HUBUNGAN HUKUM DALAM PERJANJIAN EMISI SAHAM ANTARA PENJUAL SAHAM DAN PEMBELI SAHAM DALAM PASAR MODAL INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERJANJIAN. dua istilah yang berasal dari bahasa Belanda, yaitu istilah verbintenis dan

BAB II PERJANJIAN PADA UMUMNYA. satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. 11

II. TINJAUAN PUSTAKA. kewajiban untuk memenuhi tuntutan tersebut. Pendapat lain menyatakan bahwa

BAB II PERJANJIAN PADA UMUMNYA. Dari ketentuan pasal di atas, pembentuk Undang-undang tidak menggunakan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN DAN PENGATURAN MENURUT KUH PERDATA. A. Pengertian Perjanjian dan Asas Asas dalam Perjanjian

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Lex Privatum, Vol. III/No. 4/Okt/2015

BAB II PENGATURAN ATAS JUAL BELI SAHAM DALAM PERSEROAN TERBATAS DI INDONESIA. dapat dengan mudah memahami jual beli saham dalam perseroan terbatas.

BAB I PENDAHULUAN. dilaksanakannya dalam sebuah perjanjian yang di dalamnya dilandasi rasa

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN, WANPRESTASI DAN LEMBAGA PEMBIAYAAN KONSUMEN

I. PENDAHULUAN. Kehadiran bank sebagai penyedia jasa keuangan berkaitan dengan kepentingan

Hukum Perjanjian menurut KUHPerdata(BW)

BAB III TINJAUAN TEORITIS. dapat terjadi baik karena disengaja maupun tidak disengaja. 2

BAB II TINJAUAN TENTANG PERJANJIAN KREDIT BANK. kelemahan, kelamahan-kelemahan tersebut adalah : 7. a. Hanya menyangkut perjanjian sepihak saja

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan dilakukan manusia sudah berabad-abad. Pembangunan adalah usaha untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. menuntut para pelaku bisnis melakukan banyak penyesuaian yang salah satu

BAB I PENDAHULUAN. Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu

LEMBAGA JAMINAN FIDUSIA DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN KONSUMEN

BAB II PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUHPERDATA. antara dua orang atau lebih. Perjanjian ini menimbulkan sebuah kewajiban untuk

istilah perjanjian dalam hukum perjanjian merupakan kesepadanan Overeenkomst dari bahasa belanda atau Agreement dari bahasa inggris.

BAB I PENDAHULUAN. Manusia di dalam kehidupannya mempunyai bermacam-macam kebutuhan

Penerapan Pasal 1320 KUHPerdata terhadap jual beli secara online (e commerce) Herniwati, SH, MH. Dosen STIH Padang. Abstrak

JURNAL IPTEKS TERAPAN Research of Applied Science and Education V8.i4 ( )

PASAR MODAL DAN TRANSAKSI EFEK SAHAM ERDIKHA ELIT

PELAKSANAAN PERJANJIAN ANTARA AGEN DENGAN PEMILIK PRODUK UNTUK DI PASARKAN KEPADA MASYARAKAT. Deny Slamet Pribadi

A. Perlindungan Hukum yang dapat Diperoleh Konsumen Terhadap Cacat. Tersembunyi yang Terdapat Pada Mobil Bergaransi yang Diketahui Pada

HUKUM PERJANJIAN & PERIKATAN HUBUNGAN BISNIS ANDRI HELMI M, SE., MM.

PASAR MODAL INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam sistem perekonomian. Menurut Undang Undang Nomor

BAB I PENDAHULUAN. dalam pengerahan dana, sehingga dapat dipergunakan secara produktif untuk. kepemilikan saham-saham perusahaan go public.

Prosiding Ilmu Hukum ISSN: X

BAB I PENDAHULUAN. adalah, kendaraan bermotor roda empat (mobil). kendaraan roda empat saat ini

BAB III TINJAUAN TEORITIS TENTANG PERJANJIAN

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN DAN WANPRESTASI. Perjanjian atau persetujuan merupakan terjemahan dari overeenkomst,

PERAN KONSULTAN HUKUM DI DALAM RANGKA PERLINDUNGAN INVESTOR (INVESTOR PROTECTION) Said Sampara* ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. seperti: investasi dalam pembelian ternak, pembelian tanah pertanian, atau

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam keadaan yang sedang dilanda krisis multidimensi seperti yang

