MATERI DAN METODE. Materi

dokumen-dokumen yang mirip
MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Gambar 4. Kelinci Peranakan New Zealand White Jantan Sumber : Dokumentasi penelitian (2011)

MATERI. Lokasi dan Waktu

MATERI DAN METODE. Waktu dan Lokasi. Materi

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan, pada Agustus 2012 hingga September

MATERI DAN METODE. Materi

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama satu bulan, pada 27 Agustus - 26 September 2012

METODE PENELITIAN. Gambar 2 Ternak dan Kandang Percobaan

MATERI DA METODE. Lokasi dan Waktu

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian kecernaan protein dan retensi nitrogen pakan komplit dengan

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Gambar 2. Contoh Domba Penelitian

MATERI DAN METODE. Bahan Bahan yang digunakan untuk produksi biomineral yaitu cairan rumen dari sapi potong, HCl 1M, dan aquadest.

MATERI DAN METODE. Gambar 3. Domba Jonggol R1 (a) dan Domba Jonggol R2 (b) Gambar 4. Domba Garut R1 (a) dan Domba Garut R2 (b)

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

BAB III MATERI DAN METODE. hijau terhadap bobot relatif dan panjang organ pencernaan itik Magelang jantan

METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Metode

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juni 2016 dengan tiga

MATERI DAN METODE. Materi

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012

MATERI DAN METODE. dan Kimia Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau. Analisis Fraksi

MATERI DAN METODE. Materi

BAB III MATERI DAN METODE. dengan kuantitas berbeda dilaksanakan di kandang Laboratorium Produksi Ternak

MATERI DAN METODE. Tabel 3. Komposisi Nutrisi Ransum Komersial.

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Prosedur Penyediaan Pakan Pemeliharaan Hewan Uji

III. BAHAN DAN METODE. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada Maret--Agustus 2011 bertempat di

MATERI DAN METODE. Materi

Alat Neraca analitik, gelas piala 600 ml, gelas ukur 100 ml, "hot plate", alat refluks (untuk pendingin), cawan masir, tanur, alat penyaring dengan po

HASIL DAN PEMBAHASAN

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan yaitu Domba Garut betina umur 9-10 bulan sebanyak

III. MATERI DAN METODE. Pelaksanaan pembuatan silase dilakukan di Desa Tuah Karya Ujung Kecamatan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada April- Juli 2012 bertempat di Waduk Batutegi

MATERI DAN METODE. Gambar 1. Ternak Domba yang Digunakan

PENDAHULUAN. Domba adalah salah satu ternak ruminansia kecil yang banyak. Indonesia populasi domba pada tahun 2015 yaitu ekor, dan populasi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu

Gambar 2. Domba didalam Kandang Individu

BAB III MATERI DAN METODE. Ransum terhadap Sifat Fisik Daging Puyuh Jantan dilaksanakan bulan Juni

MATERI DAN METODE. Gambar 3. Domba yang Digunakan Dalam Penelitian

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan selama 6 bulan dimulai bulan April

MATERI DAN METODE. Daging Domba Daging domba yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging domba bagian otot Longissimus thoracis et lumborum.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang Pengaruh Penggunaan Campuran Onggok dan Molase

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Kandang dan Peralatan Ransum

MATERI DAN METODE. a b c Gambar 2. Jenis Lantai Kandang Kelinci a) Alas Kandang Bambu; b) Alas Kandang Sekam; c) Alas Kandang Kawat

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Kecernaan dan Deposisi Protein Pakan pada Sapi

MATERI DAN METODE P1U4 P1U1 P1U2 P1U3 P2U1 P2U2 P2U3 P2U4. Gambar 1. Kambing Peranaka n Etawah yang Diguna ka n dalam Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh penggunaan ampas kecap sebagai subsitusi

BAB III MATERI DAN METODE. Merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap Performa Burung Puyuh Betina Umur 16

BAB III MATERI DAN METODE. dilaksanakan pada bulan Maret Juni Lokasi penelitian di kandang

METODE PENELITIAN. Metode Penelitian

METODE. Materi. Gambar 2. Contoh Domba yang Digunakan dalam Penelitian Foto: Nur adhadinia (2011)

BAB III MATERI DAN METODE. pada Ransum Sapi FH dilakukan pada tanggal 4 Juli - 21 Agustus Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Ayam Pedaging dan Konversi Pakan ini merupakan penelitian penelitian. ransum yang digunakan yaitu 0%, 10%, 15% dan 20%.

