Perencanaan rumah maisonet

dokumen-dokumen yang mirip
Dasar-Dasar Rumah Sehat KATA PENGANTAR

TABEL A1 SPESIFIKASI TEKNIS BANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH/LEMBAGA KLASIFIKASI TINGGI/TERTINGGI NEGARA

BAB V KONSEP. perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Konsep Fungsional Rusun terdiri dari : unit hunian dan unit penunjang.

TATA CARA PERENCANAAN BANGUNAN MCK UMUM

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb :

Tata cara perencanaan bangunan MCK umum

Tabel 6.1. Program Kelompok Ruang ibadah

Jenis dan besaran ruang dalam bangunan ini sebagai berikut :

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

Ketentuan gudang komoditi pertanian

Spesifikasi bangunan pelengkap unit instalasi pengolahan air

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pelaksanaan berasal dari kata laksana yang berarti kegiatan 5. Pelaksanaan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN RUMAH SEHAT SEDERHANA YANG LAYAK HUNI DI KELOMPOK USAHA BERSAMA AGRIBISNIS (KUBA) PALAMPANG TARUNG DI PALANGKA RAYA

M U H A M A D R AT O D I, S T., M. K E S 2017

BAB V KONSEP. dasar perencanaan Asrama Mahasiswa Binus University ini adalah. mempertahankan identitas Binus University sebagai kampus Teknologi.

BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki

Syarat Bangunan Gedung

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Jakarta sebagai salah satu kota besar di Indonesia tidak dapat lepas dari

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANAGAN

PERSYARATAN UMUM DAN PERSYARATAN TEKNIS GUDANG TERTUTUP DALAM SISTEM RESI GUDANG

LAMPIRAN. Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. aktivitas sehari-hari. mengurangi kerusakan lingkungan.

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dalam perancangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tata Boga.

LAMPIRAN I PEDOMAN UMUM RUMAH SEDERHANA SEHAT

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BERITA DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2012 NOMOR : 24 PERATURAN WALIKOTA CILEGON NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pelatihan

Kondisi eksisting bangunan lama Pasar Tanjung, sudah banyak mengalami. kerusakan. Tatanan ruang pada pasar juga kurang tertata rapi dan tidak teratur

BAB III ANALISA PERENCANAAN STRUKTUR

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PEMBANGUNAN IPLT SISTEM KOLAM

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN AGROBISNIS, KABUPATEN SEMARANG

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Total keseluruhan luas parkir yang diperlukan adalah 714 m 2, dengan 510 m 2 untuk

BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. kendaraan dan manusia akan direncanakan seperti pada gambar dibawah ini.

BAB V KONSEP PERENCANAAN

MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 60/PRT/1992 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN MENTERI PEKERJAAN UMUM,

Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya.

DOKUMEN ATURAN BERSAMA DESA KARANGASEM, KECAMATAN PETARUKAN, KABUPATEN PEMALANG

Tabel VIII. 1 Aturan Bersama Desa Kemasan KONDISI FAKTUAL KONDISI IDEAL ATURAN BERSAMA YANG DISEPAKATI

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V. 1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan. mengenai isu krisis energi dan pemanasan global.

Spesifikasi saluran air hujan pracetak berlubang untuk lingkungan permukiman

Struktur dan Konstruksi II

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB 5 PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO

BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH LAYAK HUNI

BAB VI HASIL RANCANGAN. tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental,

BAB V KONSEP PERANCANGAN

b. Kebutuhan ruang Rumah Pengrajin Alat Tenun

TATA CARA PERENCANAAN TANGKI SEPTIK DENGAN SISTEM RESAPAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP. mengasah keterampilan yaitu mengambil dari prinsip-prinsip Eko Arsitektur,

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERENCANAAN dan PERANCANGAN. Konsep perancangan makro meliputi perancangan skema organisasi ruang

Tabel 5.1. Kapasitas Kelompok Kegiatan Utama. Standar Sumber Luas Total Perpustakaan m 2 /org, DA dan AS 50 m 2

BAB V KONSEP PERANCANGAN DAN PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP. Gambar 4.2 Pemintakatan berdasarkan fungsi hunian dan publik yaitu fungsi hunian berada di lantai atas dan umum di lantai dasar

Tata cara perencanaan dan pemasangan tangki biofilter pengolahan air limbah rumah tangga dengan tangki biofilter

