BAB II GENERATOR SINKRON

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II GENERATOR SINKRON. bolak-balik dengan cara mengubah energi mekanis menjadi energi listrik. Energi

BAB II GENERATOR SINKRON TIGA PHASA. berupa putaran menjadi energi listrik bolak-balik (AC).

BAB II GENERATOR SINKRON TIGA FASA

Dasar Teori Generator Sinkron Tiga Fasa

DA S S AR AR T T E E ORI ORI

GENERATOR SINKRON Gambar 1

PRINSIP KERJA GENERATOR SINKRON. Abstrak :

BAB II GENERATOR SINKRON 3 FASA

BAB II GENERATOR SINKRON

BAB 2II DASAR TEORI. Motor sinkron tiga fasa adalah motor listrik arus bolak-balik (AC) yang

MESIN SINKRON ( MESIN SEREMPAK )

Politeknik Negeri Sriwijaya

BAB III 3 METODE PENELITIAN. Peralatan yang digunakan selama penelitian sebagai berikut : 1. Generator Sinkron tiga fasa Tipe 72SA

BAB II HARMONISA PADA GENERATOR. Generator sinkron disebut juga alternator dan merupakan mesin sinkron yang

ABSTRAK. Kata Kunci: pengaturan, impedansi, amperlilit, potier. 1. Pendahuluan. 2. Generator Sinkron Tiga Fasa

BAB II MOTOR SINKRON. 2.1 Prinsip Kerja Motor Sinkron

SYNCHRONOUS GENERATOR. Teknik Elektro Universitas Indonesia Depok 2010

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2)

BAB II MOTOR ARUS SEARAH. searah menjadi energi mekanis yang berupa putaran. Pada prinsip

ANALISIS PERBANDINGAN KARAKTERISTIK PENGATURAN TEGANGAN GENERATOR SINKRON TANPA SIKAT DENGAN METODE IMPEDANSI SINKRON DAN AMPERE LILIT

BAB II GENERATOR SINKRON

Politeknik Negeri Sriwijaya

BAB II MOTOR INDUKSI SEBAGAI GENERATOR (MISG)

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA PHASA

BAB II MOTOR ARUS SEARAH

Mesin AC. Dian Retno Sawitri

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Motor Sinkron Tiga Fasa. Motor sinkron tiga fasa adalah motor listrik arus bolak-balik (AC) yang

Modul Kuliah Dasar-Dasar Kelistrikan 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI. Teknik Konversi Energi Politeknik Negeri Bandung

Mesin Arus Bolak Balik

KONDISI TRANSIENT 61

BAB II MESIN INDUKSI TIGA FASA. 2. Generator Induksi 3 fasa, yang pada umumnya disebut alternator.

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN GENERATOR FLUKS RADIAL SATU FASA MENGGUNAKAN LILITAN KAWAT SEPEDA MOTOR DENGAN VARIASI DIAMETER KAWAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perubahan beban terhadap karakteristik generator sinkron 3 fasa PLTG Pauh

MOTOR LISTRIK 1 & 3 FASA

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA PHASA

BAB III SISTEM KELISTRIKAN MOTOR INDUKSI 3 PHASA. 3.1 Rangkaian Ekivalen Motor Induksi Tiga Fasa

BAB II MOTOR ARUS SEARAH

BAB II TRANSFORMATOR. elektromagnet. Pada umumnya transformator terdiri atas sebuah inti yang terbuat

BAB II MOTOR INDUKSI SATU FASA. Motor induksi adalah adalah motor listrik bolak-balik (ac) yang putaran

M O T O R D C. Motor arus searah (motor dc) telah ada selama lebih dari seabad. Keberadaan motor dc telah membawa perubahan besar sejak dikenalkan

BAB II MOTOR INDUKSI 3 FASA

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Umum. Motor arus searah (motor DC) ialah suatu mesin yang berfungsi mengubah

BAB II MOTOR ARUS SEARAH. tersebut berupa putaran rotor. Proses pengkonversian energi listrik menjadi energi

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK TENAGA LISTRIK NO LOAD AND LOAD TEST GENERATOR SINKRON EXPERIMENT N.2 & N.4

BAB II DASAR TEORI. Motor asinkron atau motor induksi biasanya dikenal sebagai motor induksi

MODUL 3 TEKNIK TENAGA LISTRIK PRODUKSI ENERGI LISTRIK (1)

ANALISIS PENENTUAN TEGANGAN TERMINAL, REGULASI, DAN EFISIENSI GENERATOR SINKRON 3 FASA ROTOR SALIENT POLE DENGAN METODE BLONDEL (TWO REACTION THEORY)

BAB II MOTOR INDUKSI SATU PHASA. Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran

BAB II DASAR TEORI. searah. Energi mekanik dipergunakan untuk memutar kumparan kawat penghantar

BAB II DASAR TEORI. mesin listrik yang mengubah energi listrik pada arus searah (DC) menjadi energi

BAB II. 1. Motor arus searah penguatan terpisah, bila arus penguat medan rotor. dan medan stator diperoleh dari luar motor.

