KOMPRESI CITRA DENGAN METODE SCAN

dokumen-dokumen yang mirip
Penyembunyian Informasi dengan Menggunakan Metode SCAN

BAB II TEORI DASAR PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

Penyembunyian Informasi Dengan Menggunakan Metode SCAN. Roy Rikki ( ) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Kristen Maranatha

GRAFIK KOMPUTER DAN PENGOLAHAN CITRA. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.

BAB II CITRA DIGITAL

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL ( DIGITAL IMAGE PROCESSING )

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

Pertemuan 2 Representasi Citra

BAB II TEORI DASAR PENGOLAHAN CITRA DIGITAL. foto, bersifat analog berupa sinyal sinyal video seperti gambar pada monitor

NASKAH PUBLIKASI KOMPRESI CITRA DENGAN METODE ARITHMETIC CODING DALAM KAWASAN ENTROPY CODING

Model Citra (bag. I)

Algoritma Kohonen dalam Mengubah Citra Graylevel Menjadi Citra Biner

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Proses memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau komputer

TUGAS AKHIR IMPLEMENTASI ALGORITMA METODE HUFFMAN PADA KOMPRESI CITRA

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Model Citra (bag. 2)

MAKALAH APLIKASI KOMPUTER 1 SISTEM APLIKASI KOMPUTER GRAFIK KOMPUTER DAN KONSEP DASAR OLAH CITRA. Diajukan sebagai Tugas Mandiri Mata Kuliah NTM

BAB 2 LANDASAN TEORI

IMPLEMENTASI METODE SPEED UP FEATURES DALAM MENDETEKSI WAJAH

Muhammad Zidny Naf an, M.Kom. Gasal 2015/2016

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

PERTEMUAN - 2 PENGOLAHAN CITRA

Citra Digital. Petrus Paryono Erick Kurniawan Esther Wibowo

Pengantar Pengolahan Citra. Ade Sarah H., M. Kom

Pemampatan citra dengan menggunakan metode pemampatan kuantisasi SKRIPSI. Oleh : Sumitomo Fajar Nugroho M

Konsep Dasar Pengolahan Citra. Pertemuan ke-2 Boldson H. Situmorang, S.Kom., MMSI

Pembentukan Citra. Bab Model Citra

Pengolahan Citra : Konsep Dasar

Representasi Citra. Bertalya. Universitas Gunadarma

KOMPRESI CITRA DIGITAL MENGGUNAKAN METODE STATISTICAL CODING

BAB 2 LANDASAN TEORI

Implementasi Metode HUFFMAN Sebagai Teknik Kompresi Citra

Penerapan Pohon Biner Huffman Pada Kompresi Citra

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

KOMPRESI CITRA. Pertemuan 12 Mata Pengolahan Citra

[TTG4J3] KODING DAN KOMPRESI. Oleh : Ledya Novamizanti Astri Novianty. Prodi S1 Teknik Telekomunikasi Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom

Program Aplikasi Komputer Pengenalan Angka Dengan Pose Jari Tangan Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Anak Usia Dini

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Pengenalan Citra

One picture is worth more than ten thousand words

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 13 Kompresi Citra. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

BAB II. Computer vision. teknologi. yang. dapat. Vision : Gambar 2.1

Intensitas cahaya ditangkap oleh diagram iris dan diteruskan ke bagian retina mata.

BAB II LANDASAN TEORI

DIGITAL IMAGE CODING. Go green Aldi Burhan H Chandra Mula Fitradi Mardiyah

Aplikasi Pembesaran Citra Menggunakan Metode Nearest Neighbour Interpolation

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi kontinyu dari intensitas cahaya

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS

TUGAS AKHIR KOMPRESI CITRA BERWARNA DENGAN PENERAPAN DISCRETE COSINE TRANSFORM ( DCT )

BAB 2 LANDASAN TEORI

KAMERA PENDETEKSI GERAK MENGGUNAKAN MATLAB 7.1. Nugroho hary Mindiar,

Implementasi Metode Run Length Encoding (RLE) untuk Kompresi Citra

BAB 2 LANDASAN TEORI

Implementasi Noise Removal Menggunakan Wiener Filter untuk Perbaikan Citra Digital

BAB II LANDASAN TEORI

APLIKASI KOMPRESI CITRA BERBASIS ROUGH FUZZY SET

Gambar 2.1 Contoh citra biner

BAB 2 LANDASAN TEORI

APLIKASI TRANSFORMASI WATERSHED UNTUK SEGMENTASI CITRA DENGAN SPATIAL FILTER SEBAGAI PEMROSES AWAL

ANALISA KINERJA CODEBOOK PADA KOMPRESI CITRA MEDIS DENGAN MEMPERHATIKAN REGION OF INTEREST

ANALISA KOMPRESI CITRA DIGITAL MENGGUNAKAN METODE HADAMARD

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

SAMPLING DAN KUANTISASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DETEKSI POSISI PLAT NOMOR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN AREA CITRA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pengolahan Citra (Image Processing)

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 5 NO. 2 SEPTEMBER 2012

PROGRAM STUDI S1 SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS DIPONEGORO. Oky Dwi Nurhayati, ST, MT

SISTEM PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN WEBCAM UNTUK ABSENSI DENGAN METODE TEMPLATE MATCHING

KOMPRESI CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN HEBBIAN BASED PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS

LANDASAN TEORI. 2.1 Citra Digital Pengertian Citra Digital

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERBANDINGAN METODE ROBERTS DAN SOBEL DALAM MENDETEKSI TEPI SUATU CITRA DIGITAL. Lia Amelia (1) Rini Marwati (2) ABSTRAK

ANALISIS CONTRAST STRETCHING MENGGUNAKAN ALGORITMA EUCLIDEAN UNTUK MENINGKATKAN KONTRAS PADA CITRA BERWARNA

dan c C sehingga c=e K dan d K D sedemikian sehingga d K

Implementasi Morphology Concept and Technique dalam Pengolahan Citra Digital Untuk Menentukan Batas Obyek dan Latar Belakang Citra

KONSEP DASAR PENGOLAHAN CITRA

BAB I PENDAHULUAN. Citra (image) istilah lain untuk gambar sebagai salah satu komponen

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

Teknik Kompresi Citra Menggunakan Metode Huffman

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERANCANGAN APLIKASI KOMPRESI CITRA MENGGUNAKAN ALGORITMA TRANSFORMASI WASH - HADAMARD

PENERAPAN METODE MOST SIGNIFICANT BIT UNTUK PENYISIPAN PESAN TEKS PADA CITRA DIGITAL

Transkripsi:

KOMPRESI CITRA DENGAN METODE SCAN Riko Arlando Saragih 1, Roy Rikki Hutahean 2 1 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,Universitas Kristen Maranatha Jl. Surya Sumantri 65 Bandung 40164 Telp. (022) 2012186 ext. 247 2 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,Universitas Kristen Maranatha Jl. Surya Sumantri 65 Bandung 40164 E-mail: riko_saragih@yahoo.com ABSTRAK Kompresi citra merupakan sebuah proses yang berkaitan dengan pengurangan alokasi bit yang diperlukan untuk merepresentasikan sebuah citra digital secara efisien. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan bit redudansi (ekstra) yang terdapat pada citra digital tersebut, khususnya redudansi spasial. Dalam tulisan ini metode SCAN digunakan karena metode ini mampu memanfaatkan sifat redundansi spasial dengan memperhatikan pola SCAN. Hasil simulasi memperlihatkan bahwa rasio kompresi meningkat sebanding dengan ukuran citra yang akan dikompresi. Hal ini terjadi karena semakin besar ukuran citra yang akan dikompresi, maka semakin besar jumlah bit redudansi yang dapat dihilangkan (kami menggunakan citra grayscale dalam pengujian). Kata Kunci: kompresi, metode SCAN, rasio kompresi, citra 1. PENDAHULUAN Citra ialah fungsi intensitas cahaya dua-dimensi f(x,y), dimana x dan y merupakan koordinat spasial (bidang), dan nilai f pada suatu titik (x,y) sebanding dengan kecerahan (brightness) dari citra di titik tersebut. Kecerahan yang dimaksud berasal dari sumber cahaya, dan cahaya adalah suatu bentuk energi. Citra dapat dilihat karena adanya berkas cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda sekitarnya. Sumber cahaya menerangi sebuah obyek, lalu obyek tersebut memantulkan kembali sebagian dari berkas cahaya tersebut. Pantulan cahaya ini ditangkap oleh alat-alat optik, misalnya mata pada manusia, kamera, pemindai (scanner) dan sebagainya, sehingga bayangan objek yang disebut citra tersebut terekam. Citra sebagai keluaran dari suatu sistem perekam data dapat bersifat optik berupa foto, analog berupa sinyal video seperti gambar pada monitor televisi, atau digital yang dapat langsung disimpan pada suatu pita magnetik. Citra yang dimaksudkan di dalam tulisan ini adalah citra biasa (still image). Setiap citra mempunyai karakteristik tersendiri, sehingga fitur tidak dapat bersifat general tetapi sangat tergantung pada model dan obyek gambar yang digunakan. Fitur dasar yang bisa diambil adalah warna, bentuk, dan tekstur. Fitur yang lebih kompleks menggunakan segmentasi, clustering dan motion estimation. Pada dasarnya, ada beberapa fitur dasar yang membentuk sebuah citra, di antaranya kecerahan dan kontras, acuicity, kontur, warna, bentuk, dan tekstur. (Wijaya, Marvin Ch & Agus Prijono, 2007) Citra digital adalah citra dengan nilai f(x,y)-nya didigitalisasikan (dibuat diskrit), baik untuk koordinat spasialnya maupun untuk kecerahannya. Digitalisasi dari koordinat spasial citra disebut dengan image sampling, sedangkan digitalisasi dari derajat kecerahan citra disebut dengan gray-level quantization. Sebuah citra digital dapat dianggap sebagai suatu matriks, dimana baris dan kolomnya menunjukkan suatu titik di dalam citra, dan nilai elemen matriks tersebut menunjukkan derajat kecerahan di titik tersebut. Elemen-elemen dari citra digital tersebut biasanya disebut dengan pixel (piksel), yang merupakan singkatan dari picture element. Alokasi jumlah bit yang seragam (sama) untuk tiap piksel mengakibatkan adanya bit-bit ekstra (redudancy) yang sebenarnya bisa dihilangkan tetapi tidak menurunkan kualitas citra, sehingga memori (bandwidth) untuk menyimpan (mengirimkan) citra ini dapat dikurangi. 2. METODE SCAN Kompresi citra berhubungan dengan proses pengurangan sejumlah bit yang dibutuhkan untuk merepresentasikan sebuah citra digital. Kompresi citra dilakukan dengan mengurangi jumlah bit yang dibutuhkan untuk merepresentasikan suatu citra dengan mengambil keuntungan dari bit-bit ekstra (redundancy) yang terdapat pada citra digital. Proses ini bertujuan untuk menghasilkan representasi citra yang membutuhkan memori yang kecil. Kompresi dicapai dengan penghilangan satu atau lebih dari tiga basic redundancies data yang terdapat pada citra digital, antara lain: 1. Coding Redudancy : timbul akibat kurang optimalnya pengkodean yang digunakan. 2. Interpixel Redudancy : timbul akibat korelasi di antara pixel-pixel dari citra. 3. Psychovisual Redundancy: timbul akibat adanya data yang tidak dapat diterima oleh sistem visual manusia. F-146

Proses kebalikan dari proses kompresi ialah proses dekompresi (decoding), yang digunakan untuk merekonstrukasi ulang data yang telah dikompresi. Kompresi citra disusun oleh dua struktur blok yang berbeda, yaitu: Encoder dan Decoder, seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Gambar 1. Diagram Blok Sistem Kompresi Citra Encoder bertanggung jawab mengurangi interpixel redudancy dan psychovisual redudancy dari citra masukan. Pada tahap pertama, mapper mengubah citra input ke dalam format/domain yang baru untuk mengurangi interpixel redudancy. Pada tahap kedua, blok quantizer mengurangi akurasi dari keluaran mapper sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Pada tahap terakhir, symbol decoder menghasilkan kode untuk keluaran quantizer dan memetakan output tersebut sesuai dengan kode. Cara kerja decoder merupakan kebalikan dari blok-blok pada encoder. Citra f(x,y) menjadi masukan dari encoder, yang menghasilkan kumpulan simbol-simbol dari data input dan menggunakannya untuk merepresentasikan citra tersebut. Jika dimisalkan n 1 dan n 2, dimana n 1 adalah sejumlah informasi (biasanya bit-bit) asli (masukan) dan n 2 sebagai citra yang telah dienkodekan, maka kompresi yang dapat dicapai, dapat dinilai secara angka melalui rasio kompresi sebagai berikut : n1 C R n2 (1) Metode kompresi citra dalam tulisan ini merupakan kompresi lossless. Artinya citra hasil dekompresi sama dengan citra semula sebelum dikompresi (citra masukan). (Mannicam, S.S. & N. Bourbakis, 2004). Menurut pendapat Chen, Chao S. dan Chen, Rong J. (2006), secara umum, proses kompresi dengan metode ini dilakukan melalui 3 tahap, yaitu : 1. Scanning and prediction Pada tahap ini, citra masukan dibagi-bagi ke dalam blok-blok dengan ukuran 2 k x 2 k, k 2. Penentuan ukuran blok sangat mempengaruhi kualitas kompresi. Ukuran blok yang lebih kecil mengurangi ratio kompresi karena ukuran blok yang lebih kecil menggunakan scan path yang yang lebih banyak sehingga membutuhkan bit-bit yang lebih banyak untuk mengenkodekan seluruh scan path tersebut. Dalam tulisan ini menggunakan blok 32x32. Setiap blok di-scan dengan 4 buah scan path (D0, D1, D2, dan D3) dan proses ini dilakukan sambil menghitung nilai-nilai kesalahan prediksi dari piksel-piksel pada masing-masing blok, yang diprediksi menggunakan prediktor sesuai dengan jenis scan pathnya. Setelah itu, pada setiap scan path dihitung jumlah nilai absolut dari kesalahankesalahan prediksinya dan jumlah bit yang dibutuhkan untuk mengenkodekan scan path tersebut, sehingga setiap blok dapat dipilih satu buah scan path sebagai scan path terbaik, dimana scan path terbaik ialah scan path yang memperkecil nilai kesalahan prediksi dan jumlah untuk meng-encode scan path tersebut. Seluruh jenis scan path yang digunakan dalam tulisan ini dapat dilihat pada Gambar 2 dan pediktorprediktor yang digunakan pada keempat scan path tersebut disajikan dalam Tabel 1. Gambar 2. Jenis-jenis Scan Path Tabel 1. Prediktor-prediktor Scan Predictor No. Predictor Path Neighbors Predictor rule (A) UR D0 {N,E} (N+E)/2 (B) UL D1 {N,W} (N+W)/2 (C) BL D2 {S,W} (S+W)/2 (D) BR D3 {S,E} (S+E)/2 Pada perhitungan kesalahan prediksi, digunakan notasi-notasi untuk menamai piksel-piksel yang berdekatan seperti diperlihatkan pada Gambar 3. NW N NE W P E SW S SE Gambar 3. Notasi Piksel-piksel Tetangga p Ada beberapa penamaan untuk piksel-piksel tertentu ketika dilakukan proses perhitungan kesalahan prediksi, antara lain: a) Piksel yang sedang di-scan (current pixel) disimbolkan dengan p. F-147

b) Piksel yang berfungsi sebagai predictor neighbors dan telah di-scan disimbolkan dengan q dan r. c) Piksel yang telah di-scan sebelum piksel p disimbolkan dengan s. Ada 2 pilihan cara yang akan dilakukan ketika menghitung nilai kesalahan prediksi pada setiap piksel p, yaitu: a) Jika kedua predictor neighbors, q dan r ada, sehingga nilai kesalahan prediksi pada piksel p ialah: q r e p 2 (2) b) Jika kedua atau salah satu predictor neighbors, q dan r tidak ada, maka nilai kesalahan prediksi pada piksel p ialah: e = p s (3) c) Jika piksel p merupakan pixel pertama yang di-scan untuk keseluruhan citra masukan, maka nilai kesalahan prediksinya adalah nol. Seluruh blok-blok dari citra masukan di-scan dengan urutan yang telah ditentukan (diperlihatkan pada Gambar 4), dimana setiap region dibagi ke dalam empat buah subregion. Urutan-urutan ini juga berlaku sama ketika proses dekompresi dilakukan, sehingga dapat diperoleh citra yang sama dengan citra masukan. kedua skala E 1 dan E 2, maka batas-batas tersebut terletak pada skala E 3. Pada ketiga skala tersebut memiliki aturan masing-masing, antara lain: Pada E 1 : - biner = 0 - lower = 2 x lower - upper = 2 x upper Pada E 2 : - biner = 1 - lower = 2 x (lower 0,5) - upper = 2 x (upper 0,5) Pada E 3 : - lower = 2 x (lower 0,5) x prob (simbol) - upper = 2 x (upper 0,5) x prob (simbol) Diagram alir dari proses kompresi dengan menggunakan metode SCAN ini dapat dilihat pada Gambar 5 berikut : Proses Kompresi Citra Pesan Menghitung dimensi citra pesan Membagi citra masukan dalam blokblok 32x32 i = 1 : (jumlah blok 32x32) Scanning blok 32x32 dengan scanpath 1, 2, 3, dan 4 Scanpath terbaik blok 32x32 Bagi blok citra 32x32 menjadi blok 16x16 Encode scanpathscanpath terbaik Piksel pertama ke biner Menggabungkan prediksiprediksi eror Arithmetic Coding Encode bit-bit hasil aritmetic coding piksel pertama, dan scanpath-scampath Return j = 1 : 4 Scanning blok 16x16 dengan scanpath 1, 2, 3, dan 4 Scanpath terbaik blok 16x16 Bandingkan blok 32x32 dan keempat blok 16x16 Gambar 4. Urutan blok-blok untuk seluruh region dan subregion 2. Scan Path Encoding Pada tahap ini, setiap scan path terbaik dari setiap blok dari citra masukan, baik region maupun subregion, dikodekan ke biner. Jumlah bit yang dihasilkan pada tahap ini ditentukan jumlah scan path yang digunakan pada keseluruhan citra yang akan dikompresi. 3. Arithmetic Coding Dalam tulisan ini menggunakan Arithmetic Coding yang dikembangkan oleh Eric Bodden, Malte Clasen, dan Joachim Kneis (2004). Metode tersebut menggunakan penskalaan dengan range terbatas, dimana pada setiap satu interval dibagi ke dalam 3 skala, yaitu skala E 1, E 2 dan E 3. Nilai E 1 terletak pada setengah bawah dari interval dan E 2 terletak pada setengah atas dari interval. Apabila suatu simbol memiliki batas bawah (lower) dan batas atasnya (upper) terletak pada Gambar 5. Diagram alir proses kompresi dengan metode SCAN 3. PEMBAHASAN Lima buah citra grayscale 8 bit, format *.bmp dan ukurannya yang berbeda-beda digunakan sebagai citra masukan untuk pengujian metode kompresi ini. Kualitas kompresi citra dinilai dengan menghitung rasio kompresi pada masingmasing citra masukan. Karakteristik dari citra masukan yang akan diujikan secara umum sama, yaitu masing-masing berdimensi baik 64 x 64 piksel, 96 x 96 piksel, 128 x 128 piksel, dan 160 x 160 pikse serta alokasi bit per piksel adalah 8 bit. Pemilihan kelima citra ini untuk pengujian adalah karena kelima citra ini merupakan citra yang umum digunakan sebagai sampel untuk proses kompresi. F-148

Rasio kompresi untuk citra masukan dengan dimensi 64 x 64 piksel, 96 x 96 piksel, 128 x 128 piksel, dan 160 x 160 piksel dapat dilihat berturutturut dalam Tabel 2, Tabel 3, Tabel 4, dan Tabel 5. Tabel 2. Rasio kompresi untuk citra masukan dengan dimensi 64 x 64 piksel Lena.bmp 1,22 Pepper.bmp 1,17 Pirate.bmp 1,20 Walkbridge.bmp 1,16 Woman_blonde.bmp 1,24 Tabel 3. Rasio kompresi untuk citra masukan dengan dimensi 96 x 96 piksel Lena.bmp 1,37 Pepper.bmp 1,34 Pirate.bmp 1,32 Walkbridge.bmp 1,23 Woman_blonde.bmp 1,40 Tabel 4. Rasio kompresi untuk citra masukan dengan dimensi 128 x 128 piksel Lena.bmp 1,48 Pepper.bmp 1,47 Pirate.bmp 1,38 Walkbridge.bmp 1,27 Woman_blonde.bmp 1,49 Tabel 5. Rasio kompresi untuk citra masukan dengan dimensi 160 x 160 piksel Lena.bmp 1,54 Pepper.bmp 1,56 Pirate.bmp 1,42 Walkbridge.bmp 1,28 Woman_blonde.bmp 1,54 Berdasarkan Tabel 2, 3, 4, dan 5 dapat dilihat bahwa rasio kompresi yang dihasilkan relatif meningkat sebanding dengan bertambahnya dimensi citra masukan yang digunakan. Hal ini terjadi karena semakin besar dimensi citra yang digunakan, maka jumlah bit ekstra yang dapat dihilangkan semakin banyak. Hal ini juga menunjukkan bahwa secara spasial nilai piksel antar piksel yang bertetangga sama (hampir sama). Pengujian secara obyektif juga dilakukan terhadap hasil dekompresi dari kelima gambar masukan yang sudah dikompresi sebelumnya dengan mengedarkan angket terhadap beberapa orang sebagai responden dan dihitung nilai Mean Opinion Score (MOS) terhadap hasil angket. Hasilnya dapat dilihat dalam Tabel 6. Tabel 6. Nilai MOS terhadap hasil dekompresi MOS Lena.bmp 4,625 Pepper.bmp 4,75 Pirate.bmp 4,75 Walkbridge.bmp 5 Woman_blonde.bmp 4,875 Nilai MOS yang hampir mendekati 5 (excellent) memperlihatkan bahwa secara kualitatif citra hasil kompresi tidak terlihat berbeda dengan citra masukan. 4. KESIMPULAN Metode SCAN terbukti dapat melakukan kompresi citra karena mampu menghilangkan beberapa bit ekstra yang terdapat pada citra sehingga ukuran citra yang sudah dikompresi dapat direduksi (rasio kompresi lebih besar daripada satu). Untuk pengembangan lebih lanjut dapat diujikan mungkin metode kompresi ini dapat diujikan untuk citra berwarna dan masukan berupa video. F-149

PUSTAKA Bodden, Eric., Clasen, Malte., dan Kneis, Joachim. (2004). Arithmetic Coding Revealed. Chen, Chao S. & Chen, Rong J. (2006). Image Encryption and Decryption Using SCAN Methodology, IEEE. Mannicam, S.S. & N. Bourbakis. (2004). Lossless Compression and Hiding Image. Pattern Recognition Letters 37 (2004) 475-486. Wijaya, Marvin Ch & Agus Prijono. (2007). Pengolahan Citra Digital Menggunakan MatLAB. Bandung: Informatika. F-150