MAKALAH PELAYANAN PUBLIK

dokumen-dokumen yang mirip
WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 02 TAHUN 2005 TENTANG

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KOTA BATAM TAHUN ANGGARAN 2016

WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 4 TAHUN 2002 TENTANG PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA BATAM PROPINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN WALIKOTA BATAM NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KECAMATAN DAN KELURAHAN

LAKIP. Laporan Akuntabilias Kinerja Instansi Pemerintah. Pemerintah Kota Batam

Lampiran I.21 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014

Lampiran I.21 PENETAPAN DAERAH PEMILIHAN DAN JUMLAH KURSI ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DALAM PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014

Dengan berlakukunya Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999, maka Kotamadya Administratif Batam berubah menjadi daerah otonom Kota Batam dengan membawahi 8

The change status / level of Batam district into Batam Administration Municipality, it divided into 3 Districts. Administrations

Persyaratan Pendataan. Persayaratan Pendaftaran

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kondisi ekonomi, sosial dan pertumbuhan penduduk

DAFTAR LOKASI DAN ALOKASI PNPM MANDIRI PERKOTAAN T,A,2013 PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Sekapur Sirih. Batam, Agustus 2010 Kepala Badan Pusat Statistik Kota Batam. Endang Retno Srisubiyandani, S.Si

BAB II BATAM DAN SOSIAL KEAGAMAAN. Propinsi Kepulauan Riau. Secara geografis Kota Batam terletak pada posisi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

PENERAPAN BALANCED SCORECARD DALAM PENGUKURAN KINERJA PELAYANAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA BATAM

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Transportasi terdiri dari dua aspek, yaitu (1) prasarana atau infrastruktur seperti jalan raya, jalan rel, bandar udara dan pelabuhan laut; serta (2)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perekonomian dapat berfungsi dengan baik. Sulivan, Arthur, dan Steven M.

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN. Rekapitulasi Belanja Langsung Berdasarkan Program dan Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1

PERHITUNGAN PEMBIAYAAN PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 185 TAHUN 2014 TENTANG PERCEPATAN PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang meningkat menyebabkan kebutuhan

KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh:

PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN SISWA BARU (PSB) TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK TAHUN PELAJARAN 2010/2011 KOTA BATAM

BAB 1 MEMORANDUM PROGRAM SANITASI (MPS) KOTA TERNATE BAB PENDAHULUAN

Konsep Program Hibah Air Minum Perdesaan Sumber Dana APBN Murni TA 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. Faktor-faktor yang..., Muhammad Fauzi, FE UI, 2010.

RANCANGAN PERATURAN MENTERI TENTANG PENYELENGGARAAN PELABUHAN PENYEBERANGAN MENTERI PERHUBUNGAN,

BAB I PENDAHULUAN. transportasi dan komunikasi yang sangat diandalkan dalam mewujudkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Beberapa pokok utama yang telah dicapai dengan penyusunan dokumen ini antara lain:

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG

I. PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB I. PENDAHULUAN. aktivitas mereka sehari-hari. Air memegang peranan penting bagi kehidupan

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN

BAB 3 GAMBARAN UMUM KOTA BATAM

BAB I PENDAHULUAN. MPS Kabupaten Pesawaran Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerj

REKLAMASI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH -Tantangan dan Isu-

RENCANA INDUK SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM (RISPAM) KOTA BALIKPAPAN

PROFIL PELAKSANAAN PROGRAM KOTA TANPA KUMUH (KOTAKU) KOTA TANJUNGBALAI

INFRASTRUKTUR AIR MINUM BERKELANJUTAN

BAB III DESKRIPSI WILAYAH. sebagai salah satu destinasi utama bisnis dan perdagangan. pembangunan infrastruktur dan properti di Kota Batam.

BAB IV KONDISI UMUM KABUPATEN BOGOR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20/PRT/M/2017PRT/M/2017 TENTANG PENYEDIAAN RUMAH KHUSUS

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

BAB I PENDAHULUAN. dan peruntukannya, demikian juga halnya dengan daerah Kota Batam. Berdasarkan Undang-

MATRIKS 2.2.B ALOKASI PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2011 Bidang: Sarana dan Prasarana

Pengembangan Pantura Jakar ta

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH Bujur Timur dan Lintang Utara, dengan batas. Utara : Kabupaten Siak dan Kabupaten Kampar

PEMASARAN PRODUK INDUSTRI KONSTRUKSI PRACETAK PRATEGANG

BAB II GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 MEMORANDUM PROGRAM SANITASI 2014

PEMERINTAH KOTA BATAM

PROFILE PELABUHAN PARIWISATA TANAH AMPO

2016, No Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4956); 4. Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan A

BUKU 1 PETUNJUK PELAKSANAAN PERSIAPAN

Oleh: ARI YANUAR PRIHATIN, S.T. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bangka Tengah

PROFIL KABUPATEN / KOTA

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kota Tanjungpinang merupakan Ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Sesuai

DOKUMEN PELAKSANAAN PERUBAHAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DPPA - SKPD 2.2

Luas Wilayah Provinsi DKI Jakarta

LATAR BELAKANG PESERTA JADWAL DAN LOKASI PELAKSANAAN. Lampiran Surat Nomor : Tanggal :

2018, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan

PROVINSI SUMATERA UTARA

BAB III GAMBARAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Kerja Tahunan

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERMASALAHAN DAN SOLUSI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI KOTA BATAM

Analisis Pola Permukiman Menggunakan Data Penginderaan Jauh di Pulau Batam

BELAWAN INTERNATIONAL PORT PASSANGER TERMINAL 2012 BAB I. PENDAHULUAN

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DIREKTORAT TATA RUANG LAUT PESISIR DAN PULAU-PULAU

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA AKSI DAERAH AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN KABUPATEN KUDUS BUPATI KUDUS,

BAB I PENDAHULUAN. Tenggara Timur yang terletak di daratan Pulau Flores. Wilayah Kabupaten

TUGAS FUNGSI DAN ALAMAT UNIT KERJA DI LINGKUNGAN BADAN PENGUSAHAAN BATAM

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan Negara berkembang yang terdiri dari 34 Provinsi yang

I. PENDAHULUAN. Pembangunan infrastruktur merupakan bagian dari pembangunan nasional.

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

KERANGKA ACUAN KERJA KEGIATAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kabupaten Sikka dengan ibu kotanya bernama Maumere merupakan salah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

MAKALAH PELAYANAN PUBLIK INTERKONEKSI JARINGAN PIPA AIR BERSIH BAWAH LAUT ANTAR PULAU SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PELAYANAN AIR BERSIH/AIR MINUM DI WILAYAH HINTERLAND KOTA BATAM

BAB I MASALAH, PENDEKATAN, DAN HASIL 1.1 Alasan Pengembangan Program dan Permasalahan yang Dihadapi Kota Batam terdiri 12 kecamatan dengan luas 426 km 2 dan 74,62 % diantaranya lautan merupakan daerah kepulauan yang memiliki ± 400 pulaupulau kecil (hinterland) dan Pulau Batam (mainland) dengan jumlah penduduk ± 1,2 juta jiwa, mayoritas masyarakat hinterland bermata pencaharian nelayan. Secara geografis Kota Batam berada pada jalur pelayaran internasional yang berbatasan langsung dengan negara tetangga (Singapura). Adanya disparitas (kesenjangan) pelayanan air bersih antara daerah Pulau Batam (mainland) dan Pulau-pulau sekitarnya (hinterland). Cakupan pelayanan air bersih di Pulau Batam (mainland) sebesar 97 % melebihi target MDGs 2015 sebesar 68 %, sedangkan cakupan pelayanan air bersih di wilayah hinterland baru mencapai 15 % (data terlampir). Disamping cakupan pelayanan yang rendah wilayah pulau-pulau kecil (hinterland) Kota Batam juga dihadapkan kepada kesulitan mengakses sumbersumber air bersih, dimana selama ini dibeli dari penjual air menggunakan boat air dengan biaya yang sangat mahal yaitu ± Rp. 10.000,-/drum atau Rp. 50.000,- /m3 sehingga pengeluaran biaya rata-rata per bulan 1 keluarga untuk air bersih ± Rp. 450.000,- dan ditambah lagi kondisi bahwa tidak setiap saat air bisa dibeli tergantung kepada kedatangan penjual air ke lokasi pulau tersebut. Masalah utama di wilayah hinterland yaitu tidak memiliki sumber air alternatif yang bisa dijadikan sebagai sumber air bersih seperti sumur dalam /sumur bor untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Permasalahan ini akan semakin kompleks apabila penyediaan air bersih di wilayah hinterland dikaitkan dengan rencana pengembangan tata ruang wilayah seperti untuk kegiatan parawisata kegiatan industri dan lainnya. 1.2 Unsur Inovasi

Membangun sistem distribusi air bersih antara pulau dengan cara interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut dari sumber air bersih ke wilayah pelayanan sebagai upaya peningkatan cakupan pelayanan air bersih bagi masyarakat hinterland ditinjau dari perspektif kemudahan akses terhadap sumber air bersih, pelayanan air bersih secara kontinyu dan keterjangkauan harga air bersih. Seperti diketahui bahwa selama ini pelayanan air bersih untuk wilayah pulau-pulau sekitar Pulau Batam (hinterland) dilaksanakan dengan cara sistem distribusi menggunakan transportasi boat air dari sumber air ke wilayah pelayanan sehingga hal ini memiliki kelemahan antara lain; kesulitan akses terhadap sumber air bagi pelanggan (jauh dari persil /rumah warga, distribusi menggunakan slang air dari boat air ke penampungan di rumah warga), pelayanan tidak kontinyu (jadwal menyesuaikan kedatangan kapal penjual air ± 2 kali dalam seminggu) dan harga air yang mahal (± Rp. 10.000,-/drum atau Rp. 50.000,-/m 3 ). 1.3 Hasil dan Dampak Terhadap Masayarakat Dampak yang dihasilkan secara nyata dalam pembangunan sistem distribusi air bersih antar pulau dengan cara interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut dari sumber air ke wilayah pelayanan antara lain adalah: a. Terciptanya kemudahan akses terhadap sumber air bersih bagi masyarakat pengguna air bersih dimana air bersih bisa langsung dikucurkan sampai ke rumah-rumah warga dengan cara sambungan rumah (SR); b. Terciptanya pelayanan air bersih secara kontinyu selama 24 jam dan/atau tergantung operasional atau tidaknya sumber air di instalasi pengolahan air (IPA) dan tidak tergantung lagi kepada jadwal transportasi boat-boat pengangkut air; c. Masyarakat pengguna air bersih mendapatkan harga air bersih yang lebih murah dari sebelumnya ± Rp. 50.000,-/m3 menjadi Rp. 7.000,-/m 3 (misalnya yang sudah terlaksana di Pulau Buluh Kecamatan Bulang);

d. Dapat meningkatkan kesejahteraan dan derajat kesehatan masyarakat, mengingat harga air bersih lebih terjangkau dan kualitas airnya lebih terjamin (memenuhi standar kualitas). BAB II PELAKSANAAN PENERAPAN

2.1 Pihak yang Terlibat Gagasan pembangunan sistem distribusi air bersih antar pulau dengan cara interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut adalah Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Pekerjaan Umum Kota Batam. Untuk mewujudkan program ini pada tahap awal belanja modal pembangunan infrastrukturnya dilakukan oleh Pemerintah sedangkan untuk operasional dan pemeliharaan dilakukan oleh masyarakat pengguna air melalui kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang ditunjuk berdasarkan hasil musyawarah masyarakat untuk kemudian dikuatkan dengan Surat Keputusan (SK) Lurah setempat. Dalam era otonomi daerah yang berkembang saat sekarang khususnya terkait dengan sistem penyediaan air minum dalam pelaksanaan penerapannya yang mencakup perencanaan, pembangunan serta operasi dan pemeliharaannya mendorong berbagai pihak dari mulai (masyarakat, RT/RW, Kelurahan, Kecamatan) Pemerintah Pusat/Daerah serta swasta (konsultan/kontraktor). 2.2 Strategi dan Pengorganisasian Proses Pembangunan sistem distribusi air bersih antar pulau dengan cara interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut ini dimulai dari tahap awal dengan melaksanakan inventarisasi pulau-pulau yang memiliki potensi sumber air serta pulau-pulau sekitar yang berjarak tidak terlalu jauh dan identifikasi terhadap trase/jalur pipa bawah laut dari kemungkinan melewati alur-alur pelayaran. Untuk jalur pemasangan pipa air bersih yang melewati alur pelayaran diperlukan izin prinsip dan ijin bekerja dibawah permukaan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, kendala dalam implementasi adalah lamanya pengurusan izin prinsip dan izin bekerja untuk itu perlu dilakukan koordinasi dengan Kementerian terkait.

Untuk jalur pemasangan pipa air bersih yang tidak melewati jalur pelayaran relatif lebih mudah dalam implementasi baik dari sisi ijin maupun teknis pelaksanaan konstruksi. 2.3 Keahlian Pelaksanaan Pada tahap awal yaitu tahap perencanaan diperlukan ahli sumber daya air (hidrologi) serta ahli kelautan untuk identifikasi potensi potensi sumber air dan untuk perkiraan arus laut, arus pasang dan kondisi sub bottom profiling (kondisi profil dasar laut / sea bed). Pada Tahap pelaksanaan konstruksi diperlukan keahlian dari beberapa bidang kerja misalnya; Ahli Teknik Sipil/Perpipaan, Mekanikal / Elektrikal, dll. Sedangkan pada tahap paska konstruksi tidak dibutuhkan kehlian yang spesifik. 2.4 Sumber Pembiayaan Sumber pembiayaan pada tahap pra konstruksi (Detail Engineering Design) dan pembiayaan konstruksi dibiayai oleh APBD, sedangkan pembiayaan pada tahap paska konstruksi yaitu kegiatan operasional dan pemeliharaan dibiayai penuh oleh masyarakat pengguna air seperti di Pulau Buluh, sementara pada beberapa lokasi seperti Pulau Bulang Kebam dan Pulau Labun masih dengan pola subsidi. 2.5 Monitoring dan Evaluasi Monitring dan evaluasi secara teknis dari mulai tahap perencanaan penyusunan DED, pelaksanaan konstruksi maupun paska konstruksi dilakukan dengan Dinas Pekerjaan Umum sedangkan untuk sistem pengelolaan (manajemen) dan adminstrasi, pelaporan dilakukan oleh pengelola (KSM) bersama dengan pihak kelurahan setempat. BAB III

KEBERLANJUTAN DAN PELUANG REPLIKASI 3.1 Pembelajaran Utama Hal-hal yang dapat dijadikan pembelanjaran dari diterapkannya sistem distribusi air bersih antara pulau dengan cara interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut adalah: Pembangunan interkoneksi pipa air bersih antar pulau ini tidaklah sesulit yang diperkirakan sebelumnya hanya saja justru kesulitan dalam pengurusan izin prinsip dan izin bekerja yang perlu diantisipasi kedepannya sehingga di masa depan mungkin perlu regulasi khusus untuk kemudahan implementasi misalnya untuk menekan biaya konstruksi perlu dibuat aturan agar diperkenankan pipa air bersih digelar diatas sea bed bukan dipendam seperti regulasi yang ada sekarang. 3.2 Aspek Keberlanjutan Untuk menjamin agar program ini bisa berkelanjutan perlu didukung dari berbagai pihak terutama dari sisi izin perlu penyesuaian agar biaya konstruksi bisa ditekan dan dari sisi pembiayaan perlu dialokasikan untuk keberlanjutan pada lokasi lain yang belum terbangun tapi memiliki potensi untuk dilaksanakan walaupun untuk investasi awal mahal akan tetapi dari sisi operasional dan tariff air bagi pengguna air lebih murah. 3.3 Peluang Replikasi Sistem distribusi air bersih antar pulau melalui interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut telah mulai dilaksanakan pada tahun 2011 yaitu interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut dari Pulau Batam melalui Selat Bulan menuju Pulau Buluh dan sukses untuk mengalirkan air langsung ke rumah-rumah penduduk dengan jumlah sambungan rumah (SR) ± 530 SR (2.216 jiwa) dengan masa pelayanan 24 jam penuh tanpa terputus dan harga air yang relatif terjangkau ± Rp. 7.000,-/m3 yang sebelumnya Rp. 50.000,- /m3

Dengan keberhasilan ini program serupa juga dilaksanakan oleh Satker PK PAM Kepri Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum di lokasi Pulau Bulang Kebam yaitu interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut dari instalasi pengolahan air (IPA) Pulau Bulang Lintang ke Pulau Bulang Kebam dan juga lokasi Pulau Labun yaitu interkoneksi jaringan pipa bawah laut dari instalasi pengolahan air (IPA) Pulau Pemping ke Pulau Labun pada tahun 2013. Lokasi-lokasi yang berpotensi untuk dilakukan hal yang sama adalah interkoneksi jaringan pipa bawah laut dari Pulau Batam ( Tanjung Pinggir, Sekupang) ke Pulau Belakang Padang (izin prinsip sudah dikeluarkan oleh Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan ) dan juga lokasi-lokasi seperti Teluk Bakau ke Pulau Terong dan Pulau Mecan ke Pulau Sarang. 3.4 Perspektif Reformasi Birokrasi Dengan adanya sistem distribusi air bersih antar pulau melalui interkoneksi jaringan pipa air bersih bawah laut ditinjau dari pemenuhan aspek-aspek perubahan dalam reformasi birokrasi adalah: a. Peningkatan kemudahan dalam pelayanan secara langsung kepada masyarakat dimana masyarakat dapat menikmati layanan air bersih langsung ke rumah-rumah b. Pemberdayaan masyarakat dengan cara diberikan kemudahan didalam mengatur diri mereka sendiri menjadi pengelola air berdasarkan musyawarah dan mupakat. c. Pelayanan yang murah dan tepat sasaran dimana harga air bisa menjadi lebih murah dari sebelumnya dan untuk masyarakat yang memang membutuhkan air di daerah sulit air. Lampiran Photo

PROSES PEMASANGAN JARINGAN PIPA AIR BERSIH BAWAH LAUT JARINGAN PIPA AIR BERSIH BAWAH LAUT YANG SUDAH TERPASANG

RESERVOIR AIR BERSI H KAPASITAS 250 M 3 LOKASI PULAU BULUH RESERVOIR AIR BERSIH KAPASITAS 126 M 3 LOKASI SAGULUNG P. BATAM

SAMBUNGAN RUMAH (SR) LOKASI PULAU BULUH

DATA PELAYANAN AIR BERSIH DI WILAYAH HINTERLAND MELALUI JARINGAN PIPA AIR BERSIH BAWAH LAUT NO LOKASI JML PENDUDUK (Jiwa) JML PENDUDUK TERLAYANI AB (Jiwa) JML TOTAL PROSENTASE PELAYANAN (%) KETERANGAN 1 P. Bulang Kebam 596 596 100 Suplai dari Pulau Bulang Lintang melalui jaringan pipa bawah laut 2 Pulau Buluh 2,216 2,120 96 3 Pulau Labun 200 200 100 Jumlah Sumber: Dinas PU Kota Batam Suplai dari Pulau Batam melalui jaringan pipa bawah laut Suplai dari Pula Pemping melalui jaringan pipa bawah laut 3,012 2,916 97 Rata -rata Pelayanan 97 %

DATA PENDUDUK KOTA BATAM 2012 NO KECAMATAN LAKI-LAKI PEREMPUAN JML TOTAL KETERANGAN I PENDUDUK P. BATAM (MAIN LAND ) 1 SEI BEDUK 60,345 66,352 126,697 2 NONGSA 35,415 30,735 66,150 3 SEKUPANG 77,610 71,317 148,927 4 LUBUK BAJA 58,129 55,964 114,093 5 BATU AMPAR 53,832 47,203 101,035 6 BENGKONG 65,769 61,975 127,744 7 BATAM KOTA 90,147 85,368 175,515 8 BATU AJI 68,254 63,580 131,834 9 SAGULUNG 100,276 88,041 188,317 JUMLAH I 609,777 570,535 1,180,312 95.52 II PENDUDUK PULAU-PULAU (MAIN LAND ) 1 BELAKANG PADANG 12,811 12,373 25,184 2 BULANG 6,608 6,079 12,687 3 GALANG 9,208 8,260 17,468 JUMLAH II JUMLAH TOTAL SUMBER: BPS BATAM 28,627 26,712 55,339 4.48 638,404 597,247 1,235,651 100

DATA PELAYANAN AIR BERSIH WILAYAH HINTERLAND NO LOKASI JUMLAH PENDUDUK SR AKTIF SUPLAI BOAT AIR JUMLAH JIWA TERLAYANI JML TOTAL PROSENTASE PELAYANAN (%) KETERANGAN 1 P. Bulang Kebam 596 149 596 100 Suplai dari Pulau Bulang Lintang melalui jaringan pipa bawah laut 2 Pulau Buluh 2,216 530 2,120 96 3 Pulau Labun 200 50 200 100 Suplai dari Pulau Batam melalui jaringan pipa bawah laut Suplai dari Pulau Pemping melalui jaringan pipa bawah laut 4 P. Pemping 280 70 280 100 Suplai dari waduk Pemping 5 Mongkol 300 75 300 100 Suplai dari P. Pemping (jaringan pipa darat) 6 P. Belakang Padang 14,567 560 2,240 15 Suplai dari waduk Sekanak I dan II 7 P. Bulang Lintang 572 143 572 100 Suplai dari waduk Bulang Lintang 8 Pulau Kasu 2,782 5.000 lt x 2 boat x 3 trip 300 11 Suplai dr P. Lumba menggunakan boat air 9 Pulau Mecan 188 47 188 100 Waduk Mecan suplai sendidi 10 Pulau Sarang 396 11 Kuala Buluh (Sembulang) 5.000 lt x 1 boat x 3 trip 150 38 Suplai dari waduk Mecan menggunakan boat air 440 110 440 100 Mata air untuk suplai sendiri 12 Pulau Abang 650 150 600 92 Mata air untuk suplai sendiri 13 Teluk Lengung 256 64 256 100 Suplai dr jaringan pipa darat (PT. ATB) JUMLAH SUMBER: DINAS PEKERJAAN UMUM KOTA BATAM 23,443 8,242 35 Rata -rata Pelayanan 35 % PENDUDUK HINTERLAND PENDUDUK MAIN LAND JUMLAH PENDUDUK KOTA BATAM 55,339 8,242.00 14.89 PELAYANAN AIR BERSIH 1,180,312 1,144,902.64 97.00 PELAYANAN AIR BERSIH 1,235,651 1,153,144.64 93.32 PELAYANAN AIR BERSIH