BAB II LANDASAN TEORI Tinjauan Terhadap Perjanjian Pada Umumnya. hukum perdata adalah sama penyebutannya secara berturut-turut seperti

BAB I PENDAHULUAN. mendesak para pelaku ekonomi untuk semakin sadar akan pentingnya

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang saat ini tengah. melakukan pembangunan di segala bidang. Salah satu bidang pembangunan

BAB II PERJANJIAN DAN WANPRESTASI SECARA UMUM

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perjanjian merupakan sumber terpenting yang melahirkan perikatan, perikatan

BAB II PENGIKATAN JUAL BELI TANAH SECARA CICILAN DISEBUT JUGA SEBAGAI JUAL BELI YANG DISEBUT DALAM PASAL 1457 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA

URGENSI PERJANJIAN DALAM HUBUNGAN KEPERDATAAN. Rosdalina Bukido 1. Abstrak

Dengan adanya pengusaha swasta saja belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini antara lain karena perusahaan swasta hanya melayani jalur-jalur

TANGGUNG JAWAB HUKUM PELAKU USAHA TERHADAP KONSUMEN Oleh : Sri Murtini Dosen Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi Surakarta.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pada dasarnya kontrak berawal dari perbedaan atau ketidaksamaan

Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tersebut, maka salah satu cara dari pihak bank untuk menyalurkan dana adalah dengan mem

BAB III PERLINDUNGAN KONSUMEN PADA TRANSAKSI ONLINE DENGAN SISTEM PRE ORDER USAHA CLOTHING

BAB I PENDAHULUAN. tidak asing dikenal di tengah-tengah masyarakat adalah bank. Bank tersebut

Asas asas perjanjian

BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari digerakan dengan tenaga manusia ataupun alam. mengeluarkan Peraturan Perundang-undangan No. 15 Tahun 1985 tentang

BAB I PENDAHULUAN. dijanjikan oleh orang lain yang akan disediakan atau diserahkan. Perjanjian

BAB I PENDAHULUAN. signigfikan terhadap sistem ekonomi global dewasa ini. Teknologi telah

BAB II ASPEK HUKUM TENTANG MEMORANDUM OF UNDERSTANDING DAN PERJANJIAN

seperti yang dimaksud dalam ketentuan Undang-Undang tentang definisi dari kredit ini sendiri

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di dalam perkembangan kehidupan masyarakat saat ini suatu

PENERAPAN ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK DALAM PERJANJIAN KERJA UNTUK WAKTU TERTENTU DI PT. TIGA SERANGKAI PUSTAKA MANDIRI SURAKARTA

Pemanfaatan pembangkit tenaga listrik, baru dikembangkan setelah Perang Dunia I, yakni dengan mengisi baterai untuk menghidupkan lampu, radio, dan ala

BAB I PENDAHULUAN. Perumahan dan pemukiman merupakan kebutuhan dasar manusia dan

AKIBAT HUKUM PERJANJIAN KERJASAMA KEPEMILIKAN MODAL ANTARA PT. AMBARA PRANATA DENGAN PT. MACCARONI APABILA TERJADI WANPRESTASI

BAB II PERJANJIAN JUAL BELI. undang-undang telah memberikan nama tersendiri dan memberikan

PENERAPAN KLAUSULA BAKU PADA PERJANJIAN GADAI PADA PT. PEGADAIAN (PERSERO) 1 Oleh: Sartika Anggriani Djaman 2

BAB I PENDAHULUAN. macam kegiatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk dapat memenuhi

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini banyak berkembang usaha-usaha bisnis, salah satunya

KAJIAN YURIDIS TERHADAP SYARAT SAH DAN UNSUR- UNSUR DALAM SUATU PERJANJIAN

BAB I PENDAHULUAN. ditentukan oleh manusia. Salah satu cara untuk mengurangi risiko tersebut di

BAB I PENDAHULUAN. dan makmur berdasarkan Pancasila di dalam wadah Negara Kesatuan. tujuan dri pembangunan itu sendiri. Dalam dunia usaha yang selalu

BAB I PENDAHULUAN. dengan adanya jaminan dalam pemberian kredit merupakan keharusan yang tidak

BAB IV TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP OPERASIONALISASI DANAREKSA REPO SAHAM (DARSA)

BAB I PENDAHULUAN. satu jasa yang diberikan bank adalah kredit. sebagai lembaga penjamin simpanan masyarakat hingga mengatur masalah

tunggal (biasanya investor institusi), secara privat (private placement), dan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN JUAL BELI. 2.1 Pengertian dan Pengaturan Perjanjian Jual Beli

