Regulasi Pangan di Indonesia

dokumen-dokumen yang mirip
PERLINDUNGAN KONSUMEN ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI, ANISAH SE.,MM.

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TAHUN 2011 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN

KEAMANAN PANGAN (UNDANG-UNDANG NO 12 TENTANG PANGAN TAHUN 2012

PELABELAN DAN IKLAN PANGAN

HAK DAN KEWAJIBAN KONSUMEN DAN PELAKU USAHA

Menimbang : Mengingat :

BAB III SANKSI PIDANA ATAS PENGEDARAN MAKANAN TIDAK LAYAK KONSUMSI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

The First Food Technology Undergraduate Program Outside of North America Approved by the Institute of Food Technologists (IFT)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,

STIE DEWANTARA Perlindungan Konsumen Bisnis

GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG

Pengembangan Kelembagaan Pangan di Indonesia Pasca Revisi Undang-Undang Pangan. Ir. E. Herman Khaeron, M.Si. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI

The First Food Technology Undergraduate Program Outside of North America Approved by the Institute of Food Technologists (IFT)

WALIKOTA PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG LARANGAN PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN BERBAHAYA

RechtsVinding Online

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN. memuat asas-asas atau kaidah-kaidah yang bersifat mengatur dan mengandung sifat

KONSEP Etika PRODUKSI DAN Lingkungan HIDUP ANDRI HELMI M, SE., MM.

II. TINJAUAN PUSTAKA Keamanan Pangan

II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN. A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

KEBIJAKAN NASIONAL PENGATURAN IRTP DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KEAMANAN PANGAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.345, 2011 KEMENTERIAN KESEHATAN. Cemaran Radioaktif. Pangan. Batas Maksimum.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Konsumen berasal dari kata consumer (Inggris-Amerika), atau

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 038 TAHUN 2016

BUKU SEDERHANA MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP PERLINDUNGAN KONSUMEN

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KONSUMEN DAN PELAKU USAHA DALAM KONTEKS PERLINDUNGAN KONSUMEN. iklan, dan pemakai jasa (pelanggan dsb).

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) MEA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2 3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara R

BAB III. A. Pasal 43 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 Tentang Keamanan, Mutu Dan Gizi Pangan

STUDI KASUS Berdasarkan laporan dari masyarakat bahwa disinyalir Toko Kosmetik Berkah yang beralamat di JMP Lt. I Blok 22 Surabaya menjual kosmetik

Strategi Perlindungan Konsumen Teekomunikaasi

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKUT, PENUMPANG DAN KECELAKAAN. menyelenggarakan pengangkutan barang semua atau sebagian secara time charter

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN PELAKU USAHA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN

BAB 4 ANALISIS PERMASALAHAN

2 2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik I

BAB I PENDAHULUAN. khususnya dibidang perindustrian dan perdagangan nasional telah. Mayoritas konsumen Indonesia sendiri adalah konsumen makanan, jadi

BAB IV ANALISIS HUKUM MENGENAI PENCANTUMAN KLAUSULA EKSONERASI DALAM PERJANJIAN JUAL BELI DIHUBUNGKAN DENGAN BUKU III BURGERLIJK

BAB III TINJAUAN TEORITIS

BAB II PERLINDUNGAN KONSUMEN MELALUI KONTEN LABEL PRODUK ROKOK MENURUT PERATURAN PEMERINTAH NO. 109 TAHUN 2012

BAB V PENUTUP. dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Penggunaan Klausula Baku pada Perjanjian Kredit

UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN [LN 1996/99, TLN 3656]

PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 27 TAHUN 2017 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN [LN 1999/42, TLN 3821]

PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN (BPOM) TERKAIT KASUS ALBOTHYL MENURUT UNDANG UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

2016, No Nomor 227, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5360); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Ikl

PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI KOTA

UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN DITINJAU DARI UNDANG UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN DI BIDANG PANGAN

BAHAN KULIAH ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DAGANG Match Day 11 PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanggung jawab dalam bahasa Inggris diterjemahkan dari kata responsibility

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. setiap orang. Dalam hal ini yang dimaksud makanan adalah segala sesuatu. pembuatan makanan atau minuman. 1

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 3 Tahun : 2016

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

BAB IV ANALISIS HAK KEAMANAN PENGGUNA JALAN TOL DARI KABUT ASAP KEBAKARAN LAHAN DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN PP NO 15 TAHUN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Draft PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERSYARATAN PANGAN STERIL KOMERSIAL

PENJUALAN OBAT TRADISIONAL DAN SUPLEMEN KESEHATAN SECARA ONLINE DAN MULTI LEVEL MARKETING

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

2016, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Ne

BAB II TINJAUAN TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN. Bagi para ahli hukum pada umumnya sepakat bahwa arti konsumen

UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP [LN 2009/140, TLN 5059]

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG PERSYARATAN PANGAN STERIL KOMERSIAL

BAB IV PERBANDINGAN PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN DALAM TRANSAKSI JUAL BELI ONLINE MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 8

I. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB V PENUTUP. A. Simpulan. Setelah dijelaskan dan diuraikan sebagaimana tercantum dalam

