IPPHAMI IKATAN PERUSAHAAN PENGENDALIAN HAMA INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
Boyke Arie Pahlevi, SE. Ketua Umum DPP ASPPHAMI

BAB I PENDAHULUAN. operasi, sisa suntikan, obat kadaluarsa, virus, bakteri, limbah padat dan lain-lain.

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG PENGENDALIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE

BAB I PENDAHULUAN. tropis. Pandangan ini berubah sejak timbulnya wabah demam dengue di

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1987 TENTANG PENYERAHAN SEBAGIAN URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG PEKERJAAN UMUM KEPADA DAERAH

BAB 1 PENDAHULUAN. selalu diusahakan peningkatannya secara terus menerus. Menurut UU No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan, dalam pasal 152

MEMUTUSKAN : BABI KETENTUAN UMUM. Pasal 1

WALI KOTA PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 79 TAHUN 2008 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

SARANG NYAMUK DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DI DESA KLIWONAN MASARAN SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN. gigitan nyamuk dari genus aedes misalnya Aedes aegypti atau Aedes albovictus.

f1~ r '~{5))'~~ ~J~ PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 08 TAHUN 2000 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS KESEHATAN WALIKOTA TARAKAN,

BAB 1 PENDAHULUAN. di Indonesia yang cenderung jumlah pasien serta semakin luas. epidemik. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan

BAB I PENDAHULUAN. perjalanan penyakit yang cepat, dan dapat menyebabkan. kematian dalam waktu yang singkat (Depkes R.I., 2005). Selama kurun waktu

BAB I PENDAHULUAN. harus dipenuhi oleh setiap bangsa dan negara. Termasuk kewajiban negara untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya ini cenderung menurun bersamaan dengan terus membaiknya

PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DI GIANYAR. Oleh I MADE SUTARGA PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2015

BAB I LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam beberapa tahun terakhir

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 59/2006 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. manusia melalui perantara vektor penyakit. Vektor penyakit merupakan artropoda

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan daerah tropis yang banyak berkembang nyamuk Aedes. kepadatan penduduk (Kementerian Kesehatan RI, 2010).

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN HYGIENE DAN SANITASI

BAB I PENDAHULUAN. Tenggara. Terdapat empat jenis virus dengue, masing-masing dapat. DBD, baik ringan maupun fatal ( Depkes, 2013).

masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mempunyai

PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 2 TAHUN 2005 TENTANG PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN, TUGAS, FUNGSI DAN SUSUNAN ORGANISASI DINAS DAERAH KOTA PEKALONGAN

INFORMASI UMUM DEMAM BERDARAH DENGUE

BAB 1 PENDAHULUAN. Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue, ditularkan

BISMILLAHIRRAHMANNIRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA ACEH,

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 89 TAHUN 2008

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 288/MENKES/SK/III/2003 TENTANG PEDOMAN PENYEHATAN SARANA DAN BANGUNAN UMUM

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Bupati dalam melaksanakan kewenangan otonomi. Dengan itu DKK. Sukoharjo menetapkan visi Masyarakat Sukoharjo Sehat Mandiri dan

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

I. PENDAHULUAN. pembangunan yang bersifat sentralistik ke arah desentralistik yang. masing-masing Provinsi dan Kabupaten/ Kota. Tujuan pembangunan di

BAB I PENDAHULUAN. umum dari kalimat tersebut jelas bahwa seluruh bangsa Indonesia berhak untuk

BAB I PENDAHULUAN. yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan snyamuk dari genus Aedes,

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Hubungan faktor..., Amah Majidah Vidyah Dini, FKM UI, 2009

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dengue dengan tanda-tanda tertentu dan disebarkan melalui gigitan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1991 TENTANG PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN KUPANG. Bagian Pertama. Dinas. Pasal 73

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

BAB I. dalam kurun waktu yang relatif singkat. Penyakit menular umumnya bersifat akut

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 51 TAHUN 2011 TENTANG PENGENDALIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA KEDIRI WALIKOTA KEDIRI,

HUBUNGAN FAKTOR PERILAKU DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BOYOLALI I

BAB 1 : PENDAHULUAN. Berdarah Dengue (DBD). Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya

BAB I PENDAHULUAN. disadari. Bahkan telah lama pula disinyalir, bahwa peran lingkungan dalam

