DESAIN TAMBANG PERTEMUAN KE-3

dokumen-dokumen yang mirip
1. PERANCANGAN PIT DAN PUSHBACK

Aplikasi Teknologi Informasi Untuk Perencanaan Tambang Kuari Batugamping Di Gunung Sudo Kabupaten Gunung Kidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. PT. PACIFIC GLOBAL UTAMA (PT. PGU) bermaksud untuk. membuka tambang batubara baru di Desa Pulau Panggung dan Desa

Artikel Pendidikan 23

DAFTAR ISI. Halaman RINGKASAN... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xi DAFTAR LAMPIRAN...

DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB

BAB V PEMBAHASAN. lereng tambang. Pada analisis ini, akan dipilih model lereng stabil dengan FK

BAB V PEMBAHASAN. menentukan tingkat kemantapan suatu lereng dengan membuat model pada

Kestabilan Geometri Lereng Bukaan Tambang Batubara di PT. Pasifik Global Utama Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan

TEMPAT PENIMBUNAN STOCK PILE AND WASTE DUMP

RANCANGAN BUKAAN TAMBANG BATUBARA PADA PIT JKG PT. BBE SITE KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, MENGGUNAKAN APLIKASI MINESCAPE 4.118

BAB III LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... Bab

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 93

Metode Tambang Batubara

BAB IV PENAMBANGAN 4.1 Metode Penambangan 4.2 Perancangan Tambang

BAB III LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan semakin banyak berdirinya perusahaan perusahaan. pertambangan Batubara di Indonesia termasuk di Propinsi Jambi, salah

DAFTAR ISI. IV. HASIL PENELITIAN Batas Wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) vii

BAB IV DATA DAN PERHITUNGAN

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan pertambangan merupakan suatu aktifitas untuk mengambil

BAB I PENDAHULUAN. lereng, hidrologi dan hidrogeologi perlu dilakukan untuk mendapatkan desain

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept Feb. 2016

PERENCANAAN PRODUKSI PENGUPASAN OVERBURDEN PADA TAMBANG BATUBARA PERIODE DI PIT INUL EAST PT KALTIM PRIMA COAL PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Maksud dan Tujuan

TERHADAP RANCANGAN PUSH BACK

TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN TANAH

BAB 1 PENDAHULUAN. PT. Berau Coal merupakan salah satu tambang batubara dengan sistim penambangan

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Metode Penambangan 5.2 Perancangan Tambang Perancangan Batas Awal Penambangan

BAB I PENDAHULUAN. yang rinci dan pasti untuk mencapai tujuan atau sasaran kegiatan serta urutan

[TAMBANG TERBUKA ] February 28, Tambang Terbuka

SISTEM TAMBANG TERBUKA

PERANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUGAMPING UNTUK KEBUTUHAN PABRIK SEMEN DI PT. SINAR TAMBANG ARTHALESTARI KABUPATEN BANYUMAS PROVINSI JAWA TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. bergerak di sektor pertambangan batubara dengan skala menengah - besar.

Tambang Terbuka (013)

BAB II TANAH DASAR (SUB GRADE)

Kalkulus Multivariabel I

Metode Tambang Batubara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Akses jalan merupakan faktor penting dalam ketercapaian volume batuan

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan penambangan terdiri dari tahapan penggalian, pemuatan, dan

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

RANCANGAN TEKNIS DESAIN PUSH BACK PADA PENAMBANGAN BATUBARA PIT 10 DAN PIT 13 PT. KAYAN PUTRA UTAMA COAL KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II I S I Kecepatan pemboran suatu alat bor juga dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain :

ANALISA KESTABILAN LERENG GALIAN AKIBAT GETARAN DINAMIS PADA DAERAH PERTAMBANGAN KAPUR TERBUKA DENGAN BERBAGAI VARIASI PEMBASAHAN PENGERINGAN

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

KAJIAN TEKNIS PRODUKSI ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT UNTUK MEMENUHI TARGET PRODUKSI TON/BULAN DI PT SEMEN PADANG INDARUNG SUMATERA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. di Kalimantan Timur yang melakukan penambangan dengan sistem penambangan

BAB I PENDAHULUAN...1

PEMETAAN GEOLOGI. A. Peta Geologi. B. Pemetaan Geologi

BAB I Pendahuluan Latar Belakang

BAB III Hasil Percobaan dan Pembahasan. VI = = = 11 m

PERMODELAN DAN PERHITUNGAN CADANGAN BATUBARA PADA PIT 2 BLOK 31 PT. PQRS SUMBER SUPLAI BATUBARA PLTU ASAM-ASAM KALIMANTAN SELATAN

APLIKASI SLIDE SOFTWARE UNTUK MENGANALISIS STABILITAS LERENG PADA TAMBANG BATUGAMPING DI DAERAH GUNUNG SUDO KABUPATEN GUNUNGKIDUL

PERENCANAAN GEOMETRIK DAN PERKERASAN PEMBANGUNAN JALAN RUAS ONGGORAWE MRANGGEN PROPINSI JAWA - TENGAH

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH

LEMBAR PENGESAHAN MOTTO SARI...