2016, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Ne

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BERITA NEGARA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PELABELAN. informasi verbal tentang produk atau penjualnya. 17

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG GARAM KONSUMSI BERYODIUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI,

KEADAAN UMUM INSTANSI MAGANG

PENDAHULUAN. Latar Belakang. sebuah informasi produk agar mudah dipahami oleh konsumen. Label

2 MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SERTA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK HASIL P

Analisa Kebijakan PP Nomor 33 Tahun 2012 Tentang PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

BAB III TINJAUAN TEORITIS. A. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Konsumen

Pemberdayaan Apoteker dalam Peningkatan Efektifitas Pengawasan Iklan Obat Tradisional

No. 1071, 2014 BPOM. Pangan. Olahan yang Baik. Cara Produksi. Sertifikasi. Tata Cara.

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN PELAKU USAHA Pengertian Hukum Perlindungan Konsumen

vii DAFTAR WAWANCARA

Transkripsi:

Regulasi Pangan di Indonesia TPPHP Mas ud Effendi Pendahuluan (1) Pangan adalah hak asasi setiap rakyat Indonesia karena pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar yang berpengaruh terhadap eksistensi dan ketahanan hidupnya, baik dipandang dari segi kuantitas maupun kualitas Tersedianya pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi merupakan prasyarat utama yang harus terpenuhi 1

Pendahuluan (2) Pangan yang dikonsumsi masyarakat melalui rantai proses Produksi Penyimpanan Pengangkutan Peredaran Keseluruhan mata rantai dijaga melalui sistem pengaturan, pembinaan dan pengawasan yang efektif di bidang keamanan, mutu dan gizi pangan Pendahuluan (3) Pengembangan dan pemantapan ketahanan pangan merupakan pilar utama dalam mewujudkan ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional yang berkelanjutan 2

Regulasi Pangan Khusus UU No.7 tahun 1996 tentang Pangan PP No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan PP No. 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan Umum UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Perangkat Regulasi Lain Kemenkes, Kemenag dan Badan POM Standar-standar mutu keamanan pangan Pedoman dan code of practice Keputusan Menteri Agama RI Nomor 518 Tahun 2001 tentang Pedoman dan Tata Cara Pemeriksaan dan Penetapan Pangan Halal Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 28/Menkes/SK/I/1996 yang memuat tentang label makanan 3

UU No.7 tahun 1996 pasal 3 a. Tersedianya pangan yang memenuhi persyaratan keamanan, mutu dan gizi bagi kepentingan kesehatan manusia; b. Terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab; dan c. Terwujudnya tingkat kecukupan pangan dengan harga yang wajar dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat Pengawasan Pangan menurut PP No.28/2004 (1) Dalam rangka pengawasan keamanan, mutu dan gizi pangan, setiap pangan olahan baik yang diproduksi di dalam negeri atau yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dalam kemasan eceran sebelum diedarkan wajib memiliki surat persetujuan pendaftaran yang ditetapkan oleh Kepala badan POM 4

Pengawasan Pangan menurut PP No.28/2004 (2) Pangan olahan yang diproduksi oleh industri rumah tangga tidak diwajibkan memiliki surat persetujuan pendaftaran tetapi wajib memiliki sertifikat produksi pangan industri rumah tangga yang diterbitkan oleh Bupati/Walikota Pengawasan Pangan menurut PP No.28/2004 (2) Beberapa pangan olahan berikut dibebaskan dari kewajiban memiliki surat persetujuan pendaftaran atau sertifikat produksi pangan industri rumah tangga, yaitu: Pangan mempunyai masa simpan kurang dari 7 (tujuh) hari pada suhu kamar; Pangan dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia dalam jumlah kecil untuk keperluan permohonan surat persetujuan pendaftaran; penelitian; atau konsumsi sendiri 5

Wewenang Badan POM Melakukan pengawasan keamanan, mutu dan gizi pangan yang beredar baik pangan segar maupun pangan olahan Dalam pelaksanaan fungsi pengawasan Mengambil contoh pangan yang beredar; Melakukan pengujian terhadap contoh pangan tersebut Hasil pengujian disampaikan ke pihak terkait Tindakan atas Pelanggaran Gubernur, Bupati/Walikota, Kepala Badan berwenang mengambil tindakan administratif, meliputi: Peringatan secara tertulis; Larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah menarik produk pangan dari peredaran; Pemusnahan pangan, jika terbukti membahayakan kesehatan dan jiwa manusia; Penghentian produksi untuk sementara waktu; Pengenaan denda paling tinggi 50 juta rupiah; Pencabutan izin produksi, izin usaha atau persetujuan pendaftaran 6

Pendekatan Keterpaduan dalam PP No.28/2004 Pengawasan dalam dua metode: Pengawasan pencegahan (preventive control) Penindakan secara hukum (law enforcement) Penanganan menyeluruh dari hulu ke hilir (from farm to table) Pihak yang menjadi objek pengawasan meliputi produsen pangan segar dan olahan, termasuk pengimpor, distributor, peritel dan usaha jasa boga Prosedur Pendaftaran Produk Diatur lebih rinci dalam Keputusan Kepala Badan POM tentang Kriteria dan Tatalaksana Pendaftaran Produk Pangan Mutunya sesuai BPOM dan SNI Keamanan dari cemaran Pelabelan Ketentuan mutu pangan berdasarkan SNI diatur bersama dengan BSN 7

