Aspek Perpajakan Viability Gap Fund 1

dokumen-dokumen yang mirip
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

1 of 9 21/12/ :39

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

2015, No Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5178); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Ta

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat untuk mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan

FORMAT SURAT KEPUTUSAN PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK: KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BUKU PANDUAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK. Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Humas 2011

, No.2063 melaksanakan penyiapan dan pelaksanaan transaksi Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dan Menteri Keuangan menyediakan Dukunga

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

FORMAT SURAT KEPUTUSAN PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK : KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

SEKILAS TENTANG PEREKONOMIAN DAN FISKAL INDONESIA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-...(1) TENTANG PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sesuai dengan yang kita ketahui bahwa penerimaan negara untuk

2015, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tam

PPN TRANSAKSI LINTAS BATAS MENURUT UU PPN Oleh: Winarto Suhendro (Staf Pengadilan Pajak)

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2

KPBU sebagai Skema Pengadaan Infrastruktur Yang Akuntabel, Transparan dan Kompetitif

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala BAPPENAS

PERLAKUAN DAN FASILITAS PERPAJAKAN UNTUK KONTRAK INVESTASI KOLEKTIF DENGAN SKEMA TERTENTU (KIK-DIRE)

TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-...(1)...

MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 170/PMK.08/2015 TENT ANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEBIJAKAN INSENTIF PAJAK DAN DUKUNGAN FISKAL UNTUK R&D DI BEBERAPA NEGARA: INDIA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2018 TENTANG

2018, No Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan

FASILITAS PEMERINTAH UNTUK MENDUKUNG PROYEK KERJASAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA (KPBU)

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. pembukaan UUD 1945 alinea 4 yaitu, memajukan kesejahteraan umum. Agar tujuan

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-...(1)... TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ANALISIS PENERAPAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT LARIS MEDIA SELARAS TAHUN 2011

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. berhubungan dengan penghasilan juga berhubungan dengan Pajak

2017, No Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jenis Penerimaan & Pengeluaran Negara. Pertemuan 4 Nurjati Widodo, S.AP, M.AP

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

2015, No Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diatur dalam suatu Peraturan Menteri; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimak

BAB II KAJIAN PUSTAKA

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN

BAB I PENDAHULUAN. sumber utama penerimaan negara, sedangkan negara-negara miskin dan negara

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

RANCANGAN UNDANG UNDANG BIDANG KEUANGAN NEGARA YANG SEDANG DIBAHAS PEMERINTAH DENGAN DPR RI TAHUN 2016

GAMBARAN BEBAN PAJAK DI RS. ISLAM DAN PROSPEK KEDEPANNYA SERTA KONSESI PAJAK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 138 TAHUN 2000 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 62/PJ/2013 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 187/PMK.03/2015 TENTANG

Kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya diperkirakan mengakibatkan pengeluaran sumber daya entitas

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE- 62/PJ/2013 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN. satunya bersumber dari sektor perpajakan. Pajak adalah iuran rakyat kepada kas

..., ) Yth. Kepala Kantor Pelayanan Pajak... 3) Di... 4) Dengan hormat,

BAB III PAKAIAN BEKAS MENURUT UU NO. 42 TAHUN 2009 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai

KERJASAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA DIREKTORAT PENGELOLAAN DUKUNGAN PEMERINTAH DAN PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

..., ) Yth. Kepala Kantor Pelayanan Pajak... 3) Di... 4) Dengan hormat,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PERCEPATAN PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PRIORITAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) PROGRAM STUDI AKUNTANSI

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Yth. Kepala Kantor Pelayanan Pajak. 3) Di.. 4)

BAB I PENDAHULUAN. pajak, baik pajak pusat maupun pajak daerah, ini terbukti pada tahun 2014

ekonomi K-13 PERPAJAKAN K e l a s A. PENGERTIAN PAJAK Semester 1 Kelas XI SMA/MA K-13 Tujuan Pembelajaran

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

ALTERNATIF PEMBIAYAAN INFRASTRUKTUR

BAB I PENDAHULUAN. yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. dilihat dari peforma pembangunan infrastrukturnya. Maka dari itu, perbaikan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. sebelumnya, maka penulis membuat simpulan dari seluruh pembahasan yaitu sebagai

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. merupakan usaha mengadakan perubahan-perubahan menuju keadaan yang lebih

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pajak. Pajak adalah suatu kewajiban kenegaraan dan pengapdiaan peran aktif

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN. Kebijakan Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah

Transkripsi:

Aspek Perpajakan Viability Gap Fund 1 Oleh: Sofia Arie Damayanty dan Hadi Setiawan 2 Incentives are not strategy, they are tactics. Defensive measures. Carlos Ghosn Pemerintah Indonesia terus berupaya bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. World Economic Forum dalam The Global Competitiveness Report 2013-2014 menyatakan bahwa peringkat daya saing Indonesia mengalami peningkatan menjadi peringkat 38 dari 148 negara di dunia, setelah tahun sebelumnya hanya berada pada peringkat ke 50. Dalam hal daya saing, tahun ini Indonesia masih berada 1 peringkat di bawah Thailand, namun berada 22 peringkat di atas India. Hal ini menunjukkan bahwa di antara negara ASEAN, daya saing Indonesia masih belum lebih baik dibandingkan Thailand (dan tentunya dibandingkan Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia). Namun bila dibandingkan dengan negara dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang setara, daya saing Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan India (peringkat 60), walaupun masih tertinggal dibandingkan Cina (peringkat 29). Penyediaan infrastruktur yang memadai menjadi faktor utama ketiga (setelah korupsi dan inefisiensi birokrasi pemerintah) yang menghambat kemajuan daya saing Indonesia dibandingkan negara lain. Untuk itu pemerintah semakin mendorong akselerasi pembangunan infrastruktur baik dari segi pendanaan, pemberian insentif, dan inisiatif kerjasama pemerintah dan swasta (KPS). Upaya tersebut mulai menampakkan hasil, salah satunya terlihat dari semakin membaiknya peringkat infrastruktur Indonesia dalam The Global Competitiveness Report 2013-2014, dari peringkat 78 pada tahun 2012-2013, menjadi peringkat 61 pada tahun 2013-2014 atau meningkat sebesar 17 peringkat. Sekilas tentang VGF Salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur di tanah air adalah melalui pemberian Dukungan Kelayakan atas Sebagian Biaya Konstruksi Pada Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur atau disebut juga Viability Gap Fund (VGF). Insentif yang diberikan pemerintah ini merupakan dana dukungan dalam bentuk tunai yang disediakan pemerintah untuk pembangunan proyek infrastruktur yang dilaksanakan melalui skema 1 2 Artikel ini telah dimuat dalam Warta Fiskal Edisi 5 Tahun 2013. Peneliti pada Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, BKF Kementerian Keuangan. Penulis dapat dihubungi di sofia_arie@yahoo.com dan hadi.setia@gmail.com

Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS), untuk membuat suatu proyek yang sebelumnya kurang layak secara finansial menjadi layak secara finansial. Dukungan dalam bentuk tunai diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur khususnya untuk proyek yang secara finansial kurang layak, mengingat dukungan dalam bentuk lain yang selama ini diberikan oleh pemerintah kurang optimal dalam mempercepat pembangunan infrastruktur tersebut 3. Berdasarkan PMK Nomor 223/PMK.011/2012 tanggal 21 Desember 2012, selain bertujuan untuk meningkatkan kelayakan finansial proyek infrastruktur dengan skema KPS, VGF diharapkan juga meningkatkan kepastian pengadaan proyek KPS sesuai dengan kualitas dan waktu yang direncanakan, serta mewujudkan layanan publik yang tersedia melalui infrastruktur dengan tarif yang terjangkau oleh masyarakat. Dana VGF ini dialokasikan anggarannya oleh pemerintah melalui Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara sesuai dengan mekanisme APBN, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan negara, kesinambungan fiskal, dan pengelolaan risiko fiskal. Dukungan kelayakan atau VGF dapat diberikan setelah tidak terdapat lagi alternatif lain untuk membuat suatu Proyek Kerja Sama layak secara finansial. Adapun besarnya VGF yang diberikan dalam bentuk tunai kepada Proyek Kerja Sama adalah sebesar porsi tertentu 4 dari seluruh biaya konstruksi Proyek Kerja Sama, yang meliputi biaya konstruksi, biaya peralatan, biaya pemasangan, biaya bunga atas pinjaman yang berlaku selama masa konstruksi, dan biaya-biaya lain terkait konstruksi namun tidak termasuk biaya terkait pengadaan lahan dan insentif perpajakan. Mekanisme pemberian dukungan kelayakan atau VGF mulai dari pengajuan usulan dari Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) 5 sampai dengan pemberian dukungan secara ringkas adalah sebagaimana terlihat pada Gambar 1. Dalam memberikan rekomendasi dan VGF, Menteri Keuangan mendapatkan masukan dari Komite Dukungan Kelayakan yang meliputi unit-unit terkait internal Kementerian Keuangan, diantaranya Badan Kebijakan Fiskal, Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, dan Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. 3 Setiawan, Hadi. 2012. Belajar VGF ke India dalam Info Risiko Fiskal Edisi 1 Tahun 2012 4 Porsi tertentu dalam hal ini tidak mendominasi biaya konstruksi Proyek Kerja Sama 5 PJPK adalah pihak-pihak yang mengatur mengenai Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastrukur yang memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan pengadaan infrastruktur

Pengajuan usulan prinsip oleh PJPK Persetujuan prinsip Preliminary Qualification Penghitungan dan besaran dukungan Pelelangan Rekomendasi dan pemberian dukungan Gambar 1. Mekanisme Pemberian VGF Perlakuan Perpajakan Terhadap Pemberian VGF Karena merupakan suatu mekanisme pemberian insentif yang baru diterapkan di Indonesia, investor maupun pemerintah sendiri masih mencari bentuk penyesuaian perlakuan perpajakan atas transaksi pemberian VGF dari pemerintah kepada Badan Usaha pelaksana proyek KPS. Jika kita telaah lebih dalam maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan perlakuan perpajakan atas transaksi pemberian VGF tersebut. Hal-hal tersebut antara lain i) apakah pemberian VGF tersebut merupakan objek pajak penghasilan bagi Badan Usaha pelaksana proyek? ii) apakah pemberian VGF tersebut terutang PPh Pemotongan dan Pemungutan? iii) apakah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan dana VGF dapat dijadikan pengurang penghasilan bruto? iv) apakah biayabiaya termasuk biaya penyusutan yang dikeluarkan oleh Badan Usaha yang berasal dari dana VGF, apakah bisa dijadikan pengurang penghasilan bruto? dan v) apakah pemberian VGF tersebut terutang PPN? Dari beberapa pertanyaan tersebut, pertanyaan yang krusial atas pemberian VGF oleh pemerintah kepada Badan Usaha adalah apakah penghasilan VGF tersebut merupakan objek pajak? Mengacu kepada UU Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (1) antara lain menyebutkan bahwa Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun.... Sedangkan Pasal 4 ayat (3) dan penjelasannya antara lain menyebutkan bahwa bantuan atau sumbangan bagi pihak yang menerima bukan merupakan objek pajak sepanjang diterima tidak dalam rangka hubungan kerja, hubungan usaha, hubungan kepemilikan, atau hubungan penguasaan diantara pihak-pihak yang bersangkutan. Contoh hubungan usaha adalah PT A sebagai produsen suatu jenis barang yang bahan baku

utamanya diproduksi oleh PT B. Apabila PT B memberikan sumbangan bahan baku kepada PT A, sumbangan bahan baku yang diterima oleh PT A merupakan objek pajak. Pemberian VGF apakah dapat digolongkan sebagai bantuan atau sumbangan? Hal ini lah yang harus dijawab oleh Pemerintah. Dalam menjawab hal tersebut, Pemerintah harus mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi yang bakal terjadi. Jika pemberian VGF tersebut dianggap sebagai objek pajak, maka ada konsekuensi pajak yang harus ditanggung oleh Badan Usaha pelaksana proyek karena VGF akan dianggap sebagai penghasilan mereka dan dimasukkan dalam laporan laba rugi. Hal tersebut akan kembali mempengaruhi perhitungan IRR proyek yang berarti dalam menghitung jumlah VGF yang akan diberikan Pemerintah harus memperhitungkan aspek perpajakan sehingga proyek tersebut dapat dianggap layak secara finansial. Konsekuensi lainnya jika pemberian VGF dianggap sebagai objek pajak adalah jumlah penerimaan negara dari sisi perpajakan dipastikan naik. Sebaliknya jika pemberian VGF digolongkan sebagai bukan objek pajak sesuai dengan Pasal 4 ayat (3), maka akan menimbulkan konsekuensi berkurangnya penerimaan negara dari sektor perpajakan sebaliknya hal tersebut akan menguntungkan bagi Badan Usaha pelaksana proyek KPS. Selain itu Pemerintah juga tidak perlu memasukkan unsur perpajakan dalam menghitung besaran VGF yang diberikan kepada Badan Usaha. Selanjutnya tugas pemerintah adalah menentukan apakah pemberian VGF ini merupakan objek pajak atau tidak, tentu saja dengan mempertimbangkan konsekuensi yang terbaik bagi negara dan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Hal tersebut sangat krusial karena status pemberian VGF (apakah termasuk objek pajak atau tidak) akan berpengaruh untuk menjawab pertanyaan nomor 2 dan nomor 3. Jika pemberian VGF digolongkan sebagai objek pajak maka berkonsekuensi pemberian tersebut juga terutang PPh Pemotongan dan Pemungutan yaitu PPh Pasal 22 atau PPh Pasal 23 atau PPh Pasal 4 ayat 2. Sebaliknya jika bukan objek pajak maka tidak akan terutang PPh Pemotongan dan Pemungutan. Demikian juga hal nya dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Badan Usaha untuk mendapatkan dana VGF (seperti biaya konsultan, dan lain-lain), jika pemberian VGF tersebut merupakan objek pajak maka biaya-biaya tersebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dan sebaliknya. Bagaimana dengan biaya-biaya termasuk biaya penyusutan yang dikeluarkan oleh Badan Usaha, apakah bisa dijadikan pengurang penghasilan bruto? Sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) UU PPh, biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Oleh karena itu sepanjang biaya-biaya tersebut memenuhi persyaratan sebagaimana disebutkan

dalam Pasal 6 ayat (1) UU PPh maka biaya-biaya itu dapat dijadikan pengurang penghasilan bruto. Aspek perpajakan berikutnya yang harus diperhatikan oleh Pemerintah adalah terkait dengan PPN. Apakah pemberian VGF tersebut terutang PPN? Berdasarkan UU Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas barang Mewah, Pasal 4 dan penjelasannya menyatakan bahwa PPN dikenakan atas Penyerahan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak didalam daerah pabean yang dilakukan oleh Pengusaha. Oleh karena itu menurut penulis, jika tidak ada penyerahan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak dari Badan Usaha kepada Pemerintah, maka atas pemberian Dukungan Kelayakan (VGF) juga tidak akan terutang PPN. Demikian juga dengan Faktur Pajak Masukan yang diterima oleh Badan usaha sehubungan dengan biaya/kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dana VGF tersebut juga menjadi tidak dapat dikreditkan. Penutup Aspek perpajakan terkait dengan pemberian VGF masih menjadi salah satu tugas yang harus diselesaikan oleh Pemerintah, terutama terkait dengan status objek pajak dari pemberian VGF tersebut. Mengingat pemberian VGF ini merupakan hal/transaksi yang baru dalam kegiatan suatu badan usaha maupun Pemerintah, maka peraturan/kebijakan khusus yang mengatur mengenai perlakuan perpajakannya adalah suatu keniscayaan sehingga hal tersebut tidak menimbulkan perbedaan pendapat/tafsir di lapangan baik bagi fiskus maupun Wajib Pajak (Badan Usaha). Kita tentunya percaya bahwa seluruh insentif yang diberikan oleh pemerintah adalah semata-mata merupakan upaya untuk mendukung kelancaran pembangunan dengan kesejahteraan masyarakat sebagai ultimate goal. Demikian pula dengan adanya VGF ini diharapkan dapat mendorong pembangunan infrastruktur di Indonesia. Untuk itu keselarasan operasional termasuk juga penerapan peraturan perpajakan menjadi tugas pemerintah agar kebijakan baru ini dapat memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan.