PENGUJIAN KUALITAS KAYU BUNDAR JATI

dokumen-dokumen yang mirip
PENGUJIAN KUALITAS KAYU BUNDAR JATI

LAPORAN PENGUJIAN KAYU

Kayu bundar daun lebar Bagian 2: Cara uji

Produk kayu bundar Bagian 1: Kayu bundar jati

.:::: Powered By Ludarubma ::::. KAYU BUNDAR JATI

Kayu bundar Bagian 1: Istilah dan definisi

Kayu bundar jenis jati Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

.:::: Powered By Ludarubma ::::. KAYU CENDANA

KUANTIFIKASI KAYU SISA PENEBANGAN JATI PADA AREAL PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT TERSERTIFIKASI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA

BAB VIII PENGENALAN CACAT KAYU

Kayu bundar daun jarum Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi

Kayu bundar Bagian 2: Pengukuran dan tabel isi

KAYU GERGAJIAN RIMBA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Lampiran 1 Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor : P. 14 /VI-BIKPHH/2009 Tanggal : 10 November 2009

Kayu bundar jenis jati Bagian 3: Pengukuran dan tabel isi

Kayu gergajian daun lebar Bagian 2: Cara uji

Kayu gergajian jenis jati Cara uji

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS KELAYAKAN USAHA DAN KONTRIBUSI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT KOPERASI HUTAN JAYA LESTARI KABUPATEN KONAWE SELATAN, PROPINSI SULAWESI TENGGARA

ANALISIS KEBIJAKAN PENEBANGAN RATA TANAH UNTUK POHON JATI (Tectona grandis Linn f ) di KPH Nganjuk Perum Perhutani Unit II Jawa Timur RIZQIYAH

Kayu gergajian daun lebar Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

KETERBUKAAN AREAL DAN KERUSAKAN TEGAKAN TINGGAL AKIBAT KEGIATAN PENEBANGAN DAN PENYARADAN (Studi Kasus di PT. Austral Byna, Kalimantan Tengah)

ANALISIS MUTU KAYU BENTUKAN (MOULDING) JATI (Tectona grandis L.f.) PADA INDUSTRI MOULDING DI KOTA KENDARI, SULAWESI TENGGARA

Kayu gergajian jenis jati Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN POTENSI LIMBAH PEMANENAN KAYU (STUDI KASUS DI PT. AUSTRAL BYNA, PROPINSI KALIMANTAN TENGAH)

Kayu bundar jenis jati Bagian 2: Cara uji

EVALUASI PERTUMBUHAN TANAMAN MERANTI PADA SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM JALUR (KASUS DI KONSESI HUTAN PT

BAB III METODE PENELITIAN

Abstract. Pendahuluan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SNI MUTU SIRAP DEWAN STANDARDISASI NASIONAL- DSN SNI UDC STANDAR NASIONAL INDONESIA

.:::: Powered By Ludarubma ::::. KAYU GERGAJIAN JATI

VENIR JATI BASAH DAN KAYU LAPIS INDAH JATI

SIFAT FISIS MEKANIS PANEL SANDWICH DARI TIGA JENIS BAMBU FEBRIYANI

III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH LAMA WAKTU PENUMPUKAN KAYU KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) TERHADAP SIFAT - SIFAT PAPAN PARTIKEL TRIDASA A SAFRIKA

Kayu lapis Istilah dan definisi

Mutu dan Ukuran kayu bangunan

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan tempat 3.2 Alat dan bahan 3.3 Pengumpulan Data

III. METODOLOGI PE ELITIA

Kayu lapis untuk kapal dan perahu

KARAKTERISTIK SIFAT ANATOMI DAN FISIS SMALL DIAMETER LOG SENGON (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) DAN GMELINA (Gmelina arborea Roxb.

Kayu gergajian Bagian 2: Pengukuran dimensi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH PERENDAMAN PANAS DAN DINGIN SABUT KELAPA TERHADAP KUALITAS PAPAN PARTIKEL YANG DIHASILKANNYA SISKA AMELIA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hutan menurut Undang-undang RI No. 41 Tahun 1999 adalah suatu kesatuan

BAB I PENDAHULUAN. hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. Hutan sendiri

POTENSI KEBAKARAN HUTAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO BERDASARKAN CURAH HUJAN DAN SUMBER API SELVI CHELYA SUSANTY

KAYU LAPIS DAN PAPAN BLOK PENGGUNAAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. mandat oleh pemerintah untuk mengelola sumber daya hutan yang terdapat di

PENGARUH POHON INDUK, NAUNGAN DAN PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SUREN (Toona sinensis Roem.) RIKA RUSTIKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. (hardwood). Pohon jati memiliki batang yang bulat lurus dengan tinggi mencapai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAMPAK PENAMBANGAN PASIR PADA LAHAN HUTAN ALAM TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA, DAN BIOLOGI TANAH IFA SARI MARYANI

PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PRODUKSI DAUN MURBEI (Kanva-2) DAN KUALITAS KOKON ULAT SUTERA (Bombyx mori L.) HENDRA EKO SUTEJA

PENGARUH JUMLAH SADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN Pleurotus spp. PADA MEDIA SERBUK GERGAJIAN KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) ALWIAH

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI JENIS STIMULANSIA TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS

MENAKSIR VOLUME POHON BERDIRI DENGAN PITA VOLUME BUDIMAN

PENGUJIAN SIFAT MEKANIS PANEL STRUKTURAL DARI KOMBINASI BAMBU TALI (Gigantochloa apus Bl. ex. (Schult. F.) Kurz) DAN KAYU LAPIS PUJA HINDRAWAN

BAB III METODOLOGI 3.1 Lokasi Penelitian 3.2 Objek dan Alat Penelitian

PENGARUH JUMLAH SADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS

PENGARUH SUHU PEREBUSAN PARTIKEL JERAMI (STRAW) TERHADAP SIFAT-SIFAT PAPAN PARTIKEL RINO FARDIANTO

ANALISIS KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR TEGAKAN DI HUTAN BEKAS TEBANGAN DAN HUTAN PRIMER DI AREAL IUPHHK PT

BAB I PENDAHULUAN. dengan target luas lahan yang ditanam sebesar hektar (Atmosuseno,

Kayu lapis indah jenis jati Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

EVALUASI PERUBAHAN KELAS HUTAN PRODUKTIF TEGAKAN JATI (Tectona grandis L.f.) Pudy Syawaluddin E

Oleh: Merryana Kiding Allo

BAB I PENDAHULUAN. Tanaman (tegakan seumur). Salah satu hutan tanaman yang telah dikelola dan

PENGETAHUAN DASAR KAYU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: aktivitas moving dan waiting.

PENDUGAAN SIMPANAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN LAHAN PADA TEGAKAN EUKALIPTUS (Eucalyptus sp) DI SEKTOR HABINSARAN PT TOBA PULP LESTARI Tbk

KOMPOSISI DAN STRUKTUR VEGETASI HUTAN LOA BEKAS KEBAKARAN 1997/1998 SERTA PERTUMBUHAN ANAKAN MERANTI

SNI. Baja Tulang beton SNI Standar Nasional Indonesia. Badan Standardisasi Nasional BSN

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : 6886/Kpts-II/2002 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. pepohonan dan tumbuhan lainnya. Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENILAIAN MUTU BIBIT TANAMAN HUTAN

Pengaruh Variasi Sambungan Satu Ruas dan Dua Ruas Bambu Terhadap Kekuatan Balok Laminasi Bambu Tali MUJAHID

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TEKNIK PENGUKURAN DIAMETER POHON DENGAN BENTUK YANG BERBEDA. Bentuk pohon Diagram Prosedur pengukuran. Pengukuran normal

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

LIMBAH PEMANENAN DAN FAKTOR EKSPLOITASI PADA PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (Studi Kasus di HPHTI PT. Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan)

KONTRIBUSI INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DI PROPINSI SUMATERA SELATAN ERNIES

PENGARUH KADAR RESIN PEREKAT UREA FORMALDEHIDA TERHADAP SIFAT-SIFAT PAPAN PARTIKEL DARI AMPAS TEBU AHMAD FIRMAN ALGHIFFARI

PEMETAAN POHON PLUS DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT DENGAN TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS. Oleh MENDUT NURNINGSIH E

HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, DENGAN METODA STRATIFIED SYSTEMATIC SAMPLING WITH RANDOM

KADAR AIR TITIK JENUH SERAT BEBERAPA JENIS KAYU PERDAGANGAN INDONESIA ARIF RAKHMAN HARIJADI

BAB IX ANGGARAN PENDAPATAN PERUSAHAAN HUTAN

ANALISIS KERUSAKAN BANGUNAN SEKOLAH DASAR NEGERI OLEH FAKTOR BIOLOGIS DI KOTA BOGOR RULI HERDIANSYAH

BIODETERIORASI BEBERAPA JENIS KAYU DI BERBAGAI DAERAH DENGAN SUHU DAN KELEMBABAN YANG BERBEDA HENDRA NOVIANTO E

SNI Standar Nasional Indonesia. Baja tulangan beton. Badan Standardisasi Nasional

BAB I PENDAHULUAN. Perhutani sebanyak 52% adalah kelas perusahaan jati (Sukmananto, 2014).

