INOVASI METODE PEMBELAJARAN AGAMA Oleh: H. M. Hamdar Arraiyyah

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013, hal. 1-2.

BAB V PEMBAHASAN. 1. Tinjauan Tentang Kegiatan Membaca Al- Qur an (Qiroatul Qur an) Al- Qur an (Qiroatul Qur an) Kelas VIII di MTsN Tulungagung yang

BAB I PENDAHULUAN. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al-Qamar: 17).

IMPLEMENTASI KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI TENGAH MASYARAKAT YANG HETEROGEN

BAB V PEMBAHASAN. A. Perencanaan Metode Drill dalam Pembelajaran Al-Qur an Hadits pada. Kelas IV di MI Al-Karim Gondang Nganjuk dan MI Miftahul Jannah

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, mengembangkan gagasan dan perasaan serta dapat digunakan untuk

Komponen RPP terdiri atas:

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Darma Persada

A. Program Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) 1. Standar Kompetensi Lulusan Jenjang Strata Dua (S2) Progam Magister

BAB I PENDAHULUAN. (Perserikatan Bangsa-Bangsa). (Yusuf dan Anwar, 1997) dalam menjawab tantangan zaman di era globalisasi. Pembelajaran bahasa Arab

BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2003, hlm. 2.

BAB I PENDAHULUAN. lembaga sekolah, non formal yakni keluarga dan informal seperti halnya pondok

BAB I PENDAHULUAN. mata pelajaran, yaitu: Al-Qur an-hadis, Akidah-Akhlak, Al Qur an

Silabus Smkn 21 Jakarta

BAB I PENDAHULUAN. Berkomunikasi adalah salah satu keterampilan berbahasa. Keterampilan

BAB I PENDAHULUAN. rumusan bentuk-bentuk tingkah laku yang akan dimiliki peserta didik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

mm] BERITA DAERAH KABUPATEN CIREBON T E N T A N G GERAKAN MASYARAKAT MAGHRIB MENGAJI Dl KABUPATEN CIREBON PERATURAN BUPATI CIREBON

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan pertama (usia 0-12 tahun). Masa ini merupakan masa yang

BAB I PENDAHULUAN. sumber utamanya kitab suci Al-Quran dan Al-Hadis, melalui kegiatan. bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam proses belajar mengajar, kehadiran suatu media pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Satu sisi pendidikan dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. hlm. 74.

Peran PTAIN Dalam Pengembangan Pendidikan Islam Di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Globalisasi saat ini telah melanda dunia. Dunia yang luas seolah-olah

BAB V PENUTUP. anak pada keluarga akitivis islam di Kaliurang dapat ditarik kesimpulan. terhadap suatu kejadian yang menimpanya.

SILABUS PEMBELAJARAN. Kewirausahaan/ Ekonomi Kreatif. Kegiatan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Mansur,

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

BAB I PENDAHULUAN. sebab itu, Islam dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. 1

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Bahasa Arab sangat ditekankan dalam dunia pendidikan

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Tanpa

Mendidik Anak Menuju Surga. Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Tugas Mendidik Generasi Unggulan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dila Farida Nurfajriah, 2013

BAB I LATAR BELAKANG PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak orang tua.

BAB I PENDAHULUAN. (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), hlm Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual; Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim,

BAB I PENDAHULUAN. dalam keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Maju

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan, bukan hanya terjadi ketika seseorang

Rajawali Pers, 2009), hlm Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner, (Jakarta:

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. komunikasi guru Ar-Raudah Playgroup and Kindergarten dalam

BAB II. TINJAUAN FIKIH MTs, IMPLEMENTASI DAN PENGEMBANGANNYA. 1. Pengertian dan Ruang Lingkup fikih MTs.

BAB I PENDAHULUAN. hlm Adri Efferi, Materi dan Pembelajaran Qur an Hadits MTs-MA, STAIN Kudus, Kudus, 2009, hlm. 2-3

BAB IV ANALISIS PERAN GURU EKSTRAKURIKULER BTQ DALAM MENGEMBANGKAN MINAT DAN BAKAT SISWA PADA BIDANG

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang dengan pesatnya. Untuk itu manusia dituntut cepat pula

BAB IV ANALISA. masyarakat Jemur Wonosari yang beragama Islam meyakini bahwa al-qur an

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu bangsa. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.

