ACTIVITY-BASED MANAGEMENT

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RUANG LINGKUP MANAJEMEN BIAYA

BAB II PROCESS VALUE ANALYSIS

Definisi Activity Based Management Aktivitas utama manjemen adalah mancari laba untuk kelangsungan hidup perusahaan. Setiap aktivitas harus

BAB II. Tinjauan Pustaka. bertujuan untuk memberikan bukti empiris tentang penerapan MCE. sebagai alat ukur dalam meningkatkan produksi

ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa penelitian mengenai manufacturing cycle effectiveness dan

BAB II. Activity-Based Management. Activity Based Management (ABM) adalah suatu pendekatan di seluruh

TOC dan Just In Time (JIT)

Manajemen Berdasarkan Aktivitas Source: Hansen & Mowen (2007) Chapter 5 Present By: Ayub W.S. Pradana 23 Maret 2016

PENGELOLAAN VALUE-ADDED ACTIVITIES

BAB II ACTIVITY BASED MANAGEMENT

PENENTUAN BIAYA PRODUK BERDASARKAN AKTIVITAS (ACTIVITY-BASED COSTING)

BAB 3 METODE PENELITIAN. Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan. informasi dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi

ANALISIS MANUFACTURING CYCLE EFFECTIVENESS (MCE) DALAM MENGURANGI NON VALUE ADDED ACTIVITIES (Studi Empiris Pada PT Bhirawa Steel Surabaya)

ACTIVITY BASED COSTING (ABC) DAN ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Persaingan yang semakin kuat membuat setiap perusahaan salah satunya

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Akuntansi Biaya. Just-In-Time and Backflushing. Rista Bintara, SE., M.Ak. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Akuntansi

BAB I PENDAHULUAN. Activity-based management (ABM) meliputi activity based costing (ABC)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM

ABSTRACT Siti Eka Fariyani COST EFFICIENCY PRODUCTION METHOD ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM) Essay, Majoring In Accountant, Faculty Of Econo

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) 2.2. Permasalahan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

ANALISIS MANUFACTURING CYCLE EFFICIENCY

Akuntansi Biaya. Rista Bintara, SE., M.Ak. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Akuntansi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan output yang memenuhi tujuan sistem tersebut. lainnya yang ditentukan oleh manajemen.

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. operasionalnya berdasarkan tingkat biaya pelanggan dan aktivitas masing- masing

Akuntansi Biaya. Review : Joint Product, Material, Labor, Factory Overhead, Activity-Based Costing. Rista Bintara, SE., M.Ak.

Permasalahan yang akan dijadikan objek penelitian ini adalah keterlambatan pengerjan proyek pembuatan High Pressure Heater (HPH) di PT.

BAB I PENDAHULUAN. fashion. Mulai dari bakal kain, tas batik, daster, dress, rompi, dan kemeja

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang dapat meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang dan

BAB II LANDASAN TEORITIS. Menurut Garrison.et.al (2008 : 477), Aktivitas adalah suatu kejadian yang

BAB 7. ALOKASI BIAYA BERBASIS AKTIVITAS. Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi-Universitas Kristen Petra 2011

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

ACTIVITY BASED COSTING. Prepared by Yuli Kurniawati

HARIRI, SE., M.Ak Universitas Islam Malang 2017

I. PENDAHULUAN. meningkatkan kemampuan daya saingnya. Seiring dengan hal tersebut, kemajuan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

SISTEM JUST-IN-TIME (JIT) & Activity Based Cost System

Akuntansi Biaya. Just In Time and Backflushing. Ellis Venissa, MBA. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen

Lean Thinking dan Lean Manufacturing

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Mulyadi ada empat unsur pokok dalam definisi biaya tersebut yaitu :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Mursyidi (2008:174) Just In Time (JIT) dikembangkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. yang hasilnya ditujukan kepada pihak-pihak internal organisasi, seperti manajer

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang penulis telah uraikan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. yang lebih dari penjualan produk tersebut. Perusahaan harus memperhatikan nilai

MANAJEMEN BIAYA & ALOKASI BIAYA. Prepared by Yuli Kurniawati

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. CV.ARMICO merupakan salah satu perusahaan penerbitan dan percetakan

BAB I PENDAHULUAN. meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah dan kebutuhan penduduk.

