Modul: 01 240 Menit ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN Penulis : Drs.Bambang Warsita, M.Pd Pengkaji Materi : Dr. Purwanto, M.Pd Pengkaji Media : Dra. Mariana Soemitro Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 2011 Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 1
A. PENDAHULUAN Halo, apa kabar? Mudah-mudahan Anda dalam keadaan sehat walafiat. Kami yakin Anda tentu sudah siap untuk mempelajari modul ini. Kali ini Anda akan mempelajari modul yang berjudul Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran. Modul ini membahas tentang: 1) konsep dan esensi analisis kebutuhan sistem, 2) prinsip-prinsip analisis kebutuhan sistem, mulai dari tujuan, strategi, media, dan evaluasi, 3) model-model analisis kebutuhan sistem, dan 4) langkah-langkah analisis kebutuhan sistem, yaitu mulai dari mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, menyusun kisi-kisi instrumen, menyusun instrumen, mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis data, serta menyusun laporan hasil. Agar memudahkan untuk dipelajati modul analisis kebutuhan sistem ini dibagi menjadi 5 kegiatan belajar, yaitu: a. Kegiatan belajar 1, membahas tentang konsep dan esensi analisis kebutuhan sistem. b. Kegiatan belajar 2, membahas tentang prinsip-prinsip analisis kebutuhan sistem. c. Kegiatan belajar 3, membahas tentang model-model analisis kebutuhan sistem. d. Kegiatan belajar 4, membahas tentang penyusunan rancangan analisis kebutuhan sistem. e. Kegiatan belajar 5, membahas tentang pelaksanaan analisis kebutuhan sistem. Modul ini dapat Anda pelajari secara mandiri. Dalam mempelajari modul ini sebaiknya Anda pelajari secara bertahap, mulai dari materi yang disajikan pada Kegiatan Belajar-1 yang membahas tentang konsep dan esensi analisis kebutuhan sistem dan mengerjakan soal-soal latihannya serta telah yakin memahaminya, barulah Anda diperkenankan untuk melanjutkan mempelajari materi Kegiatan Belajar-2. Anda dapat melanjutkan mempelajari Kegiatan Belajar-2 setelah Anda memahami materi Kegiatan Belajar-1 Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 2
dan dapat menjawab soal-soal tugasnya dengan benar. Demikian seterusnya, Anda dapat melanjutkan ke kegiatan belajar selanjutnya. Jika Anda telah dapat menyelesaikan kegiatan belajar sebelumnya. Satu hal yang penting adalah membuat catatan tentang materi yang sulit Anda pahami. Cobalah terlebih dahulu mendiskusikan materi yang sulit dengan sesama peserta Diklat atau teman sejawat. Apabila memang masih dibutuhkan, Anda dianjurkan untuk mendiskusikannya dengan nara sumber Diklat pada saat kegiatan tatap muka. Di dalam modul ini tersedia soal tugas dan hendaknya semua soal tugas ini Anda kerjakan dengan tuntas. Dengan mengerjakan semua soal tugas yang ada Anda akan dapat menilai sendiri tingkat penguasaan atau pemahamannya terhadap materi yang disajikan dalam modul dan dapat membantu Anda mengetahui bagian-bagian mana dari materi yang disajikan di dalam modul yang masih belum sepenuhnya dipahami. Oleh karena itu, apabila semua soal tugas di setiap Kegiatan Belajar sudah selesai Anda kerjakan, periksalah jawaban Anda dengan menggunakan Kunci Tugas yang disediakan pada bagian akhir dari modul ini. Kemudian hitunglah jawaban Anda yang benar, lalu gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi setiap Kegiatan Belajar. Rumus Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban yang benar x 100% Arti tingkat penguasaan yang Anda capai : 90 % - 100 % = baik sekali 80 % - 89 % = baik 70 % - 79 % = cukup - 69 % = kurang Apabila tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, bagus! Anda cukup memahami materi Kegiatan Belajar. Anda dapat 5 meneruskan mempelajari Kegiatan Belajar selanjutnya. Tetapi bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80% Anda harus bersabar untuk mengulangi mempelajari materi Kegiatan Belajar, terutama bagian materi yang belum Anda kuasai. Kemudian kerjakan kembali soal tugasnya. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 3