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

RUMAH DAN PERMUKIMAN TRADISIONAL YANG RAMAH LINGKUNGAN

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Konstruksi Atap. Pengertian, fungsi dan komponen konstruksi atap

BAB V KONSEP PERANCANGAN CENGKARENG OFFICE PARK KONSEP DASAR PERANCANGAN

KONSTRUKSI PONDASI Pondasi Dangkal Pasangan Batu bata/batu kali

BAB VI KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN STUDENT APARTMENT STUDENT APARTMENT DI KABUPATEN SLEMAN, DIY Fungsi Bangunan

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan sesama mahasiswa. tinggal sementara yang aman dan nyaman. keberlanjutan sumber daya alam.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG

BAB V KONSEP DASAR DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB III METODOLOGI 3.1. Pengumpulan Data Lapangan 3.2. Studi Pustaka 3.3. Metodologi Perencanaan Arsitektural dan Tata Ruang

A. GAMBAR ARSITEKTUR.

Bab V. PROGRAM PERENCANAAN dan PERANCANGAN MARKAS PUSAT DINAS KEBAKARAN SEMARANG. No Kelompok Kegiatan Luas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Terminal Antarmoda Monorel Busway di Jakarta PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL ANTARMODA

BAB V Program Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI

PEDOMAN UMUM RUMAH SEDERHANA SEHAT

RENCANA TAPAK. Gambar 5.1 Rencana tapak

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perkantoran, sekolah, atau rumah sakit. Dalam hal ini saya akan mencoba. beberapa hal yang harus diperhatikan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Didalam sebuah bangunan pasti terdapat elemen-elemen struktur yang

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 5 HASIL PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV TINJAUAN KHUSUS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG

BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. rancangan terdapat penambahan terkait dengan penerapan tema Arsitektur

TANTANGAN DAN HAMBATAN PENERAPAN KONSEP SUSTAINABLE CONSTRUCTION PADA KONTRAKTOR PERUMAHAN DI SURABAYA

Transkripsi:

Perencanaan rumah maisonet Pd-T-01-2005-C 1 Ruang lingkup Pedoman ini digunakan sebagai acuan dalam perencanaan rumah maisonet, sebagai arahan desain dan spesifikasi teknis yang diperuntukkan bagi para perencana pembangunan perumahan. Pedoman ini tidak digunakan untuk acuan perencanaan rumah maisonet split, maupun untuk rumah maisonet susun tumpuk. 2 Acuan normatif SNI 03-1979-1990, Spesifikasi matra ruang untuk rumah dan gedung. SNI 03-3990-1995, Tata cara instalasi petir untuk bangunan. SNI 03-6481-2000, Sistem plambing. SNI 03-2396-2001, Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung. SNI No. 03-2398-2002 Tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan. SNI No. 03-2453-2002, Tata cara perencanaan teknik sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. 3 Istilah dan definisi 3.1 Koefisien Dasar Bangunan (KDB) perbandingan antara luas dasar bangunan dengan luas persil tanah (penerapan peraturan pembangunan dengan KDB ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan lingkungan) 3.2 Koefisien Lantai Bangunan (KLB) perbandingan antara luas lantai bangunan dengan luas persil tanah (aturan tentang KLB ini juga menyebut perbandingan seluruh luas lantai terhadap luas lahan, tujuannya adalah untuk menciptakan adanya keseimbangan antara luasan lahan terbangun dengan luasan lahan kosong yang dapat digunakan antara lain untuk keperluan pertanaman, parkir kendaraan) 3.3 permukiman bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan 3.4 perumahan kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan 1 dari 10

Pd-T-01-2005-C 3.5 rumah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga 3.6 rumah maisonet bangunan rumah deret yang dibangun di atas lahan terbatas, terdiri dari lebih dari satu lantai, dimiliki oleh satu keluarga 3.7 rumah maisonet split merupakan alternatif bangunan rumah maisonet dengan kemiringan kontur > 15% 3.8 rumah maisonet tumpuk rumah maisonet biasa yang ditumpuk ke atas, dengan maksud untuk meningkatkan kapasitas hunian. 3.9 utilitas bangunan sarana penunjang untuk pelayanan dalam bangunan 4 Ketentuan umum 4.1 Arsitektur bangunan 4.1.1 Jumlah lantai dan organisasi ruang Rumah maisonet dirancang untuk satu keluarga, terdiri dari dua lantai, dengan organisasi ruang harus mengandung fungsi-fungsi untuk kegiatan keluarga, yaitu ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi dan kakus, serta ruang tidur, diatur ke arah vertikal, dihubungkan dengan tangga. Setiap pembangunan rumah maisonet harus memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat dan menjalankan kegiatan sehari-hari secara layak. Dalam perhitungan perencanaan rumah maisonet di buku pedoman ini didasarkan pada rata-rata jumlah anggota keluarga 4 (empat) orang. 4.1.2 Kebutuhan ruang Kebutuhan luas lantai setiap orang dalam Rumah Maisonet dengan ketinggian rata-rata 2,80 meter direkomendasikan adalah 9, apabila tidak memungkinkan sekurangkurangnya pada ambang batas kebutuhan luas lantai per jiwa yaitu 7,2. Untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari secara layak, kebutuhan luas rumah dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : a) kebutuhan luas ruang dalam rumah per jiwa, b) jumlah anggota keluarga, dihitung rata-rata 4 jiwa, c) kebutuhan luas tanah kavling per unit rumah. Kebutuhan luas bangunan dan luas tanah kavling tertera pada Tabel 1, yang menunjukkan kebutuhan luas minimum Rumah Maisonet dengan sirkulasi maksimum 30%, Luas kavling yang dibutuhkan, KDB, serta KLB. 2 dari 10

Standar per jiwa Tabel 1 Contoh kebutuhan luas minimum rumah maisonet, luas kavling, KDB dan KLB Lantai bawah Luas lantai Rumah Unit rumah lantai bawah dan atas Luas untuk 4 jiwa Sirkulasi vertikal Minimal Luas tanah kavling Maksimal Pd-T-01-2005-C KDB % KLB 9 18 36 3,6 60 90 36 0,66 4.1.3 Orientasi ke dalam rumah Setiap unit rumah yang memiliki halaman sendiri, akses ke dalam rumah harus melalui halaman. Pintu masuk ke dalam rumah harus terlihat dan mudah dikenali. 4.1.4 Besaran ruang Besaran setiap ruang harus seperti pada tabel 2 dengan memperhatikan kesehatan, kenyamanan dan keamanan penghuni serta dan persyaratan ruang. Tabel 2 Besaran minimum ruang rumah maisonet No Ruang Tinggi bersih Luas Jumlah minimum minimum Ruang hunian Ruang pelengkap unit m 1 R. Tidur 2 2,80 3,00 X 3,00 2 R. Serba Guna (R.Keluarga/tamu, makan dan dapur) 1 2,80 3,00 X 5,00 3 Kamar mandi dan kakus 1 2,40 1,20 X 1,50 4 Teras 1 2,40 5 Tempat jemuran 1 6 R. Tangga 1 3,6 4.1.5 Akses dari lantai bawah ke lantai atas Untuk menuju lantai atas menggunakan tangga dengan ukuran seperti pada Tabel 3. Tabel 3 Ukuran tangga No. Bagian tangga Ukuran m 1 Lebar tangga bersih minimum 0,60 m 2 Lebar anak tangga 0,25 0,30 m 3 Tinggi anak tangga 0,15 0,20 m 4 Tinggi pegangan tangga 0,90 m 4.1.6 Tata letak dan orientasi ruang Dalam mengatur ruang-ruang unit kediaman harus memperhatikan faktor-faktor penentu sebagai berikut : a) pencapaian dari ruang ke ruang lainnya harus baik dan efisien dengan memperhatikan pengaturan perabot rumah, peralatan dan perlengkapan lain yang diperlukan di ruang-ruang yang direncanakan, b) Untuk mengakomodasi ruang gerak harus diatur pengelompokan ruang satu dengan yang lain sesuai dengan fungsi setiap ruang, 3 dari 10