BAB I PENDAHULUAN. A. Konteks Penelitian. Pendidikan dilakukan agar seseorang memperoleh pemahaman tentang

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta

BAB I PENDAHULUAN. tergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di

Jasman Jalil. Penerbit. Jazwa Publishing. PENDIDIKAN untuk SEUMUR HIDUP

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan Nasional merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan. masyarakat dan bangsa yang mampu mengembangkan kehidupan yang

BAB I PENDAHULUAN. sekaligus Rasul terakhir yaitu Muhammad Saw. dengan perantaraan malaikat Jibril,

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Karya sastra tidak mungkin tercipta jika para penulis tidak mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan pemerintah. mengeluarkan berbagai kebijakan. Salah satu kebijakannya adalah mengganti

BAB I PENDAHULUAN. Islam dimana norma-norma agama senantiasa dijadikan sumber pegangan. 1

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan

BAB IV ANALISIS PROSES SIARAN DAKWAH DI RRI (RADIO REPUBLIK INDONESIA) PRO 2 SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mengakibatkan

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI METODE LAGU DALAM PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI TK ISLAM TERPADU PELITA HATI

BAB IV ANALISIS PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN AL-QUR AN HADITS DI SMP ISLAM WALISONGO KEDUNGWUNI KABUPATEN PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Suci Lestari, 2016

BAB I PENDAHULUAN. asing yang semakin menggeser minat untuk belajar membaca Al-Qur an. yang dampaknya akan menghancurkannya umat islam.

BAB I PENDAHULUAN. menghantarkan pendidikan menuju kemajuan adalah konsep dan. pengembangan kurikulum yang jelas di sekolah.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. melaksanakan pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah terpisah dengan

BAB I PENDAHULUAN. hlm Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003,

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas. maju, adil, makmur dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang

BAB VI PENUTUP. 1. Pengintegrasian PRB ke dalam kurikulum nasional berlandaskan Surat Edaran

BAB I PENDAHULUAN. latihan yang berlangsung di sekolah di sepanjang hayat, untuk mempersiapkan

BAB V ANALISIS PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SMP RAUDLATUL JANNAH WARU SIDOARJO

SILABUS PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. Media Group, 2008), hlm. 3.

KISI-KISI SOAL UKG TAHUN 2015 PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN KESEHATAN Jenjang SMA

BAB I PENDAHULUAN. mempelajari, memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur an adalah. merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. beragama yaitu penghayatan kepada Tuhan, manusia menjadi memiliki

BAB I PENDAHULUAN. ajaran Islam, Al Qur an berfungsi menjadi petunjuk kehidupan umat manusia

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Allah Swt. menciptakan makhluk-nya tidak hanya wujudnya saja, tetapi

BAB I PENDAHULUAN. (al-qattan, 1973: 11). Di dalam al-qur an Allah menjelaskan beberapa ketentuan

BAB I PENDAHULUAN. Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahanlahan.

Mandiri dan Berprestasi yang Madani maka untuk terwujudnya

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk

BAB I PENDAHULUAN. disesuaikan dengan sistem pendidikan yang dibuat pemerintah kolonial Belanda.

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Persoalan lemahnya kreativitas siswa dalam proses pembelajaran Seni Tari

Transkripsi:

1 INOVASI METODE PEMBELAJARAN AGAMA Oleh: H. M. Hamdar Arraiyyah Inovasi diperlukan pada semua profesi. Inovasi adalah upaya memperkenalkan berbagai hal, gagasan atau cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, atau sesuatu yang baru diperkenalkan (Turnbul, ed., 2010: 775). Tujuannya untuk menghasilkan hal-hal yang dipandang lebih baik. Inovasi juga perlu bagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI). PAI yang dimaksud dalam tulisan ini mencakup PAI di sekolah, namun lebih difokuskan pada PAI di madrasah yang didistribusikan dalam beberapa mata pelajaran. Tujuannya agar profesi itu dijalankan dengan sebaik-baiknya dan membawa hasil yang terbaik. Yaitu: meningkatkan minat siswa mengikuti pendidikan agama di sekolah/madrasah, menyampaikan bahan ajar secara efektif, dan mewujudkan tujuan pembelajaran sebagaimana diharapkan. Tuntutan ke arah inovasi pembelajaran PAI tak dapat dielakkan. Ini merupakan konsekuensi dari kondisi masyarakat yang berkembang terus dari masa ke masa. Dinamika dan perubahan yang mencolok dalam beberapa dekade terakhir terjadi pada bidang sosial, ekonomi, politik, seni, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan itu membawa pengaruh pada orientasi nilai dan gaya hidup banyak orang, pola komunikasi antar individu, hubungan sosial dan sebagainya. Orientasi nilai yang mengarah kepada gaya hidup materialistis dan pragmatis yang melanda sebagian siswa bisa berakibat pada lemahnya minat mereka untuk mempelajari agama. Hal yang sebaliknya bisa juga terjadi. Kesadaran terhadap berbagai dampak negatif dari kondisi zaman, kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi memberi dorongan bagi siswa untuk mendalami ajaran agama. Kecenderungan yang disebut terakhir berkembang jika siswa yang bersangkutan berada dalam lingkungan keluarga dan sosial yang religius atau aktif mengikuti kajian keagamaan yang mencerahkan. Guru agama bisa menjadi sumber motivasi yang kuat bagi muridnya untuk belajar banyak tentang agama. Pendekatan, metode, dan teknik mengajar menjadi penting untuk dikembangkan secara terus menerus, di samping hal-hal mendasar lainnya. Tuntutan ke arah inovasi ini mengharuskan guru agama untuk menjalankan tugas yang benar-benar

