II. TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut ini letak batas dari Desa Ponelo: : Pulau Saronde, Mohinggito, dan Pulau Lampu

V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. vegetatif. Rimpangnya merupakan batang yang beruas-ruas yang tumbuh

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Padang Lamun 2.2. Faktor Lingkungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bahasa Gorontalo yaitu Atiolo yang diartikan dalam bahasa Indonesia yakni

JENIS DAN KANDUNGAN KIMIAWI LAMUN DAN POTENSI PEMANFAATANNYA DI INDONESIA. Rinta Kusumawati ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lamun (seagrasses) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae), yang

Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang. seluruh siklus hidupnya terendam di dalam air dan mampu beradaptasi dengan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lamun Deskripsi lamun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Lamun (seagrass) adalah tumbuhan air berbunga (anthophyta) yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENYUSUN Marindah Yulia Iswari, Udhi Eko Hernawan, Nurul D. M. Sjafrie, Indarto H. Supriyadi, Suyarso, Kasih Anggraini, Rahmat

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lamun ( Seagrass Deskripsi Lamun

BAB I PENDAHULUAN. ekosistem lamun, ekosistem mangrove, serta ekosistem terumbu karang. Diantara

Jurnal Ilmiah Platax Vol. I-1, September 2012 ISSN:

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil pengamatan parameter fisik dan kimia di keempat lokasi

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 200 TAHUN 2004 TENTANG KRITERIA BAKU KERUSAKAN DAN PEDOMAN PENENTUAN STATUS PADANG LAMUN

3. mempunyai sistem perakaran jangkar yang berkembangbaik

BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati membuat laut Indonesia dijuluki Marine Mega-

Kerapatan dan Keanekaragaman Jenis Lamun di Desa Ponelo, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara

TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,

II. Tinjauan Pustaka A. Defenisi Padang lamun

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya yang sangat tinggi. Nybakken (1988), menyatakan bahwa kawasan

KOMPARASI STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN DI BANTAYAN KOTA DUMAGUETE FILIPINA DAN DI TANJUNG MERAH KOTA BITUNG INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang seluruh

KAJIAN EKOLOGIS EKOSISTEM SUMBERDAYA LAMUN DAN BIOTA LAUT ASOSIASINYA DI PULAU PRAMUKA, TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU (TNKpS)

TINJAUAN PUSTAKA. penting dalam daur hidrologi dan berfungsi sebagai daerah tangkapan air

RIESNA APRAMILDA SKRIPSI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KOMPOSISI JENIS, KERAPATAN, KEANEKARAGAMAN, DAN POLA SEBARAN LAMUN (SEAGRASS) DI PERAIRAN TELUK TOMINI KELURAHAN LEATO SELATAN KOTA GORONTALO SKRIPSI

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

STRUKTUR KOMUNITAS, KEPADATAN DAN POLA DISTRIBUSI POPULASI LAMUN (SEAGRASS) DI PANTAI PLENGKUNG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO KABUPATEN BANYUWANGI.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

2.2. Struktur Komunitas

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. LAMUN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2012 TENTANG REHABILITASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Aspek Biologi Klasifikasi Morfologi

Keanekaragaman Lamun di Perairan Sekitar Pulau Dudepo Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara

TINJAUAN PUSTAKA. Sungai merupakan suatu bentuk ekosistem akuatik yang mempunyai

Komposisi Jenis, Kerapatan Dan Tingkat Kemerataan Lamun Di Desa Otiola Kecamatan Ponelo Kepulauan Kabupaten Gorontalo Utara

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 ayat (2)

I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. Tinjuan Pustaka. A. Bulu Babi Tripneustes gratilla. 1. Klasifikasi dan ciri-ciri

BAB II STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN

KONDISI PADANG LAMUN PULAU SERANGAN BALI Tyas Ismi Trialfhianty 09/286337/PN/11826

Sumber : Mckenzie (2009) Gambar 2. Morfologi Lamun

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Struktur Komunitas Makrozoobenthos

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EKOSISTEM LAUT DANGKAL EKOSISTEM LAUT DANGKAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).

Struktur Vegetasi Lamun di Perairan Pulau Saronde, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara

2.2. Parameter Fisika dan Kimia Tempat Hidup Kualitas air terdiri dari keseluruhan faktor fisika, kimia, dan biologi yang mempengaruhi pemanfaatan

TINJAUAN PUSTAKA. Laut Belawan merupakan pelabuhan terbesar di bagian barat Indonesia

SURVAI EKOLOGI KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH KABUPATEN ALOR EKOSISTEM PADANG LAMUN. Pendahuluan

BIOMASSA LAMUN DI PERAIRAN DESA BERAKIT KECAMATAN TELUK SEBONG KABUPATEN BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU

JENIS DAN KERAPATAN PADANG LAMUN DI PANTAI SANUR BALI I Wayan Arthana Fakultas Pertanian Universitas Udayana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mikroorganisme banyak ditemukan di lingkungan perairan, di antaranya di

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BY: Ai Setiadi FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSSITAS SATYA NEGARA INDONESIA

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENELITIAN PENDAHULUAN

TINJAUAN PUSTAKA. Pada dasarnya proses terjadinya danau dapat dikelompokkan menjadi dua

REPORT MONITORING SEAGRASS PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL WAKATOBI KABUPATEN WAKATOBI

PERBEDAAN KEANEKARAGAMAN LAMUN (SEAGRASS) PADA ZONA INTERTIDAL DAN SUBTIDAL DI PERAIAN PANTAI DESA SULI. Prelly. M. J.

KOMUNITAS LAMUN DI PERAIRAN PESISIR PULAU YAMDENA, KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT ABSTRACT

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu hutan mangrove yang berada di perairan pesisir Jawa Barat terletak

ASOSIASI GASTROPODA DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN PULAU LEPAR PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG. Oleh : Indra Ambalika Syari C

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. (Estradivari et al. 2009).

Distribusi Muatan Padatan Tersuspensi (MPT) di Padang Lamun di Perairan Teluk Awur dan Pantai Prawean Jepara

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Selat Bali Bagian Selatan

MANAJEMEN KUALITAS AIR

4. HASIL PEMBAHASAN. Sta Latitude Longitude Spesies Keterangan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia sebagai negara kepulauan terletak diantara samudera Pasifik dan

SEBARAN DAN BIOMASSA LAMUN DI PERAIRAN DESA MALANG RAPAT DAN TELUK BAKAU KABUPATEN BINTAN KEPULAUAN RIAU RUTH DIAN LASTRY ULI SIMAMORA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KEPADATAN DAN BIOMASSA LAMUN Thalassia hemprichii PADA BERBAGAI RASIO C:N:P SEDIMEN DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU

Gambar 11. Pembagian Zona UTM Wilayah Indonesia (Sumber: kampungminers.blogspot.com)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

OLEH : S U P R I A D I

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERUHAN PADA PERAIRAN TELUK AMBON DALAM

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Lamun Lamun (seagrass) merupakan bentangan tumbuhan berbiji tunggal (monokotil) dari klass angiospermae, tumbuhan air berbunga yang telah menyesuaikan diri hidup terbenam di lingkungan perairan dangkal pesisir tropis dan temperata, tumbuhan sejati berpembuluh, berdaun, berimpang, dan berakar. Produksi serbuk sari dan penyerbukan sampai pembuahan semuanya terjadi di dalam medium air laut. Akar rimpang yang mencengkram pada dasar laut dapat membantu pertahanan pantai dari gerusan ombak dan gelombang (Supriadi & Haris, 2008). B. Morfologi Lamun Tumbuhan lamun mempunyai akar rhizome, daun, bunga, buah, biji, dan jaringan-jaringan yang dilapisi lignin sebagai penyalur bahan makanan, air, dan gas. Rhizome merupakan batang yang terpendam, merayap secara mendatar, dan berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh akar dan batang pendek yang tegak ke atas, memiliki daun-daun tipis memanjang seperti pita dan mempunyai saluran-saluran air (Nybakken, 1992). Bentuk daun seperti ini dapat memaksimalkan difusi gas, nutrien, dan proses fotosintesis di permukaan daun (Philips & Menez, 1988). 5

Daun lamun dapat menyerap hara secara langsung dari perairan sekitarnya dan mempunyai rongga untuk mengapung sehingga dapat berdiri tegak di air. Lamun merupakan komponen biotik yang bersifat autotrof dan tidak mempunyai stomata (Hertanto, 2008). C. Fungsi Padang Lamun Menurut Hutomo & Azkab (1987), fungsi utama padang lamun adalah (1) sebagai produsen primer bagi duyung (Dugon dugon), manate (Trichechus manatus), udang, penyu hijau ( Chelonia mydas), jenis ikan herbivora, ikan karang, dan ekhinodermata, (2) sebagai pendaur hara (penyaring zat-zat yang berbahaya), (3) sebagai habitat dan tempat tumbuh berbagai spesies rumput laut (algae), (4) sebagai daerah asuhan, tempat mencari makan, tempat berlindung, tempat berkembangbiak berbagia biota laut seperti, ikan, moluska, krustasea, ekhinodermata, reptillia, mamalia laut, dan tempat menempelnya algae, (5) sebagai tudung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan matahari, (6) sebagai penangkap sedimen lamun yang lebat dapat memperlambat gerakan air dari arus dan ombak. Sedimen ditangkap dan digabungkan sehingga air menjadi jernih, (7) menstabilkan substrat yang lunak dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang sehingga terhindar dari erosi dan aberasi, (8) sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh 6

masyarakat baik secara tradisional maupun secara modern. Secara tradisional adalah untuk bahan baku tenunan keranjang, kompos untuk pupuk, cerutu, mainan anak-anak, untuk mengisi kasur, untuk dimakan, dibuat jaring ikan dan tumpukan untuk pematang. Secara modern digunakan untuk penyaring limbah, stabilisator pantai, bahan pembuatan kertas, obat-obatan, makanan, sumber bahan kimia, (9) tempat pariwisata, dan (11) tempat kegiatan manikultur berbagai jenis ikan, kerang-kerangan. D. Ekologis Padang Lamun Menurut Efendy (2009), padang lamun memiliki kondisi ekologis yang sangat khusus yaitu (1) terdapat di perairan pantai yang landai, dataran lumpur, berpasir lunak dan tebal, (2) terdapat di batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di dataran terumbu karang, (3) mampu hidup sampai kedalaman 30 meter di perairan tenang dan terlindung, (4) sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan, (5) mampu melakukan proses metabolisme termasuk daur generatif secara optimal jika keseluruhan tubuhnya terbenam air, (6) mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik, (7) temperatur (antara 20 0 C 30 0 C dan tropis), (8) kecepatan arus air sekitar 0,5 m/s, (9) substrat (kedalaman sedimen yang cukup dengan peranan sebagai pelindung tanaman dari arus air laut, 7

tempat pengolahan dan pemasok nutrien), dan (10) kadar salinitas (antara 25 35 per mil atau 10-40% dengan optimum 35%). E. Klasifikasi Lamun Phillips & Menez (1988), mengklasifikasikan lamun sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Anthophyta Kelas : Angiospermae Subkelas : Monocotyledonae Ordo : Helobiae Famili : Hydrocharitaceae Genus : Enhalus Species : Enhalus acoroides Genus : Halophila Species : Holophila decipiens Holophila ovalis Holophila spinulosa Holophila minor Holophila tricostata Genus : Thalassia Species : Thalassia hemprichii Spesies : Thalassia testudinum Famili : Patamogetonaceae Genus : Cymodocea Species : Cymodocea rotundata Cymodocea serrulata Genus : Halodule Species : Halodule pinifolia Halodule universis Genus : Syringodium Species : Syringodium isoetifolium Genus : Thalassodendron Species : Thalassodendron ciliatum Genus : Amphibolis Subfamili : Zosteroideae 8

Genus : Zoztera Spesies : Zostera capricorni Genus : Phyllospadix Genus : Heterozostera Subfamili : Posidonioidiae Genus : Posidonia Spesies : Posidonia oceanic F. Pola Distribusi Dan Sebaran Geografis Lamun Zonasi sebaran lamun dari pantai ke arah tubir pada umumnya berkesinambungan namun perbedaan biasanya terdapat pada komposisi jenisnya (vegetasi tunggal atau campuran) maupun luas penutupannya (Hutomo et al. 1989 in Zulkifli, 2000). Lamun membutuhkan substrat dasar yang lunak mulai dari lumpur lunak sampai berpasir agar mudah ditembusi oleh akar dan rimpangnya guna menyokong tumbuhan ditempatnya (Nybakken, 1993). Secara umum terdapat tiga tipe vegetasi padang lamun (Tomascik et al. 1997) yaitu (1) padang lamun vegetasi tunggal (monospesific seagrass beds) dimana hanya terdapat satu spesies saja, (2) padang lamun yang berasosiasi dengan dua atau tiga spesies dimana lebih sering dijumpai dibandingkan vegetasi tunggal, (3) padang lamun vegetasi campuran (mixed seagrass beds) umumnya terdiri dari spesies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Syringodium isoetifolium, Halodule uninervis, 9

dan Halophila ovalis. Padang lamun perairan Indonesia umunya termasuk padang lamun vegetasi campuran (Nienhuis et al. 1989 in Zulkifli, 2000) G. Parameter Ekologi Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Lamun 1. Suhu Suhu perairan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses biokimia lamun, fotosintesis, pertumbuhan, reproduksi, menentukan ketersediaan unsur hara, penyerapan unsur hara, respirasi, panjang daun serta faktor fisiologis dan ekologis lainnya. Lamun dapat mentolerir suhu perairan antara 20 36 0 C tetapi suhu optimum fotosintesis lamun berkisar antara 28 30 0 C (Phillips & Menez, 1988; Nybakken, 1993). 2. Salinitas Lamun mentolerir kisaran salinitas yang luas yaitu 6 60 0 /00 bahkan dapat mentolerir air tawar dalam periode pendek (Phillips & Menez, 1988). Untuk pertumbuhan lamun yang optimum dibutuhkan salinitas lebih kurang 35 0 /00 (Zieman in Berwick, 1983). Perubahan salinitas sangat berpengaruh terhadap proses fotosintesis, biomassa, produktifitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih ( Efendi, 2009). 10

3. Derajat Keasaman (ph) Nilai ph di lingkungan perairan laut relatif stabil dan berada pada kisaran yang sempit biasanya berkisar antara 7,5 8,2 (Nybakken, 1993). Batas toleransi organisme perairan terhadap ph bervariasi tergantung pada suhu, DO, dan tingkat stadium dari biota yang bersangkutan. Nilai ph mengidentifikasi tingkat kesuburan perairan ( Banarjen in Widianingsih, 1991). 4. Oksigen Terlarut Oksigen terlarut dalam laut dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk respirasi dan penguraian zatzat organik oleh mikro-organisme. Sumber utama oksigen di perairan laut adalah udara melalui difusi dan proses fotosintesis fitoplankton. Oksigen yang masuk ke dalam sedimen dipakai oleh bakteri nitrifikasi dalam proses siklus nitrogen di padang lamun (Kiswara, 1995). Kandungan oksigen terlarut di perairan dapat dijadikan sebagai indikator pencemaran. Konsentrasi oksigen yang terlalu rendah menyebabkan kematian pada biotai air. Rendahnya kandungan oksigen disebabkan oleh pesatnya aktivitas bakteri dalam menguraikan bahan organik di perairan. 5. Substrat Penyebaran horizontal lamun sangat dipengaruhi oleh karakteristik substrat dan kondisi gerakaan air 11

(Nybakken, 1993). Lamun hidup pada berbagai tipe sedimen ( lumpuran, pasir lumpur, pasir karang, puing karang, dan batu). Semakin tipis substrat menyebabkan kehidupan lamun tidak stabil, sebaliknya semakin tebal substrat perairan lamun akan tumbuh subur, berdaun panjang, rimbun serta pengikatan dan penangkapan sedimen semakin tinggi (Zieman, 1975). 6. Kecepatan arus Arus adalah gerakan air yang menyebabkan perpindahan horizontal dan vertikal massa air. Wetzel (1975) menyatakan beberapa spesies algae yang menempel dapat mendominasi perairan berarus kuat. Berkurangnya kecepatan arus akan meningkatkan keragaman jenis organisme yang melekat. Hicks (1996) & Armonies (1988) in Susetiono (1994) membuktikan laju penempelan biota terhadap lamun dipengaruhi oleh adanya gaya-gaya hidrodinamika di dalam massa air seperti arus dan gelombang yang menyebabkan pengadukan sedimen. Menurut Odum (1971), pengendapan partikel di dasar perairan tergantung pada kecepatan arus. Jika perairan memiliki arus yang kuat maka partikel yang mengendap adalah partikel berukuran lebih besar. Sebaliknya pada tempat yang arusnya lemah maka yang mengendap di dasar perairan adalah partikel berukuran kecil. Kecepatan arus air 12

yang baik untuk pertumbuhan lamun adalah 0,5 m/det (Berwick, 1983). 7. Kedalaman Penyebaran lamun berbeda untuk setiap spesies sesuai kedalaman air. Batas kedalaman sebagian besar spesiesnya adalah 10 12 meter tetapi pada perairan yang sangat jernih dapat dijumpai pada tempat yang lebih dalam (Hutomo & Azkab, 1987). Untuk spesies lamun yang bersifat pioner (seperti Cymodoceae spp, Halodule spp, Syringodium spp) cenderung tumbuh di perairan dangkal sebaliknya spesies yang bersifat klimaks (seperti Pasidonia spp) tumbuh pada perairan dalam karena berkaitan dengan rhizoma dan kebutuhan respirasi. Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 meter. Kedalaman perairan akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan pertumbuhan lamun (Kiswara, 1995). 8. Nitrat Nitrat adalah bentuk utama nitrogen di perairan dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Ketersediaan zat hara nitrat di padang lamun dapat berperan sebagai faktor pembatas pertumbuhannya (Hillman et al. 1989 in Zulkifli, 2000). 13

Dengan demikian efisiensi daur nutrisi dalam sistem menjadi sangat penting untuk memelihara produktivitas primer lamun. Zat hara nitrat dan fosfat di sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat dipertukarkan yang dapat dimanfatkan oleh lamun (Abal & Dennison, 1996). 9. Fosfat Fosfat adalah bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan dan merupakan unsur esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan algae sehingga dapat menjadi faktor pembatas dan mempengaruhi tingkat produktivitas perairan. Sumber fosfor di perairan dan sedimen adalah deposit fosfor, industri, limbah domestik, aktivitas pertanian, pertambangan batuan fosfat, dan penggungdulan hutan (Ruttenberg, 2004). Fosfor di perairan dan sedimen berada dalam bentuk senyawa fosfat terlarut dan fosfat partikulat. Fosfat terlarut terdiri dari fosfat organik dan fosfat anorganik yang terdiri dari ortofosfat dan polifosfat (McKelvie, 1999). 10. Kekeruhan Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang menyebabkan terjadinya fenomena pembiasan cahaya dan menyebabkan terhalangnya penetrasi cahaya matahari ke dalam kolom air. Nilai kekeruhan 14

berbanding terbalik dengan kecerahan; semakin rendah nilai kekeruhan maka semakin tinggi nilai kecerahan perairan yang berarti semakin besar tingkat penetrasi cahaya pada kolom air (Abal & Dennision, 1996). Kekeruhan dapat disebabkan oleh adanya partikelpartikel tersuspensi, zat-zat koloid, bahan-bahan organik, jasad renik yang melayang dalam kolom air. Lamun dapat menurunkan kekeruhan air karena mampu meredam atau mengurangi kecepatan arus yang melaluinya (Hamid, 1996). Dalam keadaan surut rimpang dan akar lamun dapat menangkap dan menggabungkan sedimen sehingga meningkatkan stabilitas permukaan di bawahnya. Daun lamun dapat menangkap sedimen halus melalui kontak karena daundaun tersebut biasanya diliputi oleh mikro-organisme (Hutomo & Azkab, 1987). 11. Bahan Organik Total Dan Bahan Organik Karbon Kandungan bahan organik dalam substrat berkaitan erat dengan jenis substrat. Jenis substrat dasar perairan yang berbeda akan mempunyai kandungan bahan organik yang berbeda pula. Jumlah bahan organik yang terdapat dalam substrat dasar secara keseluruhan disebut bahan organik total sedangkan bahan organik hasil dekomposisi yang mengendap di dasar perairan disebut organik karbon (Irawan, 2003 in Patang, 2009). 15