ETIKA KERJASAMA DALAM PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
KODE ETIK DAN DISIPLIN UNIVERSITAS MUHAMADIYAH

Kebijakan Mutu Akademik FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM MALANG

KODE ETIK PEGAWAI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 8 Tahun : 2014

BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 8 Tahun 2015 Seri E Nomor 4 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG

2017, No Perilaku Pegawai Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Neg

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR : / 4078 / 2015

REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : Tahun 2011 TENTANG

PROGRAM I-MHERE. INDONESIA-Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (I-MHERE) Project Sub Component B.2a DOKUMEN

SUBSTANSI DAN KONTEN NILAI DASAR, KODE ETIK DAN KODE PERILAKU ASN

MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA

KETUA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NURUL JADID

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01 /PM.4/2008 TENTANG

KEPUTUSAN KETUA SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN BOGOR Nomor : 12/Kpts/SM.140/J.4.5/IV/2013

KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA

2013, No Menetapkan : 3. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu

PERATURAN SENAT UNIVERSITAS SAM RATULANGI NOMOR 07 / Senat Unsrat / X / 2016 TENTANG ETIK AKADEMIK TENAGA PENDIDIK UNIVERSITAS SAM RATULANGI

KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL ASOSIASI PERENCANA PEMERINTAH INDONESIA. Nomor 002/Munas-I/APPI/08/2006 Tentang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Keputusan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor : 1179/H5.1.R/SK/SDM/2008 Tentang Kode Etik dan Peraturan Disiplin Dosen Universitas Sumatera

Kode Etik Pegawai Negeri Sipil

KODE ETIK DAN PERATURAN DISIPLIN KARYAWAN IKIP VETERAN SEMARANG. BAB I Ketentuan Umum

PERATURAN REKTOR INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER NOMOR

Peraturan Rektor Universitas Brawijaya Nomer: 328/PER/2011

2 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan

Visi, Misi dan Tujuan

BUKU KODE ETIK DOSEN

Pembahasan. 1. Pengertian Profesi 2. Etika Profesi 3. Etika Komputer 4. Profesional & Profesionalisme. seorang Profesional

KODE ETIK DOSEN AKADEMI KEPERAWATAN HKBP BALIGE 2012 KEPUTUSAN DIREKTUR AKADEMI KEPERAWATAN TENTANG KODE ETIK DOSEN AKPER HKBP BALIGE MUKADIMAH

2017, No tentang Kode Etik Pegawai Badan Keamanan Laut; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembara

TUGAS MATA KULIAH ETIKA PROFESI KODE ETIK PROFESI PENGUSAHA AGRIBISNIS

PEDOMAN ETIKA DOSEN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI 1 Lembar Pengesahan 2 Daftar Distribusi 2 Catatan Perubahan 2

2017, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik In

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS GADJAH MADA NOMOR 448/P/SK/HT/2010

TATA NILAI, BUDAYA KERJA, DAN KODE ETIK PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENRISTEKDIKTI BIRO SUMBER DAYA MANUSIA KEMENRISTEKDIKTI JAKARTA 2018

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2006 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS AIRLANGGA

PROGRAM I-MHERE. INDONESIA-Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (I-MHERE) Project Sub Component B.2a DOKUMEN

Keputusan Rektor Universitas Sumatera Utara Nomor : 1180/H5.1.R/SK/SDM/2008 Tentang Kode Etik dan Peraturan Disiplin Pegawai Universitas Sumatera

Etika Usaha dan Etika Kerja 1

PROGRAM I-MHERE. INDONESIA-Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (I-MHERE) Project Sub Component B.2a DOKUMEN

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MUKADIMAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Pengertian

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS BAITURRAHMAH No. 397/F/Unbrah/VIII/2013 KODE ETIK TENAGA KEPENDIDIKAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH

Pertemuan 2 ETIKA PROFESI

KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA TAHUN

2011, No Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 124, Tambahan Lem

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PEMBINAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK INSAN OMBUDSMAN KETUA OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA,

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepot

REGULATIONS AND POLICIES ON CLINICAL RESEARCH IN INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 31 TAHUN 2011 TENTANG

PEDOMAN PERILAKU Code of Conduct KEBIJAKAN

KODE ETIK DOSEN IAIN PURWOKERTO

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Tabel... I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Maksud dan Tujuan... 1

MEMUTUSKAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN TENTANG PEDOMAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN. Pasal 1

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 65 / Permentan / OT.140 / 11 / 2012 TENTANG

Bab I. Pengantar. tujuan untuk mengetahui hubungan dari budaya kerja terhadap kinerja dosen

Seorang pelaku profesi harus mempunyai sifat : 1. Menguasai ilmu secara mendalam di bidangnya 2. Mampu mengkonversikan ilmu menjadi keterampilan 3.

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan, tanpa aspek manusia sulit kiranya instansi untuk mengembangkan

BAB III GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

KEPUTUSAN BERSAMA KETUA BADAN PELAKSANA HARIAN (BPH) DAN REKTOR UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA No. 011/SKB/BPH-UMS/2007

REV 20 FEBRUARI 2015 RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENELITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

IKATAN KELUARGA ALUMNI STAR BPKP PERATURAN KETUA IKA STAR BPKP NOMOR. TAHUN 2017 TENTANG KODE ETIK IKA STAR BPKP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS SUMATERA UTARA NOMOR: 1177/H5.1.R/SK/KMS/2008

BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2007 NOMOR 13 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 15 TAHUN 2007

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK

BAB 1 VISI MISI, MOTTO DAN SLOGAN SPI UNDANA

KATA PENGANTAR. Lamongan, 20 April 2012 Panitera/Sekretaris, ttd. H. Syaifuddin Latief, SH. NIP

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan, tanpa aspek manusia sulit kiranya instansi untuk mengembangkan

BUPATI SINJAI PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL LINGKUP PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SINJAI

TATA TERTIB KEHIDUPAN KAMPUS BAGI MAHASISWA

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

Bismillahirrahmanirrahiim Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Aisyiyah Yogyakarta, setelah:

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 61/KEP/UDN-01/VI/2007. tentang KODE ETIK DOSEN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk

JENIS DAN BENTUK SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK

9. Kementerian adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan yang selanjutnya disingkat Kementerian. BAB II TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP Pasal 2

KODE ETIK TENAGA KEPENDIDIKAN STIKOM DINAMIKA BANGSA

1. Pelanggan Pelanggan adalah pembeli atau pemakai produk atau jasa Perseroan.

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 45 TAHUN 2012 TENTANG TATA KELOLA AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KOTA TEGAL

NORMA ETIKA KEHIDUPAN KAMPUS BAGI DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG KATA PENGANTAR

STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) KERJASAMA DAN KEMITRAAN MASYARAKAT ILMUWAN DAN TEKNOLOG INDONESIA (MITI) KLASTER MAHASISWA

EKSPEKTASI DARI ETIKA DOSEN. Oleh Eva Imania Eliasa,M.Pd*

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06/PRT/M/2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

P E M E R I N T A H K O T A M A D I U N

TERWUJUDNYA MASYARAKAT SELOMARTANI YANG AGAMIS SEJAHTERA BERBUDAYA DAN MANDIRI DENGAN KETAHANAN PANGAN PADA TAHUN 2021

BAB I PENDAHULUAN. 1 Pedoman Etika dan Perilaku

Transkripsi:

TUGAS ETIKA PROFESI ETIKA KERJASAMA DALAM PENELITIAN Dosen: Prof. Ir. Kurniatun Hairiah, Ph.D. Disusun Oleh: Indriana Dwi Astuti 115040101111050 Kelas G PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

A. PENDAHULUAN Tugas dan pekerjaan peneliti bersifat unik, dan berbeda dengan tugas PNS dalam jajaran birokrasi struktural bidang kepemerintahan, pendidikan, pelatihan, penegakan hukum, dan pelayanan masyarakat. Tugas dan pekerjaan peneliti lebih menekankan pada kreativitas berpikir, kemampuan menemukan informasi dan teknologi baru, dan pemecah masalah. Oleh karena itu, peneliti dituntut memiliki kemampuan berpikir yang tinggi, objektif, jujur, kritis, kreatif, serta tanggap terhadap permasalahan yang relevan dengan tugasnya. Keberhasilan penelitian sangat ditentukan oleh hubungan dan keterkaitan dengan pihak lain, dan tetap berpikir kreatif serta bekerja mandiri. Hubungan dan keterkaitan dengan pihak lain tersebut berbeda-beda tergantung pada mitra kerja dan tujuan hubungan kerja dibangun. Ada tujuh hubungan kerja peneliti, antara lain: hubungan antar peneliti; hubungan peneliti dengan pejabat manajemen; hubungan peneliti dengan instalasi pemerintah; hubungan peneliti dengan pengusaha pertanian; hubungan peneliti dengan petani dan pengusaha agribisnis; hubungan peneliti dengan pengusaha agribisnis skala besar; hubungan peneliti dengan mitra kerja luar negeri. B. BUDAYA KERJA DAN ETIKA PENELITI SEBAGAI PRINSIP PEMBANGUN INTEGRITAS Peneliti berkarakter memiliki sifat yang terkait dengan budaya kerja dan ketaatan terhadap etika peneliti. Budaya kerja pada tataran individu peneliti dimanifestasikan dalam kemauan untuk bekerja secara konsisten sesuai dengan keahliannya, serta selalu meningkatkan kompetensi dengan terus belajar, yang tercermin dari kecintaan terhadap pekerjaan, sehingga mampu menjadi pakar di bidangnya. Kesadaran peneliti untuk mengadopsi budaya kerja dan etika bersifat fundamental. Kemampuan dan komitmen untuk bertindak sesuai dengan etika merupakan salah satu prasyarat dalam membangun integritas peneliti dan lembaga penelitian. Integritas diartikan sebagai menyatunya perasaan, pikiran, dan tindakan seseorang dengan tugas dan pekerjaan, disertai motivasi untuk memperoleh hasil kerja yang terbaik. Terdapat empat komponen etika dalam membangun integritas peneliti dan lembaga penelitian, yaitu konsistensi, kesadaran keterkaitan hubungan, keterbukaan, dan apresiasi terhadap perbedaan, serta kesadaran untuk menghasilkan kebajikan dan kemaslahatan (Litbang, 2013).

C. KERJA TIM Bekerja dalam tim merupakan keharusan dalam melakukan penelitian, karena permasalahan atau teknologi yang diteliti selalu berkaitan dengan masalah atau aspek teknologi yang lain. Bekerja dalam tim dapat diimplementasikan dalam berbagai cara, termasuk kegiatan berikut: Berkonsultasi dengan pakar dan penanggung jawab bidang terkait dalam perencanaan penelitian. Memahami tugas-fungsi dan kegiatan unit organisasi terkait. Menyusun program kerja penelitian yang sinkron dengan program penelitian bidang lain yang terkait. Memanfaatkan keahlian para pakar di luar bidang keahlian peneliti yang bersangkutan. Membentuk tim kerja penelitian antar disiplin dan antar institusi. Membagi tugas penelitian secara jelas, sinergis, dan saling melengkapi. Peneliti harus mampu dan mau bekerja dalam semangat tim (kelompok), namun tetap memiliki program penelitian yang mandiri. Bekerja dalam suatu tim pada dasarnya merupakan pembagian tugas penelitian sesuai bidang keahlian, dengan tetap mengutamakan kegunaan penelitian yang dilakukan. Keberhasilan kerja tim memerlukan sikap keterbukaan, kerja sama, tidak egois, berbagi kesempatan dan tanggung jawab, serta dilandasi saling percaya. Dengan bekerja bersama dalam tim, setiap anggota tim akan memperoleh kemajuan dan manfaat (Litbang, 2013). D. KERJASAMA PENELITIAN Kerjasama penelitian merupakan perluasan dari kerjasama tim, dan masing-masing pihak yang bekerjasama memiliki kemandirian dan tanggung jawab yang spesifik. Kerjasama penelitian pada umumnya menyangkut kesanggupan peneliti untuk melaksanakan penelitian dengan topik dan sumber dana dari pihak kedua. Kerjasama penelitian dapat pula berupa kesepakatan untuk melakukan penelitian yang komplementer dan sinergis antara dua atau lebih institusi, dengan sumber dana dari salah satu institusi atau sumber lainnya. Kerjasama penelitian juga mewujudkan integritas peneliti maupun lembaga penelitian (Litbang, 2013). E. HAL-HAL YANG HARUS DILAKUKAN DALAM KERJASAMA PENELITIAN Dalam melakukan kerjasama penelitian, peneliti memiliki kewajiban moral dan tanggung jawab sebagai berikut: Menjaga nama baik institusi tempat bekerja dengan cara melaksanakan penelitian sebaikbaiknya.

Menjaga mutu pendidikan dan melindungi data hasil penelitian. Melindungi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari hasil penelitian. Menjaga kepentingan nasional yang tercakup dalam tugas dan fungsi institusi. Bertindak profesional, tidak terpengaruh pihak lain dalam melakukan penelitian, serta melaporkan hasil penelitian secara akurat dan professional. Memperoleh hak publikasi atau kemungkinan hak paten dari hasil kerjasama penelitian. Melaporkan secara profesional, akurat, teliti, cepat, dan lengkap hasil kerja sama penelitian kepada institusi (Litbang, 2013). F. MENJAGA PERILAKU DI LINGKUNGAN KERJA Berperilaku baik di lingkungan kerja berlaku bagi seluruh karyawan institusi termasuk pimpinan, pejabat manajemen, peneliti, teknisi, staf pendukung, dan pekerja yang terkait dengan kegiatan institusi. Norma moral yang telah diakui sebagai perilaku yang baik menurut ketentuan agama, peraturan formal, adat istiadat, budaya setempat, dan kepantasan yang berlaku, tetap harus ditaati. Ketentuan perilaku dalam pedoman ini bersifat melengkapi halhal yang belum tercakup dalam ketentuan tersebut, karena sifatnya khusus pada lingkungan kerja penelitian, yaitu: Menjaga ketenangan kerja dan keharmonisan hubungan kedinasan diantara seluruh karyawan pada unit kerja dan antarunit kerja. Saling menghargai, tidak membedakan suku, agama, gender, asal, dan golongan. Saling menghormati secara pantas, dengan memperhatikan hubungan vertical dan horizontal dari aspek jabatan, senioritas, dan kepangkatan, dalam nuansa persaudaraan dalam kedinasan. Menjaga nama baik institusi dengan menghindarkan perbuatan yang tercela di masyarakat. Memelihara lingkungan kerja, termasuk kebersihan, kerapian, keindahan, keamanan, kesehatan, ketertiban, dan ketenteraman hati agar kondusif sebagai tempat bekerja. Menjaga dan memelihara sarana, prasarana, dan peralatan penelitian denagn sebaikbaiknya. Menggunakan sumber daya, jasa, barang, dan dana yang disediakan unit kerja secara efektif dan efisien, dan tidak menggunakan kepentingan pribadi serta melanggar peraturan yang berlaku. Berlaku dan bersikap sopan, dan melayani keperluan tamu dinas yang berkepentingan dengan unit kerja dengan sebaik-baiknya (Litbang, 2013).

Perilaku karyawan penelitian hendaknya mencerminkan nuansa ketertiban, kesopanan, dan moral yang tinggi. G. HAL-HAL YANG DIHINDARI DALAM KERJASAMA PENELITIAN Dalam melakukan kerjasama penelitian, peneliti memiliki beberapa larangan sebagai berikut: Melakukan perbuatan tercela di masyarakat yang mengakibatkan tercemarnya nama baik institusi. Menyebarluaskan data hasil penelitian. Tidak melindungi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari hasil penelitian. Tidak menjaga kepentingan nasional yang tercakup dalam tugas dan fungsi institusi. Bertindak tidak profesional, terpengaruh pihak lain dalam melakukan penelitian, serta memalsukan hasil penelitian secara sengaja. H. HUBUNGAN KERJA DALAM PERTANIAN Integritas peneliti dan lembaga penelitian ditentukan oleh kemampuan menjalin hubungan keterkaitan dengan berbagai pihak, baik secara internal antar peneliti dan antar institusi, maupun secara eksternal dengan stakeholder. Dengan adanya keterkaitan ini diharapkan dapat terbangun kerjasama, koordinasi, alih informasi dan umpan balik, serta penguatan program penelitian. Keberhasilan penelitian sangat ditentukan oleh hubungan dan keterkaitan dengan pihak lain, dengan tetap berpikir kreatif dan bekerja mandiri. Pola hubungan peneliti dengan pihak lain berbeda-beda, tergantung pada mita kerja dan tujuan hubungan (Litbang, 2013). a. Hubungan antar peneliti Etika hubungan kerja antar peneliti yang perlu dibangun diantaranya adalah: Menghormati hak dan pendapat orang lain. Bersifat terbuka untuk saling tukar informasi dan pengkayaan ide. Berusaha bersifat kompatibel (serasi) untuk bekerjasama dan saling bersinergi secara aktif. Tidak bersifat dan bertindak egois dan tidak sombong. Menghargai dan memanfaatkan keahlian peneliti lain di luar bidang kepakarannya, bila relevan dengan topik/tujuan penelitian. Mengakui temuan, publikasi, dan pendapat orang lain, dan memberikan akuan apabila diggunakan dalam karyanya sendiri. Memberikan pembinaan dan pembimbingan keilmuan terhadap peneliti yang lebih junior.