BAB III LANDASAN TEORI. tanah adalah tidak rata. Tujuannya adalah menciptakan sesuatu hubungan yang

BAB II TINJAUAN UMUM

RENCANA TEKNIS PENIMBUNAN MINE OUT PIT C PADA TAMBANG BATUBARA DI PT. AMAN TOEBILLAH PUTRA SITE LAHAT SUMATERA SELATAN

EVALUASI ALINEMEN HORIZONTAL PADA RUAS JALAN SEMBAHE SIBOLANGIT

7. Peta Geologi Pengertian dan Kegunaan

BAB I PENDAHULUAN. PT Beringin Jaya Abadi merupakan salah satu tambang terbuka

TIPE DERMAGA. Dari bentuk bangunannya, dermaga dibagi menjadi dua, yaitu

BAB III LANDASAN TEORI

Strike dan Dip Lapisan Batuan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

POTENSI DAN PEMANFAATAN BATUGAMPING DI PT. SUGIH ALAMNUGROHO KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB V PEMBAHASAN. perencanaan yang lebih muda dikelola. Unit ini umumnya menghubungkan. dibuat mengenai rancangan tambang, diantaranya yaitu :

DAFTAR ISI. BAB III TEORI DASAR Lereng repository.unisba.ac.id. Halaman

BAB I PENDAHULUAN. suatu kegiatan yang penting dilakukan oleh suatu perusahaan, karena untuk

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM SIMULASI DAN KOMPUTASI PERTAMBANGAN

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

GEOTEKNIK TAMBANG DASAR DASAR ANALISIS GEOTEKNIK. September 2011 SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL (STTNAS) YOGYAKARTA.

DAFTAR ISI... RINGKASAN... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I. PENDAHULUAN

MODUL 4 DRAINASE JALAN RAYA

RANCANGAN PENANGANAN MATERIAL OVERBURDEN YANG BERPOTENSI MENIMBULKAN AIR ASAM TAMBANG DI BLOK 5D CB PT TANITO HARUM KALIMANTAN TIMUR

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 1 Periode: Maret-Agustus 2015

BAB V PEMBAHASAN. 5.1 Analisis Statistik Univarian

BAB I PENDAHULUAN. Peranan industri pertambangan batu andesit penting sekali di sektor konstruksi,

BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA

1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH

KONSEP DASAR PERENCANAAN TAMBANG 3.1 PENGERTIAN

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

Jurnal Cartenz, Vol.4, No. 6, Desember 2013 ISSN

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA DI BLOK SELATAN PT. DIZAMATRA POWERINDO LAHAT SUMATERA SELATAN

Perencanaan Sequence Penambangan Batubara pada Seam 16 Phase 2 di PT. KTC Coal Mining & Energy, Kec. Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2 Dosen Jurusan Teknik Pertambangan, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional.

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 FISIKA

BAB I PENDAHULUAN Rumusan Masalah

PROSES PENAMBANGAN BATUBARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VI. PIT DESIGN. Membuat Pit Desaign single bench

Oleh : Sundek Hariyadi 1 dan Rahman 2 ABSTRACT SARI. Dosen Program Studi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Kutai Kartanegara 2.

Transkripsi:

DESAIN TAMBANG PERTEMUAN KE-3

Penambangan dengan sistem tambang terbuka menyebabkan adanya perubahan rona/bentuk dari suatu daerah yang akan ditambang menjadi sebuah front penambangan

Setelah penambangan

Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, sudut lereng jenjang tunggal, dan lebar dari jenjang penangkap (catch bench). Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter parameter untuk ketiga aspek ini

Tinggi jenjang: biasanya alat muat yang digunakan harus mampu pula mencapai pucuk atau bagian atas jenjang. Jika tingkat produksi atau faktor lain mengharuskan ketinggian jenjang tertentu, alat muat yang akan digunakan harus disesuaikan pula ukurannya. Sudut lereng jenjang: Penggalian oleh alat gali mekanis seperti loader atau shovel dipermuka jenjang pada umumnya akan menghasilkan sudut lereng antara 60-65 derajat. Sudut lereng yang lebih curam biasanya memerlukan peledakan pre-splitting. Lebar jenjang penangkap: ditentukan oleh pertimbangan keamanan. Tujuannya adalah menangkap batu batuan yang jatuh, perlu bulldozer kecil atau grader untuk membersihkan catch bench ini secara berkala.

