Hubungan Negara Hukum dan Demokrasi

dokumen-dokumen yang mirip
NEGARA HUKUM DAN DEMOKRASI

NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Universitas Indo Global Mandiri Palembang

KONSTITUSI DAN DEMOKRASI KONSTITUSIONAL

NEGARA HUKUM DAN NEGARA HUKUM INDONESIA

KONSTITUSI DAN RULE OF LAW

NEGARA HUKUM dan KONSTITUSI

KONSTITUSI DAN RULE OF LAW

BAB I PENDAHULUAN. kehakiman diatur sangat terbatas dalam UUD Buku dalam pasal-pasal yang

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS ILMU SOSIAL SILABI

Otonomi Daerah sebagai prinsip berarti menghormati kehidupan regional menurut riwayat, adat dan sifat-sifat sendiri-sendiri, dalam kadar negara kesatu

BAB I PENDAHULUAN. negara-negara Welfare State (Negara Kesejahteraan) merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. Konsep mengenai kedaulatan di dalam suatu negara, berkembang cukup

Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang 2011

Macam-macam konstitusi

PENGATURAN PERKAWINAN SEAGAMA DAN HAK KONSTITUSI WNI Oleh: Nita Ariyulinda Naskah diterima : 19 September 2014; disetujui : 3 Oktober 2014

DEMOKRASI. Demokrasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat, Kratos berarti pemerintahan.

KEWARGANEGARAAN KONSTITUSI, KONSTITUSIONALISME DAN RULE OF LAW. Modul ke: 05Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika

Dalam perkembangannya demokrasi secara langsung mulai sulit dilaksanakan, karena : Tidak adanya tempat yang menampung seluruh warga yang jumlahnya

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

D. Semua jawaban salah 7. Kekuasaan Kehakiman ialah kekuasaan yang merdeka artinya A. Terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah B. Tidak bertanggung

MATERI UUD NRI TAHUN 1945

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR TINGKAT SMP, MTs, DAN SMPLB

B. Tujuan C. Ruang Lingkup

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

HAK MANTAN NARAPIDANA SEBAGAI PEJABAT PUBLIK DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 48 partai politik peserta Pemilu Sistem multipartai ini

Demokrasi di Indonesia

Bab I Pendahuluan A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA

Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

TUGAS AKHIR KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

BENTUK-BENTUK PERBUATAN PEMERINTAH

DEMOKRASI PANCASILA. Buku Pegangan: PANCASILA dan UUD 1945 dalam Paradigma Reformasi Oleh: H. Subandi Al Marsudi, SH., MH. Oleh: MAHIFAL, SH., MH.

NEGARA HUKUM DAN KONSTITUSI

Negara Demokrasi Modern dan Negara Autokrasi Modern

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN HUKUM DAN HAK PENGUASAAN ATAS TANAH

DEMOKRASI : ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA. Mengetahui teori demokrasi dan pelaksanaanya di Indonesia RINA KURNIAWATI, SHI, MH.

Negara Hukum. Manusia

BAB I PENDAHULUAN. di dunia berkembang pesat melalui tahap-tahap pengalaman yang beragam disetiap

BAB I PENDAHULUAN. dan Negara Hukum

TUGAS AKHIR DEMOKRASI PANCASILA MENURUT UUD 1945

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

MASALAH KEWARGANEGARAAN DAN TIDAK BERKEWARGANEGARAAN. Oleh : Dr. Widodo Ekatjahjana, S.H, M.H. 1. Abstrak

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. kita memiliki tiga macam dokumen Undang-undang Dasar (konstitusi) yaitu: 1

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam memahami hukum Organisasi Internasional. tidak dapat dipisahkan dari sejarah pembentukan

DIAZ RATNA DEWY EA32

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

: Pendidikan Kewarganegaraan (PKN)