PENENTUAN LUASAN OPTIMAL HUTAN KOTA SEBAGAI ROSOT GAS KARBONDIOKSIDA (STUDI KASUS DI KOTA BOGOR) HERDIANSAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Kebutuhan kayu yang semakin meningkat membutuhkan kenaikan

Transkripsi:

PENGUJIAN KUALITAS KAYU BUNDAR JATI ( Tectona grandis Linn. f) PADA PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT TERSERTIFIKASI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA AHSAN MAULANA DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

PENGUJIAN KUALITAS KAYU BUNDAR JATI ( Tectona grandis Linn. f) PADA PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT TERSERTIFIKASI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA AHSAN MAULANA E24104071 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

RINGKASAN SKRIPSI AHSAN MAULANA ( E24104071). Pengujian Kualitas Kayu Bundar Jati (Tectona grandis Linn.F) Tersertifikasi pada Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Dibawah Bimbingan Dr. Ir. Ahmad Budiaman,MSc Kebutuhan kayu bulat untuk memenuhi bahan baku industri kehutanan cenderung semakin meningkat seiring dengan laju permintaan konsumen akan produkproduk hasil hutan, Oleh karena itu dibutuhkan pasokan kayu yang dihasilkan dari sumber lain, salah satunya adalah pasokan kayu yang berasal dari hutan kemasyarakatan. Kualitas kayu yang dihasilkan pada hutan berbasis kemasyarakatan khususnya pengelolaan hutan yang dikelola secara lestari selama ini belum teruji sesuai standar kualitas yang ada. Oleh karena itu untuk menjamin kualitas kayu yang dihasilkan dari pengusahaan hutan kemasyarakatan maka dibutuhkan suatu pengujian kualitas kayu supaya kayu yang dihasilkan dapat diterima oleh industri kehutanan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas kayu dan mengidentifikasi jenis cacat kayu jati yang dihasilkan dari pengelolaan hutan berbasis kemasyarakatan, Penelitian pengujian kualitas kayu bundar jati menggunakan pedoman pengujian kualitas kayu bundar jati yang sesuai dengan acuan normatif Standar Nasional Indonesia (SNI). Pengujian kualitas dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu melalui uji simulasi batang dan pengujian pembagian batang dilapangan. Uji simulasi ini dilakukan untuk menilai kemungkinan penerapan kebijakan pembagian batang yang optimal berdasarkan kelas sortimen dan mutu kayu. Hasil menunjukkan bahwa, jenis cacat bentuk kayu jati yang dapat diidentifikasi adalah kesilindrisan, kebundaran, kelengkungan, dan alur. Cacat badan yang berhasil diidentifikasi adalah pecah belah, pecah banting, Pecah sempler/lepas, lubang gerek, bucakbuncak, lengar dan cacat mata kayu. Untuk cacat bontos, cacat yang ditemukan antara lain adalah gerowong/teras rapuh, pecah hati, pecah gelang, gabeng, pakah dan kunus. Hasil simulasi pembagian batang menghasilkan kelas kualitas terbesar adalah kelas mutu P (32,59%), kelas mutu terbesar kedua adalah mutu D (20,99%). Mutu T dan M masingmasing 17% dan 15,46%, serta mutu U sebesar 13,81%. Hasil

pembagian batang aktual menghasilkan kelas kualitas terbesar adalah mutu kayu D, dengan persentase sebesar 25%. Mutu kayu T sebesar 16%, mutu kayu M (21%), mutu kayu P dengan 23%, dan mutu kayu U dengan persentase sebesar 15%. Kualitas mutu kayu melalui pengujian simulasi sedikit lebih baik dibanding pada pembagian batang aktual, artinya diperlukan perencanaan pembagian batang yang lebih baik agar diperoleh kualitas kayu yang tinggi. Kata kunci : Jati, sertifikasi, simulasi, batang aktual, Standar Nasional Indonesia

LEMBAR PENGESAHAN Judul Skripsi Nama NRP : Pengujian Kualitas Kayu Bundar Jati (Tectona grandis Linn.F) pada Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Tersertifikasi di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara : Ahsan Maulana : E24104071 Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Ahmad Budiaman, MSc. NIP : 131 878 495 Mengetahui : Dekan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr NIP : 131 578 788

PERNYATAAN Dengan ini menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengujian Kualitas Kayu Bundar Jati (Tectona grandis Linn.F) pada Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Tersertifikasi di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara adalah benarbenar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi. Bogor, Maret 2009

KATA PENGANTAR Penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala curahan rahmat dan kasih sayangnya sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini Penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr.Ir.Ahmad Budiaman, MSc yang telah memberikan bantuan, arahan, nasihat dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini. 2. Ir. Jarwadi Budi Hernowo, MSc selaku dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) dan Ir. Muhdin, MSc selaku dosen penguji dari Departemen Manajemen Hutan. 3. Keluarga tercinta (bapak (alm), ibu, kakakkakak) yang telah memberikan dorongan semangat, doa, pengorbanan serta kasih sayangnya baik moral maupun material kepada penulis. 4. Ketua dan staf Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL), Tropical Forest Trust (TFT) Sulawesi Tenggara, LSM Jaringan Untuk Hutan (JAUH) Sultra, serta keluarga bapak Husein atas bantuannya. 5. Rekanrekan seperjuangan di laboratorium Analisis dan Keteknikan Pemanenan, Biokomposit, Rekayasa dan Desain Kayu, Ekonomi Industri, Kimia Hasil Hutan, Kayu Solid serta rekanrekan KSH, MNH, dan Silvikultur yang telah memberikan bantuannya. 6. Keluarga besar Fakultas Kehutanan IPB serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan yang setimpal. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat untuk kita semua. Amin Bogor, Maret 2009 Penulis

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 31 Desember 1986 sebagai anak terakhir dari 7 bersaudara pasangan Bapak H. Saifullah (Alm.) dan Ibu Hj. Muflihah. Penulis melanjutkan pendidikan formal di SMU Negeri 3 Bogor pada tahun 2002 dan lulus pada tahun 2004 melalui program Akselerasi atau program percepatan selama 2 tahun dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis memilih Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan yakni sebagai Kepala Biro Hubungan Luar, Departemen Informasi dan Komunikasi, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan (BEME) tahun 20062007, staf divisi Multimedia Departemen Informasi dan Komunikasi HIMASILTAN tahun 20062007, dan panitia KOMPAK THH Departemen Hasil Hutan tahun 2006. Selain itu penulis juga melakukan Praktek Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) di kawasan hutan Sancang dan Kamojang, dan KPH Cianjur unit III Jawa Barat dan Banten. Praktek Kerja Lapang (PKL) di Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) pada hutan kemasyarakatan Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan skripsi dengan judul Pengujian Kualitas Kayu Bundar Jati (Tectona grandis Linn.F) pada Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Tersertifikasi di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dibimbing oleh Dr. Ir. Ahmad Budiaman, MSc.

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... iv DAFTAR LAMPIRAN... v I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Tujuan..... 2 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pengujian dan Kualitas... 3 2.2.Prinsip Pengujian... 3 2.3.Cacat Kayu... 5 2.4.Sertifikasi Ekolabel... 8 2.5.Jati... 9 2.6.Hutan Kemasyarakatan atau Hutan Rakyat... 11 III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian... 14 3.2. Alat dan Bahan... 14 3.3. Batasan Masalah... 14 3.4. Penentuan Unit Contoh... 14 3.5. Pengukuran Dimensi... 15 3.6. Prinsip Pengujian... 28 3.7. Kualitas Kayu Bundar Jati... 29 3.8. Pelaksanaan Pengukuran... 29 3.9. Pengolahan dan Analisis Data... 30 IV. KONDISI UMUM 4.1. Letak dan Luas... 32 4.2. Pengelolaan Hutan... 32 5.1. Sejarah Sertifikasi Ekolabel KHJL... 33 4.3. Topografi dan Kelerengan... 35 4.4. Tanah... 35 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Potensi Tegakan Sebelum Penebangan... 36 5.2. Pembagian Batang Perseksi... 37 5.3. Pembagian Sortimen di Lapangan... 40 5.4. Kualitas Kayu Bundar Jati... 42 5.5. Perbandingan Total pada Pengujian Simulasi dengan Pembagian Batang Aktual KHJL... 45 VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan... 47 6.2. Saran... 47 DAFTAR PUSTAKA... 48 LAMPIRAN... 51

