Y

dokumen-dokumen yang mirip
A. DEPOSITO BERJANGKA

tutinonka.wordpress.com

GUBERNUR BANK INDONESIA,

C. Sistem Kliring Berdasarkan system penyelenggaraannya, kliring dapat menggunakan :

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

A. PENGERTIAN TABUNGAN

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 12/19/PBI/2010 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM PADA BANK INDONESIA DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/15/PBI/2004 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM PADA BANK INDONESIA DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING

Anita Asnawi, S.Sos., MM.

SALINAN PERATURAN LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN NOMOR 1/PLPS/2005 TENTANG PROGRAM PENJAMINAN SIMPANAN DEWAN KOMISIONER LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

LAPORAN KEUANGAN BANK

1. AKUNTANSI PENANAMAN DANA

-2- II. PASAL DEMI PASAL Pasal I Angka 1 Pasal 1 Angka 2 Pasal 3 Huruf a Perhitungan pemenuhan GWM Primer secara harian dilakukan berdasarkan posisi s

BAB II LANDASAN TEORI

Lampiran 8 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001

BAB VI JASA-JASA BANK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/12/PBI/2006 TENTANG LAPORAN BERKALA BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA

BAB II KONDISI PERUSAHAAN. 2.1 Pengertian, Fungsi, Jenis, Peran dan Usaha Bank

Pertemuan ke V : Produk Dana

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 19 /PBI/2008 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM PADA BANK INDONESIA DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING

2 Mengingat : Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 66, Tambahan Lembaran Nega

PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) NERACA PER 30 SEPTEMBER 2003 & 2002

NERACA PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN PER 30 SEPTEMBER 2007 DAN 2006 (Dalam Jutaan Rupiah)

M 1 KARTIKA SARI. Universitas Gunadarma. Tujuan. MATERI AKPER 1 Hal -1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 26 /PBI/2008 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK BAGI BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN 47

BAB II KAJIAN PUSTAKA. yang diharapkan secara efektif dan efisien, selain itu prosedur juga dapat

KONSOLIDASI POS-POS. Des 2005 Des 2004 Des 2005 Des 2004 AKTIVA 41,215 28,657

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

SUMBER SUMBER DANA BANK

S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN KONVENSIONAL DI INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 2/ 7 /PBI/2000 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM YANG MELAKUKAN KEGIATAN USAHA

AKTIVITAS DAN PRODUK BANK

BAB II LANDASAN TEORI. Pengertian bank menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10

GIRO. Alat atau sarana yang digunakan dalam lalu lintas pembayaran giral, yaitu surat berharga atau surat dagang seperti: 1.

PEDOMAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN DANA PENSIUN

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 16 /PBI/2012 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK BAGI BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang dan meminjamkan

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 15/16/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM SYARIAH DAN UNIT USAHA SYARIAH

BAB I PENDAHULUAN. bank lainnya. Beberapa jenis jasa lain yang ditawarkan oleh bank menurut

Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA

2017, No Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing bagi Bank Umum Konvensional; Mengingat : Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (L

Sumber-sumber Dana Bank

NERACA PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN PER 31 MARET 2007 (Dalam Jutaan Rupiah)

BAB II LANDASAN TEORI. sebagai lembaga keuangan yang kegiatan nya tidak terlepas dari transaksi

BAB I PENDAHULUAN. campur tangan pemerintah atau pihak lain. Salah satu tugas Bank Indonesia adalah

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II LANDASAN TEORI

PEMBAHASAN KASUS SUMBER DANA BANK

2 Penyesuaian dilakukan dengan memasukkan surat-surat berharga (SSB) yang diterbitkan bank dalam perhitungan Loan to Deposit Ratio (LDR) dalam kebijak

BAB II LANDASAN TEORI. Kasmir (2008), mendefinisikan bank sebagai lembaga keuangan yang kegiatan

BAB II LANDASAN TEORI tentang perbankan, adalah sebagai berikut :

Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Neraca STANDARD CHARTERED BANK WISMA STANDARD CHARTERED,.JL.SUDIRMAN KAV 33 A, Telp.

BAB II LANDASAN TEORI. perusahaan yang mengajak orang lain untuk membeli barang dan jasa yang ditawarkan

- 2 - OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 3/ 17 /PBI/2001 TENTANG LAPORAN BERKALA BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA,

Laporan Keuangan Triwulanan 30 September 2009

BAB II LANDASAN TEORI. menerbitkan promes atau yang dikenal dengan nama Banknote (uang kertas). Kata

NERACA PER 31 MARET 2005 & 2004 (Dalam Jutaan Rupiah) NO POS - POS

RINGKASAN EKSEKUTIF : : :

PERTEMUAN KEDUA. Rekonsiliasi Bank

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/24/PBI/2009 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK SYARIAH BAGI BANK UMUM SYARIAH

NERACA KONSOLIDASI Tanggal 30 Juni 2002 dan 2001 ( Dalam jutaan rupiah )

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 3 /PBI/2011 TENTANG PENETAPAN STATUS DAN TINDAK LANJUT PENGAWASAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

Sistem Informasi Debitur. Peraturan Bank Indonesia No. 7/8/PBI/ Januari 2005 MDC

LAPORAN KEUANGAN (Materi 2)

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

AKUNTANSI KLIRING M 5 KARTIKA SARI. Universitas Gunadarma. PENGERTIAN KLIRING 28/10/2015

CAKUPAN DATA. AKSES DATA Data Antar Bank Aktiva dapat di akses dalam website BI :

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 7/18/PBI/2005 TENTANG SISTEM KLIRING NASIONAL BANK INDONESIA GUBERNUR BANK INDONESIA,

LAPORAN KEUANGAN BANK

Tinjauan Atas Laporan Arus Kas Pada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Kantor Cabang Purwakarta

No. 6/7/DPM Jakarta, 16 Februari 2004 November 2003 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK DI INDONESIA. Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Umum

SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI INDONESIA. Perihal : Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Perkreditan Rakyat

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 1/11/PBI/1999

Akuntansi Modal Bank K E L O M P O K 4 : H A F I L I A P O N G G O H O N G S U S A N T I A S S A S A R W I N D A S A R I R I K I K U M A U N A N G

BAB II LANDASAN TEORI. memudahkan pengelolaan perusahaan. besar dan buku pembantu, serta laporan.

BAB I PENDAHULUAN. Bank didefinisikan sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah

MANAJEMEN PERBANKAN. By : Angga Hapsila, SE.MM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan

PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) NERACA PER 31 DESEMBER 2003 & 2002

2017, No menetapkan Peraturan Bank Indonesia tentang Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek bagi Bank Umum Konvensional; Mengingat : 1. Undang-Undang

Huruf b. Contoh perhitungan GWM Sekunder dalam Rupiah:

ANALISA Bank dan Lembaga Keuangan II

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/ 12 /PBI/2016 TENTANG OPERASI MONETER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. 03 LAPORAN ARUS KAS

PERHITUNGAN KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM. PT BANK BALI Tbk ( Induk Perusahaan ) Per 31 Maret 2002 dan 2001.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

No.11/ 19 /DKBU Jakarta, 31 Juli 2009 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA BANK PERKREDITAN RAKYAT DI INDONESIA

BAB II LANDASAN TEORI. dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangkah meningkatkan

AKUNTANSI KEWAJIBAN LANCAR DAN PENGGAJIAN

Transkripsi:

13333342534164673458475894Y68 76904125467125673416713542561 MODUL 43561435613425643521435612E51 25645176457836258567926472649 78923787484678234178451547612 54671547812564895758937590327 59357198648176572453167546762 35856782364591386581356183657 83646125671546512847612589172 59857832623678625786348164754 21725661745162537812648171451 56341562342514354126235415467 51264512764127824678356538935 67392671974817647215167345512 63674782365893257235872383672 2016 8765387255U9045IY9045765897689 45378634785823747815465126745

MODUL NUR AFNI YUNITA, SE.,M.Si, Ak AKUNTANSI PERBANKAN 2016

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan modul ini dengan baik dan lancar. Modul ini merupakan bentuk tugas tentang mata kuliah Akuntansi Perbankan sebagai salah satu bahan ajar mata kuliah Akuntansi Perbankan prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh. Modul ini membahas mengenai Perbankan, Meski dalam penyusunan modul ini, penulis telah berusaha dengan maksimal, namun penulis masih merasa memiliki kekurangan dalam modul ini, maka dari itu penulis meminta kritik dan saran pembaca modul ini. Saya berharap modul ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Lhokseumawe, 17 May 2016 ( Penulis ) Jurusan Akuntansi FEB Universitas Malikussaleh i

[Type the document title] Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii BAB 1 KONSEP DASAR AKUNTANSI... 1 Definisi Akuntansi... 1 Kerangka Konseptual Akuntansi... 1 Persamaan Dasar Akuntansi Perbankan... 2 Laporan Keuangan Bank... 3 Penjelasan Pos-Pos Laporan Keuangan Bank... 5 Proses Akuntansi Bank... 5 BAB 2 KAS DAN REKENING GIRO BANK INDONESIA DAN AKUNTANSI KLIRING... 8 Kas... 8 Petty Cash... 9 Giro Bank Indonesia... 9 Giro Wajib Minimum Bank Indonesia (Reserve Requirment)... 10 Kriteria Pemenuhan Giro Wajib Minimum... 10 Jasa Giro Bank Indonesia... 11 Akuntansi Kliring... 13 BAB 3 SIMPANAN... 19 Tabungan... 19 Penarikan Tabungan... 19 Bunga Tabungan dan Perhitungannya... 20 Deposito Berjangka... 22 Bunga Deposito Berjangka... 22 Modul Akuntansi Perbankan Jurusan Akuntansi FEB UNIMAL Page ii

[Type the document title] Pencatatan Deposito Jatuh Tempo... 23 Perpanjangan Deposito Berjangka... 23 Penarikan Deposito Berjangka Sebelum Jatuh Tempo... 24 BAB 4 PENJAMINAN SIMPANAN... 25 Simpanan Yang Dijamin... 25 Kewajiban Bank Peserta Penjaminan... 27 Penghitungan, Pembayaran, Premi, dan Akuntansinya... 27 BAB 5 PINJAMAN YANG DITERIMA... 34 Pencatatan Pinjaman Yang Diterima Dari Direktur... 34 Pinjaman Two Step Load... 35 Pinjaman Obligasi... 36 BAB 6 AKUNTANSI MODAL BANK... 38 Klasifikasi Modal Bank... 38 Rasio Kecukupan Modal Bank Perkreditan... 42 Tata Cara Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum... 45 BAB 7 AKTIVA TETAP... 46 Perolehan Aktiva Tetap... 46 Pencataan Biaya Untuk Menggunakan Aktiva Tetap... 52 Depresiasi Aktiva Tetap... 53 Pengeluaran Untuk Memperoleh Aktiva Tetap... 56 BAB 8 INVESTASI JANGKA PENDEK... 57 Pengertian Investasi Jangka Pendek... 57 Modul Akuntansi Perbankan Jurusan Akuntansi FEB UNIMAL Page ii

[Type the document title] Investasi Jangka Pendek: Obligasi dan Saham... 57 Penilaian Investasi Jangka Pendek Untuk Sekuritas Berisiko... 60 Seritifikat Bank Indonesia... 61 BAB 9 INVESTASI PADA SURAT UTANG NEGARA... 67 Jenis Surat Utang Negara... 67 Cara Pembelian Surat Utang Negara... 67 Penentuan Pemenang Lelang SUN... 70 Perlakuan Akuntansi dan Perhitungan Harga Setelmen Hasil Lelang SUN... 71 BAB 10 AKUNTANSI KREDIT YANG DIBERIKAN... 74 Akuntansi Kredit Yang Diberikan... 74 Jenis Kredit yang Diberikan... 74 Pembungaan Kredit... 76 Perlakuan Akuntansi Bunga Kredit... 80 Pos-Pos Pengecualian Dalam Perhitungan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)... 80 Pelampauan BMPK... 81 Pelanggaran BMPK... 82 Pelaporan Akuntansi Pelanggaran BMPK... 83 BAB 11 JASA PENGIRIMAN UANG (TRANSFER) DAN INKASO... 84 Pengertian Transfer... 84 Jenis Transfer... 84 Kegiatan Pengiriman Uang Dan Prinsip Mengenal Modul Akuntansi Perbankan Jurusan Akuntansi FEB UNIMAL Page ii

[Type the document title] Nasabah (Know Your Customer/KYC)... 85 Akuntansi Transfer Keluar... 87 Akuntansi Transfer Masuk... 88 Pengertian Inkaso... 89 Jenis Inkaso... 89 Akuntansi Inkaso Keluar... 90 BAB 12 KARTU PLASTIK DAN BANK GARANSI... 92 Definisi Kartu Plastik... 92 Jenis Kartu Plastik Berdasarkan Fungsinya... 92 Jenis Kartu Plastik Menurut Wilayah Berlakunya... 93 Mekanisme Transaksi Kartu Kredit... 94 Pengertian Bank Garansi... 96 Jenis Bank Garansi... 97 Perlakuan Akuntansi Bank Garansi... 97 BAB 13 AKUNTANSI JASA LAINNYA... 102 Pengertian Payment Point... 102 Safe Deposit Box... 103 Rupiah Travellers Cheque (RTC)... 104 Daftar Pustaka... 109 Modul Akuntansi Perbankan Jurusan Akuntansi FEB UNIMAL Page ii

BAB I KONSEP DASAR AKUNTANSI 1.1 DEFINISI AKUNTANSI Akuntansi dapat didefinisikan sebagi seni, ilmu, system informasi yang didalamnya menyangkut pencatatan, pengklasifikasian, dan pengikhtisaran dengan cara sepatutnya dan dalam satuan uang atas transaksi dan kejadian yang setidak-tidaknya sebagaian mempunyai sifat keuangan serta adanya penginterprestasian hasil pencatatan dan disajikan dalam laporan keuangan. 1.2 KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI Kerangka konseptual akuntansi adalah suatu system pertalian yang erat (koheren) dari tujuan dan konsep konsep dasar yang saling berhubungan dan saling mengarahkan terciptanya prinsip-prinsip yang konsisten serta mengambarkan sifat,fungsi, dan keterbatasan akuntansi beserta laporan keuangan. Kerangka konseptual akuntansi berfungsi sebagai perumusan prinsip-prinsip akuntansi yang dapat menjadi acuan bagi para pemakai informasi akuntansi dan selanjutnya hal ini akan mendasari praktik akuntansi. Dengan kerangka konseptual juga akan dihasilkan tujuan dan dasar-dasar praktik akuntansi dan pelaporan keuangan. Dengan demikian hal ini akan memudahkan para pemakai dalam memahami tujuan, isi, dan karakteristik informasi yang dihasilkan oleh akuntansi. Kerangka konseptual akuntansi dibangun dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama dalah tujuan pokok akuntansi, tingkatan kedua adalah konsep dasar pelaporan yang terdiri dari karakteristik informasi dan elemen laporan keuangan. Tujuan pokok dan konsep dasar pelaporan tersebut selanjutnya digunakan pada tingkatan ketiga yaitu menyusun pedoman pelaksanaan. Pedoman pelaksanaan ini harus memperhatikan asumsi, prinsip dan kendala. Secara singkat kerangka konseptual dapat digambarkan sebagai berikut: JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 1

Level Pertama Tujuan Pokok Akuntansi Tujuan Level Kedua Konsep Dasar Pelaporan Karakteristik Mutu Informasi Akuntansi Elemen Laporan Keuangan Level Ketiga Pedoman Pelaksanaan Pengakuan dan Pengukuran Pelaporan Asumsi Prinsip Kendala Tujuan pokok akuntansi adalah memberikan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan bagi para pemakainya. Informasi tersebut biasanya disampaikan melalui laporan keuangan. Konsep dasar dari pelaporan merupakan penguhubung antara pedoman pelaksanaan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam konsep ini harus mampu menjelaskan karakteristik atau mutu informasi dan elemen elemen yang disajikan dalam laporan keuangan sehingga fungsi akuntansi sebagai penyedia jasa informasi dapat menentukan: kepada siapa informasi tersebut ditunjukan tipe-tipe informasi yang dibutuhkan, dan bagaimanakah karakteristik informasi yang dibutuhkan. Dengan demikian tujuan untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak dapat dipenuhi. 1.3 PERSAMAAN DASAR AKUNTANSI PERBANKAN Persamaan dasar akuntansi dibangun pemahaman antara hak dan kewajiban. Hak merupakan kekayaan atau aktiva atau asset. Hak ini ada karena telah timbul kewajiban. Oleh karena itu setiap pertambahan kewajiban bank, harus diikuti peningkatan hak atau asset. Secara umum persamaannya adalah: JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 2

HAK = KEWAJIBAN AKTIVA = PASIVA Kewajiban bank terdiri dari kewajiban terhadap pihak eksternal dan kewajiban terhadap pihak internal. Kewajiban kepada pihak eksternal adalah kewajiban kepada kreditur atau pemberi dana atau deposan. Sedangkan kewajiban terhadap internal adalah kewajiban kepada pemilik modal. Dengan demikian persamaan dapat diperluas menjadi: AKTIVA = HUTANG + MODAL Bila bank melakukan aktivitas, akan memperoleh pendapatan dan mengeluarkan biaya. Selisih pendapatan dengan biaya merupakan laba bank. Laba bank merupakan komponen modal bank. Untuk itu persamaannya menjadi: AKTIVA = HUTANG + MODAL + PENDAPATAN - BIAYA ATAU AKTIVA + BIAYA = HUTANG + MODAL + PENDAPATAN 1.4 LAPORAN KEUANGAN BANK a. Jenis Laporan Keuangan Bank Bentuk laporan pertanggung jawaban pimpinan perusahaan adalah berupa ikhtisar keuangan yang biasanya dari: Neraca, perhitungan laba rugi, laba ditahan, perubahan posisi keuangan. Laporan keuangan dalam perusahaan bank, laporan keuangannya sama dengan laporan keuangan perusahaan lainnya. Ketiga jenis laporan keuangan yang diwajibkan oleh prinsip akuntansi dan seluruh pihak yan berkepentingan dengan bank dapat mengetahui profil keuangan bank yang bersangkutan adalah : JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 3

1. Neraca bank : gambaran posisi keuangan suatu bank pada suatu saat tertentu. 2. Ikhtisar laba rugi : hasil kegiatan atau operasional suatu bank selama suatu periode tertentu. 3. Ikhtisar perubahan posisi keuangan: memperlihatkan dari mana sumber pendanaan bank dan kemana saja dana yang telah diserapnya disalurkan. 4. Laporan Komitmen dan Kontinjensi, memperlihatkan komitmen bank dan kontinjensi bank dimasa yang akan datang. Hubungan diantara laporan keuangan dari ketiga laporan diatas : Penyaluran Dana - Uang tunai - Penempatan dana pada Bank lain - Kredit - Investasi - Lainnya Sumber Dana - Dari masyarakat - Dari Bank lain - Dari pemegang saham Jasa Yg Ditawarkan Bank Ikhtisar Laba Rugi Bank Kegiatan Bank Pendapatan - Pendapatan bunga - Pendapatan komisi - Pendapatan lain Biaya - Biaya buanga - Biaya kantor (overhead) - Biaya personalia b. Sifat Dan Keterbatasan Laporan Keuangan Laporan keuangan yang telah disusun dan disajikan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku memiliki sifat dan keterbatasan yaitu : 1. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu kejadian yang telah lewat. 2. Laporan keuangan bersifat umum dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu. 3. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidak pastian. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 4

4. Laporan keuangan yang menggunakan istilah-istilah teknis. Sumber dana pembuatan laporan keuangan bank adalah SAK dan PSAK No. 31 yang merupakn aplikasi dibidang perbankan. 1.5 PENJELASAN POS-POS LAPORAN KEUANGAN BANK Laporan keuangan yang disajikan oleh suatu bank terdiri dari : 1. Neraca, harus disusun secara sistematis sehingga dapat memberikan gambaran mengenai posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu, maka dianut prinsip prinsip pelaporan sebagaimana disebutkan dibawah ini : a. Pemisahan pos-pos efektif dan administrasi b. Prioritas valuta asing dan rupiah c. Prioritas antarbank dan bukan antarbank d. Rekening admistrasi 2. Perhitungan laba rugi bank selama suatu periode tertentu 3. Ikhtisar perubahan posisi keuangan 4. Catatan yang diperlukan 1.6 PROSES AKUNTANSI BANK Pada dasarnya proses akuntansi bank sama dengan akuntansi umum dalam akuntansi bank banyak ditemukan buku buku pembantu yang semuanya ditujukan untuk mencatat dan mengikuti arus data keuangan atas seluruh transaksi yang telah terjadi dalam bank baik transaksi intern maupun ekstern volume transaksi yang banyak ini harus diproses pada hari yang sama untuk disajikan dan dijabarkan dalam bentuk laporan keuangan harian, neraca dan laba rugi kepada manajemen. Proses akuntansi bank untuk memiliki volume transaksi besar ini dapat dilakukan secara manual ataupun dengan komputerisasi. Perbedaan menyolok dari kedua proses tersebut adalah kemampuan, kecepatan dan kecermatan pemrosesan data akuntansi tersebut dapat disajikan di bawah ini. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 5

1. Proses Akuntansi Bank Secara Manual Akuntansi keuangan bank yang dikerjakan secara manual banyak mempergunakan buku buku pembantu yang harus dipelihara setiap hari, prosedur pembukuan menjadi sangat panjang dan memerlukan banyak kertas dan tempat untuk menyimpan semua arsip. Prosedur pembukuannya dapat dijabarkan sebagai berikut : Transaksi Dokumen Pencatatan Harian Jurnal Jurnal Per Individu Buku Harian Kartu Nasabah Buku Besar = Lap. Keu Harian Laporan Keuangan Bulanan 2. Proses Akuntansi Bank Dengan Komputerisasi Dalam pengolahan transaksi bank dengan komputerisasi seluruh proses kegiatan pencatatan mulai dari buku harian hingga buku besar dan laporan keuangan (kecuali catatan atas laporan keuangan) dikerjakan oleh suatu unit yaitu komputer. Komputer yang akan mengolah semua data bisnis secara tepat, cermat dan lengkap. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 6

Pencatatan oleh satu pihak, yaitu komputer bukan berarti melanggar system internal control dalam bank yang harus dipelihara secara mutlak oleh bank. berikut ini penjabaran proses akuntansi bank dan komputerisasi. Dokumen Key In Transaksi Printer On Line Processing Pengolahan Data secara Elektronis On Request Reports Processed Reports Daftar Transaksi Harian Daftar Saldo Nasabah Neraca & L / R Harian Ad. Hoc Reports Perbedaan antara proses akuntansi secara manual dan komputerisasi manual : a. Semua pekerjaan mulai dari proses pencatatan hingga pengikhtisaran dilakukan oleh tangan manusia. b. Unsur manusia memegang peranan penting dalam menjalankan proses akuntansi. c. Kecermatan dan ketepatan waktu dalam mencatat data keuangan dan penyajian laporan keuangan merupakan issue yang kritis. d. Perlu pemisahan antara petugas yang mempersiapkan buku harian, jurnal, dan buku besar. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 7

BAB II KAS DAN REKENING GIRO BANK INDONESIA DAN AKUNTANSI KLIRING 2.1 KAS Kas adalah mata uang kertas dan logam baik dalam valuta rupiah maupun valuta asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yag sah. Termasuk dalam kas adalah mata uang rupiah yang ditarik dari peredaran dan masih dalam masa tenggang untuk penukarannya kepada bank Indonesia. Dalam pengertian kas ini tidak termasuk commemorative coin, emas batangan dan mata uang emas, serta valuta asing yang tidak berlaku lagi. Kas perlu diatur agar tidak terjadi kekurangan dalam memenuhi kewajiban bank, dan tidak berlebihan. Kas yang berlebihan akan menimbulkan biaya opportunity. Oleh karena itu agar bank bisa mengendalikan kas, perlu adanya informasi mengenai posisi atau saldo kas. Perubahan posisi saldo kas di bank umumnya disebabkan oleh: a. Penyetoran dan penarikan tunai oleh nasabah. Untuk transaksi ini, nasabah bisa melakukan penyetoran, pengambilan tabungan, penguangan cek, penerimaan permohonan kiriman uang, penerimaan kiriman uang, penerimaan pembukuan deposito, pembayaran deposito, dan sebagainya. b. Penyetoran kepada atau penarikan dari rekening bank yang bersangkutan di Bank Indonesia. c. Penggunaan untuk transaksi intern bank, misalnya untuk dana kas kecil, pembayaran biaya-biaya operasional, biaya gaji, dan sebagainya. Akuntansi kas akan berkaitan dengan transaksi tersebut, pencatatannya sebesar yang diterima atau yang dibayarkan. Kas suatu bank tidak boleh bersaldo kredit sebab akan menganggu likuiditas. Saldo yang dibolehkan minimum sebesar Rp.0. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 8