2 profesional. Profesionalisme dalam mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan, mencurahkan waktu dan memberikan perhatian yang besar pada tugas. Dalam kaitannya dengan mata pelajaran PAI, hal yang paling menonjol dewasa ini adalah tersedianya referensi yang melimpah ruah dalam bentuk cetak, elektronik, digital atau online. Hal tersebut sangat memudahkan bagi guru dan siswa dalam proses belajar dan mengajar. Sebagai misal, dewasa ini pelajaran tajwid didukung dengan ketersediaan mushaf Al-Qur an yang sudah diberi warna sesuai dengan hukum tajwid. Pengajian Al- Qur an dapat dengan mudah diperdengarkan melalui rekaman yang tersimpan di CD. Terjemah dan tafsir Al-Qur an dengan mudah dapat dibuka dengan menggunakan komputer. Kamus bahasa asing (misalnya Arab) bisa dibuka di hand phone dan cara mengucapkan kata asing yang benar dapat diperdengarkan. Jika referensi ataupun sumber belajar itu dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam proses pembelajaran di kelas, tentu hal tersebut akan menjadi salah satu daya tarik bagi siswa dan membuat suasana kelas lebih hidup dan bergairah. Hanya saja, peluang seperti itu terkadang tidak dimanfaatkan untuk menggapai hal-hal yang positif. Dampak negatif bisa jadi lebih menonjol. Sebab, sebagian pengguna produk teknologi informasi dan komunikasi sering tergoda untuk bersentuhan lebih banyak dengan contens yang sifatnya hiburan. Kemudahan-kemudahan yang tersedia saat ini dalam mengakses referensi di bidang agama Islam bukan tanpa masalah. Banyak sekali contens yang tersedia melalui CD dan semacamnya atau secara online tidak diketahui sumber dan penulisnya, padahal latar belakang penulis itu sangat penting dalam pembahasan tentang ajaran agama. Informasi yang dikandungnya belum dijamin kebenaran atau akurasinya. Sebagian contens yang dapat diakses secara online belum pernah diverifikasi oleh ahli terkait. Sebagian isi yang terkandung dalam sejumlah CD tidak luput dari kelemahan ataupun kesalahan. Dalam kaitan ini peran guru PAI menjadi sangat penting untuk memperkenalkan dan memilih referensi yang standar dan dapat dipertanggung jawabkan. Peran Sentral Guru PAI Guru agama sangat menentukan kualitas dan daya tarik proses pembelajaran. Proses belajar mengajar agama di kelas yang konvensional memposisikan guru sebagai