Pert 2. HARIRI, SE., M.Ak Universitas Islam Malang 2017

Activity Based Costing untuk Menentukan Inefisiensi Proses Produksi Pada Perusahaan Pengrajin Kayu di Jawa Timur

ACTIVITY BASED COSTING

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan, perusahaan asuransi, jasa pariwisata ataupun lembaga keuangan.

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas suatu perusahaan biasanya diakui sebagai faktor kesuksesan

IMPLEMENTASI JUST IN TIME DALAM MENINGKATKATKAN PRODUKTIVITAS DAN EFISIENSI BIAYA PRODUKSI

BAB 2 STUDI LITERATUR. Tanggungjawab seorang pemimpin perusahaan adalah mengatur seluruh

BAB I PENDAHULUAN. Tingkat persaingan pada industri gula Indonsesia saat ini cukup tinggi. Tingkat

Konsep Just in Time Guna Mengatasi Kesia-Siaan dan Variabilitas dalam Optimasi Kualitas Produk

AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN BERDASARKAN AKTIVITAS DAN STRATEGI

PENGELOLAAN BIAYA MANUFAKTUR PADA LINGKUNGAN TEKNOLOGI MANUFAKTUR MAJU. Oleh : Edi Sukarmanto Th. 1 Abstrak

BAB II TEORI DASAR. 2.1 Analisa Proses Bagan Alir Proses

MANAJEMEN BIAJA DAN ETRATEGI

5 BAB V ANALISA DAN HASIL

PENERAPAN ACTIVITY BASED MANAGEMENT (ABM) SEBAGAI SARANA UNTUK MENDORONG EFISIENSI BIAYA PRODUKSI

Bab I PENDAHULUAN. Di era perdagangan bebas saat ini menyebabkan iklim kompetisi yang tinggi di

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB 3 LEAN PRODUCTION SYSTEM

APLIKASI JUST IN TIME PADA PERUSAHAAN INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. hotel terhadap pelanggannya misalnya fasilitas kolam renang, restoran, fitness center,

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Toyota production system (TPS) sangat populer di dunia perindustrian.

LEAN ACCOUNTING, PERHITUNGAN BIAYA TARGET DAN BALANCED SCORECARD

ANALISIS MANUFACTURING CYCLE EFFECTIVENESS (MCE) DALAM MENGURANGI NON VALUE ADDED ACTIVITIES

BAB I PENDAHULUAN. Kepuasan konsumen merupakan faktor yang sangat penting untuk

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. pemborosan, dan sumber kebocoran anggaran. Konsep value for money yang terdiri dari tiga

AKUNTANSI MANAJEMEN. Buku : Akuntansi Manajerial Garrison/Noreen. Dosen : 1. BUDI S. PURNOMO, SE., MM,.MSi. 2. POPPY SUSIANI H, SE, SE.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Mulyadi (2003;37) menyatakan bahwa cost effectiveness merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan perkembangan dunia saat ini, kehidupan manusia di

Bahan Ajar SISPRO MAHOP :) 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN. cepatnya terjadi perubahan di dunia usaha. Untuk dapat mengikuti arus persaingan

ABSTRAK. iv Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. mendistribusikan produk yang telah dihasilkannya tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada era globalisasi seperti saat ini, perkembangan di bidang ilmu teknologi

BAB II LANDASAN TEORI. Hansen dan Mowen (2004:40) mendefinisikan biaya sebagai:

Transkripsi:

ACTIVITY-BASED MANAGEMENT Activity-based management (ABM) dimulai dari pemahaman yang mendalam personel tentang aktivitas yang menjadi penyebab timbulnya biaya. Proses analisis nilai merupakan pendekatan untuk memahami aktivitas yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk dan jasa bagi customernya. Analisis pemacu Analisis aktivitas Pengelolaan aktivitas Pengukuran kinerja Usaha untuk mencari faktor penyebab timbulnya biaya suatu aktivitas Proses identifikasi, visualisasi dan evaluasi aktivitas yang dilaksanakan organisasi. Langkah-langkah yang ditempuh untuk melakukan analisis aktivitas yaitu: 1) aktivitas apa yang dikerjakan, 2) berapa orang terlibat dalam aktivitas tersebut, 3) waktu dan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas, 4) rekomendasi untuk memilih dan mempertahankan aktivitas bernilai tambah. Bertujuan untuk mengurangi dan mengeliminasi aktivitas yang tidak bernilai tambah dan mengefisienkan aktivitas bernilai tambah didesain untuk menilai bagaimana aktivitas dilaksanakan dan hasil yang diperoleh baik dalam bentuk keuangan dan non keuangan 11-1 Activity-based management (ABM) adalah pengelolaan aktivitas untuk meningkatkan nilai (value) yang diterima oleh pelanggan dan untuk meningkatkan laba melalui peningkatan nilai (value) tersebut. ABM menggunakan activity-based costing (ABC) sebagai sumber informasi utamanya untuk identifikasi peluang perbaikan aktivitas perusahaan yang tidak bernilai tambah (non value added activity). KELEBIHAN ACTIVITY-BASED MANAGEMENT (ABM) 1. ABM mengukur efektivitas proses dan aktivitas bisnis kunci dan mengidentifikasi bagaimana proses dan aktivitas tersebut dapat diperbaiki untuk menurunkan biaya dan meningkatkan nilai (value) bagi pelanggan 2. ABM memperbaiki fokus manajemen dengan cara mengalokasikan sumber daya untuk menambah nilai aktivitas kunci, pelanggan kunci, produk kunci, dan metode untuk mempertahankan keunggulan kompetitif perusahaan. 3. ABM menggunakan analisis cost driver, analisis aktivitas, pengelolaan aktivitas, dan pengukuran kinerja. 11-2 1

AKTIVITAS BERNILAI TAMBAH DAN TIDAK BERNILAI TAMBAH Aktivitas bernilai tambah adalah aktivitas yang memberi kontribusi terhadap customer value atau organisasi yang membutuhkannya Aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas yang tidak memberikan kontribusi terhadap customer value atau terhadap kebutuhan organisasi Aktivitas Bernilai Tambah Tidak Bernilai Tambah Merancang produk Persediaan berlebihan Setup Waktu menunggu Perpindahan Pemrosesan Pengerjaan kembali Reparasi Penyimpanan Inspeksi Pengiriman Produk 11-3 Pemisahan biaya ini bermanfaat bagi manajemen untuk: a.memusatkan perhatian mereka terhadap pengurangan aktivitas tak bernilai tambah b.menyadari besarnya pemborosan yang sekarang sedang terjadi c.mengevaluasi efektivitas program pengelolaan aktivitas dengan menyajikan biaya tak bernilai tambah dalam bentuk perbandingan antar periode. PERHITUNGAN SIKLUS WAKTU PENGIRIMAN, TROUGHPUT TIME DAN MANUFACTURING CYCLE EFFICIENCY (MCE) Waktu siklus pengiriman adalah jumlah waktu sejak order diterima dari konsumen sampai pada saat order yang lengkap dikirimkan. Troughput atau manufacturing cycle time adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi. 11-4 2

Waktu siklus pengiriman dan siklus proses produksi (Troughput or manufacturing cycle time) Diterima Pesanan Pelanggan Produksi dimulai Produk dikirimkan Waktu tunggu Waktu pemrosesan + waktu inspeksi + move time + waktu antri Throughput (Manufacturing Cycle) Time Waktu siklus pengiriman Waktu bernilai tambah: Waktu pemrosesan Waktu tidak bernilai tambah: Waktu tunggu Waktu inspeksi Move time Waktu antri 11-5 Waktu pemrosesan (process time) adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan secara aktual. Waktu inspeksi (inspection time) adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui bahwa produk yang dihasilkan dijamin tidak cacat. Waktu gerakan (move time) adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk memindahkan bahan atau sebagian produk jadi dari bengkel kerja (workstation) ke bengkel kerja lainnya. Waktu antri (queue time) adalah jumlah waktu yang dikeluarkan produk untuk menunggu supaya diproses, dipindahkan, diinspeksi atau menunggu di gudang untuk dikirimkan. Manufacturing Cycle Efficiency (MCE) adalah usaha bersama untuk menghapuskan aktivitas yang tidak bernilai tambah yaitu inspection, moving, dan queueing. 11-6 3