Teokrasi, Monarki, Demokrasi. Vegitya Ramadhani Putri, MA, LLM

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA

PEMETAAN STANDAR KOMPETENSI, KOMPETENSI DASAR MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

RELASI ANTARA RULE OF LAW, DEMOKRASI, DAN HAK AZASI MANUSIA. Sunarto 1

proses perjalanan sejarah arah pembangunan demokrasi apakah penyelenggaranya berjalan sesuai dengan kehendak rakyat, atau tidak

HAKIKAT DEMOKRASI CONDRA ANTONI

BAB I PENDAHULUAN. Negara Republik Indonesia berdasar ketentuan Pasal 1 ayat (3) Undang

DAFTAR PUSTAKA. Adi, Rianto Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta: Granit.

Negara dan Konstitusi

THE RULE OF LAW DAN HAK ASASI MANUSIA Makalah ini untuk memenuhi tugas PKN

Peraturan Daerah Syariat Islam dalam Politik Hukum Indonesia

KEWARGANEGARAAN NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika

PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1

TEORI LEGITIMASI KEKUASAAN. Pamungkas Satya Putra

13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

Demokrasi juga dapat diterjemahkan sebagai rakyat berkuasa.

KISI PLPG 2013 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN)

KISI KISI UJIAN MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2014/2015. Nomor Soal. Makna Negara

Materi Kuliah RULE OF LAW

29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunadaksa (SMPLB D)

BAB I PENDAHULUAN. Undang Dasar 1945, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, yang

POLITIK DAN STRATEGI (SISTEM KONSTITUSI)

TUGAS PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MAKALAH DEMOKRASI PANCASILA INDONESIA

Waktu : 6 x 45 Menit (Keseluruhan KD)

ETIKA POLITIK BERDASARKAN PANCASILA

LATIHAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

TUGAS AKHIR PENERAPAN PANCASILA DALAM PENDIDIKAN. Tahajudin S, Drs. : Novia Ningsih NIM : Kelompok : D Jurusan : Teknik Informatika

Pancasila; sistem filsafat dan ideologi Negara

BAB II PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA YANG DITUANGKAN DALAM UNJUK RASA (DEMONSTRASI) SEBAGAI HAK DALAM MENGEMUKAKAN PENDAPAT

1. Arti pancasila sebagai way of life (pandangan hidup)

om KOMPETENSI INTI 13. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

Daftar Pustaka. Glosarium

POLITIK HUKUM BAB IV NEGARA DAN POLITIK HUKUM. OLEH: PROF.DR.GUNARTO,SH.SE.A,kt.MH

S a o l a CP C N P S N Te T s e Wa W w a a w s a a s n a Ke K b e a b n a g n s g a s a a n

NEGARA DAN BENTUK PEMERINTAHAN F I R M A N, S. S O S., M A

TUGAS KONSTITUSI MATERI MUATAN KONSTITUSI DAN ISI KONSTITUSI

KISI UJI KOMPETENSI 2014 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

TUGAS PELAKSANAAN DEMOKRASI Di INDONESIA Dari Tahun 1945 Sekarang

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN NO: 1

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG DEMOKRASI. begitu saja. Dalam banyak perbincangan --mulai dari yang serius sampai yang

NAMA : WAHYU IFAN AGASTYO NIM : KELOMPOK : I (NUSA) DOSEN : Drs.Muhammad Idris STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

KEMERDEKAAN HAKIM SEBAGAI PELAKU KEKUASAAN KEHAKIMAN PASCA AMANDEMEN UUD TAHUN 1945 Oleh: A. Mukti Arto

BAB II PEMBAHASAN. A. Pengaturan Mengenai Pengisian Jabatan Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia

A. Beberapa pemimpin yang bertindak diktator terhadap rakyatnya : 1. Adolf Hilter

PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Transkripsi:

Hubungan Negara Hukum dan Demokrasi Pendahuluan Setelah perang dunia II, dapat dikatakan hampir semua negara mengklaim negaranya sebagai negara hukum yang demokratis. Selain itu, kita juga mengenal bahwa corak demokrasi sangat beraneka ragam, diantaranya adalah seperti demokrasi dengan sistem parlementer, demokrasi dengan sistem presidensiil, demokrasi pancasila, demokrasi komunis, dan seterusnya. Diantara sekian banyak aliran pikiran demokrasi, terdapat dua kelompok aliran yang paling penting, yakni demokrasi konstitusional dan kelompok aliran yang menamakan dirinya demokrasi, tetapi pada hakikatnya mendasarkan dirinya atas komunisme (Marxisme-Leninisme). Kedua paham ini saling bertentangan serta berkonfrontasi satu sama lain. Adapun perbedaan fundamental dari keduanya adalah jika demokrasi konstitusional mencita-citakan pemerintahan yang terbatas kekuasaannya, yakni suatu negara hukum (rechtsstaat) yang tunduk pada rule of law, sebaliknya demokrasi komunisme mencita-citakan pemerintah yang tidak boleh dibatasi kekuasaannya (machtsstaat) dan bersifat totaliter. 1 Untuk menentukan apakah sebuah negara itu demokratis atau tidak, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Diantaranya adalah adanya proteksi konstitusional terhadap hak warga negara, serta adanya kekuasaan peradilan yang bebas dari campur tangan lembaga dan pihak manapun. Selain itu, mekanisme demokrasi itu sendiri sangat erat hubungannya dengan sistem politik suatu negara 2, bahkan para pakar ilmu hukum dan politik mengasumsikan hubungan antara hukum dan politik itu ibarat dua sisi mata uang, yakni saling terkait dan saling berpengaruh satu sama lain, karena hukum dalam arti undang-undang adalah produk politik. 3 Soemantri Martosoewigjno mengambarkan hubungan antara hukum dan politik, seperti rel dan lokomotif, di mana hukum diibaratkan sebuah rel, sedangkan kekuasaan itu adalah lokomotifnya, sehingga sudah sewajarnya apabila 1 Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 51-52. 2 Lihat Krisna Harahap, HAM dan Upaya Penegakannya di Indonesia, Grafitrii Budi Utami, Bandung, hlm 67. Dan lihat juga Sri Soemantri, Pengantar Perbandingan Antar Hukum Tata Negara, Rajawali, Jakarta, 1984, hlm 10. 3 Moh. Mahfud, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, hlm 2. 1

kekuasaan itu selalu berjalan di atas rel hukum, dan dapat dibayangkan bagaimana jika kekuasaan itu berjalan di luar rel yang telah disediakan. Hukum itu sendiri merupakan norma sekaligus seperangkat aturan untuk menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban manusia. Selain itu, hukum juga dijadikan sebagai rambu pembatas bagi kekuasaan (politik) agar kekuasaan yang dipergunakan tidak bersalahguna, tanpa batas dan sewenang-wenang. Karena begitu eratnya hubungan antara hukum dengan kekuasaan, Prof. Mochtar Kusumaatmadja mendiskripsikan hubungan antara keduanya dengan Hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan sedangkan kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman. 4 Batasan Negara Hukum Kendatipun cita-cita Negara Hukum telah muncul sejak abad ke XVII di negara Barat, namun istilah Negara Hukum itu sendiri baru mengemuka pada abad ke-19. Sebelum kita berbicara mengenai Negara Hukum, terlebih dahulu disinggung apa yang dimaksud dengan Negara dan Hukum itu sendiri. Walau tak seorangpun yang sanggup memberikan definisi yang memuaskan mengenai hukum 5 tetapi orang mengerti apa yang dimaksud oleh istilah tersebut. Secara sederhana, yang dimaksud dengan Hukum dapat dirumuskan sebagai seperangkat aturan tingkah laku yang dapat tertulis dan dapat pula tidak tertulis dan dapat dibedakan sebagai hukum publik dan hukum privat. 6 Demikian pula halnya dengan Negara yang pengertiannya lebih kompleks dibanding Hukum karena negara itu merupakan fenomena dengan banyak segi: yuridis, historis, ekonomi, politik dan sebagainya. Dengan mengenyampingkan definisi tersebut, kita dapat melihat bahwa dalam suatu Negara Hukum terdapat pembatasan kekuasaan. Negara tidak maha kuasa, negara tidak dapat bertindak sewenang-wenang. 7 Sejak zaman Aristoteles orang telah mencari arti hakiki dari negara hukum. Aristoteles memberi arti kepada negara hukum dengan mengaitkannya kepada polis yakni suatu wilayah 4 Lili Rasyidi, Teori dan dasar-dasar Filsafat hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung hlm. 75. 5 Seperti yang pernah dikatakan oleh Immanuel Kant, lebih dari seratus tahun yang lalu, tapi masih berlaku hingga kini Noch suchen die juristen eine definition zu ihrem begriffe von recht. 6 Sri Soemantri, Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Alumni, Bandung, 1992, hlm.33 7 Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung, 1983, hlm 3. 2