3 aktor utama. Penunjang utamanya adalah buku. Selebihnya, penjelasan verbal dari guru lebih dominan. Kondisi seperti itu perlu diubah dan ditingkatkan. Mata pelajaran PAI di madrasah mempunyai alokasi waktu yang lebih banyak dibandingkan dengan hal serupa di sekolah. Jumlah guru yang mengampu juga lebih banyak. Dengan demikian, hasil belajar harus lebih baik. Idealnya, materi pelajaran yang dikuasai oleh siswa madrasah lebih banyak dan lebih dalam. Penguasaan itu harus tercermin dalam beragam bentuknya, seperti materi hafalan ayat Al-Qur an dan hadis, kemampuan menjelaskan pesan agama secara lisan dan tulisan lebih baik, dan tingkat kesadaran dalam mengamalkan ajaran agama lebih baik. Singkatnya, hasil belajar PAI di madrasah diharapkan lebih baik sebagai wujud dari integrasi keilmuan yang diemban oleh madrasah. Inovasi pembelajaran PAI diharapkan menyentuh aspek substansi. Pengenalan pada materi bisa dilakukan lebih banyak, walaupun tetap fokus pada materi yang terbatas. Sebagai misal, ayat-ayat tentang perintah melaksanakan ibadah dapat ditunjukkan lebih banyak, karena perangkat IT menunjang ke arah itu. Namun demikian, uraian guru terfokus pada ayat yang dipilih. Selanjutnya, guru bisa memperkaya pengenalan siswa terhadap referensi tafsir, namun demikian penjelasan yang disampaikan tetap dibatasi. Suatu hal yang sangat baik, jika siswa di madrasah mengenal lebih awal kamus mencari ayat dalam Al-Qur an, kamus kosakata Al-Qur an, buku-buku tafsir standar yang sebagian sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonsia, buku kumpulan ceritera di dalam Al-Qur an, i rab Al-Qur an, dan sebagainya. Pengenalan secara sekilas itu diperlukan dan akan menjadi modal yang baik untuk dikembangkan selanjutnya oleh siswa. Sehubungan dengan perkembangan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan, maka semestinya hal itu dimanfaatkan untuk memperkuat keimanan siswa dan memperkaya penjelasan dengan temuan-temuan yang relevan. Sebagai misal, Al-Qur an melarang orangorang beriman untuk berbuat kerusakan di atas bumi. Al-Qur an juga menegaskan bahwa terjadi banyak kerusakan di darat dan di laut karena ulah manusia. Redaksi larangan itu sedapat mungkin dapat dianalisis dengan berbagai perspektif. Larangan itu semestinya bisa dijelaskan dengan memadukan referensi tafsir yang lama maupun baru diterbitkan. Hikmah larangan itu sebaiknya diperkuat dengan temuan ilmu terkait di bidang psikologi, sosiologi, ekologi, kesehatan, dan sebagainya. Fakta-fakta mengenai kerusakan sedapat

4 mungkin ditunjukkan dengan informasi aktual, baik yang melanda individu, masyarakat, bangsa, maupun lingkungan alam. Hal ini hanya bisa dilakukan jika perhatian guru dicurahkan pada tugasnya mengajar. Inovasi dapat dilakukan pada pemilihan metode dan teknik mengajar. Di tengah keragaman metode dan teknik itu, maka beberapa hal yang mendasar adalah sedapat mungkin materi pokok bahasan dapat dijelaskan dengan tuntas dan lengkap. Berbagai pertanyaan mendasar sedapat mungkin dapat dijawab. Penjelasan itu diharapkan tertanam di dalam diri siswa. Di dalam dirinya tumbuh penghayatan tentang nilai dan norma agama yang harus diikuti. Kisah dalam kitab suci, sebagai misal, itu mengandung pesan moral yang kuat. Sedapat mungkin itu bisa ditangkap dan dicerna yang pada gilirannya menjadi pedoman dalam bertindak. Metode dan teknik mengajar diarahkan pada pemahaman yang dapat ditunjukkan oleh murid secara lisan atau tertulis. Metode tanya jawab bisa sangat efektif untuk menyampaikan dan mengevaluasi pemahaman itu. Metode dan teknik diarahkan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya. Pengembangan itu, sebagai misal, dapat dilakukan siswa dengan memperbanyak contoh yang sudah diberikan. Intinya adalah agar siswa mengembangkan kreativitas. Metode dan teknik diarahkan agar siswa mampu mendemonstrasikan skill yang dimiliki. Dalam konteks pendidikan agama, maka kemampuan membaca Al-Qur an dengan benar itu sangat penting. Memeragakan tata cara salat lengkap dengan doanya itu penting. Praktik memberi tausiyah itu penting. Berlatih mengemas pesan moral dan spiritual dalam sebuah tulisan pendek itu sangat penting. Sebagai bahan perbandingan, pengajaran bahasa asing sangat maju dalam hal metode dan teknik. Penggunaan lagu-lagu, role play, game, short story, dan sebagainya membuahkan hasil yang cukup efektif. Dalam kaitannya dengan pembelajaran PAI, banyak murid Madrasah Diniyah Takmiliyah menghafal al-asmaa al-husnaa karena menggunakan lagu sebagai medium. Sebagian muslim memelihara hafalan kitab Barazanji karena ditunjang dengan irama yang menarik. Tentu inovasi metode pembelajaran PAI dapat dikembangkan terus sesuai dengan karakteristiknya sendiri. Kunci pokok dari inovasi itu ada pada diri guru PAI. Dasar utamanya adalah penguasaan materi yang tinggi. Di samping itu, guru diharapkan mengembangkan

5 kompetensinya dalam bentuk karya tulis atau kreativitas. Pepatah Inggris men behind the gun sering dikaitkan dengan peran guru. Wallahu a lam bishshawab. (H. M. Hamdar Arraiyyah, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan)