Pembuatan Biogas dari Kotoran Sapi dengan Metode Taguchi

dokumen-dokumen yang mirip
Peningkatan Kualitas melalui Desain Eksperimen (Studi Kasus di Sebuah Perusahaan Krupuk, Blitar)

PENENTUAN KOMPOSISI BAHAN BAKU OPTIMAL PRODUK KECAP X DENGAN METODE TAGUCHI

OPTIMASI KUALITAS HALLOW BLOCK DENGAN METODE TAGUCHI INTISARI

PENENTUAN KONDISI PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN BUMBU RAWON INSTAN BUBUK DENGAN METODE TAGUCHI

Optimasi Proses Injeksi dengan Metode Taguchi

Peningkatan Kualitas Tape 31 melalui Desain Eksperimen sebagai Upaya untuk Mengatasi Komplain dari Konsumen

Penerapan Metode Taguchi Untuk Meningkatkan Kualitas Kain Tenun Pada Sentra Industri Kain Tenun Kabupaten Pemalang

KOMBINASI DAN KOMPOSISI BAHAN BAKU UNTUK PENINGKATAN KUALITAS PAVING RUMPUT DI CV. X SURABAYA. Irwan Soejanto ABSTRACT

APLIKASI DESAIN EKSPERIMEN TAGUCHI UNTUK PERBAIKAN KUALITAS AIR PDAM TIRTA MON PASE LHOKSUKON ACEH UTARA. Halim Zaini 1

Oleh : M. Mushonnif Efendi ( ) Dosen Pembimbing : Dr. Sony Sunaryo, M.Si.

SPLIT PLOT DESIGN: DESAIN EKSPERIMEN UNTUK MENGATASI KETERBATASAN RANDOMISASI (STUDI KASUS DI SEBUAH PERUSAHAAN LOGAM) Debora Anne Yang Aysia Program

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

Desain Eksperimen Untuk Pengendalian Kadar Air Jamu Simplisia

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

OPTIMALISASI PROSES PRODUKSI YANG MELIBATKAN BEBERAPA FAKTOR DENGAN LEVEL YANG BERBEDA MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI

MENENTUKAN KOMPOSISI OPTIMAL DARI FAKTOR- FAKTOR YANG MEMENGARUHI KETAHANAN ASPAL DENGAN METODE TAGUCHI

BIOGAS. Sejarah Biogas. Apa itu Biogas? Bagaimana Biogas Dihasilkan? 5/22/2013

PENERAPAN METODE SPC DAN TAGUCHI DALAM IDENTIFIKASI FAKTOR KECACATAN PRODUK RIM

PENENTUAN PARAMETER KOMPOSISI CAIRAN PRODUK VIVELLE BODY SPRAY MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI DI PT EASTON KALERIS INDONESIA

SNTMUT ISBN:

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara produsen minyak dunia. Meskipun

ABSTRAK. Optimisasi Proses Freis dengan Nicholas Baskoro. Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung

PENGARUH PREFERENSI LAGU TERHADAP PERFORMA KERJA FISIK

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

Pengaruh Pengaturan ph dan Pengaturan Operasional Dalam Produksi Biogas dari Sampah

Volume 1, Nomor 2, Desember 2007

PERBAIKAN DAN PENINGKATAN KUALITAS DI PERUSAHAAN MIE SUMBER RASA DENGAN PENDEKATAN DMAIC

ABSTRAK. Kata kunci: roster, serbuk kayu, kuat tekan, metode Taguchi.

Optimalisasi Jumlah Batu Bata yang Pecah Menggunakan Desain Eksperimen Taguchi. (Studi Kasus: Usaha Batu Bata Bapak Kholil Ds.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

UJI PEMBUATAN BIOGAS DARI KOTORAN GAJAH DENGAN VARIASI PENAMBAHAN URINE GAJAH DAN AIR

PERANCANGAN ALAT TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH PEMOTONGAN AYAM

Penerapan Taguchi Parameter Design dalam Penentuan Level Faktor. Produksi Batako untuk Memaksimumkan Kekuatan Tekan

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pergeseran dari sistem beternak ektensif menjadi intensif

REKAYASA KUALITAS DALAM PENENTUAN SETTING MESIN DENGAN METODE TAGUCHI (PRODUK KAIN POLYESTER) Rudy Wawolumaja, Lindawati

SEMINAR TUGAS AKHIR KAJIAN PEMAKAIAN SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIOGAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Chrisnanda Anggradiar NRP

PENERAPAN METODE TAGUCHI UNTUK OPTIMALISASI HASIL PRODUKSI ROTI DI USAHA ROTI MEYZA BAKERY, PADANG SUMATERA BARAT

PEMANFAATAN KOTORAN SAPI SEBAGAI BAHAN BAKAR DALAM PROSES PENGERINGAN RAMBAK DI DAERAH BOYOLALI UNTUK MENGURANGI KETERGANTUNGAN TERHADAP MINYAK TANAH

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.

PENGARUH PREFERENSI MUSIK TERHADAP PERFORMA KERJA MENTAL

MEMBUAT BIOGAS DARI KOTORAN TERNAK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

(D.4) DESAIN PARAMETER UNTUK DATA DISKRIT PADA ROBUST DESIGN. Oleh Budhi Handoko 1), Sri Winarni 2)

PENINGKATAN KUALITAS BIOGAS LIMBAH CAIR TAHU DENGAN METODE TAGUCHI

EFISIENSI PROSES PEMBENTUKAN BIOGAS TERHADAP PENAMBAHAN EFFECTIVITAS MICROORGANISME

I. PENDAHULUAN. anorganik terus meningkat. Akibat jangka panjang dari pemakaian pupuk

I. PENDAHULUAN. sebagai salah satu matapencaharian masyarakat pedesaan. Sapi biasanya

Kata kunci: Taguchi method, Multirespon, Combined Array, TOPSIS

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI

Arya Anantama R., Nia Budi Puspitasari, Ary Arvianto *)

OPTIMALISASI PROSES PRODUKSI YANG MELIBATKAN BEBERAPA FAKTOR DENGAN LEVEL YANG BERBEDA MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI SKRIPSI

PENENTUAN KUALITAS BIOGAS UNTUK PEMENUHAN ENERGI SKALA RUMAH TANGGA BERBASIS FUZZY LOGIC

TUGAS AKHIR DESAIN EKSPERIMEN UNTUK PENGENDALIAN KADAR AIR JAMU SIMPLISIA

BAB 1 PENDAHULUAN. semakin banyak di Indonesia. Kini sangat mudah ditemukan sebuah industri

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

1. Limbah Cair Tahu. Bahan baku (input) Teknologi Energi Hasil/output. Kedelai 60 Kg Air 2700 Kg. Tahu 80 kg. manusia. Proses. Ampas tahu 70 kg Ternak

OPTIMASI KUALITAS WARNA MINYAK GORENG DENGAN METODE RESPONSE SURFACE

SNTMUT ISBN:

Reka Integra ISSN 2338 : 5081 Jurusan Teknik Industri Itenas l No.02 l Vol. 02 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Oktober 2014

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMBUATAN BIOGAS DARI LIMBAH CAIR TEPUNG IKAN SKRIPSI

SETTING KOMBINASI LEVEL FAKTOR OPTIMAL PEMBUATAN PRODUK TOPLES MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERHADAP KEKUATAN TARIK BENANG KARUNG PLASTIK PADA MESIN EXTRUDER DENGAN MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI DI PT

Optimasi Proses Spinning Terhadap Kekuatan Tarik Benang Dengan Metode Taguchi

BAB I PENDAHULUAN. energi yang salah satunya bersumber dari biomassa. Salah satu contoh dari. energi terbarukan adalah biogas dari kotoran ternak.

DESAIN LABEL KEMASAN AIR MINUM DALAM KEMASAN DENGAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT DAN METODE TAGUCHI

Produksi gasbio menggunakan Limbah Sayuran

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

PEMANFAATAN SILICA FUME LIMBAH SANDBLASTING UNTUK MENINGKATKAN KUAT TEKAN BATAKO PEJAL DENGAN TAGUCHI QUALITY ENGINEERING (Studi Kasus: PT X Pasuruan)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS KUALITAS TUAS REM BELAKANG SEPEDA MOTOR DI INDUSTRI KECIL PT.X DENGAN METODE TAGUCHI. Oleh : Iwan Nugraha Gusniar

PENGARUH WAKTU FERMENTASI DAN KOMPOSISI LIMBAH KULIT BUAH AREN (Arenga pinnata) DENGAN STARTER KOTORAN SAPI TERHADAP BIOGAS YANG DIHASILKAN SKRIPSI

PEMBUATAH BIOGAS DARI LIMBAH TAHU. Kimin Kusnadi *

Journal of Mechanical Engineering Learning

Penentuan Nilai Parameter Mesin Las untuk Menghasilkan Kualitas Pengelasan yang Terbaik dengan Desain Eksperimental Taguchi 1.

KAJIAN TEKNOLOGI PERMESINAN PADA TEKNIK TATAH TIMBUL PRODUK KULIT

ANALISA DESAIN EKSPERIMEN PEMBUATAN BATAKO BERBAHAN ALTERNATIF LUMPUR LAPINDO DAN FLY ASH DENGAN METODE TAGUCHI

III. METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Saufik Luthfianto, Siswiyanti, Ahmad Farid Program Studi Teknik Industri Universitas Pancasakti Tegal

PENGARUH JUMLAH BAKTERI METHANOBACTERIUM

I. PENDAHULUAN. Kelangkaan sumber bahan bakar merupakan masalah yang sering melanda

PERBAIKAN MUTU PADA PROSES DAN PRODUKSI SPUN-PILE DENGAN MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI

Penentuan Setting Optimal Dengan Menggunakan Metode Taguchi Dalam Proses Produksi Gypsum Interior Berdasarkan Pengujian Kuat Desak

JURNAL PENGEMBANGAN BIODIGESTER BERKAPASITAS 200 LITER UNTUK PEMBUATAN BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

Analisis Kelayakan Ekonomi Alat Pengolah Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Biogas

DESAIN EKSPERIMEN GUNA MENGURANGI CACAT PRODUKSI PADA PROSES EMBOSSING LABEL KULIT SAPI DI CELANA JEANS

SETTING PARAMETER PROSES PEMASANGAN LID CUP AIR MINUM DALAM KEMASAN (AMDK) DENGAN METODE TAGUCHI

PENGARUH PERLAKUAN BAHAN BAKU, JENIS MIKROBA, JUMLAH MIKROBA RELATIF, RASIO AIR TERHADAP BAHAN BAKU, DAN WAKTU FERMENTASI PADA FERMENTASI BIOGAS

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN NASKAH SOAL TUGAS AKHIR HALAMAN PERSEMBAHAN INTISARI KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB III METODE PENELITIAN. Objek penelitian adalah kompor induksi type JF-20122

Mengelola Eksperimen. 17 Oktober 2013

Transkripsi:

Pembuatan Biogas dari Kotoran Sapi dengan Metode Taguchi Debora Anne Yang Aysia, *), Togar Wiliater S. Panjaitan 2) dan Y. Ryan Adiputra H.S. 3) ) Industrial Engineering Department, Petra Christian University Siwalankerto 2-3, Surabaya, 60236, Indonesia e-mail: debbie@peter.petra.ac.id 2) Industrial Engineering Department, Petra Christian University 3) Industrial Engineering Department, Petra Christian University ABSTRACT The cow manure can be used for making fertilizer or biogas. The objective of this research is to find the best combination of factors and levels, for improving the quality of biogas, which can be used in the pasteurization process of milk production. A study case is done at a milk industry in the Middle Java province. Design of experiment with Taguchi method was used to find the best combination, for producing biogas with high methane percentage. The conclusion is made based on the analysis of mean and variance (signal to noise ratio) of the experiment s response. As a result, the best combinations are the ratio of grass and maize plant is : 0, without cutting process and they are given twice in a day ) ; the composition of biogas s making is liter of water for 3 kilograms cow manure 2) ; the amount of bio starter is 6 milliliters for every 30 kilograms biogas dough 3) ; and the food composition for a cow is 0,04 kilograms mineral, 0,03 kilograms sugar palm, 2 kilograms bran, and 8 kilograms tofu dregs 4). Keywords: Taguchi s method, design of experiment, biogas. PENDAHULUAN Desain eksperimen adalah serangkaian tes atau percobaan yang dilakukan secara berurutan dengan mengubah-ubah variabel input dalam suatu proses sehingga dapat melihat dan mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada variabel output (Montgomery, 200). Salah satu metode dalam desain eksperimen adalah metode Taguchi. Metode Taguchi digunakan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang dapat dikontrol, yang secara langsung dapat menyebabkan proses atau produk tidak peka terhadap pengaruh dari noice factor. Salah satu keuntungan metode Taguchi adalah jumlah percobaan yang dilakukan relatif lebih sedikit dibandingkan dengan metode yang lain. Signal to Noise Ratio (SNR) berguna untuk mengetahui faktor dan level yang mempunyai efek faktor SNR paling besar, sehingga dapat mengurangi variance (noise). S/N Ratio didapatkan dari pembagian kekuatan suatu faktor dengan kekuatan noise. Berikut ini perumusan SNR untuk karakteristik kualitas larger the better (Taguchi, 2005): () Dimana n adalah banyaknya replikasi dalam tiap eksperimen dan y adalah nilai respon pada cuplikan ke-i. Perhitungan efek tiap faktor dibutuhkan untuk mengetahui seberapa besar efek yang ditimbulkan oleh suatu faktor dalam mengurangi noise. Semakin besar efek faktor menunjukkan bahwa faktor tersebut adalah faktor yang paling berpengaruh. Efek tiap faktor dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (Taguchi, 2005):

Efek faktor = a SNR atau Efek faktor = a Ys Dimana a adalah jumlah munculnya tiap level faktor dalam suatu kolom matriks orthogonal dan Ys adalah mean dari tiap eksperimen. Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan bakteri. Biogas sebagian besar mengandung gas metana (CH 4 ) sebesar 55%-65% dan karbon dioksida (CO 2 ) sebesar 35%-45%, dan beberapa kandungan yang jumlahnya sekitar 0%-% diantaranya hydrogen (H 2 ), oksigen (O 2 ), nitrogen (N 2 ) dan Hidrogen Sulfida (H 2 S) (Abdul Kadir, 987). Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana (CH4). Kandungan metana yang semakin tinggi akan menyebabkan semakin besar pula kandungan energi (nilai kalor) pada biogas, dan sebaliknya. CV X merupakan sebuah industri susu sapi di kecamatan Purwodadi, Jawa Tengah. Salah satu produknya berupa susu pasteurisasi yang dikemas menyerupai bentuk bantal. Bahan baku didapatkan dari peternakan sendiri, dengan jumlah sapi produktif sekitar 60 ekor sapi. Selama ini, perusahaan hanya mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kandang. Oleh karena itu, perusahaan berupaya membuat biogas dari kotoran sapi, dimana biogas yang dihasilkan akan dipergunakan sebagai bahan bakar pada proses pasteurisasi susu, sehingga perusahaan dapat mengurangi biaya bahan bakar untuk proses pasteurisasi dengan memanfaatkan limbah sapi yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari kombinasi faktor dan level terbaik untuk menghasilkan biogas dari kotoran sapi dengan prosentase gas metana yang tinggi. Eksperimen dilakukan dengan metode Taguchi, dimana jumlah percobaan yang akan dilakukan relatif lebih sedikit, mengingat banyaknya faktor dugaan. METODE Tahapan penelitian pembuatan biogas untuk mendapatkan prosentase gas metana yang tinggi dapat dilihat pada Gambar. Respon yang dijadikan tolak ukur dalam pre-eksperimen dan eksperimen adalah prosentase metana dalam biogas dari kotoran sapi. Sebagai langkah awal, dilakukan studi literatur mengenai biogas dan bahan-bahan pembentuk biogas. Setelah itu, faktor dan level yang nantinya digunakan pada pre-eksperimen ditentukan melalui studi literatur dan wawancara dengan beberapa sumber, seperti Dinas Peternakan di Jawa Tengah, lembaga penelitian & pengbadian masyarakat, serta ahli. Survei lapangan baik di perusahaan maupun masyarakat dilakukan untuk menentukan kondisi awal dari segala aspek penyusun biogas. Kondisi awal ini akan dijadikan tolak ukur untuk penyeleksian faktor dan level yang digunakan pada eksperimen. Selanjutnya pre-eksperimen dilakukan dan prosentase metana dalam biogas diukur dengan menggunakan alat ukur tertentu. Hasil dari pre-eksperimen berupa penentuan faktor beserta level yang akan digunakan pada eksperimen. Setelah itu, eksperimen dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan metode eksperimen desain yang sesuai dengan hasil penyeleksian faktor dan level pada pre-eksperimen. Prosentase metana dalam biogas hasil eksperimen didapatkan dengan cara melakukan pengujian laboratorium. Tahap selanjutnya adalah pengolahan dan analisa data, serta penarikan kesimpulan. (2) 2

Start Start Merumuskan masalah Merumuskan masalah tujuan tujuan A A metode desain eksperimen metode desain eksperimen jumlah replikasi jumlah replikasi Respon Respon Studi Literatur Studi Literatur faktor dan level untuk pre-eksperimen faktor dan level untuk pre-eksperimen kondisi awal yang saat ini digunakan kondisi awal yang saat ini digunakan batasan yang digunakan pada pre-eksperimen batasan dan yang eksperimen digunakan pada pre-eksperimen dan eksperimen Melakukan preeksperimen Melakukan preeksperimen faktor dan level untuk eksperimen faktor dan level untuk eksperimen Melakukan eksperimen Melakukan eksperimen Mencatat hasil eksperimen pada tabel Mencatat random hasil factorial eksperimen design pada tabel random factorial design Melakukan pengolahan data sesuai dengan Melakukan metode yang pengolahan ditentukan data dengan sesuai dengan bantuan metode software yang ditentukan Minitab 4 dengan bantuan software Minitab 4 Menganalisa hasil pengolahan data Menganalisa hasil pengolahan data Menarik kesimpulan Menarik kesimpulan End End HASIL DAN PEMBAHASAN A A Gambar. Flowchart Penelitian Pre-eksperimen dan eksperimen yang dilakukan memiliki batasan-batasan yang bertujuan untuk meminimalkan tingkat error yang dihasilkan. Batasan-batasan tersebut adalah sebagai berikut: Jenis sapi yang digunakan adalah sapi betina dengan jenis sapi perah, melahirkan antara tiga sampai lima kali, dalam keadaan sedang tidak hamil atau sedang hamil dengan usia kehamilan maksimal tiga bulan. Pakan sapi seperti bekatul, jenjet, ampas tahu, kulit kopi, tebon dan rumput berasal dari satu supplier dari masing-masing pakan tersebut. Merk vitamin, merk mineral, jenis garam dan jenis gula aren yang diberikan pada sapi haruslah sama. Air minum yang digunakan untuk minum sapi adalah air hasil pengeboran sumur yang berasal dari daerah Purwodadi. Rumput yang digunakan adalah rumput gajah yang berasal dari daerah Jawa Tengah, khususnya di sekitar Purwodadi. Pembuatan campuran makanan dikerjakan pada saat akan diberikan. Makanan untuk seekor sapi yang berupa adonan antara vitamin, mineral, garam, gula aren, bekatul, jenjet, kulit kopi, ampas tahu dan air memiliki berat 40 kg tiap harinya. Ukuran kandang antara satu sapi dengan yang lainnya adalah sama sehingga tingkat stress sapi tidak berbeda-beda. Penimbangan pakan ternak dilakukan dengan menggunakan alat timbangan digital. Total jumlah kotoran ditambah dengan air yang dimasukkan ke dalam tempat pembuatan biogas adalah sama. 3

Semua peralatan yang digunakan untuk proses pembentukan biogas, baik itu tempat, ukuran plastik penampungan gas dan lain sebagainya memiliki jenis yang sama. Desain alat yang nantinya akan digunakan adalah menganut metode desain yang berasal dari India (lihat Gambar 2). Suhu yang diberikan pada alat yang dipergunakan untuk eksperimen adalah sama yaitu suhu udara luar di daerah Purwodadi. Biostater yang digunakan untuk pre-eksperimen ini adalah biostater cair dengan merk yang sama. Gambar 3. Desain Alat Pembuatan Biogas Masing-masing kombinasi percobaan akan dikerjakan dalam waktu tiga hari. Hal tersebut dikarenakan biogas yang dihasilkan oleh kotoran sapi tersebut akan tidak keluar lagi setelah tiga hari. Batasan selama tiga hari ini didasarkan pada percobaan awal.. Pre-eksperimen Pre-eksperimen dilakukan dengan tujuan menentukan level dari faktor yang diduga mempengaruhi output dari eksperimen. Hasil pre-eksperimen diukur dengan melakukan uji laboratorium. Hasilnya berupa tingkat prosentase metana pada sampel-sampel biogas yang telah dibuat. Berdasarkan hasil studi literatur dan wawancara dengan beberapa sumber, faktor yang mempengaruhi output dari eksperimen ini adalah tingkat stress sapi, makanan yang dimakan sapi, pola makan sapi, minuman yang diminum sapi, cuaca, iklim, suhu kandang dan perlakukan terhadap campuran dari adonan biogas itu sendiri. Faktor-faktor tersebut sebagian tidak dapat dikendalikan dan yang lainnya dapat dikendalikan. Faktor yang tidak dapat dikendalikan adalah cuaca, iklim, suhu kandang sedangkan faktor yang dapat dikendalikan adalah komposisi jenis makanan, frekuensi makan sapi, frekuensi pemberian rumput dan tebon, besarnya rumput dan tebon, komposisi rumput dan tebon, banyaknya air yang diminum, lamanya sapi tidak diikat dalam kandang, pergerakan sapi dalam kandang pada saat diikat, komposisi biogas, jenis zat cair yang digunakan untuk melarutkan kotoran, dan jumlah pemberian biostarter. Pemilihan level dari tiap faktor yang akan digunakan dalam pre-eksperimen dapat dilihat pada Tabel. Kondisi awal yang akan dipergunakan untuk membuat biogas dan kemudian hasilnya digunakan sebagai tolak ukur dalam pre-eksperimen adalah komposisi jenis makanan untuk seekor sapi dengan total 40 kg per hari adalah air 0.92 liter, vitamin 0-5 gr, mineral 4

30gr, garam 20gr, gula aren 20gr, bekatul 9 kg, jenjet 2.5 kg, kulit kopi 2.5 kg, ampas tahu 5 kg; frekuensi makan sapi sebanyak 2 kali/hari; frekuensi pemberian rumput dan tebon sebanyak 2 kali/hari; rumput dan tebon tidak dipotong, komposisi rumput dan tebon : dengan total 5 kg/hari, banyaknya air yang diberikan pada seekor sapi adalah 80 liter/hari; sapi dalam posisi diikat dalam kandang; pergerakan sapi dalam kandang adalah 80 0 ; komposisi biogas terdiri dari 2 kg kotoran dan liter cairan; jenis zat cair yang digunakan untuk melarutkan kotoran adalah air; serta tidak ada pemberian biostarter. 2. Eksperimen Tabel.Pemilihan Level No Faktor Level Satuan Komposisi Jenis Makanan a. Vitamin 0 dan 5 gram b. Mineral 30, 40, dan 50 gram c. Garam 20 dan 30 gram d. Gula aren 20 dan 30 gram e. Bekatul 7, 9, dan 2 kilogram f. Jenjet 0 dan 2,5 kilogram g. Kulit kopi 0 dan 2,5 kilogram h. Ampas tahu 3, 5, dan 8 kilogram 2 Frekuensi makan sapi per hari 2 dan 4 kali 3 Frekuensi pemberian rumput dan tebon per hari 2, 3, 4, 5, 6 kali 4 Besarnya rumput dan tebon, ¾, ½, ¼, dan maksimal cm ukuran asli 5 Komposisi rumput dan tebon (rumput : tebon ) :, :0, 0:, 3:, :3 6 Banyaknya air minum 80, 85, 90, dan 95 liter 7 Lamanya sapi tidak diikat dalam kandang 0, 6, 2, 8, 24 jam 8 Pergerakan sapi dalam kandang pada saat diikat 80 dan 360 derajat 9 Komposisi biogas (kotoran:cairan) 2:, 4:, 3:, :, 3:5, :2, 2:3, 3:4, 4:5, 4:6 kilogram:liter 0 Jenis zat cair yang digunakan untuk melarutkan kotoran Air, urine sapi, air ampas tahu Jumlah pemberian biostarter tiap 30 kg adonan biogas 0, 2, 4, 6 mililiter Penentuan faktor dan level untuk eksperimen dilakukan dengan mempertimbangkan hasil preeksperimen, dimana prosentase metana yang dihasilkan dari suatu kombinasi lebih tinggi dari prosentase metana dengan kondisi awal. Pertimbangan lain yang dilakukan adalah perlakuan yang berasal dari faktor dan level tidak menggangu kesehatan sapi dan produksi dari sapi tersebut sehingga tidak merugikan perusahaan. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Faktor dan Level yang Digunakan untuk Eksperimen Faktor Level 2 3 A. Komposisi rumput dan tebon :0 : - B. Frekuensi pemberian rumput dan tebon / hari 2 kali 3 kali - C. Besarnya rumput dan tebon Tidak dipotong Dipotong /4 bagian Dipotong maksimal cm D. Komposisi biogas (kotoran:cairan) 2:0 3:0 4:0 E. Jumlah pemberian biostarter 0 ml 3 ml 6 ml Mineral 0,04 kg Mineral 0,04 kg Mineral 0,03 kg Gula aren 0,03 kg Gula aren 0,03 kg Gula aren 0,02 kg F. Komposisi makanan/ hari Bekatul 2 kg Bekatul 0,5 kg Bekatul 9 kg Jenjet 0 kg Jenjet 0 kg Jenjet 2,5 kg Ampas tahu 8 kg Ampas tahu 6,5kg Ampas tahu 5 kg 5

Faktor dan level yang didapatkan dari pre-eksperimen menunjukkan bahwa terdapat enam faktor yang akan digunakan pada eksperimen, dimana faktor pertama dan faktor kedua memiliki dua level dan faktor ketiga sampai faktor keenam memiliki tiga level. Satu kali eksperimen membutuhkan waktu 3 hari dan untuk mengukur prosentase metana yang terdapat dalam biogas, perlu dilakukan uji laboratorium dengan biaya yang relatif tinggi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka dipilihlah metode Taguchi dengan replikasi sebanyak 2 kali dalam penelitian ini, dimana salah satu keunggulan metode ini adalah jumlah eksperimen yang harus dilakukan relatif lebih sedikit dibandingkan dengan metode eksperimen desain yang lain. Orthogonal array yang digunakan adalah L36, yang berarti jumlah percobaan yang harus dilakukan adalah sebanyak 36 kali dalam satu kali replikasi. Data hasil eksperimen dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Data Hasil Eksperimen Run A B C D E F Rep (%) Rep 2 (%) Run A B C D E F Rep (%) Rep 2 (%) 59,7 60, 9 2 2 3 6, 63,2 2 2 2 2 2 59,8 60,2 20 2 2 3 2 60,9 60,8 3 3 3 3 3 6, 59,6 2 2 3 3 2 6, 59,7 4 60, 62,2 22 2 2 2 3 60, 59,8 5 2 2 2 2 6,3 6,2 23 2 2 3 3 62, 6,7 6 3 3 3 3 60, 60,2 24 2 3 2 60,2 59,8 7 2 3 63, 60,2 25 2 3 2 59,8 63,2 8 2 2 3 6,3 6, 26 2 2 3 2 60, 62,7 9 3 3 2 62,3 60, 27 2 3 2 3 63, 59,7 0 2 3 2 59,6 59,8 28 2 2 3 2 2 60,5 59,8 2 2 2 3 59,7 60,3 29 2 2 2 3 3 60,7 6,2 2 2 3 3 2 6,3 6,7 30 2 2 3 2 6,4 59,6 3 2 2 3 6,8 65,2 3 2 2 3 3 3 6,2 60,3 4 2 2 3 2 66,3 59,7 32 2 2 2 59,8 6,3 5 2 3 2 3 60,3 60,8 33 2 2 3 2 2 2 60,2 60,7 6 2 2 3 2 63, 62,7 34 2 2 3 2 59,9 60,3 7 2 2 3 3 60,7 6, 35 2 2 2 2 3 60,2 6,8 8 2 3 2 63,2 60,2 36 2 2 3 2 3 60,6 59,9 3. Hasil Eksperimen Data hasil eksperimen pada Tabel 3 diolah dengan bantuan software Minitab 4. Berikut ini adalah perhitungan Signal to Noise Ratio (SNR) dan Main Effect Plot berdasarkan Signal to Noise Ratio dapat dilihat pada Gambar 3. Response Table for Signal to Noise Ratios Level A B C D E F 35.74 35.70 35.73 35.67 35.69 35.74 2 35.67 35.7 35.72 35.73 35.69 35.69 3 35.67 35.72 35.73 35.68 Delta 0.07 0.00 0.06 0.06 0.04 0.06 Rank 6 2 3 5 4 Dari hasil di atas terlihat bahwa faktor A yaitu komposisi rumput dan tebon memiliki pengaruh yang paling besar terhadap besarnya prosentase metana dalam biogas dari kotoran sapi, diikuti oleh faktor C, D, F, dan E. Sedangkan faktor B yaitu frekuensi pemberian rumput dan tebon dalam sehari memiliki pengaruh yang paling rendah (cenderung tidak berbeda), 6

sehingga dipilih level 2 kali dalam sehari karena lebih ekonomis dari sisi biaya. Tujuan dari penelitian adalah menghasilkan prosentase metana dalam biogas yang lebih tinggi, sehingga berdasarkan Gambar 3 kombinasi terbaik didapatkan pada faktor A level, faktor B level, faktor C level, faktor D level 2, faktor E level 3 dan faktor F level. Main Effects Plot (data means) for SN ratios 35.74 A B C 35.72 35.70 Mean of SN ratios 35.68 35.66 35.74 35.72 2 2 2 3 D E F 35.70 35.68 35.66 2 3 Signal-to-noise: Larger is better 2 3 2 3 Gambar 3. Main Effects Plot untuk SNR Berikut ini adalah perhitungan Mean dan Main Effect Plot berdasarkan Mean dapat dilihat pada Gambar 4. Response Table for Means Level A B C D E F 6.28 6.00 6.7 60.77 60.94 6.27 2 60.79 6.03 6.3 6.8 60.90 60.90 3 60.75 6.0 6.20 60.87 Delta 0.49 0.02 0.42 0.4 0.30 0.40 Rank 6 2 3 5 4 Main Effects Plot (data means) for Means A B C 6.2 6.0 Mean of Means 60.8 6.2 2 2 2 3 D E F 6.0 60.8 2 3 2 3 2 3 Gambar 4. Main Effects Plot untuk Mean 7

Dari hasil di atas terlihat bahwa pengolahan data berdasarkan mean memberikan hasil yang sama dengan pengolahan data berdasarkan Signal to Noise Ratio. Faktor A yaitu komposisi rumput dan tebon memiliki pengaruh yang paling besar terhadap besarnya prosentase metana dalam biogas dari kotoran sapi, diikuti oleh faktor C, D, F, dan E. Sedangkan faktor B yaitu frekuensi pemberian rumput dan tebon dalam sehari memiliki pengaruh yang paling rendah (cenderung tidak berbeda), sehingga dipilih level 2 kali dalam sehari karena lebih ekonomis dari sisi biaya. Kombinasi terbaik berdasarkan Gambar 4 didapatkan pada faktor A level, faktor B level, faktor C level, faktor D level 2, faktor E level 3 dan faktor F level. Hasil pengolahan dan analisa data berdasarkan Signal to Noise Ratio dan mean menunjukkan bahwa kombinasi terbaik didapatkan pada kondisi komposisi rumput dan tebon adalah : 0 dengan total 5 kg/ hari, frekuensi pemberian rumput dan tebon sebanyak 2 kali/hari, rumput dan tebon tidak dipotong, komposisi biogas terdiri dari 3 kg kotoran dan liter cairan, jumlah pemberian biostarter adalah sebesar 6 ml tiap 30 kg adonan bahan biogas, dan komposisi jenis makanan untuk sapi dengan total 40 kg/hari terdiri dari air 8 liter, vitamin 0-5 gr, mineral 40gr, garam 20gr, gula aren 30gr, bekatul 2 kg, jenjet 0 kg, kulit kopi 2.5 kg, ampas tahu 8 kg. KESIMPULAN DAN SARAN Kombinasi faktor dan level yang terbaik dari untuk menghasilkan biogas dari kotoran sapi dengan prosentase gas metana yang tinggi adalah komposisi rumput dan tebon adalah : 0 dengan total 5 kg/ hari, frekuensi pemberian rumput dan tebon sebanyak 2 kali/hari, rumput dan tebon tidak dipotong, komposisi biogas terdiri dari 3 kg kotoran dan liter cairan, jumlah pemberian biostarter adalah sebesar 6 ml tiap 30 kg adonan bahan biogas, dan komposisi jenis makanan untuk sapi dengan total 40 kg/hari terdiri dari air 8 liter, vitamin 0-5 gr, mineral 40gr, garam 20gr, gula aren 30gr, bekatul 2 kg, jenjet 0 kg, kulit kopi 2.5 kg, ampas tahu 8 kg. DAFTAR PUSTAKA (2pt Times new roman) Bagchi, Tapan. P. (993). Taguchi method explained. New Delhi: Prentice Hall of India Private Limited. Belavendram, Nicolo. (995). Quality by design: Taguchi techniques for industrial experimentation. London: Prentice Hall. Bhattacharya, G.K., Johnson, R.A. (977). Statistical concepts and methods. New York: John Wiley & Sons. Kadir, Abdul. (982). Energi. Jakarta: UI-PRESS. Montgomery, Douglas C. (200). Design and analysis of experiments. New York: John Wiley & Sons, Inc. Parnata, Ayub S. (2008). Pupuk organik cair. Yogyakarta: Agromedia Pustaka. Price, Elizabeth C dan Cheremisinoff, Paul N. (982). Biogas production and utilization. Michigan: Ann Arbor Science Publishers, Inc. Rukmana. (2009). Pemeliharaan sapi perah secara intensif. Bandung: Titian Ilmu Bandung. Taguchi, Genichi. (2005). Taguchi s quality engginering handbook. New Jersey: Hoboken. 8