Peneliti sebagai ilmuwan professional berkewajiban untuk membangun hubungan antar peneliti, serta menjunjung tinggi hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki peneliti lain, baik yang berupa data, tekologi, informasi maupun karya tulis (Litbang, 2013). b. Hubungan peneliti dengan pejabat manajemen Hubungan antara peneliti dan pejabat manajemen semestinya didasari oleh rasa koleganial dan saling menghormati, atas dasar kepantasan, kedudukan jabatan, kepangkatan, dan senioritas. Fungsi pejabat manajemen struktural adalah memberikan pengarahan, pembinaan, penyediaan, dan sebagai pengintegrasi seluruh peneliti dan staf untuk memperoleh kinerja lembaga yang optimal (Litbang, 2013). c. Hubungan peneliti dengan instalasi pemerintah Pola hubungan peneliti dengan wakil pejabat instansi pemerintah merupakan hubungan dinas pelayanan, dukungan terhadap program yang relevan, penyediaan informasi, serta menampung umpan balik dan keluhan untuk ditindak lanjuti (Litbang, 2013). d. Hubungan peneliti dengan pengusaha pertanian Hubungan antara peneliti dengan pengusaha pertanian perlu dijaga agar tidak terjadi benturan kepentingan. Pengusaha industri pertanian mempunyai kepentingan terhadap peneliti antara lain: (1) dukungan atau pengakuan kualitas atau khasiat suatu produk melalui percobaan/pengujian; (2) pengakuan terhadap keunggulan produk/sarana produksi seperti varietas, obat-obatan, dan pupuk; dan (3) dukungan atau pengakuan atas efisiensi, produktivitas, dan kenyamanan alat mesin pertanian. Kerjasama harus konsisten atau sejalan dengan tugas, fungsi, dan misi lembaga/unit kerja penelitian yang bersangkutan (Litbang, 2013). e. Hubungan peneliti dengan petani dan pengusaha agribisnis Hubungan peneliti dengan petani dan pengusaha agribisnis skala kecil-menengah bersifat pelayanan dan pembimbingan, bekerjasama dengan penyuluh, sejauh dapat didukung oleh fasilitas yang tersedia di lembaga pertanian.hubungan pelayanan dapat diwujudkan dalam bentuk penyediaan informasi, teknologi, pelatihan dan konsultasi, bekerjasama dengan pusat penyuluhan, Dinas Pertanian atau Balai Besar Pelatihan (Litbang, 2013). f. Hubungan peneliti dengan pengusaha agribisnis skala besar Hubungan kerjasama antara peneliti dan pengusaha agribisnis skala besar hendaknya bersifat kemitraan yang saling menguntungkan. Peneliti didorong untuk melakukan penelitian bekerjasama dengan pengusaha agribisnis skala besar terutama untu menguji teknologi hasil penelitian Badan Litbang Pertanian. kerjasama perlu didasari surat perjanjian yang memuat

hak dan kewajiban kedua belah pihak. Perusahaan memerlukan pelayanan jasa lembaga penelitian, seperti laboratorium dan diagnosis masalah (Litbang, 2013). g. Hubungan peneliti dengan mitra kerja luar negeri Hubungan kerjasama peneliti dengan mitra kerja luar negeri harus mendapatkan ijin dari instansi tempat ia bekerja. Walaupun pada dasarnya peneliti didorong untuk menjalin kerjasama dengan pihak luar, namun kejelasan, transparansi, dan kemanfaatan penelitian bagi kepentingan nasional harus diutamakan. Kerjasama tidak boleh dilakukan atas dasar kepentingan pribadi peneliti tanpa memberikan manfaat bagi lembaga penelitian, apalagi berpotensi merugikan Negara (Litbang, 2013). I. MANFAAT KERJASAMA PENELITIAN DALAM PERTANIAN a. Meningkatkan efisiensi, efektifitas, produktifitas dan kualitas penelitian untuk pemecahan masalah (problem solving research) pembangunan pertanian yang bisa diterapkan dalam jangka pendek. b. Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia dalam melakukan penelitian dan pengambangan IPTEK dasar dan terapan dalam rangka penyelesaian masalah-masalah pembangunan pertanian. c. Membangun dan memperkuat jaringan kemitraan antara peneliti dalam bidang yang sama agar dapat secara bersama-sama membentuk kemampuan mengembangkan IPTEK dasar dan terapan yang diperlukan untuk menumbuhkan kapasitas inovasi sejalan dengan kemajuan teknologi. d. Menghasilkan inovasi melalui pemanfaatan berbagai sumberdaya riset yang telah tersedia. e. Bekerjasama dalam pemanfaatan sumberdaya manusia, fasilitas, pendanaan dan informasi (Litbang, 2007). DAFTAR PUSTAKA Litbang. 2007. Kerja sama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T). http://www.litbang.deptan.go.id/special/pkkp3t. diakses tanggal 2 Desember 2013. Litbang. 2013. Pedoman Budaya Kerja dan Etika Peneliti. http://www.litbang.deptan.go.id/ berita/one/813/. diakses tanggal 2 Desember 2013.