BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan sampel dilakukan di Perairan Morotai bagian selatan, Maluku Utara (Gambar 1) pada Bulan September 2012 dengan Kapal Riset Baruna Jaya III bersama Balai Teknologi Survei Kelautan (Teksurla) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Identifikasi plankton telah dilakukan di Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran (Unpad), analisis sampel air laut dilakukan di Laboratorium Air Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Data diolah di Laboratorium Komputer FPIK Unpad pada Bulan Februari-April 2013. Pengambilan sampel berdasarkan stasiun yang telah ditentukan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Posisi stasiun pengambilan sampel Stasiun Posisi Jarak Dari Pantai Lintang Utara Bujur Timur (Km) 1 2 3' 51.5448" LU 127 1' 2.6394" BT 77,73 2 2 23' 47.616" LU 127 51' 49.7622" BT 16,33 3 2 13' 52.5282" LU 128 6' 1.7814" BT 5,50 4 2 3' 2.9766" LU 128 17' 3.5088" BT 1,22 5 1 51' 43.0626" LU 128 18' 15.6702" BT 13,90 6 1 7' 5.9334" LU 129 31' 0.4434" BT 152,87
Gambar 1 Peta stasiun pengambilan sampel
3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Alat Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari alat-alat yang digunakan pada saat survei di lapangan, analisis di laboratorium, dan keperluan pengolahan data. Peralatan yang digunakan untuk survei di lapangan antara lain: 1. Botol sampel Botol sampel yang digunakan untuk menyimpan sampel plankton berukuran 200 ml sedangkan untuk menyimpan sampel air laut berukuran lebih dari 500 ml. 2. Conductivity Temperature Depth (CTD) CTD merupakan alat yang digunakan untuk mengukur suhu dan salinitas di lapangan (Gambar 2) Gambar 2 Conductivity Temperatre Depth (CTD)
3. Ember Ember merupakan wadah air yang digunakan untuk mengambil air laut untuk kemudian disaring ke plankton net. 4. Plankton net Plankton net merupakan alat untuk menyaring plankton dari air laut. Plankton net yang digunakan adalah KITAHARA berbentuk kerucut modifikasi dengan ukuran diameter mulut 32 cm, pajang badan jarring 1,0 m, dan bukaan mata jarring 0,08 mm Peralatan yang digunakan untuk mengidentifikasi plankton dan analisi sampel air laut di laboratorium adalah: 1. Mikroskop binokular (Gambar 3) Mikroskop binokular merupakan alat bantu untuk identifikasi plankton. Klasifikasi plankton dapat dilihat dari buku identifikasi Yamaji (1984). Gambar 3 Mikroskop binokular 2. Pipet tetes (Gambar 4) Pipet tetes digunakan untuk mengambil contoh plankton dari dalam botol sampel untuk kemudian dipindahkan ke dalam kaca counting chamber.
Gambar 4 Pipet tetes 3. Counting chamber (Gambar 5) Counting chamber merupakan tempat untuk menghitung sampel plankton yang tersaring. Counting chamber diletakkan dibawah lensa objektif. Gambar 5 Counting chamber 4. Spektrofotometer Spektrofotometer digunakan untuk mengukur konsentrasi nutrien (Amonia, nitrat, orthofosfat, dan silikat) pada air laut. Peralatan yang digunakan untuk pengolahan dan analisa data antara lain:
1. Microsft excel Microsoft excel digunakan untuk mengolah data dengan menganalisis statistik penelitian ini. 2. Surfer 10.0 Surfer 10.0 digunakan untuk mengolah data klorofil a yang telah diunduh dari las.pfeg.noaa.gov. 3.2.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lugol untuk mengawetkan sampel plankton data klorofil a yang telah diunduh dari las.pfeg.noaa.gov. 3.3 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan metode statistik. Metode survei berupa pengamatan, pengukuran parameter oseanografi, pengambilan sampel plankton dan air laut di lapangan (Perairan Morotai). Pengamatan dan pengambilan data dilakukan di enam stasiun lepas pantai Perairan Morotai secara acak mengikuti alur jalannya Kapal Baruna Jaya III. Metode statistik yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kelimpahan plankton dengan faktor fisik kimiawi dan klorofil a. 3.4 Prosedur Penelitian Prosedur penelitian ini diawali dengan menentukan titik stasiun yang merupakan alur jalannya kapal. Pada tiap stasiun dilakukan pengambilan sampel plankton dengan menggunakan plankton net (Gambar 6). Air laut ditimba dari kapal dengan menggunakan ember sepuluh liter dengan tiga kali ulangan kemudian dimasukkan ke dalam botol sampel 200 ml, setelah itu sampel plankton diawetkan dengan cairan lugol sebanyak empat sampai enam tetes (Gambar 7) dan disimpan di ruangan pendingin.