Politeknik Negeri Sriwijaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA FASA. biasanya adalah tipe tiga phasa. Motor induksi tiga phasa banyak digunakan di

BAB II TRANSFORMATOR. magnet dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.

BAB II MOTOR ARUS SEARAH. searah menjadi energi mekanis yang berupa putaran. Pada prinsip

BAB II MOTOR ARUS SEARAH

BAB II TRANSFORMATOR. sistem ketenagalistrikan. Transformator adalah suatu peralatan listrik. dan berbanding terbalik dengan perbandingan arusnya.

BAB II MOTOR INDUKSI 3 Ø

BAB II MOTOR KAPASITOR START DAN MOTOR KAPASITOR RUN. Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran rotornya

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Motor Sinkron Tiga Fasa. Motor sinkron tiga fasa adalah motor listrik arus bolak-balik (AC) yang

BAB II GENERATOR SINKRON 3 FASA

BAB II DASAR TEORI. Generator arus bolak-balik (AC) atau disebut dengan alternator adalah

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA FASA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI. melalui gandengan magnet dan prinsip induksi elektromagnetik [1].

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TRANSFORMATOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III SISTEM EKSITASI TANPA SIKAT DAN AVR GENERATOR

BAB II MOTOR INDUKSI SATU PHASA. Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran

BAB I PENDAHULUAN. putaran tersebut dihasilkan oleh penggerak mula (prime mover) yang dapat berupa

BAB 13 GENERATOR SINKRON

MODIFIKASI ALTERNATOR MOBIL MENJADI GENERATOR SINKRON 3 FASA PENGUAT LUAR 220V/380V, 50Hz. M. Rodhi Faiz, Hafit Afandi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar (rotating

BAB II LANDASAN TEORI

Modul Kuliah Dasar-Dasar Kelistrikan Teknik Industri 1

MODUL 10 DASAR KONVERSI ENERGI LISTRIK. Motor induksi

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. memanfaatkan energi kinetik berupa uap guna menghasilkan energi listrik.

BAB I PENDAHULUAN. Dengan ditemukannya Generator Sinkron atau Alternator, telah memberikan. digunakan yaitu listrik dalam rumah tangga dan industri.

Mesin Arus Bolak Balik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Politeknik Negeri sriwijaya BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II PRINSIP KERJA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL (PLTD)

BAB II MOTOR INDUKSI TIGA PHASA

BAB II TRANSFORMATOR. maupun untuk menyalurkan energi listrik arus bolak-balik dari satu atau lebih

Politeknik Negeri Sriwijaya

Disusun oleh Muh. Wiji Aryanto Nasri ( ) Ryan Rezkyandi Saputra ( ) Hardina Hasyim ( ) Jusmawati ( ) Aryo Arjasa

BAB II MOTOR ARUS SEARAH

PENGENDALIAN TEGANGAN TERMINAL GENERATOR SINKRON TERHADAP PERUBAHAN ARUS DAN FAKTOR DAYA BEBAN

Universitas Medan Area

Transkripsi:

BAB II GENERATOR SINKRON 2.1 Pendahuluan Generator arus bolak balik berfungsi mengubah tenaga mekanis menjadi tenaga listrik arus bolak balik. Generator arus bolak balik sering disebut juga sebagai alternator, generator AC (alternating current), atau generator sinkron. Dikatakan generator sinkron karena jumlah putaran rotornya sama dengan jumlah putaran medan magnet pada stator. Kecepatan sinkron ini dihasilkan dari kecepatan putar rotor dengan kutub kutub magnet yang berputar dengan kecepatan yang sama dengan medan putar pada stator. Mesin ini tidak dapat dijalankan sendiri karena kutub kutub rotor tidak dapat tiba tiba mengikuti kecepatan medan putar pada waktu sakelar terhubung dengan jala jala. Generator arus bolak balik dibagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Generator arus bolak balik 1 phasa b. Generator arus bolak balik 3 phasa Gambar diagram kedua bentuk generator arus bolak balik tersebut dapat dilihat dari gambar 2.1 berikut.