Manfaat mempelajari modul ini membantu Anda untuk dapat melakukan analisis kebutuhan sistem/model teknologi. Selain itu, Anda dapat memperoleh suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem atau model. Modul ini juga akan membantu Anda dalam menyusun rancangan analisis kebutuhan sistem mulai dari mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, menyusun kisi-kisi instrumen, menyusun instrumen, mengumpulkan data, mengolah dan menganálisis data, serta menulis laporan hasil analisis kebutuhan sistem. Oleh karena itu, pentingnya atau kegunaan menguasai modul analisis kebutuhan sistem bagi Anda Pejabat Fungsional PTP adalah memudahkan tugas Anda merancang media, merancang model, merancang model Diklat, dan sebagainya. Perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari modul ini adalah sekitar 15 x 45 menit. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk kegiatan secara tatap muka adalah 4 x 45 menit. Oleh karena itu, Anda dapat membuat catatan-catatan mengenai hal-hal yang perlu didiskusikan selama kegiatan secara tatap muka. Keberhasilan Anda dalam mempelajari modul ini tentunya tergantung pada keseriusan Anda. Hendaknya Anda tidak segan-segan untuk bertanya tentang materi yang belum Anda pahami kepada nara sumber pada saat kegiatan tatap muka, atau berdiskusi dengan rekan Anda serta berusaha menyelesaikan semua tugas yang ada dalam modul dengan baik. Yakinlah bahwa Insya Allah Anda akan berhasil dengan baik apabila memiliki semangat belajar yang tinggi. Jangan lupa berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan kemudahan belajar. Selamat Belajar, Semoga Sukses! Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 4
B. B. MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR-1 KONSEP DAN ESENSI ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah selesai mempelajari materi yang diuraikan pada Kegiatan Pembelajaran-1, Anda dapat menjelaskan: a. pengertian analisis kebutuhan sistem, b. tujuan analisis kebutuhan sistem, dan c. esensi analisis kebutuhan sistem. 2. Uraian Materi Pembelajaran a. Pengertian Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran Kegiatan memiliki posisi strategis dalam pengembangan sumberdaya manusia Indonesia sebagaimana yang dicitacitakan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan kata lain, adalah usaha untuk membuat peserta didik belajar. Pembelajaran merupakan jantungnya aktivitas pendidikan, sehingga menempati posisi dan peranan yang sangat penting. Di dalam kegiatan inilah terjadi proses transmisi dan transformasi pengalaman belajar kepada peserta didik sesuai kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, apabila sistem pendidikan nasional ingin lebih berorientasi kepada penyiapan sumberdaya manusia era informasi maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah pengembangan sistem nya. Apa sistem itu? Menurut Gagne (1979) dalam Suparman (2004) sistem adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar. Nah, suatu set peristiwa itu mungkin digerakkan oleh guru sehingga disebut, Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 5
mungkin digerakkan oleh peserta didik itu sendiri dengan menggunakan buku, modul, siaran televisi pendidikan, siaran radio pendidikan, multimedia, e-learning, atau kombinasi dari berbagai media. Baik digerakkan oleh guru maupun peserta didik sendiri, kegiatan itu haruslah terencana secara sistematis untuk dapat disebut kegiatan. Oleh karena itu, bentuk nyata dari sistem adalah satu set bahan belajar atau strategi yang telah teruji secara efektif dan efisien di lapangan. Dengan kata lain, satu set peristiwa yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar atau memudahkan peserta didik belajar. Pengembangan sistem diawali dengan kegiatan analisis kebutuhan. Apa kegiatan analisis kebutuhan itu? Kegiatan analisis kebutuhan (needs assessment) adalah suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan (gap) antara keadaan yang seharusnya terjadi (ideal) dengan keadaan yang senyatanya terjadi (reality). Didalam ensiklopedia evaluasi yang disusun oleh Anderson,dkk. analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Need Assessment (analisis kebutuhan) adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diinginkan/seharusnya atau diharapkan dengan kondisi yang ada. Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada, seringkali disebut dengan kondisi riil atau kondisi nyata. Oleh karena itu, analisis kebutuhan adalah gambaran tentang kondisi yang terjadi saat ini (real condition) yang dibandingkan dengan kondisi seharunya dilengkapi dengan rekomendasi model solusi untuk mengatasi kesenjangan antara situasi yang senyatanya terjadi dengan kondisi yang seharusnya terjadi. Need Assessment dapat diterapkan pada individu, kelompok atau lembaga (institusi). Roger Kaufman & Fenwick W. English (1979), mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 6