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Hal janji adalah suatu sendi yang amat penting dalam Hukum

Undang-Undang Merek, dan Undang-Undang Paten. Namun, pada tahun waralaba diatur dengan perangkat hukum tersendiri yaitu Peraturan

HUKUM JASA KONSTRUKSI

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KREDIT. hubungan antara dua orang atau dua pihak, dimana pihak yang satu berhak

PERLINDUNGAN HUKUM INVESTOR DALAM TRANSAKSI PADA DERIVATIVES MARKET DI ASIA TRADE POIN FUTURE SURAKARTA

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG JUAL BELI

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN. dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari

Sistematika Siaran Radio

PERJANJIAN PEMBIAYAAN KONSUMEN (Studi Tentang Hubungan Hukum Dalam Perjanjian Di PT. Adira Dinamika. Multi Finance Tbk.

BAB I PENDAHULUAN. modal yang sehat, transfaran dan efisien. Peningkatan peran di bidang pasar

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN. Perjanjian menurut pasal 1313 KUH Perdata adalah suatu perbuatan dengan

BAB IV PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN SEWA BELI KENDARAAN BERMOTOR. A. Pelaksanaan Perjanjian Sewa Beli Kendaraan Bermotor

BAB III TINJAUAN TEORITIS. landasan yang tegas dan kuat. Walaupun di dalam undang-undang tersebut. pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata:

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan era globalisasi yang semakin pesat berpengaruh

KONTRAK KERJA KONSTRUKSI

PELAKSANAAN PERJANJIAN JUAL BELI TANAH DIHADAPAN PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT) (StudiKasus di Kantor PPAT Farida Ariyanti, SH) Oleh :

ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK DALAM PERJANJIAN BAKU 1 Oleh: Dyas Dwi Pratama Potabuga 2

BAB I PENDAHULUAN. Definisi pembiayaan (finance) berdasarkan Surat Keputusan Menteri

BAB IV ANALISIS DUALISME AKAD PEMBIAYAAN MUD{ARABAH MUQAYYADAH DAN AKIBAT HUKUMNYA

WANPRESTASI VERSUS PERBUATAN MELANGGAR HUKUM MENURUT BURGERLIJK WETBOEK

BAB I PENDAHULUAN. tolok ukur kemajuan perekonomian negara. Salah satu ciri-ciri negara industri

PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS

Hukum Perikatan Pengertian hukum perikatan

BAB III TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KLAUSULA BAKU DALAM PERJANJIAN KARTU KREDIT BANK MANDIRI, CITIBANK DAN STANDARD CHARTERED BANK

KLASIFIKASI PERJANJIAN KELOMPOK I DWI AYU RACHMAWATI (01) ( )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perjanjian atau persetujuan merupakan terjemahan dari overeenkomst, mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.

BAB II PROSEDUR PERALIHAN HAK GUNA USAHA MELALUI PERIKATAN JUAL BELI SEKALIGUS ALIH FUNGSI PENGGUNAAN TANAH

Transkripsi:

HUBUNGAN HUKUM DALAM PERJANJIAN EMISI SAHAM ANTARA PENJUAL SAHAM DAN PEMBELI SAHAM DALAM PASAR MODAL INDONESIA Oleh : Mieke Yustia Ayu Ratnasari,S.H.,M.H. 1 Abstract Capital Market which is in foreign term is often referred as by capital market intrinsically represent an activity form bringing into contact between fund buyer and seller. While place where the fund to sales referred with " effect exchange". Fund which to sales itself utilized to support development of is effort on a long term. In effect exchange of there are activity to bring into contact some party having importance in fund sales. In capital market also there are contractual terms from various party which must be transparent looked to be, so that will become clear between rights and obligations of each party. Keyword : agreement of share emission, emiten and investor, Indonesia capital market A. Pendahuluan Salah satu pelaku pasar modal yang berhubungan erat dengan pengelolaan dan transaksi efek adalah perusahaan efek. Perusahaan efek dalam melakukan kegiatan usahanya adalah sebagai penjamin efek, perantara pedagang efek dan atau manager investasi yang terlebih dahulu harus memperoleh izin usaha. Perusahaan efek yang bertindak sebagai penjamin efek sesuai dengan Pasal 1 butir 17 UUPM No. 8/1995 adalah pihak yang membuat kontrak dengan emiten atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang terjual. Sebenarnya emiten dapat saja menerbitkan efek tanpa menggunakan jasa penjamin emisi (underwriter), namun karena proses emisi memerlukan prosedur yang sangat rumit maka diperlukan pengetahuan spesifik dan karenanya emiten dapat memperoleh asistensi dengan menunjuk penjamin emisi efek. Underwriter juga menjamin laku atau tidaknya penjual efek. Dengan kedudukannya seperti inilah underwriter berada dalam posisi yang sangat berisiko yaitu kemungkinan adanya risiko kerugian 1 Dosen Universitas Tulang Bawang Lampung