MCE Waktu bernilai tambah = Throughput ( manufacturing cycle) time Jika MCE kurang dari 1, maka terdapat aktivitas yang tidak bernilai tambah dalam proses produksi. Jika MCE = 0,5 berarti bahwa separuh dari waktu produksi total terdiri dari inspeksi, moving dan aktivitas tidak bernilai tambah. Di beberapa perusahaan manufaktur, MCE kurang dari 0,1 (10%), yang berarti 90% dari waktu pemrosesan tidak bernilai tambah bagi produk. Produsen di Jepang mengurangi inspection time dengan mengembangkan total quality control dan zero defect manufacturing dan mengurangi waiting atau storage time dengan mengembangkan just-in-time inventory system. Melalui pemonitoran MCE, perusahaan dapat mengurangi aktivitas tidak bernilai tambah dan kemudian mepercepat produk sampai ke tangan konsumen dengan harga yang lebih rendah. 11-7 Contoh: Perusahaan Bangunan Papan Jati ingin mengetahui penelusuran waktu yang berhubungan dengan order dan produksinya. Selama empat bulan terakhir 2005, rata-rata waktu untuk tiap-tiap unit atau order sebagai berikut: Hari Waktu tunggu... 15,0 Waktu inspeksi... 0,6 Waktu pemrosesan... 2,0 Move time... 0,4 Queue time... 5,0 Barang dikirimkan segera setelah produksi selesai. Pertanyaan: 1. Hitunglah throughput time, atau velositas produksi. 2. Hitunglah manufacturing cycle efficiency (MCE) 3. Berpakah waktu produksi yang merupakan aktivitas tidak bernilai tambah? 4. Hitunglah siklus waktu pengiriman. 11-8 4

Penyelesaian: 1. Throughput time = Waktu pemrosesan + Waktu inspeksi + Move time + Queue time 2. MCE = 2/8 = ¼ atau 0,25 = 2,0 hari + 0,6 hari + 0,4 hari + 5,0 hari = 8,0 hari. Jadi, pada saat dimasukkan dalam produksi, unit yang sesungguhnya dikerjakan hanya 25% dari waktu yang tersedia. 3. Pada saat MCE = 25%, maka ada 75% dari waktu produksi total yang dikeluarkan untuk aktivitas tidak bernilai tambah. 4. Waktu siklus pengiriman = Waktu tunggu + throughput time = 15,0 hari + 8,0 hari = 23 hari. 11-9 Langkah-langkah untuk menghindari kegagalan dalam implementasi ABC/ABM seperti berikut: Implementasi Strategi Justifikasi 1. Melibatkan manajemen dan para karyawan dalam menciptakan sistem ABC. 2.Mempertahankan sistem secara paralel. 3. Menggunakan ABC/ ABM pada pekerjaan yang akan menyebabkan kesuksesan. Keterlibatan manajemen dan karyawan menyebabkan mereka mengenal ABC/ABM. Selanjutnya mereka mungkin bersedia untuk mengimplementasikan sistem tersebut karena mereka merasa terlibat dan merasa ikut memiliki sistem yang baru. Mempertahankan sistem secara paralel memungkinkan setiap individu untuk mengadaptasi secara bertahap sistem ABC/ABM. Perubahan sistem biaya secara tibatiba dapat menyebabkan frustrasi dan kebingungan pada para manajer dan karyawan. ABC/ABM seharusnya digunakan pada pekerjaanpekerjaan sederhana yang probabilitas keberhasilannya tinggi. Implementasi ini akan menunjukkan bagaimana dan mengapa ABC/ABM berhasil diterapkan. Keberhasilan menyelesaikan satu pekerjaan menyebabkan individu untuk melihat manfaat ABC/ABM secara lebih jelas. 11-10 5

4. Mempertahankan desain awal ABC/ABM yang sederhana. Mempertahankan desain awal ABC/ABM yang sederhana menghindarkan pemakaian yang berlebihan dan dapat mempertahankan biaya rendah. Desain yang sederhana juga menurunkan waktu implementasi. 5. Menciptakan insentif yang diharapkan. Perubahan seringkali berhadapan dengan resistensi. Dengan menawarkan insentif yang sesuai, perusahaan meyakinkan karyawannya bahwa mereka dievaluasi secara tepat yang dihubungkan dengan kinerja mereka. 6. Mendidik manajemen Seminar yang mendidik manajemen tentang ABC/ABM dapat menyebabkan para manajer memahami konsep-konsep dan menghargai manfaatnya. Manajemen menjadi sadar terhadap aktivitas yang memicu bisnis. 11-11 6