2.2 PETTY CASH Petty cash adalah dana khusus yang disediakan untuk membayar pengeluaranpengeluaran yang jumlahnya relatif kecil. Pengeluaran-pengeluaran yang relatif kecil ini sebagian besar terjadi di internal bank dan perlu dibukukan tersendiri dalam rekening dana kas kecil. Pencatatan petty cash ini ada dua sistem yaitu: a. Sistem Dana Tetap (Imprest Fund System) Transaksi dana kas kecil dapat meliputi pembentukan dana kas kecil, pemakaian dana kas kecil, dan pengisian dana kas kecil. Dalam sistem ini pada saat pembentukan kas kecil, bank akan mencatat debit dana kas kecil dan selanjutnya pemakaian kas kecil tidak dijurnal, tapi hanya diarsip sehingga saldo dana kas kecil akan tetap bila arsip tersebut diperhitungkan. Jadi yang berubah komposisi kasnya, karena komposisi kasnya menjadi uang tunai dan arsip yang bernilai untuk ditukarkan pada saat pengisian kembali. Jumlah uang berkurang tetapi bukti pemakaiannya bertambah sehingga secara absolut tetap. Pada saat pengisian kembali, bank akan mendebet biaya-biaya yang telah dikeluarkan dan mengkredit rekening kas. b. Sistem Dana Berfluktuasi (Fluctuating System) Dalam sistem ini pada saat pengisian kas kecil, bank akan mendebet dana kas kecil dan mengkredit rekening kas. Pada saat pemakaian kas kecil akan didebet biaya-biaya/hutang bersangkutan yang dikeluarkan dan mengkredit rekening dana kas kecil. Sedangkan pada saat pengisian kembali berarti akan menambah dana kas kecil yang belum dipakai dengan cara mendebet rekening dana kas kecil dan mengkredit rekening kas. 2.3 GIRO BANK INDONESIA Giro Bank Indonesia meruapakan rekening giro milik Bank Umum/Komersial dalam valuta asing maupun valuta rupiah di Bank Indonesia. Dana pad agiro BI merupakan penyediaan likuiditas. Dengan Giro BI, bank dapat membiayai transaksi antara cabang maupun antarbank melalui penyelesaian kliring dan JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 9

transfer. Di samping itu dapat digunakan untuk membayar penarikan deposito yang relatif besar, pemberian kredit, dan sebagainya. Mutasi giro BI semakin sering dilakukan semakin banyak transaksi antara bank atau antarcabang. Namun demikian pada setiap hari saldo harus dapat memenuhi ketentuan BI mengenai Giro Wajib Minimum (GWM). 2.4 GIRO WAJIB MINIMUM BANK INDONESIA (Reserve Requirment) Setiap bank wajib memelihara Rekening Giro Rupiah pada Bank Indonesia, bahkan pada bank devisa selain wajib memelihara Rekening Giro Rupiah juga wajib memelihara Rekening Giro Valas pada Bank Indonesia. Tata cara pembukuan, penyetoran, penarikan, dan penutupan Rekening Giro Rupiah dan Rekening Giro Valas Bank ditetapkan berdasarkan ketentuan BI yang berlaku tentang hubungan rekening giro antara BI dengan pihak ekstern. Giro Wajib Minimum (statutory reserve), atau yang untuk selanjtunya disebut GWM, adalah simpanan minimum yang harus dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening giro pada BI yang besarnya ditetapkan oleh BI sebesar persentase tertentu dari dana pihak ketiga. Dana pihak ketiga bank, untuk selanjutnya disebut DPK, adalah kewajiban bank kepada penduduk dan bukan penduduk dalam rupiah dan valuta asing. 2.5 KRITERIA PEMENUHAN GIRO WAJIB MINIMUM 1. GWM dalam rupiah ditetapkan sebesar 5% dari DPK dalam rupiah. GWM dalam rupiah sebesar 5% wajib dipenuhi oleh seluruh bank tanpa memeprhatikan jumlah DPK dalam rupiah yang dimiliki. 2. Selain memiliki kriteria 1, maka bagi: a. Bank yang memiliki DPK dalam rupiah lebih besar dari Rp. 1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah) dampai dengan Rp. 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah), wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah sebesar 1% dari DPK dalam rupiah. b. Bank yang memiliki DPK dalam rupiah lebih besar dari 10.000.000.000.000,00 (sepuluh triliun rupiah) sampai dengan JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 10

50.000.000.000.000,00 (lima puluh triliun rupiah), wajib memelihara GWM dalam rupiah sebesar 2% dari DPK dalam rupiah. c. Bank yang memiliki DPK dalam rupiah sampai dengan 50.000.000.000.000,00 (lima puluh triliun rupiah), wajib memelihara tambahan GWM dalam rupiah sebesar 3% dari DPK dalam rupiah. d. Bank yang memiliki DPK dalam rupiah sampai dengan 10.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah), tidak dikenakan kewajiban tambahan GWM sebagaimana dimaksud poin a, b, dan c. 3. Bahwa pemenuhan GWM sebesar 5% ditambah persentase tertentu (pada poin 2a, 2b, dan 25) maka masih perlu ditambah persentase tambahan GWM terkait dengan posisi Loan to Deposit Ratio suatu bank dengan perincian sebagai berikut: LDR bank yang berada di atas 90% akan dikenakan tambahan sebesar 0%. LDR yang mencapai 75-90% akan dikenakan tambahan sebesar 1%. LDR yang mencapai 60-75% dikenakan tambahan sebesar 2%. LDR 50-60% akan dikenakan tambahan 3%. LDR 40-50% dikenakan tambahan 4%, dan LDR kurang dari 40% akan dikenakan tambahan 5%. 2.6 JASA GIRO BANK INDONESIA 1. Persentase Jasa Giro a. Sesuai dengan Peraturan BI Nomor 6/15/PBI/2004 tentang Girwo Wajib Minimum Bank Umum pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing sebagaimna telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/49/PBI/2005, BI memberikan jasa giro sebesar 6,5% per tahun terhadap bagian saldo Rekening Giro Rupiah Bank yang diperuntukkan untuk pemenuhan kewajiban memelihara tambahan GWM dalam rupiah. b. Persentase jasa giro tersebut dalam huruf a merupakan tingkat bunga efektif tahunan (effective annual rate) yang ditentukan berdasarkan JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 11

periode compunding harian selama 360 hari, dengan rumus sebagai berikut: Tingkat bunga tahunan Tingkat bunga efektif tahunan = (1 + ( )) 360 hari 1 360 hari Dengan demikian, jasa giro yang diberikan terhadap bagian saldo Rekening Giro Rupiah Bank yang diperuntukkan untuk pemenuhan kewajiban memelihara tambahan GWM dalam rupiah adalah sebesar 0,0175% per hari. 2. Perhitungan Jasa Giro a. Jasa giro dihitung untuk setiap hari kerja berdasarkan saldo Rekening Giro Rupiah Bank yang tercatat dan diperoleh dari sistem akunting BI. Pengkreditan jasa giro pada Rekening Giro Rupiah Bank oleh BI, dilakukan sebagai berikut: 1) Tanggal 8 bagi jasa giro periode tanggal 1 dampai dengan tanggal 7 bulan yang sama; 2) Tanggal 16 bagi jasa giro periode tanggal 8 sampai dengan tanggal 15 bulan yang sama; 3) Tanggal 24 bagi jasa giro periode tanggal 16 dampai dengan tanggal 23 bulan yang sama; 4) Tanggal 1 bulan berikutnya bagi jasa giro periode tanggal 24 sampai dengan tanggal akhir bulan sebelumnya. b. Dalam hal tanggal-tanggal untuk pengkreditan jasa giro oleh BI jatuh pada hari libur, maka pengkreditan saldo Rekening Giro Bank dilakukan oleh BI pada hari kerja berikutnya. c. Dalam hal terjadi kekurangan atau kelebihan dalam pengkreditan yang terkait dengan pemberian jasa giro oleh BI, BI dapat langsung mengkredit atau mendebet rekening giro bank yang bersangkutan. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 12

2.7 AKUNTANSI KLIRING 2.7.1 Pengertian Kliring Kliring merupakan transaksi lalu lintas pembayaran yang dimaksudkan untuk memudahkan penyelesaian hutang piutang antar bank yang timbul dari transaksi giral. Transaksi ini dilakukan setiap bank peserta kliring melalui perantara Bank Indonesia sebagai lembaga kliring. Kliring adalah suatu tata cara perhitungan hutang piutang dalam bentuk suratsurat dagang dan surat-surat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya dgn maksud agar penyelesaiannya dapat terselenggara dengan mudah dan aman serta memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral. 2.7.2 Warkat Kliring Warkat kliring adalah alat atau sarana yang dipakai dalam lalu lintas pembayaran giral yang diperhitungkan dalam kliring dan biasanya terdiri atas cek, bilyet giro, surat bukti penerimaan transfer dari luar kota (kiriman uang), wesel bank untuk transfer atau wesel unjuk, nota debet atau kredit dan jenis warkat lain yg telah disetujui. Warkat yang dapat dikliringkan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah dan bernilai nominal penuh ( seratus persen nilai nominal) serta telah jatuh tempo saat dikliringkan. 2.7.3 Jenis Warkat Kliring 1. Nota Debet Keluar : warkat yang disetorkan nasabah untuk keuntungan rekeningnya. Bank penarik akan mendebet rekening giro pada Bank Indonesia. 2. Nota Kredit Masuk : warkat yang diterima suatu bank untuk keuntungan rekening nasabah bank tsb. Bank penerima warkat akan mendebet rekening giro pada Bank Indonesia. 3. Nota Debet Masuk : warkat yang diterima suatu bank atas cek sendiri yang telah ditarik nasabahnya. Bank ini akan mengkredit rekening giro pada Bank Indonesia. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 13

4. Nota Kredit Keluar :warkat dari nasabah sendiri untuk disetorkan kepada nasabah bank lain. Disini tercipta perhubungan giro. Bank yang menyerahkan warkat kepada bank lain tsb. Akan mengkredit rekening giro pada Bank Indonesia. 2.7.4 Jenis-Jenis Kliring 1. Kliring Umum : sarana perhitungan warkat-warkat antar bank yang pelaksanaannya diatur Bank Indonesia. 2. Kliring Lokal : sarana perhitungan warkat antar bank yang berada dalam satu wilayah kliring (telah ditentukan). 3. Kliring Antar Cabang / (Interbranch Clearing): sarana perhitungan warkat antar kantor cabang suatu bank peserta yang biasanya berada dalam satu wilayah kota. Kliring ini dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh perhitungan dari suatu kantor cabang untuk kantor cabang lainnya yang bersangkutan pada kantor induk yang bersangkutan. 2.7.5 Jenis Peserta Kliring 1. Peserta kliring langsung : bank-bank yang sudah tercatat sebagai peserta dan dapat memperhitungkan warkatnya secara langsung dalam pertemuan kliring. 2. Peserta kliring tidak langsung : bank-bank yang belum tercatat sebagai peserta dan yang memperhitungkan warkatnya dengan kantor pusat atau kantor cabang lainnya yang sudah tercatat menjadi peserta kliring. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 14

2.7.6 Mekanisme Kliring PROSES PERPINDAHAN DANA Penarik Cek Mendebet Rekening Penarik Cek Penerima Cek Penyerahan Cek Bank Menyetorkan Cek utk dikliringkan Otorisasi Bank Pendebetan BANK Pengkreditan Menyetorkan warkat kliring debet keluar warkat debet masuk Kliring diatas masih manual dimana melibatkan pihak tertarik (yang menarik cek), pihak penarik (yang menerima cek), bank penarik (bank pihak penarik), bank tertarik (bank penarik cek) dan Bank Indonesia. Saat ini kliring dilakukan secara otomatisasi melalui suatu Automated Clearing House (ACH). Semua kegiatan kliring dilakukan secara on line dan fisik warkat dikirim ke Bank Sentral setelah data entry dilakukan para peserta kliring. Mekanisme suatu Automated Clearing House (ACH) dapat dijabarkan dibawah ini : JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 15

KLIRING SECARA ELEKTRONIK MELALUI Penarik Cek Menerima Cek Penerima Cek Bank Menyetorkan Cek utk dikliringkan Bank Otomatisasi Perpindahan AUTOMATED CLEARING HOUSE (ACH) On Line Clearing On Line Memantau BANK Dalam kliring secara otomatisasi melalui ACH, bank peserta kliring yang terlibat dalam transaksi kliring akan saling mengkliringkan warkat-warkatnya melalui media elektronik komputer yang on line dengan ACH. Warkat secara fisik dikirim langsung ke BI untuk pengendalian dan pemantauan kegiatan kliring ACH 2.7.7 Pemrosesan Dengan Kliring Otomasi Kliring otomasi adalah pemrosesan transaksi kliring atas seluruh cek dengan mempergunakan komputer, juga memproses seluruh pemindahan data dari satu bank ke bank yang lainnya. Kliring Otomasi terbagi atas dua yaitu: JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 16

1. Transaksi Lokal ( Intergional ) Bank penarik mempersiapkan seluruh warkat untuk dikirim ke bank tertarik. Disini bank tertarik akan memerikasa kelengkapan data, kebenaran cek, membedakan apabila ada transaksi tersebut yang berasal dari bank sendirri, kemudian menyampaikan data tersebut kepada lembaga Kliring. 2. Kliring Otomasi antar daerah, Pengolahan kliring otomasi menjadi lebih kompleks. Disini bank penarik akan menyampaikan transaksinya kepada pusat pengolahan data di lembaga kliring lokal. Transaksi disortir oleh Bank penarikdalam lokasi yang bersangkutan. Volume data yang besar akan di gabung dalam satu arsip untuk setiap lokasi, kemudian arsip dipindah ke lokasi lain untuk proses lebuh lanjut. Berikut disajikan diagram untuk kedua jenis Kliring Otomasi diatas Transaksi Kliring Otomasi Lokal Nasabah Penarik Bank Penarik Sort /Merge Processing Arsip Transaksi Lokal Bank Tertarik Nasabah Tertarik JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 17

Kliring Otomasi Antar Daerah Nasabah Penarik Bank Penarik Sort /Merge Processing Pengolahan Lokal Arsip Transaksi Lokal Pemindahan arsip gabungan untuk kliring daerah Pengolahan Luar Daerah Sort /Merge Processing Ringkasan Arsip Transaksi Tiap Bank Tertarik Nasabah Tertarik Bank Tertarik 2.7.8 Biaya Kliring Otomasi Kliring Otomasi dapat dikatakan satu jaringan yang melayani beberapa yang menjadi anggota Kliring, yang memiliki unit pengolahan data endiri dan cara penyelenggaraan kliring secara elektronik. Efisiensi biaya dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara mensortir serta menggabung kan kliring. Biaya tetap jauh melampaui biaya variabel, ketidakseimbangan inimemberikan arti bahwa volume akan menentukan rata rata biaya suatu transaksi kliring otomasi. Dan dengan demikian sistem elektronik ini faktor persaingan dengan sistem kliring manual dalam segi biaya. Biaya dalam transaksi kliring otomasi dapat ditekan jauh kebawah hingga lebih rendah dari transaksi manual apabila volume transaksi kliring otomasi sangat besar. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 18

BAB III SIMPANAN 3.6 TABUNGAN Tabungan merupakan simpanan masyarakat yang penarikannya dapat dilakukan oleh si penabung sewaktu-waktu dikehendaki. Tabungan yang dimiliki oleh bank-bank dewasa kini berbeda dengan Tabungan Pembangunan Nasional (Tabanas) beberapa tahun yang lampau. Produk tabungan yang sekarang dijual oleh bank-bank memiliki suku bunga yang relatif cukup tinggi sebagai cerminan dari adanya persaingan ketat dalam mengumpulkan dana masyarakat. Contoh: Tanggal 1 Mei 2012 Mas Rangga membuka tabungan prima pada Bank Duta Prima Semarang dengan setoran berupa uang tunai Rp. 1.000.000, wesel yang telah jatuh tempo dan telah diendos oleh Bank Maxi Cabang Cilacap sebesar Rp. 5.000.000, cek BNI Semarang Rp. 10.000.000. Inkaso dan kliring terhadap warkat tersebut dinyatakan berhasil pada tanggal 1 Mei 2012. Biaya inkaso Rp. 50.000, biaya materai untuk surat kuasa Rp. 10.000. Maka jurnal pada tanggal 1 Mei 2012 adalah: Terima Warkat Inkaso Dr. RAR. Warkat Inkaso Diterima 5.000.000 Cr. RAR. Warkat Inlaso Diterima 5.000.000 Catat ke Tabungan Dr. RAK. Cabang Cilacap 5.000.000 Dr. Giro BI 10.000.000 Dr. Kas 1.000.000 Cr. Pendapatan Inkaso 50.000 Cr. Bea Materai 10.000 Cr. Tab. Prima-Mas Rangga 15.940.000 3.7 PENARIKAN TABUNGAN Penarikan tabungan hanya bisa dilakukan secara tunai di setipa countercounter cabang bank yang bersangkutan atau dengan menggunakan alat tertentu berupa kartu ATM. Penarikan di cabang lain umumnya dibatasi maksimum plafon penarikannya, sedangkan di cabang tempat membuka tabungan bahwa JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 19

penarikan dijinkan sampai tabungan bersaldo minimal. Kartu ATM merupakan kartu tunai (cash card) yang hanya bisa digunakan untuk penarikan tunai di setiap tempat yang tersedia ATM. Penarikan di cabang lain akan dicatat pada Rekening Antar Kantor (RAK). 3.8 BUNGA TABUNGAN DAN PERHITUNGANNYA Bunga tabungan dihitung pada setiap akhir bulan dan langsung dikreditkan ke rekening tabungan. Dengan demikian bunga tabungan akan menambah saldo tabungan. Perhitungan bunga bisa dilakukan secara harian atau bulanan dengan mendasarkan pada saldo terendah, suku bunga tetap atau berubah, atau kombinasi dari kedua hal tersebut. a. Bunga diperhitungkan dengan dasar lamanya saldo mengendap dan tingkat suku bunga berubah-ubah. Bila pendekatan ini yang digunakan, lamanya waktu mengendap dihitung sejak perubahan smapai terjadi perubahan bunga. Contoh perhitungan waktu: tanggal 5/5-2012 sampai 10 Mei 2012, maka lamanya dana mengendap 10-4 = 6 hari. Di sini hari pada tanggal 5/5-2006 diperhitungkan, sedangkan tanggal 10/5-2012 tidak diperhitungkan. Untuk lebih jelasnya bisa diperhatikan kasus perhitungan bunga seperti tampak di bawah ini. Suku bunga tabungan selama Mei 2012 sebagai berikut: Tanggal Tingkat Suku Bunga Tabungan 01 Mei 2012 12% 15 Mei 2012 14% 20 Mei 2012 15% 25 Mei 2012 11% Bila diminta untuk menentukan bunga yang diperoleh Mas Rangga pada bulan Mei 2012, maka perhitungan bunganya adalah: Waktu Dana Hari Bunga Saldo Suku Bunga Jumlah Bunga Mengendap 1/5 5/5-2012 4 15.940.000 12% 21.253,33 5/5 10/5-2013 5 25.940.000 12% 43.233,33 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 20

10/5 15/5-2012 5 15.940.000 12% 26.566,67 15/5 20/5-2012 5 15.940.000 14% 30.994,44 20/5 25/5-2012 15.940.000 15% 33.208,33 25/5 31/5-2012 6 940.000 11% 1.723,43 Jumlah Pencatatan bunga dan PPh dapat ditunjukkan di bawah ini: Pencatatan Bunga Dr. Biaya Bunga 156.979,43 Cr. Tabungan Prima 156.979,43 Pencatatan Pajak 15% Dr. Tabungan Prima 23.546,92 Cr. Hutang PPh 23.546,92 Bila PPh Disetor Dr. Hutang PPh 23.546,92 Ke Kas Negara Cr. Giro Kantor Kas Negara 23.546,92 b. Perhitungan bunga berdasarkan lamanya saldo mengendap dan tingkat suku bunga tetap. Dengan menggunakan contoh sebelumnya dan tingkat suku bunga tetap 12%, maka dapat ditentukan bunga sebagai berikut: Tanggal Hari Bunga Saldo Suku Bunga Jumlah Bunga 1/5 5/5-2012 4 15.940.000 12% 21.253,33 5/5 10/5-2013 5 25.940.000 12% 43.233,33 10/5 25/5-2012 15 15.940.000 12% 79.700,00 25/5 31/5-2012 6 940.000 12% 1,880 Jumlah 146.066,66 c. Perhitungan bunga tabungan berdasarkan saldo terendah dalam bulan yang bersangkutan dengan bunga berjenjang. Saldo Terendah Dalam Bulan itu (Rp) Suku Bunga (%) 0 10.000.000 12 10.000.000 20.000.000 13 20.000.000 50.000.000 14 Lebih dari 50.000.000 15 Perhitungan bunganya adalah (31/360) x 940.000 x 12% = 9.713,33 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 21

3.9 DEPOSITO BERJANGKA Untuk membuka deposito, deposan dapat menggunakan setoran tunai, dengan cek, bilyet giro, bukti transfer masuk, wesel, atau warkat lain yang disepakati bank. Prinsipnya pada saat disetor warkat itu harus sudah efektif, artinya dapat diuangkan. Bank akan mencatat dalam rekening deposito bila waktu itu telah diuangkan. Deposito dicatat sebesar nilai nominal deposito yang tertera dalam perjanjian. Contoh: 31 Mei 2012 Reni membuka deposito berjangka di Bank Mitra Niaga Semarang dengan nominal Rp. 50.000.000, bunga 18% pa, jangka waktu 3 bulan. Untuk itu Reni menyerahkan bilyet giro atas nama Reni Rp. 20.000.000, Cek Bank Mitra Niaga Semarang yang ditarik oleh Sinta sebesar Rp. 10.000.000, transfer masu dari Bank Mitra Niaga Cabang Bandung Rp. 10.000.000 dan kekurangannya dibayar tunai. Pajak bunga 15%. Pencatatan transaksi ini adalah: Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) 31 Mei 2012 Dr. Giro Reni 20.000.000 Dr. Giro Sinta 10.000.000 Dr. RAK. Cabang Bandung 10.000.000 Dr. Kas 10.000.000 Cr. Deposito Berjangka 50.000.000 3.10 BUNGA DEPOSITO BERJANGKA Dalam perkembangan terakhir, beberapa bank memperhitungkan bunga harian untuk deposito. Ini artinya berapa haripun deposito mengendap akan diberikan bunga sebagaimana tabungan, hanya saja tetap terikat jangka waktu deposito. Perhitungan bunga yang lazim adalah minimal mengendap satu bulan. Kalau yang menjadi pedoman ini, maka untuk deposito yang dibuka pada tanggal akhir bulan bunga diperhitungkan pada akhir bulan juga walaupun tanggalnya berbeda. Keterangan Tgl Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) Bunga ke-1 30 Juni Dr. Biaya Bunga 750.000 Cr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000 Penarikan Bunga 5 Juni Dr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000 Cr. Hutang PPh 112.500 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 22

Cr. Kas/Giro 637.500 Pelimpahan Pajak 10 Juni Dr. Hutang PPh 112.500 Cr. Giro Kantor Kas Negara 112.500 Bunga Ke-2 31 Juli Dr. Biaya Bunga 750.000 Cr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000 Penarikan Bunga 5 Juli Dr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000 Cr. Hutang PPh 112.500 Cr. Kas/giro 637.500 Pelimpahan Pajak 10 Juli Dr. Hutang PPh 112.500 Cr. Giro Kantor Kas Negara 112.500 Bunga ke-3 31 Agustus Dr. Biaya Bunga 750.000 Dan Jatuh Tempo Cr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000 Perpanj. Deposito Dr. Deposito Berjangka-Reni 50.000.000 Cr. Deposito Berjangka Tlh Jth Tempo 50.000.000 Penarikan Bunga 5 Agustus Dr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000 Dan Deposito Dr.DB Berjangka Tlh Jth Tempo 50.000.000 Cr. Hutang PPh 112.500 Cr. Kas 50.637.500 Pelimpahan Pajak 10 Agustus Dr. Hutang PPh 112.500 Cr. Giro Kantor Kas Negara 112.500 3.11 PENCATATAN DEPOSITO JATUH TEMPO Pada contoh di atas dinyatakan bahwa penarikan bunga dilakukan setiap tanggal 5, dengan demikian bank akan membukukan bunga dua kali yaitu saat jatuh tempo bunga dan saat penarikan bunga. Hal ini sampai dengan jatuh tempo deposito. Oleh karena itu, penarikan deposito diasumsikan terjadi tanggal 5 juga. Pada kasus ini bank juga harus membukukan dua kali yaitu saat jatuh tempo dan saat deposito ditarik. 3.12 PERPANJANGAN DEPOSITO BERJANGKA Deposito yang telah jatuh tempo bisa diperpanjang dengan dua caa yaitu: a. Perpanjangan Otomatis (Automatic Rollover) Perpanjangan ini dilakukan karena permintaan deposan yang sudah dibuat atau diperjanjikan pada saat pembukuan deposito. Dengan demikian bank tidak perlu menghubungi deposan atau sebaliknya JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 23

deposan tidak perlu lagi menghubungi bank untuk memperpanjang deposito. b. Perpanjangan Biasa Perpanjangan ini terjadi bila ada kesepakatan antara bank dengan deposan di kemudian hari saat jatuh tempo. Perpanjangan ini bisa inisiatif deposan atau inisiatif bank (home service) untuk nasabah deposan. Kedua cara perpanjangan tersebut tidak berbeda pencatatannya. Bank akan mendebit rekening deposito lama dan mengkredit rekening deposito baru. Nomor rekening depostio dan bilyet deposito tetap sama (menggunakan yang lama). Kecuali suku bunga deposito berubah ketika terjadi perpanjangan deposito. 3.13 PENARIKAN DEPOSITO BERJANGKA SEBELUM JATUH TEMPO Lazimnya deposito ditarik setelah jatuh tempo, sebab dalam perjanjian sudah tertera jangka waktunya. Namun dalam praktik perbankan, deposan bisa saja menarik deposito yang masih outsanding. Penarikan deposito sebelum jatuh tempo dapat mengganggu likuiditas bank, sebab idealnya bank akan menyiapkan dana untuk membayarkan sesuai dengan jadwal pembayaran. Oleh karena itu bank umum (konvensional) mengenakan penalty tertentu terhadap deposna bila penarikan dilakukan sebelum jatuh tempo. Penalty deposito dicatat sebagai pendapatan lain-lain bank. Kebijakan mengenai penalty setiap bank berbeda-beda. Namun secara umum adalah: a. Penalty dihitung sekian persen tertentu dari bunga sebelum pajak. b. Penalty dihitung sekian persen tertentu dari bunga setelah pajak. c. Penalty dihitung sekian persen tertentu dari nominal deposito. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 24

