TUGAS EVALUASI KELOMPOK III

dokumen-dokumen yang mirip
PENERAPAN STRATEGI METAKOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 PADANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru.

TINJAUAN PUSTAKA. Metakognisi merupakan suatu istilah yang dimunculkan oleh beberapa ahli

BAB I PENDAHULUAN. mampu mengerjakan dan memahami matematika dengan benar. keadaan di dalam kehidupan sehari-hari dan di dunia yang selalu berkembang

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, kemampuan pemecahan

BAB II KAJIAN TEORI. didefinisikan sebagai pemikiran tentang pemikiran (thinking about

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Metakognisi adalah keterampilan untuk mengontrol ranah atau aspek kognitif.

BAB I PENDAHULUAN. bahasan fisika kelas VII B semester ganjil di salah satu SMPN di Kabupaten

BAB II KAJIAN TEORI A. Masalah Matematika

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perilakunya karena hasil dari pengalaman.

PENERAPAN METODE PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS IV SD NEGERI MEDAN ESTATE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi. Matematika terbentuk

BABI. yang mengungk:apkan kemampuan pemahaman. Setelah itu, diberikan soalsoal

BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan

Universitas Muhammadiyah Surakarta 1) 2) Kata Kunci: memantau dan mengevaluasi; merencana; metakognitif

Tugas Evaluasi Pendidikan RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM

4. Melakukan penjumlahan. dan pengurangan bilangan sampai 20. dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah

Februl Defila ( )

Pengantar Psikologi BERPIKIR DAN BAHASA. Dosen : Meistra Budiasa, S.Ikom, MA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Pembelajaran matematika membutuhkan proses bernalar yang tinggi

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban sebagai warga negara yang baik. Pendidikan pada dasarnya merupakan

STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN. Berdasarkan temuan penelitian ini, dapat ditarik simpulan sebagai berikut.

BAB II KAJIAN TEORI 2. 1 Pembelajaran Matematika dalam Pandangan Konstruktivisme

EVALUASI PEMBELAJARAN

BAB I PENDAHULUAN. dapat berguna bagi dirinya sendiri dan masyarakat di sekitarnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. jawab. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut, maka

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. lambang yang formal, sebab matematika bersangkut paut dengan sifat-sifat struktural

Bagaimana Cara Guru Matematika Meningkatkan Kecakapan Mengenal Diri Sendiri Para Siswa? Fadjar Shadiq

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving)

BAB II KAJIAN TEORITIK. 1. Kemampuan berpikir matematika tingkat tinggi

STRATEGI PEMECAHAN MASALAH DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA PADA MATERI SPLDV SISWA KELAS VIII DI SMP KRISTEN 2 SALATIGA

Model-model Bimbingan

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

BAB I PENDAHULUAN. dalam proses belajar sehingga mereka dapat mencapai tujuan pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang relatif tetap. Dalam

Nama : Lilis Agustina. Nim: Kelas : Biologi C/ 6. Dosen Pengampu : Ipin Aripin, M.Pd UTS EVALUASI PEMBELAJARAN BIOLOGI

BAB II LANDASAN TEORI. A. Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelectual)

PERILAKU METAKOGNISI BERDASARKAN TINGKAT KEMAMPUAN DALAM PEMECAHAN MASALAH POLA BILANGAN PADA SISWA KELAS X SMA

UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK FAKULTAS TARBIYAH

2 Namun pembelajaran matematika di sekolah memiliki banyak sekali permasalahan. Majid (2007:226) menyatakan bahwa masalah belajar adalah suatu kondisi

II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu proses pembelajaran. Perubahan yang terjadi pada siswa sejatinya

II. KERANGKA TEORETIS. pembelajaran fisika masalah dipandang sebagai suatu kondisi yang sengaja

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Teori Belajar yang Melandasi Problem Based Learning

BAB II KAJIAN TEORI. Rahmawati, 2013:9). Pizzini mengenalkan model pembelajaran problem solving

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

PEMBELAJARAN MATEMATIKA di SD

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORITIK. menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Menurut NCTM (2000) pemecahan

II. TINJAUAN PUSTAKA

Perencanaan dan Pengembangan Program Pembelajaran Matematika

BAB II KAJIAN TEORETIS A. Kajian Teori 1. Model Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS) a. Pengertian Model Thinking Aloud Pair Problem Solving

PENERAPAN STRATEGI METAKOGNITIF UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA KELAS XI IPA 1 SMA NEGERI 3 PADANG

I. PENDAHULUAN. dan kritis (Suherman dkk, 2003). Hal serupa juga disampaikan oleh Shadiq (2003)

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1. PENDAHULUAN. perkembangan ilmu dan teknologi suatu negara. Ketika suatu negara memiliki

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS MAHASISWA MELALUI PENERAPAN STRATEGI METAKOGNITIF

BAB II KAJIAN TEORI. berupa masalah ataupun soal-soal untuk diselesaikan. sintesis dan evaluasi (Gokhale,1995:23). Menurut Halpen (dalam Achmad,

PROBLEM SOLVING DALAM PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI MAHASISWA PGSD FIP UNY

I. PENDAHULUAN. didiknya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan berusaha secara terus menerus dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran discovery (penemuan) adalah model mengajar yang

BAB V PEMBAHASAN PENELITIAN. A. Penggunaan Metode Pembelajaran Problem Solving, motivasi belajar

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning), adalah model

Jurnal SAP Vol. 1 No. 1 Agustus 2016 ISSN: X

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN PARADIGMA

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BERPIKIR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION

II. TINJAUAN PUSTAKA. Metode discovery adalah suatu prosedur mengajar yang menitikberatkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan terdiri dari akademik dan non akademik. Pendidikan. matematika merupakan salah satu pendidikan akademik.

Transkripsi:

TUGAS EVALUASI KELOMPOK III TAKSONOMI MARZANO DISUSUN OLEH: Erna Butsilawati Rida Marta Sari Syafdi Maizora Yuli Yuliza Indriani KONSENTRASI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCA SARJANA (PPS) UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2010

Baru-baru ini usaha untuk memodernisasi Taksonomi Bloom dilakukan oleh Robert Marzano (tahun 2001) dengan menstruktur kembali dan mengkonsep kembali hirarki Bloom ke dalam kategori yang berbeda. Taksonomi Bloom dikembangkan sebagai hirarki dari dasar pemikiran atau dasar proses akademik, sedangkan Marzano menggabungkan dasar-dasar itu dari tingkat berpikir pada proses kognitif ke dalam sebuah hirarki dengan jumlah yang ditentukan. Hasil dari taksonomi Marzano menggambarkan konsep kognitif dan proses metakognitif, sebagaimana konsepkonsep tadi berhubungan dengan manfaatnya, motivasinya serta emosi sebagai pendukung. Berikut ini ada enam level yang dikemukakan oleh Robert Marzano: Sistem Level Deskripsi Cognitive 1. Retrieval (mendapatkan kembali) 2. Comprehension (pemahaman) Proses dari prosedur pengetahuan, mengingat kembali atau melakukan, tetapi tidak memahami. Proses dari urutan atau struktur pengetahuan, sintesis dan gambarannya secara mendasar untuk pemahaman dasar atau awal 3. Analisis (analisis) Proses dari penalaran dan 4. Utilization (penggunaan atau pemanfaatan) pengujian pengetahuan mengenai persamaan dan perbedaan, hubungan pangkat atas dan pangkat bawah, mendiagnosa kesalahan, atau dari logika yang konsekuen, atau prinsp yang dapat diduga Proses dalam penggunaan pengetahuan darimana masalah bisa disikapi atau dipecahkan, investigasi dapat direncanakan, keputusan dan aplikasi dapat

Sistem Level Deskripsi diperoleh Metacognitive 5. Metacognition Proses untuk memonitor apa dan (metakognitif) (metakognisi) bagaimana pengetahuan yang baik bisa dimengerti, pengujian yang secara sadar terhadap proses-proses kognitif yang disebut tadi untuk mendapatkan apakah proses-proses tadi dihilangkan secara tepat atau mempengaruhi tujuan-tujuan yang akan dicapai Self-system 6. Self (sendiri) Proses mengidentifikasi respon/ (sistem sendiri) rangsangan emosi, melatih persepsi, motivasi, dan manfaatnya mempercayai terhadap pengetahuan awal. Secara nyata taksonomi ini bergerak dari: a. Cara yang sederhana kepada proses, informasi dan prosedur yang lebih komplek. b. Dari kesadaran yang kurang ke kesadaran yang lebih tentang pengontrolan yang lebih terhadap proses pengetahuan dan bagaimana menyusun atau menggunakannya. c. Dari kurangnya keterlibatan personal atau komitmen terhadap kepercayaan yang besar secara terpusat dan refleksi dari identitas seseorang. Enam tingkatan itu juga berinteraksi dengan apa yang disebut marzano bahwa tiga pengetahuan awal, yaitu: 1. Informasi: mencakup kosa kata, isi secara detail atau prinsip 2. Prosedur mental: mencakup mengingat kembali, mengklasifikasi secara umum, memonitor metakognitif 3. Prosedur psikomotor: mencakup keahlian dan penampilan. Dari tiga pengetahuan awal diatas akan muncul keseluruhannya 18 kategori dimana marzano manamakannya dengan model dua dimensi. Selanjutnya bentuk

ini mengarah pada bentuk yang lebih detail terhadap taksonomi marzano. Tetapi seperti Bloom, Marzano juga menyiapkan banyak contoh-contoh dari tugas akademik yang cocok untuk bermacam-macam kategori tadi. Tabel 2.2 memperlihatkan contoh taksonomi Marzano dalam matematika sebagai berikut: Tabel 2.2 Contoh Taksonomi Marzano Tingkatan proses Pengetahuan awal Contoh Retrieval (perolehan Informasi Siswa mengetahui perkalian dan kembali) pembagian secara langsung. Contoh: 8 x 7 =... 56 : 8 =... Prosedur mental Siswa mengetahui dasar dari perkalian dan pembagian dengan ingatan yang bagus dan melakukan latihan secara terus-menerus. Prosedur psikomotor Siswa dapat menggunakan algoritma perkalian dan pembagian. Contoh: 28 x 48 =... 72 : 32 =... Comprehension Informasi Siswa mampu menerangkan operasi (pemahaman) pembagian yang pembaginya lebih besar dari yang dibagi. Contoh: 3/7 : 5/12 =... Prosedur mental Siswa mengetahui bahwa masalah seperti pembagian pecahan sebaiknya dipahami dengan cara visual atau secara pengertian melalui contohcontoh untuk menjelaskan antara yang satu dengan yang lainnya. Prosedur psikomotor Siswa bisa memecahkan semua pembagian dari masalah pecahan

Analisis Utilization ( Penggunaan atau pemanfaatan) Informasi Prosedur mental Prosedur psikomotor Informasi Prosedur mental dengan algoritma membalikkan dan mengalikan tetapi bisa juga dengan mengilustrasikan masalah secara visual. Berikan studi kasus kepada siswa untuk mencari solusi terhadap suatu masalah, siswa bisa mendiagnosa apa kesalahan yang mereka buat dan apa koreksi dari kesalahan tersebut. Berikan sebuah studi kasus (seperti di atas), siswa bisa mengidentifikasi jenis pemikiran apa yang menjurus terhadap kesalahan tadi (contoh: prasyarat pengetahuan yang cukup, kesalahan perhitungan, pikiran yang salah) dan apa jenis-jenis strategi kognitif yang bisa membantu. Siswa dapat memperluas strategi problem solving (pemecahan masalah) dari kasus itu dan menuliskannya sebagai intruksi (petunjuk) untuk permulaannya. Siswa dapat memecahkan dengan baik bagaimana masalah-masalah yang lalu kemudian menunjukan aplikasinya dari suatu prinsip atau algoritma ( contoh: menulis sebuah masalah kalimat masalah untuk sebuah ekspresi aljabar) Siswa menindaklanjuti persamaan dan perbedaaan antara masalah-masalah, menanyakan bagaimana informasi baru atau strategi-strategi dapat

menolong siswa mendapatkan lebih banyak pengetahuan atau menyelesaikan masalah pada kasus yang lain. Prosedur psikomotor Ketika dihadapkan oleh soal cerita, siswa mempertimbangkan kesamaankesamaan dengan masalah yang lain dan memperkirakan solusi yang cocok untuk digunakan sebelum mengambil sebuah strategi atau algoritma yang akan digunakan Metacognition Informasi Siswa mengumpulkan tujuan-tujuan (Metakognisi) untuk pencapaian sasaran pada matematika, termasuk pengetahuan atau keahlian yang sudah mereka peroleh ketika mereka membutuhkan bantuan dan bagaimana mereka akan dapat mengalokasikan waktu. Siswa mengenal perbedaan antara Prosedur mental penggunaan algoritma matematika dan penggunaan strategi heuristik ( untuk menduga jawaban dan menolong mereka mempercayai jawaban mereka dan strategi yang cocok untuk digunakan) untuk memeriksa apakah mereka telah mencapai tujuan mereka. Prosedur psikomotor Siswa melakukan perhitungan atau kalkulasi dan menggunakan algoritma tetapi dengan penaksiran mereka sendiri, apakah mereka mengerti dengan apa yang mereka kerjakan dan kenapa demikian? Self- system (sistem Informasi Siswa menguji kemampuan mereka

diri) Prosedur mental Prosedur psikomotor pada matematika, mereka belajar dan bagaimana mengfokuskannya pada saat itu dan memilih cara-cara kerja yang berpotensi. Siswa memeriksa motivasi terhadap tingkah laku mereka (contoh: jika mereka dengan cepat mengatasi masalah yang sulit, apakah mereka berusaha menghindar?) atau keyakinan mereka mengenai pentingnya matematika (contoh: saya ingin menjadi psikolog dan saya tidak membutuhkan matematika) Siswa dapat mengidentifikasi emosi atau motivasi yang menghambat pembelajaran dan menemukan caracara untuk mengatasinya (contoh: dengan mendiagnosa apa pertolongan yang dibutuhkan untuk meremedial terlebih dahulu miskonsepsi atau kebiasaan buruk, dengan strategi pembelajaran yang lebih baik atau dengan meningkatkan hasil belajar.