BAB III MATERI DAN METODE. Februari 2017 di kandang, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas

MATERI DAN METODE. Gambar 4. Ternak Kerbau yang Digunakan Dalam Penelitian

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi

METODE. Materi. Metode

BAB III MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai Pengaruh Penambahan Pollard Fermentasi Dalam

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan 24 ekor Domba Garut jantan muda umur 8 bulan

BAB III METODE PENELITIAN. ayam broiler terhadap kadar protein, lemak dan bobot telur ayam arab ini bersifat

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh penggunaan ampas kecap dalam ransum

MATERI DAN METODE. Pengolahan silasetelahdilaksanakan di Laboratorium Nutrisidan Kimia. dilaksanakan pada bulan Desember 2014 sampai Februari2015.

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret Juli 2016 di Kandang Domba

MATERI DAN METODE. Gambar 1. Kelinci Penelitian

MATERI DAN METODE. Prosedur

MATERI DAN METODE. Materi

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian mengenai tingkah laku makan sapi Madura jantan yang diberi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Kadar Kolesterol, Trigliserida, HDL dan LDL

BAB III MATERI DAN METODE. Lokasi yang digunakan dalam penelitian adalah Laboratorium Ilmu Ternak

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh pemberian kombinasi tepung keong mas (Pomacea

III. MATERI DAN METODE. Peternakan UIN Suska Riau, penelitian berlangsung selama 3 bulan, mulai bulan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang Pengaruh Penggunaan Limbah Ikan Bandeng (Chanos

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret Juni 2016.Lokasi penelitian di

Lokakarya Fungsional Non Penefiti Cara Kerja Ditimbang 0,5 gram contoh dan dimasukkan kedalam gelas piala 600 ml, kemudian ditambahkan 60 ml larutan d

BAB III METODE PENELITIAN. konversi pakan ayam arab (Gallus turcicus) ini bersifat eksperimental dengan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Pengaruh Penambahan Kunyit dan Jahe Dalam

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Kandang Peralatan dan Perlengkapan Pakan dan Air Minum

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang kehilangan BK, ADF dan N-ADF secara in vitro

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni Agustus 2013 di. PT. Great Giant Pineapple, Terbanggi Besar Lampung Tengah.

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian mengenai frekuensi penyajian ransum yang berbeda terhadap kualitas

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Penggunaan Tepung Daun Mengkudu (Morinda

METODE Lokasi dan Waktu Materi Bahan Pakan Zat Penghambat Kerusakan Peralatan Bahan Kimia Tempat Penyimpanan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Pengaruh PenambahanProbiotik Rhizopus oryzae

MATERI DAN METODE. Materi

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu dari 12 September 2014 sampai

METODE PENELITIAN. Bahan dan Alat

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. jantan dengan bobot badan rata-rata 29,66 ± 2,74 kg sebanyak 20 ekor dan umur

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Transkripsi:

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Pelaksanaan penelitian mulai bulan Februari 2012 sampai dengan bulan April 2012. Pembuatan pakan dilaksanakan di CV. Indofeed. Analisis Laboratorium dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, sedangkan pemeliharaan kelinci dilaksanakan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Materi Ternak Kelinci yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 12 ekor kelinci dengan bobot badan 972,08±156,10 gram. Jenis kelinci yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelinci lokal jantan dengan umur 3 bulan. Kandang dan Peralatan Kandang yang digunakan adalah kandang individu yang terbuat dari bambu dan kayu. Kandang yang dipakai sebanyak 12 buah dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 50 cm dan tinggi 50 cm. Setiap kandang terdapat tempat pakan dan tempat minum. Peralatan lain yang digunakan adalah timbangan digital untuk mengukur bobot badan kelinci dan pakan, alat kebersihan, termohygrometer ruangan, kamera digital, label, jaring dipasang di bagian bawah kandang. Pakan dan Air Minum Selama penelitan, kelinci diberi pellet ransum komersil dengan penambahan limbah tauge dengan taraf 0%, 15%, 30%, dan 45%. Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Komposisi ransum penelitian dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Komposisi Ransum Penelitian Bahan Perlakuan P0 P1 P2 P3 Ransum komplit (%) 100 85 70 55 Limbah tauge (%) 0 15 30 45 18