apabila efek yang diemisikan oleh Emiten tidak laku terjual. Dalam penjaminan dalam pasar modal, dilakukan oleh perusahaan penjamin emisi dengan emiten untuk melakukan penawaran umum demi kepentingan emiten. Perlu diketahui bahwa secara teoritis ada beberapa masa komitmen dari pihak underwriter dalam melakukan kewajibannya sebagai penjamin emisi. Komitmen dan halhal lain yang berkenaan dengan emisi saham tersebut dituangkan dalam melakukan kewajibannya sebagai penjamin emisi. dari kontrak atau perjanjian. Digunakan kata atau diantara kontrak dan perjanjian menunjukkan bahwa pembuat undangundang menganggap bahwa kedua istilah tersebut mempunyai arti sama. 2 Pembuat undang-undang dalam Pasal 1313 KUH Perdata disebut persetujuan yang mana suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perikatan merupakan hubungan hukum antara dua pihak atau lebih dan perikatan merupakan Komitmen dan hal-hal lain yang berkenaan hubungan hukum antara dua pihak atau dengan emisi saham tersebut dituangkan dalam suatu agreement yang lazim disebut lebih yang menimbulkan pada satu pihak adalah hak dan pada pihak lainnya adalah dengan Perjanjian Penjamn Emisi Efek. kewajiban. Perjanjian ini dibuat antara pihak emiten dengan pihak Perusahaan Penjamin Emisi. Membicarakan tentang perjanjian yang dibuat para pihak dalam mekanisme pasar modal, khusunya perjanjian yang dibuat antara emiten dan underwriter, tidak dapat dilepaskan dari ketentuan yang diatur dalam Bab II Buku II tentang perikatan yang lahir Melihat peranan dan fungsi underwiter tersebut maka dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya suatu emisi efek sangat tergantung kepada kemampuan dan pengalaman penjamin efek (underwriter) di dalam memasarkannya di pasar modal. 2 J. Satrio, Hukum Perjanjian (Perjanjian Pada Umumnya), Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1992, Hal 19.

Sebagai pihak yang menjembatani kepentingan emiten dan investor yaitu bertemunya penawaran dan permintaan di pasar modal, beserta segala resiko kerugian yang mungkin diterimanya karena adanya kewajiban hukum untuk menjamin terjual dan tidaknya emisi saham yang ditawarkan pihak emiten, maka penting untuk dikaji lebih mendalam tentang hak-hak dan kewajiban underwriter di satu sisi dan pihak C. PEMBAHASAN I. Hubungan Hukum Perjanjian Penjaminan Emisi Efek Kegiatan pasar modal adalah kegiatan bisnis yang sangat kompleks dan sarat dengan persoalan-persoaan ekonomis dan yuridis. Kompleksitas persoalan yang ada dalam pasar modal disebabkan begitu banyaknya kepentingan yang saling berhadapan dan besarnya obyek transaksi emiten di sisi lainnya dalam hubungan yang harus menjadi perhatian dari berbagai hukumnya pada mekanisme pasar modal Indonesia. Karenanya sangat menarik apabila dalam penulisan ini dibahas hubungan hukum antar emiten dan underwriter, karena kedudukan underwriter sangat penting bila dikaitkan dengan kepentingan emiten dalam kegiatannya di pasar modal. B. PERMASALAHAN Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimana pengaturan hubungan hukum dalam perjanjian emisi saham antara penjual saham dan pembeli saham dalam mekanisme pasar modal Indonesia? pihak. Dengan begitu banyaknya kepentingan di pasar modal, sektor yuridis menjadi suatu kebutuhan yang sangat vital dalam mengatur mekanisme pasar modal sehingga tercapai unsur ketertiban, keadilan dan kepastian hukum di pasar modal. Emiten adalah pihak yang paling berkepentngan dalam keberadaan suatu bursa efek. Emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum. Penawaran umum adalah suatu kegiatan penawaran efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang telah diatur dalam hukum Pasar Modal. Tujuan emiten menawarkan efek kepada masyarakat adalah dalam rangka menggalang dana murah