(a) (b) Gambar 2.1(a) Diagram Generator AC Satu Fasa Dua Kutub (b) Diagram Generator AC Tiga Fasa Dua Kutub Perbedaan prinsip antara generator DC dengan generator AC adalah letak kumparan jangkar dan kumparan statornya. Pada generator DC, kumparan jangkar terletak pada bagian rotor dan kumparan medan terletak pada bagian stator. Sedangkan pada generator AC, kumparan jangkar terletak pada bagian stator dan kumparan medan terletak pada bagian rotor. 2.2 Konstruksi Generator Sinkron Pada bagian ini akan dibahas mengenai konstruksi generator sinkron secara garis besar. Bagian bagian generator yang dibahas pada bagian ini antara lain : (a) Stator (b) Rotor 2.2.1 Stator Stator atau armatur adalah bagian generator yang berfungsi sebagai tempat untuk menerima induksi magnet dari rotor. Arus AC yang menuju ke beban disalurkan melalui armatur, komponen ini berbentuk sebuah rangka silinder dengan lilitan kawat konduktor yang sangat banyak. Armatur selalu diam (tidak bergerak). Oleh karena itu, komponen ini juga disebut dengan stator. Lilitan armatur generator dalam wye dan titik netral dihubungkan ke tanah. Lilitan dalam wye dipilih karena:

1. Meningkatkan daya output. 2. Menghindari tegangan harmonik, sehingga tegangan line tetap sinusoidal dalam kondisi beban apapun. Dalam lilitan wye tegangan harmonik ketiga masing-masing fasa saling meniadakan, sedangkan dalam lilitan delta tegangan harmonik ditambahkan. Karena hubungan delta tertutup, sehingga membuat sirkulasi arus harmonik ketiga yang meningkatkan rugi-rugi (I 2 R). Stator dari mesin sinkron terbuat dari bahan ferromagnetik yang berbentuk laminasi untuk mengurangi rugi-rugi arus pusar. Dengan inti ferromagnetik yang bagus berarti permeabilitas dan resistivitas dari bahan tinggi. Gambar 2.2 berikut memperlihatkan alur stator tempat kumparan jangkar. Gambar 2.2 Inti Stator dan Alur pada Stator Belitan jangkar (stator) yang umum digunakan oleh mesin sinkron tiga phasa, ada dua tipe yaitu: a. Belitan satu lapis (Single Layer Winding). Gambar 2.3 memperlihatkan belitan satu lapis karena hanya ada satu sisi lilitan di dalam masing - masing alur. Bila kumparan tiga phasa dimulai pada Sa,

Sb, dan Sc dan berakhir di Fa, Fb, dan Fc bisa disatukan dalam dua cara, yaitu hubungan bintang dan segitiga. Antar kumparan phasa dipisahkan sebesar 120 derajat listrik atau 60 derajat mekanik, satu siklus ggl penuh akan dihasilkan bila rotor dengan 4 kutub berputar 180 derajat mekanis. Satu siklus ggl penuh menunjukkan 360 derajat listrik, adapun hubungan antara sudut rotor mekanis α mek dan sudut listrik αlis, adalah: α lis = α mek. (2.1) Gambar 2.3 Belitan Satu Lapis Generator Sinkron Tiga Fasa b. Belitan berlapis ganda (Double Layer Winding). Kumparan jangkar yang diperlihatkan pada hanya mempunyai satu lilitan per kutub per phasa, akibatnya masing masing kumparan hanya dua lilitan secara seri. Bila alur-alur tidak terlalu lebar, masing-masing penghantar yang berada dalam alur akan membangkitkan tegangan yang sama. Masing masing tegangan phasa akan sama untuk menghasilkan tegangan per penghantar dan jumlah total dari penghantar per phasa. Dalam kenyataannya cara seperti ini tidak menghasilkan cara yang efektif dalam penggunaan inti stator, karena variasi kerapatan fluks dalam inti dan juga

melokalisir pengaruh panas dalam daerah alur dan menimbulkan harmonik. Untuk mengatasi masalah ini, generator praktisnya mempunyai kumparan terdistribusi dalam beberapa alur per kutub per phasa. Gambar 2.4 Belitan Berlapis Ganda Generator Sinkron Tiga Fasa Gambar 2.4 memperlihatkan bagian dari sebuah kumparan jangkar yang secara umum banyak digunakan. Pada masing masing alur ada dua sisi lilitan dan masing masing lilitan memiliki lebih dari satu putaran. Bagian dari lilitan yang tidak terletak ke dalam alur biasanya disebut winding overhang, sehingga tidak ada tegangan dalam winding overhang. 2.2.2 Rotor (Magnetic Field) Rotor berfungsi untuk membangkitkan medan magnet yang kemudian tegangan dihasilkan dan akan diinduksikan ke stator. Generator sinkron memiliki dua tipe rotor, yaitu : 1.) Rotor berbentuk kutub sepatu (salient pole) 2.) Rotor berbentuk kutub dengan celah udara sama rata (cylindrical)