Hak Konsumen di Sektor Pangan (1) Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi pangan. Makanan yang baik untuk dikonsumsi adalah makanan yang halal (bagi golongan tertentu) dan thoyiban. Halal merupakan kondisi makanan di mana memenuhi syarat syarat tertentu bagi golongan orang tertentu pula. Thoyiban, dalam arti makanan tersebut dapat memberikan manfaat akan gizi bagi orang yang mengkonsumsinya serta tidak menimbulkan kerugikan tertentu, misalnya keracunan, ganguan kesehatan, ataupun juga mengakibatkan kematian. UUPK memberikan jaminan kepada konsumen, bahwa makanan yang dijual oleh pelaku usaha adalah makanan yang aman dan menjamin keselamatan bagi orang yang mengkonsumsinya. Hak Konsumen di Sektor Pangan (2) Hak untuk memilih pangan serta mendapatkan pangan tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. Ketika memutuskan untuk mengkonsumsi pangan, maka konsumen berhak memilih suatu pangan tertentu meskipun tidak dapat dipungkiri kondisi konsumen yang berkaitan dengan daya beli sangat berpengaruh terhadap pola pengkonsumsian pangan. Kemudian sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan ini berkaitan erat dengan kejujuran pelaku usaha. Ketika beredar di pasaran, apakah komoditas tersebut mengalami suatu permainan harga atau tidak, kemudian jaminan bahwa kata kata yang tercantum dalam label kemasan sesuai dengan senyatanya serta jamianan terhadap keselamatan dan keamanan dalam mengkonsumsi produk tersebut. 8

Hak Konsumen di Sektor Pangan (3) Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan pangan yang diberikan/ditawarkan. Konsumen berhak memperoleh informasi yang jelas tentang pangan yang akan dia konsumsi. Informasi ini dari berbagai sumber antara lain : Dari produsen pangan, melalui label dan juga leaflet kemasan. Untuk pelabelan ini, beberapa peraturan pemerintah secara tegas telah mengatur etika pelabelan untuk pangan. Iklan pangan, merupakan salah satu alat untuk menyampaikan informasi kepada konsumen tentang produk produk pangan. Pelanggaran iklan yang terjadi, misalnya klaim mengobati suatu penyakit, penggunaaan profesi tertentu dalam iklan, dan juga penggunaaan anak di bawah umur. Hak Konsumen di Sektor Pangan (4) Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas pangan yang dikonsumsi. Setelah mengkonsumsi suatu pangan, maka konsumen berhak untuk menyampaikan pendapat ataupun keluhannya seputar pangan yang dikonsumsinya. Efek efek samping yang dirasakan akibat pengkonsumsian suatu jenis pangan berhak dikeluhkan kepada pihak produsen yang bersangkutan. Keluhan ini tidak cuman seputar efek langsung terhadap tubu konsumen, tetapi juga bisa seputar kondisi barang yang tidak sesuai dengan informasi yang diberikan atas barang tersebut oleh pelaku usaha 9

Hak Konsumen di Sektor Pangan (5) Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut. Ketika konsumen pangan mengalami suatu kerugian, konsumen tersebut berhak untuk mendapat pembelaan, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa karena kerugian itu, dari pihak yang terkait dengan produk makanan tersebut. Dengan demikian ada jaminan terhadap upaya jaminan keamanan, kenyamanan serta keselamatan konsumen pangan dari pelaku penyedia pangan maupun regulasi yang melingkupinya dari pemerintah Hak Konsumen di Sektor Pangan (6) Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen pangan. Pembinaan dan pendidikan dimaksudkan untuk menggugah kesadaran kritis konsumen pangan terhadap makanan yang dikonsumsinya. Di samping itu juga untuk mendidik agar para konsumen mampu melindungi dirinya sendiri, mampu menyelesaikan kasusnya sendiri jika mendapat perlakuan yang tidak benar dan menderita kerugian dari pelaku usaha. Pendidikan dan pembinaaan dapat dilakukan melalui ceramah, penyuluhan, diskusi, seminar, talk show, dsb 10

Hak Konsumen di Sektor Pangan (7) Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. Pelayanan dari pihak pelaku usaha yang benar, jujur serta tidak diskriminatif merupakan hak konsumen pangan, yaitu benar dalam menjalankan proses produksinya dengan cara cara yang baik sesuai dengan prosedur dan syarat proses yang distandarkan, benar dan jujur dalam memberikan keterangan keterangan yang tercantum dalam label Hak Konsumen di Sektor Pangan (8) Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila pangan yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Apabila konsumen mendapat kerugian karena kelalaian atau kesengajaan dari pelaku usaha pangan, maka konsumen berhak mendapatkan ganti rugi sebesar kerugian yang dia derita 11

Kewajiban Konsumen Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan pangan demi keamanan dan keselamatan Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian pangan Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut. 12