120...( 2.1 ) p. s..( 2.2 ) I. PENDAHULUAN

dokumen-dokumen yang mirip
PENGEREMAN DINAMIK PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA

SOFT STARTING DAN DYNAMIC BRAKING PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89S51

KONVERTER AC-AC TIGA FASE METODE KONTROL SUDUT FASE MENGGUNAKAN TRIAC DAN IC TCA 785 SEBAGAI PENGATUR TEGANGAN PADA SOFT-STARTING

RANCANGAN BANGUN PENGUBAH SATU FASA KE TIGA FASA DENGAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA

Perancangan Soft Starter Motor Induksi Satu Fasa dengan Metode Closed Loop Menggunakan Mikrokontroler Arduino

Politeknik Negeri Sriwijaya BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.1. Rangkaian Komutasi Alami.

Perancangan Rangkaian Pengasutan Soft Starting Pada Motor Induksi 3 Fasa Berbasis Arduino Nano

PERBANDINGAN PENGARUH TAHANAN ROTOR TIDAK SEIMBANG DAN SATU FASA ROTOR TERBUKA : SUATU ANALISIS TERHADAP EFISIENSI MOTOR INDUKSI TIGA FASA

SISTEM PENGENDALIAN MOTOR SINKRON SATU FASA BERBASIS MIKROKONTROLER

Proteksi Motor Menggunakan Rele Thermal dengan Mempertimbangkan Metode Starting

Resistor Sebagai Pendeteksi Zero Cross Voltage Pada Sinkronisasi Pulsa Penyulut

PERBANDINGAN PENGATURAN KECEPATAN MOTOR INDUKSI SATU FASA MENGGUNAKAN VARIAC DAN KONVERTER AC AC KONTROL SUDUT FASA BERBASIS IC TCA 785

PENGATURAN KECEPATAN MOTOR DENGAN MAGNETIK KOPLING MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER AT89S51

NAMA : WAHYU MULDAYANI NIM : INSTRUMENTASI DAN OTOMASI. Struktur Thyristor THYRISTOR

Desain Sistem Kontrol Sudut Penyalaan Thyristor Komutasi Jaringan Berbasis Mikrokontroler PIC 16F877

RANGKAIAN PENYEARAH SETENGAH TERKENDALI TIGA FASA UNTUK PENGENDALIAN KARAKTERISTIK MOTOR ARUS SEARAH SHUNT

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT Flow Chart Perancangan dan Pembuatan Alat. Mulai. Tinjauan pustaka

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISIS

IMPLEMENTASI IC TCA 785 DENGAN TRANSFORMATOR PENGGESER FASE PADA PENYEARAH TIGA FASE JEMBATAN TERKONTROL PENUH

Dampak Perubahan Putaran Terhadap Unjuk Kerja Motor Induksi 3 Phasa Jenis Rotor Sangkar

SIMULASI PENGENDALI KECEPATAN MOTOR DC DENGAN PENYEARAH TERKENDALI SEMI KONVERTER BERBASIS MATLAB/SIMULINK

Modul Laboratorium Sistem Kendali. Penyusun: Isdawimah,ST.,MT dan Ismujianto,ST.,MT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. relevan dengan perangkat yang akan dirancang bangun yaitu trainer Variable Speed

Perancangan dan Analisis Back to Back Thyristor Untuk Regulasi Tegangan AC Satu Fasa

LABSHEET PRAKTIK MESIN LISTRIK MESIN ARUS BOLAK-BALIK

BAB III METODE PENELITIAN

DESAIN SENSORLESS (MINIMUM SENSOR) KONTROL MOTOR INDUKSI 1 FASA PADA MESIN PERONTOK PADI. Toni Putra Agus Setiawan, Hari Putranto

Rancang Bangun Sistem Pengaturan Suhu Ruang Inkubator Bayi Berbasis Microcontroller AT89S51

BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING

BAB II MOTOR INDUKSI 3 Ø

Perbaikan Faktor Daya Motor Induksi 3 fase menggunakan Mikrokontroler 68HC11

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

Perancangan Pembuatan Pengasut Pada Motor Kapasitor 1 Phase

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I SEMIKONDUKTOR DAYA

UNIT I MOTOR ARUS SEARAH MEDAN TERPISAH. I-1. JUDUL PERCOBAAN : Pengujian Berbeban Motor Searah Medan Terpisah a. N = N (Ia) Pada U = k If = k

Pengendali Kecepatan Motor Induksi 3-Phase pada Aplikasi Industri Plastik

Politeknik Gunakarya Indonesia

Protech Vol. 6 No. 1 April Tahun

Mekatronika Modul 5 Triode AC (TRIAC)

Gambar 3.1 Wiring Diagram Direct On Line Starter (DOL)

Rancang Bangun Rangkaian AC to DC Full Converter Tiga Fasa dengan Harmonisa Rendah