Ransum komplit terdiri dari jagung kuning, dedak padi, dedak gandum, bungkil kedelai, bungkil kelapa, molasses, rumput, antimold, antioxidant, vitamin dan mineral. Kandungan zat makanan limbah tauge dan ransum perlakuan yang digunakan dalam penelitian ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4. Kandungan Zat Makanan Limbah Tauge dan Ransum Perlakuan (% BK) Zat makanan (%) Limbah Tauge P0 P1 P2 P3 Kadar Air 77,91 11,88 14,18 14,17 15,24 Abu 3,09 9,66 9,02 7,92 7,03 Protein Kasar 14,73 19,13 17,94 16,54 15,95 Serat Kasar 42,27 20,09 25,08 26,89 30,49 Lemak Kasar 0,11 3,37 2,71 2,81 1,13 Beta-N 39,80 47,75 45,25 45,83 45,40 Total Digestible Nutrient - 59,81 57,70 51,30 50,19 Neutral Detergent Fiber 91,64 50,98 59,04 63,05 68,06 Acid Detergent Fiber 87,20 27,28 31,36 43,68 50,38 Hemiselulosa 4,44 23,69 27,69 19,38 17,69 Selulosa 46,13 12,34 16,08 20,88 29,42 Lignin 39,80 12,62 13,02 21,40 19,03 Keterangan: Hasil analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2012). P0 = 100% ransum komersil (kontrol), P1 = 85% ransum komersil + 15% limbah tauge, P2 = 70% ransum komersil + 30% limbah tauge, P3 = 55% ransum komersil + 45% limbah tauge. Pembuatan Ransum Perlakuan Prosedur Limbah tauge yang diperoleh dari Pasar Bogor tersebut dikumpulkan dan dimasukkan dalam karung. Limbah tauge yang sudah dikumpulkan kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari (± 2-3 hari). Setelah kering, limbah tauge tersebut digiling untuk dijadikan tepung limbah tauge. Tepung Limbah tauge dicampurkan dengan ransum komplit yang terdiri dari jagung kuning, dedak padi, dedak gandum, bungkil kedelai, bungkil kelapa, molasses, rumput, antimold, antioxidant, vitamin dan mineral. Campuran tersebut 19

dimasukkan dalam mesin pellet. Pellet yang sudah jadi didiamkan dalam ruang terbuka untuk pendinginan setelah proses pelleting lalu disimpan dalam karung. Skema proses pembuatan pellet ransum perlakuan dapat dilihat pada Gambar 5. (a) (b) ( c) (d) (e) Keterangan: a. Limbah tauge segar, b. limbah tauge kering udara, c. Tepung limbah tauge, d. Ransum komplit, e Pellet pakan perlakuan Gambar 5. Proses Pembuatan Ransum Perlakuan Persiapan Kandang Ruangan kandang dibersihkan mulai dari pembersihan lantai kandang sampai dengan memperbaiki kandang-kandang yang akan digunakan. Kandang-kandang yang sudah diperbaiki disikat dan dicuci dengan detergen lalu dibilas menggunakan air serta dijemur dibawah sinar matahari untuk pengeringan. Setelah kering kandang tersebut diberi desinfektan. 20

Pemeliharaan Pemeliharaan dalam penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap adaptasi dan tahap perlakuan. Tahap adaptasi dilakukan selama 2 minggu pertama dengan kelinci ditempatkan dalam kandang individu dan juga diadaptasikan dengan pakan pellet yang akan digunakan selama penelitian dengan pemberian sedikit hijauan. Pemberian hijauan dikurangi sedikit demi sedikit sampai tidak diberikan lagi. Pada 6 minggu berikutnya dilakukan tahap perlakuan. Ketika masuk pada tahap perlakuan pakan, kelinci ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui bobot badan awal penelitian. Selanjutnya penimbangan bobot badan dilakukan setiap satu minggu sekali. Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Pakan diberikan dua kali dalam sehari yaitu pada pagi hari pukul 07.00 WIB dan sore hari pada pukul 16.00. Pemberian pakan pada sore hari lebih banyak daripada pagi hari. Pembersihan tempat pakan dan minum dilakukan setiap hari. Pengukuran konsumsi pakan dilakukan setiap hari yaitu pada pagi hari selama 6 minggu pengamatan. Pengumpulan Sampel Selama lima hari pada minggu terakhir, feses setiap kelompok pada masingmasing perlakuan ditampung dalam plastik trashbag dan kemudian ditimbang sebagai berat segar feses. Untuk menghindari feses bercampur dengan urin, feses dikumpulkan dan dijaga setiap hari. Feses yang sudah terkumpul kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari dan ditimbang sebagai berat kering udara feses. Setelah selesai lima hari pengumpulan dan penimbangan, feses dikomposit dan diambil sampel 2%-3% dari total keseluruhan feses setiap kelompok pada masingmasing perlakuan. Feses yang sudah diambil sebagai sampel kemudian digiling untuk dilakukan analisa serat kasar, Neutral Detergent Fiber (NDF), dan Acid Detergent Fiber (ADF). Analisa Bahan Kering (AOAC, 1997) Cawan porselen dikeringkan dalam oven 105 C selama ±1 jam dan kemudian didinginkan dalam eksikator ±10 menit lalu ditimbang beratnya (). Sampel sebanyak ±3gram dimasukkan ke dalam cawan porselen tersebut dan ditimbang beratnya (Y). Cawan dimasukkan dalam oven 105 C selama 24 jam lalu diangkat dan didinginkan dalam eksikator serta ditimbang beratnya (Z). Persentase kadar air 21

dihitung terlebih dahulu sebelum menghitung persentase bahan kering. Persentase kadar air dapat dihitung dengan rumus : +Y-Z % KA = x 100% % BK = 100%-%KA Y Analisa Serat Kasar (AOAC, 1997) Sampel ditimbang ± 0,5 gram () lalu dimasukkan ke dalam gelas piala dan ditambahkan H 2 SO 4 0,3N sebanyak 50 ml kemudian dipanaskan selama 35 menit lalu ditambahkan NaOH 1,5N sebanyak 25 ml kemudian dipanaskan lagi selama 35 menit. Kertas saring Whatman 41 yang telah dipanaskan di dalam oven 105 C selama 1 jam, kemudian ditimbang (A). Sampel yang sudah dipanaskan tadi disaring dengan kertas saring Whatman 41 yang sudah ditimbang dan disedot dengan Vacum pulp. Dicuci berturut-turut dengan 100 ml aquades panas, 50 ml H 2 SO 4 0,3 N dan 25 ml aceton. Kertas saring beserta isinya dimasukkan ke dalam cawan poselen dan dikeringkan dalam oven 105 C serta didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang (Y). Cawan porselen tersebut lalu dimasukkan ke dalam tanur, kemudian ditimbang berat akhir (Z). Kadar serat kasar dihitung dengan rumus: Y-Z-A % SK = x 100% Analisa NDF (Van Soest, 1994) Sampel ditimbang 0,3 gram () lalu masing-masing dimasukkan ke dalam gelas piala. Ditambahkan 50 ml larutan NDS (Neutral Detergent Solution). Gelas piala tersebut ditutup dengan cawan petri dan dipanaskan di atas hot plate selama 60 menit. Cawan masir ditimbang (Y). Aquades panas dan Vacum pulp disiapkan. Larutan dituangkan dengan posisi miring sehingga terdapat rongga udara. Gelas piala dibilas dengan aquades panas sampai tidak terdapat busa. Dikeringkan dengan aceton. Cawan masir dikeringkan pada oven 105 C selama 8 jam dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang (Z). Kadar NDF dihitung dengan rumus: Z-Y % NDF = x 100% 22

Analisa ADF (Van Soest, 1994) Sampel ditimbang 0,8 gram () lalu masing-masing dimasukkan ke dalam gelas piala. Ditambahkan 50 ml larutan ADS (Acid Detergent Solution). Gelas piala tersebut ditutup dengan cawan petri dan dipanaskan di atas hot plate selama 60 menit. Cawan masir ditimbang (Y). Aquades panas dan Vacum pulp disiapkan. Larutan dituangkan dengan posisi miring sehingga terdapat rongga udara. Gelas piala dibilas dengan aquades panas sampai tidak terdapat busa. Dikeringkan dengan aceton. Cawan masir dikeringkan pada oven 105 C selama 8 jam dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang (Z). Kadar ADF dihitung dengan rumus: Z-Y % ADF = x 100% Analisa Selulosa (Van Soest, 1994) Sampel ditimbang 0,8 gram () lalu masing-masing dimasukkan ke dalam gelas piala. Ditambahkan 50 ml larutan ADS (Acid Detergent Solution). Gelas piala tersebut ditutup dengan cawan petri dan dipanaskan di atas hot plate selama 60 menit. Cawan masir ditimbang (Y). Aquades panas dan Vacum pulp disiapkan. Larutan dituangkan dengan posisi miring sehingga terdapat rongga udara. Gelas piala dibilas dengan aquades panas sampai tidak terdapat busa. Dikeringkan dengan aceton. Cawan masir dikeringkan pada oven 105 C selama 8 jam dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang (Z). Sampel dalam cawan masir tersebut ditambahkan H 2 SO 4 72% sampai sampel tersebut terendam dan terus ditambahkan selama 3 jam. Setelah 3 jam, sampel dibilas dengan aquades panas lalu dimasukkan dalam oven 105 C selama 2 jam dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang (A). Kadar selulosa dihitung dengan rumus: Z-A % Selulosa = x 100% Analisa Lignin (Van Soest, 1994) Sampel ditimbang 0,8 gram () lalu masing-masing dimasukkan ke dalam gelas piala. Ditambahkan 50 ml larutan ADS (Acid Detergent Solution). Gelas piala tersebut ditutup dengan cawan petri dan dipanaskan di atas hot plate selama 60 23

menit. Cawan masir ditimbang (Y). Aquades panas dan Vacum pulp disiapkan. Larutan dituangkan dengan posisi miring sehingga terdapat rongga udara. Gelas piala dibilas dengan aquades panas sampai tidak terdapat busa. Dikeringkan dengan aceton. Cawan masir dikeringkan pada oven 105 C selama 8 jam dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang (Z). Sampel dalam cawan masir tersebut ditambahkan H 2 SO 4 72% sampai sampel tersebut terendam dan terus ditambahkan selama 3 jam. Setelah 3 jam, sampel dibilas dengan aquades panas lalu dimasukkan dalam oven 105 C selama 2 jam dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang (A). Sampel dimasukkan tanur dengan suhu 650 C selama ±1jam dan didinginkan dalam eksikator, kemudian ditimbang (B). Kadar lignin dihitung dengan rumus: A-B % Lignin = x 100% Perlakuan Rancangan Percobaan dan Analisa Data Dua belas ekor kelinci lokal jantan dibagi menjadi empat perlakuan dengan tiga kelompok yaitu: P1 P2 P3 P4 Rancangan = 100% pellet komersil (kontrol) = 85% konsentrat + 15% limbah tauge = 70% konsentrat + 30% limbah tauge = 55% konsentrat + 45% limbah tauge Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dari tiga kelompok. Kelompok dibuat berdasarkan bobot badan ternak kelinci yaitu bobot badan besar, sedang, dan kecil. Model matematik dari rancangan percobaan adalah : 24

Yij = + i + j + ij Keterangan : Yij : pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j : nilai rataan umm dari pengamatan i : pengaruh perlakuan ke-i : pengaruh pengelompokan ke-j j ij : pengaruh acak pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j (Steel dan Torrie, 1993). Analisis Data Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis dengan menggunakan analysis of variance (ANOVA). Jika diperoleh hasil yang berbeda nyata akan dilakukan uji Duncan untuk mengetahui pengaruh antar perlakuan (Steel dan Torrie, 1993). Peubah yang Diukur Konsumsi Bahan Kering (g/ekor/hari). Konsumsi pakan dihitung setiap hari dengan pengurangan antara pakan yang diberikan dengan sisa pakan, sedangkan perhitungan konsumsi bahan kering dengan rumus sebagai berikut : Konsumsi Bahan Kering = Konsumsi pakan (g/ekor/hari) x % Bahan Kering Pertambahan Bobot Badan Harian (g/ekor/hari). Pertumbuhan adalah proses peningkatan bobot badan dengan bertambahnya jaringan yang sudah ada (Damron, 2006). Bobot badan ditimbang setiap seminggu sekali. Pertambahan bobot badan diperoleh dengan pengurangan antara bobot badan akhir pemeliharaan dengan bobot badan awal pemeliharaan, sedangakan perhitungan pertambahan bobot badan harian dengan rumus sebagai berikut : Bobot badan akhir pemeliharaan- bobot badan awal pemeliharaan PBBH = Jumlah hari pemeliharaan Efisiensi Pakan. Efisiensi pakan dihitung dari pertambahan bobot badan selama penelitian dibagi dengan konsumsi pakan selama penelitian. Efisiensi pakan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Pertambahan bobot badan (gram/ekor/hari) Efisiensi pakan = Konsumsi pakan (gram/ekor/hari) 25

Kecernaan Serat Kasar (SK). Kecernaan serat kasar (SK) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: Jumlah SK yang dikonsumsi Jumlah SK feses Kecernaan SK (%) = x 100 Jumlah SK yang dikonsumsi Kecernaan Neutral Detergent Fiber (NDF). Kecernaan Neutral Detergent Fiber (NDF) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: Jumlah NDF yang dikonsumsi Jumlah NDF feses Kecernaan NDF (%) = x 100 Jumlah NDF yang dikonsumsi Kecernaan Acid Detergent Fiber (ADF). Kecernaan Acid Detergent Fiber (ADF) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: Jumlah ADF yang dikonsumsi Jumlah ADF feses Kecernaan ADF (%) = x 100 Jumlah ADF yang dikonsumsi 26