Perbedaan utama antara keduanya adalah salient pole rotor digerakkan oleh turbin hidrolik kecepatan rendah sedangkan cylindrical rotor digerakkan oleh turbin uap berkecepatan tinggi. Sebagian besar turbin hidraulic harus berputar pada kecepatan rendah (50 300 rpm). Salient pole rotor dihubungkan langsung ke roda kincir dan frekuensi yang diinginkan 60 Hz. Jumlah kutub yang dibutuhkan di rotor jenis ini sangat banyak. Sehingga dibutuhkan diameter yang besar untuk memuat kutub yang sangat banyak tersebut. Cylindrical rotor lebih kecil dan efisien daripada turbin kecepatan rendah. Untuk 2 kutub, frekuensi 60 Hz, putarannya 3600 rpm. Untuk 4 kutub, putarannya 1800 rpm. Bentuk rotor yang terdapat pada generator sinkron dapat dilihat pada gambar 2.5 berikut. (a) Rotor kutub menonjol (b) Rotor Silinder Gambar 2.5 Bentuk Rotor 2.3 Prinsip Kerja Generator Sinkron Jika kumparan rotor yang berfungsi sebagai pembangkit kumparan medan magnit yang terletak di antara kutub magnit utara dan selatan diputar oleh prime mover, maka pada kumparan rotor akan timbul medan magnit atau fluks yang bersifat bolak balik atau fluks putar. Fluks putar ini akan memotong motong kumparan stator sehingga pada ujung ujung kumparan stator timbul gaya gerak

listrik karena pengaruh induksi dari fluks putar tersebut. Gaya gerak listrik (ggl) yang timbul pada kumparan stator juga bersifat bolak balik, atau berputar dengan kecepatan sinkron terhadap kecepatan putar rotor. Frekuensi elektris yang dihasilkan generator sinkron adalah sinkron dengan kecepatan putar generator. Rotor generator sinkron terdiri atas rangkaian elektromagnet dengan suplai arus DC. Medan magnet rotor bergerak pada arah putaran rotor. Hubungan antara kecepatan putar medan magnet pada mesin dengan frekuensi elektrik pada stator adalah: Dimana: f n = frekuensi listrik (Hz) = kecepatan putar rotor (rpm) p = jumlah kutub magnet P = = jumlah pasang kutub Oleh karena rotor berputar pada kecepatan yang sama dengan medan magnet, persamaan diatas juga menunjukkan hubungan antara kecepatan putar rotor dengan frekuensi listrik yang dihasilkan. Agar daya listrik dibangkitkan tetap pada frekuensi 50Hz atau 60 Hz, maka generator harus berputar pada kecepatan tetap dengan jumlah kutub mesin yang telah ditentukan. Sebagai contoh untuk membangkitkan 60 Hz pada mesin dua kutub, rotor arus berputar

dengan kecepatan 3600 rpm. Untuk membangkitkan daya 50 Hz pada mesin empat kutub, rotor harus berputar pada 1500 rpm. 2.3.1 Generator Sinkron Tanpa Beban Dengan memutar generator sinkron diputar pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus medan (I f ), maka tegangan (E 0 ) akan terinduksi pada kumparan jangkar stator. Bentuk hubungannya diperlihatkan pada persamaan berikut. E 0 = c.n.φ. (2.3) Dimana : c = konstanta mesin n = putaran sinkron Φ = fluks yang dihasilkan oleh I f Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, karenanya tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya dihasilkan oleh arus medan (I f ). Apabila arus medan (I f ) diubah-ubah harganya, akan diperoleh harga E 0 seperti yang terlihat pada kurva sebagai berikut. Bila besarnya arus medan dinaikkan, maka tegangan output juga akan naik sampai titik saturasi (jenuh) seperti diperlihatkan pada gambar 2.6 berikut.

(a) (b) Gambar 2.6 (a) Kurva Karakteristik Generator Sinkron Tanpa Beban (b) Rangkaian Ekivalen Generator Sinkron Tanpa Beban Persamaan umum generator adalah : E 0 = V Φ + I a (R a + jx s ).. (2.4) 2.3.2 Generator Sinkron Berbeban Bila generator diberi beban yang berubah ubah maka besarnya tegangan terminal Vt akan berubah ubah pula. Hal ini disebabkan adanya : Jatuh tegangan karena resistansi jangkar (R a ) Jatuh tegangan karena reaktansi bocor jangkar (X L ) Jatuh tegangan karena reaksi Jangkar Gambar rangkaian dan karakteristik generator sinkron berbeban diperlihatkan pada gambar 2.7 berikut ini.