kecil seperti kota yang berpenduduk sedikit dimana semua urusan negara dilaksanakan dengan dasar musyawarah. Menurut pemikiran Aristoteles bahwa suatu negara yang baik adalah negara yang diperintah dengan konstitusi. Menurutnya, ada tiga unsur dari pemerintah berkonstitusi, yakni: 1. pemerintahan dilaksanakan untuk kepentingan umum; 2. pemerintahan dilaksanakan menurut hukum berdasarkan ketentuan umum, bukan hukum yang dibuat secara sewenang-wenang yang mengenyampingkan konvensi dan konstitusi; 3. pemerintahan berkonstitusi berarti pemerintahan yang dilaksanakan atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaan dan tekanan 8. Perlawanan terhadap absolutisme yang melahirkan raja-raja serta memiliki kekuasaan mutlak pada abad pertengahan, akhirnya bermuara pada munculnya gagasan negara hukum. Perlawanan terhadap obsolutisme itu tertuju pada; a. Manusia harus dianggap sebagai subjek yang mempunyai nilai dan lingkungan hak-hak tersendiri yang harus diakui oleh negara; b. Kekuasaan raja harus terbatas, karena tidak boleh mutlak karena kekuasaan yang mutlak hanya akan menimbulkan kesewenang-wenangan terhadap warga negara. Kedua unsur tersebut dirumuskan dalam suatu piagam, yaitu hak-hak asasi manusia dan kekuasaan raja yang terbatas dan diatur oleh hukum konstitusi. Dengan timbulnya konstitusi pertama itu, timbul pula gagasan Negara Hukum. 9 Pengertian negara hukum dapat kita pertentangkan dengan negara kekuasaan yang memiliki ciri: 1. outoritarisme, yakni suatu paham yang menolak pertanggungjawaban pemerintahan kepada rakyat, kalaupun pertanggung-jawaban dilakukan sifatnya hanyalah semu, karena rakyat takut mengeluarkan pendapat dan tidak ada kebebasan. 2. Totalitarisme, yakni suatu paham kekuasaan yang ingin menguasai seluruh (total) kehidupan manusia dalam masyarakat dan kebudayaa, sehingga tidak ada kebebasan pribadi bagi setiap warga negara. Dalam totalitarisme ini manusia untuk negara bukan negara melayani manusia. 10 8 Krisna Harahap, HAM dan Upaya Penegakannya di Indonesia, Grafitri Budi Utami, Bandung, hlm. 25. 9 O. Notohamidjojo, Makna Negara Hukum, Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1970, hlm. 20. 10 Ibid., hlm. 20. 3