BAB 4 PENJAMINAN SIMPANAN 4.1 SIMPANAN YANG DIJAMIN Simpanan yang dijamin pada bank umum konvensional (berbasis bunga) meliputi giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu. Simpanan yang dijamin tersebut merupakan simpanan yang berasal dari masyarakat, termasuk yang berasal dari bank lain. Nilai simpanan yang dijamin LPS mencakup saldo pada tanggal pencabutan izin usaha bank. Saldo dimaksud berupa: a. Pokok ditambah bunga yang telah menjadi hak nasabah, untuk simapanan yang memiliki komponen bunga; b. Nilai sekarang per tanggal pencabutan izin usaha dengan menggunakan tingkat diskonto yang tercatat pada bilyet, untuk simpanan yang memiliki komponen diskonto. Saldo yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank adalah hasil penjumlahan saldo seluruh rekening simpanan nasabah pada bank tersebut, baik rekening tunggal maupun rekening (joint account). Untuk rekening gabungan (joint account), saldo rekening yang diperhitungkan bagi suatu nasabah adalah saldo rekening gabungan tersebut yang dibagi secara prorata dengan jumlah pemilik rekening. Dalam hal nasabah memiliki rekening yang dinyatakan secara tertulis diperuntukkan bagi kepentingan pihak lain (beneficiary), maka saldo rekening tersebut diperhitungkan sebagai saldo rekening pihak lain (beneficiary) yang bersangkutan. Contoh: Ali mempunyai tabungan atas nama pribadi di Bank XYZ dengan saldo sebesar Rp.80 juta. Ali juga mempunyai rekening gabungan dengan Budi dan Cici dalam bentuk giro di Bank XYZ dengan saldo sebesar Rp. 225 juta. Selain itu, Budi mempunyai rekening tabungan atas nama pribadi di Bank XYZ dengan saldo sebesar Rp. 25 juta. Sedangkan Cici mempunyai 1 (satu) rekening tabungan atas JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 25

nama pribadi dengan saldo sebesar Rp. 65 juta dan 1 (satu) rekening tabungan untuk kepentingan anaknya yang masih kecil bernama Titi (beneficiary) dengan saldo sebesar Rp. 45 juta. Apabila Bank XYZ dicabut izin usahanya pada tahun 2008 dengan asumsi pada saat itu nilai simpanan yang dijamin per nasabah per bank paling tinggi sebesar Rp. 100 juta, maka perhitungan nilai simpanan yang dijamin untuk masingmasing nasabah tersebut adalah sebagai berikut: Pembagian Hak Saldo per Tanggal Nama Rekening Simpanan Pencabutan Izin Ali Budi Cici Ali 80 80 - - Ali, Budi, Cici 225 75 75 75 Budi 25-25 - Cici 65 - - 65 Cici qq Titi 45 - - 45 Jumlah Simpanan 440 155 100 185 Jumlah Simpanan yang Dijamin 345 100 100 145 Jumlah Simpanan yang Tidak Dijamin 95 55-40 LPS akan membayar klaim penjaminan atas simpanan yang dijamin sebesar Rp. 100 juta kepada Ali, sebesar Rp. 100 juta kepada Budi, dan sebesar Rp. 145 juta kepada Cici. Simpanan yang tidak dijamin sebesar Rp. 95 juta akan diselesaikan melalui proses likuidasi Bank XYZ. Saldo yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank adalah: a. Seluruhnya, sejak tanggal 22 September 2005 sampai dengan 21 Maret 2006; b. Paling tinggi sebesar Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah), sejak tanggal 22 Maret 2006 sampai dengan 21 September 2006; c. Paling tinggi sebesar Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), sejak tanggal 22 September 2006 sampai dengan 21 Maret 2007; d. Paling tinggi sebesar Rp. 100.000.000 (seratus jutah rupiah), sejak tanggal Maret 2007. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 26

4.2 KEWAJIBAN BANK PESERTA PENJAMINAN Sebagai peserta penjaminan, setiap bank yang melakukan kegiatan usaha di Indonesia perlu membayar kontribusi kepesertaan, membayar premi, dan menyampaikan laporan secara berkala dalam format yang telah ditentukan. Kontribusi kepesertaan dibayar pada saat bank yang bersangkutan menjadi peserta penjaminan yang besarnya ditetapkan 0,1% dari: a. Modal sendiri (ekuitas) bank per 31 Desember 2004, bagi bank yang telah memperoleh izin usaha sebelum 1 Januari 2005; b. Total modal sendiri (ekuitas) per 31 Desember 2004 dari bank-bank yang melakukan penggabungan usaha, bagi bank hasil penggabungan usaha yang dilakukan antara 1 Januari 2005 dan 22 September 2005; c. Modal disetor bank, bagi bank yang mendapatkan izin usaha apda atau setelah 1 Januari 2005. Modal sendiri (ekuitas) yang dimaksud dalam hal ini adalah selisih antara kekayaan dan kewajiban bank. Kontribusi kepesertaan wajib disetor ke rekening Lembaga Penjaminan Simpanan. 4.3 PENGHITUNGAN, PEMBAYARAN PREMI, DAN AKUNTANSINYA Penghitungan premi, baik premi pada awal periode maupun premi penyesuaian, dilakukan sendiri oleh bank (self assesment). Premi penjaminan dibayarkan 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun untuk: a. Periode 1 Januari sampai dengan 30 Juni; dan b. Periode 1 Juli sampai dengan 31 Desember. Premi untuk setiap periode ditetapkan sebesar 0,1% dari rata-rata saldo bulanan total simpanan dalam setiap periode. Proses pembayaran premi untuk setiap periode dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: a. Pembayaran premi pada awal periode sebesar 0,1% dari rata-rata saldo bulanan total simpanan periode sebelumnya; dan b. Penyesuaian premi setelah akhir periode berdasarkan realisasi rata-rata saldo bulanan total simpanan periode yang bersangkutan. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 27

Pembayaran premi pada awal periode harus dilakukan paling lambat tanggal: a. 31 Januari, untuk periode 1 Januari sampai dengan 30 Juni; dan b. 31 Juli, untuk periode 1 Juli sampai dengan 31 Desember. Sedangkan penyusutan premi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a. Menghitung premi yang seharusnya dibayar berdasarkan realisasi rata-rata saldo bulanan total simpanan pada periode yang bersangkutan. b. Menghitung kelebihan atau kekurangan premi yang dibayarkan pada awal periode dengan premi yang seharusnya dibayar. c. Memperhitungkan kelebihan atau kekurangan terhadap premi yang dibayarkan pada awal periode berikutnya, dengan ketentuan bahwa: i. Dalam hal terdapat kelebihan premi, kelebihan tersebut menjadi pengurang terhadap premi yang dibayarkan pada awal periode berikutnya; atau ii. Dalam hal terdapat kekurangan premi, kekurangan tersebut menjadi penambah terhadap premi yang dibayarkan pada awal periode berikutnya. Dalam hal terdapat kelebihan pembayaran premi, kelebihan pembayaran tersebut digunakan untuk pembayaran premi berikutnya, kecuali apabila bank yang bersangkutan meminta agar kelebihan tersebut digunakan untuk membayar denda yang tertunggak kepada LPS. Contoh perhitungan premi penjaminan simpanan: Bank ABC yang berdiri sejak 2003 mempunyai modal sendiri Rp. 10.000.000.000 dan mulai 22 September 2005 mendaftar sebagai peserta penjaminan simpanan ke Lembaga Penjamina Simpanan. Bank ini membayar kontribusi kepesertaan 0,1% dari modal sendiri dan membayar premi penjaminan 0,1% dari rata-rata saldo bulanan total simpanan. Pada 17 September 2005 Bank ABC menyetor biaya premi penjaminan sebesar Rp. 2.366.633.000. Data saldo bulanan untuk simpanan di Bank ABC adalah sebagai berikut: Bulan, Tahun Saldo Giro Saldo Saldo Deposito Jumlah Saldo Tabungan Juli 2005 369.719.176 3.000.213.345 800.123.700 4.170.056.221 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 28

Agustus 2005 357.144.476 2.800.342.789 900.345.780 4.057.833.045 September 2005 764.285.995 2.400.456.789 1.000.358.540 4.165.101.324 Oktober 2005 259.972.471 3.035.678.800 900.342.450 4.195.993.721 November 2005 170.832.645 3.034.987.334 1.000.670.542 4.206.490.521 Desember 2005 252.133.506 2.900.347.893 1.100.348.005 4.252.829.404 Total Simpanan 25.048.304.236 Dasar perhitungan premi penjaminan adalah rata-rata saldo simpanan periode Juli 2005 s/d Desember 2005 yaitu total simpanan dibagi 6 bulan atau Rp. 25.048.304.236:6 = Rp. 4.174.717.373. Bank ABC menjadi peserta penjaminan per 22 September 2005, sehingga premi yang seharusnya periode 22 September 2005 s/d 31 Desember 2005 dapat ditentukan sebagai berikut: Jumlah hari mulai Juli s/d Desember 2005 (diperhitungkan sejak sampai dengan) adalah: Juli = 31 hari Agustus = 31 hari September = 30 hari Oktober = 31 hari Nopember = 30 hari Desember = 31 hari Jumlah = 184 hari Sedangkan jumlah hari sejak Bank ABC menjadi peserta penjaminan simpanan per 22 September 2005 sampai dengan 31 Desember 2005 (sejak sampai dengan) adalah: September (30-21) = 9 hari Oktober = 31 hari Nopember = 30 hari Desember = 31 hari Jumlah = 101 hari JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 29

Dengan demikian premi yang seharusnya adalah: Jumlah Hari Penjaminan Tarif Premi Rata-Rata Saldo Simpanan = Premi Seharusnya (101/184) 0,1% Rp. 4.174.717.373 = Rp. 2.291.556,82 Perhitungan penyesuaian premi semester 2 tahun 2005 (22 September s/d 31 Desember 2005) adalah: Keterangan Jumlah Premi Seharusnya 2.291.556,82 Premi Awal Periode 22/9 s/d 31/12-2005 yang Telah Disetor per 17/11-2005 2.366.633,00 Penyesuaian Premi Semester 2/2005 Kurang (Lebih) Setor -75.076,18 Perlu diketahui bahwa pada tahap pertama, sebagai peserta baru Bank ABC ketika menyetor premi Rp. 2.366.633,00 merupakan estimasi berdasarkan saldo rata-rata bulanan total simpanan pada semester 1 (Januari s/d Juni) tahun 2005 (data di sini tidak ditunjukkan). Pada akhir semester 2 (Juli s/d Desember) tahun 2005 ditemukan premi yang seharusnya diperhitungkan sesuai saldo rata-rata bulan yang terjadi. Dengan demikian Bank ABC membayar lebih dari yang seharusnya, yaitu lebih Rp. 75.076,18. Kelebihan pembayaran ini tidak bisa ditarik oleh Bank ABC, tapi diperhitungkan sebagai pengurang pembayaran premi pada periode berikutnya. Pada periode berikutnya (semester 1 atau periode Januari s/d Juni tahun 2006), kita bisa menghitung premi awal semester 1 tahun 2006 berdasarkan ratarata saldo total simpanan pada semester 2 (Juli s/d Desember) tahun 2005. Hasil perhitungan menunjukkan Rp. 4.174.717,37. Bank menyetor premi Rp. 4.099.641,00 pada tanggal 26 Januari 2006. Dengan demikian rincian premi, penyesuaian dan kelebihan/kekurangannya dapat dilihat sebagai berikut: Keterangan Jumlah (Rp) Premi Awal Semester 1 Tahun 2006 4.174.717,37 Penyesuaian Premi Periode 22 Sept. s/d 31 Des.2005-75.076,18 Jumlah yang Harus Dibayar Sebelum 31 Januari 2006 4.099.641,19 Premi yang Telah Disetor Tanggal 26 Januari 2006 4.099.641,00 Saldo Premi Kurang (Lebih) Bayar Periode 1/2006 0,19 Keterangan: Premi awal semester 1 tahun 2006 adalah: 0,1% Rp. 4.174.717.373 = Rp. 4.174.717,37 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 30

Premi awal semester 1 (Januari s/d Juni) tahun 2006 adalah sifatnya prediktif dengan data semester sebelumnya. Pada akhir semester harus disesuaikan dengan mendasarkan premi yang seharusnya menurut saldo rata-rata total simpanan yang sesungguhnya terjadi pada periode yang bersangkutan. Posisi simpanan periode Januari 2006 s/d Juni 2006 adalah sebagai berikut: Bulan, Tahun Jumlah Saldo Januari 2006 4.227.730.702 Februari 2006 4.306.172.377 Maret 2006 4.412.011.603 April 2006 4.625.995.435 Mei 2006 4.427.721.639 Juni 2006 4.253.581.479 Total Simpanan 26.253.213.235 Dengan dasar saldo simpanan periode Januari 2006 s/d Juni 2006, maka dapat diperhitungkan penyesuaian premi periode 1 Januari 2006 s/d 30 Juni 2006 sebagai berikut: Keterangan Jumlah (Rp) Premi seharusnya Periode 1 Januari s/d 30 Juni 2006 = 0,1% (26.253.213.235/6) 4.375.535,54 Premi Awal Periode Jan s/d 30 Juni 2006 yang telah diperhitungkan 4.174.717,37 Penyesuaian Premi semester 1/2006 kurang (lebih) setor 200.818,17 Dengan demikian kita bisa menentukan jumlah yang harus dibayar sebelum 31 Juli 2006 sebagai berikut: Keterangan Jumlah (Rp) Premi Awal Semester 2 Tahun 2006 = 0,1% Dasar Perhitungan Premi Awal Semester 2 Tahun 2006 = 0,1% Rata-Rata Saldo Simpanan Periode Jan. 2006 s/d Juli 2006 = 0,1% Rp. 4.375.535.539 4.375.535,54 Penyesuaian Premi Periode Semester 1/2006 (1 Januari s/d 30 Juni 2006) 200.818,17 Saldo Premi Kurang (Lebih) Bayar Periode 1/2006 0,19 Jumlah Premi yang Harus Dibayar Sebelum 31 Juli 2006 4.576.353,90 Premi yang Telah Dibayar pada 10 Juli 2006 4.651.430,10 Premi Kurang (Lebih) Bayar -75.076,20 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 31

Berdasarkan transaksi dan perhitungan premi di atas (sejak semester 2 tahun 2005 hingga semester Juli 2006), maka dapat dicatat dalam jurnal transaksi sebagai berikut: Tgl Uraian Debit (Rp) Kredit (Rp) 22/9-2005 Dr. Dana Penyertaan 10.000.000,00 Cr. Giro LPS 10.000.000,00 17/11-2005 Dr. Piutang Premi Penjaminan 2.366.633,00 Cr. Giro LPS 2.366.633,00 31/12-2005 Dr. Biaya Premi Penjaminan 2.291.556,82 Cr. Piutang Premi Penjaminan 2.291.556,82 26/1-2006 Dr. Piutang Premi Penjaminan 4.099.641,00 Cr. Giro LPS 4.099.641,00 31/1-2006 Dr. Piutang Premi Penjaminan 0,19 Cr. Hutang Premi Penjaminan 0,19 30/6-2006 Dr. Piutang Premi Penjaminan 200.818,17 Cr. Hutang Premi Penjaminan 200.818,17 Saat Dr. Biaya Premi Penjaminan 4.375.535,54 Pelaporan Cr. Hutang Premi Penjaminan 4.375.535,54 Semester 10/7-2006 Dr. Hutang Premi Penjaminan 200.818,36 Dr. Piutang Premi Penjaminan 4.450.611,74 Cr. Giro LPS 4.651.430,100 Penjelasan: Jurnal tanggal 22 September 2005 diperhitungkan dari Rp. 10.000.000.000 0,1% = Rp. 10.000.000. Sedangkan jurnal tanggal 17 November 2005 dan tanggal 31 Desember 2005 dapat ditentuan dari pembayaran dalam bentuk premi dibayar di muka (piutang premi) sebesar Rp. 2.366.633,00 Rp. 2.291.556,82 = Rp. 75.076,18. Tanggal 30 Juni 2006 kita melakukan jurnal penyesuaian dengan cara mendebit rekening biaya premi dan mengkredit piutang premi untuk mengakui biaya premi yang benar-benar telah terjadi sampai dengan laporan keuangan JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 32

semesteran. Perhitungan yang didebit adalah Rp. 75.076,18 + Rp. 4.099.641,00 + Rp. 0,19 + Rp. 200.818,17 = Rp. 4.375.535,54. Sementara itu tanggal 10 Juli 2006 kita mendebit hutang premi Rp. 200.818,36 (dari hutang premi Rp. 0,19 + Rp. 200.818,17) dan mendebit piutang premi sebesar Rp. 4.451.248,74. Piutang premi ini yang kita bayar sebesarnya penjumlahan dari premi sebenarnya Rp. 4.375.535,54 ditambah kelebihan Rp. 75.076,20. Khusus untuk pendebitan Giro LPS diasumsikan bahwa Lembaga Penjamin Simpanan membuka rekening giro pada bank tersebut. Bila rekening Giro LPS pada bank lain, maka harus ditampung kredit rekening bank-bank lain giro. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 33

BAB 5 PINJAMAN YANG DITERIMA 5.1 PENCATATAN PINJAMAN YANG DITERIMA DARI DIREKTUR Transaksi pinjaman yang diterima didahului dengan perjanjian antara pihak kreditur dengan debitur. Perjanjian yang ditanda tangani kedua belah pihak tak dapat dibatalkan scara sepihak bila semua persyaratan telah dipenuhi. Perjanjian ini dalam akutansi disebut komitmen. Sebagai komitmen tagihan bank yang tak dapat dibatalkan, maka akan dicatat dalam rekening administrative rupiah sisi debit dengan nama RAR fasilitas pinjaman diterima dan belum digunakan. Pencatatan komitmen tagihan ini akan diikuti pencatatan realisasi pinjaman, bila pinjaman tersebut benar-benar direalisasikan. Pinjaman yang direalisasikan dicatat sebesar nilai nominal yang ditarik oleh bank selaku debitur/borrower atau obligor. Hal-hal yang terkait biaya perkreditan menjadi beban peminjaman, misalnya biaya provisi dan administrasi, biaya taksasi (appraisal) nilai jaminan, biaya perikatan (notaris), dan biaya asuransi. Tentu saja pengkreditan rekening peminjaman diterima harus diikuti pengkreditan RAR fasilitas pinjaman diterima dan belum digunakan sebesar nilai realisasinya. Pinjaman Yang Diterima Dari Bank Lain Contoh 1 : 1. Tanggal 15 juni 2012 Bank Permata Jakarta telah menandatangani perjanjian kredit dengan Bank Mitra Niaga Jakarta. Bank Permata bertindak sebagai penerima kredit (debitur) dan Bank Mitra Niaga bertindak sebagai pemberi kredit (kreditur). Niai kredit yang yang disepakati Rp. 1.000.000.000, suku bunga 12%. Jangka waktu 3 tahun. 2. Tanggal 1 juli 2012 Bank Permata menarik kreditnya melalui Bank Indonesia (kliring) senilai Rp. 600.000.000 dan langsung didebitkan ke rekening milik Bank Permata di Bank Indonesia Jakarta. 3. Tanggal 5 Bank Permata menarik kredit lagi di Bank Mitra Niaga Jakarta sebesar Rp. 400.000.000. Langsung didebitkan ke rekening Giro Bank Permata di Bank Mitra Niaga. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 34

Pencatatannya adalah : Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) 15/6/2012 Dr. RAR Fas. Pinjaman yang Diterima dan belum digunakan 1.000.000.000 1/7/2012 Cr. RAR. Fas. Pinjaman yang diterima dan belum digunakan 600.000.000 Dr. Giro BI 600.000.000 Cr. Pinjaman yang diterima 600.000.000 5/7/2012 Dr. RAR pinjaman yang Diterima dan belum digunakan 400.000.000 Dr. Giro Bank-Bank Lain 400.000.000 Cr. Pinjaman yang diterima 400.000.000 5.2 PINJAMAN TWO STEP LOAN 1. Pinjaman diberikan oleh tender sendiri atau dalam bentuk konsosorium kepada Pemerintah RI. 2. Pinjaman ditujukan kepada proyek-proyek yang bertujuan mengembangkan industri kecil dan menengah yang menunjang perekonomian. 3. Pinjaman dapat berupa devisa, barang modal, atau jasa/tenaga ahli. 4. Pemerintah meneruskan pinjaman kepada Participating Financial Institution (PFI) yaitu bank-bank dan LKBB dalam bentuk rupiah sehingga risiko selisih kurs yang terjadi menjai tanggungjawab pemerintah. 5. Suku bunga TSL ditentukan oleh pemerintah. 6. TSL berjangka waktu 15-20 tahun sehingga dapat diakui equity 7. Perbandingan pembiayaan proyek antara dana TSL dengan dana dri PFI berkisar 80% : 20% dari jumlah kredit. 8. Untuk tagihan TSL yang tidak ditarik (tidak dipergunakan), PFI wajib membayar kepada emerintah sejumlah biaya yang dibayar kepada tender oleh pemerintah sesuai perjanjian termasuk commitmen charge sejumlah persentase tertentu berkisar 0.75% per tahun. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 35

Jurnal yang diperlukan : Tanggal/ket Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) Saat Dr. RAR Pinjaman yang diterima Persetujuan Dan belum digunakan Saat Realisasi Cr. RAR. Pinjaman yang diterima Dan belum digunakan Dr. Giro BI Cr. Pinjaman yang diterima TSL Saat Penyesuain Bunga Dr. Biaya Bunga Cr. Biaya Bunga Harus dibayar Saat Pmbyr Bunga stlh Penyesuaian Dr. Biaya Bunga harus dibayar Cr. Giro BI Bila Bunga Dibayar Langsung Dr. Biaya Bunga Cr. Giro BI Saat Pelunasan Pinjaman Dr. Pinjaman yang diterima Cr. Giro BI 5.3 PINJAMAN OBLIGASI Obligasi merupakan instrument untuk menciptakan hutang. Sumber dana berasal dari obligasi yang merupakan alternative bank dalam membiayai investasinya. Sebagai surat pengakuan hutang, bank yang menerbitkan obligasi harus membayar bunga kepada obligasi. Pembayaran bunga dapat dilakukan setiap periode tertentu secara tetap. Kewajiban ini akan pelunasan obligasi pada saat jatuh tempo. Dalam penerbitan obligasi, bank harus mendapat izin dari otoritas Pasar Modal. Disamping itu penerbitan obligasi harus memenuhi perlindungan negative dan emiten untuk melakukan tindakan yang merugikan pemegang obligasi. Contoh perlindungan negative adalah dilarang membagi seluruh laba kepada JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 36

pemegang saham, sebab akan dapat mengurangi kemampuan memenuhi kewajiban kepada pemegang obligasi. Sedangkan persyaratan perlindungan positif adalah persyaratan yang mewajibkan emiten melakukan tindakan yang menguntungkan pemegang obligasi, misalnya kewajiban menebitkan aporan keuangan secara periodic agar diketahui kinerja bank tersebut. Pencatatan pinjaman obligasi dilakukan ketika terjadi transaksi penjualan obligasi dan ketika terjadi pelunasan bunga atau pokok obligasi. Untuk bias mencatatnya perlu mengetahui harga jual (kurs) obligasi yang terbentuk dipasar. Untuk menentukan harga obligasi bias menggunakan formula sebagai berikut. Penentuan harga Obligasi Dalam menentukan harga obligasi, emitan harus memperhatikan, mempertimbangkan tingkat bunga (kupon) obligasi, jangka waktu atau jatuh tempo obligasi, dan keuntungan yang diharapkan oleh investor atau sering disebut bond yield. Kupon obligasi akan menimbulkan biaya bunga bagi emiten atau aliran aks keluar dan posisi obligasi pada dasarnya penjumlahan present value dari aliran kas biaya biaya bunga ditambah present value dari nilai pokok obligasi pada saat jatuh tempo, dengan yield yang disayaratkan. Biaya bunga obligasi dibayar setiap periode, sedangkan nilai pokok obligasi akan dilunasi setiap akhir periode saat jatuh tempo (dengan asumsi run caliable bond). Rumus untuk menghitungnya adalah : Keterangan : P = Harga obligasi atau nilai sekarang obligasi n = Periode (jumlah tahun)sampai dengan jatuh tempo obligasi = Pembayaran bunga (kupon) obligasi setiap tahunnya r = tingkat diskonto atau bond yield = nilai pokok atau principal obligasi JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 37