Bagian Jenjang

MODEL ENDAPAN GEOLOGI DESKRIPSI DARI TITIK BOR BUAT CROSS SECTION DAN PLAN VIEW

DESAIN TAMBANG 1). Pemodelan Topografi

3). Plot Crest

4). Pemotongan Crest

5). Penentuan Pit Bottom dan Plot Toe Dimensi 50 x 37.5 Elevasi 50

6). Pemotongan Kontur dan Pembuatan Sayatan

Faktor yang perlu dpertimbangkan dalam pembuatan desain jalan tambang: Letak jalan keluar tambang: untuk suatu tambang yang baru, penting diperhitungkan dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang. Biasanya kita ingin akses yang baik ke lokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan peremuk bijih (crusher). Topografi merupakan faktor yang penting akan sulit sekali bagi truk untuk keluar dari pit ke medan yang curam. Lebar jalan: tergantung pada lebar alat angkut, biasanya 4 kali lebar truk. Lebar jalan seperti diatas memungkinkan lalu lintas dua arah, ruangan untuk truk yang akan menyusul, juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman. Untuk truk tambang yang paling besar saat ini (240 ton) lebar jalan biasanya sekiktar 30 35 m. Kemiringan jalan: jalan angkut di dalam tambang biasanya dirancang pada kemiringan 8% atau 10%. Untuk tambang tambang besar, kemiringan jalan 8% paling umum. Ini akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam pembuatannya, serta memudahkan dalam pengaturan masuk ke jenjang tanpa menjadi terlalu terjal dibeberapa tempat. Untuk jalan tambang yang panjang, kemiringan 10% adalah kemiringan maksimum yang masih praktis. Tambang- tambang kecil banyak yang dirancang dengan kemiringan 10%. Rancangan spiral dan switchback: pada umumnya switchback ingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung melambatkan lalu lintas juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih besar. Pertimbangan lain ialah keamanan. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding lainnya di sekeliling pit, switchback di sisi ini sering lebih murah daripada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit. Jika switchback harus dipakai, rancanglah cukup panjang sehingga pada bagian sebelah dalam dari tikungan kemiringannya tidak terlalu terjal.

PEMBUATAN RAMP Misalkan dimensi crest ke crest 20 m, tinggi jenjang (H) 10 m, lebar jalan (Lt) 15 m, dan kemiringan jalan (G) 10%. Maka, didapat jarak horizontal yang dapat Maka, didapat jarak horizontal yang dapat ditempuh alat angkut untuk naik ke level jenjang berikutnya adalah,

Rancangan jalan tambang (ramp) dimulai dari jenjang teratas dan diarahkan ke pit bottom. Arahnya didasarkan pada jarak terdekat dengan pabrik pengolahan dengan sudut Θ =sin -1 20/100 = 11.5369 Garis lurus ditarik dari titik awal pada jenjang teratas dan akan bersinggungan dengan crest berikutnya.

Dari titik-titik tersebut digambar garis tegak lurus ke arah luar pit atau kedalam pit (lebar jalan tambang semu, Ls sebesar 15 m cosθ = 15,3108m).

Garis tegak lurus tersebut menjadi awal pembentukan crest baru, dengan menggambarkan smooth curve yang menghubungkan antara crest baru dengan crest lama

Crest lama dihapus sepanjang adanya crest baru terbentuk.

Setelah penggambaran crest baru selesai, dilakukan pembentukan ramp dengan bantuan lebar jalan tambang semu dengan menarik garis sejajar dari titik A, B, dan C

Maka penggambaran ramp diakhiri dengan penambahan toe pada tiap crest.

DAFTAR PUSTAKA Waterman, Sulistyana B., Dr, Ir, MT (2011), Perencanaan Tambang 1, Yogyakarta Tim Dosen dan Asisten, (2010), Praktikum Simulasi dan Komputasi Pertambangan, Yogyakarta