Seorang sarjana Jerman FJ.Stahl pada tahun 1978 memperkenalkan konsep negara hukum dalam arti luas dengan ciri-ciri sebagai berikut: a. Negara hukum itu bukan hanya negara yang mempertahankan tata hukum; b. Negara hukum itu bukan hanya melindungi hak-hak asasi manusia secara statis; c. Negara hukum mempunyai cara dan watak yang dinamis yang mengatur jalan dan batas-batas kegiatannya; d. Dinamika dan kegiatan mengarah kepada tujuan tertentu, yaitu menetapkan secermat-cermatnya dan menjamin sekuat-kuatnya lingkungan kebebasan warga negara menurut cara hukum; e. Tugas kesusilan negara hukum tidak boleh bersifat campur tangan secara etika, secara akhlak dalam suasana hak dan kebebasan warga negara 11. Berdasarkan ciri-ciri konsep negara hukum dari F.J Stahl tersebut, dapat disimpulkan bahwa negara hukum konsep Stahl adalah sebagai berikut: 1. Adanya perlindungan hak-hak asasi manusia; 2. Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak asasi manusia itu (Trias Politika); 3. Pemerintah berdasarkan peraturan-peraturan; 4. Adanya peradilan administrasi negara dalam perselisihan 12. Memasuki abad ke XX konsep Negara Hukum mengalami perkembangan karena terus memperoleh perhatian dari para pemikir yang menginginkan kehidupan yang lebih demokratis. Diantaranya M. Schelmena dari Belanda berpendapat bahwa unsur-unsur utama Negara Hukum suatu negara dapat berbeda dengan negara lain karena adanya latar belakang sejarah suatu bangsa, terutama sejarah negara hukumnya. Menurut Schelmena ada 4 (empat) unsur utama Negara hukum dan setiap unsur utama diikuti unsur turunannya: 1. Adanya kepastian hukum a. Asas legalitas; b. Undang-undang mengatur tindakan yang berwenang; c. Undang-undang tidak boleh berlaku surut; 11 F.J. Stahl, Staat und rechtslehre II, hlm. 137, terpetik dari O. Notohamidjojo, Ibid., hal. 24. 12 Oemar Seno Adji, Seminar Ketatanegaraan UUD 1945, terpetik dari S.T. Marbun dan Mahfud MD, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara, Liberty, Yogyakarta, hlm. 44. 4

d. Pengadilan yang bebas dari pengauh kekuasaan lain. 2. Asas persamaan a. Tindakan yang berwenang diatur dalam undang-undang dalam arti materiil; b. Adanya pemisahan kekuasaan. 3. Asas demokrasi a. Hak untuk memilih dan dipilih bagi warga negara; b. Peraturan untuk badan yang berwenang ditetapkan oleh parlemen c. Parlemen mengawasi tindakan pemerintah 4. Asas pemerintahan untuk rakyat. a. Hak asasi dijamin dengan Undang-undang dasar; b. Pemerintahan secara efektif dan efisien 13 Adapun Sri Soemantri 14 melihat ada 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi oleh Negara Hukum: 1. Bahwa pemerintah (dalam arti luas) dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus berdasar atas hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis; 2. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (dan warga negara); 3. Adanya pembagian kekuasaan (distribution of power) dalam negara dan; 4. Adanya pengawasan peradilan (oleh badan-badan peradilan). Batasan Demokrasi Istilah demokrasi berasal dari kata demo yang berarti rakyat dan cratein yang berarti memerintah. Tidaklah mengherankan kalau perkataan demokrasi membawa arti pemerintahan oleh rakyat. Dalam kenyataan, tidaklah mungkin rakyat yang jumlahnya lebih banyak menjadi pemerintah, yang terjadi adalah sebaliknya, sedikit orang memerintah orang yang lebih besar, atas dasar itu, Maurice Duverger 15 menyatakan: Para sosilog aliran Durkheim membenarkan bahwa semasa permulaan kebangunan peradaban manusia, antara orang-orang pangreh dan orang-orang yang diperintah itu tidak ada. Kekuasaan bukannya dijalankan oleh beberapa orang tertentu, melainkan merata dalam gerombolan seluruhnya, dimana setiap orang tunduk kepada patokan-patokan 13 Azhari, Negara Hukum Indonesia,UI Press, Jakarta, 1995, hlm. 50. 14 Sri Soemantri, Op. Cit., hlm.17. 15 Maurice Duverger, Les Regines Politiques, terjemahan Suwirjadi, Pustaka Rakyat, Jakarta, 1961, hlm. 58. 5

