut; c. Tidak mengalihkan pengelolaan sarana kepada pihak lain dan tidak merubah peruntukan sarana; d. Menjaga dan memelihara kelestarian sarana. IV. HASIL KERJASAMA 1. Hasil kerjasama ditentukan berdasarkan kepada perhitungan antara pendapatan yang diperoleh dikurangi biaya pengeluaran operasional. Pendapatan yang diperoleh disepakati oleh Mitra Kerjasama dan Kepala Unit Kerja/UPT, serta dituangkan dalam Berita Acara seperti contoh Model-5 KSO. Selanjutnya pembagian hasil kerjasama operasional ini dihitung dengan sistem bagi hasil dengan ketentuan bahwa 30% - 50% menjadi milik Unit Kerja/UPT dan sisanya menjadi milik Mitra Kerjasama. 2. a. Besarnya PNBP yang harus disetorkan ke Rekening Kas Negara setempat berupa kiriman uang tunai ditentukan sekurang-kurangnya 10% dari penerimaan kerjasama operasional. b. Untuk melaksanakan kewajiban butir 2d Bab III Petunjuk Pelaksanaan ini, sebagian penerimaan kerjasama operasional dapat digunakan untuk biaya pemeliharaan, operasional tenaga dan pembinaan yang penggunaannya telah direncanakan berdasarkan rencana penggunaan anggaran yang disahkan oleh Pimpinan Unit Kerja/UPT dan dipertanggungjawabkan dengan bukti pengeluaran. V. PEMBINAAN DAN PENGENDALIAN

1. Dalam rangka pembinaan dan pengendalian, Perjanjian Kerjasama dibuat rangkap 4 (empat), 2 (dua) di antaranya bermaterai secukupnya, untuk Unit Kerja/UPT dan Mitra Kerjasama, masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang sama, juga disampaikan kepada Atasan Langsung Unit Kerja/UPT yang bersangkutan dan Kepala Badan Litbang Pertanian. 2. Agar pelaksanaan kerjasama mencapai sasaran sebagaimana yang tertuang dalam Kerangka Acuan, maka setiap Kepala Unit Kerja/UPT wajib melakukan pengawasan fisik dan keuangan dan pengendalian secara berkala selama pelaksanaan kegiatan kerjasama, sekurang-kurangnya apabila kerjasama dilaksanakan lebih dari satu tahun, dan menyampaikan laporan seperti diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan ini. 3. Pembiayaan dalam rangka pembinaan dan pengendalian kerjasama mengacu kepada ketentuan dalam Bab IV butir 2b Petunjuk Pelaksanaan ini. VI. PENUTUP 1. Petunjuk Pelaksanaan ini agar dipahami dan dimasyarakatkan serta dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh semua Unit Kerja/UPT. 2. Dengan diterbitkannya Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama Operasional, maka Keputusan Kepala Badan Litbang Pertanian No. TU.210.88.1997 tanggal 21 Agustus 1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama dengan Pihak Ketiga dinyatakan tidak berlaku. PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN KERJASAMA OPERASIONAL MODEL-1 KSO I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Masalah mendesak dan mengapa masalah tersebut perlu dipecahkan. - Akibat-akibat yang dapat ditimbulkan oleh masalah tersebut. - Tinjauan pustaka sebagai pendukung kegiatan. - Sarana penunjang yang digunakan. - Keterkaitan dengan program penelitian Unit Kerja/UPT dan atau dengan optimalisasi tugas pokok dan fungsi Unit Kerja/UPT. 1.2. Dasar Pertimbangan Pernyataan tentang besarnya sumbangan dari hasil kerjasama yang diharapkan terhadap optimalisasi dan kelestarian sarana. 1.3. Tujuan Kerjasama Operasional Dalam tujuan kerjasama operasional, perlu disebutkan atau dijelaskan apa yang akan dicapai