BAB 1 : PENDAHULUAN. Dalam hal ini sarana pelayanan kesehatan harus pula memperhatikan keterkaitan

BAB 1 PENDAHULUAN. mengalami kemajuan yang cukup bermakna ditunjukan dengan adanya penurunan

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh virus dengue. Virus dengue merupakan famili flaviviridae

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SUNGAI DAN DRAINASE

BAB I : PENDAHULUAN. menular yang disebabkan oleh virus dengue, virus ini ditularkan melalui

PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR : 36 TAHUN 2009 TENTANG URAIAN TUGAS DINAS PEKERJAAN UMUM PROVINSI RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU

I. PENDAHULUAN. Diantara kota di Indonesia, Kota Bandar Lampung merupakan salah satu daerah

Skripsi ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh: DIAH NIA HERASWATI J

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 949/MENKES/SK/VIII/2004 TENTANG

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era reformasi, paradigma sehat digunakan sebagai paradigma

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami 2 musim, salah

PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SERANG,

BAB I PENDAHULUAN. penghujan disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan ke manusia melalui vektor nyamuk

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG

Perbedaan puskesmas dan klinik PUSKESMAS

BAB I PENDAHULUAN. setiap tahunnya. Salah satunya Negara Indonesia yang jumlah kasus Demam

BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENGENDALIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG,

LEMBARAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II SEMARANG NOMOR 10 TAHUN 1999 SERI D NO. 7

BAB I PENDAHULUAN. dan tantangan yang muncul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial ekonomi dan

WALIKOTA SOLOK PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA SOLOK NOMOR : 10 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA IZIN MENDIRIKAN DAN IZIN OPERASIONAL KLINIK

BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana diatur dalam pasal 10 ayat 2 Undang Undang Nomor 32 tahun 2004

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERATURAN DAERAH KOTA KUPANG NOMOR 16 TAHUN 2000 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH DAN LEMBAGA TEKNIS DAERAH KOTA KUPANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2011 TENTANG PEMBANGUNAN BANGUNAN GEDUNG NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 7 TAHUN 2005 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN PERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1098/MENKES/SK/VII/2003 TENTANG PERSYARATAN HYGIENE SANITASI RUMAH MAKAN DAN RESTORAN

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR... TAHUN TENTANG PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN

PENJELASAN PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2004 TENTANG KETENAGAKERJAAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan

GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. maupun sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara sosial

Transkripsi:

IPPHAMI IKATAN PERUSAHAAN PENGENDALIAN HAMA INDONESIA

Didirikan di Jakarta pada tanggal 6 Februari 1973 dengan tujuan : 1. Menghimpun dan membina serta memupuk rasa solidaritas Perusahaan Nasional yang bergerak di bidang pengendalian hama dan meningkatkan peranserta anggotanya dalam pembangunan sosial; 2. Meningkatkan kemampuan dan mutu anggota dalam menyelenggarakan jasa pengendalian hama yang berwawasan lingkungan; 3. Sebagai wadah berhimpun dan ikatan perusahaan sejenis, IPPHAMI merupakan organisasi profesi yang bersifat non politik.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka IPPHAMI menyelenggarakan tugas dan usaha sebagai berikut : Membantu usaha peningkatan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat dengan jalan melaksanakan bidang pengendalian hama sesuai dengan peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku; Meningkatkan komunikasi dan mengusahakan agar IPPHAMI menjadi partner pemerintah dan badan-badan lain baik swasta maupun nasional dan internasional dalam bidang pengendalian hama;

Membantu memberikan pendidikan khusus yang kreatif dan dinamis bagi para anggota; Merupakan biro konsultasi bagi para anggota dan arbiter terhadap /antara para anggota maupun pihak ketiga.

Keanggotaan IPPHAMI Dewan Pengurus Daerah Provinsi DKI Jakarta hingga saat ini tercatat 110 perusahaan pest control sebagai anggota biasa dan 6 perusahaan/distributor pestisida sebagai anggota kehormatan

Dalam perjalanannya IPPHAMI khususnya DPD DKI Jakarta telah menjalin kerjasama dengan berbagai institusi pemerintah dalam rangka mewujudkan tujuan dan program-programnya, antara lain: Kerjasama dengan Dinas Kesehatan sejak tahun 1980 an hingga saat ini dalam mendidik dan melatih tenaga Teknisi dan Supervisor perusahaan pest control agar lebih profesional dalam menjalankan tugasnya;

Kerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam penanggulangan bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD) ; Mengajukan usulan/ draft agar disahkannya RUU Keselamatan Bangunan dan Gedung dengan perlakuan Anti Rayap menjadi Peraturan Daerah (Perda);

Kerjasama dengan Badan Karantina Pertanian (Barantan) dalam hal pendidikan dan pelatihan fumigasi standar Barantan bagi perusahaan fumigasi anggota IPPHAMI; Menyelenggarakan seminar-seminar yang berkaitan dengan peran dan fungsi IPPHAMI dalam mendukung program pemerintah atau meningkatkan profesionalisme anggotanya.

Penanggulangan penyakit yang ditimbulkan pasca banjir : IPPHAMI bekerjasama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan 5 wilayah serta Puskesmas dan dibantu warga masyarakat melaksanakan penyemprotan di wilayah-wilayah bekas terkena banjir;

Penanggulangan DBD di wilayah-wilayah endemis dengan melaksanakan penyemprotan berkala langsung pada titik-titik berkembangnya nyamuk Aedes Aegypti

PERATURAN DAN PERUNDANG UNDANGAN 1. UU RI No. 23/1992 ttg Kesehatan - Kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, dilaksanakan di tempat-tempat umum, pemukiman kerja, angkutan umum, dll; - Kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air, udara, pengamanan limbah padat, cair dan gas, pengendalian vektor penyakit, dll. 2. UU RI No. 23/1997 ttg Lingkungan Hidup - Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun; - Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan/atau membuang. 3. PP No. 7 tahun 1973 ttg Pengawasan Atas Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan pestisida - Setiap orang/ badan hukum dilarang menggunakan pestisida yang tidak didaftar dan/atau memperoleh Izin Menteri pertanian

4. Kepmenkes RI no 1350/2001 tentang Pestisida a. Pengertian - Pengelolaan pestisida : pembuatan, pengangkutan, penyimpanan, peragaan, penggunaan dan pembuangan/pemusnahan pestisida; - Pestisida kesehatan masyarakat : digunakan untuk pemberantasan vektor penyakit menular atau untuk pengendalian hama di rumah, tempat kerja, tempat umum, sarana angkutan dan gudang; - Pestisida terbatas : karena sifat fisik dan kimia dan atau daya racunnya dinilai sangat berbahaya, hanya diizinkan diedarkan, disimpan dan digunakan secara terbatas; - Persyaratan kesehatan pestisida : ketentuan teknis kesehatan untuk melindungi, memelihara dan atau mempertinggi derajat kesehatan; - Pengamanan Pengelolaan Pestisida : kegiatan untuk mencegah dan menanggulangi keracunan dan pencemaran pestisida

5. SK GUBERNUR DKI JAKARTA NO. 2953 TH 1976 Dilarang mendirikan usaha pest control di wilayah DKI Jakarta tanpa ijin Gubernur; Kewajiban mengirimkan laporan bulanan 6. Tindak lanjut berkaitan dengan UU No. 22 th 199 ttg Pemerintah Daerah, UU no. 34/2000 ttg Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara RI Jakarta, PP No. 25 th 2000 ttg Kewenangan Pemerintah Pusat dan Provinsi sebagai Daerah Otonomi: SE Kepala Dinkes Prop. DKI Jakarta ttg Pengajuan Izin Usaha Pest Control melalui Suku Dinas Kesmas Kotamadya

Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terus berulang setiap kali pergantian musim menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi setiap warga masyarakat DKI Jakarta khususnya. Dan, menurut pengamatan, kejadian yang terus berulang tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kesadaran masyarakat yang masih kurang tentang pola hidup sehat.

PERAN IPPHAMI ( IKATAN PERUSAHAAN PENGENDALI HAMA INDONESIA ) DALAM PENGENDALIAN VEKTOR PENDAHULUAN Pekerjaan pembangunan fisik secara nasional dilakukan antara lain melalui pembangunan prasarana dan sarana pemukiman,gedung gedung perkantoran, gedung komersial, perumahan. Didalam sebuah pembangunan harus diperhatikan berbagai aspek, selain aspek fungsional, aspek keselamatan dan keandalan bangunan. Persyaratan keselamatan bangunan dan kesehatan lingkungan berlaku bukan hanya bagi bangunan yang hendak dibangun, tetapi juga bangunan yang telah berdiri. Bangunan milik pemerintah yang digunakan untuk sarana publik seperti puskesmas,sekolah-sekolah,rumah sakit,kantor pemerintah,dll, merupakan asset yang harus dirawat, dan dilindungi melalui pemeliharaan yang rutin.

Dalam situasi perekonomian yang serba sulit ini, pembangunan dan sarana lingkungan masih terus berjalan meskipun dalam jumlah terbatas. Jika diukur dari luas bangunan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun belakangan ini menurun menjadi rata-rata 70 % setiap tahunnya, sedangkan rehabilitasi dan perawatan gedung sebesar 40 % setiap tahunnya. Keadaan kemampuan keuangan pemerintah yang masih terbatas untuk pembangunan semua sektor, maka pilihan jatuh pada pemeliharaan dan perawatan gedung, supaya gedung-gedung khususnya milik pemerintah dan suatu kawasan tersebut lebih optimal pengunaannya, maka sangat diperlukan KESEHATAN LINGKUNGAN. Selain gedun-gedung yang megah, bangunan sarana umum, yang bagus bagus, hal yang palin penting adalah masalah KESEHATAN PENGHUNI GEDUNG/BANGUNAN tersebut, harus diminimalkan atau kalau bisa jangan sampai ada korban manusia akibat penyakit yang dapat ditimbulkan oleh hama-hama pada gedung/bangunan tersebut. mengingat besarnya resiko atas keselamatan dan kerugian yang ditimbulkan, maka sangat diperlukan upaya pencegahan dan penangulangan pest control pada setiap bangunan yang ada, dan tidak kalah pentingnya adalah penangulangan pest control itu harus berwawasan lingkungan.

MAKSUD Agar maksud dan proses perencanaan kesehatan penghuni pada bangunan efektif dan berhasil, maka diperlukan kerjasama antara berbagai pihak yang saling terkait Perencana bangunan Kontraktor ( pelaksana bangunan ) Penghuni Gedung Perusahaan Pest Control Dan yang lebih dibutuhkan adalah, paradigma harus dimiliki pemerintah daerah dalam pengaturan, pembinaan, pengawasan konstruksi dan terlebih kesehatan penghuni bangunan. Tak luput, tidak hanya kepatuhan dari masyarakat dan pemerintah yang diinginkan, tetapi dibutuhkan kesadaran, agar lebih menjamin keselamatan dan kesehatan penghuninya. PECEGAHAN LEBIH BAIK DARIPADA PENGOBATAN

T U J U A N Dengan adanya tindakan preventive, yaitu pencegahan lebih baik daipada pengobatan, maka gedung-gedung, bangunan yang dibangun dengan biaya mahal itu, apabila sudah berdiri maupun baru akan dibangun perlu pekerjaan Pest control Jika Pekerjaan Pest control ini dilaksanakan bertujuan untuk : Meningkatkan Citra Iinstitusi / lembaga / Perusahaan secara umum Meningkatkan kepercayaan diri semua staff, karena bekerja pada situasi lingkungan yang sehat Mencegah kerugian materi yang lebih besar akibat dari hama penyakit Menjaga keselamatan penguna/penghuni bangunan

PERIZINAN OPERASIONAL PERUSAHAAN PENGENDALI HAMA Sebelum memulai usahanya perusahaan pengendali hama terlebih dahulu harus memiliki kelengkapan 1. Surat Izin Usaha perrdagangan (SIUP) 2. Izin Penyelengara Usaha Pest Control dari Dinas Kesehatan, dibuktikan dengan sertifikat dari Dinas Kesehatan untuk Teknisi dan Supervisor 3. Memiliki Kartu Tanda Anggota Ikatan Perusahaan Pengendali Hama Indonesia (IPPHAMI) 4. S B U ( Sub Bidang Usaha ) KADIN

FOTO-FOTO KEGIATAN PELATIHAN TEKNISI & SUPERVISOR KERJASAMA DPD IPPHAMI DKI JAKARTA & DINAS KESEHATAN DKI JAKARTA Pembukaan Pelatihan Teknisi & Superv isor Peserta Pelatihan

Praktek Pengenalan Alat Praktek Fogging

Praktek Anti Rayap Team Building