BAB 6 AKUNTANSI MODAL BANK 6.1 KLASIFIKASI MODAL BANK Pembagian jenis modal bank di Indonesia dapat diklasifikasikan sesuai Standard Bank For International Settlements, yaitu: a. Modal Inti (Tier 1) Modal ini terdiri dari modal disetor, modal sumbangan, cadangancadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak dan laba yang diperoleh setelah diperhitungkan pajak. Modal inti merupakan modal yang disetor para pemilik bank dan modal yang berasal dari cadangan yang dibentuk ditambah dengan laba yang ditahan. Porsi terbesar modal inti terletak pada modal saham yang disetor. Sedangkan selebihnya sangat tergantung laba yang diperoleh dan kebiajakan RUPS. Pencatatan modal saham dilakukan sebesar harga nominal. Selisih harga saham di atas nilai nominal dicatat sebagai agio saham. Selisihnya harga saham di bawah nilai nominal dicatat sebagai disagio saham. Agio saham akan diamortisasi setiap akhir periode dan disagio saham akan diakumulasi setiap akhir periode. Harga saham atau nilai modal disetor (pald in capital) merupakan total yang dibayar oleh pemegang saham kepada bank emiten untuk ditukarkan dengan saham preferen atau saham biasa. Nilai modal disetor merupakan penjumlahan nilai nominal ditambah dengan agio saham atau nilai nominal dikurangi disagio saham. Sedangkan nilai nominal merupakan nilai kewajiban yang ditetapkan untuk tiap-tiap lembar saham. Nilai nominal ditentukan berkaitan dengan kepentingan hukum, misalnya untuk proteksi terhadap kreditur. Dalam hal bank emiten menerbitkan saham biasa dan saham preferen, maka penyajian dalam neraca saham preferen harus dilakukan. Contoh: a. Tanggal 2 Januari 2012 telah diterima setoran awal dana dari Bapak Surya Darma untu modal bank berupa uang tunai Rp. 500.000.000, aktiva tetap JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 38

berupa tanah senilai Rp. 600.000.000, kendaraan baru dan belum disusut senilai Rp. 200.000.000, inventaris kantor senilai Rp. 200.000.000. Setoran saat ini dicatat dalam bentuk saham biasa untuk 150.000 lembar dengan nilai nominal Rp. 10.000 per lembar, kurs 103%. b. Tanggal 10 Januari 2012 dijual saham biasa 10.000 lembar dengan nominal Rp. 5000, kurs 97%. Pembayaran diterima tunai. Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) 2/1/2012 Dr. Kas 545.000.000 Dr. AT.Tanah 600.000.000 Dr. AT. Kendaraan 200.000.000 Dr. AT. Inventaris Kantor 200.000.000 Cr. Modal Disetor-Saham Biasa 1.500.000.000 Cr. Agio Saham 45.000.000 Dr. Kas 48.500.000 Cr. Disagio Saham 1.500.000 Cr. Modal Disetor-Saham Biasa 50.000.000 Perlakuan akuntansi untuk pemesanan saham adalah emiten akan mendebit piutang pemesan saham dan mengkredit modal saham yang dipesan. Dalam hal pemesanan tidak melunasi sisa pembayaran saham, maka emiten dapat mengembalikan jumlah pembayaran sebelumnya, atau dijadikan hak milik emiten (bila ada perjanjian) dan dimasukkan sebagai komponen tambahan modal dengan perkiraan tambahan modal-pembatalan pemesanan saham. Cara lain untuk mengatasai ini adalah dengan mengeluarkan saham yang jumlahnya sama dengan jumlah pembayaran yang telah diterima. Alternatif-alternatif ini dilakukan berdasarkan perjanjian yang telah disepakati antara emiten dengan calon pemodal. Contoh transaksi pemesanan saham: 1. Tanggal 15 Juni 2012 Bank Mitra Buana menerima pesanan saham 100.000 lembar saham biasa dari PT Mirana dengan kurs 102. Harga nomminal per lembar Rp. 10.000. uang muka pesanan saham diterima 60% tunai. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 39

2. Tanggal 30 Juni 2012 pesanan saham tersebut dilunasi secara tunai. Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) 15/6-2012 Dr. Kas 612.000.000 Dr. Piutang PT Mirana 408.000.000 Cr. Modal Saham Dipesan 1.000.000.000 Cr. Agio Saham 20.000.000 30/6-2012 Dr. Kas 408.000.000 Dr. Modal Saham Dipesan 1.000.000.000 Cr. Piutang PT Mirana 408.000.000 Cr. Modal Disetor-Saham Biasa 1.000.000.000 b. Modal Pelengkap (Tier 2) Modal pelengkap terdiri dari atas cadangan-cadangan yang dibentuk tidak berasal dari laba, modal pinjaman, serta pinjaman subordinasi. Secara rinci modal pelengkap dapat dijelaskan sebagai berikut: - Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. - Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan, dengan maksud untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dati tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktifnya. - Modal pinjaman, yaitu utang yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat-sifat seperti modal dan mempunyai ciriciri tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan, tidak dapat ditarik atau dilunasi atas inisiatif pemilik tanpa persetujuan BI, mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah kerugian bank melebihi laba ditahan dan cadangan-cadangan yang termasuk modal inti, meskipun bank belum dilikuidasi, dan pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila bank dalam keadaan rugi atau labanya tidak mendukung untuk membayar bunga tersebut. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 40

- Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman memenuhi syarat-syarat ada perjanjian tertulis, mendapat persetujuan BI dan tidak dikamin oleh bank yang bersangkutan dan telah disetor penuh dengan minimal jangka waktu 5 tahun, pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapatkan persetujuan BI serta hak tagih berada pada urutan paling akhir dalam hal bank likuidasi. c. Modal Pelengkap Tambahan (Tier 3) 1. Bank dapat memperhitungkan modal pelengkap tambahan (tier 3) untuk tujuan perhitungan Kebutuhan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequacy Ratio (CAR) secara individual dan/atau secara konsolidasi dengan perusahaan anak. 2. Modal pelengkap tambahan (tier 3) dalam perhitungan KPMM hanya dapat digunakan untuk memperhitungkan risiko pasar. 3. Pos yang dapat diperhitungkan sebagai modal pelengkap tambahan (tier 3) adalah pinjaman subordinasi jangka pendek yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a. Tidak dijamin oleh bank atau perusahaan anak yang bersangkutan dan telah disetor penuh; b. Memiliki jangka waktu perjanjian sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun; c. Tidak dapat dibayar sebelum jadwal waktu yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman kecuali dengan persetujuan BI. d. Terdapat klausula yang mengikat (lock-in clause) yang menyatakan bahwa tidak dapat dilakukan pembayaran pokok atau bunga, termasuk pembayaran pada saat jatuh tempo, apabila pembayaran dimaksud dapat menyebabkan KPMM secara individual atau secara konsolidasi dengan perusahaan atau tidak memenuhi ketentuan yang berlaku; e. Terdapat perjanjian pinjaman yang jelas termasuk jadwal pelunasannya; dan f. Memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari BI. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 41

4. Modal pelengkap tambahan (tier 3) untuk memperhitungkan risiko pasar hanya dapat digunakan dengan memenuhi kriteria: a. Tidak melebihi 250% (dua ratus lima puluh per seratus) dari bagian modal inti yang dialokasikan untuk memperhitungkan risiko pasar; b. Jumlah modal pelengkap (Tier 2) dan modal pelengkap tambahan (tier 3) paling tinggi sebesar 100% (seratus per seratus) dari modal ini. 5. Modal pelengkap (tier 2) yang tidak digunakan dapat ditambahkan untuk modal pelengkap tambahan (tier 3) dengan memenuhi persyaratan pada poin 4 ini. 6. Pinjaman subordinasi sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku dan melebihi 50% (lima puluh per seratus) modal inti, dapat digunakan sebagai komponen modal pelengkap tambahan (tier 3) dengan tetap memenuhi persyaratan sebagaimanan dimaksud pada poin 4 ini. 6.2 RASIO KECUKUPAN MODAL BANK PERKREDITAN RAKYAT Tata cara perhitungan kecukupan modal bank perkreditan rakyat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Dalam menghitunga ATMR, pos-pos aktiva diberikan bobot risiko yag besarnya didasarkan pada risiko yang terkandung pada aktiva itu sendiri atau risiko yang didasarkan pada jenis aktiva, golongan debitur, penjaminan, atau sifat barang jaminan. 2. Dengan memperhatikan prinsip pada angka 1 maka rincian bobot risiko adalah sebagai berikut: 0%: a. Kas b. Sertifikat Bank Indonesia c. Kredit dengan agunan berupa SBI, tabungan dan deposito yang diblokir pada BPR yang bersangkutan disertai dengan surat uasa JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 42

pencarian emas dan logam mulia, sebesar nilai terendah antara agunan dan baki debet. d. Kredit kepada Pemerintah Pusat. 20%: a. Giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, serta tagihan lainnya kepada bank lain b. Kredit kepada atau yang dijamin oleh bank lain atau Pemerintah Daerah. 40%: a. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang dijamin oleh hak tanggungan pertama dengan tujuan untuk dihuni. 50%: a. Kredit kepada atau yang dijamin oleh BUMN atau BUMD. Yang dimaksud dengan BUMN sebagai penjamin adalah lembaga penjamin kredit milik Pemerintah Pusat. Yang dimaksud dengan BUMD sebagai penjamin adalah BUMD yang melakukan usaha sebagai perusahaan penjamin dan melakukan perjanjian kerjasama penjaminan kredit dengan lembaga penjamin kredit milik Pemerintah Pusat. b. Kredit kepada pegawai/pensiunan, yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) Pegawai/Pensiunan yang menerima kredit adalah: a. Pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI/POLRI, pegawai lembaga negara, atau pegawai BUMN/BUMD; b. Pensiunan PNS, pensiunan anggota TNI/POLRI, pensiunan pegawai lembaga negara, atau pensiunan pegawai BUMN/BUMD; 2) Pegawai/pensiunan dijamin dengan asuransi jiwa dari perusahaan asuransi yang memiliki kriteria sebagai berikut: a. Memiliki izin usaha dari instansi yang berwenang; JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 43

b. Laporan keuangan terakhir telah diaudit oleh akuntan publik dan memnuhi ketentuan tingkat solvabilitas minimum sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku; dan c. Tidak merupakan pihak terkait dengan BPR; 3) Pembayaran angsuran/pelunasan kredit bersumber dari gaji/pensiun berdasarkan Surat Kuasa Memotong Gaji/Pensiun kepada BPR. Dalam hal pembayaran gaji/pensiun dilakukan melalui bank lain atau BUMN lain, maka BPR harus memiliki perjanjian kerja sama dengan bank lain atau BUMN lain pembayar gaji/pensiun untuk melakukan pemotongan gaji/pensiun dalam rangka pembayaran angsuran/pelunasan kredit; dan 4) BPR menyimpan asli surat pengangkatan pegawai atau surta kepurusan pensiun atau Kartu Registrasi Induk Pensiun (KARIP) dan polis pertanggungan asuransi jiwa debitur. 85% : Kredit kepada usaha mikro dan kecil. Kredit kepada usaha mikro adalah kredit dengan plafon sampai dengan Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Kredit kepada usaha kecil adalah kredit dengan plafon di atas Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 100% : a. Kredit kepada atau yang dijamin oleh perorangan, koperasi, atau kelompok dan perusahaan lainnya. b. Aktiva tetap dan inventaris (nilai buku). c. Aktiva lainnya selain tersebut di atas. 3. Aktiva produktif dengan kualitas Kurang Lancar, Diragukan, atau Macet dalam perhitungan ATMR dinilai sebesar nilai buku yaitu setelah dikurangi dengan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) khusus dari aktiva produktif dengan kualitas Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet. Penilaian kualitas aktiva produktif (KAP) dan PPAP JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 44

mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai KAP dan PPAP BPR. 6.3 TATA CARA PERHITUNGAN KEBUTUHAN MODAL MINIMUM Perhitungan kebutuhan modal minimum Bank Perkreditan Rakyat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Perhitungan kebutuhan modal didasarkan pada ATMR yang dihitung dengan cara mengalikan nilai nominal pos-pos aktiva dengan bobot risiko masing-masing. Perhitungan ATMR bagi aktiva produktif dengan kualitas Kurang lancar, Diragukan, atau Macet dilakukan dengan cara mengalikan nilai buku cadangan bobot risiko masing-masing. Dalam hal ini ATMR mengacu pada SE no.8/28/dpbi/2006 dan untuk Kualitas Aktiva Produktif mengacu pada PBI no.8/19/pbi/2006. 2. Menjumlahkan ATMR dari masing-masing pos aktiva. 3. Menjumlahkan modal inti dan modal pelengkap untuk mengetahui jumlah modal BPR. 4. Menghitung modal minimum dengan cara mengalikan jumlah ATMR dengan 8% (delapan per seratus). 5. Menghitung kekurangan modal dengan cara membandingkan jumlah modal minimum pada angka 4 dengan jumlah modal pada angka 3. 6. Menghitung KPMM dengan cara membandingkan jumlah modal BPR pada angka 3 dengan ATMR pada angka 2. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 45

BAB 7 AKTIVA TETAP 7.1 Perolehan Aktiva Tetap 7.1.1 Perolehan Aktiva Tetap Melalui Pembelian Pembelian aktiva tetap bisa dilakukan secara tunai maupun secara kredit. Dalam hal perolehan aktiva tetap melalui pembelian, harga perolehan aktiva tetap terdiri dari harga beli aktiva tersebut ditambah biaya-biaya yang dibebankan kepada pembeli hingga aktiva tersebut siap digunakan. a. Pembelian Tunai Apabila pembelian dilakukan secara tunai, bank akan membayar sebesar harga perolehan. Pembelian tersebut dilakukan (dibayar) oleh kantor pusat atau kantor cabang. Contoh: Bank ABC membeli tanah seluas 300 M 2 Rp1.000.000. biaya peralatan tanah Rp5.000.000, biaya notaris Rp7.500.000, biaya perantara Rp15.000.000 semuanya tunai. Pencacatan adalah: Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) Dr. Aktiva tetap dan inventaris tanah 327.500.000 Cr.Kas 327.500.000 b. Pembelian Secara Kredit Aktiva tetap dapat diperoleh secara kredit. Perolehan aktiva tetap secara kredit akan menimbulkan biaya bunga. Untuk itu perlu disiapkan antara pengeluaran modal dengan pengeluaran pendapatan. Biaya bunga merupakan pengeluaran pendapatan, sehingga tidak dikapitalisasikan dalam harga perolehan aktiva. Biaya bunga harus dicatat sendiri. Contoh: Bank Bisnis Indonesia membeli aktiva tetap berupa mobil X secara kredit kepada PT Mitra Usaha seharga Rp440.000.000; Down Payment ditentukan JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 46

Rp200.000.000 tunai. Bunga 9% per tahun flat. Jangka waktu 1 tahun. Persetuuan dilakukan pada 3 Maret 2008 dan realisasi pembelian kredit secara kredit pada tanggal 6 Maret 2008. angsuran pokok dan bunga dilakukan pada setiap awal bulan. Dengan demikian secara terinci angsuran pokok dan bunga seperti tampak pada tabel 20.1 Tanggal Down Payment (Rp) Tabel 20.1: Angsuran Pokok dan Bunga Harga Mobil (Rp) Angsuran Pokok (Rp) Saldo (Rp) Angsuran Bunga (Rp) Total Angsuran (Rp) 3/3/2008 240.000.000 6/3/2008 200.000.000 440.000.000 20.000.000 220.000.000 1.800.000 21.800.000 6/4/2008 20.000.000 200.000.000 1.800.000 21.800.000 6/5/2008 20.000.000 180.000.000 1.800.000 21.800.000 6/6/2008 20.000.000 160.000.000 1.800.000 21.800.000 6/7/2008 20.000.000 140.000.000 1.800.000 21.800.000 6/8/2008 20.000.000 120.000.000 1.800.000 21.800.000 6/9/2008 20.000.000 100.000.000 1.800.000 21.800.000 6/10/2008 20.000.000 80.000.000 1.800.000 21.800.000 6/11/2008 20.000.000 60.000.000 1.800.000 21.800.000 6/12/2009 20.000.000 40.000.000 1.800.000 21.800.000 6/1/2009 20.000.000 20.000.000 1.800.000 21.800.000 6/2/2009 20.000.000 0 1.800.000 21.800.000 6/3/2009 Keterangan : Angsuran pokok = 240.000.000 : 12 = Rp.20.000.000 Angsuran Bunga = (240.000.000 x 0,9) : 12 = 1.800.000 Pencatatannya adalah sebagai berikut : Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 3/3/2008 Dr. Uang muka 200.000.000 Cr. Kas 200.000.000 6/3/2008 Dr. ATI-Mobil 440.000.000 Dr. Biaya Bunga yang ditangguhkan 21.600.000 Cr. Hutang pembelian angsuran 21.600.000 Cr. Uang muka 200.000.000 6/3/2008 Dr. Hutang Pembelian angsuran 21.800.000 Dr. Biaya bunga 1.800.000 Cr. Biaya bunga ditangguhkan 1.800.000 Cr. Kas 21.800.000 Untuk jurnal pada bulan-bulan berikutnya adalah sama dengan jumlah tanggal 6 maret 2008. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 47

7.1.2 Perolehan Aktiva Tetap Melalui Pertukaran dengan Surat Berharga Dengan cara ini, aktiva tetap yang diperoleh dinilai sebesar nilai wajar. Bila tidak diperoleh nilai wajar aktiva tetap, maka didasarkan pada nilai pasar sekuitas. Jadi tergantung aktiva mana yang lebih layak berdasarkan bukti yang tersedia. Sedangkan perbedaan nilai pasar sekuritas dengan nilai nominal dicatat sebagai agio atau disagio. Agio sekuritas adalah selisih nilai pasar sekuritas di atas nilai nominal. Disagio sekuritas adalah selisih nilai pasar sekuritas di bawah nilai nominal sekuritas. Sekuritas yang dapat dipertukarkan misalnya saham, obligasi. Contoh: Bank ABC membeli sebidang tanah seluas 500 M 2 dengan cara ditukar dengan saham biasa 10.000 lembar. Harga kurs pada saat pertukaran 102%. Maka pencatatan transaksi ini adalah: Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) Dr. Aktiva Tetap dan Investasi Tanah 1.020.000.000 Cr. Saham Biasa 1.000.000.000 Cr. Agio Saham 20.000.000 7.1.3 Pertukaran Aktiva Tetap dengan Aktiva yang Tidak Sejenis Pertukaran aktiva dengan aktiva yang berbeda jenis artinya aktiva yang berbeda fungsinya, selain sekuritas. Perbedaan jenis bukan dilihat dari fisiknya. Perlakuan akuntansinya adalah pertukaran aktiva tetap dinilai sebesar nilai wajar dari aktiva yang diperoleh atau aktiva yang diserahkan tergantung mana yang lebih layak berdasarkan bukti atau data yang tersedia. Perbedaan antara nilai buku aktiva yang diserahkan dengan nilai wajar yang digunakan pada tanggal transaksi harus dicatat sebagai laba atau rugi pertukaran. Contoh: Bank ABC membuka kantor cabang. Untuk itu Bank ABC membeli tanah seluas 300 M 2. Perolehan tanah tersebut dengan cara ditukar dengan mobil seharga Rp300.000.000 yang telah disusut sebesar Rp60.000.000. di samping menyerahkan mobil, Bank ABC juga membayar dengan tunai Rp40.000.000. Transaksi ini akan diperhitungkan laba ruginya dulu seperti dibawah ini: Keterangan Jumlah (Rp) Jumlah (Rp) JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 48

Harga tanah 300.000.000 Penyerahan uang tunai 40.000.000 Harga buku mobil = 300.000.000 60.000.000 240.000.000 Nilai aset yang diserahkan 280.000.000 Laba pertukaran 20.000.000 Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) Dr. Aktiva Tetap dan Inventaris-Tanah 300.000.000 Dr. Akumulasi Depresiasi Mobil 60.000.000 Cr. Aktiva Tetap dan Inventaris Mobil 300.000.000 Cr. Kas 40.000.000 Cr. Laba Pertukaran 20.000.000 Misalkan dari contoh diatas, mobil tersebut telah disusut sebesar Rp.80.000.000. sedangkan uang tunai yang diserahkan sebesar Rp.100.000.000, maka laba atau rugi dapat diperhitungkan sebagai berikut: Keterangan Jumlah (Rp) Jumlah (Rp) Harga tanah 300.000.000 Penyerahan uang tunai 100.000.000 Harga buku mobil = 300.000.000 800.000.000 220.000.000 Nilai aset yang diserahkan 320.000.000 Rugi pertukaran 20.000.000 Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) Dr. Aktiva Tetap dan Inventaris-Tanah 300.000.000 Dr. Akumulasi Depresiasi Mobil 80.000.000 Dr. Rugi Pertukaran 20.000.000 Cr. Aktiva Tetap & Inventaris Mobil 300.000.000 Cr. Kas 100.000.000 7.1.4 Pertukaran Aktiva Tetap Dengan Aktiva Yang Sejenis Dalam pertukaran aktiva tetap yang sejenis, perlakuan akuntansinya untuk aktiva tetap yang diperoleh melalui transaksi pertukaran aktiva non moneter dinilai sebesar nilai wajar dari aktiva yang diperoleh atau aktiva yang diserahkan yang lebih layak berdasarkan bukti/ data yang tersedia. Perbedaan antara nilai buku aktiva yang diserahkan dengan nilai wajar aktiva yang diterima dalam hal terjadi kerugian maka langsung diakui sedangkan bila terjadi laba maka harus ditangguhkan. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 49

Contoh pertukaran aktiva sejenis yang menimbulkan laba tetapi tidak menimbulkan penerimaan uang: Sebuah mobil sedan A seharga Rp120.000.000 dan telah disusut Rp40.000.000 ditukar dengan mobil sedan B seharga Rp100.000.000. Maka laba pertukaran diperhitungkan dari harga mobil A dikurangi harga buku sedan B yaitu Rp100.000.000 (120.000.000 40.000.000). Jurnal untuk transaksi ini adalah: Tgl Rekening Debet(Rp) Kredit(Rp) Dr. Aktiva Tetap dan Inventaris Mobil B 80.000.000 Dr. Akumulasi Depresiasi Mobil A 40.000.000 Cr. Akt. Tetap & Inventaris-Mobil A 120.000.000 Pada pencatatan tersebut aktiva baru (mobil B) dicatat lebih rendah dari harga tunainya (Rp100.000.000). Selisihnya sebenarnya merupakan laba yang ditangguhkan. Laba tersebut akan diakui secara berangsur-angsur selama umur aktiva baru melalui depresiasi pada aktiva baru yang lebih kecil daripada yang sebenarnya. Pengaruh depresiasi yang lebih kecil ini akan meningkatkan laba setiap periode selama periode penyusutan aktiva tersebut. Contoh pertukaran aktiva yang sejenis menimbulkan kerugian. Sebuah mobil toyota kijang lama seharga Rp40.000.000 yang telah disusut sebesar Rp10.000.000 ditukar dengan toyota kijang baru. Harga mobil kijang baru Rp150.000.000. Dalam pertukaran ini bank menyerahkan pembayaran tunai Rp.130.000.000. Perhitungan rugi pertukaran adalah: Keterangan Jumlah(Rp) Jumlah(Rp) Harga tunai kijang baru 150.000.000 Penyerahan uang tunai 130.000.000 Harga buku kijang lama = 40.000.000 10.000.000 30.000.000 Nilai aset yang diserahkan 160.000.000 Rugi pertukaran 10.000.000 Tgl Rekening Debet(Rp) Kredit(Rp) Dr. Aktiva Tetap dan Inventaris-Mobil (baru) 150.000.000 Dr. Akumulasi Depresiasi Mobil (lama) 10.000.000 Dr. Rugi Pertukaran 10.000.000 Cr. Akt. Tetap & Inventaris Mobil (lama) 40.000.000 Cr. Kas 130.000.000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 50

7.1.5 Perolehan Aktiva Tetap Melalui Pembuatan Sendiri Untuk memperoleh aktiva tetap dan inventaris, suatu bank dapat membuat sendiri. Contoh pembuatan almari, meja dan perabot lain. Bank dapat mempekerjakan tukang kayu untuk membuat sesuai desain yang diinginkan bank. Bila ini yang dilakukan bank, maka harga perolehan aktiva tetap yang dibuat atau dibangun sendiri meliputi semua biaya yang terjadi berkenaan dengan pembuatan aktiva tersebut hingga siap digunakan. Biaya-biaya yang timbul dan menjadi komponen harga perolehan adalah bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead. Untuk biaya overhead bisa dibebankan berdasarkan tarif atau berdasarkan kenaikan atau tambahan biaya overhead akibat pembuatan biaya tersebut. 7.1.6 Perolehan Aktiva Tetap Dari Sumbangan/Hibah/Hadiah Perlakuan akuntansi perlakuan akuntansi untuk aktiva tetap yang diperoleh dengan cara ini agak menyimpang dari prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di indonesia. Pencatatan aktiva dari hibah/hadiah sebesar harga pasarnya, tetapi bila untuk memperoleh aktiva ini perlu pengorbanan maka bank hanya akan menerima nilai bersihnya. Contoh: Bank ABC menerima hibah dari pemerintah berupa tanah dan gedung. Harga pasar tanah Rp400.000.000, harga gedung Rp200.000.000. maka pencatatannya adalah: Tgl Rekening Debet(Rp) Kredit(Rp) Dr. Aktiva tetap & inventaris-tanah 400.000.000 Dr. Aktiva tetap & inventaris-gedung 200.000.000 Cr. Modal hibah 600.000.000 Kalau untuk menerima hadiah/hibah itu bank mengeluarkan biaya Rp50.000.000, maka pencatatannya adalah: Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit(Rp) Dr. Akt. Tetap & Inventaris-tanah 400.000.000 Dr. Akt. Tetap & inventaris-gedung 200.000.000 Cr. Modal Hibah 550.000.000 Cr. Kas 50.000.000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 51

7.2 Pencatatan Biaya Untuk Menggunakan Aktiva Tetap Untuk menggunakan aktiva tetap bank, maka diperlukan biaya. Biaya-biaya ini merupakan pengeluaran pendapatan sehingga dibukukan tersendiri. Biayabiaya dimaksud misalnya biaya reparasi dan pemeliharaan, biaya penggantian yang relatif kecil dan sebagainya. Jurnal yang diperlukan untuk membukukan pengeluaran ini adalah: Bila biaya pemeliharaan dan reparasi tidak menambah umur. Tgl Rekening Debet(Rp) Kredit(Rp) Dr. Biaya reparasi dan pemeliharaan Cr. Kas Bila biaya pemeliharaan dan reparasi menambah umur aktiva tetap. Tgl Keterangan Debet(Rp) Kredit(Rp) Dr. Akumulasi aktiva tetap Cr. Kas Khusus biaya penggantian yang relatif besar maka harus diperhitungkan nilai komponen aktiva tetap yang diganti. Nilai yang diganti tersebut harus dikeluarkan dahulu dari buku dan kemudian memasukkan/mencatat nilai penggantian yang baru ke dalam buku. Contoh: Bank telah melakukan penggantian salah satu bagian mobil yang disusut 80%. Sebuah suku cadang sekitar 10% diganti dengan harga Rp50.000.000 secara tunai. Sementara harga mobil pada waktu pembelian Rp400.000.000 Tgl Keterangan Debet(Rp) Kredit(Rp) Dr. Akumulasi peny. Akt. Tetap-mobil 32.0000.000 Dr. Rugi pengantian 8.000.000 Cr. Aktiva tetap-mobil 40.000.000 Dr. Aktiva tetap-mobil 50.000.000 Cr. Kas 50.000.000 Perhitungan: Keterangan Jumlah (Rp) Harga perolehan suku cadang diganti 10%x400.000.000 40.000.000 Akumulasi penyusutan 80 x 40.000.000 32.000.000 Rugi penggantian 8.000.000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 52