dari masyarakat melalui pasar modal untuk seberapa besar saham yang ditawarkannya dimanfaatkan guna merestukturisasi dan terjual. Namun di sisi lain akibat hukum mengembangkan bisnisnya. Untuk memperoleh landasan yuridis dalam melakukan kegiatan di pasar modal dalam rangka penawaran umum tersebut, emiten harus melakukan berbagai proses tahapan yang sangat panjang dan rumit, baik proses ekonomis maupun yuridis. Guna melengkapi dan memenuhi ketentuanketentuan yang disyaratkan oleh hukum pasar modal, emiten akan bekerja sama dengan berbagai pihak yang turut membantu emiten dalam proses tahapan tersebut salah satunya adalah penjamin emisi efek. Penjamin emisi efek adalah piahak yang membuat kontrak dengan emiten dalam rangka penawaran umum bagi kepentingan perjanjian tersebut, secara yuridis akan memberikan implikasi adanya kewajibankewajiban hukum yang harus dipenuhi oleh penjamin emisi efek. Hubungan hukum perjanjian antara emiten dan penjamin emisi efek ini penting untuk dibahas agar terjadi keseimbangan anatara kepentingan emiten di satu sisi dan kepentingan penjamin emisi efek di sisi lainnya. Dengan adanya keseimbangan kepentingan yang diatur dalam hubungan hukum perjanjian akan terjalin kerjasama yang saling menguntungkan satu dengan yang lainnya. II. Sifat dan Dasar Hubungan Hukum Membahas tentang perjanjian, khususnya perjanjian antara pihak emiten emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk dengan underwriter, tidak bisa dilepaskan membeli sisa efek yang tidak terjual. 3 Dengan adanya perjanjian/kontrak ini, pihak emiten akan memperoleh jaminan bahwa penawaran saham yang akan dijual melalui penawaran umum memperoleh kepastian 3 Lihat Pasal 1 angak 17 Undang-undang RI No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dari ketentuan yang diatur dalam Bab II Buku ke III KUH Perdata tentang Perjanjian. Asas-asas perjanjian yang dianut dalam dalam KUH Perdata adalah perjanjian dengan sistem terbuka, maksudnya adalah siapapun dapat mengadakan suatu ikatan tanpa terkecuali asalkan memenuhi kriteria

pasal 1320 KUH Perdata yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut : Untuk sahnya suatu perjanjian harus memenuhi 4 (empat) syarat : 1.sepakat mereka mengikatkan dirinya ; 2.kecakapan untuk membuat suatu perikatan ; 3.suatu hal tertentu ; 4.suatu sebab yang halal. Disamping itu pada Pasal 1338 KUH tidak mengikat pihak ketiga yang berada di luar perjanjian. 4 Dari pasal 1338 KUH Perdata tersimpul asas hukum perjanjian yang sangat mendasar bahwa janji itu bersifat mengikat dan janji itu menimbulkan hutang yang harus dilaksanakan pemenuhannya. Bila janji saja (sebagai unsur Pasal 1320 KUH Perdata) mengikat, maka suatu perjanjian yang Perdata dinyatakan bahwa suatu perjanjian memiliki unsur atau ciri konsensual berlaku sebagai undang-undang. Maksudnya adalah bila suatu perjanjian telah dibuat secara sah yakni tidak bertentangan dengan undang-undang. Maksudnya adalah bila suatu perjanjian telah dibuat secara sah yakni tidak bertentagan dengan undang-undang, maka perjanjian itu mengikat kedua belah pihak dan tidak dapat ditarik kembali, kecuali dengan persetujuan kedua belah pihak atau berdasarkan alasan-alasan yang telah ditetapkan undang-undang. Dengan dibuatnya perjanjian oleh para pihak, sekan-akan menetapkan undangundang bagi mereka sendiri dan perjanjian itu terlebih akan menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu yang harus dilaksanakan oleh para pihak yang menyelenggarakan perjanjian tersebut. Lebih jauh lagi dihubungkan dengan Pasal 1337 dan 1320 KUH Perdata akan tersimpul adanya asas hukum perjanjian yang sangat penting yaitu asas kebebasan berkontrak. Dengan adanya asas kebebasan berkontrak, setiap orang atau para pihak bebas melakukan dan menutup suatu kontrak, mengatur isi suatu perjanjian yang akan diperjanjikan dan akan mengikat bagi para 4 Satrio, Hukum Perjanjian, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992, Hal 358.