4 dari 10 Pd-T-01-2005-C c) ruang hunian harus diletakkan pada daerah tenang, bersih, kering atau tidak lembab, dan harus dipisahkan secara jelas dengan dapur yang bersifat mudah kotor, berhubungan dengan api dan cairan bahan bakar yang berbahaya, serta dengan kamar mandi dan kakus yang terletak di daerah basah dan bersifat mudah lembab dan mudah kotor, d) perletakan tangga harus mudah dicapai dan efisien, e) dapur yang terletak di lantai bagian bawah, berdekatan dengan daerah pelayanan, dan langsung berhubungan dengan bagian luar rumah. Letak ruang serba guna harus memenuhi persyaratan sirkulasi udara dan ventilasi alami. 4.1.7 Persyaratan kenyamanan Untuk kesehatan ruangan, sinar matahari pagi harus dapat masuk ruangan minimum 1 jam sehari, apabila penerangan matahari tak langsung minimum 8 jam sehari, a) untuk menjamin pertukaran udara bersih dalam ruang, harus direncanakan ventilasi silang, b) setiap ruangan, mendapatkan penerangan alami, c) setiap bangunan rumah, harus mempunyai satu atau lebih lubang cahaya yang langsung berhubungan dengan udara luar minimum luasnya 1/10 x luas lantai ruang yang bersangkutan, dan minimum 1/20 x luas lantai merupakan lubang cahaya yang dapat dibuka. 4.1.8 Sirkulasi dalam rumah Ruang sirkulasi yang menghubungkan fungsi-fungsi di dalam rumah harus meminimumkan ruang-ruang yang terbuang. Ruang sirkulasi dalam rumah maksimal 30% dari luas lantai. 4.1.9 Tempat parkir Individu dan kelompok Bila diperlukan, setiap rumah mendirikan carport untuk parkir mobil individu. Untuk kelompok, perlu direncanakan menggunakan garasi bersama. 4.2 Struktur bangunan 4.2.1 Persyaratan umum Untuk menjamin struktur yang sesuai dan dapat bekerja secara baik, harus dipenuhi syarat-syarat umum sebagai berikut : a) dapat menahan semua beban dan gaya-gaya termasuk gempa bumi yang bekerja padanya sesuai dengan fungsinya, b) cukup terlindung dari korosi, kelapukan, serangga-serangga dan kekuatan-kekuatan perusak lainnya, c) dapat bekerja/berfungsi secara baik minimu0 tahun, d) memenuhi Norma, Standar, Pedoman dan Manual (NSPM) yang berlaku, e) beban hidup lantai unit hunian 200 kg/, f) ketahanan struktur terhadap kebakaran minimum 1 (satu) jam. 4.2.2 Persyaratan struktur bagian bawah Pondasi bangunan harus diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap berat sendiri, beban hidup dan gaya-gaya luar yang diterimanya dari bangunan struktur atas, a) tipe pondasi ditentukan oleh berat bangunan termasuk segala macam beban, kemampuan daya dukung tanah, dan tipe-tipe struktur bangunan di atasnya.

Pd-T-01-2005-C b) kedalaman pondasi ditentukan oleh kedalaman tanah padat dengan daya dukung yang cukup. 4.2.3 Persyaratan struktur bangunan atas Harus dapat menahan semua gaya yang bekerja padanya sesuai dengan fungsinya yang dihitung dengan ilmu gaya dan peraturan-peraturan yang berlaku. Bahan bangunan dan konstruksi yang diperkenankan untuk struktur bangunan dapat terdiri atau: a) Konstruksi kayu, b) Konstruksi baja, c) Konstruksi beton bertulang, d) Konstruksi komposit. 4.3 Komponen dan bahan bangunan 4.3.1 Keawetan bangunan Untuk menjamin keawetan bangunan dan efisiensi pemakaian bahan, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a) Penggunaan komponen dan bahan harus sesuai dengan fungsinya, b) Mempunyai keawetan minimum 5 tahun untuk komponen non struktur, minimu0 tahun untuk komponen struktur bila digunakan menurut aturan-aturan yang berlaku, c) Cukup terlindung dari korosi, kelapukan, serangga dan kekuatan perusak lain, d) Memenuhi NSPM yang berlaku. 4.3.2 Persyaratan umum komponen dan bahan bangunan rumah maisonet Persyaratan umum komponen dan bahan bangunan rumah maisonet disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Persyaratan komponen dan bahan bangunan rumah maisonet No Komponen bangunan Jenis struktur Persyaratan umum 1 Fondasi Pasangan batu Stabil Tiang Dapat mendukung semua beban di atasnya dan semua gaya termasuk gempa bumi yang bekerja padanya Pelat Merupakan kesatuan yang tertutup Umpak Tidak mudah lapuk dan dimakan serangga Harus memenuhi NSPM yang berlaku 2 Sloof Pengikat Bisa berlaku sebagai pengikat fondasi 3 Kolom/Tiang/ rangka Kolom/Tiang dan rangka Dapat menahan beban-beban yang harus dipikul dan semua gaya termasuk gempa bumi yang bekerja padanya Harus merupakan kesatuan yang tertutup Rangka Harus bersifat monolit Cukup keras dan tidak mudah aus Harus memenuhi NSPM yang berlaku Penggunaan bahan kayu harus melalui proses pengawetan, terutama kayu kelas rendah 4 Balok dinding Pengikat Bisa berlaku sebagai pengikat kolom / tiang 5 dari 10

Tabel 4 (Lanjutan) No Komponen bangunan Jenis struktur Persyaratan umum 5 Lantai Monolit Tidak mudah aus Rapat air dan tidak lembab Susunan tiap elemen Mudah dibersihkan dan dicuci Stabil dan tidak lentur waktu diinjak Tidak mudah terbakar 6 Dinding luar dan dinding dalam Memikul 7 Langit-langit Susunan tiap elemen Pd-T-01-2005-C Harus memenuhi NSPM Untuk dinding pemikul dapat mendukung berat sendiri dan semua beban serta semua gaya termasuk gempa bumi yang bekerja padanya Tidak memikul Untuk dinding tidak memikul harus dapat mendukung berat sendiri Harus bersambung dengan fondasi oleh lapisan rapat air minimal 15 cm di bawah permukaan tanah dan sampai 15 cm di atas lantai Harus stabil Bila digunakan sebagai dinding batas antar rumah harus dapat meredam suara secukupnya Seringan mungkin Sekecil mungkin meluluskan panas/bisa berlaku sebagai penghambat panas sinar matahari Kaku Tidak mudah terbakar Bisa dipakai untuk penempatan instalasi listrik 8 Rangka atap Dengan kuda-kuda Kemiringan atap harus disesuaikan dengan bahan penutup atap yang akan digunakan sehingga tidak bocor Bisa menerima beban penutup atap, gaya angin dan gaya-gaya lain Tanpa kuda-kuda 9 Penutup atap Susunan tiap elemen Untuk setiap tipe struktur dan bahan yang dipilih harus dipenuhi persyaratan teknis dan mutu dari tipe struktur dan bahan tersebut Harus memenuhi NSPM yang berlaku Seringan mungkin Berlaku sebagai pelindung terhadap sinar matahari, hujan dan angin Apabila berhubungan langsung dengan ruangan hunian, agar sekecil mungkin meluluskan panas Tidak tembus air Harus dapat menaggung berat sendiri, bebanbeban berguna dan semua gaya yang bekerja padanya 4.3.3 Pertimbangan pemilihan jenis rumah Sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan jenis rumah yang dapat diterapkan, dapat memperhatikan zonasi Rumah Sederhana Sehat yang merupakan penggabungan dari berbagai potensi, diantaranya potensi bahan bangunan lokal, potensi budaya, serta kondisi geologis di setiap propinsi, sesuai dengan pada Kepmen Permukiman dan Prasarana Wilayah RI No. 403/KPTS/M/2002, Pedoman Pembangunan Rumah Sederhana Sehat. 6 dari 10

4.4 Utilitas bangunan Pd-T-01-2005-C 4.4.1 Plambing Kecuali yang belum diatur dalam pedoman ini setiap rumah harus dilengkapi dengan sistem plambing untuk air bersih, pembuangan air limbah dan pembuangan air hujan, sesuai dengan SNI 03-6481-2000, Sistem plambing. 4.4.2 Penyediaan air bersih Apabila tersedia sistem penyediaan air bersih kota atau sistem penyediaan air bersih lingkungan, maka tiap rumah berhak mendapat sambungan rumah atau sambungan halaman. Penyediaan air bersih dapat dilakukan dengan sumur pompa dangkal atau sumur gali. a) Persyaratan sumur dangkal : 1) Sekeliling sumur harus terbuat dari lantai rapat air selebar minimum 1,20 m. 2) Pipa selubung sumur harus dibuat dari bahan rapat air sampai kedalaman minimu meter dari permukaan lantai dan tergantung dari sifat tanah 3) Sumur pompa dangkal harus ditempatkan pada jarak minimum 10 meter dari tangki septik dan bidang resapannya (tergantung pada sifat tanahnya) b) Persyaratan sumur gali : 1) Sekeliling sumur harus dibuat lantai rapat air selebar minimum 1,20 meter dari dinding sumur. 2) Dinding sumur harus dibuat dari konstruksi yang aman, kuat dan rapat air ke atas 80 cm dan ke bawah minimu meter dari muka lantai. 3) Lubang sumur harus dilengkapi dengan tutup yang dapat dibuka dari bahan yang kuat dan tahan lama. 4) Sumur gali harus ditempatkan pada jarak minimum 10 meter dari tangki septik dan bidang resapannya (tergantung pada sifat tanah). 4.4.3 Pembuangan air limbah a) Apabila tersedia sistem pembuangan air limbah kota atau sistem air limbah lingkungan, maka setiap rumah berhak mendapatkan sambungan. b) Apabila tidak tersedia sistem pembuangan air limbah kota atau sistem air limbah lingkungan, setiap rumah harus dilengkapi dengan sebuah tangki septik dan bidang resapan atau tangki septik dengan sistem resapan, sesuai SNI No. 03-2398-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Tangki Septik dengan Sistem Resapan. c) Untuk memenuhi jarak minimum 10 meter dari pompa dangkal atau sumur gali, harus disediakan tangki septik dan bidang resapan komunal, sesuai SNI No. 03-2398-2002 tentang Tata Cara perencanaan Tangki Septik dengan Sistem Resapan. 4.4.4 Pembuangan air hujan a) Setiap rumah diharuskan memiliki sumur resapan air hujan yang berfungsi, sesuai dengan SNI No. 03-2453-2002, Tata cara perencanaan teknik sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan. b) Apabila tersedia sistem pembuangan air hujan kota atau sistem pembuangan air hujan lingkungan, tiap rumah berhak mendapatkan sambungan. 4.4.5 Tempat pembuangan sampah a) Setiap rumah harus dilengkapi dengan tempat pembuangan sampah rumah tangga. b) Ukuran tempat sampah diperhitungkan terhadap jumlah anggota keluarga, timbulan sampah 0,02 m 3 /hari/orang, dan frekuensi pengangkutan 2 hari sekali. Ukuran tempat sampah setiap keluarga yang dibutuhkan adalah volume 0,20 m 3. 7 dari 10

Pd-T-01-2005-C c) Tempat sampah bersama maksimum melayani 32 rumah tangga dengan ukuran volume 6,4 m 3 d) Cara penempatan tempat sampah untuk setiap rumah tangga maupun tempat sampah bersama harus dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dicapai oleh petugas kebersihan dan tidak mengganggu lalu lintas. 4.4.6 Listrik a) Dalam pembangunan rumah/perumahan maisonet, setiap rumah harus dilengkapi dengan jaringan instalasi listrik di dalam rumah sesuai dengan kebutuhan. b) Pemasangan instalasi di dalam rumah harus direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan peraturan dan syarat-syarat yang berlaku (Peraturan Umum Instalasi Listrik, peraturan yang berlaku di PLN wilayah setempat) c) Pelaksana instalasi adalah instalatur yang mempunyai pas/akreditasi PLN dan berlaku tahun takwin terakhir. d) Instalatur bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan instalasi, termasuk di dalamnya mutu bahan dan pengawasan instalasi) e) PLN melakukan pengujian setelah tiba saatnya listrik dialirkan. 8 dari 10

Pd-T-01-2005-C Lampiran A (Informatif) Daftar nama dan lembaga 1 Pemrakarsa : Puslitbang Permukiman, Badan Litbang Kimprawil, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah 2 Penyusun : No Nama Instansi 1. Ir. Gundhi Marwati, MT Puslitbang Permukiman 2. Ir. Arief Sabaruddin, CES Puslitbang Permukiman 9 dari 10

Pd-T-01-2005-C Bibliografi Joseph De Chiara, Time-Saver Standards for Residential Development, 1984, Mc.Graw- Hill, Inc, USA. John Macsai, Housing, A Wiley Interscience Publication, New York. Kepmen PU Nomor 20/KPTS/1986, Pedoman teknik pembangunan perumahan sederhana tidak bersusun. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1992, Perumahan dan permukiman. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2002, Bangunan gedung Kepmen Permukiman dan Prasarana Wilayah RI No. 403/KPTS/M/2002, Pedoman pembangunan rumah sederhana sehat. Kepmen Depkes No. 829/MENKES/SK/VII/1999, Persyaratan kesehatan perumahan. Petunjuk Teknis Pt. T-12-2000 C, Tata cara perencanaan lingkungan perumahan sederhana tidak bersusun. 10 dari 10