7.3 Depresiasi Aktiva Tetap Penggunaan aktiva tetap yang dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan akitva tetap aus. Untuk itu nilai aktiva tetap harus dialokasikan setiap periode untuk mengimbangi penurunan manfaat yang telah diberikan. Secara umum dapat dijelaskan bahwa depresiasi aktiva tetap dilakukan oleh bank karena: a. Faktor fisik, artinya aktiva tetap tersebut dipakai terus-menerus sehingga aus baik karena umur atau karena kerusakan. b. Faktor fungsional, faktor ini dikaitkan dengan ketidakmampuan untuk memenuhi produktifitas sehingga perlu diganti atau memang adanya perkembangan teknologi yang menuntut aktiva tetap tersebut harus diganti. Dengan pertimbangan tersebut, maka selanjutnya perlu mengalokasikan harga perolehan ke dalam biaya depresiasi. Untuk mengalokasikan biaya depresiasi setiap periode laporan, harus diketahui: a. Harga perolehan Harga perolehan adalah jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva tetap tersebut hingga siap digunakan. b. Umur ekonomis Umur ekonomis adalah taksiran suatu aktiva tetap secara ekonomis dapat memberikan manfaat. c. Nilai residu Nilai residu adalah nilai suatu aktiva apabila dijual kembali atau ditukarkan, ketika aktiva tersebut tidak mampu lagi memberikan manfaat ekonomis. Depresiasi yang telah ditentukan selanjutnya dicatat dengan mendebet rekening biaya depresiasi/penyusutan dan mengkredit akumulasi depresiasi aktiva tetap. Akumulasi depresiasi aktiva tetap merupakan rekening pengurang terhadap harga perolehan aktiva tetap. Selisih harga perolehan dengan akumulasi depresiasi aktiva tetap disebut nilai buku. Nilai buku ini akan tampak setiap akhit JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 53

periode pelaporan. Untuk menentukan nilai penyusutan, terdapat beberapa metode yaitu: a. Metode Garis Lurus (straigth line method) Dalam metode ini, bank akan menghitung depresiasi setiap periode dengan jumlah yang sama. Rumus untuk metode ini adalah: Contoh : Mobil dengan harga Rp400.000.000 ditaksir mempunyai umur ekonomis 5 tahun dengan nilai residu Rp50.000.000. Contoh ini bisa ditentukan depresiasinya yaitu: Depresiasi = (400.000.000 50.000.000)/5 = Rp70.000.000 Pencatatan depresiasi ini adalah: Tgl Rekening Debet(Rp) Kredit(Rp) Dr. Biaya penyus. Akt. Tetap-mobil 70.000.000 Cr. Akum penyus. Akt. Tetap mobil 70.000.000 b. Metode Jam Jasa (service hours method) Dalam metode jam jasa diasumsikan bahwa aktiva tetap yang bersangkutan akan lebih cepat rusak kalau digunakan secara penuh. Beban depresiasi di sini sangat tergantung kepada jumlah jam kerja yang digunakan. Rumus untuk metode ini adalah: Depresiasi = (harga perolehan nilai residu) / jam jasa Contoh: Peralatan komputer sebanyak 10 unit dengan harga perolehan Rp3.500.000 akan dapat digunakan selama 18.000 jam dengan nilai residu untuk masingmasing unit Rp200.000. dengan demikian penyusutan per jam adalah: (35.000.000 2.000.000)/18.000=1.833,33/jam Jadi apabila penggunaan pada tahun 1 selama 3.000 jam, maka nilai penyusutan pada akhir tahun ke 1 sebesar Rp1.8333,33 x 3.000 jam = Rp550.000. Jurnal untuk ini adalah: JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 54

Tgl Rekening Debet(Rp) Kredit(Rp) Dr. Biaya penyusutan Akt. Tetap 550.000 Dan inventaris-komputer Cr. Akumulasi penyusutan Ak tetap 550.000 & Inv.- Komputer Untuk tahun kedua, ketiga dan seterusnya menggunakan cara yang sama tergantung jam jasa. c. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of Years Digit Method) Dalam metode ini diasumsikan bahwa aktiva tetap yang baru akan dapat digunakan dengan lebih efisien dibandingkan dengan aktiva tetap yang lebih tua. Untuk itu biaya reparasi pada awal-awal tahun akan relatif kecil dan akan naik mengikuti umur aktiva tetap tersebut. Sebaiknya pada awal periode umur aktiva tetap, depresiasi diasumsikan lebih besar dan akan menurun seiring dengan tingkat manfaat yang diberikan aktiva tetap tersebut. Penentuan depresiasi melalui metode ini adalah dengan cara mengalikan bagian pengurangan yang setiap tahunnya selalu menurun dengan harga perolehan setelah dikurangi nilai residu. Faktor pengurang dihitung dengan cara bahwa untuk pembilang merupakan bobot tahun yang bersangkutan dan untuk penyebut merupakan jumlah angka tahun selama umur ekonomis atau jumlah angka bobot. Contoh: Aktiva tetap berupa mobil seharga Rp100.000.000 akan dipakai secara ekonomis 5 tahun dengan nilai residu Rp20.000.000. tentukan penyusutan per tahun dengan menggunakan metode angka tahun. Jawabannya pada tabel 20.2. Tabel 20.2 Penyusutan Per Tahun Dengan Menggunakan Angka Tahun tahun bobot Bagian Pengurangan Debet Depresiasi (Rp) Kredit Akm. Depresiasi (Rp) Total Akm. Depresiasi (Rp) Nilai Buku Mobil (Rp) 0 100,000,000 1 5 0.33333333 26666667 26666667 26666667 73,333,333 2 4 0.26666667 2133333 2133333 4800000 52,000,000 3 3 0.20000000 1600000 1600000 6400000 36,000,000 4 2 0.13333333 1066667 1066667 7466667 25,333,333 5 1 0.06666667 533333 533333 8000000 20,000,000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 55

Catatan: Depresiasi tahun 1 = 0,333333 x Rp80.000.000 = 26666667 Bagian Pengurang = 5/15 = 0,3333333 7.4 Pengeluaran Untuk Memperoleh Aktiva Tetap Pada prinsipnya aktiva tetap yang diperoleh akan dicatat sebesar harga perolehannya yaitu harga beli ditambah biaya-biaya yang terjadi untuk menempatkan aktiva tersebut pada kondisi dan tempat yang siap dipergunakan. Biaya-biaya dimaksud misalnya biaya pemasangan, bea masuk, biaya pengangkutan, biaya balik nama dan sebagainya. Penempatan aktiva tetap tersebut selanjutnya dinilai sebesar harga buku yaitu harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan. Sehubungan dengan pencatatan-pencatatan di atas maka pengeluaranpengeluaran untuk memperoleh dan penggunaan aktiva tetap dapat dikelompokkan menjadi dua macam pengeluaran yaitu: a. Pengeluaran Modal Pengeluaran modal adalah pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh manfaat yang akan dirasakan lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran-pengeluaran seperti ini harus dikapitalisasi ke dalam rekening aktiva yang bersangkutan (masuk dalam harga perolehan). Contoh pengeluaran ini adalah pembayaran untuk pembelian mobil, biaya balik nama dan sebagainya. b. Pengeluaran Pendapatan Pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan untuk memperoleh manfaat yang hanya bisa dirasakan dalam periode akuntansi yang bersangkutan. Pengeluaran-pengeluaran ini akan dibukukan dalam rekening tersendiri yaitu rekening biaya. Contoh pengeluaran jenis ini adalah pembelian oli, bensin, reparasi. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 56

BAB 8 INVESTASI JANGKA PENDEK 8.1 PENGERTIAN INVESTASI JANGKA PENDEK Investasi jangka pendek yaitu kelebihan uang kas dalam suatu perusahaan tidak akan menimbulkan pendapatan karena itu kelebihan kas sebaiknya diinvestasikan selama masa tidak terpakainya kas tersebut Pengaturan akutansi dan pelaporan investasi obligasi ( efek Utang) dan saham (efek Ekuitas) diatur dalam PSAK No. 50. Menurut PSAK tersebut perusahaan harus mengklasifikasikan investasi saham ke dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini : 1. Dimiliki Hingga Jatuh Tempo ( Held To Maturity) Efek ekuitas yang dibeli dan dimiliki sampai jatuh tempo harus diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo. 2. Diperdagangkan ( Trading) Efek yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu dekat harus diklasifikasikan ke dalam kelompok diperdagangkan. Investasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mecari laba dari perbedaan harga jangka pendek. 3. Tersedia Untuk Dijual (Available For Sale) Efek yang tidak diklasifikasikan ke dalam dua kelompok tersebut harus dilasifikasikan ke dalam kelompok tersedia untuk dijual. 8.2 Investasi Jangka Pendek : Obligasi dan Saham Investasi jangka pendek bertujuan untuk dijual kembali dalam jangka pendek, bukan untuk menguasai perusahaan emiten. Pembelian sekuritas jangka pendek lazimnya dicatat sebesar harga perolehan. Harga perolehan sekuritas terdiri dari harga beli ditambah dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh sekuritas tersebut seperti biaya komisi broker dan sebagainya. Pencatatan ini berlaku baik untuk obligasi maupun saham. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 57

Obligasi adalah surat bukti yang menyatakan pemegangnya memberikan pinjaman sejumlah uang pada badan yang mengeluarkan obligasi tersebut. Orang yang menanamkan modalnya akan mendapat manfaat berupa bunga yang tetap. Besarnya bunga yang diterima tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang diperoleh. Saham adalah surat bukti yang menyatakan bahwa pemegang saham ikut serta memodali suatu Perseroan Terbatas (PT). Khusus untuk transaksi pembelian sekuritas obligasi yang terjadi diantara tanggal pembayaran bunga, maka bunga yang berjalan bukan merupakan bagian dari harga perolehan, akan tetapi merupakan piutang bunga dan dicatat dalam rekening pendapatan bunga. Contoh : Pada awal 2008 Bank Indoball memutuskan untuk menginvestasikan kelebihan likuiditasnya pada obligasi dan saham jangka pendek. Transaksitransaksi yang berkaitan dengan surat berharga adalah sebagai berikut : 10 januari 2008 : Dibeli 10.000 lembar saham PT Tritih Jaya dengan nominal Rp5.000 per lembar, kurs 110% dan biaya pembelian Rp75 perlembar. Pembelian dilakukan melalui beban giro Bank Indonesia. 20 januari 2008 : Dibeli 10.000 lembar saham PT Indotext dengan nominal Rp2.000 perlembar, kurs 97%, biaya pembelian Rp20 perlembar. Pembelian secara tunai. 1 april 2008 : Dibeli 2.500 lembar obligasi 18% PT Baruna, nominal Rp5.000 perlembar dengan kurs 108%, biaya pembelian Rp20 perlembar. Pembelian atas beban giro pada bank lain (Bank ABC). Bunga dibayarkan setiap tanggal 1 juni dan 1 Desember. 31 mei 2008 : Dibeli 7.500 lembar obligasi 18% PT Adi Karya Wisesa nominal Rp2.000 perlembar dengan kurs 94% dan biaya pembelian Rp30 per lembar. Bunga obligasi dibayarkan setiap tanggal 1 Maret dan 1 September. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 58

Pencatatan terhadap transaksi tersebut pada Bank Indoball adalah : Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 10/1-2008 Dr. investasi jk.pendek-saham PT Tritih Jaya 55.750.000 Cr. Giro Bank Indonesia 55.750.000 Perhitungannya : Harga beli 10.000 x Rp5.000 x 110% = 55.000.000 Biaya pembelian 10.000 x Rp75 = 750.000 Jadi harga perolehannya di dapat Rp 55.750.000 Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 20/1-2008 Dr. investasi jk.pendek-saham PT Indotext 19.600.000 Cr. Kas 19.600.000 Perhitungannya : Harga beli 10.000 x Rp2000 x 97% = Rp 19.400.000 Biaya pembelian 10.000 x Rp20 = Rp 200.000 Jadi harga perolehannya didapat Rp 19.600.000 Pencatatan untuk transaksi pembelian obligasi PT. Baruna Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 01/4-2008 Dr. investasi jk.pdk-obligasi PT Baruna 13.550.000 Dr. pendapatan bunga 750.000 Cr. Giro bank bank lain 14.300.000 Perhitungannya : Harga beli 2500 lbr x Rp5.000 x 108% = Rp13.500.000 (+)Biaya pembelian 2500lbr x Rp20 Harga perolehan = Rp13.550.000 = Rp50.000 (+)Bunga berjalan (4/12) x 18% x Rp12.500.000 = Rp750.000 Total pembayaran = Rp14.300.000 Jurnal untuk amortisasi dan penyesuaian bunga adalah : Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 01/6-2008 Dr. Kas 1.125.000 (penerimaan bunga) Cr. Pendapatan Bunga 1.125.000 01/12-2008 Dr. Kas 1.125.000 (penerimaan bunga) Cr. Pendapatan Bunga 1.125.000 31/12-2008 Dr. Piutang Bunga 187.500 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 59

(penyesuaian bunga) Cr. Pendapatan Bunga 187.500 Investasi obligasi PT AdiKarya Wisesa Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 31/5-2008 Dr. invst. Jk.pdk-obligasi PT Adikarya W 14.325.000 Dr. pendapatan bunga 450.000 Cr. Kas 14.775.000 Keterangan : Harga beli 7500lbr x 2.000 x 94% = Rp14.100.000 (+)Biaya pembelian 7500lbr x Rp30 = Rp225.000 Harga perolehan Rp14.325.000 (+)Bunga berjalan (2/12) x 18% x 15.000.000 = Rp450.000 Total pembayaran = Rp14.775.000 Pencatatan untuk penerimaan bunga adalah : Tanggal Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 01/9-2008 Dr. Kas 1.350.000 (penerimaan bunga) Cr. Pendapatan bunga 1.350.000 31/12-2008 Dr. piutang bunga 900.000 (penyesuaian bunga) Cr. Pendapatan bunga 900.000 8.3 PENILAIAN INVESTASI JANGKA PENDEK UNTUK SEKURITAS BERISIKO Penilaian investasi jangka pendek menurut yang lazim ada tiga dasar, yaitu : 1. Harga Perolehan (Cost Basis) Penilaian berdasarkan harga perolehan, bila investasi sementara dinilai dengan harga perolehan, maka tidak perlu dibuat jurnal penyesuaian, akan tetapi harus diungkapkan dalam laporan keuangan. 2. Harga Pasar Penilaian berdasarkan harga pasar dapat dilakukan jika harga pasar sekuritas tersebut lebih kecil dari harga perolehannya. Hal ini sesuai dengan prinsip konservatif dalam pelaporan keuangan. 3. Berdasarkan harga yang terendah diantara harga perolehan atau harga pasar. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 60

Metode ini adalah metode yang paling baik dan memang digunakan dalam menilai investasi jangka pendek. Penilaian dengan metode ini tergantung pada hubungan antara harga perolehan dengan harga pasar, yaitu : a. Harga perolehan lebih besar dari harga pasar, maka disajikan sebesar harga pasar. b. Harga perolehan lebih kecil dari harga pasar, maka disajikan sebesar harga perolehan. c. Harga perolehan sama dengan harga pasar, maka disajikan sebesar harga pasar atau harga perolehan. Penilaian dengan investasi jangka pendek dengan metode ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Menentukan harga perolehan 2. Mencatat harga pasar investasi jangka pendek 3. Membandingkan untuk memilih yang terendah diantara harga perolehan atau harga pasar. 8.4 SERTIFIKAT BANK INDONESIA 8.4.1 SBI dan Mekanisme Lelang Bank komersial selalu berhadapan dengan masalah pengelolaan likuiditas karena harus menjaga kepercayaan masyarakat. Pengelolaan likuiditas berhubungan dengan dana likuid yang harus dipertahankan. Bank sebaiknya tidak kekurangan maupun tidak kelebihan likuiditas. Sertifikat Bank Indonesia merupakan alternative untuk menempatkan dana sekiranya bank kelebihan likuiditas. Dengan investasi jangka pendek pada SBI, bank disamping dapat memperoleh penghasilan, juga dapat dijual sewaktu-waktu membutuhkan dana untuk membiayai likuiditas. Sertifikat Bank Indonesia adalah instrument yang memiliki likuiditas pasar tinggi, mudah dijual/mudah dibeli dan bebas resiko. SBI adalah surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang diterbitkan oleh BI sebagai pengakuan hutang berjangka waktu pendekdengan sistem diskonto. Sebagai otoritas moneter, BI berkewajiban memelihara kestabilan nilai rupiah. Dalam paradigma yang dianut, jumlah uang primer (uang kartal + uang giral di JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 61

BI) yang berlebihan dapat mengurangi kestabilan nilai rupiah. SBI diterbitkan dan dijual oleh BI untuk mengurangi kelebihan uang primer tersebut. Pembelian SBI oleh masyarakat tidak dapat dilakukan secara langsung dengan BI melainkan harus melalui bank umum serta pialang pasar uang dan pialang pasar modal yang ditunjuk oleh BI. 8.4.2 Karakteristik Sertifikat Bank Indonesia Sertifikat Bank Indonesia yang selanjutnya disebut SBI adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek. Karakteristik Sertifikat Bank Indonesia adalah : 1. SBI memiliki satuan unit sebesar Rp1.000.000,00(satu juta rupiah). 2. SBI diterbitkan tanpa warkat (Scriptless). 3. SBI dapat diperdagangkan dipasar sekunder. 4. Jangka waktu SBI sekurang-kurangnya 1 bulan dan paling lama 12 bulan yang dinyatakan dalam jumlah hari dan dihitung dari tanggal penyelesaian transaksi sampai dengan tanggal jatuh tempo. 5. SBI diterbitkan dan diperdagangkan dengan sitem diskonto. 6. Nilai tunai transaksi dihitung berdasarkan diskonto murni. 7. Nilai diskonto. 8.4.3 Pencatatan Transaksi Pembelian SBI Pencatatan transaksi SBI disini adalah pada peserta yang memenangkan lelang SBI. Pemenang SBI bertindak sebagai pembeli SBI untuk investasi jangka pendek. Pencatatan SBI tentu sebesar harga perolehan. Selisih antara nilai nominal dengan nilai tunai dicatat sebagai pendapatan bunga diterima dimuka. 8.4.4 Prinsip dan Persyaratan Perdagangan SBI 1. SBI diterbitkan melalui mekanisme lelang 2. Lelang SBI dilakukan berdasarkan target kuantitas dengan memperhatikan tingkat suku bunga/diskonto yang terjadi. Dalam hal JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 62

BI menggunakan metode lelang dengan harga tetap (fixed rate), maka diskonto lelang SBI ditetapkan Bank Indonesia. Sedangkan dalam hal lelang menganut harga beragam (variable rate) atau multiple price, maka tingkat diskonto lelang SBI diajukan oleh peserta lelang dan BI menentukan target indikatif. 3. Dalam hal penerbitan SBI berjangka waktu 1 bulan dilakukan dengan metode fixed rate sebagaimana dimaksud pada butir 1.a maka tingkat diskonto yang berlaku ditetapkan sebesar BI-RATE. BI-RATE adalah suku bunga kebijakan dengan tenor 1 bulan yang ditetapkan Bank Indonesia secara periodic sebagai sinyal kebijakan moneter untuk jangka waktu tertentu serta diumumkan kepada public. 4. Bank Indonesia mengumumkan rencana lelang SBI selambatlambatnya pada 1 hari kerja sebelum hari pelaksanaan Lelang SBI melalui Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) dan atau sarana lain yang ditetapkan Bank Indonesia meliputi antara lain jangka waktu SBI, target indikatif, waktu pelaksanaan lelang dan waktu setelmen. 5. Pelaksanaan lelang SBI dilakukan pada hari rabu, atau pada hari kerja berikutnya atau hari kerja lain apabila hari rabu adalah hari libur, yang dapat dilaksanakan pada setiap minggu dan atau setiap dua minggu dan atau setiap bulan. Dalam hal diperlukan, Bank Indonesia dapat mengadakan Lelang SBI tambahan pada hari kerja lain. 6. Tanggal jatuh waktu SBI ditetapkan pada hari Kamis atau hari kerja berikutnya apabila hari Kamis adalah hari libur. Dalam hal diperlukan, Bank Indonesia dapat menetapkan jatuh waktu pada hari kerja lain. 7. Peserta Lelang SBI dibedakan menjadi : 8. Peserta langsung yaitu Bank dan Pialang yang melakukan transaksi Lelang SBI secara lansung dengan Bank Indonesia. 9. Peserta tidak langsung yaitu Bank yang mengajukan penawaran Lelang SBI 10. Melalui Pialang. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 63

11. Bank hanya dapat mengajukan penawaran Lelang SBI hanya untuk kepentingan diri sendiri. 12. Pialang dilarang mengajukan penawaran Lelang SBI untuk kepentingan diri sendiri. 13. Peserta Lelang SBI bertanggung jawab atas kebenaran data penawaran Lelang SBI yang diajukan. 14. Peserta Lelang SBI sedang tidak dikenakan sanksi penghentian sementara atau permanen sebagai peserta BI-SSSS. 15. Bank Indonesia hanya menerima pengajuan transaksi dari peserta lansung dan menggunakan data penawaran Lelang SBI yang diajukan peserta langsung. 16. Bank Indonesia melakukan Setelmen Dana dan Setelmen Surat Berharga hasil Lelang SBI di pasar perdana pada hari kerja berikutnya setelah hari pelaksanaan Lelang SBI (one day settlement). 17. Bank, baik yang bertindak sebagai peserta langsung maupun sebagai peserta tidak langsung, wajib menyediakan dana sebesar jumlah transaksi Lelang SBI yang dimenangkan sampai dengan cut-off warning sistem BI-RTGS untuk keperluan setelmen SBI dipasar perdana. 8.4.5 Pelaksanaan dan Pengajuan Penawaran Lelang SBI Pengajuan penawaran Lelang SBI meliputi penawaran kuantitas dan tingkat diskonto menurut jangka waktu SBI yang akan diterbitkan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Pengajuan penawaran kuantitas dari setiap peserta Lelang SBI sekurangkurangnya 1.000 unit atau Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah), dan selebihnya dengan kelipatan 100 unit atau Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). b. Penawaran tingkat diskonto (untuk lelang dengan metode variable rate) adalah dengan kelipatan 0,0625% (enam ratus dua puluh lima per satu juta). JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 64

8.4.6 Penetapan Pemenang Lelang SBI 1. Dalam hal Lelang SBI dilakukan dengan metode harga tetap (fixed rate) maka penawaran kuantitas yang masuk dari setiap peserta lelang dinyatakan diterima sebagai pemenang lelang. 2. Bank Indonesia dapat menyesuaikan kuantitas pemenang lelang sebagaimana dimaksud pada angka 1. 3. Dalam hal Lelang SBI dilakukan dengan metode harga beragam (variable rate) maka pemenang Lelang SBI ditetapkan dengan cara : a. Bank Indonesia menetapkan SOR atas penawaran Lelang SBI yang diterima. b. Kuantitas Lelang SBI yang dimenangkan oleh setiap peserta lelang dihitung sebagai berikut : - Dalam hal peserta lelang mengajukan penawaran tingkat diskonto lebih rendah dari SOR yang ditetapkan masa peserta lelang yang bersangkutan memperoleh seluruh penawaran SBI yang diajukan; - Dalam hal peserta lelang mengajukan penawaran tingkat diskonto sama dengan SOR yang ditetapkan maka peserta lelang yang bersangkutan dapat memperoleh seluruh atau sebagian yang dihitung secara proporsional. 8.4.7 Tatacara SBI Repo Dengan Bank Indonesia SBI yang telah dibeli oleh peserta lelang dapat dibeli kembali (Repurchase agreement/repo) oleh Bank Indonesia. Tatacaranya adalah : 1. Bank Indonesia melakukan SBI Repo melalui mekanisme non lelang. 2. Bank Indonesia mengumumkan tingkat diskonto SBI Repo yang berlaku pada hari transaksi dengan mencantumkan antara lain nominal transaksi dari seri SBI yang akan direpokan, dengan memperhatikan ketentuan. 8.4.8 Persyaratan Transaksi SBI Repo Dengan Bank Indonesia 1. SBI yang dapat dijual secara Repo kepada Bank Indonesia adalah : JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 65

a. SBI milik Bank yang tercatat dalam rekening perdagangan (active account) pada hari pengajuan transaksi. b. Memiliki sisa jangka waktu sekurang-kurangnya 2 hari kerja. 2. Jumlah SBI milik bank yang dapat dijual secara Repo kepada Bank Indonesia adalah sebanyak-banyaknya 50% dari jumlah kepemilikan SBI yang tercatat pada rekening perdagangan pada 1 hari kerja sebelum pengajuan SBI Repo. 3. Jangka waktu SBI Repo adalah 1 hari. Dalam hal pengajuan transaksi dilakukan pada 1 hari kerja sebelum hari libur maka tanggal jatuh waktu SBI Repo ditetapkan pada hari kerja berikutnya. 4. Tingkat diskonto SBI Repo ditetapkan sebesar nilai tertinggi dari : a. Rata-rata tertimbang suku bunga PUAB sesi pagi jangka waktu 1 hari pada 1 hari kerja sebelum transaksi ditambah 100 basis points; b. Rata-rata tertimbang tingkat diskonto SBI jangka waktu 1 bulan pada lelang terakhir ditambah 100 basis points. 5. Perhitungan jumlah hari dalam diskonto SBI Repo berdasarkan hari kelender. 6. Penyelesaian SBI Repo dilaksanakan pada hari transaksi (same day settlement). 7. Bank wajib memiliki saldo rekening giro Rupiah di Bank Indonesia yang mencukupi untuk keperluan setelmen dana pada saat setelmen pembelian kembali SBI secara Repo. Pembatalan transaksi dikenakan hanya pada nomor seri SBI yang tidak dapat dilakukan setelmen dana seluruhnya. Atas batalnya transaksi, bank dikenakan sanksi. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 66

