PENGEMBANGAN WORKSHEET

dokumen-dokumen yang mirip
Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing Untuk Mengoptimalkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Pada Materi

PENGEMBANGAN STUDENT WORKSHEET

Gambar 3.1. Desain Concurrent Embedded dengan Metode Kuantitatif sebagai Metode Primer dan Metode Kualitatif sebagai Metode Sekunder

Lidy Alimah Fitri, Eko Setyadi Kurniawan, Nur Ngazizah

PENGEMBANGAN PENILAIAN AUTENTIK GUNA MENGUKUR PENGETAHUAN DAN KREATIVITAS DALAM PEMBELAJARAN FISIKA PADA PESERTA DIDIK SMA NEGERI 6 PURWOREJO

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode Research and Development (R&D). Sugiyono

Pengembangan Modul Berbasis Project Based Learning untuk Mengoptimalkan Life Skills pada Siswa Kelas X SMA N 1 Petanahan Tahun Pelajaran 2013/2014

Kata kunci: Efektivitas, keterampilan proses, pendekatan induktif, sikap ilmiah

PENGEMBANGAN MODUL IPA BERBASIS EKSPERIMEN MATERI PERISTIWA ALAM DI INDONESIA UNTUK SISWA KELAS V SD ARTIKEL

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar berupa

Pengembangan Modul Panduan Outbound untuk Mengoptimalkan Creativity Domain Science pada Siswa SMA

BAB III METODE PENELITIAN

Pengembangan Penilaian Kinerja Praktikum Berbasis Generik Sains untuk Mengukur Keterampilan Peserta Didik SMA Kelas X

PENGEMBANGAN INSTRUMEN UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN KOMUNIKASI SAINS SISWA SMA

BAB III METODE PENELITIAN. tersebut, maka desain dari penelitian ini adalah penelitian pengembangan

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING PADA MATERI GERAK DI SMP NEGERI 27 BANJARMASIN

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

III. METODOLOGI PENELITIAN. (research and development). Penelitian dan pengembangan (R & D) adalah

BAB III METODE PENELITIAN. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Lembar Kegiatan

BAB III METODE PENELITIAN. modul IPA ini menggunakan metode Research and Development. (R&D). Penelitian R&D menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2012:

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN GETARAN DAN GELOMBANG DENGAN MODEL INKUIRI TERSTRUKTUR UNTUK SISWA KELAS VIIIA SMPN 31 BANJARMASIN

Efektivitas Model Pembelajaran Problem Based Learning

Dewi Ayu Kusumaningtias, Eko Setyadi Kurniawan, Ashari

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau Research and

Mahardika Intan Rahmawati

Atina Nur Faizah, Eko Setyadi Kurniawan, Nurhidayati

BAB III METODE PENELITIAN. IPA Terpadu Model Webbed dengan Pendekatan Inquiry pada Tema. Hujan Asam bagi Lingkungan sebagai Upaya Meningkatkan Science

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODUL DENGAN PENDEKATAN CTL TERHADAP KEBERHASILAN PENGAJARAN REMEDIAL KELAS VIII

BAB III METODE PENELITIAN. didik pada pembelajaran IPA. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul IPA bermuatan Nature of

TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SD DENGAN POKOK BAHASAN ENERGI

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN FISIKA SMA UNTUK TOPIK SUHU DAN KALOR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY DENGAN METODE PICTORIAL RIDDLE

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS INKUIRI POKOK BAHASAN ENERGI DAN PERUBAHANNYA

Ramona Safitri, M. Arifuddin Jamal, dan Abdul Salam M. Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UNLAM Banjarmasin

ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP SPEKTRUM CAHAYA PADA SISWA SMA KELAS XII. Yeri Suhartin

Radiasi Vol.5 No.1.September2014

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta 2)

BAB III METODE PENELITIAN. Research and Development. Model Research and Development yang digunakan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengembangkan suatu produk (Paidi, 2010: 57). Produk R&D dalam

METODE PENELITIAN. Penelitian dalam pengembangan modul kesetimbangan kimia berbasis multipel

BAB III METODE PENELITIAN. IPA untuk Meningkatkan Practical skills Siswa SMP. desain penelitian pengembangan (Research and Development).

PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI POKOK EKOSISTEM KELAS X SMA NEGERI 1 TAMBUSAI

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian

Pengembangan Desain Pembelajaran Domain Sikap dan Aplikasi Sains untuk Mengoptimalkan Kemampuan Aplikasi dan Karakter Peserta Didik

PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS JOYFULL LEARNING

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian yang bersifat analisis kebutuhan dan untuk mengkaji keefektifan

PRAKTIKALITAS PERANGKAT PEMBELAJARAN BERORIENTASI CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM MATERI SUHU DAN KALOR DI KELAS X SMA ADABIAH 2 PADANG

BAB III METODE PENELITIAN. Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) berbasis inkuiri terbimbing yang

Journal of Science Education And Practice p-issn X Volume 1 Nomor 1 Tahun 2017 e-issn

Pengembangan Buletin Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Gerak Melingkar Pada Siswa Kelas X IPA SMA Negeri 3 Purworejo Tahun Pelajaran 2014/2015

Penerapan Perangkat Pembelajaran Materi Kalor melalui Pendekatan Saintifik dengan Model Pembelajaran Guided Discovery Kelas X SMA

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development/ R&D).

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian pengembangan atau disebut juga Research and Development

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGEMBANGAN BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM FISIKA: PENGUJIAN JENIS KAWAT KONDUKTOR KOMERSIAL

BAB I PENDAHULUAN. khususnya teknologi sekarang ini telah memberikan dampak positif dalam

BAB III METODE PENELITIAN

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING UNTUK KELAS V SEKOLAH DASAR

Yuniar Fikriani Amalia, Zainuddin, dan Misbah Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

PENERAPAN MODEL INKUIRI TERBIMBING DALAM PEMBELAJARAN FISIKA UNTUK MENINGKATKAN KERJA ILMIAH DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA-2 SMA N 6 MALANG

BAB III METODE PENELITIAN. berpendekatan aunthentic inquiry learning ini merupakan desain Research

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan atau Research and

BAB III METODE PENELITIAN. diuji kelayakannya dahulu sebelum diberikan kepada peserta didik.

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 03 No. 02 Tahun 2014, ISSN:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian dan pengembangan (Research & Development). Menurut Gall, dkk.


PENGEMBANGAN PAKET PEMBELAJARAN MEKANIKA FLUIDA BERBASIS INQUIRY TRAINING UNTUK MENUMBUHKAN KETERAMPILAN KERJA ILMIAH

Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) IPA Berbasis Multiple Intelligences Pada Materi Suhu dan Perubahannya di Kelas VII

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan project based learning. Bahan ajar yang dikembangkan berupa RPP

BAB III METODE PENELITIAN. Realistik (PMR) bagi siswa SMP kelas VIII sesuai Kurikulum 2013.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI

BAB III METODE PENELITIAN. atau Research and Development (R&D), yang bertujuan untuk

Pengumpulan data. Produk: Bahan Ajar IPA Terpadu bertema Cuaca

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN FISIKA PADA POKOK BAHASAN LISTRIK DINAMIS MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING

PENGEMBANGAN PANDUAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR 1 BERBASIS GUIDED INQUIRY

BAB I PENDAHULUAN. yang tidak boleh ditinggalkan yaitu pengetahuan (cognitive, intelectual), keterampilan

Kata kunci: Perangkat pembelajaran, keterampilan berkomunikasi, pembelajaran diskusi kelas

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA MATERI PECAHAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. dan pengembangan atau Research and Development (R&D). Sukmadinata (2011)

Penerapan Pembelajaran Kooperatif

BAB III METODE PENELITIAN

THE DEVELOPMENT STUDENT WORKSHEETS ON THEME ENVIRONTMENTAL (SOIL) POLLUTION" WITH THE PROJECT BASED LEARNING (PjBL) WHICH SCIENCE PROCESS SKILL

Pengembangan Instrumen Penilaian Keterampilan Proses Sains Berbentuk Tes Esai untuk Mata Pelajaran Fisika SMA Kelas X

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian ini yaitu research and development atau penelitian

JIME, Vol. 3. No. 1 ISSN April 2017

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MELATIH KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA TULIS SISWA DI KELAS VIII

Transkripsi:

Radiasi.Vol.3.No.1.Purwi Rahayu PENGEMBANGAN WORKSHEET DENGAN PENDEKATAN GUIDED INQUIRY PADA POKOK BAHASAN SUHU DAN KALOR UNTUK MENGOPTIMALKAN DOMAIN PROSES SAINS SISWA KELAS X SMA N 11 PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Purwi Rahayu, Sriyono, dan Nur Ngazizah Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Purworejo Jl. K.H A.Dahlan No. 3 Purworejo PurwiAyy@yahoo.co.id Intisari Telah dilakukan penelitian yang bertujuan mengembangkan worksheet dengan pendekatan guided inquiry pokok bahasan Suhu dan Kalor untuk mengoptimalkan domain proses sains siswa kelas X SMAN 11 Purworejo Tahun Pelajaran 2012/2013. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development model Borg and Gall, yang meliputi tahap studi pendahuluan, tahap pengembangan dan tahap evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan hasil validasi worksheet oleh para ahli fisika yaitu dengan rerata persentase 89.0% dan berkriteria sangat. Keterlaksanaan pembelajaran dengan persentase 91,25% atau berkriteria. Pengoptimalan domain proses sains siswa memperoleh persentase 90% dengan kriteria sangat. Pembelajaran menggunakan worksheet dapat mendukung ketercapaian belajar siswa yaitu memperoleh rerata nilai 81,3 dengan KKM 70. Respon siswa terhadap worksheet dan proses pembelajaran menunjukkan bahwa pembelajaran berlangsung dan menarik. Dapat disimpulkan bahwa worksheet dengan pendekatan guided inquiry hasil pengembangan layak digunakan sebagai bahan ajar fisika pokok bahasan Suhu dan Kalor yang berdampak pada optimalnya domain proses sains siswa. Kata kunci: worksheet, guided inquiry, domain proses sains I. PENDAHULUAN Fisika sebagai salah satu ilmu dalam bidang sains merupakan salah satu mata pelajaran yang mempelajari benda mati dan mengkaji gejala-gejala yang terjadi di alam. Pembelajaran fisika bukan hanya melalui pendekatan matematis, tetapi siswa juga dituntut untuk dapat memahami konsep yang terkandung di dalamnya. Lima domain dalam pendidikan sains adalah pengetahuan, proses sains, kreativitas, sikap dan koneksi-penerapan [12]. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa proses pembelajaran fisika belum mencangkup lima ranah domain sains tersebut. Salah satu domain yang belum optimal yaitu domain proses sains atau dikenal dengan eksploring and discovering. Seorang guru hendaknya dapat membawa siswa-siswanya untuk mencintai mata pelajaran yang disampaikannya, sehingga dapat membawa siswa ke tujuan. Di sini tentu saja tugas guru berusaha menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan menyenangkan bagi semua siswanya[5]. Selama ini, sedikit sekali guru yang mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan ketika belajar fisika. Mutu Pembelajaran menjadi rendah ketika pendidik hanya terpaku pada bahan-bahan ajar yang sudah ada tanpa ada kreativitas untuk mengembangkan bahan ajar tersebut secara inovatif [5]. Salah satu bahan ajar yang banyak digunakan dalam pembelajaran yaitu worksheet. Worksheet yang beredar di pasaran pada umumnya merupakan bentuk lain dari modul yang berisikan penjelasan materi dan latihan soal-soal. Bercermin dari hal tersebut, sudah selayaknya seorang guru harus belajar untuk mengoptimalkan kinerja mereka demi memperi pembelajaran fisika agar lebih menarik dan kondusif. Seorang guru hendaknya dapat membuat perangkat pembelajaran sendiri, karena mereka yang lebih mengerti sejauh mana kemampuan peserta didiknya. Pembuatan perangkat pembelajaran tersebut tentunya disesuaikan dengan kemampuan siswa dan kondisi lingkungan sekolah. Salah satunya adalah penggunaan worksheet, dimana hendaknya worksheet disusun sendiri oleh guru mata pelajaran tersebut. Harapan dengan adanya perangkat pembelajaran yang dirancang sendiri oleh masing-masing guru, maka penilaian siswa dapat dilakukan secara maksimal. Guru tidak hanya menilai siswa dari hasil akhirnya saja, tetapi berbagai proses belajar siswa dapat dinilai pula. Hal ini tentunya akan dapat mengoptimalkan domain proses siswa, yang merupakan salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan sains. Salah satu pendekatan yang melibatkan siswa secara maksimal yaitu pendekatan guided inquiry. II. LANDASAN TEORI A. Fisika dan Pembelajaran Fisika Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, fisika adalah ilmu tentang zat dan energi. Sedang dalam ensiklopedia, fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang benda-benda atau materi dan gerakannya beserta kegunaannya bagi manusia[6]. Mata pelajaran fisika di SMA bertujuan agar siswa mampu menguasai konsep-konsep fisika dan saling keterkitannya serta mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. B. Worksheet Pengertian worksheet dalam Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar yaitu lembar kegiatan siswa (student worksheet) adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa[5]. Lembar kegiatan ini berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu 78

tugas. Fungsi worksheet dalam proses pembelajaran yaitu: (1) Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik, namun lebih mengaktifkan peserta didik; (2) Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan; (3) Sebagai bahan ajar ringkas dan kaya tugas untuk berlatih; (4) Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik [5]. Dalam penyususunan worksheet yang, perlu diperhatikan beberapa hal dan persyaratan worksheet yang harus memenuhi berbagai persyaratan, yaitu persyaratan didaktik, persyaratan konstruktif, dan persyaratan teknis[16]. D. Domain Proses Sains Taksonomi pendidikan sains dalam era pembangunan, lima ranah untuk pendidikan sains itu adalah: (1) domain I: knowing and understanding (knowledge domain), (2) domain II: exploring and disovering (process of science domain), (3) domain III: imagining and creating (creativity domain), (4) domain IV: feeling and valuing (attitudinal domain) dan (5) domain V: using and applying (application and connection domain) [12]. Domain proses sains, process of science domain, penggunaan beberapa proses sains untuk belajar bagaimana para saintis berpikir dan bekerja. Beberapa proses sains itu adalah (1) Proses sains dasar: observasi, komunikasi, klasifikasi, pengukuran, inferensi, dan prediksi, serta (2) Proses sains terpadu: identifikasi variable, penyusunan tabel data, pembuatan grafik, deskripsi hubungan antar variable, penyediaan dan pemrosesan data, analisis investigasi, penyusunan hipotesis, definisi operasional variable, desain investigasi, dan eksperimen [12]. E. Pendekatan Guided Inquiry Strategi inquiry berarti semua kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analistis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri [10]. Diantara model- model inkuiri yang lebih cocok untuk siswa SMA adalah inkuiri induktif terbimbing, dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran tentang konsep atau suatu gejala melalui pengamatan, pengukuran, pengumpulan data untuk ditarik kesimpulan [3]. Dalam penelitian ini, langkah-langkah dalam pendekatan guided inquiry meliputi: orientasi (penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan), merumuskan masalah (membawa siswa ke dalam suatu permasalahan), merumuskan hipotesis (siswa merumuskan dugaan sementara), pengumpulan data (memngumpulkan informasiinformasi dari berbagai sumber referensi), pengujian hipotesis (melakukan eksperimen untuk menguji hipotesis yang dirumuskan), dan merumuskan kesimpulan (merumuskan kesimpulan berdasarkan eksperimen yang dilakukan). f. Worksheet dengan Pendekatan Guided Inquiry Worksheet dengan pendekatan guided inquiry berisikan lembaran-lembaran tugas seperti halnya worksheet pada umumnya, hanya saja disini lebih menitikberatkan pada model guided inquiry, dimana siswa terlibat secara maksimal. Worksheet