Gambar 6 Pengambilan sampel plankton menggunakan ember dan plankton net Gambar 7 Penetesan cairan lugol kedalam botol sampel plankton Pengambilan sampel air laut untuk analisis nutrien juga dilakukan pada setiap stasiun dengan pengambilan langsung dari laut ke dalam botol berukuran 500
ml kemudian disimpan dalam keadaan beku. Pengukuran suhu dan salinitas pada permukaan diambil dengan menggunakan alat CTD. Identifikasi jenis dan perhitungan kelimpahan plankton telah dilakukan di Laboratorium MSP FPIK Unpad. Sebanyak satu ml sampel dimasukkan ke dalam counting chamber dengan pipet tetes untuk diidentifikasi jenis dan dihitung kelimpahan plankton menggunakan mikroskop binokular dengan sepuluh kali pengulangan. Plankton diidentifikasi dengan bantuan buku identifikasi Yamaji (1984). Pengukuran konsentrasi nutrien (amonia, nitrat, orthofosfat, dan silikat) dilakukan di Laboratorium FTSL ITB dengan menggunakan spektrofotometer. Pengolahan data plankton dan data parameter fisik kimiawi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel. Data sebaran klorofil a didapat dengan mengunduh dari situs las.pfeg.noaa.gov yang diolah menggunakan perangkat lunak surfer 10.0. Diagram alir prosedur penelitian dapat dilihat dari gambar berikut ini: Penentuan titik stasiun Pengambilan sampel plankton Pengambilan sampel air laut Pengukuran parameter fisik kimiwai perairan Pengunduhan data Klorofil a dari las.pfeg,noaa.gov Identifikasi jenis plankton Pengukuran konsentrasi Pengolahan data dengan M.excel nutrien Analisis korelasi kelimpahan plankton dan parameter fisik kimiawi Analisis data secara deskriptif
Gambar 8 Diagram alir prosedur penelitian 3.5 Analisis Data 3.5.1 Kelimpahan Plankton Kelimpahan adalah jumlah individu plankton per volume air. Penentuan kelimpahan plankton dilakukan berdasarkan metode sapuan di atas gelas Sedgwick- Rafter. Kelimpahan plankton dihitung berdasarkan rumus (Fachrul 2007). N = n x Vr Vo x 1 Vs Dengan: N = Jumlah sel (m 3 ) -1 n = Jumlah sel yang diamati Vr = Volume air tersaring (200 ml) Vo = Volume air yang diamati pada Sedgwick-Rafter (10 ml) Vs = Volume air yang disaring (30 liter) 3.5.2 Indeks Shannon-Wiener Indeks Keanekaragaman Indeks keanekaragaman jenis merupakan penggambaran secara matematik untuk mempermudah menganalisis informasi tentang jenis dan jumlah organism. Untuk melihat indeks keanekaragaman fitoplankton dan zooplankton dapat dihitung dengan indeks Shanon-Wiener (Fachrul 2007) dengan rumus: H = Pi ln Pi Dengan:
H = Indeks keanekaragaman jenis Pi = ni/n ni = Kelimpahan jenis pada peringkat ke-i N = Kelimpahan total Kriteria H <1 = Komunitas biota tidak stabil atau kualitas air tercemar berat 1<H <3 = Stabilitas komunitas biota sedang atau kualitas air tercemar sedang H >3 = Stabilitas komunitas biota dalam kondisi prima (stabil) atau kualitas air bersih Indeks Keseragaman Penyebaran jumlah individu pada masing-masing organisme dapat ditentukan dengan membandingkan nilai indeks keanekaragaman dengan nilai maksimumnya. Analisis indeks keseragaman fitoplankton dan zooplankton menggunkana rumus sebagai berikut : E = H H maks Dengan: E = Indeks keseragaman H = Indeks keanekaragaman Hmaks = ln S S = Jumlah spesies Dari perbandingan ini didapatkan nilai E antara nol sampai satu. Semakin kecil nilai E maka semakin kecil juga keseragaman suatu populasi, artinya penyebaran jumlah tiap genus tidak sama dan ada kecenderungan bahwa
suatu genera mendominasi populasi tersebut. Sebaliknya semakin besar nilai E, maka populasi menunjukkan keseragaman yaitu jumlah individu setiap genus dapat dikatakan relatif sama atau tidak jauh berbeda. 3.5.3 Analisis Regresi Linear Berganda Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengukur pengaruh lebih dari satu variabel bebas terhadap variabel terikat. Regresi linear berganda dapat dilihat dengan persamaan: Y= a+b 1 X 1 ± b 2 X 2 ± b 3 X 3 ± ± b n X n Dengan : Y = Variabel terikat a = Konstanta b 1, b 2 = Koefisien regresi X 1, X 2 = Variabel bebas Besarnya hubungan antara variabel satu dengan variabel lainnya dinyatakan dengan koefisien korelasi (r). besarnya koefisien korelasi berkisar antara -1 sampai dengan 1.