pihak, bahkan dapat pula diperjanjikan bahwa para pihak tidak bertanggung jawab dalam batas-batas tertentu saja. Terhadap kebebasan berkontrak seperti ini diakui keberadaanya sepanjang perjanjian itu tidak bertentangan dengan kesusilaan, ketertiban umum dan undang-undang. 5 Ada beberapa asas kebebasan berkontrak lainnya disamping yang ada dalam hukum perjanjian. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut 6 : 1. Asas Konsensualisme ; Asas ini menunjukkan bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk menyatakan keinginannya unuk menciptakan perjanjian. 2. Asas Kepercayaan ; Seorang yang mengadakan perjanjian dengan pihak lain harus dapat menumbuhkan kepercayaan diantara kedua belah pihak bahwa satu sama lain akan memenuhi prestasinya di kemudian hari. 3. Asas kekuatan mengikat ; Terikatnya para pihak pada apa yang diperjanjikan mempunyai kekuatan mengikat 5 Lihat Pasal 1337 KUH Perdata 6 Lihat, Pasal 1337 KUH Perdata diantara para pihak sepanjang yang dikehendaki. 4. Asas persamaan hak ; Asas ini menempatkan para pihak dalam persamaan derajat, tidak ada perbedaan warna kulit. Kedua belah pihak menghormati satu sama lain sebagai ciptaan Tuhan. 5. Asas kepastian hukum ; Perjanjian sebagai suatu figur hukum harus mengandung kepastian hukum. Kepastian hukum ini terungkap dari kekuatan mengikat perjanjian yaitu sebagai undangundang bagi para pihak. Dari paparan diatas dapat dimengerti bahwa hubungan hukum antara emiten dan underwriter adalah didasarkan atas perjanjian yang bersumber dari kepentingan masingmasing pihak. Emiten memperoleh kepastian terhadap rencana penawaran emisi sahamnya, sedangkan underwriter memperoleh imbalan jasa/prestasi yang diberikan oleh emiten. III. Subyek dan Obyek Hukum Subyek hukum yang menyelenggarakan perjanjian penjaminan

emisi efek adalah emiten dan underwriter. Kedudukan hukum underwriter sejajar dengan emiten, dalam artian hubungan hukum tersebut terselenggara karena masingmasing pihak sepakat untuk mengadakan perjanjian dengan maksud-maksud tertentu. Keberadaan underwriter dalam mengadakan kontrak dengan emiten tidak selalu bersifat tunggal, dalam pengertian pihak underwriter bisa bersama-sama dengan underwriter lainnya secara bersama-sama terlibat dalam perjanjian penjaminan emisi efek tersebut. Adanya underwriter lebih dari satu ini bertujuan untuk membentuk suatu sindikasi pengambilan resiko sehingga kerugian maka underwriter akan mempelajari dulu kemampuan emiten dan kemampuan pemodal yang akan membeli efek yang ditawarkan tersebut. Dalam praktek penjamina emisi, secara umum dikenal 4 (empat) type penjamin emisi sebagai berikut 7 : 1. Full/Firm Commitment (Kesanggupan Penuh) Underwriter model ini mengambil resiko penuh. Pihak underwriter menyatakan akan membeli sebagian atau sepenuhnya terhadap efek yang tidak laku dengan harga yang sama dengan harga penawaran kepada pemodal secara umum. 2. Best Effort Commitment (Kesanggupan apabila terjadi kerugian secara bersama. terbaik) Namun walaupun demikian, pihak underwriter yang berhadapan dengan emiten dalam perjanjian penjaminan emisi ini tetap satu pihak saja. Obyek hukum yang diperjanjikan dalam perjanjikan dalam perjanjian Disini isi perjanjian hanya menuntut underwriter agar berusaha sebaik mungkin menjual efek perusahaan agar laku semuanya. Bila pada akhir masa penjualan ada efek yang tidak laku maka akan dikembalikan lagi pada emiten. Disini tidak ada kewajiban penjaminan emisi efek ini adalah efek yang akan ditawarkan emiten di bursa efek. Karena efek yang ditawarkan mengandung resiko 7 Marzuki Usman, dkk. ABC Pasar Modal Indonesia, Kerjasama Antara Institut Bankir Indonesia dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indoneisa, Jakarta, 1994, Hal 3

underwriter untuk membeli efek yang tidak laku tersebut. 3. Standby Commitment (Kesanggupan siaga) Bila ada efek yang tidak laku setelah akhir masa penjualan maka underwriter akan bersedia membeli efek tersebut hanya saja harganya dibawah harga penawaran umum. 4. All or None Commitment (Kesanggupan semua atau tidak sama sekali) Underwriter akan berusaha menjual efek yang ditawarkan emiten sampai laku semua, tetapi bila efek yang ditawarkan tidak laku semuanya maka transaksinya dibatalkan. Dari uraian diatas jelaslah bahwa dalam perjanjian penjaminan emisi efek antara emiten dan underwriter sangat bergantung dari kesepakatan mereka bersama. Masing-masing resiko yang akan dihadapi secara transparan telah dibicarakan sehingga segala sesuatunya dapat dipertanggung jawabkan oleh masing-masing pihak. IV. Syarat Hubungan Hukum perjanjian Mengenai persyaratan yuridis bagi suatu perusahaan dalam mengadakan hubungan hukum perjanjian, khususnya hubungan hukum perjanjian antara emiten dan underwriter bersumber dari perundangundangan berbagai bidang antara lain (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata, (2) Undang-undang RI No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, (3) UU RI No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Ketentuan terhadap syarat perjanjian antara emiten dan underwriter sehubungan dengan diselenggarakannya perjanjian emisi efek harus memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Bab II Buku ke-iii KUH Perdata tentang Perikatan. Hubungan hukum yang dibuat antara emiten dengan underwriter didasarkan atas perjanjian yang bersifat terbuka. Emiten dan underwriter secara bebas bisa menentukan kehendaknya masing-masing untuk mengadakan hubungan hukum tersebut asalkan didasarkan atas adanya unsur-unsur untuk sahnya suatu perjanjian yaitu : 8 Untuk sahnya suatu perjanjian harus memenuhi empat syarat yaitu : 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya ; 8 Lihat, Pasal 1320 KUH Perdata

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan ; 3. Suatu hal tertentu ; 4. Suatu sebab yan halal. Karenanya syarat untuk terjadinya hubungan hukum perjanjian antara emiten dengan underwriter dalam menyelenggarakan adalah suatu perusahaan efek yang harus memperoleh izin Bapepam. Setelah memenuhi syarat ini barulah underwriter secara yuridis diizinkan mengadakan hubungan hukum perjanjian penjaminan efek dengan emiten. Demikian juga dengan emiten, sebelum diperbolehkan perjanjian emisi efek harus didasarkan melakukan penawaran umum harus kesepakatan kedua belah pihak dan kedudukan hukum masing-masing pihak adalah sejajar. Disamping itu, hubungan hukum antara emiten dan underwriter harus didasarkan atas prinsip adanya kebebasan berkontrak, yaitu setiap orang atau para pihak (dalam hal ini emiten dan undewriter) bebas melakukan dan menutup suatu kontrak, mengatur isi suatu perjanjian, bahkan dapat pula diperjanjikan bahwa para pihak tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang timbul atau hanya bertanggung jawab dalam batas-batas tertentu saja. Sedangkan persyaratan yang diatur dalam hukum pasar modal (UU. No. 8/ 1995 tentang Pasar Modal) menegaskan bahwa underwriter memenuhi beberapa persyaratan yuridis diantaranya adalah melaksanakan kewajiban menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada Bapepam. Setelah syarat ini dipenuhi barulah emiten boleh mengadakan hubungan hukum perjanjian emisi efek dengan underwriter. Hubungan hukum antara emiten dan underwriter dalam perjanjian emisi efek menimbulkan hak dan kewajiban antara masing-masing pihak. Karena besar kemungkinannya terjadi suatu kerugian yang mungkin timbul akibat adanya perjanjian tersebut maka UUPM telah memberikan instrument hukum yang memberikan hak kepada pihak yang dirugikan dengan memanfaatkan pasal 111 UUPM yang perumusan selengkapnya sebagai berikut :