atau diperoleh pada akhir kerjasama, sehingga perlu dirumuskan secara spesifik dengan urutan yang sesuai dengan kepentingannya. II. PELAKSANAAN KERJASAMA OPERASIONAL Dalam bab ini perlu dijelaskan hal-hal sebagai berikut: 2.1. Jenis kegiatan 2.2. Volume 2.3. Tenaga 2.4. Jangka waktu 2.5. Laporan terdiri dari : - Laporan perhitungan/pembagian hasil - Laporan teknis III. PEMBIAYAAN Pembiayaan mencakup biaya operasional dan biaya tenaga. MODEL-2 KSO NASKAH PERJANJIAN KERJASAMA antara UNIT KERJA/UNIT PELAKSANA TEKNIS dan... Nomor : Pada hari ini,...tanggal... bulan... tahun..., kami yang bertandatangan di bawah ini : 1...., jabatan Kepala Pusat/Puslit/Puslitbang/Balai Besar/Balai/Loka... dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, yang selanjutnya dalam perjanjian ini disebut sebagai PIHAK PERTAMA. 2...., jabatan... berkedudukan di... dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama...yang selanjutnya dalam perjanjian ini disebut sebagai PIHAK KEDUA. Dengan ini kedua belah pihak menyatakan telah setuju dan bersepakat untuk mengikatkan diri dalam suatu perjanjian kerjasama dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Pasal 1

MAKSUD DAN TUJUAN KERJASAMA Kerjasama ini bertujuan untuk...... Pasal 2 RUANG LINGKUP Cakupan kegiatan akan meliputi :...... Pasal 3 DASAR PELAKSANAAN KERJASAMA Kerjasama tersebut dalam pasal 1 di atas harus dilaksanakan sesuai dengan Kerangka Acuan (TOR) yang sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini. Pasal 4 HAK DAN KEWAJIBAN A. Hak dan Kewajiban PIHAK PERTAMA 1. Hak PIHAK PERTAMA a. Memberikan saran dalam pemanfaatan sarana; b. Menerima dan mengelola bagian dari bagi hasil kerjasama dari PIHAK KEDUA sesuai dengan perjanjian; dan c. Menghentikan kerjasama jika pelaksanaannya tidak sesuai dengan perjanjian dengan terlebih dahulu memberitahukan kepada PIHAK KEDUA. d. (diisi sesuai kebutuhan ) 2. Kewajiban PIHAK PERTAMA a. Menyediakan sarana dan tenaga yang diperlukan sesuai perjanjian; b. Menerima dan menyetorkan PNBP; c. Memelihara/memperbaiki sarana yang dimiliki oleh Unit Kerja/UPT sesuai dengan perencanaan yang disusun sebelumnya; d. Menyampaikan laporan pelaksanaan kerjasama kepada Kepala Badan Litbang Pertanian dan pihak-pihak terkait. e. (diisi sesuai dengan kebutuhan ) B. Hak dan Kewajiban PIHAK KEDUA 1. Hak PIHAK KEDUA a. Memanfaatkan sarana; b. Menghentikan kerjasama yang tidak sesuai dengan perjanjian dengan terlebih dahulu

memberitahukan kepada PIHAK PERTAMA; dan c. Mendapatkan bagian dari bagi hasil. 2. Kewajiban PIHAK KEDUA a. Menyusun rencana kegiatan dan biaya operasional bersama-sama PIHAK PERTAMA; b. Menyediakan biaya operasional yang diperlukan sesuai dengan perjanjian. Apabila biaya operasional berubah maka perubahan tersebut akan dituangkan dalam adendum dan disetujui oleh kedua belah pihak pada saat terjadinya perubahan tersebut; c. Tidak mengalihkan pengelolaan sarana kepada pihak lain dan tidak merubah peruntukan sarana; dan d. Menjaga dan memelihara kelestarian sarana. Pasal 5 JANGKA WAKTU PELAKSANAAN Jangka waktu pelaksanaan kerjasama ini ditetapkan selama... (...) tahun, sejak... s/d... Pasal 6 TEMPAT/LOKASI KEGIATAN KERJASAMA Lokasi kegiatan kerjasama bertempat di...... Pasal 7 PEMBIAYAAN Semua pembiayaan untuk pelaksanaan kerjasama ini sebesar Rp... (...) dibebankan/ ditanggung oleh PIHAK KEDUA dengan rincian seperti tercantum dalam kerangka acuan kerjasama yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Pasal 8 PEMBINAAN DAN PENGENDALIAN Untuk menjamin tercapainya tujuan kerjasama secara optimal, maka selama pelaksanaan kegiatan kerjasama berlangsung, PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA secara bersama-sama atau sendiri-sendiri berkewajiban melakukan pembinaan/pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan baik administratif maupun teknis. Pasal 9 HASIL KERJASAMA 1. Hasil kerjasama ditentukan berdasarkan kepada perhitungan antara pendapatan yang diperoleh dikurangi biaya pengeluaran operasional. Pendapatan yang diperoleh disepakati oleh PIHAK KEDUA dan PIHAK PERTAMA serta dituangkan dalam Berita Acara. Selanjutnya pembagian hasil kerjasama operasional ini dihitung dengan sistem bagi hasil dengan ketentuan bahwa 30% - 50% menjadi milik PIHAK PERTAMA dan sisanya menjadi milik PIHAK KEDUA. 2. Besarnya PNBP yang harus disetorkan ke Rekening Kas Negara setempat berupa uang tunai (sekurang-kurangnya 10% dari penerimaan kerjasama operasional).