BAB 9 INVESTASI PADA SURAT UTANG NEGARA 9.1 JENIS SURAT UTANG NEGARA Surat Utang Negara yang selanjutnya disebut SUN yang diterbitkan dan dijual dengan ara lelang di Pasar Perdana terdiri dari : a. Surat Perbendaharaan Negara yang selanjutnya disebut SPN yaitu SUN dalam mata uang rupiah yang berjangka waktu sampai 12 (dua belas) bulan, dengan pembayaran bunga secara diskonto; dan b. Obligasi Negara yang selanjutnya disebut ON yaitu SUN dalam mata uang rupiah yang berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas ) bulan dengan kupon dan atau dengan pembayaran bunga secara diskonto. Surat utang Negara dapat diperoleh melalui lelang di pasar perdana di bank Indonesia. Pihak yang dapat membeli SUN di Pasar Perdana yaitu orang perorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiai atau kelompk yang terorganisasi. Sedangkan pihak yang dapat mengikuti Lelang SUN di Pasar Perdana yang selanjutnya disebut Peserta Lelang terdiri dari Bank, Perusahaan Pialang Pasar Uang dan Perusahaan Efek yang telah ditunjuk oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia. Pembeli yang bukan Peserta Lelang megajukan enawaran pembelian SUN melalui Peserta Lelang. 9.2 CARA PEMBELIAN SURAT UTANG NEGARA Cara pembelian Surat Utang Negara a. Pembelian Kompetitif, yaitu pembelian Kompetitf (compecitive bidding) adalah pengajuan penawaran pembeian dengan mencantumkan volume dan tingkat imbal hasil (yield) yang diinginkan penawar. b. Pembelian Non-kompetitif (non-competitive bidding) adalah pengajuan penawaran pembelian dengan mencantumkan volume tanpa imbal hasil (yield) yang diinginkan penawar. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 67

Persentase untuk penawaran pembelian kopetitf dan penawaran pembelian non-kompetitif ditentukan sebelum Lelang SUN. Dalam hal penawaran pembelian kompetitif melebihi target yang ditetapkan sedangkan penawaran pembelian non- kompetitf melebihi target yang ditetapkan, atau sebaliknya, alokasi persentase penawaran pembelian kompetitif dan penawaran pembelian non-kompetitif dapat disesuaikan untuk menyerap kelebihan atau kekurangan pada salah satu jenis penawaran lelang. Sedangkan stetmen hasil lelang SUN di Pasar Perdana dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : a. SPN dilakukan pada satu hari kerja berikutnya setelah hari pelaksanaan lelang SPN (T 1) b. ON selambat-lambatnya dilakukan pada 5 hari kerja berikutnya setelah pengumuman hasil pengumuman pemenang lelang ON (T 5). Ketentuan dan Persyaratan Lelang SUN : 1. Lelang SUN dilakukan berdasarkan target kuantitas dengan memperhatikan tingkat diskonto atau yield dari penawaran yang diteima. 2. Bank dan perusahaan efek dapat mengajukan penawaran lelang SUN untuk dan atas nama diri sendiri dan pihak lain yaitu orang perorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi. 3. Perusahaan Pialang Psar Uang hanya dapat mengajukan penawaran lelang SUN untuk kepentingan pihak lain yaitu orang perorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi. 4. Dalam hal peserta lelang mengajukan penawaran pembelian SUN untuk dan atas nama diri sendiri maka penawaran pembelian hanya dapat dilakukan dengan cara penawaran pembelian kompetitif. 5. Dalam hal peserta lelang mengajukan penawara pembelian SUN untuk dan atas nama pihak lain yaitu orang perorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi atau kelompok yang terorganisasi, amak pengajuan penawaran dapat dilakukan dengan cara penawaran pembelian kompetitif dan atau penawaran pembelian non-kompetitif. 6. Bank Indonesia mengumumkan rencana target kuantitas lelang berupa target indikatif selambat-lambatnya 1 (satu) hari kerja sebelum hari pelaksanaan JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 68

lelang SUN melalui Pusat Informasi Psar Uang (PIPU) dan sarana lain yang ditetapkan Bank Indonesia. Tata Cara Pelaksanaan Lelang SUN 1. Bank Indonesia mengumumkan target indikatif fan tanggal pelaksanaan lelang SUN melalui PIPU dan sarana lain yang ditetapkan Bank Indonesia 2. Pengumuman rencana lelang SUN antara lain memuat : a. Waktu pelaksanaan lelang b. Target indikatif yang ditawarkan c. Jangka waktu SUN d. Tanggal penetiban dan tanggal jatuh tempo e. Mata uang f. Waktu pembukaan dan penutupan penawaran pembelian (bid) g. Waktu pengumuman hasil lelang h. Tanggal setelmen i. Alokasi untuk Penawaran Pembelian Non-kompetitif dalam hal dilakukan kombinasi lelang kompetitif dan non kompetitif j. Sarana pengajuan penawaran lelang 3. Pada hari pelaksanaan lelang SUN, peserta lelang mengajukan penawaran kuantitas dan tingkan dikonto atau yield menurut jangka waktu utntuk penawaran pembelian kompetitif atau penawaran kuantitas untuk penawawan pembelian non-kompetitif. 4. Pengajuan lelang SUN dilakukan oleh kantor pusat suatu bank atau kantor cabang bank yang ditunjuk kanto pusat suatu bank. Penunjukan kanor cabang Bank dimaksdu wajib disampaikan kepada Bank Indonesia cp. Bagian OPU- DPM, selambat-lambatnya 1 hari kerja sebelum transaksi lelang SUN dan tetap berlaku sampai dengan ada surat pencabutan penunjukan dimaksud. 5. Pengajuan enawaran dilakukan oleh kantor pusa Perusahaan Pialang Pasan Uang dan Perusahaan Efek 6. Penawaran lelang SUN yang mencakup penawaran kuantitas dan tingkat diskonto atau yield menurut jangka waktu diatur dengan ketentuan sebagai berikut : JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 69

a. Pengajuan penawaran kuantitas dari masing-masing peserta lelang sekurang-kurangnya 1.000 unti dari atau Rp1.000.000.000,00 dan selebihnya dengan kelipatan 100 unit atau Rp. 100.000.000,00 b. Penawaran yang diajukan oleh Perusahaan Pialang Pasar Uang atau Perusahaan Efek, wajib disertai konfirmasi langsung dari bank yang ditunjuk sebagai bank pembayar untuk melakukan setelmen dana c. penawaran diskonto atau yield diajaukan dengan kelipatan 0,01% 9.3 PENENTUAN PEMENANG LELANG SUN Menteri Keuangan Republik Indonesia menetapkan hasil dan pemenang lelang SUN di pasar perdana. Metode penentuan pemenang lelang SUN dilakukan dengan system Top-out Rate yaitu penjualan SUN berdasarkan target indikatif SUN yang akan dijual Pemerintah. Stopout Rate yang selanjutnya disebut SOR adalah tingkat dikonto atau yield tertinggi yang dihasilkan dari penawaran lelang SUN di pasar perdana dalam rangka mencapai target indikatif SUN yang akan dijual pemerintah. SOR ditetapkan oleh menteri keuang RI. Penentun harga dan kuantitas bagi masing-masing pemenang lelang dilakukan sebagai berikut : 1. Penawaran Pembelian Kompetitif a. Dalam hal penawaran tingkat diskonto atau yiled lebih rendah dari SOR, peserta lelang memperoleh seluruh penawaran kuantitas SUN yang diajukan dengan tingkat diskonto atau yield yang diajukan. b. Dalam hal penawaran tingkat diskonto atau yield sama dengan SOR, peserta lelang dapat memperoleh seluruh atau sebagian enawaran kuantitas SUN yang diajukan berdasarkan perhitungan secara proporsional, denga tingkat diskonto atau yield yang diajukan. 2. Penawaran Pembelian Non-kompetitif a. Penetapan harga SUN bagi pemenang lelang SUN dihitung berdasarkan harga rata-rata tertimbang (weighted aberage price) dari hasil lelang penawaran pembelian kompetitif. b. Penetapan Kuantitas SUN bagi pemenang lelang dilakukan sebagi berikut: JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 70

Dalam hal jumlah penawaran lebih kecil dari alokasi maksimum untuk lelang non kompetitif, peserta lelang memperoleh seluru kuantitas yang diajukan Dalam hal jumlah penawaran lebih besar dari alokasi maksimum untuk lelang non kompetitif, peserta lelang memperoleh sebagian penawaran kuantitas yang diajukan, berdasarkan perhitungan secara proposional. 9.4 PERLAKUAN AKUTANSI DAN PERHITUNGAN HARGA SETELMEN HASIL LELANG SUN Perlakuan Akutansi SUN Investasi pada SUN dicatat sebesar harga perolehan saat setelmen. Harga perolehan adalah harga beli/setelmen ditambah biaya pembelian (bila ada). Pada pemenang lelang SUN, harga setelmen dapat dijadikan harga perolehan ketika tak ada biaya pembelian apa pun. Bila dalam harga setelmen terkandung bunga yang dibayar saat pembelian (untuk obligasi Negara dengan kupon), maka bunga tersebut harus dicatat tersendiri. Selisih harga perolehan diatas harga nominal SUN disebut agio, sedangkan selisih harga perolehan di bawah harga nominal disebut sebagai disagio. Agio akan diamortisasi selama umur SUN. Disagio akan diakumulasi selama umur SUN. Penentuan besarnya amortisasi atau akumulasi setiap periode data mengguanakan metode garis lurus. Pembelian SUN yang dilakukan tidak pada tanggal pembayaran bunga, akan menimbulkan masalah bunga berjalan yang aib dibayar embeli (pemenang lelang) untuk jangka waktu tanggal bunga terakhir sampai tanggal pembelian/setelmen. Pembayaran bunga berjalan ini bukan merupakan bagian harga peroehan sehingga harus dicatata atau tersendiri. 1. Perhitungan Harga Setelmen Hasil Lelang SUN 1. Jangka waktu SUN dinyatakan dalam jumlah hari dan dihitung dari tanggal setelmen dampai dengan tanggal jatuh tempo. 2. Jumlah hari bunga (day account) untuk perhitungan accued interest menggunakan basis Actual per Actual (A/A) 3. Perhitungan harga setemen dana dilakukan sebagai berikut : JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 71

a. Untuk SPN : Harga setelmen = (harga bersih per unit SPN yang sudah dibulatkan) x (jumlah unit SPN yang dimenangkan) b. Untuk ON dengan system kupon : Harga setelmen = (harga bersih perunti ON yang sudah dibulatkan ditambah accued interest perunit ON yang sudah dibulatkan) x (jumlah unit ON yang di menangkan) c. Untuk ON dengan system diskonto (zero coupon bonds) Hrga setelmen = (harga bersih perunit ON yang sudah dibulatkan) x (jumlah unit ON yang dimenangkan) Rumus harga per unit SPN dan ON seperti di bawah ini: Cara perhitungan harga stelmen per unit Surat Perbendaharaan Negara (SPN) adalah sebagai berikut: Keterangan: = Harga setelmen per unit SPN; N = Nilai nominal SPN per unit; i = Yield dalam persentase, sampai dengan 4 desimal; D = jumlah hari sebenanrnya (actual days) yang dihitung sejak 1 hari sesudah tanggal setelmen smapai dengan tanggal jatuh tempo. 2. Perhitungan Harga Stelmen Obligasi Negara a. Harga Stelmen Obligasi Negara Dengan Kupon Cara perhitungan harga stelmen per unit obligasi negara dengan kupon adalah sebagai berikut: Langkah 1: Harga bersih (clean price) per unit dihitung sebagai berikut: Langkah 2: Harga stelmen per unit dihitung sebagai berikut: JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 72

b. Harga Stelmen Obligasi Negara Tanpa Kupon (Zuro Coupon Bonds) Cara perhitungan harga stelmen per unit obligasi negara tanpa kupon adalah sebagai berikut: Keterangan: = Harga stelmen per unit obligasi negara dengan kupon; = Harga stelmen per unit obligasi negara tanpa kupon; P = Harga bersih (clean price) per unit obligasi negara dengan kupon; AI = Bunga berjalan (accrued interest) per unit obligasi negara dengan kupon; N = Nilai nominal obligasi negara per unit; D = Jumlah hari sebenarnya (cactual days) yang dihitung sejak 1 hari sesudah tanggal setelmen samapi dengan jatuh tempo; a = Jumlah hari sebenarnya (actual days) dihitung dari 1 hari sesudah tanggal dimulainya periode kupon sampai dengan tanggal stelmen; c = tingkat kupon (coupon rate) d = Jumlah hari sebenarnya (actaul days) yang dihitung sejak 1 hari sesudah tanggal setelmen sampai dengan tanggal pembayaran kupon berikutnya; E = Jumlah hari sebenarnya (actaul days) yang dihitung sejak 1 hari sesudah tanggal dimulainya dengan tanggal pembayaran kupon berikutnya, dimana pelaksanaan stelmen terjadi. k = 1, 2, 3,... F = jumlah frekuensi pembayaran kupon yang tersisa dari tanggal setelmen sampai dengan tanggal jatuh tempo; n = Frekuensi pembayaran kupin dalam setahun. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 73

BAB 10 AKUNTANSI KREDIT YANG DIBERIKAN 10.1 AKUNTANSI KREDIT YANG DIBERIKAN Kredit yang diberikan oleh bank dapat didefinisikan sebagai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktutertentu dengan jumlah bunga imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Bank dapat memberikan kredit kalau memiliki dana yang sama dengan itu, bank terlibat kesepakatan dengan calon debitur baik volume, tingkat bunga, jangka waktu maupun Bangunan. Bagi bank persetujuan kredit merupakan komitmen yang tak bias dibatalkan begitu juga bagi debitur. Disamping itu setelah kredit dikucurkan bank selalu harus memantau kualitas kredit. Semakin lama jangka waktu kredit umumnya semakin besar risikonya. 10.2 JENIS KREDIT YANG DIBERIKAN Jenis kredit secara umum dibedakan sesuai dengan bentuk kredit, jangka waktu dan tujuan penggunaan kredit. a. Jenis Kredit Menurut Bentuknya Menurut bentuknya, pemberian kredit dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu kredit rekening Koran dan kredit installment. 1. Kredit Rekening Koran Kredit rekening Koran merupakan kredit yang secara langsung akan dimasukkan dalam rekening giro nasabah. Debitur diberi hak untuk menarik dananya dari rekening giro kapan saja sebatas plafon kredit yang diberikan. Kredit rekening Koran tergolong dalam kredit jangka pendek, yaitu paling lama satu tahun. 2. Installment Loan Kredit ini adalah kredit yang angsuran pokok dan bunganya dilakukan secara teratur menurut jadwal waktu yang telah disepakati antara bank JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 74

dengan debitur, dengan nilai konstan selama berlangsungnya masa kredit tersebut. Pada kredit Installment angsuran pokok meningkat dan angsuran bunga menurun, sehingga total angsuran menjadi konstan sepanjang masa kredit. b. Jenis Kredit Menurut Jangka Waktunya Menurut jangka waktunya, kredit dibagi menjadi 3, yaitu kredit jangka pendek, kredit jangka menengah, dan kredit jangka panjang. 1. Kredit Jangka Pendek Kredit jangka pendek adalah kredit yang diberikan dengan masa kredit maksimum selama 1 tahun. Kredit jangka pendek pada umumnya diberikan untuk kredit modal kerja dan kredit rekening Koran. 2. Kredit Jangka Menengah Kredit yang jangka waktunya antara 1 tahun sampai dengan 3 tahun. Kredit ini biasanya diberikan untuk kredit investasi yang nilai kreditnya tidak terlalu besar dan kredit konsumsi. 3. Kredit Jangka Panjang Kredit jangka panjang adalah kredit yang diberikan oleh bank dengan jangka waktu lebih dari 3 tahun. Kredit ini diberikan pada umumnya untuk KPR dan kredit investasi. c. Jenis Kredit Menurut Kegunaannya Menurut tujuan penggunaan kredit, jenis kredit dibagi menjadi 3, yaitu kredit investasi, kreidt modal kerja, dan kredit konsumsi. 1. Kredit Investasi Kredit investasi merupakan kredit yang diberikan dengan tujuan untuk mengadakan barang-barang modal atau dalam rangka investasi perusahaan, misalnya kredit untuk membangun proyek, membeli mesin, membeli alat angkutan, dan kredit untuk membeli aktiva tetap. 2. Kredit Modal Kerja Kredit modal kerja diberikan oleh bank dalam rangka memberikan kebutuhan modal kerja perusahaan. Modal kerja perusahaan dapat berupa kebutuhan operasional perusahaan antara lain kebutuhan dana JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 75

untuk menutup piutang-piutang perusahaan, kebutuhan dana untuk menutup penggunaan dana dalam proses pembuatan produk/barang, dan kebutuhan modal kerja lainnya. Termasuk dalam kredit modal kerja antara lain kredit rekening Koran.Kredit rekening Koran adalah kredit yang diberikan dengan plafon tertentu dan penarikannya disesuaikan dengan kebutuhan nasabah. Dengan demikian, saldo kredit debitur akan berfluktuasi sesuai dengan penarikan dan penyetoran kredit. Bunga yang dibebankan kepada nasabah adalah sesuai dengan saldo kredit dikalikan dengan jangka waktu pengendapan pinjamannya tersebut. 3. Kredit Konsumsi Kredit konsumsi merupakan kredit yang diberikan dengan tujuan untuk pembelian barang-barang konsumsi yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Misalnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit untuk pembelian kendaraan bermotor, dan kredit untuk pembelian barang-barang konsumsi lainnya. 10.3 PEMBUNGAAN KREDIT 1. Efective Rate atau Pembayaran Anuitas a. Anuitas pembayaran pada setiap akhir periode angsuran (Postnumerando) Kredit dengan angsuran postnumerando umumnya untuk kredit tunai (kredit yang direalisasikan dalam bentuk uang tunai). Contoh: kredit modal kerja, kredit investasi, kredit pegawai. Rumus Anuitas : M i A = 1- (1+i) - n Keterangan : A M = Anuitas = Nilai Kredit JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 76

i n = Tingkat suku bunga = Jangka waktu kredit (bulan) Rumus Angsuran / cicilan pokok pertama : a1 = A / (1 + i)n Rumus untuk menghitung angsuran pokok ke-n atau an : an = a1 (1 + i)n-1 Rumus untuk menentukan angsuran bunga pertama : b = M x i Rumus untuk menentukan angsuran bunga ke-n atau bn : bn = A - an Rumus untuk menghitung saldo pokok : Pokok pinjaman cicilan pokok b. Angsuran kredit diterima setiap awal bulan (Prenumerando) Kredit ini biasanya untuk kredit nontunai seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Mobil (KPM). Untuk kredit-kredit semacam ini, nasabah biasanya akan dibebani uang muka (down payment) dan angsuran perdana pada saat akad kredit ditandatangani. Pola pembayaran ini sebenarnya nasabah membayar angsuran di awal bulan. Rumus untuk mencari Anuitas : M A = [1 - (1 + i) n + 1] + 1 i JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 77

Keterangan : A = Anuitas M = Nilai kredit i = Tingkat suku bunga n = Jangka waktu kredit (bulan) Rumus untuk mencari cicilan pokok dan cicilan bunga serta saldo pokok sama dengan metode Postnumerando. 2. Sliding Rate Angsuran pokok diperhitungkan tetap atau sama pada setiap angsuran, sedangkan bunga diperhitungkan menurun sejalan dengan berkurangnya sisa kredit. Rumus untuk menentukan angsuran/cicilan pokok : a = M n Keterangan : a = angsuran / cicilan pokok M = Plafon Kredit n = Periode kredit (bulan) Rumus untuk menentukan angsuran bunga : b1 = M x i b2 = (M a) x i b3 = (M (a x 2)) x i b4 = (M (a x 3)) x i sehingga : bn = (M (a x (n 1))) x i 3. Flat Rate Perhitungan bunga dengan flat rate didasarkan pada perhitungan bunga secara prorata sesuai dengan jangka waktu kredit dan nominal kredit. Apabila menggunakan flat rate umumnya akan mennentukan tingkat suku JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 78

bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan effective rate atau sliding rate. Rumus untuk menentukan angsuran pokok dan bunga : M + (M x i x t) Angsuran pokok dan bunga = N Keterangan : M = Plafon kredit i = Tingkat suku bunga (dalam persen) t = Jangka waktu kredit (tahun) n = Jumlah bulan angsuran selama masa kredit Contoh: Berdasarkan contoh diatas, perhitungan bunga dengan metode Sliding Rate sebagai berikut: 1. Menghitung besarnya angsuran pokok: a = M n a = 200.000.000 = Rp 16.666.666,67 12 2. Menghitung angsuran bunga: b1 = M x i bn = (M (a x (n-1) x i b2 = (M a) x i b1 = 200.000.000 x 0,015 = Rp 3.000.000 b2 = (200.000.000 16.666.666,67) x 0,015 = 2.750.000 Daftar Angsuran dengan Metode Sliding Rate Angs Bulan Pokok Pinjaman Cicilan Pokok Cicilan Angsuran Per Saldo Pokok ke Bunga Bulan 1 1 Mei 06 200.000.000 16.666.666,67 3.000.000 19.666.666,67 183.333.333,33 2 1 Juni 06 183.333.333,33 16.666.666,67 2.750.000 19.416.666,67 166.666.666,67 3 1 Juli 06 166.666.666,67 16.666.666,67 2.500.000 19.166.666,67 150.000.000 4 1 Agst 06 150.000.000 16.666.666,67 2.250.000 18.916.666,67 133.333.333,33 5 1 Sep 06 133.333.333,33 16.666.666,67 2.000.000 18.666.666,67 116.666.666,67 6 1 Okt 06 116.666.666,67 16.666.666,67 1.750.000 18.416.666,67 100.000.000 7 1 Nop 06 100.000.000 16.666.666,67 1.500.000 18.166.666,67 83.333.333,33 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 79

8 1 Des 06 83.333.333,33 16.666.666,67 1.250.000 17.916.666,67 66.666.666,67 9 1 Jan 07 66.666.666,67 16.666.666,67 1.000.000 17.666.666,67 50.000.000 10 1 Feb 07 50.000.000 16.666.666,67 750.000 17.416.666,67 33.333.333,33 11 1 Mar 07 33.333.333,33 16.666.666,67 500.000 17.166.666,67 16.666.666,67 12 1 Apr 07 16.666.666,67 16.666.666,67 250.000 16.916.666,67 0 219.500.000 4. Konversi Bunga Flat ke Bunga Efektif Untuk konversi ini kita bisa menggunakan formula sebagai berikut Keterangan: n = periode angsuran i = tingkat bunga flat 10.4 PERLAKUAN AKUNTANSI BUNGA KREDIT Bunga kredit dibukukukan tersendiri (terpisah dengan angsuran pokok kredit). Perlakuan bunga kredit akan dilihat dari kualitas kredit yang memberikan bunga. Bila kredit tergolong lancar, maka bank bisa menerapkan Accrual Basis. Bank bisa melakukan pencatatan pendapatan bunga setiap saat pelaporan. Bank bisa melakukan pencatatan pendapatan bunga setiap saat pelaporan. Dengan demikian bunga yang belum jatuh tempo, bisa saja dicatat sebagai piutang bunga ketika pelaporan keuangan dilakukan. Namun bagi kredit bermasalah (misalnya dalam pengawasan khusus, kurang lancar, diragukan, macet) maka bank akan memperlakukan pendapatan bunga berdasarkan Cash Basis. 10.5 POS-POS PENGECUALIAN DALAM PERHITUNGAN BATAS MAKSIMUM PEMBERIAN KREDIT (BMPK) Dalam memperhitungkan BMPK suatu bank, harus dicermati beberapa pos yang tidak perlu diperhitungkan yaitu : a. Penanaman dana pada Sertifikasi Bank Indonesia (SBI) dan surat hutang pemerintahindonesia. b. Penanaman dana yang diterbitkan atau dijamin oleh pemerintah Indonesia atau dijamin olehbank Indonesia, misalnya skimp penempatan dana BI, dan lain-lain. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 80

c. Penyertaan modal sementara pada perusahaan debitur untuk mengatasi kegagalan kredit(restrukturisasi kredit). d. Penyediaan dana yang dijamin oleh cash collateral. Penyediaan dana ini yang dijamindengan SBLC yang dianggap cash collateral dikecualikan dalam BMPK namun harus memenuhi persyaratan: Bank telah melaporkan mengenai aktiva produktif yang dijamin SBLC dan realisasipencairan SBLC. SBLC harus diterbitkan atau dijamin oleh prime banks yang memiliki peringkat minimal A dari lembaga pemeringkat internasional. Jangka waktunya harus meng-cover jangka waktu aktiva produktif plus 90 hari. SBLC harus dicairkan selambat-lambatnya 90 hari setelah debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank atau pada saat kredit bermasalah. Bila SBLC tidak bisa dicairkan, maka penyediaan dana ini menjadi diperhitungkan dalam BMPK. Khusus tagihan kepada prime banks yang berperingkat A diecualikan dari perhitunganbmpk sebab dianggap tidak beresiko. e. Penempatan dana antar bank yang dijamin oleh pemerintah (selama masih berlaku) sepanjang bank tempat penempatan memenuhi syarat penjaminan. Penjaminan pemerintah diberikan kepada kewajiban bank, bukan aset bank. Kewajiban tersebut bagi setiap bank berbadan hukum Indonesia. f. Pengambilalihan (negosiasi) wesel ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar L/Cberjangka (Usance L/C) yang masih berlaku dan diaksep oleh prime banks di luar negeri. 10.6 PELAMPAUAN BMPK Pelampauan BMPK pada bank umum adalah selisih lebih antara persentase BMPK yang diperkenankan dengan persentase Penyediaan Dana terhadap Modal Bank pada saat tanggal laporan dan tidak termasuk Pelanggaran BMPK. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 81