umum yang dipertimbangkan dan ditetapkan oleh gerombolan seluruhnya. Sesungguhnya pada waktu itu semua orang diperintah dan tak ada yang memerintah. Tetapi kemudian, beberapa orang dari gerombolan agaknya menyatukan diri, menjadikan diri penjelmaan dari pada patokan kolektif itu serta memerintah atas nama gerombolan, begitulah terjadi apa yang disebut pempribadian Kekuasaan. Karena itu Duverger membantah adanya demokrasi dalam arti kata sesungguhnya. Menurutnya adalah bertentangan dengan kodrat alam kalau jumlah rakyat yang besar justru memerintah sedang yang sedikit, diperintah. Aristoteles menganggap demokrasi sebagai suatu bentuk pemerosotan. Ia melihat bentuk-bentuk pemerintahan selalu berdasarkan 2 (dua) alternatif, baik dan buruk. Mengenai jenis-jenis bentuk negara, ia membedakan dalam tiga jenis bentuk. Adapun yang dijadikan kriteria dalam menguraikan bentuk negara berdasarkan jumlah orang yang memegang pemerintahan serta sifat atau tujuan pemerintahannya. Menurut pendapatnya seperti dalam tabel dibawah ini: Type of Constitution Good or True Form Bad or Perverted Form Government of one Monarchy Tyranny or Despotism Government of the few Aristocracy Olygarchy Government Polity Democracy Demokrasi yang demikian disebut mobocracy, the rule of mob, pemerintahan yang dilakukan oleh massa sehingga terjadi anarchi. 16 Adapun menurut Plato, bentuk negara Aristokrasilah yang terbaik, sedangkan demokrasi adalah bentuk negara yang paling buruk, hal ini karena demokrasi mengandung prinsip kemerdekaan dan kebebasan yang melahirkan kebebasan rakyat yang tidak terbatas yang sebebas-bebasnya yang menimbulkan anarki 17. Mengenai pengertian demokrasi, Sri Soemantri 18 menunjuk pendapat Bonger, Robert K. Carr dan William Goodman yang menyatakan adanya perbedaan pengertian. Bonger menunjuk perbedaan dari sudut: a. Formal, yang melahirkan demokrasi menurut bentuknya yakni democracy in action atau demokrasi praktek. William Goodman menamakannya sebagai 16 C.F. Strong, Modern Political Constitution, London, 1966, hlm. 60. 17 Soehino, Ilmu Negara, Liberty, Yogyakarta, hlm. 19. 18 Sri Soemantri, Pengantar Antar Hukum Tata Negara, Rajawali, Jakarta, 1984, hlm. 27. Lihat juga tentang Lembaga-lembaga Negara Menurut UUD 1945, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989, hlm. 3. 6

actual governmental mechanism. Terhadap istilah ini sering pula dinamakan mekanisme demokrasi. b. Matriel, demokrasi dilihat dari isinya. Sudut pandang yang demikian akan melahirkan demokrasi sebagai ideologi atau pandangan hidup. Adapun perbedaan dari sudut materiel membedakan demokrasi yang didasarkan pada kemerdekaan, kemajuan di bidang sosial dan ekonomi secara serentak. Asas kemerdekaan dan persamaan di bidang ekonomi menimbulkan persaingan bebas untuk mencapai tujuan dan mewujudkan kepentingannya. Karena kemampuan orang tidak sama maka yang berhasil memenangkan persaingan itu adalah mereka yang terkuat, oleh karena itu faham kemerdekaan yang melahirkan golongan kuat dan golongan lemah ini, tidak patut diteruskan karena bertentangan dengan cita-cita kemanusiaan. Syarat Negara Demokrasi Dalam konfrensi di Bangkok pada tanggal 15-19 Februari 1965, International Commission of Jurist menentukan adanya 6 (enam) syarat yang harus dimiliki oleh suatu negara demokrasi atau Representative Government yaitu suatu pemerintahan yang berdasarkan atas sistem perwakilan yakni: 1. Adanya proteksi konstitusional 2. Adanya kekuasaan peradilan yang bebas dan tidak memihak 3. Adanya pemilihan umum yang bebas 4. Adanya kebebasan untuk menyatakan pendapat dan berserikat 5. Adanya pendidikan civics 19 Sementara itu Amien Rais 20 mencatat tak kurang dari 10 (sepuluh) kriteria demokrasi yang harus dipenuhi oleh suatu negara apabila hendak disebut sebagai negara demokrasi: 1. Partisipasi dalam pembuatan keputusan, melalui wakil rakyat yang dipilih langsung, rakyat dapat berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan. 2. Persamaan di depan hukum tanpa diskriminasi, di mana rule of law merupakan pijakan bagi negara demokrasi. 3. Distribusi pendapatan secara adil 4. Kesempatan pendidikan yang sama 19 Ibid., hlm. 43. 20 Amien Rais, Pengantar untuk buku Demokrasi dan Proses Politik, Jakarta, 1986, hlm. Xvii-xxv. 7

5. Empat macam kebebasan, yakni kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan kebebasan beragama. 6. Ketersediaan dan keterbukaan informasi 7. Mengindahkan fatsoen atau tata krama berpolitik 8. Kebebasan individu yakni hak untuk hidup secara bebas dan memiliki privacy 9. Semangat kerja sama 10. Hak untuk protes. Selain memiliki berbagai macam hak tersebut diatas, warga negara juga harus menyadari bahwa mereka juga mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus diembannya dengan baik, misalnya kewajiban membayar pajak, kewajiban taat pada peraturan, bela negara dan sebagainya, sehingga apabila setiap warga negara telah menyadari segala hak dan kewajibannya, maka cita-cita sebagai negara yang demokratis akan dapat terwujud. Penutup/kesimpulan Hubungan antara Negara Hukum dan Demokrasi memiliki keterkaitan yang erat. Dimana syarat dan unsur dalam sistem demokrasi, seperti misalnya perlunya pembatasan kekuasaan melalui hukum dasar yakni konstitusi, juga merupakan bagian dari konsepsi negara hukum. Demokrasi mempunyai prinsip kemerdekaan dan kebebasan, maka agar demokrasi itu tidak melahirkan kemerdekaaan dan kebebasan yang tanpa batas, maka diperlukan hukum sebagai rambu bagi negara demokrasi. Sedangkan Negara Hukum itu sendiri adalah suatu negara yang apabila tindakan pemerintah dan rakyatnya berdasarkan atas aturan hukum yang berlaku. Daftar pustaka Azhari, Negara Hukum Indonesia, UI Press, Jakarta, 1995. C.F. Strong, Modern Political Constitution, London, 1966. Krisna Harahap, HAM dan Upaya Penegakannya di Indonesia, Grafitri Budi Utami, Bandung, 2003. 8

Lili Rasyidi, Teori dan dasar-dasar Filsafat hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001. Maurice Duverger, Les Regines Politiques, terjemahan Suwirjadi, Pustaka Rakyat, Jakarta, 1961. Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001. Moh. Mahfud, Politik Hukum di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 2001. O. Notohamidjojo, Makna Negara Hukum, Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1970. Sri Soemantri, Pengantar Perbandingan Antar Hukum Tata Negara, Rajawali, Jakarta, 1984., Lembaga-lembaga Negara Menurut UUD 1945, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989., Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Alumni, Bandung, 1992. Soehino, Ilmu Negara, Liberty, Yogyakarta, hlm. 1993. Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni, Bandung, 1983. S.T. Marbun dan Mahfud MD, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara, Liberty, Yogyakarta, 2000. 9