Pasal 10 KEADAAN MEMAKSA (FORCE MAJEURE) 1. Yang termasuk dalam "keadaan memaksa" adalah peristiwa- peristiwa seperti berikut: a. bencana alam (gempa bumi, tanah longsor, dan banjir); b. kebakaran yang tidak disengaja, atau bukan merupakan suatu kelalaian; c. perang, huru-hara politik, pemogokan, pemberontakan, dan wabah atau epidemi, yang secara keseluruhan ada hubungan langsung dengan kerjasama ini. d. kegagalan penelitian yang bukan karena kesalahan PIHAK PERTAMA atau PIHAK KEDUA 2. Apabila terjadi keadaan memaksa PIHAK PERTAMA harus memberitahukan kepada PIHAK KEDUA secara tertulis paling lambat 7 hari sejak terjadinya keadaan memaksa disertai bukti-bukti yang sah, demikian juga pada waktu keadaan memaksa berakhir. Pasal 11 PERSELISIHAN 1. Jika terjadi perselisihan antara kedua belah pihak, maka pada dasarnya akan diselesaikan secara musyawarah/mufakat. 2. Jika perselisihan tidak dapat diselesaikan secara musyawarah/ mufakat, maka perselisihan dapat diselesaikan secara hukum melalui Badan Arbitrasi Nasional atau melalui Pengadilan Negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 12 LAIN - LAIN 1. Bea materai, pajak dan biaya lainnya yang timbul sebagai akibat perjanjian kerjasama ini ditanggung sepenuhnya oleh PIHAK KEDUA. 2. Perubahan atas naskah perjanjian dapat dilakukan atas persetujuan kedua belah pihak. 3. Kerjasama dianggap batal apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak memenuhi ketentuan-ketentuan dalam perjanjian. 4. Semua tahap kegiatan pelaksanaan kerjasama dari PIHAK KEDUA harus dilakukan sepengetahuan PIHAK PERTAMA. 5. Pada saat berakhirnya kerjasama, barang-barang/sarana dari PIHAK KEDUA yang telah habis masa operasionalnya menjadi milik PIHAK PERTAMA. Pasal 13 P E N U T U P Perjanjian kerjasama ini ditandatangani oleh kedua belah pihak di... pada hari dan tanggal tersebut di atas dan dibuat dalam rangkap 4 (empat), 2 (dua) di antaranya bermaterai cukup, yang masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang sama. Di tingkat Unit Kerja PIHAK KEDUA, PIHAK PERTAMA,

(...) (...) Disahkan Kepala Badan Litbang Pertanian, (...) Di tingkat Unit Pelaksana Teknis a. Apabila berjangka waktu kurang dari 3 (tiga) tahun dan atau nilai kontrak kurang dari Rp. 50 juta. PIHAK KEDUA, PIHAK PERTAMA, (...) (...) Disahkan Kepala Unit Kerja, (...) b. Apabila berjangka waktu 3 (tiga) tahun atau lebih dan atau nilai kontrak Rp. 50 juta keatas. PIHAK KEDUA, PIHAK PERTAMA,

(...) (...) Mengetahui, Kepala Unit Kerja Disahkan, Sekretaris Badan, a/n Kepala Badan Litbang Pertanian (...) (...) *) Untuk perjanjian Kerjasama Penelitian di tingkat Unit Kerja **) Untuk perjanjian Kerjasama Penelitian di tingkat Unit Pelaksana Teknis MODEL-3 KSO FORMULIR LAPORAN TRIWULAN *) KERJASAMA OPERASIONAL Unit Kerja/UPT : I DATA UMUM 1. Judul Kegiatan Kerjasama 2. Nomor dan Tanggal Naskah Perjanjian Kerjasama 3. Kerjasama Dengan (Swasta/Koperasi/ Pemerintah/ : **) Perguruan Tinggi) 4. Instansi Pelaksana (Unit Kerja/UPT) : **) 5. Lokasi Kegiatan : *) 6. Tujuan Kegiatan 7. Jangka Waktu : s/d.. 8. Penanggung Jawab Kegiatan : II DATA KEUANGAN 1. Anggaran o. Anggaran dari Unit Kerja/UPT : Rp. o. Anggaran dari Pihak Mitra : Rp. Jumlah : Rp.

2. Pengelola Anggaran Kerjasama (Unit Kerja/ UPT atau Pihak Mitra) III KEMAJUAN PELAKSANAAN KERJASAMA : ***) 1. Biaya yang diterima : Rp 2. Biaya yang dikeluarkan - Biaya pemeliharaan : Rp - Biaya pengendalian, dsb : Rp. 3. Perkembangan Pelaksanaan Fisik : (Uraian singkat mengenai perkembangan pelaksanaan kegiatan di lapangan yang dicapai) 4. Masalah yang timbul dan langkah tindak lanjut yang sudah/akan diambil: 5. Penerimaan Negara Bukan Pajak (Lampirkan bukti : Rp setoran, kalau ada) 6. a. Tanggal Laporan : b. Diisi Oleh : c. Tanda Tangan : *) Laporan triwulanan supaya dikirimkan pada setiap bulan Juli, Oktober, Januari, dan April **) Pilih salah satu yang sesuai dan sebutkan ***) Pilih salah satu dan sebutkan MODEL-4 KSO FORMULIR LAPORAN AKHIR *) KERJASAMA OPERASIONAL Unit Kerja/UPT : I DATA UMUM 1. Judul Kegiatan Kerjasama 2. Nomor dan Tanggal Naskah Perjanjian Kerjasama 3. Kerjasama Dengan (Swasta/Koperasi/Pemerintah/ Perguruan Tinggi) : **)

4. Instansi Pelaksana (Unit Kerja/UPT) : 5. Lokasi Kegiatan : 6. Tujuan Kegiatan 7. Jangka Waktu : s/d.. 8. Penanggung Jawab Kegiatan : II DATA KEUANGAN 1. Anggaran o. Anggaran dari Unit Kerja/UPT : Rp. o. Anggaran dari Pihak Mitra : Rp. Jumlah 2. Pengelola Anggaran Kerjasama (Unit Kerja/ UPT atau Pihak Mitra) III KEMAJUAN PELAKSANAAN KERJASAMA : Rp. : **) 1. Hasil kerjasama : ***) a. fisik - hasil produksi - bibit - peralatan - konstruksi - lain-lain b. Uang - Hasil dari bagi hasil kerjasama - PNBP (kalau ada, lampirkan copy bukti setoran ke Kas Negara) - Biaya pemeliharaan - Biaya pengendalian 2. Kesimpulan hasil kerjasama: : : : : : : : Rp : Rp : Rp : Rp 3. a. Tanggal Laporan : b. Diisi Oleh : c. Tanda Tangan : *) Laporan akhir dikirimkan setelah suatu kegiatan kerjasama selesai dilaksanakan **) Pilih salah satu dan sebutkan ***) Jelaskan secara ringkas dan jelas

MODEL-5 KSO BERITA ACARA PERHITUNGAN HASIL KERJASAMA OPERASIONAL Pada tanggal.. bulan.. tahun.. telah dilakukan perhitungan hasil kerjasama operasional berdasarkan biaya operasional dan pendapatan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Pengeluaran operasional yang mencakup biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam rangka operasionalisasi kegiatan sebesar Rp... 2. Perhitungan pendapatan dari pengelolaan hasil/jasa sebesar Rp. 3. Hasil bersih diperoleh sebesar. Bagian yang menjadi milik PIHAK PERTAMA sebesar. Bagian yang menjadi milik PIHAK KEDUA sebesar.. Jakarta, Tim Penghitung, Menyetujui, Tim Penghitung, 1. Kepala Unit Kerja/UPT 1.... NIP. 2.... 2. Mitra Kerjasama 3....