Pelampauan BMPK pada bank perkreditan rakyat (BPR) adalah selisih lebih antara persentase Penyediaan Dana yang telah direalisasikan terhadap Modal BPR pada saat tanggal laporan dengan BMPK yang diperkenankan dan tidak termasuk Pelanggaran BMPK Formulasi pelampauan BMPK : Bank dianggap melampaui BMPK apabila bank melakukan penyediaan dana melebihi persentase maksimum karena perubahan-perubahan yang terjadi setelah penyediaan dana realisasi. Pelampauan BMPK yang terjadi akibat gejolak kurs dan/atau penurunan modal bank atas penyediaan dana yang telah diberikan, tidak dikategorikan sebagai pelanggaran BMPK.Kurs yang menjadi dasar adalah kurs neraca bank pada akhir bulan. 10.7 PELANGGARAN BMPK Pelanggaran BMPK pada bank umum adalah selisih lebih antara persentase BMPK yang diperkenankan dengan persentase Penyediaan Dana terhadap Modal Bank. Pelanggaran BMPK dapat dilihat pada saat bank melakukan realisasi penyediaan dana telah melebihi dari persentase maksimum. Pelanggaran BMPK pada bank perkreditan rakyat (BPR) adalah selisih lebih antara persentase Penyediaan Dana pada saat direalisasikan terhadap Modal BPR dengan BMPK yang diperkenankan. Formulasi pelanggaran BMPK: Bank harus menolak realisasi dana yang dilakukan debiturnya apabila berdasarkan perhitungan dengan formula diatas akan mengakibatkan terjadinya pelanggaran BMPK. Penolakan ini bisa dilakukan bila dalam perjanjian sebelumnya memberikan pernyataan tentang klausal ini. Dengan memperhatikan ketentuan di atas, maka dapat dikatakan bahwa bank-bank yang tidak memiliki modal atau bahkan CAR (Capital Adequacy Ratio) negatif secara otomatis melakukan pelampauan dan pelanggaran BMPK. Bank yang memiliki CAR sebesar 0 atau minus dilarang untuk memberikan kredit/penempatan dana pada umumnya. Kecuali telah mendapat persetujuan pemerintah untuk mengikuti program rekapitulasi perbankan. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 82

10.8 PELAPORAN AKUNTANSI PELANGGARAN BMPK Pelaporan mengenai posisi BMPK harus dilakukan bank komersial kepada bank sentral,pihak terkait, pihak tak terkait. Laporan tersebut menyangkut pelampauan BMPK maupun Pelaporan pelanggaran BMPK. Laporan-laporan tersebut antara lain : a. Laporan Pelanggaran BMPK kepada Pihak Terkait b. Laporan Pelanggaran BMPK kepada Pihak Tidak Terkait c. Laporan Pelampauan BMPK kepada Pihak Tidak Terkait d. Laporan Penyediaan Dana dan Pelampauan BMPK kepada Pihak Terkait JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 83

BAB 11 JASA PENGIRIMAN UANG (TRANSFER) DAN INKASO 11.1 PENGERTIAN TRANSFER Transfer adalah suatu kegiatan jasa bank untuk memindahkan sejumlah dana tertentu sesuai dengan perintah si pemberi amanat yang ditujukan untuk keuntungan seseorang yang ditujuk sebagai penerima transfer. Baik transfer uang keluar atau masuk akan mengakibatkan adanya hubungan antar cabang yang bersifat timbale balik, artinya bila satu cabang mendebet cabang lain mengkredit. 11.2 JENIS TRANSFER Jenis Transfer ada dua, yaitu: 1. Transfer Keluar Transfer keluar yaitu pengiriman uang atas perintah nasabag/bagian bank tertentu untuk keuntungan pihak lain pada bank lain atau cabang bank sendiri. Pembatalan Transfer Keluar Bila terjadi pembatalan transfer keluar, maka harus diperhatikan bahwa pembatalan tersebut hanya dapat dilakukan apabila transfer keluar belum dibayarka kepada si penerima uang dan untuk itu bank pemberi amanat harus member perintah berupa stop payment kepada cabang pembayar. Pembayaran pembatalan ini baru dapat dilakukan oleh bank pemberi amanat kepada nasabah pemberi amanat apabila telah diterima berita konfirmasi dari bank pembayar bahwa memang transfer yang dimaksud belum dibayarkan. 2. Transfer Masuk Transfer masuk yaitu pengiriman uang yang diterima dari cabang lain, bank sendiri, atau dari bank lain untuk keuntungan nasabah sendiri atau penerima dana pada bank sendiri. Pembatalan Transfer Masuk JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 84

Seperti halnya dalam transfer keluar, dalam transfer masuk juga dapat terjadi pembatalan. Jika terjadi pembatalan, pertama-tama yang harus dilakukan adalah memeriksa apakah hasil transfer telah dibayarkan kepada beneficiary. Apabila ternyata belum, maka akan diblokir dan dibatalkan untuk kemudian dikembalikan kepada cabang pemberi amanat melalui pemindah-bukuan. 11.3 KEGIATAN PENGIRIMAN UANG DAN PRINSIP MENGENAL NASABAH (KNOW YOUR CUSTOMER/KYC) Kegiatan transfer dana memiliki risiko bagi bank, oleh karena itu harus dikendalikan sedini mungkin minimal melalui penerapan prinsip mengenal nasabah atau melalui monitoring uang yang dikirim dan/atau diterima dan perlunya mekanisme penyelesaian permasalahan mengenai uang kiriman yang terlambat atau tidak sampai. Khusus menenai prinsip mengenal nasabah adalah sangat membantu tim audit dalam menentukan keberadaan penyimpangan di bidang akuntansi. Oleh karena kegiatan transfer wajib menerapkan prinsip menganal nasabah agar tidak disalahgunakan untuk kepentingan monet laundering atau pencucian uang. Prinsip mengenal nasabah adalah prinsip yang diterapkan oleh penyelenggara untuk mengetahui antara lain identitas pengirim dan/atau penerima, memantau kegiatan usaha pengiriman uang, dan melaporkan transaksi yang mencurigakan sebagaimana diatur dalam peraturan mengenai tindak pidana pencucian uang. Dalam hal kegiatan transfer prinsip mengenal nasabah dapat dicontohkan sebagai berikut: CONTOH TATA CARA PENERAPAN PRINSIP MENGENAL NASABAH Yang dimaksud dengan nasabah dalam tata cara ini adala pengirim dan/atau penerima. 1. Pengenalan terhadap nasabah mencakup hal-hal sebagai berikut: a. Penelitian Indentitas Nasabah 1). Perorangan JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 85

a) Meminta nasabah untuk memperlihatkan identitas diri antara lain: Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), atau Paspor. b) Meneliti bahwa nasabah telah sesuai dengan identitas nasabah, antara lain kesamaan wajah pengirim/penerima dengan foto yang ada dalam identitas dan/atau tanda tangan. 2). Perusahaan a) Meminta nasabah untuk memperlihatkan identitas seperti izin usaha atau NPWP. b) Meneliti bahwa nasabah telah sesuai dengan identitas nasabah. Dalam hal nasabah tidak dapat menunjukkan bukti identitas atau identitas nasabah tidak sesuai dengan data yang tertulis dalam formulir pengiriman atau data penerimaan, dan/atau petugas penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang meragukan keaslian atau kebenaran dari identitas nasbah maka transaksi dengan nasabah tersebut tidak boleh dilakukan. b. Pencatatan Transaksi Penyelenggara harus melakukan pencatatan transaksi setiap nasabah yang sekurang-kurangnya meliptui: 1) Perorangan: a) Nama dan alamat nasabah; b) Tempat dan tanggal lahir; c) Pekerjaan; d) Kewarganegaraan; e) Nomor bukti identitas; f) Nilai transaksi; dan g) Tanggak transaksi. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 86

2) Peruahaan: a) Nama dan alamat nasabah; b) Bidang usaha; c) Nomor izin usaha; d) NPWP; e) Nilai transaksi; dan f) Tanggal transaksi. c. Penyimpanan Dokumen Transaksi Data dan dokumen mengenai transaksi sebagaimana dimaksud pada huruf b harus ditatausahakan oleh penyelenggara sesuai dengan ketentuan yang mengatiur mengenai dokumen perusahaan. 2. Contoh transaksi keuangan mencurigakan: a. Pengiriman uang tanpa disertai identitas yang jelas dari pengirim dan/atau peenrima. b. Pengiriman uang tidak sesuai atau menyimpang dari profile, karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan. c. Uang yang dikirim diduga berasal dari hasil tindak pidana. 11.4 AKUNTANSI TRANSFER KELUAR Transfer keluar akan dilakukan setelah seluruh setoran efektif. Setoran transfer dapat berupa setoran tunai, pendebetan rekening koran/giro, pencairan tabungan, deposito, warkat lain yang disetujui. Setoran-setoran yang berupa warkat akan ditagihkan/diinkasokan/dikliringkan terlebih dahulu. Bila seluruh dana efektif, maka transfer dilakukan. Transfer keluar yang dinyatakan efektif akan dicatat sebesar nilai nominal yang diamanatkan nasabah. Pencatatan ini akan melibatkan rekening antarkantor (RAK). Kegiatan transfer keluar akan mendatangkan pendapatan berupa komisi transfer. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 87

Contoh: Tanggal 5 Mei 2011 Bank Mitra Niaga Semarang mentransfer dana sebesar Rp. 100.000.000 ke cabang Solo sebagai pelimpahan likuiditas melalui Bank Indonesia cabang Semarang. Pencatatan jurnalnya adalah: Bank Indonesia Semarang Bank Indonesia Solo Bank Mitra Niaga Semarang Bank Mitra Niaga Solo Pencatatan di Bank Mitra Niaga Semarang Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) 5/5/2011 Dr. RAK Cabang Solo 100.000.000 Cr. Giro Bank Indonesia 100.000.000 11.5 AKUNTANSI TRANSFER MASUK Transfer masuk adalah pengiriman uang yang diterima dari cabang lain bank sendiri atau dari bank lain untuk keuntungan nasabah sendiri atau penerima dana pada bank sendiri. Bank yang menerima transfer masuk adalah bank pelaksana atau drawee bank. Dalam hal menerima transfer masuk, bank akan membukukan sejumlah bersih yang menjadi hak beneficiary. Jumlah bersih adalah jumlah kiriman setelah dikurangi komisi transfer bagi bank pelaksana. Namun demikian tidak semua bank membebani komisi transfer masuk. Transfer masuk dapat diterima dari cabang pemrakarsa bank sendiri untuk keuntungan nasabah sendiri atau merupakan penerusan terhadap nasabah bank lain pada kota yang sama. Untuk penerusan umumnya bank penerus akan memungut komisi. Merujuk pada contoh di atas, maka pencatatan di Bank Mitra Niaga Solo adalah: Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp) 5/5/2011 Dr. Giro Bank Indonesia 100.000.000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 88

Cr. RAK Cabang Semarang 100.000.000 11.6 PENGERTIAN INKASO Inkaso adalah kegiatan jasa Bank untuk melakukan amanat dari pihak ke tiga berupa penagihan sejumlah uang kepada seseorang atau badan tertentu di kota lain yang telah ditunjuk oleh si pemberi amanat. Sebagai imbalan jasa atas jasa tersebut biasanya bank menerapkan sejumlah tarif atau fee tertentu kapada nasabah atau calon nasabahnya. Tarif tersebut dalam dunia perbankan disebut dengan biaya inkaso. Sebagai imbalan bank meminta imbalan atau pembayarn atas penagihan tersebut disebut dengan biaya inkaso. 11.7 JENIS INKASO Dilihat dari jenisnya inkaso dapat dibedakan menjadi: a. Inkaso dengan Warkat Tanpa Lampiran Yaitu warkat-warkat inkaso yang tidak dilampiri dengan dokumendokumen apapun seperti cek, bilyet giro, wesel dan surat berharga lainnya. b. Inkaso Dengan Warkat Berlampiran Yaitu warkat-warat inkaso yang dilampirkan dengan doumen-dokumen lainnya seperti kwitansi, faktur, polis asuransi dan dokumen-dokumen penting lainnya. Jenis inkaso dilihat dari lalu lintas dananya, inkaso dibedakan menjadi: a. Inkaso keluar yaitu inkaso atas instruksi nasabah untuk melakukan penagihan kepada pihak ketiga di cabang sendiri atau bank lain diluar kota. Inkaso ini dibayarkan atau dikreditkan ke rekening si pemberi amanat di bank pemrakarsa setelah inkaso berhasil. b. Inkaso masuk, yaitu tagihan masuk atas beban rekening nasabah sendiri dan hasilnya dikirimkan ke cabang pemrakarsa untuk keuntungan pihak ketiga. Jenis inkaso dilihat dari mekanisme pelaksanaannya, dibedakan menjadi: JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 89

a. Inkaso melalui bank lain, yaitu inkaso yang dilaksanakan terhadap pihak ketiga nasabah bank lain di luar kota. Dalam hal ini inkaso bisa dilakukan melalui cabang Bank sendiri. Bila tidak memiliki kantor cabang di wilayah kliring yang dituju, maka bank biasanya menggunakan bank lain atau bank koresponden yang mempunyai kantor wilayah kliring yang dituju. b. Inkaso melalui cabang bank sendiri yaitu inkaso yang dilakukan melalui cabang bank sendiri untuk pihak ketiga di luar kota pada kantor cabang bank sendiri. 11.8 AKUNTANSI INKASO KELUAR Dalam kegiatan inkaso keluar, seluruh transaksi sebelum diperoleh kepastian berhasil tidaknya akan dibukukan dalam rekeing administratif sebelah kredit dalam rekening warkat inkaso yang diterima. Rekening ini akan tetap outstanding sampai inkaso dinyatakan berhasil. Sebagai contoh, apabila Tn. Samdong, nasabah giro Bank Kirin cabang Jakarta, menyerahkan selembar giro yang diterbitkan oleh seseorang nasabah Bank Kirin-Bandung sebesar Rp 45.000.000 untuk ditagihkan ke cabang Bandung dan hasilnya agar dikreditkan ke dalam rekeningnya. Komisi ditetapkan sebesar 0,25%. Pada saat menerima warkat untuk diinkaso ke cabang Bandung, Bank Kirin-Jakarta akan membukukan: K:Rekening Administratif Rupiah-Warkat Inkaso Yang Diterima Rp 45.000.000 Apabila seminggu kemudian diterima berita per kawat bahwa inkaso dinyatakan berhasil, dan untuk itu kepada nasabah dikenakan ongkos kawat sebesar Rp 10.000, oleh Bank Kirin-Jakarta akan dibukukan sebagai berikut. D: Rekening Administratif Rupiah-Warkat Inkaso Yang Diterima Rp 45.000.000 D: RAK-Cabang Bandung Rp 45.000.000 K: Giro-Tuan Samdong Rp 44.877.500 K: Pendapatan Komisi Inkaso Rp 112.500 K: Pendapatan Ongkos Kawat Rp 10.000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 90

Hasil inkaso tersebut langsung dibukukan ke dalam rekening nasabah setelah inkaso dinyatakan berhasil. Bagi inkaso yang dilakukan untuk kepentingan bukan nasabah bank, hasil inkaso dapat ditampung dalam rekening Hasil Inkaso Yang Dapat Dibayar, di mana rekening ini akan outstanding hingga si pemberi amanat datang untuk mencairkan hasil inkaso tersebut. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 91

BAB 12 KARTU PLASTIK DAN BANK GARANSI 12.1 DEFINISI KARTU PLASTIK Pengertian kartu kredit Dalam Expert Dictionary didefinisikan: kartu yang dikeluarkan oleh pihak bank dan sejenisnya untuk memungkinkan pembawanya membeli barang-barang yang dibutuhkannya secara hutang. Jadi Kartu plastik adalah Kartu yang dikeluarkan oleh bank dan lembaga non bank, diberikan kepada nasabah untuk alat pembayaran. Kartu Plastik merupakan kartu yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga non bank. Kartu plastik diberikan kepada nasabah untuk dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran di berbagai tempat seperti supermarket, pasar swalayan, hotel, restoran, tempat hiburan dan tempat-tempat lainnya. Disamping itu dengan kartu ini juga dapat diuangkan di berbagai tempat seperti ATM (Automated Teller Machine). ATM biasanya tersebar di berbagai tempat yang strategis seperti pusat perbelanjaan, hiburan dan perkantoran. 12.2 JENIS KARTU PLASTIK BERDASARKAN FUNGSINYA Kartu plastik di Indonesia cukup banyak, namun yang relatif dikenal berupa kartu kredit dan kartu tunai atau ATM. Untuk itu jenis-jenis kartu kredit perlu disampaikan agar dipahami oleh semua pihak: 1. Credit Card (Kartu Kredit ) adalah merupakan kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi jual-beli barang dan jasa, kemudian pelunasan atas penggunaannya dapat dilakukan sekaligus atau secara cicilan sejumlah minimum tertentu. Pemegang kartu kredit (card holder) akan diberikan kredit limit, sehingga penggunaan kartu kredit tidak boleh melebihi limit tertentu maka card holder wajib membayar kelebihan tersebut dengan tingkat bunga yang lebih tinggi ditambah angsuran wajib sejumlah minimum tertentu pada setiap tanggal jatuh tempo setiap bulan yang ditetapkan oleh issuer atau bank. Angsuran wajib dimaksud adalah angsuran terhadap pengangguran kartu kredit dalam batas plafon/limit yang disepakati. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 92

2. Charge card adalah kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran suatu transaksi jual beli barang atau jasa, kemudian pemegang kartu diwajibkan membayar kembali secara penuh seluruh tagihannya pada akhir bulan atau bulan berikutnya dengan atau tanpa beban tambahan. Kartu ini umumnya tidak menggunakan ketentuan limit penggunaan dalam melakukan transaksi. Apabila terjadi keterlambatan pembayaran oleh pemegang kartu, maka bank akan mengenakan denda keterlambatan (late charge) sebesar persentase tertentu. Di samping itu pemegang charge card tidak dikenakan tingkat bunga atas setiap pembayaran tagihan. Contoh BCA Card, Hero Master, Dinners Club. 3. Debit card adalah kartu yang dapat digunakan sebagai perintah pendebetan terhadap rekening pemegangnya. Transaksi dengan menggunakan kartu debit adalah transaksi tunai yang pembayarannya tidak dengan uang tuna, tetapi melalui pembebanan rekening pemegang karu debit dan pengkreditan terhadap rekening merchant. Seorang pemegang kartu debit harus memiliki saldo rekening di bank penerbit kartu debit. Kartu ini juga dapat digunakan untuk penatikan tunai sebagaimana kartu ATM. 4. Cash Card adalah kartu yang hanya daapat digunakan sebagai alat penarikan tunai baik di counter-counter maupun pada ATM yang tersedia. 5. Check Guarantee Card adalah kartu yang dapat digunaan sebagai jaminan dalam penarikan cek oleh pemegang kartu tersebut. 12.3 JENIS KARTU PLASTIK MENURUT WILAYAH BERLAKUNYA 1. Katu Plastik Lokal, yaitu kartu plastik yang berlaku pada wilayah tertentu misalnya seluruh Indonesia. Contoh: Kartu ATM Muamalat Indonesia. 2. Kartu Plastik Internasional, yaitu kartu plastik yang berlaku dan dapat digunakan di seluruh dunia. Contoh: Visa, American Express, Carte balanc, Master Card, Dinner Club. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 93

12.4 MEKANISME TRANSAKSI KARTU KREDIT Untuk memiliki kartu kredit, seorang calon Card Holder harus mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada bank penerbit (Issuer). Pihak issuer akan mempelajari kelayakan pemohon, dengan mengkaitkan persyaratan penghasilan minimum kemudian ditentkan kelompok reguler atau gold. Pada saat pembukuan, pemegang kartu kredit diwajibkan membayar uang pangkal dan annual fee yang besarnya bervariasi setiap bank. Besarnya uang pangkal dan annual fee untuk kelompok gold lebih tinggi daripada kelompok regular. Pemegang kartu kredit selanjutnya akan dikenakan bunga. Beban bunga ini dibedakan dalam hal pengunaan yaitu beban bunga untuk penggunaan belanja dan beban bunga untuk penarikan tunai. Khusus untuk penarikan tunai dengan kartu kredit di samping dikenakan bunga juga fee tertentu. Kartu kredit yang telah disetujui dapat digunakan untuk transaksi dengan pihak merchant. Card holder cukup menunjukkan kartu kredit dan kemudian akan digesekan pada mesin tertentu untuk mengetahui kebenaran kartu kredit dan pihak card holder langsung menandatanganinya. Penggunaan kartu kredit bisa dilakukan dimana saja pada tempat merchant yang telah menjalin kerja sama dengan bank penerbit kartu kredit. Merchant adalah pihak yang menyediakan barang dan jasa, contoh: hotel, supermarket, toko sepatu, mini market, dan sebagainya. Pada saat pembukaan, pemegang calon pemegang kartu kredit diwajibkan membayar uang pangkal yang besarnya bervariasi setiap bank, kemudian menandatanagani perjanjian yang didalamnya menyangkut limit kredit, iuran tahuan, bunga dan atribut lain yang ditentukan oleh penerbit/bank. Selanjutnya pemegang kartu kredit dapat menggunakan untuk transaksi atau melakukan pembayaran-pembayaran dengan pihak merchant yaitu cukup menyerahkan kartu kredit untuk dicatat nomornya pada formulir penagihan yang telah tersedia dengan menggunakan mesin khusus serta menandatangani formulir tersebut. Penggunaan kartu kredit dapat dilakukan dimana saja pada Merchant yang telah menjalani kerjasama dengan bank penerbit misalnya hotel-hotel, supermarket, toko dan sebagainya. Pada saat card holder menggunakan kartu JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 94

biasanya merchant akan mengenakan charge antara 2% hingga 3% dari nilai transaksi yang dibenbankan kepada Card Holder. Pada tanggal tertentu (biasanya antara 3 hari sejak transaksi hingga 10 hari) pihak merchant seperti hotel, supermarket, atau toko yang telah menjalin kerjasama dengan bank penerbit kartu kredit melakukan penagihan atas penggunaan kartu kredit kepada bank yang bersangkutan. Penagihan ini langsung dibayar oleh bank setelah dipotong komisi kartu kredit(discount) yang besarnya berkisar 3%-5% dari nilai tagihan. Komisi kartu kredit menjadi hak bank, karena secara tidak langsung bank mempunyai jasa yaitu ikut meningkatkan penjualan di hotel/ supermarket atau toko tertentu dengan terbitnya kartu kredit. Contoh: Bila pihak merchant melakukan penagihan kepada Bank Penerbit(issuer) sebesar nilai penggunaan kartu kredit yaitu : Rp. 10.000.000 dan dikenakan komisi/ discount sebesar 3%, maka yang dibayar kepada pihak merchant oleh isseur adalah Rp. 9.700.000, dan pendapatan komisi bagi bank sebesar Rp.300.000. Pada akhir bulan tertentu (sesuai perjanjian) card holder melakukan pembayaran cicilan yang besarnya berkisar 10% hingga 20% dari penggunaan limit kredit atau bank melakukan penagihan kepada debitur (card holder) penggunaan kartu kredit untuk melunasi pemakaian kartu kredit berserta bunganya. Atas outstanding credit tersebut bank memperhitungkan bunga sejak adanya penagihan oleh pihak merchant yang menjalin kerjasama (hotel, supermarket, atau toko tertentu). Pada kasus lain, mekanisme transaksi dengan kartu kredit terjadi dimana issuer melibatkan pihak acquirer. Pihak acquirer adalah pihak yang melakukan penagihan dan pembayaran antara pihak issuer dan merchant. Dalam transaksi seperti ini antara pihak bank atau issuer dengan acquirer sebesar nilai bersih yaitu penggunaan kartu kredit dipotong discount yang telah disepakati merchant dengan issuer (seperti contoh 3%). Selanjutnya pihak Acquirer akan membayarkan kepada merchant sebesar Rp. 9.700.000,00, tetapi pihak acquirer akan menerima pembayaran dari issuer sebesar Rp.9.700.000,00 ditambah interchage fee misalnya 2% atau 2% Rp. 10.000.000,00 yaitu Rp. 200.000,00sehingga total Rp. 9.900.000,00. Dengan demikian komisi bersih dari JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 95

aktivitas penjualan kartu kredit sebenarnya hanya 1% atau Rp. 100.000,00. Sementaraa itu statement tagihan kepada card holder sebesar Rp. 10.000.000,00. 12.5 PENGERTIAN BANK GARANSI Pengertian garansi bank (bank guarantee) adalah jaminan tertulis dari bank yang diberikan/ditujukan kepada nasabahnya (pihak terjamin)untuk memenuhi suatu kewajiban, dan apabila pihak terjamin di kemudian hari ternyata tidak memenuhi kewajiban kepada pihak lain sesuai dengan persetujuan (wanprestasi), maka bank sebagai pihak penjamin dapat mengambil tindakan untuk menginkasokannya kepada pihak penerima jaminan (beneficiary). Bank garansi merupakan semua garansi yang diterima atau diberikan oleh satu bank untuk pihak tertentu baik perorangan atau badan usaha yang dinyatakan oleh bank akan dipenuhi kewajibannya dari pihak yang dijamin tersebut kepada pihak lainnya selaku penerima jaminan apabila pada waktu tertentu telah ditetapkan pihak dijamin tidak dapat memenuhi kewajibannya/pembayarannya (cidera janji). Bank menerbitkan bank garansi setelah ada transaksi sebelumnya, dalam arti untuk menerbitkan bank garansi harus ada kegiatan pokok yang dijamin melalui bank garansi. Kegiatan pokok tersebut misalnya adanya suatu pemenangan tender proyek tertentu, adanya transaksi yang menimbulkan kewajiban membayar pada waktu tertentu dikemudian hari. Kegiatan pokok tersebut memerlukan waktu dan setelah kurun waktu tersebut pihak tertentu harus memenuhi kewajibannya. Untuk menjamin pemenuhan kewajiban dikemudian hari maka diperlukan jaminan bank yaitu bank garansi. Bank garansi dapat dikatakan sebagai perjanjian ikutan (accesoir). Timbulnya perjanjian bank garansi karena adanya perjanjian pokoknya. Dengan demikian masa berlakunya bank garansi akan berakhir dengan berakhirnya masa berlaku perjanjian pokok atau berakhirnya bank garansi sebagaimana ditetapkan dalam bank garansi itu sendiri. Untuk masa berlaku bank garansi hanya satu kali saja, namun bila menghendaki dapat diperpanjang. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 96

12.6 JENIS BANK GARANSI Berdasarkan bentuknya dapat dibedakan menjadi: 1. Penerimaan atau penerbitan jaminan dalam bentuk bank garansi baik dalam rangka pemberian kredit, risk sharing dan standby loan maupun dalam rangka pelaksanaan proyek. 2. Akseptasi atau endosemen surat berharga yaitu pemberian jaminan atau garansi bentuk penandatanganan kedua atau seterusnya atas wesel dan promes (aksep). Berdasarkan kegunaannya, bank garansi dapat digunakan dalam rangka: 1. Tender, yaitu bank garansi yang diberikan oleh bank untuk para kontraktor maupun levelansir. 2. Perdagangan, yaitu bnak garansi yang diberikan keada pihak pabrikan untuk kepentingan agen atau levelansir produk-produk pabrik tersebut. 3. Penangguhan bea masuk, yaitu bank garansi yang diterbitkan untuk menjamin kepada dinas bea dan cukai untuk pembayaran bea masuk barang impor. 4. Cukai rokok, yaitu bank garansi yang diberikan dalam rangka menjamin atas pembayaran cukai rokok yang ditangguhkan, sementara rokok tersebut sudah beredar/dipasarkan. 5. Uang muka kerja, yaitu bank garansi yang diberikan untuk mengambil uang muka pelaksanaan proyek dalam kontrak-kontrak tertentu. 12.7 PERLAKUAN AKUNTANSI BANK GARANSI Bank garansi yang diterima mapun yang diterbitkan bank sendiri dicatat sebesar jumlah atau nilai bank garansi yang diberikan. Selanjutnya bank garansi yang masih berlaku pada tanggal laporan bank yang diterima maupun yang diterbitkan oleh bank, disajikan sebesar jumlah nominal bank garansi yang bersangkutan. Pada kasus tertentu bank garansi diterbitkan secara sindikasi. Untuk bank garansi seperti ini disajikan oleh peserta atau bank sebesar pangsa jaminan yang diberikan bank bersangkutan. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 97

Transaksi bank garansi merupakan transaksi bersyarat atau kontijensi yaitu terjadi atau tidak terjadinya wan prestasi/klaim tergantung dikemudian hari. Bank akan memenuhi kewajiban kepada pemegang bank garansi kalau nasabah ingkar janji atau wan prestasi. Sebagai transaksi bersyarat, maka saat pembukaan atau penerbitan bank garansi dicatat dalam rekening administratif kelompok kontijensi kewajiban dengan posisi di sisi kredit dengan ayat jurnal tunggal sebesar nilai kewajiban bank disamping pencatatan pada rekening efektif untuk setoran jaminan bank garansi. Jasa penerbitan bank garansi akan memberikan pendapatan bagi bank penerbit. Pendapatan yang berasal dari transaksi ini berupa komisi penerbitan bank garansi. Komisi ini diterima di muka saat penerbitan. Pendapatann tersebut harus dilaporkan setiap periode selama masa berlakunya bank garansi. Dengan demikian secara akrual pendapatan tersebut harus diamortisasi setiap periode pelaporan akuntansi. Untuk setoran jaminan, besarnya tergantung kesepakatan. Setoran jaminan ini merupakan sumber dana bagi bank dan pada saatnya akan dikembalikan kepada pihak yang dijamin melakukan wan prestasi maka jelas dana setoran jaminan akan dilimpahkan kepada pemegang bank garansi. Contoh: Pada tanggal 1 Maret 2006 Bank Mega Surabaya menerbitkan bank garansi atas permintaan PT. Fajar Utama Surabaya yang ditujukan kepada PT. Bahana Sentosa Jakarta. Nilai bank garansi Rp 500.000.000 dengan setoran jaminan diterima 80%, yaitu berupa cek Bank BCA Surabaya Rp 300.000.000, Cek Bank Mega yang ditarik oleh Rita Rp 50.000.000 dan sisanya tunai. Komisi penerbitan bank garansi Rp 3.000.000 yang dibayar tunai. Bank garansi ini akan berlaku 6 bulan sejak tanggal penerbitan. a. Pencatatan ketika penerbitan bank garansi di Bank Mega Surabaya: Tanggal Rekening Debit Kredit Kliring 1 Dr. RAR warkat kliring diterima 300.000.000 Kliring 2 Cr. RAR waktu kliring diterima 300.000.000 Setoran efektif Dr. Kas 53.000.000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 98

Dr. Giro BI 300.000.000 Dr. Setora Rita 50.000.000 Cr. Setoran Jaminan BankGaransi 400.000.000 Cr. Komisi penerbitan bank garansi 3.000.000 diterima dimuka Pencatatan administrative Cr. RAR bank garansi yang diterbitkan dan belum jatuh tempo 500.000.000 Proses penerbitan Bank Garansi dilakukan setelah seluruh warkat setoran jaminan sudah efektif (berhasil ditagihkan). Warkat Bank BCA Surabaya sebesar Rp 300.000.0000 harus dikliringkan dan untuk itu bank mencatat kliring 1 (penyerahan) dengan ayat jurnal tunggal (rekening administratif). Pada hari yang sama pada kliring 2 (pengembalian) bank melakukan pencatatan kembali atas warkat yang telah dikliringkan. Dengan demikian rekening adminstratif menjadi nihil, dan kemudian seluruh setoran dapat dibukukan secara efektif. Setealah mencatat seluruh rekening efektif untuk setoran jaminan bank garansi, maka bank harus mencatat bank garansi yang diterbitkan tetapi belum jatuh tempo dalam rekening administratif yang akan outstanding sampai terjadi klaim atau jatuh tempo. b. Jurnal untuk amortisasi komisi penerbitan bank garansi Tanggal Rekening Debit(Rp) Kredit(Rp) 31/3 06 Dr. komisi penerbitan garansi diterima dimuka 500.000 Cr. Pendapatan komisi penerbitan bak garansi 500.000 31/4 06 Dr. komisi penerbitan garansi diterima dimuka 500.000 Cr. Pendapatan komisi penerbitan bak garansi 500.000 31/5 06 Dr. komisi penerbitan garansi diterima dimuka 500.000 Cr. Pendapatan komisi penerbitan bak garansi 500.000 31/6 06 Dr. komisi penerbitan garansi diterima dimuka 500.000 Cr. Pendapatan komisi penerbitan bak garansi 500.000 31/7 06 Dr. komisi penerbitan garansi diterima dimuka 500.000 Cr. Pendapatan komisi penerbitan bak garansi 500.000 31/8 06 Dr. komisi penerbitan garansi diterima dimuka 500.000 Cr. Pendapatan komisi penerbitan bak garansi 500.000 Jurnal saat jatuh tempo tanggal 31 Agustus 2006 Pencatatan dalam jurnal pada tanggal 31 Agustus 2006 disamping amortisasi pada tanggal tersebut, bank juga harus membukukan bank garansi yang telah jatuh tempo. Kalau sampai dengan jatuh tempo tidak terjadi wan prestasi maka JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 99

setoran jaminan langsung dikreditkan ke rekening nasabah (PT. Fajar Utama) dan bersama dengan pengkreditan rekening ini, maka rekening administratif juga harus dinihilkan sebab urusan bank garansi dianggap selesai. Tanggal Rekening Debit(Rp) Kredit(Rp) 31/8 16 Dr. bank garansi yang diterbitkan dan belum jatuh 500.000.000 tempo Dr. setoran jaminan bank garansi 400.000.000 Cr. Giro PT Fajar Utama 400.000.000 Adakalanya saat jatuh tempo, nasabah belum menghubungi bank, oleh karena itu bank akan membukukan rekening administratif saja yaitu mendebet bank garansi yang diterbitkan dan belum jatuh tempo. Langkah selanjutnya adalah memunculkan rekening baru yaitu bank garansi yang diterbitkan dan sudah jatuh tempo di posisi kredit. Tanggal Rekening Debit(Rp) Kredit(Rp) 31/8 06 Dr. bank garansi yang diterbitkan dan 500.000.000 sudah jatuh tempo Dr. Setoran jaminan bank garansi 400.000.000 Cr. Giro PT Fajar Utama 400.000.000 Pada saat pencairan tidak harus dikreditkan ke rekening giro etpi tergantung nasabah mau dikreditkan ke giro, tabungan, ata ditransfer. Ketika terjadi pengambilan setoran jaminan, pencatatan haru diselesaikan dengan transaksi pengambilan. c. Pencatatan bank garansi jatuh tempo dan terjadi wan prestasi Wan prestasi mewajibkan setoran jaminan bank garansi yang dilakukan oleh PT. Fajar Utama harus dilimpahkan ke PT. Bahana Sentosa nasabah Bank Mega Jakarta. Sedangkan kekurangan setoran jaminan hars dipenuhi oleh PT. Fajar Utama. Bila PT. Fajar Utama tidak mampu memenuhi kekurangannya maka PT. Fajar Utama dapat mengajukan ke bank untuk mendapatkan talangan/cerukan atau overdraft. Overdraft ini akan dikonversi ke kredit yang diberikan oleh bank. Dengan demikian perlakuannya sama sebagaimana kredit yang lain. Misalkan pada saat jatuh tempo 31 Agustus JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 100

2006, PT. Fajar Utama memenuhi kekurangan setoran jaminan sebesar Rp 60.000.000 beban gironya dan tunai Rp 40.000.000, maka pencatatan di bank Mega Surabaya sebagai berikut: Tanggal Rekening Debit(Rp) Kredit(Rp) 31/8 06 Dr. bank garansi yang diterbitkan dan belim 500.000.000 jatuh tempo Dr. setoran jaminan bank garansi 400.000.000 Dr. Giro 60.000.000 Dr. Kas 40.000.000 Cr. RAK Cabang Jakarta 500.000.000 Kalau saat jatuh tempo dan wan restasi, kekurangan setoran jaminan dikonversi menjadi kredit yang diberikan maka bank juga harus membukukan provisi dan lain-lain yang terkait dengan perkreditan. Misal pada saat PT. Fajar Utama tidak sanggup melunasi kekurangan setoran jaminan dan meminta bank untuk memberikan overdraft, maka bila bank setuju dan memungut biaya provisi dan komisi Rp 2.500.000 dan biaya administrasi Rp 1.000.000. Biaya-biaya ini dibebankan ke giro PT. Fajar Utama. Pencatatan di Bank Mega Surabaya: Tanggal Rekening Debit(Rp) Kredit(Rp) 31/8 06 Dr. Bank garansi yang diterbitkan dan belum 500.000.000 jatuh tempo Dr. Setoran jaminan bank garansi 400.000.000 Dr. Kredit yang diberikan-overdraft 100.000.000 Dr. Giro 3.500.000 Cr. RAK Cabang Jakarta 500.000.000 Cr. Pendapatan komisi dan provisi 2.500.000 Cr. Pendapatan administratif 1.000.000 Pencatatan di Bank Mega Jakarta (melibatkan hubungan rekening antar kantor dan melimpahkan ke rekening giro PT. Bahana Sentosa): Tanggal Rekening Debit(Rp) Kredit(Rp) 31/8 06 Dr. RAK Cabang Surabaya 500.000.000 Cr. Giro PT. Bahana Sentosa 500.000.000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 101

BAB 13 AKUNTANSI JASA LAINNYA 13.1 PENGERTIAN PAYMENT POINT Merupakan salah satu jasa perbankan untuk melayani masyarakat yang akan melakukan pembayaran-pembayaran yang relative rutin dan nilai nya relative kecil. Namun demikian rekening ini memberikan pendaptan yang relatif besar sebab jumlah anggota masyarakat banyak yang menggunakan. Contoh payment point adalah pembayaran rekening listrik, telpon air. Payment point juga disebut rekening titipan. Sebagai rekening titipan bisa diartikan sebagai rekening bersyarat, dalam artinya sifatnya tidak mengikat bank untuk melakukan kewajiban kepada individu atau lembaga tertentu yang memberi amanat. Transaksi bersyarat amat sangat tergantung dari terjdai atau tidak terjdainya peristiwa (pembayaran oleh masyarakat yang ditagih). Pencatatan rekening ini dimulai saat menerima slip tagihan dari individu atau lembaga yang member amanat, misalnya perusahaan listrik Negara, PDAM, pencatatan dalam kategori lainnya dikelompokkan kontijensi kewajiban, umum nya masuk membyarnya, maka kita mencatatnya sebesar nilai bruto yang dibayarkan oleh pihak tertagih pada rekening relatif. Contoh : 1. Tanggal 1 mei 2008 diterima slip/ rekening tagihan dari PLN untuk pelangganya senilai Rp56.000.000 2. Tanggal 3 mei 2008 diterima pembayaran dari pelanggan listrik sebesar Rp1.500.000 Catatan jurnal dilakukan bank adalah: Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 1 Mei 2008 Cr. RAR. Warkat Tiitipan PLN 56.000.000 3 Mei 2008 Dr. RAR. Warkat Titipan PLN 56.000.000 Dr. Kas 1.500.000 Cr. Rekening Titipan PLN 1.500.000 JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 102

Jurnal ini dilakukan setiap akhiri, bila hasil tagihan dari masyarakat dilimpahkan ke giro PLN, maka jurnalnya: Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) Dr. Rekeng Titipan PLN 1.500.000 Cr. Giro PLN 1.500.000 Pelimpahan dana tersebut sangat tergantung hasil penerimaan pembayaran selama waktu tertentu, dengan demikian rekening administrative akan selalu outstanding dan menurun sejalan dengan besarnya tagihan yang masuk. 13.2 SAFE DEPOSIT BOX Kebutuhan keamanan dan kerhasiaan barang berharga yang dimiliki seseorang atau lembaga akan lebih terjamin bila dititifkan dibank. Bank memberikan jasa penyimpanan barang berharga berupan safe Deposit Box. Keamanan barang berharga itu terjamin karena untuk membuka setiap kotak penyimpan diperlukan dua kunci, kunci pertama dipegang bank dan kunci yang lain di pegang oleh penitip barang. Di samping itu untuk membukanya tidak setiap karyawan bank dapat melakukannya, akan tetapi hanya orang tertentu yang tekah ditunjuk bank. Jasa penyimpanan bank ( Safe Deposit Box) ini akan memberikan pendapatan bagi bank. Besarnya pendapatan sewa tergantung pada lamanya pada masa swa dan luas ruangan yang dipakai untuk menyimpan barang berharga/surat berharga. Pendapatan sewa diterima dimuka, oleh karena itu harus diamortisasi setiap periode/ bulan. Penyimpanan barang berharga disamping dipungut biaya sewa, juga harus membayar setoran jaminan kunci SDB. Setoran jaminan diperlukan karena untuk menggantinya bila kunci hilang. Namun demikian bila sampai selesai penyimpanan barang berharga ternyata kunci hilang, maka setoran jaminan kunci akan dikembalikan kepada yang berhak (penyimpanan barang berharga). Contoh : 1 juli 2008 Bank Mitra Niaga Semarang menerima permohonan seseorang nasabah bernama Bella Shapira Untuk menyimpan barang berharga dan surat JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 103

berharga miliknya. Untuk itu bella menyerahkan setoran jaminan sebesar Rp1.500.000 secara tunai dan membayar sewa dibayar dimuka sebesar Rp 400.000 untuk sewa enam bulan ke depan atas beban giro bella. Masa sewa akan jatuh tempo pada 31 desember 2008. Catatan jurnal di BMN semarang adalah: Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 1 juli 2008 Dr. Kas 1.500.000 Dr. Giro Bella Saphira 2.400.000 Cr. Setoran Jaminan Kunci SDB 1.500.000 Cr. Pendapatan Sewa SDB diterima dimuka 2.400.000 31 Juli 2008 Dr. Pend. Sewa SDB diterima dimuka 400.000 Cr. Pendapatan sewa SDB 400.000 31 Agst 2008 Dr. Pend. Sewa SDB diterima dimuka 400.000 Cr. Pendapatan sewa SDB 400.000 30 Sep 2008 Dr. Pend. Sewa SDB diterima dimuka 400.000 Cr. Pendapatan sewa SDB 400.000 31 Okt 2008 Dr. Pend. Sewa SDB diterima dimuka 400.000 Cr. Pendapatan sewa SDB 400.000 30 Nov 2008 Dr. Pend. Sewa SDB diterima dimuka 400.000 Cr. Pendapatan sewa SDB 400.000 31 Des 2008 Dr. Pend. Sewa SDB diterima dimuka 400.000 Cr. Pendapatan sewa SDB 400.000 Dr. Setoran jaminan SDB 1.500.000 Cr. Giro Bella Saphira 1.500.000 Jurnal yang dilakukan setiap akhir bulan (31 Juli, 31 Agst, 30 Sept, 31 Okt, 30 Nov dan 31 Des) adalah jurnal amortisasi terhadap pendapatan sewa SDB diterima dimuka. Khusu pada 31 Des 2008, disamping jurnal amortisasi juga menjurnal pelimpahan setoran jaminan yang telah jatuh tempo denga mengkredit ke rekening giro Bella Saphira. Jika pada akhir priode sewa ternyata kunci yang dipegang hilang, maka setoran jaminan tidak dikembalikan namun menjadi hak bank sebagai pengganti kunci yang hilang dengan jurnal: Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 31 Des 2008 Dr. Setoran Jaminan SDB 1.500.000 Cr. Iventaris kantor-alat-alat tahan api 1.500.000 13.3 Rupiah Travellers Cheque (RTC) RTC atau sering disebut cek perjalanan merupakan surat berharga yang diterbitkan dalam valuta rupiah dengan cirri aman, terpercaya, pleksibel serta dijamin oleh bank oleh bank penerbit dengan masa berlaku tidak terbatas. Cek ini dapat diuangkan kapan saja. RTC ini sebagai piranti, umumnya diterbitkan bagi JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 104

mereka yang akan melakukan perjalanan jauh dan ingin aman dalam membelanjakannya. Cek ini dapat digunakan sebagai alat bayar pada penjual barang/jasa (merchant) tertentu yang menjalin kerja sama dengan bank yang bersangkutan. Disamping itu perjalanan ini juga dapat dicairkan dikantor cabang pelaksana bank sendiri. Akuntansi RTC dimulai saat penerbit RTC atau penjualan RTC dan saat pencairan RTC baik yang dijual melalui cabang pembayaran maupun melalui agen. Cek perjalanan ini akan dicatat sebesar nilai nominal baik pada saat penjualan di bank penerbit dan dicatat sebesar nilai bersir saat pencairan di cabang pembayaran. Nilai bersir adalah nilai nominal stelah dikurangi komisi dan biaya lainnya. Penjulan RTC dapat dilakukan secara tunai, beban giro atau dengan menggunakan warkat yang disetujui Bank. Khusus untuk setoran warkat harus di inkasokan atau dikliringkan terlebih dahulu. Setelah dana efektif, RTC baru dapat diterbitkan. Penjualan RTC ini dapat dilakukan di Bank penerbit maupun di Biro/ Agen perjalanan yang dituju. Contoh: Transaksi Travellers Cheques. Tanggal 21 april 2008 Dewi nasabag Giro Bank Mitra Niaga Semarang Membeli Rupiah Travellers Cheques Seri A sebanyak 8 lembar @ Rp1.000.000 atas beban giro Rp 2.000.000, tunai Rp. 1.500.000 dan beban giro indah nasabah Bank Mitra Niaga Semarang Rp 2.000.000 serta cek bank BAS semarang sebesar Rp 2.500.000. Jurnal di Bank Mitra Niaga Semarang Sebagai Bank Penerbit. Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) Kliring 1 Dr. RAA. Warkat Kliring 2.500.000 Kliring 2 Cr. RAR. Warkat Kliring 2.500.000 Dr, Giro BI 2.500.000 Dr. Giro Indah 2.000.000 Dr, Kas 1.500.000 Dr. Giro Dewi 2.000.000 Cr. Rupiah Travellers Chegues 8.000.000 13.3.1 Pencairan dan Penggunaan Rupiah Travellers Chegues Pencairan RTC dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja pada cabang bank sendiri serta dapat digunakan pada beberapa Merchant yang telah menjalin JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 105

kerja sama dengan bank penerbit RTC. RTC diterbitkan atas nama pembawa, sehingga dicairkan oleh orang yang tidak tercantum dalam RTC, maka bank pembayar harus konfirmasi terlebih dahulu ke cabang penerbit dan sekaligus melakukan inkaso. Pada saat inkaso tersebut, bank pembayar akan membebani biaya inkaso kepada penerima, (beneficiary), untuk pembayaran inkaso RTC yang diterbitkan oleh bank lain, maka bank pembayar harus melakukan inkaso terlebih dahulu terhadap cabang bank penerbit terdekat melalui sarana kliring antar bank. Contoh: Bila tanggal 31 Mei 2008 Dewi mencairkan RTC sebanyak 2 lembar di Bank Mitra Niaga Denpasar, maka jurnal nya adalah: Jurnal Di Penerbit (Bank Mitra Niaga Semarang) Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 31 Mei 2008 Dr. RTC 2.000.000 Cr. RAK Cabang Denpasar 2.000.000 Jurnal Di Cabang Pembayar (Bank Mitra Niaga Denpasar) Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 31 Mei 2008 Dr. RAK Cabang Denpasar 2.000.000 Cr. Kas 2.000.000 13.3.2 Penjualan RTC Melalui Agen Penjualan Penjualan RTC dapat dilakukan melalui agen oenjualan misalnya Biro Penjualan, Biro Wisata dan sebagainya. Agen-agen tersebut adalah agen yang telah menjalin kerja sama dengan bank penerbit RTC. Sebagai konpensasi atas penjualan RTC, maka bank memberikan komisi penjualan RTC kepda agen yang besarnya setiap bank berbeda. Transaksi dengan agen akan didahului dengan pencacatan pada rekening administrative atas penyerahan warkat RTC sebesar nilai nominal. Contoh: Tanggal 10 Juni 2008 Bank Mitra Niaga Semarang menyerahkan warkat RTC kepada Biro Wisata Empuka di Semarang sebanyak 100 lembar. Nilai JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 106

nomial yang tertulis pada setiap lembar RTC adalah Rp. 1.000.000. Jadi jurnal di Bank Mitra Niaga Semarang saat menyerahkan warkat RTC adalah: Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 10 Juni 2008 Cr. RAR Warkat RTC yang diserahkan 10.000.000 Tanggal 15 Juli 2008 Biro Wisata Empuka Melaporkan Ke Bank Mitra Niaga Semarang tentang penjualan 10 lembar RTC. Jurnal di Bank Mitra Niaga Semarang saat menerima laporan penjualan RTC. Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 15 Juni 2008 Dr. RAR Warkat RTC yang diserahkan 10.000.000 Dr. Piutang/ Tagihan RTC 10.000.000 Cr. RTC 10.000.000 Pada tanggal 30 Juni 2008, Biro Wisata Empuka melunasi hasil penjualan nya kepada Bank Mitra Niaga Samarang setelah di potong komisi penjualan RTC sebesar Rp. 200.000. Pelunasan nya atas beban giro Biro Wisata Empuka. Jurnal di Bank Mitra Niaga Semarang. Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) 30 Juni 2008 Dr. Giri Giro Wisata Empuka 9.800.000 Dr. Biaya Komisi RTC 200.000 Cr. Piutang/Tagihan RTC 10.000.000 Selanjutnya untuk pencatatan di cabang pembayar maupun Bank lain sebagai Bank pembayar dapat digunakan cara yang sama dengan contoh sebelumnya (Contoh jurnal di Bank Pembayaran). Pada kasus tertentu, suatu RTC dapat hilang. RTC yang hilang harus di laporkan ke Bank penerbit terdekat sehingga Bank penerbit dapat langsung memberitahu seluruh cabang untuk melakukan stop payment sementara sembari menunggu penerbitan seluruh RTC yang baru sebagai pengganti RTC yang lama. Pada saat penerbitan kembali RTC yang hilang, Bank penerbit akan mendebet Rekening RTC yang lama dan mengkredit RTC yang batu, serta membukukan komisi penerbitan RTC. JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 107

Jurnal yang dilakukan oelh Bank penerbitan adalah: Tgl Rekening Debet (Rp) Kredit (Rp) Dr. RTC (lama) Dr. Kas/ Giro Cr. RTC (baru) Cr. Pendapatan Komisi Penerbitan RTC Seorang yang kehilangan RTC dapat meminta penerbitan kembali atas RTC yang hliang pada cabang Bank bukan penerbit sebelumnya. Bila hal ini terjadi maka hubungan pemilik RTC dengan cabang Bank penerbit sebelumnya akan beralih ke cabang penerbit yang baru. Antara cabang penerbit yang baru dengan cabang penerbit yang lama akan timbul hubungan hutang piutang yang sifatnya timbal balik (resiprocal). JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 108

DAFTAR PUSTAKA DR. Taswan,SE.,M.Si "Akuntansi Perbankan-Transaksi dalam Valuta Rupiah Edisi III UPP STIM YKPN JURUSAN AKUNTANSI FEB UNIVERSITAS MALIKUSSALEH 109