Boks 3 SURVEI PREFERENSI UANG LOGAM. Latar Belakang Berdasarkan data perkembangan inflow-outflow uang yang dikelola Kantor Bank Indonesia Kendari sepanjang tahun 200 terlihat bahwa uang logam pecahan Rp500 ke bawah menunjukkan trend inflow yang cukup signifikan. Grafik. Inflow Outflow Uang Logam 500,000,000 400,000,000 300,000,000 200,000,000 00,000,000 (00,000,000) (200,000,000) (300,000,000) JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOPEMBER DESEMBER (400,000,000) (500,000,000) outflow inflow selisih Sumber: KBI Kendari Berdasarkan informasi dari seksi Perkasan, berkurangnya penggunaan uang logam khususnya pecahan Rp00,00 dan Rp200,00 antara lain diakibatkan adanya penolakan oleh pihak pedagang untuk menerima pembayaran dengan alasan uang tersebut sudah tidak berlaku dan bank tidak mau menerima setoran dengan uang logam pecahan Rp00,00 dan Rp200,00. Isu tersebut terjadi di Kota Raha, Kabupaten Muna. Untuk membuktikan hal ini, dan kemungkinan terjadi pula di wilayah lainnya maka perlu dilakukan survei yang komprehensif. Tujuan survei ini adalah untuk mengetahui preferensi masyarakat terhadap penggunaan uang logam, sehingga diketahui alasan untuk menggunakan atau tidak menggunakan uang logam dalam kegiatan transaksi sehari-hari. Survei dilakukan di Kota Kendari, Kota Raha dan Kota Bau-Bau. Pemilihan daerah survei ini didasarkan pada pertimbangan bahwa ketiga kota tersebut merupakan sentra ekonomi di provinsi Sulawesi Tenggara.
2. Awareness Uang Logam Pemahaman responden mengenai nominal pecahan uang logam yang beredar saat ini masih cukup bervariasi, baik responden pedagang maupun responden perorangan, namun tidak ada responden yang mengetahui secara tepat jumlah dan nominal uang logam yang beredar saat ini (Grafik 2). nominal uang logam yang beredar saat ini sebanyak 6 jenis yaitu Rp,00, Rp50,00, Rp00,00, Rp200,00, Rp500,00, dan Rp000,00. Grafik 2. Jenis Nominal Uang Logam Beredar Menurut Responden Pedagang dan Perorangan (Rp00, Rp200, Rp500, Rp000) (Rp500, Rp000) (Rp50, Rp00, Rp200, Rp500, Rp000) (Rp50, Rp00, Rp500, Rp000, Rp2000) 3 0 2 25 (Rp50, Rp00, Rp200, Rp500, Rp000) (Rp00, Rp200, Rp500, Rp000) (Rp500, Rp000) (Rp0, Rp50,Rp00, Rp200, Rp500, (Rp25, Rp00, Rp500, Rp000) 3 2 26 28 (Rp00, Rp500) (Rp50, Rp00, Rp200, Rp500, Rp000, (Rp200, Rp500, Rp000) (Rp00, Rp200, Rp500) 2 (Rp25, Rp50, Rp00, Rp200, Rp500) (Rp200, Rp500, Rp000) (Rp00, Rp200, Rp000) (Rp00, Rp500) (Rp00, Rp000) 0 5 0 5 20 25 30 0 5 0 5 20 25 30 3. Penerimaan Uang Logam Selanjutnya, rata-rata penerimaan uang logam per hari baik responden bank, pedagang, maupun perorangan masih cukup bervariasi, dengan 8,46% dari total responden menyatakan hampir tidak pernah menerima uang logam dalam aktivitasnya sehari-hari (Tabel). Dari seluruh reponden yang pernah menerima uang logam, uang logam pecahan Rp500, dan Rp000 yang paling banyak diterima dalam transaksi harian (Tabel 2). Tabel. Rata-Rata Penerimaan Uang Logam Per Hari No Rata Rata Penerimaan Bank Pedagang Perorangan Responden Persentase Hampir tidak pernah 4 9 5 24 8.46 2 2 kali 6 4 32 46 35.38 3 3 5 kali 6 4 20 34 26.5 4 5 0 kali 2 2 3 5.54 5 lebih 0 kali 2 6 5 8.46 20 55 75 30 00.00 Sumber: Data Primer, Desember 200 65
Tabel 2. Urutan Uang Logam yang Sering Diterima oleh Responden Responden Urutan Bank Pedagang Perorangan Rp500 Rp500 Rp500 2 Rp00 Rp000 Rp200 3 Rp200 Rp200 Rp00 4 Rp000 Rp00 Rp000 5 Rp50 Rp50 Rp50 Berdasarkan tempat penerimaan uang logam, sebagian besar responden menerima dari rumah makan yaitu 29,7 %, kemudian disusul dari pasar dan toko/swalayan yaitu masingmasing sebanyak 26,04 %, lainnya sebanyak 6,5 %, dan Bank 2,60 %. 4. Penolakan Penerimaan Uang Logam Mengacu pada isu yang beredar tentang tidak berlakunya beberapa jenis uang logam, Sebagian besar responden, baik responden bank, pedagang, maupun perorangan menyatakan tidak pernah menolak menerima uang logam dan hanya sebagian kecil yang menolak menerima uang logam. Hasil survei menunjukkan bahwa terdapat 4 orang responden bank yang pernah menolak menerima uang logam, 9 orang responden pedagang pernah menolak menerima uang logam, dan 3 orang responden perorangan pernah menolak menerima uang logam. Responden Bank menyatakan alas an menolak untuk menerima uang logam adalah. Nasabah membawa uang logam dalam keadaan tidak rapi (bercampur dengan kapur) sehingga menghambat transaksi di teller; 2. Ketentuan Bank Indonesia; 3. Uang belum disusun. Adapun alasan responden pedagang menolak untuk menerima uang logam adalah. Susah disimpan; 2. Mudah hilang; 3. Banyak yang menolak; 4. Ragu tidak dapat ditukar lagi. Sementara itu, responden perorangan menyatakan alasan menolak untuk menerima uang logam adalah. Susah disimpan; 2. Mudah hilang; 3. Berat untuk dibawa; 4. Repot dibawa; 66
5. Isu tidak laku. Berdasarkan daerahnya, penolakan untuk menerima uang logam paling tinggi terjadi di Bau-Bau dan Raha yaitu masing-masing sebesar 30,00% dan 20,00% dari total responden pernah menolak menerima uang logam (Grafik 3). Grafik 3 Persentase Penolakan Penerimaan Uang Logam Berdasarkan Daerah Kendari 84% 6% Raha 80% 20% Bau Bau 70% 30% 0% 20% 40% 60% 80% 00% Tidak pernah menolak Pernah menolak 5. Penggunaan Uang Logam Penggunaan uang logam sebagai alat transaksi relatif rendah. Sebanyak 43,33% orang responden menggunakan uang logam rata-rata per hari -2 kali saja. Penggunaan itu sebagian besar dilakukan oleh responden perorangan, kemudian pedagang dan bank. Hanya 0,67% orang responden yang menggunakan uang logam lebih 0 kali per hari (Tabel 3). Tabel 3. Rata-Rata Penggunaan Uang Logam No Rata Rata Penggunaan Bank Pedagang Perorangan Responden Persentase Hampir tidak pernah 7 8 7 32 2.33 2 2 kali 8 2 36 65 43.33 3 3 5 kali 4 7 7 28 8.67 4 5 0 kali 5 3 9 6.00 5 lebih 0 kali 0 4 2 6 0.67 20 55 75 50 00.00 Sumber: Data Primer, Desember 200 Penggunaan uang logam yang relatif rendah terjadi pada semua daerah survei bahkan di Kota Raha responden perorangan sebagian besar mengatakan rata-rata per hari hampir tidak menggunakan uang logam sebagai alat transaksi (Grafik 4). Rendahnya penggunaan uang logam sebagai alat transaksi terutama di Kota Raha dan Bau-Bau disebabkan isu yang sudah 67
merebak sampai ke pelosok bahwa pecahan uang logam selain Rp500 dan Rp000 tidak berlaku lagi. Grafik 4 Persentase Penggunaan Uang Logam Per Hari Berdasarkan Daerah Kendari 9% 37% 23% 8% 3% Raha 34% 40% 4% 0% % Bau Bau 30% 25% 30% 5% 0% 0% 20% 40% 60% 80% 00% hampir tidak pernah 2 kali 3 5 kali 5 0 kali lebih dari 0 kali 6. Penolakan Penggunaan Uang Logam Meskipun uang logam masih digunakan sebagai alat transaksi namun sebagian masyarakat telah mengalami penolakan pada saat menggunakan uang logam sebagai alat transaksi. Berdasarkan daerahnya, penolakan penggunaan uang logam paling tinggi terjadi di Raha dan Bau-Bau yaitu masing-masing sebesar 49,00% dan 37,00% dari total responden pernah menolak menerima uang logam (Grafik 5). Grafik 5 Persentase Penolakan Penggunaan Uang Logam Per Hari Berdasarkan Daerah Kendari 83% 7% Raha 5% 49% Bau Bau 63% 37% 0% 20% 40% 60% 80% 00% Tidak pernah menolak Pernah menolak Penolakan penggunaan uang logam tidak saja terjadi di Kota Raha dan Bau-Bau tetapi juga di Kota Kendari. Nilai nominal pecahan uang logam yang pernah ditolak adalah Rp50,00, Rp00,00, Rp200,00 bahkan satu orang responden di Kota Kendari mengatakan pernah ditolak pada saat menggunakan pecahan Rp500,00. 68
Kontaminasi isu tidak berlakunya uang logam tidak mustahil akan masuk ke Kota Kendari dalam waktu yang singkat mengingat mobilitas/interaksi masyarakat Kota Kendari dengan Kota Raha dan Bau-Bau cukup tinggi bahkan banyak masyarakat bertempat tinggal di Kota Kendari namun mereka adalah penduduk Kota Raha atau Kota Bau-Bau. 7. Persepsi Uang Logam Yang Tidak Berlaku Isu tidak berlakunya uang logam nominal tertentu tidak hanya terdengar oleh responden Kota Raha dan Bau-Bau tetapi juga oleh masyarakat Kota Kendari. Khusus di Kota Raha dan Bau-Bau, semua responden pernah mendengar isu tersebut. Pecahan uang logam yang diisukan tidak berlaku adalah pecahan Rp50,00 dan Rp00,00. Isu tidak berlakunya uang logam tertentu sebagian besar responden telah mempertanyakan ke bank dan telah mendapat penjelasan. Tabel 4. Pecahan Uang Logam Yang Diisukan Tidak Berlaku No Nilai Pecahan Logam Pedagang Perorangan Rp50.00 45 8 2 Rp00.00 53 0 3 Rp500.00 2 0 4 Rp,000.00 0 0 00 8 Sumber: Data Primer, Desember 200 Dengan merebaknya isu tidak berlakunya uang logam pecahan tertentu maka di Kota Raha dan Bau-Bau tidak ditemukan lagi pecahan uang logam selain Rp000,00 dan Rp500,00. Pada Tabel 5 di bawah tampak bahwa 84,48% orang responden tidak menggunakan lagi uang yang diisukan tidak berlaku dan sebanyak 5,52% orang responden yang menyatakan masih menggunakan. Tabel 5. Penggunaan Uang Logam Yang Diisukan Tidak Berlaku No Penggunaan Uang Logam Pedagang Perorangan Ya 6 0 2 Tidak 32 8 48 8 Sumber: Data Primer, Desember 200 Responden yang masih menggunakan uang logam yang diisukan tersebut umumnya adalah responden di Kota Kendari, sebagian kecil di Kota Bau-Bau dan Raha (grafik 7) yaitu responden pedagang yang skala usahanya relatif besar/maju dan mengetahui bahwa uang tersebut tetap berlaku. 69
Grafik 7 Persentase Penggunaan Uang Logam Yang Diisukan Tidak Berlaku Berdasarkan Daerah Kendari 6% 39% Raha 40% 60% Ya Tidak Bau Bau 9% 8% 0% 20% 40% 60% 80% 00% 8. Preferensi Uang Logam Selain pertanyaan tentang isu tidak berlakunya beberapa jenis uang logam, kepada responden juga ditanyakan preferensi mereka terhadap penggunaan uang logam. Berdasarkan hasil survey, 90,53% orang responden mengatakan uang logam masih diperlukan dengan alasan untuk pengembalian pembayaran terhadap barang. Pecahan nominal uang logam yang masih dibutuhkan masyarakat yaitu Rp500,00 kemudian Rp000,00 dan Rp200,00. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 6 berikut. Tabel 6. Preferensi Pecahan Uang Logam No Nilai Nominal Bank Perdagangan Perorangan Rp.00 2 Rp25.00 3 Rp50.00 4 4 Rp00.00 5 32 8 5 Rp200.00 3 3 6 6 Rp500.00 8 84 6 7 Rp,000.00 72 53 8 Rp2,000.00 72 23 9 Lainnya 0 2 2 8.00 265.00 77.00 Sumber: Data Primer, Desember 200 Meskipun dibutuhkan, beberapa responden mengemukakan ketidaksukaannya terhadap uang logam karena susah dibawa dan susah disimpan (gampang hilang). Sedangkan masalah yang dikeluhkan oleh responden bank adalah tempat penyimpanan uang logam yang terbatas dan tidak adanya alat sortiran sehingga penortiran uang logam dilakukan secara manual. 70
9. Kesimpulan Berdasarkan hasil Survei Preferensi atas Uang Logam, dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Jenis pecahan uang logam yang beredar dan dikenali oleh responden pedagang adalah 4 (empat) jenis yaitu Rp00,00, Rp200,00, Rp500,00 dan Rp000,00,sedangkan menurut responden perorangan terdiri dari 5 jenis yaitu Rp50,00, Rp00,00, Rp200,00, Rp500,00 dan Rp000,00 b. Rata-rata penerimaan uang logam per hari adalah berkisar s.d. 5kali per hari. c. Itensitas uang logam yang sering diterima dan digunakan oleh responden adalah pecahan uang logam dengan nominal Rp500,00, Rp200,00, Rp00,00 dan Rp000,00. Tempat yang sering menerima uang logam adalah rumah makan, pasar dan toko/swalayan. d. Sebagian besar responden tidak pernah menolak pembayaran transaski dari uang logam. Meskipun relatif rendah, penolakan uang logam pernah terjadi bukan hanya di Kota Raha dan Bau-Bau tetapi juga di Kota Kendari. Penolakan bukan hanya oleh pedagang dan perorangan tetapi bank juga pernah menolak untuk penukaran. 0. Saran-Saran a. Berkaitan dengan isu tidak berlakunya uang logam dengan pecahan nominal tertentu, khususnya Kota Raha dan Bau-Bau maka Bank Indonesia Kendari sebaiknya melakukan aksi/kegiatan (sosialisasi) Kita cinta uang logam. antara lain melalui media cetak atau elektronik. Kegiatan tersebut juga sebaiknya dilakukan di seluruh kota di provinsi Sulawesi Tenggara dan secara continue. b. Bank Indonesia Kendari melalui Kas Keliling juga dapat dengan menerima penukaran uang logam dengan nominal apa saja. c. Bank Indonesia Kendari dapat menyelenggarakan perlombaan/pertandingan yang hadiahnya berupa uang logam. 7
Halaman ini sengaja dikosongkan 72