disusun berdasarkan prinsip-prinsip penggunaan inkuiri dan berorientasi pada pengembangan intelektual (pengembangan k emampuan berfikir), dengan harapan dapat mengembangan domain proses sains siswa. Adapun domain proses sains yang akan dioptimalkan melalui pembelajaran dengan worksheet dalam penelitian ini yaitu domain proses sains dasar yang meliputi: observasi, klasifikasi, inferensi, komunikasi, mengukur, dan prediksi. Penyusunan worksheet dengan pendekatan guided inquiry seperti halnya dalam menyusun worksheet pada umumnya. Pertama, melakukan analisis kurikulum: SK, KD, indikator dan materi pembelajaran. Kedua, menyusun peta kebutuhan worksheet sesuai dengan materi yang akan dikembangkan. Ketiga, menentukan judul worksheet dan keempat yaitu mulai menulis worksheet. III. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam penelitian pengembangan (Research and Development), dimana akan dikembangkan suatu produk pembelajaran yang kemudian divalidasi sebagai salah satu produk pendidikan. Produk yang dikembangkan di sini berupa worksheet dengan pendekatan guided inquiry, yang diharapkan akan dapat berpengaruh terhadap proses pembelajaran siswa terutama untuk mengoptimalkan domain proses sains siswa kelas X SMA N 11 Purworejo. Penelitian pengembangan merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut [9]. Desain penelitian ini disajikan dalam bagan alir proses pengembangan bahan ajar yang diadaptasi dari Borg and Gall. Prosedur dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari model Borg and Gall. Model Borg dan Gall terdiri atas sepuluh langkah, yaitu: (1) Potensi dan Masalah; (2) Pengumpulan Data; (3) Desain Produk (perencanaan draft awal produk); (4) Validasi Desain; (5) Revisi desain; (6) Ujicoba Terbatas; (7) Revisi Produk; (8) Ujicoba pemakaian; (9) Revisi Produ k Akhir; (10) prod uksi Masal [9]. Dalam penelitian pengembangan worksheet dengan pendekatan guided inquiry ini, langkah- langkah yang digunakan hanya melaksanakan langkah 1 sampai 7 karena keterbatasan sumber daya yang ada. Desain ujicoba merupakan gambaran umum pola uji coba yang akan digunakan dalam penelitian. Ujicoba terbatas ini menggunakan desain One-Shot Case study karena penilaiannya hanya menggunakan nilai akhir hasil belajar (post-test). Desain ujicoba digambarkan sebagai berikut: X O Gambar 1. Desain One-Shot Case Study Keterangan: X = perlakuan (treatment) yaitu penggunaan worksheet dalam pembelajaran Fisika O = nilai hasil belajar Subjek ujicoba dalam penelitian ini berjumlah 15 orang siswa kelas X SMA Negeri 11 Purworejo semester genap, tahun ajaran 2012/2013. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan yaitu dimulai dari bulan April sampai bulan Juli. Mulai dari observasi awal, penyusunan proposal penelitian, pengambilan data dan pengolahan data penelitian. 79

Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu menggunakan metode observasi, wawancara, angket dan tes. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini melipuyi lembar telaah worksheet, Lembar angket respon siswa, lembar observasi pengoptimalan domain proses sains siswa, tes hasil belajar dan rubrik. Teknik analisis data yang digunakan yaitu uji validitas, uji reliabilitas, analisis hasil telaah worksheet dan respon siswa, analisis keterlaksanaan pembelajaran, analisis pengoptimalan domain proses sains siswa dan analisis keterlaksanaan hasil belajar siswa. Angket, lembar observasi dan lembar telaah worksheet harus divalidasi dan diuji realibilitasnya. Pengolahan data menggunakan persamaan berikut: (%) = 100% (1) (1) Keterangan: = Jumlah frekuensi aktivitas yang muncul = Jumlah frekuensi seluruh aktivitas Hasil persentase ini kemudian diubah kedalam bentuk nilai. Skala penilaian ini dianalogikan dengan skala skor 1-4, sehingga tingkat kelayakan instrumen n dapat diketahui dengan persamaan berikut: Nilai = persentase x skor tertinggi Nilai = persentase x 4 Persamaan nilai ini merupakan modifikasi dari prosedur penilaian persentase dalam rentang skala 0-100 [15]. Setelah nilai diperoleh, selanjutnya diinterpretasikan an ke dalam skala yang bersifat kualitatif sesuai Tabel 1, agar ar dapat diketahui tingkat kelayakan keterlaksanaan pembelajaran menggunakan worksheet dengan pendekatanan guided inquiry tersebut. Tabel 1. Acuan Pengubahan Nilai Menjadi Skala Empat No Rentang Nilai Keterangan 1. 1,00 1,75 Tidak 2. 1,76 2,5 Cukup 3. 2,56 3,25 Baik 4. 3,26 4,00 Sangat (Sumber: thesis.binus.ac.id/doc/bab3/bab%20111_11-bab%20111_11-07.pdf) Metode pengujian reliabiltas yang digunakan menggunakan Percentage Agreement (PA). PA merupakan persentase kesesuaian nilai antara penilai pertama dan kedua terhadap instrument [15]. Menurut Borich Percentage Agreement (PA) dapat ditentukan dengan persamaan (2) sebagai berikut: ( ) = 1 x 100%..(2) A dan B merupakan besar nilai yang diberikan penilai pertama dan kedua dengan A>B. Instrumen dikatakan reliabel jika nilai Percentage Agreement (PA) lebih dari atau sama dengan 75%. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data Hasil Evaluasi Produk 1) Analisis Data Hasil Evaluasi Worksheet dari Ketiga Validator Hasil analisis memperlihatkan bahwa rerata persentase hasil evaluasi worksheet dari ahli yaitu sebesar 4 atau dengan persentase 86%, dari guru fisika yaitu 7 atau dengan persentase 92% dan dari teman sejawat yaitu 8 atau dengan persentase 89%. Dari ketiga hasil evaluasi tersebut diperoleh rerata total untuk worksheet sebesar 6 atau dinyatakan dalam persentase sebesar 89% dan dalam kategori sangat karena berdasarkan Tabel 1, skor rerata penilaian terletak antara rentang nilai 3,26 hingga 4,00. Diagram hasil penilaian dari ketiga penilai berdasarkan kategori disajikan dalam Gambar 2 berikut. 3,7 Sangat Ahli Sangat Fisika Guru Fisika Sangat Teman Sejawat Aspek Penelitian Gambar 2. Diagram Penilaian Worksheet dari Ketiga Penilai Berdasarkan Kategori 2) Analisis Data Hasil Uji Coba Terbatas a) Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran Proses pembelajaran menggunakan worksheet dengan pendekatan guided inquiry pada uji coba terbatas dilaksanakan selama tiga kali pertemuan. Dari hasil observasi oleh dua orang observer diperoleh rerata keterlaksanaan pembelajaran pada RPP 1 yaitu 3.61 atau 90,25%, pada keterlaksanaan RPP 2 yaitu 3.67 atau 91,75%, dan pada keterlaksanaan RPP 3 adalah 3.67 atau 91,75%, sehingga dapat dikatakan bahwa rerata keterlaksanaan RPP yaitu 91,25% dan dalam kategori sangat karena lebih dari 75%. Keterlaksaan RPP pada setiap pembelajaran dapat dilihat secara lebih jelas pada Gambar 3 berikut. 8 6 4 2 8 Keterlaksanaan RPP RPP 1 RPP 2 RPP 3 Gambar 3. Diagram Keterlaksanaan RPP Pada Setiap Pertemuan 80

b) Analisis Pengoptimalan Domain Prosess Sains Siswa Data pengoptimalan domain proses sains siswa diperoleh dari observasi yang dilakukan oleh dua observer. Data tersebut juga diperoleh dari lembar angket respon siswa terhadap pengoptimalan domain proses sains siswa yang diberikan kepada siswa setelah melakukan proses pembelajaran menggunakan worksheet dengan pendekatan guided inquiry. Berdasarkan data yang diperoleh dari lembar observasi dan angket respon siswa terhadap pengoptimalan domain proses sains siswa, dapat diketahui rerata total masingyang diteliti. Data masing aspek domain proses sains siswa yang diperoleh yaitu dengan skor rerata pada komponen observasi sebesar 5 atau 88.75%, pada aspek komunikasi sebesar atau 85%, pada aspek klasifikasi sebesar 5 atau 83.75%, pada aspek mengukur sebesar 5 atau 86.25%, pada aspek inferensi sebesar 5 atau 86.25% dan pada aspek prediksi sebesar 5 atau 88,75%. Diagram hasil penilaian pengoptimalan domain proses sains siswa dari kedua observer dan angket siswa disajikan dalam Gambar 4 berikut. sangat sangat sangat sangat sangat sangat 3,2 Komponen Domain Prosess Sains Observasi Komunikasi Klasifikasi Mengukur Inferensi Prediksi Gambar 4. Diagram Penilaian Pengoptimalan Domain Proses Sains Siswa c) Ketercapaian Hasil Belajar Data hasil belajar diperoleh dari penilaian terhadap pekerjaan siswa dalam worksheet dengan memberikan skor penilaian pada masing-masing komponen yang ada dalam worksheet. Observer melakukan penilaiann dengan melihat komponen-komponen yang terdapat padaa domain proses sains siswa yang meliputi observasi, komunikasi, klasifikasi, mengukur, inferensi dan prediksi. Hasil penilaian menunjukkan bahwa rata-rata nilai yang diperoleh siswa yaitu sebesar 81,3 dan sudah mencapai KKM yaitu sebesar 7,0. Perbedaan rerata nilai tersebut cukup signifikan, karena rata-rata nilai hasil belajar siswa biasanyaa hanya mencapai nilai batas ketuntasa minimal yaitu 7,0. Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut, terlihat bahwa worksheet dengan pendekatan guided inquiry tersebut cukup efektif dan layak digunakan sebagai bahan ajar fisika. d) Analisis Respon Siswa Analisis respon siswa terhadap proses pembelajaran dapat dilihat dari skor rerata masing-masing aspek yang dinilai yaitu meliputi aspek keterlaksanaa RPP, aspek domain proses sains siswa dan aspek guided inquiry. Berdasarkan data yang diperoleh, rerata skor untuk aspek penerapan RPP yaitu 7 dan termasuk dalam kategori sangat. Pada aspek domain proses sains siswa memperoleh skor rerata 7 atau termasuk dalam kategori sangat. Pada aspek guided inquiry memperoleh skor rerata 6 dan termasuk dalam kategori sangat. Rerata total dari ketiga aspek yaitu sebesar atau dengan persentase 87,50%. Data tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan dan memenuhi aspek-aspek proses pembelajaran. Hasil analisis respon siswa terhadap worksheet memperlihatkan bahwa rerata persentase hasil evaluasi worksheet dari angket siswa yaitu pada aspek syarat didaktik sebesar 7 atau dengan preentase 86,65%, pada aspek syarat konstruksi yaitu 4 atau dengan persentase 88,53% dan pada aspek syarat teknis yaitu 3 atau dengan persentase 83%. Dari hasil evaluasi tersebut diperoleh rerata total untuk worksheet aspek syarat didaktik, syarat konstruksi maupun syarat teknis yaitu sebesar 5 dengan persentase 86,17% atau dalam kategori sangat. Diagram hasil penilaian dari tiap aspek berdasarkan rerata disajikan dalam Gambar 5 berikut. 5 5 5 3,25 3,2 sangat sangat Aspek Penelitian sangat Didaktis Konstruksi Teknis Gambar 5. Diagram Penilaian Worksheet dari Angket Siswa Berdasarkan Kategori B. Revisi Produk 1. Revisi Tahap Pertama Revisi dilakukan berdasarkan data hasil validasi worksheet yaitu berupa penilaian, saran dan kritik yang diberikan oleh para validator. Setelah dilakukan revisi tahap pertama, maka diperoleh draft II yang layak untuk diujicobakan. Aspek-aspek yang diperi disajikan sebagai berikut Tabel 2. Revisi Worksheet dari Ketiga Penilai Aspek yang Peran Direvisi Didaktik Materi sesuai SK, Cantumkan referensi jika KD mengambil dari sumber lain. - Teknis Gambar disajikan Gambar disajikan lebih dengan jelas, menarik jelas lagi agar mudah dipahami dan sesuai dengan materi oleh siswa 2. Revisi Tahap Kedua Revisi tahap kedua ini dilakukan berdasarkan hasil uji coba terbatas pada 15 orang siswa. Revisi dilakukan dengan 81

mengacu pada data observasi dan hasil kegiatan pembelajaran menggunakan worksheet dengan pendekatan guided inquiry. Pada revisi tahap kedua ini revisi dilakukan pada aspek kebahasaan worksheet dan aspek syarat teknis dan penyajian. C. Kajian Produk Akhir Worksheet dengan pendekatan guided inquiry untuk mengoptimalkan domain proses sains siswa telah selesai dikembangkan. Pembahasan produk kajian akhir produk akhir pengembangan worksheet ini merupakan hasil konfirmasi antara kajian teori temuan penelitian sebelumnya, dengan hasil penelitian yang diperoleh. Hasil penilaian dari ketiga validator menunjukkan bahwa kualitas worksheet dilihat dari syarat didaktik, syarat konstruksi dan syarat teknis memberikan nilai sangat. Dapat dikatakan bahwa worksheet tersebut mempunyai tingkat kualitas yang cukup tinggi sehingga mempermudah siswa dalam memahami materi dan dapat mengoptimalkan domain proses sains siswa. Kualitas worksheet meliputi aspek syarat didaktis, syarat konstruksi dan syarat teknis. V. KESIMPULAN Worksheet dengan pendekatan guided inquiry untuk mengoptimalkan domain proses sains ini menurut ahli Fisika, guru Fisika, maupun teman sejawat valid dan layak digunakan dalam pembelajaran Fisika di SMA. Tingkat kelayakan worksheet dengan pendekatan guided inquiry menurut ketiga reviewer mencapai skor rerata 6 atau dengan persentase 89% dan termasuk dalam kategori sangat. Ditinjau dari segi keterlaksanaan pembelajaran berkategori karena mencapai rerata persentase yaitu 91,25%. Worksheet ini dapat mendukung ketercapaian hasil belajar siswa dan siswa mampu mendapatkan nilai di atas KKM yaitu dengan nilai rerata sebesar 81,3 dengan KKM 70. Pembelajaran menggunakan worksheet ini dapat mengoptimalkan domain proses sains siswa dengan kategori sangat dengan rerata total untuk keenam komponen domain proses sains siswa tersebut yaitu sebesar atau dengan persentase 90%. Respon siswa terhadap aspek proses pembelajaran memperoleh skor rerata sebesar atau dengan persentase 87,50%. Sedang respon siswa terhadap worksheet menunjukkan rerata total sebesar 5 atau dengan persentase 86,17% dan termasuk dalam kategori sangat. Jadi, worksheet dengan pendekatan guided inquiry pada pokok bahasan suhu dan kalor ini mampu mengoptimalkan domain proses sains siswa kelas X SMA N 11 Purworejo. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada Bapak Drs. R. Wakhid Akhdinirwanto, S.Si. selaku reviewer yang telah mengesahkan jurnal ini. PUSTAKA Artikel jurnal: [1] A. Sochibin, P. Dwijananti, P. Marwoto. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terpimpin Untuk Peningkatan Pemahaman dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SD. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 5 (2009) 96-101. [2] R. Ariesta dan Supartono.. 2010. Pengembangan Perangkat Perkuliahan Kegiatan Laboratorium Fisika Dasar II Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah Mahasiswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011) 62-68. [3] Wahyudin, Sutikno,A. Isa. 2010 Keefektifan Pembelajaran Berbantuan Meultimedia Menggunakan Metode Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Minat dan Pemahaman Siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 6 (2010) 58-62. Buku: [4] Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta [5] Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. [6] Foster, Bob. 2004. Terpadu FISIKA SMA Jilid 1A untuk Kelas X. Jakarta. Erlangga [7] Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: DIVA Press. [8] Rustono. 2010. Strategi Mengajar Masa Kini. Jakarta: Rineka Cipta [9] Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. [10] Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup. Buku kompilasi makalah (edited book): [11] Alyn dan Bacon. 2010. Science Intruction in the Middle and Secondary Schools Developing Foundamental Knowledge and Skills. Boston. Prosiding seminar: [12] Zuhdan Kun Prasetyo. 2010. Sumbangan Pembelajaran Sains dalam Pencerdasan dan Pengakhlaqulkarimahan Peserta Didik untuk Peningkatan Daya Saing Bangsa. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Sains, di Universitas Muhammadiyah Purworejo [13] Nely Andrian, Imron Husaini dan Lia Nurliyah, Efektifitas Penerapan Pembelajaran Inkuiri terboimbing (Guided Inquiry) pada Mata Pelajaran Fisika Pokok Bahasan Cahaya di Kelas VIII SMP N 2 Muara Padan, Prosiding SNIPS 2011, 22-23 Juni 2011, Bandung, Indonesia. Skripsi/tesis/disertasi: [14] Nur Ngazizah, Pengembangan Subject Spesific Pedagogy (SSP) Berbasis Domain Sikap Sains untuk Menanamkan Karakter Siswa SMP, Magister Thesis, Universita Negri Yogyakarta, 2010. [15] Yohana Puspita Sari, Pengembangan Performance Task Asessment untuk keterampilan proses (Data Table and Graphic) pada Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Suhu dan Kalor Kelas X, Universitas Negri Yogyakarta, 2012. [16] Lourensius Dwi A.R., Pengembangan RPP dan LKS IPA Terintegrasi Berbasis Contextual Teaching Learning (CTL) Metode Laboratorium Work untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Siswa SMP, Universitas Negri Yogyakarta, 3012. Internet: [17] Guss, Kisi- Kisi SKL Ujian Nasional SMA/ MA Program IPA Fisika Tahun Pelajaran 2012, 2011. Website: http://gusschool.wordpress.com, diakses tanggal 15 April 2013. 82