dalam skala prioritas, lalu memilih hal yang lebih penting untuk diselesaikan masalahnya. Maka analisis kebutuhan adalah alat atau metode untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan atau solusi yang tepat. Dalam konteks pendidikan kebutuhan dimaksud diartikan sebagai suatu kondisi yang memperlihatkan adanya kesenjangan antara kenyaataan yang ada dengan kondisi yang diharapkan. Kebutuhan diartikan sebagai jarak antara keluaran yang nyata dengan keluaran yang diinginkan. Gambar 1, Bagan pengertian analisis kebutuhan Kesenjangan merupakan sebuah permasalahan yang harus dipecahkan. Oleh karena itu, kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang sistem, sehingga sistem yang dikembangkan merupakan suatu solusi terbaik. Bila kesenjangan tersebut dapat menimbulkan akibat dan dampak yang besar, maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey,1990). Nah, apabila kesenjangan tersebut dianggap sebagai suatu masalah yang memerlukan pemecahan, maka kesenjangan tersebut dianggap sebagai suatu kebutuhan (needs). Apa kebutuhan itu? Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya (Suparman, 2004). Dengan kata lain, setiap keadaan yang kurang dari yang seharusnya menunjukkan adanya kebutuhan. Apabila kesenjangan itu besar atau menimbulkan akibat lebih jauh sehingga perlu ditempatkan sebagai prioritas untuk diatasi, kebutuhan itu disebut masalah. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 7
Selanjutnya coba Anda berikan contoh! Misalnya di daerah-daerah terlihat meningkatnya kesadaran akan pentingnya Bahasa, terutama di daerah tujuan wisata dan daerah yang banyak memiliki industri Penanaman Modal Asing (PMA). Kesadaran tersebut dipicu oleh adanya kebutuhan kemampuan berkomunikasi dengan orang asing yang menyebabkan tingginya tuntutan penguasaan Bahasa bagi sebagian besar warganya. Oleh karena itu, berdasarkan adanya kebutuhan tersebut pada beberapa daerah telah mengajarkan Bahasa sebagai muatan lokal pilihan di jenjang SD. Beberapa studi empiris menunjukan bahwa dan pemerolehan asing akan lebih baik apabila dilakukan secara dini. Berdasarkan hal itu berkembang pemikiran bahwa Bahasa seyogyanya sudah dilakukan pada tingkat SD. Masalahnya beberapa sekolah yang menyelenggarakan di SD banyak diantara guru yang mengajar tersebut belum mempunyai kompetensi sebagai pengajar, karena sebagian besar mereka adalah guru kelas dengan latar belakang pendidikan DII PGSD guru kelas. Di antara pendidik tersebut juga ada yang berlatar tetapi tidak punya kompetensi mengajar di SD. Untuk itu perlu pengembangan program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Guru SD sistem jarak jauh. Selain itu, kebutuhan (need) dapat diartikan pula sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya. Kebutuhan dapat dirumuskan pula sebagai jurang antara apa yang ada dan apa yang seharusnya ada dalam pengertian hasil (Kaufman,1972). Kemudian apa keinginan itu? Keinginan adalah harapan ke depan atau citacita yang terkait dengan pemecahan suatu masalah. Namun, perlu Anda ingat tidak semua kebutuhan dan masalah dapat disebut kebutuhan, karena belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan. Coba Anda berikan contoh!. Misalnya peserta didik protes karena sukar membaca dan mempelajari buku pelajaran yang di cetak dan diterbitkan suatu penerbit. Setelah diteliti ternyata cetakan buku tersebut kurang bagus Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 8
dan ada sebagian halaman yang rusak. Hal ini disebabkan karena mesin yang digunakan oleh pencetakan tidak dapat berfungsi dengan baik. Masalahnya adalah mesin percetakan kurang berfungsi dengan baik. Untuk itu perlu adanya perbaikan atau penggantian beberapa peralatan mesin tersebut. Nah, sekarang apa kebutuhan itu? Kebutuhan adalah kebutuhan yang memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan instruksional/. Sebagai contoh! Anda perhatikan tabel analisis kebutuhan sebagai berikut: Tabel 1, Analisis Kebutuhan Diklat Bahasa Guru Sekolah Dasar (Warsita, 2011) Masalah Indikator Penyebab Pemecahan Masalah Instruksional Manajemen (1) (2) (3) (4) (5) Rendahnya Peserta didik Kemampuan prestasi belajar kurang mengu- menyimak kualitas pem- sarana dan pra- Bahasa asai empat (listening) belajaran sarana pembel- peserta keterampilan rendah di SD ajaran Ing- didik ber dengan menyegris, seperti labo- SD diakan media ratorium, audio/radio untuk program audio/- radio Kemampuan berbicara (speaking) rendah kualitas di SD sarana dan prasarana, seperti laboratorium Kemampuan membaca (reading) rendah kualitas di SD Mengadakan bahan bacaan yang ber Kemampuan menulis (writing) rendah kualitas di SD Mengadakan berbagai lomba untuk meningkatkan kemampuan ber Peserta didik kurang menguasai unsur-unsur berbahsa Penguasaan kosa kata yang minim yang terintegrasi antara keterampilan ber dengan unsur Menyediakan fasilitas, seperti kamus, buku pelajaran bahsa Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 9
Kurang menguasai tata kualitas di SD sarana dan prasarana Kurang menguasai lafal dan ejaan, dalam berbagai teks lisan dan tertulis Kurang menguasai aspek budaya yang terkandung dalam ekspresi dalam kualitas di SD kualitas di SD sarana dan prasarana, seperti laboratorium sarana dan prasarana, seperti laboratorium Motivasi belajar peserta didik rendah Perhatian dan minat peserta didik terhadap pelajaran kurang Kesulitan dalam mempelajari asing Pembelajaran nya tidak menarik dan kurang menyenangkan Menggunakan strategi yang bervariasi dan menumbuhkan keper-cayaan diri peserta didik proses yang menarik dan bermakna Menyediakan fasilitas, seperti kamus, buku pelajaran bahsa Menyediakan fasilitas, seperti kamus, buku pelajaran bahsa Rendahnya dukungan dan perhatian terhadap di SD Kurangnya perhatian dan dukungan dari Pemda, masyarakat, dan orang tua peserta didik terhadap di SD. Miskin dan alokasi anggaran yang minim Sosialisasi dan pelatihan terhadap orang tua peserta didik terhadap di SD Regulasi dan kebijakan dalam di SD Guru kurang kompeten dan profesional dalam di SD Guru kurang menguasai materi Kurang menguasai empat keterampilan berbahsa Kurang menguasai unsurunsur ber kemampuan dan penguasaan guru terhadap materi/- keterampilan kemampuan dan penguasaan guru terhadap unsurunsur Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat /kursus Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat/kursus Ing-gris Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 10
Guru kurang menguasai di SD Kurang menguasai aspek budaya yang terkandung dalam ekspresi dalam Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat sa di SD Kurang mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kurang mampu me-milih dan melaksanakan strategi Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat/kursus Ing-gris kemampuan guru dalam aspek budaya yang terkandung dalam ekspresi dalam kemampuan guru dalam menyusun RPP mata pelajaran bahsa kemampuan guru dalam pengelolaan di SD Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat -sa di SD Kurang mampu mengembangkan dan memilih media kemampuan guru dalam mengembangkan dan memilih media Menyediakan media di SD Kurang mampu memilih dan memanfaatkan sumber belajar yang tepat dalam kemampuan guru dalam memilih dan memanfaatkan sumber belajar yang tepat dalam Menyediakan beraneka sumber belajar untuk sa di SD Kurang mampu me-ngelola bahsa yang aktif, kreatif, komunikatif, efektif dan menyenangkan kemampuan guru dalam mengelola bahsa yang aktif, kreatif, komu-nikatif, efektif dan menyenangkan. Menugaskan guru untuk mengikuti Diklat pengelolaan sa di SD Kurang mampu melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar kemampuan guru dalam melaksanakan evaluasi proses dan hasil belajar Menugaskan guru un-tuk mengikuti Diklat evaluasi sa di SD Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 11