ANALISIS PERBANDINGAN TORSI START

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

1. PRINSIP KERJA CATU DAYA LINEAR

RANCANG BANGUN WHIRLPOOL DENGAN MENGGUNAKAN MIKROKONTROLLER

BAB II MOTOR KAPASITOR START DAN MOTOR KAPASITOR RUN. Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran rotornya

Perancangan Modul Soft Starting Motor Induksi 3 Fasa dengan Atmega 8535

NAMA : VICTOR WELLYATER NPM : : DR. SETIYONO,ST,.MT : BAMBANG DWINANTO,ST,.MT

Penyusun: Isdawimah,ST.,MT dan Ismujianto,ST.,MT Prodi D-IV Teknik Otomasi Listrik Industri

BAB III PERANCANGAN ALAT. Dalam perancangan dan realisasi alat pengontrol lampu ini diharapkan

ANALISIS PENEMPATAN PENGATUR KECEPATAN MOTOR INDUKSI SATU FASA RUN-KAPASITOR DENGAN MENGGUNAKAN TRIAC SEBAGAI PENGUBAH TEGANGAN

BAB II HARMONISA PADA GENERATOR. Generator sinkron disebut juga alternator dan merupakan mesin sinkron yang

TUGAS DAN EVALUASI. 2. Tuliska macam macam thyristor dan jelaskan dengan gambar cara kerjanya!

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perancangan Sistem Pengendalian Kecepatan Motor Pompa Air Tekanan Konstan

Nama Praktikan :... NIM :... Program Studi :... Kelas :... Dosen Pengampu :...

BAHAN PERKULIAHAN. Disusun Oleh : Istanto W. Djatmiko

BAB II MOTOR INDUKSI SATU PHASA. Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran

BAB II MESIN INDUKSI TIGA FASA. 2. Generator Induksi 3 fasa, yang pada umumnya disebut alternator.

Penentuan Parameter dan Arus Asut Motor Induksi Tiga Fasa

BAB 10 ELEKTRONIKA DAYA

PENGARUH BENTUK GELOMBANG SINUS TERMODIFIKASI (MODIFIED SINE WAVE) TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR INDUKSI SATU FASA

BAB II MOTOR SINKRON. 2.1 Prinsip Kerja Motor Sinkron

EFEK PENGGUNAAN SCR MOTOR CONTROLLER UNTUK PENINGKATAN EFISIENSI PADA MOTOR INDUKSI TIGA FASA

REALISASI KONVERTER DC-DC TIPE PUSH-PULL BERBASIS IC TL494 DENGAN UMPAN BALIK TEGANGAN

KENDALI FASA THYRISTOR DAN TRIAC TANPA TEGANGAN EKSTERNAL UNTUK PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA. Oleh: Drs. S u n o m o, M.T.

Pemodelan Dinamik dan Simulasi dari Motor Induksi Tiga Fasa Berdaya Kecil

BAB II MOTOR INDUKSI SEBAGAI GENERATOR (MISG)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang diaplikasikan untuk

KENDALI FASA THYRISTOR SEBAGAI SISTEM PENYEARAH TIGA FASA DENGAN PENYINKRON DISKRIT UNTUK PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DAYA

JURNAL TUGAS AKHIR DISAIN RANGKAIAN SNUBBER PADA SISTEM POWER SWITCHING MENGGUNAKAN MOSFET. Universitas Indonesia Depok

controlled rectifier), TRIAC dan DIAC. Pembaca dapat menyimak lebih jelas

ANALISIS PENGARUH JATUH TEGANGAN TERHADAP KINERJA MOTOR ARUS SEARAH KOMPON

CATU DAYA MENGGUNAKAN SEVEN SEGMENT

Desain dan Simulasi Konverter Buck Sebagai Pengontrol Tegangan AC Satu Tingkat dengan Perbaikan Faktor Daya

BAB II MOTOR INDUKSI SATU PHASA. Motor induksi adalah motor listrik arus bolak-balik (ac) yang putaran

ANALISIS SISTEM CYCLOCONVERTER PADA BEBAN NON LINEAR

THYRISTOR. SCR, TRIAC dan DIAC. by aswan hamonangan

Rangkaian Pembangkit Gelombang dengan menggunakan IC XR-2206

Sistem Perlindungan menggunakan Optical Switching pada Tegangan Tinggi

ANALISA PENGARUH BESAR NILAI KAPASITOR EKSITASI TERHADAP KARAKTERISTIK BEBAN NOL DAN BERBEBAN PADA MOTOR INDUKSI SEBAGAI

BAB III SISTEM EKSITASI TANPA SIKAT DAN AVR GENERATOR

PERANCANGAN ZERO VOLTAGE SWITCHING BUCK CONVERTER DENGAN BEBAN RESISTIF BERVARIASI DAN SEBAGAI CATU DAYA UNTUK MOTOR ARUS SEARAH