Setiap pihak yang menderita kerugian sebagai akibat dari pelanggaran atas undang-undang ini dan atau peraturan pelaksananya dapat menuntut ganti memiliki tuntutan yang serupa terhadap pihak atau pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut. Pasal 111 UUPM ini dapat dijadikan dasar gugatan apabila salah satu pihak dalam perjanjian penjaminan emisi tersebut melakukan pelanggaran terhadap hukum pasar modal yang menyebabkan pihak lainnya menderita kerugian. Disamping itu, tuntutan ganti rugi oleh para pihak yang mengadakan perjanjian penjaminan efek juga dapat diajukan berdasarkan terbukti adanya wanprestasi dimana salah satu pihak tidak dapat memenuhi kewajibannya karena kesalahannya sndiri. Untuk menentukan adanya kesalahan, Patrik memberikan 3 (tiga) criteria sebagai berikut : 9 1. perbuatan yang dilakukan debitur dapat 2. debitur dapat menduga akibatnya : a. dalam arti yang objektif, yaitu sebagai manusia normal pada umumnya dapat menduga akibatnya. b. Dalam arti yang subjektif, yaitu sebagai seorang ahli dapat menduga akibatnya. 3. dapat dipertanggungjawabkan yaitu debitur adalah dalam keadaaan cakap. Sedangkan menurut Satrio, ada 3 (tiga) wanprestasi sebagai berikut : 10 1. tidak memenuhi prestasi sama sekali ; 2. terlambat memenuhi prestasi sama sekali 3. memenuhi prestasi secara tidak baik. Bagi pihak-pihak yang dirugikan dapat menuntut ganti kerugian kepada debitur dengan membuktikan unsur-unsur kesalahan sebagai diuraikan diatas. Akibat adanya wanprestasi memberikan akibat secara hukum bagi debitur atau pihak yang melakukan kesalahan terhadap perjanjian emisi efek sebagai berikut : adanya pemaksaan hukum untuk memenuhi disesalkan : perikatan, adanya pemenuhan perikatan 9 Purwahid Patrik, Dasar-dasar Hukum Perikatan, Mandar Maju, Bandung, 1994, Hal 10 10 J. Satrio, Hukum Perjanjian, Citra Aditya Bakti, bandung, 1992, Hal 15

sekaligus ganti kerugian, bisa membatalkan perjanjian dengan ganti kerugian. Karenanya pada prinsipnya terhadap kerugian bagi para pihak yang menyelenggarakan perjanjian penjamin emisi efek secara yuridis dapat melakukan tuntutan berdasarkan ketentuan yuridis baik yang diatur dalam Kitab-kitab Hukum Perdata maupun UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. D. PENUTUP 1. Kesimpulan Pasar Modal yang dalam istilah asing sering disebut dengan capital market pada 2. Saran Berdasarkan hal tersebut diatas, dituntut adanya transparasi yuridis dari hubungan-hubungan hukum tersebut yang berarti juga transparasi dalam mewujudkan hakekatnya merupakan suatu bentuk kegiatan yang mempertemukan antara penjual dan pembeli dana. Sedangkan tempat dimana dana tersebut diperjualbelikan disebut dengan bursa efek. Dana yang diperjualbelikan itu sendiri dipergunakan untuk menunjang pengembangan usaha dalam jangka panjang. Di dalam bursa efek terdapat aktifitas yang mempertemukan beberapa pihak yang mempunyai kepentingan dalam jual beli dana. Di dalam pasar modal pula terdapat hubungan-hubungan hukum dari berbagai pihak yang harus kelihatan transparan, sehingga akan menjadi jelas antara hak dan kewajiban masing-masing pihak. untuk kepentingan para pihak yang mengadakan perjanjian, juga penting bagi pihak ketiga, khususnya bagi para calon investor yang akan menanamkan investasinya di pasar modal. Dengan adanya transparasi hubungan-hubungan hukum sebagai hubungan hukum antar berbagai pihak instrument pengaturan kepentingan yang sangat kompleks. Termasuk transparasi tersebut akan memudahkan masyarakat mengambil keputusan investasinya. hubungan-hubungan hukum bukan hanya

Daftar Pustaka J. Satrio, Hukum Perjanjian (Perjanjian Pada umumnya), Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1992 Munir Fuady, Pasar Modal Modern (Tinjauan Hukum), Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1996 Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bansung, 1994 Marzuki Usman dkk, ABC Pasar Modal Indonesia, Institut Bankir Indonesia dengan ESEI, Jakrta, 1994 Purwahid Patrik, Dasar-dasar Hukum Perikatan, Mandar Maju, Bandung, 1994 KUH Perdata UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal