Lambok Siahaan* Titik Yuniarti**

dokumen-dokumen yang mirip
Gejala dan Tanda Klinis Malaria di Daerah Endemis

ABSTRAK KARAKTERISTIK PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN KEPUALAUAN MENTAWAI SELAMA JANUARI-DESEMBER 2012

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI MALARIA DI LABORATORIUM RUMAH SAKIT UMUM PANGLIMA SEBAYA TANAH GROGOT KALIMANTAN TIMUR PERIODE

Gambaran Diagnosis Malaria pada Dua Laboratorium Swasta di Kota Padang Periode Desember 2013 Februari 2014

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit malaria telah diketahui sejak zaman Yunani. Penyakit malaria

Gambaran Infeksi Malaria di RSUD Tobelo Kabupaten Halmahera Utara Periode Januari Desember 2012

SKRINING MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANYUASIN KECAMATAN LOANO KABUPATEN PURWOREJO PROPINSI JAWA TENGAH

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN SUKABUMI PERIODE JANUARI-DESEMBER 2011

DAFTAR ISI. BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN Kerangka Berpikir Konsep Penelitian...26

STATUS HEMATOLOGI PENDERITA MALARIA SEREBRAL

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh parasit Protozoa genus Plasmodium dan ditularkan pada

Epidemiologi dan aspek parasitologis malaria. Ingrid A. Tirtadjaja Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

BAB I PENDAHULUAN. miliar atau 42% penduduk bumi memiliki risiko terkena malaria. WHO mencatat setiap tahunnya

ABSTRAK GAMBARAN INFEKSI MALARIA DI PUSKESMAS SUNGAI AYAK III KALIMANTAN BARAT TAHUN 2010

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. menyebabkan kematian (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2013). Lima ratus juta

ABSTRAK. Helendra Taribuka, Pembimbing I : Dr. Felix Kasim, dr., M.Kes Pembimbing II : Rita Tjokropranoto, dr., M.Sc

KUESIONER. Petunjuk : Lingkari jawaban yang menurut saudara paling benar. 1. Salah satu upaya pemberantasan malaria dilakukan dengan surveilans

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Plasmodium, yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Ada empat spesies

ABSTRAK GAMBARAN INFEKSI MALARIA DI RSUD TOBELO KABUPATEN HALMAHERA UTARA PROVINSI MALUKU UTARA PERIODE JANUARI DESEMBER 2012

DEFINISI KASUS MALARIA

ANALISIS BIAYA DAN TATALAKSANA PENGOBATAN MALARIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD ULIN BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN PERIODE TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. di seluruh dunia disetiap tahunnya. Penyebaran malaria berbeda-beda dari satu Negara

BAB 1 PENDAHULUAN. (Harijanto, 2014). Menurut World Malaria Report 2015, terdapat 212 juta kasus

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS DI PUSKESMAS BUNTA KABUPATEN BANGGAI. Staf Dinas Kesehatan Kab. Banggai Propinsi Sulawesi Tengah 3

BAB I PENDAHULUAN. Turki dan beberapa Negara Eropa) beresiko terkena penyakit malaria. 1 Malaria

Project Status Report. Presenter Name Presentation Date

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap ketahanan nasional, resiko Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) pada ibu

PREVALENSI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA PASIEN ANAK DI RSUP H ADAM MALIK MEDAN DARI JANUARI HINGGA DESEMBER 2009 KARYA TULIS ILMIAH.

BAB 1 PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan parasit Plasmodium yang

ABSTRAK EVALUASI HASIL TERAPI OBAT ANTI TUBERKULOSIS FASE INTENSIF PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KOTAMADYA BANDUNG TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Separuh penduduk dunia berisiko tertular malaria karena hidup lebih dari 100

Medan Diduga Daerah Endemik Malaria. Umar Zein, Heri Hendri, Yosia Ginting, T.Bachtiar Pandjaitan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SKRIPSI. Oleh Thimotius Tarra Behy NIM

Kata Kunci: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), Dengue Shock Syndrome (DSS), morbiditas, mortalitas. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia di seluruh dunia setiap tahunnya. Penyebaran malaria berbeda-beda dari satu

ABSTRAK PREVALENSI DEMAM BERDARAH DENGUE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL PERIODE JANUARI DESEMBER 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pemberantasan penyakit. berperanan penting dalam menurunkan angka kesakitan

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PENYEBARAN PENYAKIT MALARIA

SKRIPSI ANALISIS SPASIAL KASUS MALARIA DI KELURAHAN PAYA SEUNARA KECAMATAN SUKAKARYA KOTA SABANG PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM TAHUN 2008

BAB I PENDAHULUAN. serta semakin luas penyebarannya. Penyakit ini ditemukan hampir di seluruh

Daftar Pustaka. Arubusman M., Evaluasi Hasil Guna Kombinasi. Artesunate-Amodiakuin dan Primakuin pada Pengobatan

KEGUNAAN SURVEILANS TUJUAN SUMBER INFORMASI 15/11/2013. PENGERTIAN (Surveilans Malaria)

WALIKOTA LANGSA PERATURAN WALIKOTA LANGSA NOMOR 77 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN ELIMINASI MALARIA DI KOTA LANGSA

KESESUAIAN GEJALA KLINIS MALARIA DENGAN PARASITEMIA POSITIF DI WILAYAH PUSKESMAS WAIRASA KABUPATEN SUMBA TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. setiap tahunnya. Salah satunya Negara Indonesia yang jumlah kasus Demam

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HUBUNGAN RIWAYAT INFEKSI MALARIA DAN MALARIA PLASENTA DENGAN HASIL LUARAN MATERNAL DAN NEONATAL

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit malaria merupakan penyakit tropis yang disebabkan oleh parasit

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan bagi

ABSTRAK. Pembimbing I : Susy Tjahjani, dr., M.Kes. Pembimbing II : Ronald Jonathan, dr., M.Sc., DTM&H

Penelitian. Vol. 4, No. 3, Juni Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang (Epidemiology and Zoonosis Journal) Hal :

Distribution Distribution

Gambaran prevalensi malaria pada anak SD YAPIS 2 di Desa Maro Kecamatan Merauke Kabupaten Merauke Papua

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER

M.Arie w. FKM Undip. M. Arie W, FKM Undip

ISSN: E-JURNAL MEDIKA,VOL 6 NO 7,JULI 2017

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium.

BAB 1 PENDAHULUAN. derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Upaya perbaikan kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan adalah upaya yang bertujuan untuk meningkatkan

PERINGATAN HARI MALARIA SEDUNIA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh

Konfirmasi Pemeriksaan Mikroskopik terhadap Diagnosis Klinis Malaria

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam beberapa tahun terakhir

UNIVERSI MEDAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. negara khususnya negara-negara berkembang. Berdasarkan laporan The World

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

GAMBARAN PENINGKATAN KEJADIAN MALARIA DI DESA TETEL KECAMATAN PENGADEGAN KABUPATEN PURBALINGGA

ABSTRAK. Pembimbing I : Rita Tjokropranoto, dr., M.Sc Pembimbing II : Hartini Tiono, dr.,m. Kes

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan bagi negara tropis/

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. selalu diusahakan peningkatannya secara terus menerus. Menurut UU No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan, dalam pasal 152

BAB I PENDAHULUAN. penularan malaria masih ditemukan di 97 negara dan wilayah. Saat ini sekitar 3,3

Hubungan Insidens Malaria dengan Ketersediaan Unit Pelayanan Kesehatan di Kecamatan Bayah, Provinsi Banten pada Tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era reformasi, paradigma sehat digunakan sebagai paradigma

Gambaran Penggunaan Uji Serologis Ig M dan Ig G Serta Antigen NS1 Untuk Diagnosis Pasien Demam Berdarah Dengue di RSUP Haji Adam Malik Tahun 2012

ABSTRAK. PENGARUH SARI BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam.) TERHADAP PARASITEMIA PADA MENCIT JANTAN STRAIN BALB/c YANG DIINOKULASI Plasmodium berghei

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Penyakit demam berdarah adalah penyakit menular yang di

BAB I PENDAHULUAN. Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit protozoa UKDW

Uji sensitivitas in vivo Plasmodium falciparum terhadap klorokuin: Studi di Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo

KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013

PENGARUH LINGKUNGAN DAN TEMPAT TINGGAL PADA PENYAKIT ANAK UMUR 5 14 TAHUN DI KOTA BIAK TAHUN 2013

ABSTRAK PREVALENSI HIPERPLASIA PROSTAT DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI 2004 DESEMBER 2006

BAB I PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014

masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mempunyai

Risk factor of malaria in Central Sulawesi (analysis of Riskesdas 2007 data)

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban

Transkripsi:

KESEHATAN LINGKUNGAN Malaria Pasca Tsunami di Pulau Weh Lambok Siahaan* Titik Yuniarti** Abstrak Bencana tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004, selain meningkatkan kejadian luar biasa (KLB) malaria juga memunculkan daerah-daerah endemis malaria. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan prevalensi penderita malaria di Pulau Weh, pasca Tsunami pada akhir 2004. Penelitian dilakukan secara cross sectional. Diagnostik malaria ditegakkan berdasarkan pemeriksaan apusan darah (mikroskopik). Ditemukan penurunan kasus malaria di Pulau Weh. Prevalensi penderita malaria yang diperoleh adalah 15,3%. Dari semua penderita malaria, 41,4% tanpa gejala klinis demam. Penderita yang tidak mengalami gejala klinis demam tersebut, umumnya mempunyai gejala klinis badan pegal, pusing, gangguan pencernaan dan lemas. Penurunan prevalensi malaria dalam penelitian ini dapat saja terjadi oleh karena perbedaan cara dalam menetapkan diagnosa dan waktu pengambilan data yang tidak dilakukan pada musim malaria. Kata kunci: Malaria klinis, gejala klinis, tanda klinis. Abstract Tsunami disaster that occured in Nanggroe Aceh Darussalam on 26 December 2004, has increased malaria outbreak and emerged new malaria endemic areas. The study was conducted to obtain malaria prevalence after tsunami in Weh island. The design used in this study is cross-sectional. Malaria was diagnosed through blood examination (microscopic). The study found reducing malaria cases in Weh Island. The prevalence of malaria in this study was 15.3%. Among all malaria patients, there were 41.4% who did not get fever. Those without fever, usually suffered from myalgia, headache. Abdominal discomfort and weakness. The decrease malaria prevalence in this study could be caused by either differences in diagnostic method or timing of data collection. Key words: Clinical malaria, clinical signs, clinical symptoms. *Staf Pengajar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Jl. Dokter Mansyur No.5, Medan (e-mail : lsmkt9799@yahoo.co.id) **Dokter Umum Rumah Sakit Umum Sabang, Jl. T. Umar Sabang (hp: 081360120481) 210

Siahaan & Yuniarti, Malaria Pasca Tsunami di Pulau Weh Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah salah satu wilayah di Indonesia dengan kasus malaria yang tinggi. Bencana tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004, selain meningkatkan Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria juga memunculkan daerah-daerah endemis malaria. 1 Kotamadya Sabang yang terletak di Pulau Weh, yang merupakan kilometer nol Indonesia, adalah salah satu wilayah dengan kasus malaria yang tinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 2 Pulau Weh termasuk katagori High Incidence Area (HIA) dengan Annual Malaria Incidence (AMI) tahun 2005 sebesar 76,4%. Berdasarkan laporan SubDin P2P Dinas Kesehatan Sabang pada periode Januari Desember 2005, ditemukan 2.306 kasus malaria klinis dengan angka Slide Positivity Rate (SPR) rata-rata 33,93%, secara Passive Case Detection (PCD). 3 Padahal, pasca tsunami, kegiatan penanggulangan penyakit infeksi, termasuk malaria, sangat gencar dilakukan, baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga swadaya masyarakat dalam dan luar negeri. Kasus malaria klinis tahun 2005 yang tinggi tersebut, merupakan misteri yang perlu segera diungkapkan. Peningkatan tersebut dapat disebabkan oleh peningkatan upaya penemuan kasus, resistensi obat dan kesalahan diagnosa, terutama jika diagnosa malaria hanya ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis. Mengingat gejala dan tanda klinis malaria pada daerah endemis umumnya tidaklah khas dan hampir sama seperti gejala dan tanda klinis pada penderita infeksi lainnya, terutama pada fase awal infeksi. 4,5 Penelitian ini dilakukan untuk mendapat data prevalensi malaria di Pulau Weh, setelah satu tahun tsunami terjadi di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Dalam penelitian ini juga dilakukan pengamatan terhadap gejala dan tanda klinis yang paling banyak muncul. Metode Desain penelitian yang digunakan adalah disain cross sectional yang dilaksanakan di sembilan desa di dua kecamatan di Kotamadya Sabang, Pulau Weh. Penelitian dilaksanakan pada periode Juli sampai dengan Agustus 2006. Populasi penelitian adalah penduduk yang bertempat tinggal di lokasi penelitian. Pasien dengan keluhan demam atau riwayat demam satu minggu terakhir, diperiksa secara simultan untuk menegakkan diagnosa malaria. Penderita malaria ditentukan berdasarkan pemeriksaan mikroskopis, yaitu dengan menemukan plasmodium spp. pada pemeriksaan apusan darah (mikroskopik). Sebelum pemeriksaan apusan darah dilakukan, pasien terlebih dahulu mengikuti pemeriksaan fisik dan anamnesa. Alur Pemeriksaan Pasien Sebelum semua pemeriksaan tersebut dilakukan, peneliti memberi penjelasan tentang apa saja yang akan dilakukan, sambil menanyakan kesediaan pasien untuk ikut dalam penelitian. Penandatanganan informed consent dilakukan, sebagai tanda kesediaan pasien untuk ikut penelitian. Semua sampel akan mendapatkan pengobatan, sesuai dengan penyakit yang terdiagnosa. Penelitian ini juga memperhatikan gejala dan tanda klinis yang muncul pada semua sampel. (Lihat gambar 1) Gambar 1. Alur Pemeriksaan Pasien 211

KESMAS, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2, No. 5, April 2008 Tabel 1. Karakteristik Dasar Karakteristik Sampel Penelitian (n=268) Penderita Malaria (n=41) Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Kelompok Umur 5-14 tahun 22 (8,2%) 31(11,6) 53 (19,8%) 1 (0,3%) 5 (1,9%) 6 (2,2%) 15-24 tahun 12 (4,5%) 23 (8,6%) 35 (13,1%) 2 (0,7%) 3 (1,2%) 5 (1,9%) 25-34 tahun 11 (4,1%) 30 (11,2%) 41 (15,3%) 3 (1,2%) 5 (1,8%) 8 (3,0%) 35-44 tahun 18 (6,7%) 31 (11,6%) 49 (18,3%) 2 (0,7%) 4 (1,5%) 6 (2,2%) 45-54 tahun 13 (4,9%) 23 (8,6%) 36 (13,4%) 4 (1,5%) 4 (1,5%) 8 (3,0%) > 55 tahun 20 (7,5%) 34 (12,7%) 54 (20,1%) 3 (1,2%) 5 (1,8%) 8 (3,0%) Total 96 (35,8%) 172 (64,2%) 268 (100%) 15 (5,6%) 26 (9,7%) 41 (15,3%) Tabel 2. Distribusi Penderita Malaria Berdasarkan Spesies Plasmodium Spesies A.Laut B.Garoet Cot Damar Beurawang Total P. falciparum 1 (2,4%) 1 (2,4%) 1 (2,4%) 0 (0,0%) 3 (7,2%) P. vivax 21 (51,7%) 11 (26,5%) 2 (4,9%) 1 (2,4%) 35 (85,6%) Campuran 0 (0,0%) 2 (4,9%) 1 (2,4%) 0 (0,0%) 3 (7,2%) Total 22 (54,1%) 14 (33,8%) 4 (9,7%) 1 (2,4%) 41 (100%) Tabel 3. Gejala Klinis dan Tanda Klinis Karakteristik Sampel Penelitian (n=268) Penderita Malaria (n=41) Jumlah Persentase Jumlah Persentase Gejala Klinis Demam + Gejala Lain 96 35,8% 11 26,8% Gabungan Gejala Tanpa Demam 19 7,1% 3 7,3% Demam 63 23,5% 13 32,7% Menggigil 0 0% 0 0% Badan Pegal 28 10,4% 8 19,5% Pusing 37 13,8% 5 12,2% Gangguan Pencernaan 12 4,5% 0 0% Lemas 13 4,9% 1 2,4% Total 268 100,0% 41 100,0% Tanda Klinis Kenaikan Suhu Tubuh 231 86,2% 32 78,0% Pembesaran Limfa 0 0% 0 0% Total 231 86% 32 78% Hasil Pemeriksaan apusan darah dilakukan pada 268 orang sampel, yang datang dengan keluhan demam dan atau riwayat demam. Tabel 1 menunjukkan bahwa sampel yang paling banyak diperiksa adalah perempuan dan pada kelompok umur > 55 tahun. Begitu pula dengan penderita malaria, perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Sementara itu, penderita malaria terbanyak dijumpai pada kelompok umur 25-34 tahun, kelompok umur 45-54 tahun dan kelompok umur > 55 tahun. (Lihat Tabel 1) Spesies terbanyak yang dijumpai adalah Plasmodium vivax, diikuti dengan Plasmodium falciparum dan infeksi keduanya. (Lihat Tabel 2) Gejala Klinis yang paling banyak dijumpai pada sampel penelitian adalah demam (dengan atau tanpa gejala lain) yaitu sebesar 59,3%, selebihnya tidak mengalami demam sama sekali. Sementara itu gejala klinis yang muncul pada penderita malaria adalah demam (dengan atau tanpa gejala lain, 58,5%), badan pegal (19,5%), pusing (12,2%), lemas (2,4%) dan gabungan gejala tersebut tanpa demam (7,3%). (Lihat Tabel 3) Demam yang merupakan salah satu gejala klasik 212

Siahaan & Yuniarti, Malaria Pasca Tsunami di Pulau Weh Tabel 4. Perbandingan Gejala Klinis Demam Diagnosis Mikroskopis Demam Gejala Klinis Tidak Demam Total Malaria (n=41) 24 (58,5%) 17 (41,5%) 41 (100%) Bukan Malaria (n=227) 135 (59,5%) 92 (40,5%) 227 (100%) malaria, bukanlah gejala klinis yang harus ada pada penderita malaria, terutama di daerah endemis malaria. Hal ini dapat dilihat, bahwa hanya 58,5% penderita malaria yang mengalami demam, sementara itu 41,5% tanpa demam sama sekali. Sebaliknya, 59,5% dari sampel penelitian yang bukan penderita malaria, datang dengan keluhan demam. (Lihat Tabel 4) Prevalensi penderita malaria yang didapatkan pada penelitian ini adalah 15,3% dan spesies terbanyak adalah Plasmodium vivax (85,6%). Pada penelitian ini, kasus malaria tidak ditemukan di semua desa. Penurunan jumlah penderita malaria dan penyebarannya pada penelitian ini, bila dibandingkan dengan data Dinkes Sabang sebelumnya, dapat terjadi karena faktor musim dan perbedaan cara dalam menetapkan diagnosa malaria. Penelitian ini dilakukan tidak pada musim hujan, yang merupakan periode puncak musim malaria. Musim hujan sangat berpengaruh pada pembentukan perindukan nyamuk sebagai vektor pembawa penyakit malaria. Sementara itu, ternyata tidak semua penderita malaria klinis yang ditentukan hanya berdasarkan gejala dan tanda klinis adalah penderita malaria (mikroskopis). Hal ini dipastikan melalui pemeriksaan apusan darah (standar diagnostik) dan melihat keberadaan plasmodium spp. dengan menggunakan mikroskop. Demam yang merupakan salah satu gejala klasik malaria, bukanlah gejala klinis yang harus ada pada penderita malaria, terutama di daerah endemis malaria. Hal ini terlihat dari 159 sampel penelitian dengan keluhan demam (dengan atau tanpa gejala klinis lain), hanya 24 orang (15,1%) yang menderita malaria. Dan dari 63 orang dengan keluhan demam saja (tanpa gejala klinis lain), hanya 13 orang (20,6%) penderita malaria. Selanjutnya dari semua penderita malaria, hanya 31,7% yang datang dengan keluhan demam saja (tanpa gejala klinis lain). Badan pegal, pusing dan lemas juga merupakan gejala klinis yang harus diperhatikan, terutama di daerah endemis malaria. Hal ini terbukti dari 28 orang dengan keluhan badan pegal (tanpa gejala lain), 8 orang (28,6%) adalah penderita malaria. Sementara itu, dari 37 orang dengan keluhan pusing (tanpa gejala lain), 5 orang (13,5%) adalah penderita malaria. Selanjutnya dari 13 orang dengan keluhan lemas (tanpa gejala lain), 1 orang (7,7%) adalah penderita malaria. Variasi gejala klinis malaria juga dijumpai pada beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai tempat. Penelitian di Gambia pada tahun 2000, menunjukkan bahwa gejala klinis yang banyak muncul pada anak penderita malaria, adalah demam (58,3%), pusing (86%) dan gangguan pencernaan (60,7%). 6 Sementara itu, Erhart dkk, 7 dalam penelitiannya di Thailand melaporkan bahwa gejala klinis yang muncul pada penderita malaria adalah demam (42,3%), pusing (98,3%), badan pegal (96,6%), menggigil (88,4%) dan gangguan pencernaan (29,3%). Sedikit berbeda dengan penelitian di daerah endemis yang dilakukan pada tahun 2005 di Nigeria, dimana semua penderita malaria menderita demam, yang disertai dengan pusing (69,6%) dan gangguan pencernaan (50,4%). 8 Demam sebagai gejala klinis lebih bersifat subjektif. Hal itu terlihat dari 231 orang yang mengalami kenaikan suhu tubuh (tanda klinis), hanya 159 orang yang mengeluh demam (gejala klinis) atau 72 orang (32,1%) tanpa keluhan demam sama sekali. Begitu pula pada 32 orang penderita malaria yang mengalami kenaikan suhu tubuh (tanda klinis), hanya 24 orang yang mengeluh demam, atau 8 orang (25%) tanpa keluhan demam sama sekali. Dalam penelitian ini tidak dijumpai adanya pembesaran limfa. Kesimpulan Dengan menggunakan pemeriksaan apusan darah (standar diagnosa) dalam menentukan diagnosa malaria, dijumpai penurunan kasus malaria di Pulau Weh, dibandingkan dengan data tahun sebelumnya yang hanya menetapkan diagnosa malaria berdasarkan gejala dan tanda klinis saja. Pengenalan gejala dan tanda klinis yang khas di daerah endemis malaria sangat membantu dalam penanganan penyakit malaria secara cepat, tepat dan rasional guna menurunkan angka kesakitan dan kematian karena malaria. Tenaga kesehatan di daerah endemis diharapkan dapat mengenal gejala dan tanda klinis yang khas pada daerahnya, sebagai langkah awal diagnostik malaria klinis sebelum dikonfirmasikan pada pemeriksaan mikroskopis (standar diagnosa). Sehingga perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut untuk menemukan gejala klinis yang khas pada tiap daerah endemis, sambil terus membenahi laboratorium diagnostik malaria di daerah tersebut. Daftar Pustaka 1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005, Gebrak Malaria, Pedoman Tatalaksana Kasus Malaria di Indonesia, Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Edisi Kedua, 1-2, 15-16 2. Maryatun, 2004. Penilaian Kasus Kegagalan Pengobatan Klorokuin terhadap Penderita Malaria Falciparum dan Faktor-Faktor yang 213

KESMAS, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2, No. 5, April 2008 Mempengaruhinya Kajian secara Invivo pada Penderita Malaria Falciparum Ringan/Tanpa Komplikasi pada Beberapa Puskesmas di Kota Sabang, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam), Tesis S2, Yokyakarta : Program Pascasarjana UGM : 1-4, 45-50 3. Dinas Kesehatan Kotamadya Sabang, 2005 : Laporan Pengobatan dan Penemuan Penderita Malaria di Kota Sabang, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sub Din P2P 4. Tambajong E.H., 2000, Patobiologi Malaria, Dalam : Harijanto P.N. (editor) Malaria, Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis & Penanganan, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Hal: 96-99 5. Purwaningsih S, Diagnosis Malaria, Dalam : Harijanto P.N. (editor) Malaria, Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis Dan Penanganan, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000, Hal: 185-187. 6. Seidlein LV, et al, Efficacy of artesunate plus pyrimethamine-sulphadoxine for uncomplicated malaria in Gambian children, The Lancet, Jan 29, 2000, pp 352 7. Erhart LM, et al, Hematologic and clinical indices of malaria in a semiimmune population of western Thailand, Am.J.Trop.Med.Hyg, 70(1), 2004, pp 8-14 8. Pitmang SL, et al, Comparison of sulphadoxine-pyrimethamine with and without chloroquine for uncomplicated malaria in Nigeria, Am.J.Trop.Med.Hyg, 72(3), 2005, 263-266 214