PEMBUATAN MODUL INVERTER 3 FASA SINUSOIDAL PULSE WIDTH MODULATION SEBAGAI PENGATURAN KECEPATAN MOTOR INDUKSI 3 FASA TERHUBUNG SEGITIGA 220 VOLT

makalah seminar tugas akhir 1 ANALISIS PENYEARAH JEMBATAN TERKONTROL PENUH SATU FASA DENGAN BEBAN INDUKTIF Bagus Setiawan NIM : L2F096570

Elektronika Daya dan Electrical Drives. AC & DC Driver Motor

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Dalam system tenaga listrik, daya merupakan jumlah energy listrik yang

LABSHEET PRAKTIK MESIN LISTRIK MESIN ARUS BOLAK-BALIK (MESIN SEREMPAK)

KATA PENGANTAR. Bandung, 9 Oktober Penulis

FORMULIR RANCANGAN PERKULIAHAN PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN RANGKAIAN

BAB II LANDASAN TEORI

SINGUDA ENSIKOM VOL. 7 NO. 2/Mei 2014

RANCANG BANGUN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU (ANGIN) UNTUK SISTEM PENERANGAN RUMAH TINGGAL

BAB III KARAKTERISTIK SENSOR LDR

PERCOBAAN 9 RANGKAIAN COMPARATOR OP-AMP

BAB IV SISTEM KONVERSI ENERGI LISTRIK AC KE DC PADA STO SLIPI

Transkripsi:

SOFTSTARTING PADA MOTOR INDUKSI 3 PHASA MENGGUNAKAN IC TCA 785 Wahyu Adi Bianto ( LF649 ) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Abstrak Kehandalan dan kemudahan penggunaan motor induksi tiga asa merupakan alas an bagi dunia industri untuk menggunakannya. Namun demikian terdapat kelemahan motor induksi tiga asa yaitu dalam hal pengaturan kecepatan. Dalam proses produksi sekarang ini di sebuah industri adakalanya dibutuhkan kecepatan putar yang dapat diatur sesuai keperluan. Pengendalian motor induksi tiga asa ini dapat dilakukan denan mengatur kecepatan putar motor secara bertahap (sot starting) sampai mencapai kecepatan nominalnya dengan memberikan sudut pemicuan yang berbeda-beda. Salah satu cara pengaturan sot starting dapat dilakukan thyristor antiparalel dapat dilakukan pengaturan kecepatan dengan variasi sudut asanya. Semakin besar sudut asa yang diberikan maka kecepatan akan semakin kecil dimana sudut asa antara -8 o. dalam hal ini pada sudut o gelombang tegangan akan berupa sinusoidal murni dan dengan memutar potensiometer dihasilkan sudut asa yang bervariasi. Pada pengujian yang dihasilkan dengan sot starting nilai arus pengasutannya lebih kecil apabila dibandingkan dengan starting yang dilakukan dengan menggunakan sistem delta bintang dan DOL (direct on line). Hal ini membuktikan bahwa dengan menggunakan metode sot starting arus pengasutan dapat dikendalikan I. PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG Motor dalam dunia industri merupakan alat yang sangat diperlukan untuk menggerakkan berbagai peralatan baik yang siatnya ringan maupun berat, dengan kecepatan tinggi atau rendah sesuai dengan dikehendaki, Kehandalan dan kemudahan penggunaan motor induksi tiga asa merupakan alasan bagi dunia industri untuk menggunakannya. Namun demikian terdapat kelemahan motor induksi tiga asa yaitu dalam hal pengaturan kecepatan. Dalam proses produksi sekarang ini di sebuah industri adakalanya dibutuhkan kecepatan putar yang dapat diatur sesuai keperluan. Pengendalian motor induksi tiga asa ini dapat dilakukan dengan mengatur kecepatan putar secara bertahap (sot starting) sampai mencapai kecepatan nominalnya dengan memberikan sudut pemicuan yang berbeda-beda. Dengan enomena tersebut maka digunakanlah TCA 785 untuk mengatur sudut pemicuan dan Thyristor yang di hubung antiparalel guna mendapatkan kecepatan yang nominal. I. TUJUAN Tujuan yang hendak dicapai dalam tugas akhir ini adalah membuat peralatan untuk mengatur tegangan motor induksi 3 phasa secara bertahap saat dihidupkan (sot starting) dengan menggunakan TCA 785 dan Thyristor yang di hubung anti paralel. I.3 PEMBATASAN MASALAH Untuk mengatasi permasalahan yang mungkin timbul selama pembuatan dan agar permasalahan yang ada tidak terlalu melebar maka diperlukan pembatasan masalah sebagai berikut :. Sistem pengaturan yang digunakan adalah sistem open loop.. Sistem yang digunakan adalah terkontrol penuh anti-paralel menggunakan rangkaian daya yang terdiri atas 6 thyristor. 3. Menggunakan motor induksi 3 asa. 4. Rangkaian pemicuan menggunakan TCA 785. 5. Tidak membahas harmonisa arus maupun harmonisa tegangan yang ditimbulkan dari alat ini. 6. Pada beban di hubung Bintang dan tidak membahas hubung delta pada beban karena pada alat kontrol membutuhkan netral. II. DASAR TEORI. Motor Induksi Motor induksi memiliki dua komponen dasar yaitu stator dan rotor bagian rotor dipisahkan dengan bagian stator-nya oleh celah udara yang sempit dengan jarak antara,4 mm sampai 4 mm tergantung pada kekuatan pada motor. Tipe dari motor induksi berdasarkan lilitan pada rotornya dibagi menjadi dua macam yaitu squirrel-cage rotor dan wound rotor. Kecepatan motor induksi dipengaruhi oleh banyaknya kutub pada statornya dan rekuensi sumber tegangan yang dirumuskan sebagai berikut : n s...(. ) p dimana : n s = kecepatan sinkron = rekuensi p = jumlah kutub Pada kenyataanya perputaran rotor tidak sama dengan kecepatan sinkronnya. Perbedaan antara kecepatan sinkron dengan kecepatan rotornya disebut dengan Slip (s). Slip dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut : ns n s..(. ) ns dimana :s = slip n s = kecepatan sinkron ( putaran/menit ) n = kecepatan rotor. Pengasutan motor induksi Motor induksi saat dihubungkan dengan tegangan sumber secara langsung akan menarik arus 5% sampai 8% dari arus beban penuh. Arus mula yang besar dapat

mengakibatkan pengurangan tegangan pada saluran sehingga akan mengganggu peralatan lain yang dihubungkan pada saluran yang sama. Untuk motor yang berdaya besar tentu arus pengasutan juga akan semakin besar, apabila arus yang besar tersebut mengalir dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan motor dan saluran penghantar menjadi panas dan merusakkan isolasi. Sehingga untuk motor yang berdaya diatas HP tidak dianjurkan menghidupkan motor dengan pengasutan secara langsung... Pengasutan Motor Induksi Metode Direct on Line (DOL) Apabila motor induksi dihidupkan dengan menghubungkan tegangan normal dari jala-jala secara langsung, arus pengasutan sama dengan arus hubung singkat. Maka : T I T dimana : st st s...(.3 ) I T st, I st = torsi dengan arus pengasutan T, I = torsi dengan arus beban penuh s = slip beban penuh Arus pengasutan biasanya 5-7 kali, misalkan arus pengasutan adalah 7 kali arus normal, dan slip saat beban penuh adalah sebesar,4 maka persamaan (.7) diperoleh : T 7. I st,4 =,96 T I dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa dengan arus pengasutan dengan nilai sebesar 7 kali arus beban penuh motor hanya menghasilkan torsi pengasutan sebesar,96 kali torsi saat beban penuh. Gambar. Rangkaian dasar Sot Starting. Komponen SCR memblokir aliran arus dalam satu arah dan meneruskan arus setelah menerima sinyal trigger atau penyulut yang disebut pulsa gerbang. Enam buah SCR disusun dalam converter AC-AC anti paralel seperti yang ditunjukkan Gambar. yang dapat pula disebut sebagai rangkaian pengontrol dua arah AC tiga asa..3 TCA 785 IC TCA 785 merupakan produk dari Siemens Semiconductor Group yang dibuat untuk menghasilkan pulsa pemicuan (trigger pulse) untuk mengontrol asa pada thyristor, triac, dan transistor, antara hingga 8 pada sumber tenaga ac, sedangkan bila sumber tegangannya dc maka diperlukan komutasi (commutation) khusus IC ini dapat diaplikasikan pada kontrol tegangan ac terkontrol (converter) satu asa dan tiga asa, penyearah terkontrol (controlled rectiier) satu asa maupun tiga asa, dan kontrol tegangan dc terkontrol (dc chopper). IC ini memiliki kaki (pin) sejumlah 6, Gambar.3 adalah konigurasi pin IC TCA 785. Gambar. Pengasutan metode DOL... Sot Starting Sot starting adalah suatu cara lain penurunan tegangan pengasutan dari Motor Induksi AC. Sot starting merupakan metode pengasutan yang prinsip kerja dari pengasutan yang hampir sama dengan pengasutan motor menggunakan primary resistance atau primary reactance yang diseri dengan suplai tegangan ke motor. Sot starting terdiri dari komponen solid state thyristor untuk mengontrol tegangan yang masuk ke motor secara bertahap sampai tegangan penuh. Tujuannya untuk mendapatkan pengasutan yang terkendali, sehalus mungkin serta terproteksi dan tercapai kecepatan nominal yang konstan. Berikut adalah gambar rangkaian dasar sot starting : Gambar.3 Konigurasi pin IC TCA 785 Diskripsi dari konigurasi IC TCA 785 adalah : PIN Simbol Fungsi GND Netral (Ground) Q Keluaran terbalik (Output inverted) 3 QU Keluaran U 4 Q Keluaran terbalik (Output inverted) 5 V SYNC Sinkronasi tegangan (Synchronous voltage) 6 I Penghalang (Inhibit) 7 QZ keluaran Z (Output Z) 8 V REF Tegangan terstabilkan (Stabilized voltage) 9 R 9 Ramp resistor (Ramp resistance) C Ramp kapasitor (Ramp capacitance) V Kontrol tegangan C Perpanjangan pulsa (Pulse extension) 3 L Pulsa panjang (Long pulse) 4 Q Keluaran (Output ) 5 Q Keluaran (Output ) 6 V S Sumber tegangan (Supply voltage) IC TCA 785 memerlukan sumber tegangan antara 8 Volt hingga 8 Volt, rekuensi kerja Hz hingga 5 Hz, serta temperatur kerja dari -5 C hingga 85 C. Prinsip kerja IC TCA 785 adalah sinyal sinkronasi dari tegangan sumber dihubungkan pada kaki nomor 5 (V SYNC ) melalui resistor

berhambatan tinggi. Peraba nol (zero crossing detector) akan menentukan letak titik nol dan disimpan kedalam memori sinkron. Detector ini kemudian akan mengendalikan generator gelombang tegangan gigi gergaji yang sesuai dengan rekuensi sumber tegangan. Kapasitor (Capacitor) C dan R9 akan menentukan kemiringan dari bentuk gelombang gigi gergaji yang dihasilkan. Untuk nilai kapasitansinya adalah antara 5 pf hingga µf, dan R9 yang dapat dipakai adalah KΩ hingga 3 KΩ. Gelombang ini kemudian dibandingkan dengan tegangan reerensi V oleh comparator (pembanding). Sinyal ouput dari comparator ini kemudian akan diteruskan ke rangkaian logika. Bila tegangan reerensi pada kaki (V ) pada posisi terendah maka sudut penyulutan akan menunjukkan α =. Sehingga untuk mengatur sudut pemicuan dapat dilakukan dengan menggeser variable resistor V (kontrol tegangan), persamaan yang dapat digunakan untuk VkONTROL mendapatkan sudut pemicuan adalah : 8 Vst dimana : V KONTROL = variable resistor (V ) V st = (V ) yang biasanya bernilai Volt, namun lebih tepatnya pengaturan sudut pemicuan dapat dilakukan dengan menggunakan osciloscope, sehingga dapat diperoleh hasil pengukuran yang lebih baik..4 Thyristor Thyristor adalah komponen yang prinsip kerjanya mirip dengan dioda namun dilengkapi dengan gate untuk mengatur besarnya asa yang dilalukan. Simbol thyristor dan struktur dasar thyristor terdapat pada Gambar.6. Gambar.6 Simbol thyristor. Struktur dasar thyristor. setelah thyristor tersulut maka thyristor selalu akan dalam kondisi on atau menghantar, dan setelah menerima komutasi (commutation) thyristor akan o atau dalam keadaan tidak menghantar. III. PERANCANGAN ALAT 3. Perancangan Alat Keras Blok diagramnya adalah sebagai berikut : 3 3. Blok diagram alat. 3. Rangkaian Sumber Tenaga Rangkaian sumber tenaga berungsi sebagai suplai pada rangkaian kontrol dengan masing-masing TCA 785. Sumber tenaga ini berjumlah tiga berjumlah tiga buah yang akan terhubung pada setiap asa R,S dan T suplai jala-jala PLN. Gambar.4 Diagram pulsa. Dapat dilihat pada Gambar.9 adalah data gelombang yang terdapat pada IC TCA 785. 3. Sumber tenaga untuk IC TCA 785. 3.3 Rangkaian Pemicuan kontrol Tegangan AC 3 asa Untuk rangkaian pemicuan kontrol tegangan ac 3 asa ini disusun dengan menggunakan 3 buah rangkaian kontrol tegangan ac asa yang masing-masing akan dihubungkan dengan sumber tenaga. Pada titik G dan K akan dihubungkan langsung pada gate dan katoda thyristor Berikut ini diberikan rangkaian kontrol tegangan ac tiga asa. Pada IC TCA ini terdapat dua keluaran yaitu pada pin 4 dan 5. Dimana output pada pin 5 yaitu G dan K dihubungkan dengan thyristor yang melewatkan gelombang masukan sinusoida pada sudut 8 o ( siklus positi ) dan output pada pin 4 yaitu G dan K dihubungkan dengan Gambar.5 Blok diagram pada IC TCA 785

4 thyristor yang melewatkan gelombang masukan sinusoida pada sudut 8 36o ( siklus negati ). 4.. Tegangan Rangkaian Catu Daya Pengambilan data pada rangkaian catu daya diambil pada keluaran catu daya tegangan +5V DC, yang dilihat pada gambar 4. dengan skala :, time/div 5ms, volt/div 5V. Gambar 4. Tegangan daya +5V DC. Sinyal pemicuan TCA 785 Fungsi dari TCA 785 yang digunakan adalah untuk menghasilkan sinyal kontrol yang berupa sinyal pemicuan yang akan mengontrol thyristor. Pulsa yang dihasilkan sesuai dengan sudut pemicuan yang diinginkan. Dengan adanya pengaturan pemicuan pada thyristor, sehingga di dapat tegangan pada beban. Gambar 4. merupakan Hasil sinyal pemicuan dari sudut, 3, 6, 9,, 5. 4.. (c) (d) 3.3 Rangkaian konrol tegangan dengan IC TCA 785 3.4 Rangkaian Daya Thyristor yang digunakan adalah SCR IXYS CS35 84. dibutuhkan 6 buah thyristor untuk membuat rangkaian daya. Bentuk dan konigurasi SCR IXYS CS35 84 dapat dilihat dari Gambar 3.5 dibawah ini : (e) () Gambar 4. Sinyal pemicuan o 3o (c) 6o (d) 9o (e) o () 5o 4..3 Tegangan keluaran sot starting motor induksi Gambar di bawah ini merupakan hasil tegangan keluaran dari proses pemicuan pada output thyristor line-netral pada motor induksi tiga asa dengan skala :, time/div 5ms, volt/div (Ch V). 3.4 Konigurasi SCR IXYS CS35 84 IV. PENGUKURAN, PENGUJIAN DAN ANALISA Pengukuran dan pengujian peralatan sot starting untuk motor induksi tiga asa dengan menggunakan konverter ac-ac ini meliputi:. Pengambilan data bentuk gelombang input dan output.. Pengukuran dan pengujian peralatan. (c) Pengambilan Data Bentuk Gelombang Data yang diambil berupa bentuk gelombang masukan dan keluaran pada rangkaian rangkaian yang akan diuji. Letak titik probe osiloskop untuk pengambilan bentuk gelombang akan di gambarkan dalam lampiran gambar pengambilan bentuk gelombang. (d) 4. (e) () Gambar 4.3 Tegangan Keluaran 5o o (c) 9o (d) 6o (e) 3o () o

4. Pengukuran dan pengujian peralatan yang dimaksudkan yaitu pengukuran terhadap setiap blok rangkaian alat yang berupa nilai tegangan dan arus keluaran. Pengukuran pertama yang dilakukan yaitu mengukur nilai sumber tegangan tiga asa yang digunakan sebagai suplai daya masukan. suplai 3 phasa line-netral line-line R-N S-N T-N R-S S-T R-T 9 V 34 V 3 V 45 V 46 V 4 V 4.. Pengujian dan pengukuran pada motor induksi Data yang diambil adalah tegangan keluaran pemicuan thyristor pada beban indukti motor induksi 3 phasa. Selain itu Arus yang mengalir pada motor induksi yang merupakan beban indukti dengan variasi tegangan tersebut. Tabel 4. Tegangan keluaran pada beban indukti Sudut V ( beban ) picu R-N S-N T-N R-S S-T T-R 8 5 4 4 5 55 7 66 6 7 84 5 45 6 9 8 8 95 85 6 7 6 5 6 9 3 8 95 3 337 3 98 6 5 355 37 35 Dari tabel 4. Data tegangan pada beban indukti saat penggerak mula ( prime mover ) berputar maupun diam dengan sudut picuan :, 3, 6, 9,, 5 dan 8 dapat dibuat graik hubungan sebagaimana Gambar 4.4. Tegangan (Vout) Tegangan (Vout) 5 5 5 4 3 Hubungan Tegangan keluaran ( line-netral ) dengan Sudut Picu 8 5 9 6 3 Sudut Picu Hubungan Tegangan keluaran ( line-line ) dengan Sudut picu 8 6 9 6 3 Sudut picu Vout( R-N ) Vout ( S-N ) Vout( T-N ) Vout( R-S ) Vout( S-T ) Vout( T-R ) Gambar 4.4 Graik hubungan Tegangan keluaran ( linenetral) dengan variasi Sudut picu. Graik hubungan Tegangan keluaran ( linenetral) dengan variasi Sudut picu. Dari tabel 4. dan Gambar 4.4 tegangan keluaran dari variasi sudut picu pada beban indukti, dapat dilihat bahwa semakin kecil sudut picu maka tegangan keluaran yang dihasilkan dari konverter ac-ac terkontrol penuh akan semakin besar, demikian sebaliknya. Tabel 4. Arus pada beban indukti sudut I ( beban ) picu R S T 8 5,53,5,,,3,56 9,7,5,57 6,,6,63 3,56,94,3,83,58,56 Dari Tabel 4. data arus pada beban indukti saat penggerak mula ( prime mover ) berputar maupun diam dengan sudut picuan :, 3, 6, 9,, 5 dan 8 dapat dibuat graik hubungan sebagaimana gambar 4.5. Arus (Iout).5.5 Hubungan Arus dengan Sudut picu 8 5 9 6 3 Sudut picu Arus ( R ) Arus ( S ) Arus ( T ) Gambar 4.5 Graik hubungan Arus dengan sudut picu Dari Tabel 4.4 dan Gambar 4.5 arus keluaran ( Iout ) dari variasi sudut picu pada beban indukti, dapat dilihat bahwa semakin kecil sudut picu maka arus keluaran yang dihasilkan dari konverter ac-ac terkontrol penuh akan semakin besar, demikian sebaliknya. Sot starting diketahui adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah arus awal yang besar pada saat starting. Terdapat beberapa teknis lainnya seperti penggunaan saklar bintang delta, transormator start dan hambatan dalam rangkaian rotor. Pada pengujian dilakukan dengan metode sot starting, saklar bintang delta dan DOL (Direct Online). Hal ini dilakukan sebagai perbandingan. Dengan menggunakan metode sot starting ini dapat diketahui bahwa nilai arus keluaran dapat diatur dengan mengatur sudut picunya. Hal ini terjadi karena sudut picu mengatur tegangan masukan yang diberikan pada motor induksi sehingga apabila motor induksi dianggap sebagai impedansi Z yang konstan maka apabila tegangan diubahubah, arusnya pun ikut berubah. Perubahan arus sebanding dengan perubahan tegangan. Sehingga dengan memberikan tegangan secara bertahap maka arus starting yang terjadi tidak langsung melonjak sebesar 3-5 kali arus nominal seperti pada rangkaian DOL. Pada pengujian dengan menggunakan sot starting pada sudut picu 5 o motor induksi sudah mulai berputar perlahan dengan arus pada,5 A. perlahan-lahan diberikan pemicuan dengan sudut picu yang semakin kecil dengan maksud memberikan tegangan yang semakin maksimal. Apabila telah mencapai tegangan maksimum yaitu 38/ V yaitu pada sudut picu o maka arus yang mengalir hanya berkisar,5 A. Sehingga hal ini membuktikan bahwa 5

penggunaan metode sot starting ini bermanaat untuk mengurangi besarnya arus starting. Pada pengujian dengan menggunakan saklar bintang delta dilakukan dengan memberikan masukan pada saat hubung bintang sebesar 5 V pada asa-netralnya. Pada keadaan ini apabila saklar dihubungkan atau keadaannya dijadikan sedemikian sehingga menjadi hubung delta maka arus starting yang didapatkan adalah sebesar,a. Pada pengujian yang telah dilakukan sistem DOL pada motor induksi tiga asa yang dikopel langsung dengan generator dc tanpa menggunakan beban (beban nol) didapatkan arus startingnya adalah sebesar,6 A. Dari beberapa pengujian diketahui bahwa besarnya arus starting yang paling kecil adalah pada penggunaan dengan menggunakan sot starting. Hal ini membuktikan bahwa pengendalian motor induksi dengan menggunakan metode ini dapat dipertimbangkan sebagai metode starting motor induksi yang lebih baik untuk digunakan dalam industri karena arus strating yang dihasilkan dapat dikendalikan. 4.. Pengukuran pada kecepatan motor induksi Pengukuran kecepatan pada motor induksi menggunakan alat ukur tachometer dengan sudut picu yang bervariasi. Tabel 4.3 Kecepatan motor dengan variasi tegangan Sudut Picu Kecepatan output ( rpm) 8 5 33 46 9 486 6 488 3 49 56 Dari Tabel 4.3 didapatkan graik hubungan antara sudut picu dan kecepatan motor induksi tiga asa sebagai berikut: 6 Tabel 4.4 Pengaruh Pembebanan Teg medan Arus medan Arus starting (V ) (I ) (I start ).3.5..4 9.7.3 8.6.5 7.4. 6..9 5..7 4.8.6 3.6.5.4.4..3 Perubahan tegangan medan maka arus medannya juga akan berpengaruh. Dimana pemberian tegangan yang semakin besar maka arusnya juga akan semakin besar. Hal ini disebabkan karena reaktansi pada medan stator adalah konstan. Dapat dibuktikan dengan menggunakan persamaan V = I R. Berikut ini diberikan graik hubungan antara keduanya. I,5,,5,,5 3 4 5 6 7 8 9 Gambar 4.7 Hubungan tegangan medan dengan arus medan. Dengan adanya beban berupa motor dc penguatan terpisah yang terhubung lampu maka semakin besar tegangan yang diberikan pada stator motor dc tersebut maka semakin besar pula arus starting motor induksi. Hal ini disebabkan karena beban yang dipikul semakin besar. Gambar 4.8 merupakan graik hubungan antara tegangan medan dengan arus starting. 3 V,5 kecepatan motor 6 4 8 6 4 5 5 sudut picu Gambar 4. 6 Graik hubungan antara sudut picu dan kecepatan motor induksi tiga asa. Dari graik diatas terlihat bahwa semakin besar sudut picu maka motor induksi akan semakin lambat. Hal ini dikarenakan oleh tegangan masukan pada motor induksi akan semakin kecil dengan bertambahnya sudut picu. Dengan semakin kecilnya tegangan masukan maka semakin kecil pula kecepatan putaran motor. 4..3 Pengaruh Pembebanan Motor induksi yang diatur dengan menggunakan thyristor antiparalel ini dikopel dengan generator dc penguatan terpisah dan dihubungkan dengan lampu pijar yang berungsi sebagai beban resisti yang akan divariasi besarannya. Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut: Istart,5,5 3 4 5 6 7 8 9 Gambar 4.8 Hubungan tegangan medan dengan arus starting. Pada pengujian juga dilakukan pengukuran pada cos pada sisi sumber. Hal ini dilakukan dengan maksud mengetahui besarnya cos apabila dilakukan perubahan sudut pemicuan. Dari hasil pengujian dihasilkan cos yang tetap yaitu,98 untuk setiap variasi sudut pemicuan. Ini membuktikan bahwa cos tidak dipengaruhi oleh besarnya sudut pemicuan. Tabel 4.7 Pengukuran cos pada sudut istimewa Sudut picu ( ) PF (cos ),98 3,96 6,9 9,73,35 V

Pada Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa semakin besar sudut pemicuan maka aktor daya akan semakin kecil. PF,,8,6,4, 3 6 9 sudut picu Gambar 4. Hubungan sudut picu dengan cos. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kesimpulan Dari hasil pengukuran dan pengujian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:. Dari pengujian rangkaian kontrol thyristor antiparalel dengan menggunakan TCA 785 dapat dilihat bahwa pengaturan sudut asa terjadi antara -8 o. Motor induksi dengan pemberian sudut picu yang lebih kecil, tegangan yang dihasilkan akan semakin besar atau mendekati nominalnya, karena dengan sudut picu yang kecil, gelombang tegangan akan semakin sinusoida. 3. Penyalaan motor induksi tiga asa dengan menggunakan thyristor antiparalel dalam pengujiaannya menghasilkan arus pengasutan yang lebih kecil pada tegangan nominal apabila dibandingkan dengan metode penyalaan dengan menggunakan metode delta bintang dan DOL(Direct on Line) 4. Pada pengujian pembebanan dengan menggunakan generator dc yang dihubungkan dengan lampu pijar maka diketahui bahwa apabila tegangan medan pada generator dc diubah-ubah maka besarnya arus starting juga akan berubah dimana semakin besar tegangan medan maka arus startingnya juga semakin besar 5. Saran. Untuk melindungi rangkaian kontrol dari kerusakan apabila terjadi kesalahan maka sebaiknya diberikan pengaman berupa use.. Sebaiknya menambahkan rangkaian optocoupler pada output rangkaian kontrol sebagai proteksi. 7 [6] M. Rashid, Elektronika Daya, Rangkaian, Devais Dan Aplikasinya. Jilid, PT. Prenhallindo, Jakarta, 993. [7] M. Rashid, Power Electronics Circuit, Device, and Aplication nd, Prentice-Hall International Inc, 988. [8] P. C. Sen, Principles O Electric Machines And Power Electronics, Second Edition, John Wiley & Sons, USA, 997 [9] PROF.Ts.MHD.SOELAIMAN,MABUCHI MAGARISAWA. Mesin Tak Serempak dalam praktek,p.t.pradya Paramita,Jakarta,984. [] Sumanto, MA. Motor Listrik Arus Bolak-Balik. Endi Oset-Yogyakarta,993. [] Sulasno, Ir. Teknik dan Sistem Diestribusi Tenaga Listrik.Badan Penerbit Universitas Diponegoro- Semarang,. [] Theodore Wildi, Electrical Machines, Drives and Power Systems 3 rd,prentice Hall Inc, New Jersey, 997. [3] Vedam Subrahmanyam, Electric Drives, Concepts and Applications, Tata McGraw-Hill, New Delhi, 994. Pembimbing I Mochammad Facta, ST. MT Wahyu Adi Bianto (LF649) lahir pada tanggal 3 juli 98 di Banyumas. Pada saat ini masih menyelesaikan di akultas Teknik Elektro dengan konsentrasi Tenaga Listrik. Mengetahui Semarang, 6 Pembimbing II Trias Andromeda, ST. MT 3 3 34 3 83 85 Datar Pustaka [], TCA 785, Siemens Semiconductor Group. [] http://www.schneider-electric.ca [3] Eugene C. Lister, Ir. Drs. Hanapi Gunawan, Mesin Dan Rangkaian Listrik, Penerbit Erlangga, Jakarta, 993. [4] Fizgerald, Kingsley, Umans, Mesin - Mesin Listrik, Penerbit Erlangga, Jakarta, 997. [5] M. Chilikin, Electric Drive, MIR Publisher, Moscow, 97.