Pembelajaran dilakukan oleh guru yang kurang kompeten Guru SD sebagai guru kelas secra akademik tidak disiapkan untuk mengajar di SD kualifikasi dan kompetensi guru SD dalam di SD Menyelenggaran dan mengembangkan Diklat untuk guru SD. Berdasarkan contoh analisis tabel 1 di atas, apa rekomendasi Anda untuk mengatasi masalah tersebut? Sebab hasil akhir atau final dari suatu analisis kebutuhan sistem adalah sebuah rekomendasi atau saran solusi untuk (meningkatkan kompetensi). Tentu saja rekomendasi tersebut memberikan alternatif pilihan yang paling mungkin untuk dilaksanakan atau ditindaklanjuti, dan dipilih yang bisa mengatasi masalah yang paling urgen, mendesak atau berpotensi menjadi masalah besar. Berdasarkan tabel1 di atas, menunjukkan bahwa Bahasa di SD merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakkan atau ditunda lagi. Namun, mengingat keberhasilan Bahasa akan berhasil apabila dilakukan oleh tenaga pendidik yang profesional dan berkompeten, didukung dengan strategi yang menarik dan menyenangkan, serta tersedianya bahan belajar, sumber belajar dan media yang memadai dan berkualitas. Oleh karena itu, rekomendasi yang dapat Anda berikan adalah perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang mengarah pada upaya-upaya agar guru SD mempunyai kompetensi/kemampuan untuk melaksanakan Bahasa di SD. Mengingat kondisi dan karakteristik guru SD, alternatif yang memungkinkan untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi guru SD dalam adalah melalui Diklat sistem jarak jauh. Jadi alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengembangkan dan menyelenggarakan Diklat Bahasa untuk guru SD sistem jarak jauh. Selain itu ada beberapa pertimbangan yang menjadi landasan mengembangkan dan menyelenggarakan Diklat Bahasa guru SD sistem jarak jauh (Warsita, 2011), antara lain: Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 12
1) Tekad pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di SD melalui peningkatan kualitas. 2) Pembelajaran dan pemerolehan asing akan lebih baik apabila dilakukan secara dini, Bahasa seyogyanya sudah dilakukan sejak tingkat SD. 3) Adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Bahasa, terutama di daerah tujuan wisata dan daerah yang memiliki industri Penanaman Modal Asing (PMA). 4) Pembelajaran Bahasa di SD merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakkan dan perlu diikuti dengan penyiapan tenaga guru yang profesional dan berkompeten melalui serangkaian Diklat. 5) Keberhasilan Bahasa di SD akan terealisasi apabila dilakukan oleh guru yang berkompeten, didukung dengan metode yang komunikatif dan tersedianya bahan ajar yang cukup serta berkualitas 6) Mengingat keanekaragaman kondisi dan karakteristik guru SD, maka perlu Diklat yang dapat diikuti oleh guru SD yang memerlukan, tanpa harus meninggalkan tugas mengajar dan biaya relatif murah. 7) Banyak guru SD yang sudah mengajar Bahasa, pada hal belum pernah dilatih atau mengikuti Diklat Bahasa. Bagaimana menganalisis kebutuhan itu? Analisis kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat (Morrison, 2001). Sedangkan menurut Burton dan Merrill, analisis kebutuhan adalah suatu proses yang sistematis dalam menentukan sasaran, mengidentifikasi kesenjangan/ketimpangan antara sasaran dengan keadaan nyata, serta menetapkan prioritas tindakan. Dengan demikian, menganalisis kebutuhan dan analisis merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan sistem, ketika menghadapi masalah tentang. Apakah analisis kebutuhan sistem itu? Analisis kebutuhan sistem adalah suatu pendekatan yang sistematis dan sistemik dalam memecahkan kesenjagan dalam sistem. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 13
Selain itu dalam bidang pendidikan dan pelatihan (Diklat), analisis kebutuhan adalah suatu proses untuk menentukan apa yang seharusnya diajarkan. Kebutuhan Diklat dapat diketahui sekiranya terjadi kesenjangan atau ketimpangan antara kondisi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang senyatanya ada dengan tujuan-tujuan /kinerja yang diharapkan tercipta pada suatu organisasi. Oleh karena itu, analisis kebutuhan Diklat adalah suatu proses kegiatan yang bertujuan untuk menemukan dan mengenali adanya suatu kesenjangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dapat ditingkatkan melalui Diklat. Jika demikian, apakah hasil yang diperoleh dari kegiatan analisis kebutuhan sistem itu? Anda tahu? Hasil yang diperoleh dari analisis kebutuhan sistem adalah kompetensi-kompetensi dasar atau tujuan tertentu dalam suatu mata pelajaran yang potensial untuk disampaikan (delivered) melalui sistem atau model tertentu. Dengan kata lain, hasil analisis kebutuhan ialah berbagai kompetensi. Misalnya dengan memanfaatkan media dan sumber belajar. Kompetensi-kompetensi dasar inilah yang akan menjadi acuan tahap selanjutnya yaitu penyusunan Garis Besar Isi Media (GBIM) dan pemilihan/penentuan model dan format media dan bahan belajar yang tepat untuk mencapai kompetensi dasar tersebut. Dengan demikian, langkah pertama dalam merancang GBIM ialah analisis kebutuhan (needs assessment). Selain itu, salah satu cara yang khusus digunakan untuk mengetahui kebutuhan jenis media dan bahan belajar dalam suatu kurikulum yaitu melalui identifikasi kurikulum. Dari kegiatan identifikasi ini akan diketahui materi mana yang membutuhkan media video dan materi mana yang membutuhkan media dan bahan belajar lain untuk mencapai kompetensinya. Dengan demikian, tidak lagi terjadi kesalahan dalam pemilihan media dan bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhan materi tertentu. Misalnya ada sub-pokok n yang efektif dicapai dengan media audio, sedangkan sub-pokok n lain-nya menggunakan media televisi atau video, atau menggunakan jenis media lainnya. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 14
Sebelum Anda melanjutkan pada uraian materi berikutnya, pastikan bahwa Anda sudah memahami uraian materi yang baru saja Anda pelajari. b. Tujuan analisis kebutuhan sistem Coba Anda perhatikan contoh kasus berikut! Bila Anda sebagai pengembang sistem atau pendidik hendaknya mengajukan suatu pertanyaan kepada diri sendiri. Apakah pemberian itu dapat memecahkan masalah? Pertanyaan- pertanyaan senada secara rinci antara lain: 1) apa kebutuhan yang dihadapi? 2) apakah kebutuhan tersebut merupakan masalah? 3) apa penyebabnya? 4) apakah pemberian merupakan cara yang tepat untuk memecahkan masalah? 5) apakah pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang Anda sampaikan itu benar-benar belum dikuasai oleh peserta didik dan kompetensi itu penting bagi peserta didik? Nah, bagaimana jawaban Anda? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu tidak dapat Anda jawab dengan cermat bila Anda tidak melakukan suatu kegiatan analisis kebutuhan sistem. Artinya apabila Anda sebagai guru/pendidik, pengelola program pendidikan atau pengembang sistem pertama-tama yang harus Anda lakukan adalah kegiatan analisis kebutuhan sistem. Selanjutnya apakah tujuan kegiatan analisis kebutuhan sistem? Secara ringkas tujuan analisis kebutuhan sistem adalah: 1) Menginventaris atau mengidentifikasi masalah-masalah. Identifikasi masalah merupakan proses membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang diharapkan atau seharusnya. Hasilnya akan menunjukkan kesenjangan antara kedua keadaan tersebut. Kesenjangan ini disebut dengan kebutuhan. Bila kesenjangan kedua keadaan tersebut besar, kebutuhan itu perlu diperhatikan atau diselesaikan. Kebutuhan yang besar dan ditetapkan untuk diatasi itu disebut masalah. Oleh karena itu, kebutuhan yang lebih kecil mungkin untuk sementara waktu atau seterusnya diabaikan. Artinya kebutuhan Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 15
yang tidak dianggap sebagai masalah. Hasil akhir dari identifikasi masalah adalah perumusan tujuan umum. 2) Menyusun skala priotitas pemecahan masalah Setelah Anda mengetahui masalah-masalah yang dihadapi, maka Anda perlu mencari alternatif pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan skala prioritas pemecahan masalah. Adapun beberapa pertimbangan yang perlu Anda perhatikan dalam menilai atau menentukan skala prioritas pemecahan masalah, yaitu: a) tingkat signifikansi pengaruhnya, b) luas ruang lingkupnya, dan c) pentingnya peranan kesenjangan tersebut terhadap masa depan lembaga atau program. 3) Merumuskan tujuan umum yang akan dicapai dari proses pemecahan masalah. Hasil kegiatan analisis kebutuhan yaitu daftar pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang masih belum dikuasi peserta didik dan perlu dikuasi peserta didik (Suparman, 2004). Dengan kata lain, kegiatan analisis kebutuhan ini akan menghasilkan kompetensikompetensi yang masih belum dikuasai dan perlu dikuasai peserta didik. Kompetensi dasar inilah yang akan menjadi dasar acuan tahap selanjutnya yaitu perumusan Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). Nah, selanjutnya apa fungsi analisis kebutuhan sistem? Secara ringkas fungsi analisis kebutuhan sistem adalah untuk: a) Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang, yaitu masalah yang mempengaruhi hasil. b) Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah-masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan c) Menyajikan skala prioritas untuk memilih tindakan yang tepat dalam mengatatasi masalah-masalah. d) Memberikan data basis untuk menganalisis efektifitas kegiatan (Morrison, 2001). Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 16
c. Esensi Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran Langkah permulaan dalam proses pengembangan sistem adalah analisis kebutuhan. Anda ingat, langkah ini sangat penting dan strategis dalam proses pengembangan sistem. Mengapa demikian? Langkah ini merupakan titik tolak dan sekaligus sumber untuk langkah-langkah berikutnya. Oleh karena itu, kebingungan pada langkah permulaan ini tentu akan menyebabkan seluruh kegiatan pengembangan sistem kehilangan arah (Suparman, 2004). Maka esensi dari kegiatan analisis kebutuhan sistem adalah agar Anda dapat memperoleh suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem. Dengan demikian, esensi analisis kebutuhan sebenarnya adalah menemukan rekomendasi yang dapat menjadi soulsi permasalahan. Nah, sekarang untuk melatih penguasaan materi Anda, coba buatlah resume materi analisis kebutuhan sistem dan tujuan penerapannya di bidang pengembangan media. Apabila Anda menemui kesulitan jangan segan-segan Anda diskusikan dengan teman sejawat. Rangkuman Kegiatan analisis kebutuhan adalah suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan (gap) antara keadaan yang seharusnya terjadi (ideal) dengan keadaan yang senyatanya terjadi (reality). Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya. Apabila kesenjangan itu besar atau menimbulkan akibat lebih jauh sehingga perlu ditempatkan sebagai prioritas untuk diatasi, kebutuhan itu disebut masalah. Tidak semua kebutuhan dan Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 17
masalah dapat disebut kebutuhan, karena belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan. Analisis kebutuhan sistem adalah suatu pendekatan yang sistematis dan sistemik dalam memecahkan kesenjagan dalam sistem. Tujuan analisis kebutuhan sistem adalah: a) untuk menginventaris atau mengidentifikasi masalah-masalah, b) menyusun skala priotitas pemecahan masalah, dan c) merumuskan tujuan umum yang akan dicapai dari proses pemecahan masalah. Esensi dari kegiatan analisis kebutuhan sistem adalah agar Anda dapat memperoleh suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem. A. B. C. GLOSARIUM Analisis kebutuhan suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan antara keadaan yang seharusnya terjadi dengan keadaan yang senyatanya terjadi Analisis kebutuhan sistem pendekatan yang sistematis dan sistemik dalam memecahkan kesenjagan dalam sistem Analisis Proses menjabarkan prilaku umum menjadi prilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis Esensi analisis kebutuhan sistem suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem Identifikasian masalah upaya memetakan masalah-masalah serta menyusunnya berdasarkan skala perioritas, sehingga proses pemecahan masalah menjadi sitematis dan tepat sasaran Implementasi langkah nyata untuk menerapkan sistem di lapangan Kebutuhan kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 18
Kebutuhan kebutuhan yang memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan instruksional/ Model adalah seperangkat prosedur yang sistematis untuk mewujudkan suatu proses Pengembangan proses menerjemahkan spesifikasi desain menjadi kenyataan (bentuk fisik) Pembelajaran proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lengkungan belajar atau usaha untuk membuat peserta didik belajar Sistem suatu set peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar Sumber Acuan Abidin, zaenal, Analisis Kebutuhan Pembelajaran dan Analisis Pembelajaran dalam Desain Sistem Pembelajaran, Jurnal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2007 (website: http// www.ums.ac.id) Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cetakan ke 10, Jakarta: Penerbit PT Rineka Cipta, 1996 Cronbach, Lee J., Educational Psychology 3rd Edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich Inc., 1977 Degeng, Nyoman.S, Paradigma Pendidikan:dari Behavioristik ke Konstruktivistik, Bahan presentasi, Univ. Negeri Malang, 2007. DePorter, Bobbi, & Hermacki, Mike, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Terj. Alwiyah Abdurrahman, Bandung, Penerbit Kaifa, 1992. Dick, Walter and Carey Lou, The Systematic Design of instruction 3 rd Ed, Includes Bibliographical References, USA, Walter Dick and Lou Carey 1990. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 19
Kozma, Robert B., Lawrence W. Belle and George W. Williams. Instructional Techniques in Higher Education. New Jersey: Educational Technology Publications Inc., 1978 Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2004. Morrison, Gary. R, Steven M, Ross, Jerrold E Kemp : Designing Effective Instruction, Third Edition John Wiley and Sons, inc printed in the USA 2001. Model Pendidikan dan Pelatihan Bahasa Guru SD Sistem Jarak Jauh, Jakarta: Pustekkom-PPPPTK Bahasa, 2007. Pribadi, Benny A., Model ASSURE Untuk Mendesain Pembelajaran Sukses, Jakarta: PT. Dian Rakyat, 2011. Seels, Barbara B. & Richey, Rita C., Teknologi Pembelajaran, Definisi dan Kawasannya, Terjemahan Dewi S. Prawiradilaga, R. Rahardjo, Yusufhadi Miarso, Jakarta: Penerbit IPTPI & LPTK, 2000. Smaldino, E. Sharon, Lowther, Deborah L, Russell, James D, Instructional Technology and Media for Learning. Pearson: Prentice Hall, Inc., 2008 Singarimbun, Masri, & Effendi, Sofian, Metode Penelitian Survai, Jakarta: Penerbit LP3ES, 1989 Situmorang, Robinson, GBPP, Teknik Pengembangan dan Pemanfaatannya Untuk Mencapai Kompetensi dalam Pembelajaran, Jakarta. Pustekkom Depdiknas, 2007. Sudirdjo, Sudarsono, Televisi sebagai suatu sumber belajar untuk menunjang penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, Jakarta: Desertasi Program Pasca Sarjana IKIP Jakarta, 1995. Suparman, M. Atwi, Desain Instruksional, Jakarta: Pusat Penerbitan universitas Terbuka, 2004. Supriatna, Dadang, & Mulyadi, Mochamad, Konsep Dasar Desain Pembelajaran (Bahan ajar untuk Diklat E-Training PPPPTK TK dan PLB), Bandung: Penerbit PPPPTK TK & PLB, 2009 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Penerbit Alpabeta, 2006. Sudjana, Djudju, Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006. Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 20
Soekamto, Toeti, Evaluasi Hasil Belajar, Jakarta: Pelatihan PEKERTI Universitas Negeri Jakarta, 2004. Trianto. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Surabaya: Pustaka Ilmu, 2007 Trianto. Model Pembelajaean Inovatif Berorientasi Konstrutivistik. Surabaya: Pustaka Ilmu, 2007 Tri Wijaya, Agustina, Media Pembelajaran Huruf Hiragana dan Katakana untuk Pemula Berbasis Multimedia Menggunakan Macromedia Flash, Yogyakarta: Skripsi UNY, 2011 Uno, Hamzah B., Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara, 2007. Warsita, Bambang, Teknologi Pembelajaran, Landasan dan Aplikasinya, Jakarta: Penerbit PT. Reneka Cipta, 2008. Warsita, Bambang, Pendidikan Jarak Jauh: Perancangan, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi Diklat, Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, 2011. ADDIE Instructional Design Model. Retrived December 20 2006. Website: http://itsinfo.tamu.edu/workshops/handouts/pdf_handouts/addie.pdf Website: http://anrusmath.wordpress.com/2008/08/16/pengembangan, diunduh pada tanggal 9 Januari 2012 Website:http://duniaroy.wordpress.com/2010/12/07/pengembangan-sistem-model-dick-carey-dan-carey/ di unduh pada 31 Oktober 2011 Website: Website:http://www.mediapendidikan.net/index.php?option=com_content&view=cat egory&id=31&itemid=35 http://www.teknologipendidikan.net/2008/08/06/model-pengembangansistem--bagi-penyiapan-sumberdaya-manusia-era-informasi Website:http://fakultasluarkampus.net/mengembangak-sistem-dengan-model-addie/ Website:http://www.ak-ishaq.com/2011/01/model-pengembangan-menurutkemp.html Website:http://bkd.jogjaprov.go.id/detail/id/post/269, diunduh 13 Februari 2012 Serial Modul Diklat Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (Diklat JF-PTP) 21