Gambar 2.7 Rangkaian Generator Sinkron Berbeban Persamaan tegangan pada generator berbeban adalah: E a = V Φ + I a R a + j I a X s X s = X L + X a.. (2.5).. (2.6) Dimana: E a V Φ R a X s X L X a = tegangan induksi pada jangkar per phasa (Volt) = tegangan terminal output per phasa (Volt) = resistansi jangkar per phasa (ohm) = reaktansi sinkron per phasa (ohm) = reaktansi bocor per phasa (ohm) = reaktansi reaksi jangkar per phasa (ohm) a. Resistansi Jangkar

Resistansi jangkar per phasa R a yang dialiri oleh arus jangkar I a menyebabkan terjadinya tegangan jatuh per phasa I a R a yang sefasa dengan arus jangkar I a. Akan tetapi, pada praktiknya jatuh tegangan ini diabaikan karena sangat kecil. b. Reaktansi Bocor Jangkar Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluks yang terjadi tidak memotong air-gap, melainkan mengambil jalur yang lain dan menghubungkan sisi sisi kumparan. Fluks fluks tersebut dinamakan fluks bocor (leakage fluxes). Fluks bocor tersebut bergerak dengan arus jangkar dan memberikan induktansi diri (self-inductance) belitan yang disebut dengan reaktansi bocor jangkar (X L ). Oleh karena itu, fluks bocor ini akan menimbulkan jatuh tegangan akibat reaktansi bocor (X L ) yang sama dengan I a X L. Dimana, jatuh tegangan ini juga dapat mengurangi tegangan terminal (V Φ ). Jadi, akan diperoleh persamaan : E = V Φ + I a (R a + jx L ).... (2.7) V Φ = E I a (R a + jx L ).... (2.8) Gambar 2.8 berikut akan memperlihatkan diagram phasor dari pengaruh reaktansi bocor jangkar (X L ) terhadap tegangan terminal (V Φ ). Gambar 2.8 Diagram Phasor Pengaruh X L terhadap V Φ (beban induktif) c. Reaksi Jangkar

Seperti pada generator dc, reaksi jangkar adalah pengaruh dari fluksi jangkar pada fluksi medan utama. Dalam kasus alternator, faktor daya dari beban memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap reaksi jangkar. Gambar 2.9 berikut akan memperlihatkan model reaksi jangkar pada generator sinkron. Gambar 2.9 Model Reaksi Jangkar Generator Sinkron Dimana :

Gambar (a) menunjukkan suatu medan magnet yang berputar menghasilkan tegangan induksi E A tidak timbul arus jangkar karena tidak ada beban yang terhubung dan E A = V Φ Gambar (b) memperlihatkan ketika beban induktif (lagging) dihubungkan pada terminal jangkar, arus jangkar (I A ) mengalir. Gambar (c) Arus jangkar menghasilkan medan magnet B s yang kemudian menghasilkan tegangan E stat pada belitan stator. Gambar (d) Medan magnet stator B s menambah B R menjadi B net. Tegangan E stat menambah E A menghasilkan V Φ pada terminal outputnya. Ketika generator dihubungkan dengan beban lagging, arus puncak akan terjadi pada sudut di bawah tegangan puncak. Pengaruh ini ditunjukkan pada gambar (b). Arus yang mengalir dalam belitan stator menghasilkan medan magnet B s dan arahnya ditentukan dengan menggunakan aturan tangan kanan seperit ditunjukkan pada gambar (c). Medan magnet stator B s menghasilkan tegangan di stator E stat. Dengan hadirnya dua jenis tegangan tersebut, total tegangan dalam satu phasa adalah penjumlahan dari tegangan induksi E A dan tegangan reaksi jangkar E stat. Dalam persamaan : V Φ = E A + E stat... (2.9) Total medan magnet B net adalah jumlah dari medan magnet rotor dan medan magnet stator, yaitu : B net = B R + B s. (2.10) Karena sudut sudut E A dan B R adalah sama dan sudut E stat dan B s juga sama, penjumlahan medan medan magnet B net akan sefasa dengan V Φ (gambar (d)). Tegangan reaksi jangkar dapat diperoleh dengan persamaan :

Sehingga tegangan terminal : E stat = - jxi A... (2.11) V Φ = E A - jxi A.. (2.12) Terdapat 3 kasus umum dalam reaksi jangkar antara lain : (i) Ketika faktor daya beban unity. Dimana, reaksi jangkar ini mengakibatkan distorsi. (ii) Ketika faktor daya beban zero lagging yang mengakibatkan pelemahan (demagnetising) karena fluksi utama berkurang sehingga tegangan induksi berkurang. (iii) Ketika faktor daya beban zero leading. Pada kasus ini, fluksi utama mengalami penambahan (magnetizing) sehingga tegangan induksi juga meningkat. Berikut ini akan diperlihatkan gambar diagram phasor pada generator sinkron saat faktor daya tertinggal (lagging), mendahului (leading) dan satu (unity).

(a) Faktor Daya Lagging (tertinggal) (c) Faktor Daya Mendahului (Leading) (d) Faktor Daya Unity Gambar 2.10 Diagram Phasor Generator Sinkron saat lagging, leading dan unity Dimana : E 0 = Tegangan tanpa beban (no-load) yang merupakan nilai tegangan terinduksi maksimum pada jangkar ketika tidak ada tahanan jangkar (R a ), reaktansi bocor (X L ) dan reaksi jangkar.

E = Tegangan beban terinduksi yang merupakan tegangan terinduksi setelah terdapat reaksi jangkar. Secara vektor, E lebih kecil daripada E 0 sebesar I a X a. V Φ = Tegangan terminal yang secara vektor lebih kecil daripada E 0 sebesar I a Z s atau lebih kecil daripada E sebesar I a Z. Dimana, Z =..... (2.13) Z s =.... (2.14) I a Ө = Arus jangkar per phasa = sudut faktor daya beban Maka, dari gambar dapat diperoleh : (i) Untuk faktor daya lagging : E 0 = =. (2.15) (ii) Untuk faktor daya leading : E 0 = =. (2.16) (ii) Untuk faktor daya unity : E 0 =

=. (2.17) 2.4 Karakteristik dan Penentuan Parameter parameter Generator Sinkron 2.4.1 Karakteristik dan Penentuan Parameter Tanpa Beban : E 0 = E 0 (I f ) Karakteristik tanpa beban (beban nol) pada generator sinkron dapat ditentukan dengan melakukan test beban nol (open circuit) yang memiliki langkah langkah sebagai berikut : a.) Generator diputar pada kecepatan nominal (n) b.) Tidak ada beban yang terhubung pada terminal c.) Arus medan (I f ) dinaikkan dari nol hingga maksimum secara bertahap d.) Catat harga tegangan terminal (V t ) pada setiap harga arus medan (I f ) Gambar 2.11 Rangkaian Test Tanpa Beban Dari gambar dapat diperoleh persamaan umum generator : E 0 = V Φ + I a (R a + jx s ) Pada hubungan generator terbuka (beban nol), Ia = 0. Maka,

E 0 = V Φ = cnφ. (2.18) Karena tidak ada beban yang terpasang, maka Φ yang dihasilkan hanya Φ f. Sehingga : E 0 = cnφ f. (2.19) E 0 = cni f.. (2.20) Nilai cn adalah konstan sehingga persamaan menjadi : E 0 = k 1.I f.. (2.21) Berikut diperlihatkan gambar grafik hubungan V Φ vs I f yang disebut juga dengan karakteristik hubung terbuka dari generator atau OCC (Open - Circuit Characteristic). Gambar 2.12 Karakteristik Hubung Terbuka (OCC) Dari gambar 2.12 di atas terlihat bahwa pada awalnya kurva berbentuk hampir benar benar linear. Hingga pada harga harga arus medan yang tinggi, bentuk kurva mulai terlihat saturasi. Inti besi yang tidak jenuh dalam bingkai mesin sinkron memiliki reluktansi beberapa ratus kali lebih rendah daripada reluktansi air gap. Sehingga pertama tama hampir seluruh MMF melewati celah udara dan

peningkatan fluksi yang terjadi linear. Ketika inti besi mengalami saturasi, reluktansi besi meningkat secara drastis dan fluksi meningkat lebih lambat dengan peningkatan nilai MMF. Bentuk linear dari grafik OCC disebut karakteristik air gap line. 2.4.2 Karakteristik dan Penentuan Parameter Generator Sinkron Hubung Singkat : I sc = I sc (I f ) Untuk menentukan karakteristik dan parameter generator sinkron yang dihubung singkat terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan antara lain : a.) Generator diputar pada kecepatan nominal b.) Atur arus medan (I f ) pada nol c.) Hubung singkat terminal d.) Ukur arus armatur (I a ) pada setiap peningkatan arus medan (I f ) Dimana, rangkaian test hubung singkat pada generator sinkron akan diperlihatkan pada gambar 2.13 berikut. Gambar 2.13 Rangkaian Test Hubung Singkat Dari gambar, persamaan umum generator sinkron dihubung singkat adalah : E = V Φ + I a (R a + jx s )

Pada saat generator sinkron dihubung singkat, V Φ = 0 dan I a = I sc. Maka, E = I sc (R a + jx s ). (2.22) cnφ = I sc (R a + jx s ). (2.23) Karena cn dan (R a + jx s ) bernilai konstan, maka : cn = k 1. (2.24) (R a + jx s ) = k 2. (2.25) Sehingga persamaan menjadi : k 1.I f = I sc. k 2. (2.26) I sc =. (2.27) Pada karakteristik generator hubung singkat bentuk kurva adalah linear. Hal ini disebabkan oleh medan magnet yang terjadi sangat kecil sehingga inti besi tidak mengalami saturasi. Gambar 2.14 berikut ini akan memperlihatkan karakteristik hubung singkat pada generator sinkron. Gambar 2.14 Karakteristik Hubung Singkat (SCC) Ketika generator dihubung singkat, arus armatur : (I a ) = I sc =. (2.28)

Harga mutlaknya adalah :. (2.29) Gambar 2.15 berikut menunjukkan diagram phasor dan medan magnet yang dihasilkan pada generator yang dihubung singkat. (i) Diagram Phasor (ii) Medan Magnet Gambar 2.15 Diagram Phasor dan Medan Magnet saat Hubung Singkat Karena B stat hampir meniadakan B R, medan magnet B net sangat kecil. Oleh karena itu, mesin tidak saturasi dan SCC berbentuk linear. Dari kedua test tersebut di atas diperoleh : - E a dari test beban nol (Open Circuit) - I a dari test hubung singkat (Short Circuit) Diperoleh impedansi sinkron : Z s = =. (2.30) Karena R a << X S, maka impedansi sinkron menjadi : Z S X S 2.4.3 Karakteristik dan Penentuan Parameter Generator Sinkron Berbeban : V = V(I f )

Beberapa langkah untuk menentukan parameter generator sinkron berbeban antara lain sebagai berikut : a.) Generator diputar pada kecepatan nominal (n) b.) Beban (Z L ) terpasang pada terminal generator sinkron c.) Arus medan (I f ) dinaikkan dari nol hingga maksimum secara bertahap d.) Catat tegangan terminal (V t ) pada setiap peningkatan arus medan (I f ) Gambar 2.16 Rangkaian Generator Sinkron Berbeban Dari gambar 2.16 diperoleh persamaan umum generator sinkron berbeban : E a = V Φ + I a (R a + jx s ) V Φ = E a - I a (R a + jx s ). (2.31) Pada generator berbeban, I a = I L bernilai konstan karena beban (Z L ) tetap.

Gambar 2.17 Karakteristik Generator Sinkron Berbeban 2.4.4 Penentuan Tahanan Stator Generator Sinkron Tahanan stator generator sinkron dapat ditentukan dengan melakukan pengukuran secara langsung. Akan tetapi, harga Ra naik pada keadaan kerja karena pengaruh skin effect. Jadi, biasanya Ra yang diukur dikalikan faktor 1,6. Rangkaian pengukuran tahanan stator generator sinkron dapat dilihat dari gambar 2.18 berikut. Gambar 2.18 Rangkaian Pengukuran Tahanan DC

2.4.5 Karakteristik Luar Generator Sinkron : V Φ = f (I L ) Karakteristik ini akan memperlihatkan pengaruh dari perubahan arus beban (I L ) terhadap tegangan terminal generator sinkron (V Φ ). Dalam penentuan karakteristik luar generator sinkron, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : a.) Kecepatan putar generator sinkron (n) tetap b.) Arus medan (I f ) konstan c.) Faktor daya (cosφ) tetap Dari gambar rangkaian generator sinkron berbeban yang telah diperlihatkan pada gambar 2.16 sebelumnya, diperoleh persamaan : E a = V Φ + I a (R a + jx s ) Sehingga persamaan tegangan terminal V Φ generator sinkron dalam keadaan berbeban : V Φ = E a - I a (R a + jx s ). (2.32) Dalam hal ini, arus yang mengalir pada stator sama dengan arus yang mengalir pada beban atau: I a = I L Maka : V Φ = E a I L (R a + jx s ). (2.33) V Φ = cnφ I L Z s. (2.34) V Φ = cni f I L Z s. (2.35) Karena c, n dan I f konstan : V Φ = k 1 I L Z s. (2.36)

Nilai Z s tetap, sehingga : V Φ = k 1 I L k 2. (2.37) Jika arus beban (I L ) = 0 (beban nol), maka : V Φ = k 1 Jika tegangan terminal (V Φ ) = 0 (hubung singkat), maka : I f =. (2.38) Berikut ini merupakan gambar karakteristik luar generator sinkron dengan beban induktif pada berbagai harga cosφ. Gambar 2.19 Karakteristik Luar Generator Beban Induktif 2.4.6 Karakteristik Pengaturan Generator Sinkron : I f = f (I L ) Karakteristik ini menunjukkan hubungan antara perubahan arus beban (I L ) dengan terhadap arus medan (I f ) generator sinkron. Dimana, dalam karakteristik ini perlu diperhatikan hal hal berikut : a.) Tegangan terminal V Φ dijaga konstan b.) putaran tetap c.) Faktor daya (cosφ) tetap

Persamaan untuk generator berbeban (gambar 2.16) : Pada generator berbeban : E a = V Φ + I a (R a + jx s ) Sehingga : I L = I a E a = V Φ + I L (R a + jx s ). (2.39) cnφ = V Φ + I L Z s cni f = V Φ + I L Z s I f =. (2.40) Karena nilai c, n, V Φ, dan Z s konstan, maka : cn = k 1 V Φ = k 2 Z s = k 3 Sehingga diperoleh : I f =. (2.41) Jika,

Maka, I f =. (2.42) Gambar 2.20 berikut menunjukkan karakteristik pengaturan generator sinkron untuk faktor daya cosφ induktif (lagging), kapasitif (leading) dan unity. Gambar 2.20 Karakteristik Pengaturan Generator 2.4.7 Karakteristik Faktor Daya Nol dan Segitiga Potier Karakteristik ZPFC dari sebuah alternator adalah penggambaran hubungan antara tegangan terminal jangkar dan arus medannya untuk nilai nilai arus jangkar dan kecepatan yang konstan. ZPFC dalam hubungannya dengan OCC adalah sangat penting untuk menentukan reaktansi bocor jangkar X L dan arus reaksi jangkar F a. Untuk sebuah alternator, ZPFC ditentukan sebagai berikut : a.) Mesin sinkron diputar pada kecepatan nominal oleh prime mover b.) Beban induktif murni dihubungkan pada terminal jangkar dan arus medan dinaikkan sampai arus jangkar beban penuh mengalir.

c.) Beban divariasikan secara bertahap dan arus medan dalam setiap tahapnya diatur untuk menjaga arus jangkar beban penuh. Gambar dari tegangan terminal jangkar dan arus medan yang dicatat pada setiap tahapan memberikan karakteristik faktor daya nol (ZPFC) pada arus jangkar beban penuh. Gambar 2.21 (a) Diagram Phasor alternator rotor silinder pada ZPF overexcited (b) OCC, ZPFC dan segitiga potier Dari gambar dapat dilihat bahwa tegangan terminal V t dan tegangan celah udara (air-gap) E r hampir sefasa dan dapat diperlihatkan lewat persamaan aljabar : V t = E r I a X L. (2.43) Total arus rotor (F r ) dan arus medan (F f ) juga hampir sefasa dan dihubungkan melalui persamaan sederhana :

F f = F r + F a. (2.44) Anggap bahwa OCC memberikan hubungan yang tepat antara tegangan air-gap Er dan total mmf F r dalam keadaan berbeban. Juga anggap bahwa reaktansi bocor jangkar adalah konstan. Kurva OCC dan ZPFC diperlihatkan dalam gambar 2.22(b). Untuk eksitasi medan F f atau arus medan I f adalah OP dan tegangan hubungan terbuka adalah PK. Dengan eksitasi medan dan kecepatan yang dijaga konstan, terminal jangkar terhubung dengan beban induktif murni yang dialiri oleh arus jangkar beban penuh. Suatu pengujian dari gambar (a) dan (b) menunjukkan bahwa dalam keadaan berbeban faktor daya nol, total eksitasi F r adalah OF yang bernilai lebih kecil daripada OP (F f ) sebesar F a. Sesuai dengan resultan OF, tegangan air-gap E r adalah FC dan jika CB = I a X L diambil dari E r = FC, tegangan terminal FB = PA = V t dapat ditentukan. Karena ZPFC adalah gambar hubungan antara tegangan terminal dan arus medan I f atau F f yang tidak berubah dari nilai tanpa bebannya OP, titik A terdapat pada ZPFC. Segitiga ABC disebut segitiga potier. Dimana, CB = I a X L dan BA = F a. Dari segitiga potier, reaktansi bocor jangkar X L dan arus jangkar dapat ditentukan. Jika tahanan jangkar dianggap nol dan arus jangkar dijaga konstan, maka ukuran segitiga potier konstan dan dapat diletakkan paralel terhadap dirinya sendiri dnegan sudut C tetap pada OCC dan sudut A pada ZPFC. Oleh karena itu, ZPFC memiliki bentuk yang sama dengan OCC dan diletakkan secara vertikal

sebesar I a X L dan secara horizontal ke kanan sebesar reaksi jangkar F a atau arus medan I f.