No. DAFTAR TABEL Halaman 1. Luas areal kawasan hutan di Kabupaten Konawe Selatan... 32 2. Sebaran diameter jati di areal penelitian... 37 3. Distribusi batang utama berdasarkan kelas diameter... 38 4. Distribusi cabang dan ranting berdasarkan diameter... 38 5. Sebaran diameter pada pembagian batang aktual... 41 6. Kualitas kayu pada uji simulasi pembagian batang... 43 7. Kualitas kayu pada uji simulasi cabang dan ranting... 44 8. Kualitas kayu bundar jati pada pembagian batang aktual... 45 9. Perbandingan uji simulasi dengan pembagian batang aktual berdasarkan jumlah sortimen... 45 10. Perbandingan uji simulasi dengan pembagian batang aktual berdasarkan kualitas kayu... 46

No. DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Sketsa pengukuran dimensi perseksi... 15 2. Cara menghitung persentase (%) cacat kesilindrisan... 17 3. Cara menghitung persentase (%) cacat kebundaran... 18 4. Cara menghitung persentase (%) cacat kelurusan... 19 5. Cara menghitung alur... 19 6. Cara menghitung jumlah lubang gerek... 20 7. Cara menghitung persentase (%) pecah belah ( Pe / Be )... 21 8. Cara menghitung diameter mata kayu... 21 9. Cara menilai cacat benjolan... 22 10. Cara menghitung jumlah dan luas Kt... 23 11. Cara menghitung % Peb/Peg... 23 12. Cara menghitung pecah bontos... 24 13. Penilaian cacat lengar... 24 14. Cara menghitung cacat pecah banting ( Prbt)... 25 15. Cara menghirung lebar pecah slemper... 25 16. Cara mengukur kedalaman cacat gerowong (Gr)... 26 17. Cara mengukur tebal gubal segar... 27 18. Cacat pakah... 27 19. Sertifikat ekolabel FSC... 33 20. Contoh cacat gerowong dan alur pada batang kayu jati... 39 21. Persentase cacat kayu pada pohon yang ditebang... 39 22. Persentase cacat pada simulasi cabang dan ranting... 40 23. Persentase cacat pada pembagian batang aktual... 42

No. DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Tabel penetapan syarat mutu kayu bundar jati... 51 2. Tabel cacat dan mutu kayu pada pengujian simulasi per seksi... 55 3. Tabel cacat dan mutu kayu pada pembagian batang aktual... 69

1.1. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN Pemanenan hasil hutan kayu merupakan kegiatan yang penting untuk mendukung keberhasilan pengelolaan dan pengusahaan hutan. Tujuan dari kegiatan pemanenan kayu salah satunya adalah untuk memaksimalkan nilai kayu dan mengoptimalkan suplai bahan baku industri. Untuk meningkatkan pasokan kayu untuk bahan baku industri, maka diperlukan sumber bahan baku kayu lainnya selain dari HPH/HTI, salah satu sumber bahan baku yang dapat dioptimalkan adalah hutan berbasis masyarakat. Untuk menjamin kualitas kayu yang dihasilkan dari pengelolaan hutan berbasis masyarakat, diperlukan pengujian kualitas kayu agar mutu kayu yang dihasilkan dapat diterima oleh pasar. Kualitas kayu jati yang dihasilkan dari hutan berbasis masyarakat ini belum teruji secara menyeluruh sesuai dengan acuan normatif standar kualitas yang ada. Pengujian kualitas kayu bulat jati di hutan berbasis masyarakat masih minim dilakukan, oleh karena itu pengujian kualitas kayu pada pengelolaan hutan berbasis masyarakat perlu dilakukan. Hasil dari pengujian kualitas kayu ini digunakan sebagai dasar untuk membagi batang secara skematis untuk mendapatkan nilai kayu yang maksimal. Kayu jati merupakan kayu yang memiliki nilai ekonomis tinggi, oleh karena itu dibutuhkan suatu kebijakan pembagian batang yang baik agar nilai ekonomis kayu jati dapat ditingkatkan. Mengingat pengelolaan hutan berbasis masyarakat ini telah mendapatkan sertifikasi ekolabel, maka seluruh bagian kayu mempunyai nilai pasar yang tinggi, sehingga sedapat mungkin semua bagian batang yang dihasilkan dapat menjadi bahan baku industri yang bernilai mutu tinggi. 1.2. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi dan mengukur jenis dan cacat kayu jati pada pengelolaan hutan berbasis masyarakat. 2. Menentukan kualitas kayu bulat Jati pada pengelolaan hutan berbasis masyarakat. 1.3. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat menyampaikan data dan informasi kondisi kayu jati secara menyeluruh bagi koperasi yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kualitas kayu jati yang lebih baik dan bernilai tinggi.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pengujian dan Kualitas Pengujian merupakan evaluasi dan kajian teknis produk rekayasa genetik yang meliputi teknik perekayasaan, efikasi dan persyaratan keamanan hayati di laboratorium, fasilitas uji terbatas dan/atau lapangan uji terbatas (Badan Standarisasi Nasional, 2001). Pengujian hasil hutan didefinisikan sebagai suatu kegiatan dalam rangka menetapkan jenis, ukuran, isi (volume) dan mutu (kualitas) hasil hutan. Pengujian kayu adalah suatu kegiatan dalam rangka menetapkan jenis, isi (volume), dan mutu kayu (Badan Standarisasi Nasional, 2003). Pengukuran dan pengujian kayu menurut Badan Standarisasi Nasional (2001) diartikan sebagai suatu kegiatan untuk mencapai optimalisasi pemanfaatan hasil hutan yang meliputi penetapan jenis, penetapan ukuran (volume/berat) dan penetapan kualitas hasil hutan. Kualitas adalah faktorfaktor yang terdapat dalam suatu barang (hasil) tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa mereka dibutuhkan (Assauri, 1980). Kualitas menurut Badan Standarisasi Nasional (1994) diartikan sebagai kemampuan bahan/barang (hasil) untuk tujuan tertentu berdasarkan karakteristik yang dimilikinya. 2.2. Prinsip Pengujian Kayu Pengujian kayu menurut Badan Standarisasi Nasional (2003) diartikan sebagai suatu kegiatan dalam rangka menetapkan jenis, isi (volume), dan mutu kayu. Penetapan ukuran kayu bundar jati menurut SNI 015007.172001, tentang Pengukuran dan tabel isi kayu bundar Jati. Yaitu : 1. Satuan untuk diameter kayu adalah cm (centi meter) dengan kelipatan 3 (tiga) cm penuh untuk sortimen AI, AII serta kelipatan 1 cm penuh untuk sortimen AIII.

2. Satuan untuk panjang adalah meter (m) dengan kelipatan 10 cm penuh untuk panjang sampai dengan 10,00 meter dan 50 cm penuh untuk panjang lebih dari 10,00 meter 3. Satuan untuk isi kayu bundar adalah meter kubik (m 3 ), dengan penulisan 3 (tiga) angka di belakang koma untuk sortimen AI dan AII serta 2 angka dibelakang koma untuk sortimen AIII. Kualitas adalah faktorfaktor yang terdapat dalam suatu barang (hasil) tersebut sesuai dengan tujuan untuk apa mereka dibutuhkan (Assauri, 1980). Pada prinsip pengujian menurut Standar Nasional Indonesia, kayu bundar jati yang akan diuji harus : 1. Dapat dibolakbalik sehingga semua permukaan kayu dapat dilihat secara keseluruhan 2. Diuji pada siang hari (di tempat terang) sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu 3. Pengambilan contoh dilakukan dengan mempertimbangkan keterwakilan populasi Sebelum pengujian sebaiknya bebas dari kulit kayu (kliko) sehingga tanda yang akan dituliskan pada batang tidak hilang. Karena, tanda tersebut memiliki fungsi informatif, control, dan administratif. 1. Dilakukan pemeriksaan secara teliti terhadap pohon yang roboh tersebut, memeriksa kelurusan batang, cacat yang ada serta kepecahan, baik dari atas maupun dari samping batang. 2. Dilakukan penandaan pembagian batang (dengan tir) pada bagianbagian yang akan dipotong, dengan tiga garis tir antara lain satu garis panjang untuk tempat potong, 2 garis kecil sebagai penanda yang berfungsi untuk kontrol. 3. Pembagian dilakukan dari pangkal, sedangkan pemotongan dilakukan dari ujung. 4. Disamping tanda pembagian, diberikan juga tanda pada batangbatang yang perlu dikepras (benjolanbenjolan dan cacat).

5. Semua batang harus dilakukan pembagian sampai pada cabangcabang kecil (Ø 10 sentimeter panjang 1 meter) untuk kayu perkakas dan kemudian kayu bakar. 2.3. Cacat Kayu Bearly (2001) membagi cacat kayu kedalam dua bagian, yakni pertama cacat yang ditimbulkan dari pengaruh lingkungan sepanjang pohon itu hidup antara lain penyimpangan bentuk pohon, serat terpilin, kayu reaksi (kayu tekan dan kayu tarik), pertumbuhan lingkar tahun yang abnormal, warna yang abnormal dan lainlain. Kelompok cacat kedua adalah cacat yang disebabkan oleh pertumbuhan alami seperti mata kayu dan empelur. Karlinasari (2006), menyatakan bahwa penyimpangan atau abnormalitas dari struktur normal dalam kayu tidak diperhatikan apabila kayu dianggap sebagai bagian dari organisme hidup dan sebagai subjek yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sepanjang hidupnya. Namun ketika kayu dilihat dari sudut pandang sebagai bahan baku maka abnormalitas dalam struktur kayu sangat diperhatikan karena dapat menurunkan nilai fungsinya. Abnormalitas tersebut biasa dikenal dengan sebutan cacat kayu. Karlinasari (2006), menyatakan bahwa cacat kayu (defect) adalah penyimpangan atau kelainan pada kayu yang dapat mempengaruhi mutu kayu. Berdasarkan penyebabnya cacat kayu dapat dibagi menjadi : 1. Cacat alami (natural defects), karena lingkungan dan serangan makhluk biologis. Contohnya mata kayu (knots), kantung damar (pitch poket), saluran damar (resin streaks), cacat mineral, kayu reaksi, dan fungi. 2. Selain penyebab alami / akibat pengolahan. Contohnya adalah twist, cupping, bowing, wane, compression failure, cross breaks, dan cross grain.

Berdasarkan kategorinya cacat terbagi atas : 1. Cacat bentuk yaitu penyimpangan atau kelainan dalam pada kayu terhadap bentuknya yang normal. Contohnya membusur (bowing), melengkung (crooking / spring), melintang (twisting) dan lainlain. 2. Cacat badan yaitu penyimpangan atau kelainan yang terdapat pada keempat sisi kayu dan bukan merupakan cacat bentuk. Contonya adalah mata kayu (knots), retak (checks), pecah (shakes), dan lubang serangga 3. Cacat bontos yaitu penyimpangan atau kelainan yang terdapat pada bagian bontos kayu dan bukan merupakan cacat bentuk dan cacat badan. Contohnya adalah hati kayu. Persyaratan cacat adalah cara persyaratan mutu berdasarkan kepada jenis, jumlah, dan atau besarnya cacat maksimal yang diperkenankan, dengan memperhatikan lokasi dan hubungannya dengan cacatcacat lain. Beberapa deinisi cacat yang sesuai acuan normatif Standar Nasional Indonesia (SNI 015007.12003), antara lain : 1. Alur adalah suatu lekukan pada permukaan batang kayu 2. Buncakbuncak (Bc) adalah cacat kayu berupa benjolan atau bukan benjolan 3 titik pada badan kayu bundar tetapi tidak berupa mata kayu yang mempengaruhi permukaan. 3. Gabeng (Gg) merupakan keadaan kayu yang menyerupai rapuh yang dapat dilihat pada bontos kayu. 4. Gerowong (Gr) : lubang besar pada bontos kearah panjang kayu, baik tembus maupun tidak tembus tanpa atau dengan tandatanda pembusukan. 5. Gubal (Gu) adalah bagian dari kayu yang terdapat diantara kulit dan kayu teras, pada umumnya berwarna lebih terang dari kayu terasnya serta kurang awet. 6. Kebundaran adalah bentuk kayu yang ditetapkan dengan cara membandingkan diameter terkecil dengan diameter terbesar pada setiap bontosnya dalam persen.

7. Kesilindrisan merupakan bentuk kayu yang ditetapkan dengan cara membandingkan selisih dp dan du dengan panjang kayu dalam persen. 8. Kunus adalah cacat pada bontos kayu berupa cabang akibat dari kesalahan teknis menebang. 9. Lengar (Lr) adalah merupakan lekukan pada batang kayu yang umumnya disebabkan oleh kebakaran atau sebab lainnya 10. Mata kayu (Mk) adalah bekas cabang atau ranting pada permukaan kayu dengan penampang lintang berbentuk bulat atau lonjong. 11. Pakah : bontos kayu dipotong pada pertemuan antara 2 (dua) cabang ditandai dengan adanya 2 (dua) hati dan terpisahnya lingkaran tumbuh. 12. Pecah belah (Pe/be) adalah terpisahnya serat kayu melebar sehingga merupakan celah dengan lebar 2 mm atau lebih dan menembus teras. 13. Pecah banting (Pebt) adalah pecah yang tidak beraturan terjadi pada waktu penebangan. 14. Pecah busur (Pb) adalah pecah yang sejajar dengan busur bontos kayu atau searah dengan lingkaran tumbuh sehingga merupakan busur lingkaran setengah lingkaran. 15. Pecah gelang (Pg) adalah pecah yang sejajar dengan busur bontos kayu atau searah dengan lingkaran tumbuh sehingga merupakan busur lingkaran > setengah lingkaran. 16. Pecah hati adalah terpisahnya serat dimulai dari hati memotong terhadap lingkaran tumbuh. 17. Pecah lepas adalah akibat bagian dari badan kayu yang hilang / lepas ke arah ke arah memanjang. 18. Pecah slemper adalah pecah sejajar pada bontos yang tidak menembus badan kearah memanjang, tetapi sebagian kayunya masih menyatu. 2.4. Sertifikasi Ekolabel Sistem sertifikasi adalah mekanisme keterkaitan dan ketergantungan antara pemohon obyek sertifikasi, penguji, pelaksana infeksi lapangan, pemberi

sertifikat dan pelaksana pengawasan (Winarto 2006, diacu dalam Badan Standarisasi Nasional 1998). Sistem sertifikasi lacak balak adalah tata laksana keterkaitan dan ketergantungan antara pemohon sertifikasi, panel pakar, penilai lapangan, lembaga sertifikasi lacak balak, Dewan Pertimbangan Sertifikasi (DPS), pelaksana penilikan (surveillance) dan pihakpihak terkait (stakeholder) dalam sertifikasi lacak balak (Winarto 2006, diacu dalam Standar LEI 2000). Sistem sertifikasi pengelolaan hutan produksi lestari adalah tata laksana keterkaitan dan ketergantungan antara pemohon sertifikasi, panel pakar, penilai lapangan, lembaga sertifikasi lacak balak, Dewan Pertimbangan Sertifikasi (DPS), pelaksana penilikan (surveillance) dan pihakpihak terkait (stakeholder) dalam sertifikasi PHPL (Winarto 2006, diacu dalam Standar LEI 2000). Sertifikat menurut Winarto (2006) diacu dalam Peraturan Pemerintah No.102 (2000) diartikan sebagai jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga/laboratorium yang telah diakreditasi untuk menyatakan bahwa barang, jasa, proses, system atau personel telah memenuhi standar yang dipersyaratkan. Sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari adalah sertifikasi yang menjamin telah diterapkannya usahausaha bagi pengelolaan hutan produksi lestari ( Winarto 2006, diacu dalam Badan Standarisasi Nasional 1998). Sertifikasi lacak balak adalah kegiatan yang dilakukan oleh pihak ketiga yang independen untuk mengeluarkan pernyataan bahwa hasil hutan yang diproduksi oleh unit usaha kehutanan berasal dari hutan yang dikelola secara lestari. Sertifikasi hutan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pihak ketiga yang independen untuk mengeluarkan pernyataan bahwa pengelolaan hutan oleh unit manajemen, sumber bahan baku maupun pengolahan hasil hutan oleh unit usaha kehutanan, yang terdiri atas sertifikasi PHPL, lacak balak dan pelabelan produk hasil hutan (Winarto 2006, diacu dalam Standar LEI 2000). Ekolabel menurut Badan Standarisasi Nasional (1998) diartikan sebagai label yang dilekatkan pada produk yang dihasilkan oleh perusahaan pemohon,

yang memberikan informasi bahwa pemohon telah memenuhi kriteria dan indikator pengelolaan hutan produksi lestari dan memenuhi kriteria dan indikator penelusuran kayu (Chain of custody/timber tracking). Penilaian hutan secara lestari adalah serangkaian strategi dan pelaksanaan kegiatan untuk menjamin keberlanjutan fungsifungsi produksi, ekologi, dan sosial dari hutan alam produksi (Winarto 2006, diacu dalam Kepmenhut 2003). 2.5. Jati Sumarna (2001), menyatakan bahwa secara morfologis, tanaman Jati memiliki tinggi yang dapat mencapai sekitar 3045 m. Dengan pemangkasan, batang yang bebas cabang dapat mencapai antara 1520 m. Diameter batang dapat mencapai 220 cm. Kulit kayu berwarna kecoklatan atau abuabu yang mudah terkelupas. Pangkal batang berakar papan pendek dan bercabang sekitar 4. Daun berbentuk opposite (jantung membulat dengan ujung meruncing) Pandit dan Ramdan (2002 ), menyatakan bahwa jati merupakan kayu kerap dan kuat. Bagian teras berwarna kuning emas kecoklatan sampai coklat kemerahan, mudah dibedakan dengan gubal yang berwarna putih keabuabuan. Kayu bercorak dekoratif yang indah karena mempunyai lingkaran tumbuh yang jelas yang dapat dilihat baik pada bidang lintang, radial, maupun tangensial. Berat jenis ratarata 0,67 ( 0,620,75 ) dengan kelas awet III dengan kelas kuat II. Kayu Jati mempunyai ciriciri anatomi : 1. Pori bentuk bulat serupa oval 2. Diameter tangensial bagian kayu awalnya 340370 μm, kayu akhir 50290 μm 3. Pori berisi Tylosis dan deposit warna putih 4. Apotrakeal jarang, umumnya membentuk rantai yang terdiri dari sekitar 4 sel. 5. Jarijari lebar yang terdiri dari 4 sel atau lebih, dengan jumlah sekitar 47 per mm arah tangensial, komposisi seragam dan tinggi dapat mencapai 0,9 mm

Sumarna (2001), menyatakan bahwa tanaman jati merupakan tanaman tropika dan subtropika yang sejak abad ke9 telah dikenal sebagai pohon yang memiliki kualitas tinggi dan bernilai jual tinggi. Di Indonesia, jati digolongkan sebagai kayu mewah (fancy wood) dan memiliki kelas awet (mampu bertahan hingga 500 tahun) Dalam sistem klasifikasi, tanaman jati mempunyai penggolongan sebagai berikut (Sumarna, 2001): Divisi : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Subkelas : Dicotyledoneae Ordo : Verbenales Famili : Verbenaceae Genus : Tectona Spesies : Tectona grandis Linn. F. Hadikusumo (2001), menyatakan bahwa pohon jati rakyat umumnya tidak sampai berumur tua sudah ditebang karena kebutuhan akan kayu pertukangan ataupun kebutuhan akan uang bagi pemiliknya. Pohon jati yang belum cukup tua ini memiliki kandungan kayu juvenil yang cukup besar. Padahal, apabila suatu sortimen mengandung kayu juvenil yang bercampur dengan kayu dewasa, maka sortimen tersebut akan mengalami pelengkungan setelah kering. Eropa, yang merupakan pasar strategis bagi banyak negara berkembang untuk memasarkan produk kayu mereka, memiliki tuntutan yang relatif tinggi dalam hal sertifikasi. Banyak pembeli kayu hanya mau membeli kayu jati yang bersertifikasi meski dengan harga yang lebih mahal. Dengan sertifikasi itu, para pembeli dapat melacak jejak sumber kayu yang dibelinya. Sehingga dapat dipastikan, apakah berasal dari hutan lindung atau hutan produksi.

2.6. Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Menurut UndangUndang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuanketentuan pokok kehutanan, dijelaskan bahwa hutan berdasarkan kepemilikannya dibagi menjadi dua, yaitu hutan negara dan hutan milik. Hutan negara merupakan kawasan hutan yang tumbuh diatas tanah yang tidak terbebani hak milik, sedangkan hutan milik adalah hutan yang dibebani hak milik. Sedangkan menurut UndangUndang Nomor 41Tahun 1999, hutan rakyat adalah hutan buatan yang terletak di luar kawasan hutan negara, dalam satu hamparan dan seringkali disebut hutan milik. Selanjutnya Lembaga Penelitian IPB (1986) menambahkan bahwa hutan dalam istilah hutan rakyat disini tidaklah sama dengan pengertian sebagai biocoenose yang terdiri lahan, pohon, tumbuhan lain, dan binatang yang saling berinteraksi menciptakan iklim mikro. Adapun dasar pemilikan hutan rakyat sebagaimana dalam rumusan undangundang, yaitu : 1. Penguasaan tanah harus dilakukan lebih dahulu, kemudian mengusahakan hutan 2. Pemilikan hak atas tanah harus lebih dahulu diperoleh dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk kemudian mengurus pemilikan hutan. 3. Penguasaan dan pemilikan tanah kering secara perorangan sangat dibatasi (maksimum 5 Ha) menurut ketentuan hukum pertanahan. 2.6.1. Bentuk Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Departemen Kehutanan (1990) dalam Setyawan (2002) menyebutkan bahwa berdsasarkan jenis tanamannya dan penanamannya hutan rakyat terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu : 1. Hutan rakyat murni, yaitu hutan rakyat yang hanya terdiri dari satu jenis tanaman pokok berkayu yang ditanam dan diusahakan secara homogen

2. Hutan rakyat homogen, yaitu hutan rakyat yang terdiri dari berbagai jenis pepohonan yang ditanam secara campuran. 3. Hutan rakyat agroforestry, yaitu mempunyai bentuk usaha kombinasi kehutanan dengan cabang usaha tani lainnya seperti perkebunan, pertanian, tanaman pangan, dan peternakan secara terpadu. Pada pengusahaan hutan rakyat, pola usaha tani hutan berbasis masyarakat masih dilakukan secara tradisional dan belum sepenuhnya memperhatikan prinsipprinsip ekonomi perusahaan yang paling menguntungkan (Hardjanto, 1990). Selanjutnya dikemukakan pemilik hutan kemasyarakatan umumnya belum menggantungkan penghidupannya pada hutanhutan yang dimilikinya, mereka mengusahakan hutan rakyat tersebut sebagai sambilan. Faktor penyebab hal tersebut adalah : 1. Belum adanya persatuan antar pemilik hutan. 2. Sistem silvikultur belum diterapkan secara sempurna. 3. Kurangnya pengetahuan petani dalam pemasaran hasil hutan rakyat. 4. Belum adanya kelembagaan khusus yang menangani pengusahaan hutan rakyat. 2.6.2. Tujuan dan Peranan Hutan Berbasis Masyarakat Terdapat 3 tujuan pengelolaan hutan rakyat (Lembaga Penelitian IPB,1990), yaitu : 1. Adanya peningkatan peran dari hutan rakyat terhadap peningkatan pendapatan petani hutan rakyat secara berkesinambungan. 2. Adanya peningkatan peran dari hutan rakyat terhadap peningkatan kualitas lingkungan secara berkesinambungan. 3. Adanya peningkatan peran dari hutan rakyat terhadap peningkatan pendapatan pemerintah daerah secara berkesinambungan. Menurut Lembaga Penelitian IPB (1986), hutan kemasyarakatan merupakan sumber kayu dan hasil hutan lainnya, termasuk fungsinya sebagai pelindung tanah dari bahaya erosi. Selanjutnya dikatakan bahwa hutan rakyat mempunyai peranan penting bagi masyarakat terutama dalam hal :

1. Meningkatkan pendapatan masyarakat 2. Meningkatkan produksi kayu bakar 3. Menyediakan kayu bangunan maupun bahan baku industri. 4. Membantu penyerapan air ditempattempat recharge area

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di hutan tanaman rakyat yang tergabung dalam Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pengelolaan hutan dilakukan dengan pola pengelolaan bersama antara koperasi, petani hutan, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pengelolaan hutan ini telah memperoleh sertifikat ekolabel Forest Stewardship Council (FSC). Penelitian ini dilaksanakan selama ± 2 bulan, yaitu mulai bulan Mei sampai Juli tahun 2008. 3.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah tally sheet, pita meter, tongkat ukur, alat sogok, kapur tulis, cat, pisau pemotong, kalkulator, kamera, dan komputer. 3.3. Batasan Masalah Ruang lingkup permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah pada kegiatan penebangan, perencanaan pembagian batang, dan pelaksanaan pembagian batang. Objek penelitian ini adalah semua pohon rebah yang ditebang oleh koperasi sesuai jatah tebangan yang telah ditentukan. Perhitungan diameter (dengan kulit), panjang, dan volume dilakukan ketika pohon rebah. 3.4. Penentuan Pohon Contoh Pohon contoh yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah pohon yang ditebang pada areal KHJL selama bulan Mei sampai dengan Juli 2008, jumlah pohon contoh ditetapkan sebanyak 33 pohon. 3.5. Pengukuran Dimensi Pengukuran dimensi dalam pengujian kualitas kayu bulat Jati ini dibagi menjadi 2 ( dua ) bagian, yaitu :

3.5.1. Pengukuran Dimensi Pohon Per Seksi Pengukuran pohon perseksi merupakan tahapan pengukuran yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai dimensi dan kondisi fisik pohon termasuk keberadaan cacat kayu. Hasil pengukuran ini digunakan sebagai dasar pembagian batang. Pengukuran dilakukan setelah pohon rebah dan sebelum dilakukan pembagian batang, dilakukan pengukuran untuk menentukan dimensi kayu antara lain keliling dan identifikasi cacat yang terdapat pada kayu. Cara pengukuran dimensi pohon perseksi disajikan pada Gambar 1. Seksi 1 Seksi 2 dst 1 meter 1 meter Tempat pengukuran keliling. Gambar 1. Sketsa pengukuran dimensi perseksi Pengukuran terhadap karakteristik cacat diukur sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan ketentuan pengujian kualitas kayu bulat Jati ( Tectona grandis Linn.F ). Parameter cacat yang akan diamati antara lain : 1. Jenis cacat 2. kedalaman cacat 3. Letak 4. Jumlah 5. Diameter cacat Hasil pengukuran ini digunakan sebagai dasar untuk membagi batang secara skematis. 3.5.2. Pengukuran Pembagian Batang Aktual Pengukuran sortimen hasil pembagian batang di lapangan dilakukan sesuai dengan kebijakan pembagian batang dari KHJL. Tahapan pengukuran

yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh kondisi fisik termasuk keberadaan cacat kayu. 1. Pengamatan dilakukan terhadap semua cacat yang terdapat pada kayu, baik terhadap cacat bentuk, cacat badan, maupun cacat bontos, kemudian cacat terberat. 2. Penilaian dilakukan dengan cara mengamati keadaan dan penyebarannya, mengukur besarnya, serta menghitung jumlahnya sesuai persyaratan yang ditetapkan. 3. Pengukuran dilakukan setelah pohon rebah dan telah dilakukan pembagian batang. Kebijakan pembagian batang KHJL menetapkan bahwa kayukayu tersebut berasal dari tebangan pohon yang telah memiliki diameter diatas 30 cm. Sedangkan panjang dan diameter batang disesuaikan dengan permintaan pasar. KHJL tidak memanfaatkan cabang dan ranting dalam menjual kayunya, seluruh kayu berasal dari pembagian batang utama kayu. 3.5.3. Pengukuran Cacat Kayu a) Cacat kesilindrisan Dinyatakan silindris (Si), hampir silindris (Hsi) dan tidak silindris (Tsi) dengan parameter : 1. Silindris apabila perbandingan antara selisih dp dan du dengan panjang 1% p. 2. Hampir silindris (Hsi) apabila perbandingan antara selisih dp dan du dengan panjang > 1% sampai dengan 2 % p. Tidak silindris (Tsi) apabila perbandingan antara selisih dp dan Cara menghitung % kesilindrisan lihat Gambar 2 : % Kesilindrisan = (dp du) x 100% / p

dp du d3 d1 dp = (d1+d2) / 2 du = (d3+d4) / 2 d4 d2 Gambar 2. Cara menghitung persentase (%) cacat kesilindrisan Keterangan : 1. d1 adalah garis tengah terpanjang diameter pangkal (dp) 2. d2 adalah garis tengah terpendek diameter ujung (du) 3. d3 adalah garis tengah terpanjang diameter pangkal (dp) 4. d4 adalah garis tengah terpendek diameter ujung (du) 5. d p adalah diameter pangkal 6. d u adalah diameter ujung 7. p adalah panjang kayu 8. du dengan panjang > 2 % p. b) Cacat kebundaran Dinyatakan bundar (Br), hampir bundar (Hbr) dan tidak bundar (Tbr) apabila : 1. Bundar (Br) apabila perbandingan antara du dan dp 90% 2. Hampir bundar (Hbr) apabila perbandingan antara du dan dp 80% sampai < 90% 3. Tidak bundar (Tbr) apabila perbandingan antara du dan dp < 80% Cara menghitung persentase (%) kebundaran lihat Gambar 3. d1 d3 % kebundaran = x 100% dan atau x 100% d2 d4 d1 d3 d4 d2 Gambar 3. Cara menghitung persentase (%) cacat kebundaran

Keterangan : 1. d 1 adalah garis tengah terpanjang 2. d 2 adalah garis tengah terpendek 3. d 3 adalah garis tengah terpanjang 4. d 4 adalah garis tengah terpendek c) Cacat kelurusan / kelengkungan Penilaian terhadap cacat kelurusan dinyatakan dalam persen, misalnya < 3 % yaitu kedalaman lengkungnya tidak lebih dari 3 % panjang kayu. Untuk jenis tertentu besar kedalaman lengkung dibatasi dalam cm serta dihitung jumlahnya. Cara menghitung % kelurusan lihat Gambar 4. % kelurusan = ( y / p) x 100 % Y P Gambar 4. Cara menghitung % kelurusan Keterangan : y adalah kedalaman lengkung dan p adalah panjang kayu d) Cacat alur Ditetapkan dengan cara mengukur dalamnya alur pada tempat yang terdalam terhadap permukaan kayu yang bersangkutan. Apabila pada kayu terdapat > 1 alur, masingmasing alur diukur dalamnya kemudian dijumlahkan. Apabila terdapat lebih dari 2 alur, yang dijumlahkna hanya 3 alur utama. Kemudian apabila sebatang kayu terdapat alur yang panjangnya > ½ p dan p, dianggap keduanya > ½ p. Cara menghitung kedalaman alur lihat Gambar 5.

b Gambar 5a dan 5b. Cara menghitung alur Keterangan 5 a : jumlah alur 1 buah keterangan 5 b : jumlah alur > 2 buah e) Cacat lubang gerek (LG) Penilaian cacat lubang gerek dinyatakan dalam : 1. besarnya lubang : LG kecil, LG sedang dan LG besar 2. Jumlah/ sebaran : Tersebar merata (Tm) atau gerombol (Gr) untuk Lgk / Lgs, sedangkan untuk Lgb dihitung jumlah tiap meter panjang (tmp) nya 3. khusus untuk Lgb > 10 bh / tmp, diukur kedalaman lubangnya untuk menghitung persentase dan isi cacat gubal. Pengukuran cacat lubang gerek lihat Gambar 6. A panjang 1 meter Gambar 6. Cara menghitung jumlah Lubang gerek

Keterangan : jumlah Lgb dihitung jumlah tmp (contoh dalam gambar adalah 3 bh dalam tiap meter panjang) kotak A berukuran 12,5 cm x 12,5 cm diletakkan pada badan kayu yang mempunyai Lgk terbanyak, kemudian hitung jumlahnya. Apabila > 30 bh dianggap Gr dan 30 bh dianggap Tm. f) Cacat pecah atau belah (pe / be) Penilaian terhadap cacat Pe / Be dinyatakan dalam persen, misalnya 15 % p, yaitu jumlah panjang semua Pe / Be pada kedua bontosnya adalah 15 % dari panjang kayu (p). Pe / Be yang berhadapan dianggap 1 (satu) buah. Pengukuran cacat Pe/Be lihat gambar 7. % Pe / Be = ( a + c+ d ) / p x 100 % a p c d Gambar 7. Cara menghitung % Pe / Be g) Cacat mata kayu (Mk) Penilaian terhadap cacat Mk dinyatakan dalam : 1. Keadaan Mk, yaitu mata kayu sehat dan mata kayu busuk 2. Jumlah Mk, yaitu dalam tiap meter panjang (tmp) 3. Diameter Mk, yaitu ratarata panjang dan lebar Mk terbesar, diukur pada batas gubal 4. Jarak (jrk) Mk adalah jarak terpendek antar Mk (Mks/Mkb) sejajar sumbu kayu. Cara menghitung diameter Mk, Jumlah Mk, jarak Mk, serta perbandingannya lihat gambar :

A B Diameter Mk = (a+b) / 2 Gambar 8. Cara menghitung jml Mk, Jrk Mk, dan perbandingannya Keterangan : 1. Jumlah Mk adalah 1 bh tmp, atau 2 bh tdp 2. Jarak antar Mk adalah jrk 1 (yang terpendek) h) Cacat benjolan / Buncakbuncak Penilaian terhadap cacat benjolan dinyatakan dalam : 1. Jarak terpendek antar benjolan sejajar sumbu kayu 2. Jumlah tmpnya dan atau tiap batangnya 3. Untuk jenis tertentu, perlu diukur diameternya Cara penilaian benjolan (Bj) : Jarak 1 tmp tmp tmp Gambar 9. Cara menilai cacat benjolan Keterangan : 1. Jarak Bj adalah jarakjarak terpendek sejajar sumbu kayu 2. Jumlah benjolan adalah 2 bh atau 3 bh / btg 3. tmp adalah tiap meter panjang i) Cacat kulit tersisip/ kulit tumbuh (Kt) Penilaian terhadap cacat kulit tersisip / kulit tumbuh dinnyatakan dalam :

1. Jumlah Kt di badan dihitung tmp, di bontos dihitung per bontos. 2. Luas Kt dengan cara mengalikan panjang dan lebar Kt ( di bontos) 3. Panjang Kt di bontos dibandingkan dengan diameter dalam satuan persen Cara menghitung jumlah, luas dan panjang Kt lihat Gambar 10. L p tmp tmp tmp Gambar 10. Cara menghitung jumlah dan luas Kt Keterangan : 1. Jumlah Kt di badan dihitung 1 buah tiap meter panjang 2. Jumlah Kt di bontos dihitung 2 buah / bontos 3. Luas Kt 1 / Kt 2 adalah panjang x lebar 4. Luas Kt = Luas Kt1 + luas Kt 2 j) Cacat pecah busur / pecah gelang (Peb / Peg) Penilaian terhadap cacat Peb/Peg dinyatakan dalam persen dengan cara : 1. Membandingkan panjang linier atau panjang lengkungan Peb/Peg yang terpanjang dari kedua bontosnya terhadap diameter kayu. 2. Membandingkan jumlah panjang linier seluruh Peb/Peg setiap bontos terhadap diameter kayu 3. Cara mengitung % Peb/Peg lihat Gambar 11. x z Gambar 11. Cara menghitung % Peb/Peg

Keterangan : % Peb/Peg = ( y / d ) * 100 % ( yang terpanjang ) % Peb/Peg = (x + y + z) / d * 100 % (jumlah seluruhnya) k) Cacat pecah bontos (Pebo) Penilaian terhadap cacat Pecah bontos dinyatakan dalam ada atau tidak ada, untuk jenis tertentu dihitung jumlah bontosnya. Pecah bontos yang saling berhadapan dianggap 1 bh. Gambar 12. Cara menghitung pecah bontos Keterangan : Jumlah Pecah bontos 4 buah per bontos dan jumlah Pecah bontos 2 buah per bontos l) Cacat lengar Penilaian terhadap cacat lengar adalah diukur besar lebarnya terhadap keliling kayu dan panjangnya terhadap panjang kayu. Teras busuk Gubal hilang Gambar 13. Penilaian Cacat lengar m) Penilaian pecah banting (Pebt) Penilaian cacat pecah banting (Pebt) dilakukan terhadap lebar dan panjang Pebt, yaitu :

1. Lebar Pebt dibandingkan dengan keliling kayu, seperti ¼ keliling 2. Panjang Pebt dibandingkan dengan panjang kayu dalam persen, seperti 20 % p Cara mengitung Pebt lihat Gambar 14. Pebt Lb Pj Gambar 14. Cara menghitung cacat pecah banting ( Prbt) Keterangan : 1. Lb = lebar Pebt ¼ keliling 2. Pj = panjnag Pebt pj / p * 100 % n) Cacat pecah slempler / pecah lepas Penilaian cacat pecah slempler/pecah lepas dilakukan terhadap lebar pecah slempernya dibanding keliling kayu, seperti ¼ keliling. ¼ kelilin Gambar 15. Cara menghitung lebar pecah slemper Keterangan : 1. Lb = Lebar pecah 2. Pecah slemper = ¼ keliling o) Cacat gerowong dan teras busuk (Gr / Tb)

Penilaian terhadap cacat gerowong / teras busuk (Gr/Tb) dinyatakan dalam persen dan kubikasi. Terdapat 2 ( dua ) cara penilaian cacat Gr/Tb yaitu : 1. membandingkan diameter terbesar Gr/Tb dengan diameter kayu, khusus Gr kedalamannya dibandingkan dengan panjang kayu 2. menghitung persen dan kubikasi cacat bontos sesuai SNI Pengukuran dan Tabel isi kayu bundar rimba Cara menghitung % Gr/Tb sama dengan menghitung % Tr (Gambar 16), sedangkan cara mengukur kedalaman Gr dapat dilihat pada Gambar 17. a P Gambar 16. Cara mengukur kedalaman Gr Keterangan : a adalah kedalaman Gr % kedalaman Gr = ( a / p ) *100 % p) Cacat gubal Penilaian terhadap cacat gubal meliputi : 1. Keadaan gubal, yaitu gubal sehat ( Gs ), gubal tidak sehat ( Gts) dan gubal busuk ( Gb) 2. Untuk Gs diukur tebal gubalnya yaitu tebal terbesar dan atau tebal ratarata dengan menghitung ratarata tebal terkecil dan terbesar pada setiap bontosnya. 3. Untuk Gts dinyatakan dalam persen 4. Untuk Gb dinyatakan dalam persen dan kubikasi Untuk menghitung % Gts dan Gb cara menghitung persen dan kubikasi cacat gubal dalam SNI Pengukuran dan Tabel isi kayu bundar rimba. Sedangkan cara mengukur tebal Gs lihat Gambar 18.

a b Keterangan gambar : 1. a = Gs terbesar 2. b = Gs terkecil 3. tebal Gs = ( a + b ) / 2 q) Cacat pakah Gambar 17. Cara mengukur tebal gubal segar Pakah adalah hasil pemotongan kayu bercabang yang hampir sama besarnya, yang ditandai dengan adanya dua buah hati pada bontos lainnya. Cacat pakah ditetapkan dengan cara mengamati ada tidaknya pakah pada bontos. Gambar 18. Pakah 3.6. Prinsip Pengujian Pengujian dilakukan secara kasat mata (Visual) terhadap kecermatan penetapan ukuran dan mutu kayu. Peralatan pengujian yang digunakan adalah pita ukur. 3.6.1. Persyaratan Pengujian Kayu bundar jati yang akan diuji harus : 4. Dapat dibolakbalik sehingga semua permukaan kayu dapat dilihat secara keseluruhan 5. Diuji pada siang hari (di tempat terang) sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu

6. Pengambilan contoh dilakukan dengan mempertimbangkan keterwakilan populasi sebagaimana tercantum pada Tabel 1 SNI 015007.172001 tentang Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bundar Jati. 3.6.2. Pelaksanaan Pengujian Pelaksanaan pengujian kayu pertama kali dilakukan penetapan jenis kayu dengan memeriksa ciri umum kayu jati. Penetapan ukuran kayu bundar jati mengacu pada SNI 015007.172001, Pengukuran dan tabel isi kayu bundar Jati. yaitu : 1. Satuan Ukuran Sistem satuan ukuran yang dtetapkan adalah sesuai standar SNI, yaitu: 1.1. Satuan untuk diameter kayu adalah cm (Senti meter) dengan kelipatan 3 (tiga) cm penuh untuk sortimen AI, AII serta kelipatan 1 cm penuh untuk sortimen AIII. 1.2. Satuan untuk panjang adalah meter (m) dengan kelipatan 10 cm penuh untuk panjang sampai dengan 10,00 meter dan 50 cm penuh untuk panjang lebih dari 10,00 meter 1.3. Satuan untuk isi kayu bundar adalah meter kubik (m 3 ), dengan penulisan 3 (tiga) angka di belakang koma untuk sortimen AI dan AII serta 2 angka dibelakang koma untuk sortimen AIII. 3.7. Kualitas Kayu Bundar Jati Mutu kayu bundar jati terbagi kedalam 6 (enam) mutu kayu yaitu U, P, D, T, M dan L. Khusus sortimen kayu bundar jati (AI) dan kayu bundar sedang jati (AII) dibagi dalam 4 (empat) mutu yaitu P, D, T, dan M dimana mutu kayu U dan L tidak termasuk didalamnya. Kelas mutu kayu U merupakan kelas mutu terbaik, berturutturut selanjutnya adalah P, D, T, dan M. 3.8. Pelaksanaan Pengukuran Pelaksanaan pengukuran dilakukan terhadap setiap batang kayu bundar Jati. Dengan rancangan pengukuran sebagai berikut :

A. Penetapan Diameter i. Diameter diukur pada bontos ujung terkecil tanpa kulit dengan menggunakan Pita Phi (π ) ii. Apabila Phi tidak ada, pengukuran dilakukan dengan mengukur keliling menggunakan pita ukur biasa dalam kelipatan 1 cm, selanjutnya dengan angka keliling tersebut diameter dicari dalam tabel isi iii. Diameter kayu bundar Jati dinyatakan dalam kelas diameter, untuk AI dan AII kelipatan 3 cm dan untuk AIII kelipatan 1 cm. B. Penetapan Panjang Panjang diukur pada jarak terpendek antara kedua bontos melalui badan kayu. Panjang diukur dalam kelipatan 10 cm untuk panjang sampai 10,00 m dan kelipatan 50 cm untuk panjang lebih dari 10,00 meter dengan pembulatan kebawah. C. Penentuan Mutu Akhir Berdasarkan Acuan Normatif Standar Nasional Indonesia (SNI). Standar acuan normatif yang digunakan dalam menentukan mutu akhir kualitas kayu bundar jati pada penelitian ini adalah Standar Nasional Indonesia (SNI 015007.12003) tentang Kayu Bundar Jati dan SNI 015007.172001 tentang Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bundar Jati. Standar ini meliputi penetapan istilah dan definisi, lambang dan singkatan, klasifikasi, cara pembuatan, syarat mutu, cara uji, syarat lulus uji, dan syarat penandaan sebagai pedoman pengujian kayu bundar Jati (Tectona grandis Linn.f) yang diproduksi di Indonesia. Sistem penetapan mutu akhir kualitas berdasarkan pada persyaratan cacat yang ada pada acuan normatif Standar Nasional Indonesia (SNI) bisa dilihat pada tabel lampiran 1 tentang syarat mutu kayu. 3.9. Pengolahan dan Analisis Data A. Ratarata Diameter

Diameter sortimen merupakan ratarata diameter bontos pangkal (Ø Bp) dan diameter bontos ujung ( Ø Bu) dalam kelipatan satu sentimeter penuh. Diameter rataan dihitung menggunakan persamaan berikut : Ø kayu = 1 1 ( d1 d2) ( d3 d4) 2 2 2 Keterangan : Ø kayu = diameter kayu sortimen ratarata d1 = diameter terpendek Bp (Bontos pangkal) d2 = diameter tegak lurus dengan d1 d3 = diameter terpanjang Bu (Bontos ujung) d4 = diameter tegak lurus dengan d3 B. Volume Sortimen Volume dihitung berdasarkan rumus Brereton metrik, yaitu : C. Data Sekunder V = (0,7845 x d 2 x p / 10000) (m 3 ) Keterangan : V = volume sortimen (m3) 0,7845 = ¼ π 10000 = konsanta untuk konversi satuan d 2 dari cm 2 ke m 2 d = diameter ratarata sortimen (cm) p = panjang sortimen (m) Data sekunder yang akan diambil pada penelitian ini antara lain : 1.Kondisi umum lokasi penelitian 2.Luas areal tebangan 3.Potensi hutan 4.sistem pemanenan yang digunakan 5.kebijakan pembagian batang

BAB IV. KONDISI UMUM 4.1. Letak dan Luas Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) Konawe Selatan memiliki kawasan hutan dengan luasan sebesar 598,2 Ha. Di Kabupaten Konawe Selatan, 50,38% atau seluas 212.097 Ha, merupakan areal lahan yang dinyatakan sebagai Kawasan Hutan dan 208.906 (49,62%) digolongkan sebagai Kawasan Budidaya. Tabel 1. Luas areal kawasan hutan di Kabupaten Konawe Selatan Fungsi Lahan Luas Ha % 1. Kawasan Hutan 212.097 50.38% Kawasan pelestarian alam 79.540 37.5% Hutan Lindung 42.759 20.2 Hutan produksi terbatas 3.705 1.7% Hutan produksi 86.093 40.6% Hutan konservasi 0 0 2. Kawasan Budidaya NonKehutanan 208.909 49.62% Jumlah 421.006 100% Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe Selatan, Tahun 2003 4.2. Pengelolaan Hutan Koperasi Hutan Jaya Lestari atau KHJL didirikan pada tanggal 18 Maret 2004, pendirian koperasi ini di inisiasi oleh 46 ketua kelompok Social Forestry dalam 6 kecamatan di wilayah kabupaten Konawe Selatan. Dalam perkembangannya, pada tahun 2008 KHJL telah memiliki 579 anggota dalam 32 desa. KHJL memiliki pendamping dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakatnya yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat Jaringan Untuk Hutan (LSM JAUH) dan TFT (Tropical Forest Trust). KHJL merupakan satusatunya koperasi yang mendapat pengakuan dari lembaga ekolabel internasional FSC (Forest Stewardship Council) sehingga kayu yang dijual telah mendapatkan sertifikasi dari FSC.

Berdasarkan rencana pengelolaan hutan masyarakat 20052009, Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) berorientasi pada pengelolaan hutan Jati (Tectona grandis Linn.F) milik masyarakat. KHJL hanya menjual kayu jenis Jati meskipun terdapat kayukayu lain di areal KHJL seperti Eboni. KHJL telah berketetapan untuk memusatkan perhatian pada upaya pelatihan untuk unitunit (desadesa) dalam keterampilan mengelola jati rakyat dengan memilih unitunit yang aktif dan memiliki kemauan untuk terlibat dalam Program Kehutanan Sosial di Kabupaten Konawe Selatan. Unitunit inilah yang melalui proses untuk menjadi kelompok jati yang resmi, pembuatan database anggota, penentuan jatah tebangan tahunan untuk masingmasing unit, pengaturan pelayanan pemeliharaan untuk masingmasing unit, dan mempelajari proses lacak balak jati yang mereka miliki. KHJL kemudian akan menggunakan Sertifikasi FSC untuk jati yang berasal dari unitunit yang melakukan penebangan jati. KHJL akan menetapkan aturan dalam penerimaan unitunit baru ke dalam kelompok penghasil jati yang diakui oleh FSC. 4.3. Sejarah Sertifikasi Ekolabel di KHJL Koperasi Hutan Jaya Lestari(KHJL) dibentuk pada bulan Maret 2003 dan secara legal dengan badan hukum terbentuk pada bulan maret 2004 sebagai bagian dari Program Kehutanan Sosial Konawe Selatan yang dikelola oleh anggota masyarakat di sekitar area hutan produksi jati milik negara di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Program ini diprakarsai dan difasilitasi oleh jaringan LSM lokal yang berbasis masyarakat yang dikenal dengan nama Jaringan Untuk Hutan (JAUH), Dinas Kehutanan Propinsi, BPDAS (Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai), Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe Selatan, dan Tim Kelompok Kerja Kehutanan Sosial (Pokja SF) dari Dinas Kehutanan. Program Kehutanan Sosial dibentuk dengan tujuan untuk memanfaatkan masyarakat dan sumberdaya lokal untuk meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyaraktnya; secara khusus berfokus pada pemanfaatan sumberdaya hutan jati di daerah tersebut.

KHJL masih menyadari bahwa pengurus dan anggotanya membutuhkan pelatihan dalam bidang keterampilan kehutanan dan modal awal berupa uang agar dapat berfungsi sebagai suatu badan pengelola hutan. Dalam upaya untuk memperoleh keterampilan ini, KHJL telah menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan sebuah lembaga non profit taraf internasional yang bernama TFT (Tropical Forest Trust), yang berkantor pusat di Inggris, dan di Indonesia berkantor pusat di Semarang pada Juni 2004. TFT telah menyanggupi untuk memberikan pelatihan dan petunjuk kepada pengurus KHJL mengenai caracara mengelola hutan berkesinambugan dan memfasilitasi mereka untuk memperoleh serftifikat FSC atas kayu yang mereka produksi. Dengan dibantu oleh LSM JAUH dalam aspek kelembagaan dan hukum, dan dibantu dalam aspek teknis pengelolaan hutan lestari oleh TFT, pada bulan Mei 2005 setelah diuji oleh Tim Smartwood Asia Pasific Region, akhirnya KHJL memperoleh sertifikat ekolabel Forest Stewardship Council (FSC) untuk kelompok hutan yang dikelola dengan intensitas kecil dan rendah (Small and Low Intensity Managed Forest, SLIMFs) yang sekaligus merupakan satusatunya lembaga koperasi di Asia yang memperoleh sertifikat FSC. Tujuan penilaian dari tim Smartwood ini adalah untuk mengevaluasi kelestarian ekologi, ekonomi dan sosial dari pengelolaan hutan, sebagaimana yang didefinisikan oleh FSC. Kegiatan pengelolaan hutan yang diakui oleh sertifikasi Smartwood dapat menggunakan label Smartwood dan FSC untuk pemasaran produk pada publik dan pengiklanan.

Gambar 19. Sertifikat ekolabel FSC 4.4. Topografi dan Kelerengan Areal kerja Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) terletak pada ketinggian 10200 mdpl. Kondisi topografi pada umumnya didominasi oleh bukit kecil atau datar dengan kemiringan kurang dari 15 %. Sebagian areal memiliki kelerengan terjal antara 25 40 %. 4.5. Tanah Jenis tanah di wilayah kerja Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) secara umum merupakan jenis podsolik kuning dengan tekstur berhumus dan sedikit berbatu.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Potensi Tegakan Sebelum Penebangan Berdasarkan data inventarisasi di lokasi penelitian, diperoleh bahwa jumlah pohon jati keseluruhan sebanyak 77 pohon. Dari 77 pohon, 33 pohon telah masuk dalam pohon yang layak tebang. Diameter ratarata keseluruhan pohon sebesar 28,48 cm. Volume tegakan sebesar 33,13 m 3 dengan ratarata volume per pohon sebesar 0,43 m 3. Sedangkan untuk data pohon yang masuk layak tebang diperoleh diameter rataratanya sebesar 40,02 cm, volume tegakan sebesar 25,52 m 3 dan ratarata volume per pohonnya sebesar 0,77 m 3. Berdasarkan sebaran diameter pohon, diperoleh diameter >30 cm dengan persentase sebesar 42,86 %. Persentase pohon dengan diameter 2029 cm sebesar 27,27 %. Sedangkan diameter dibawah 20 cm sebesar 29,87 %. Sebaran diameter pohon di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Sebaran diameter jati di areal penelitian Diameter (cm) Persentase jumlah pohon (%) 30 42,86 20 29 27,27 < 20 29,87 Jumlah 100 5.2. Pembagian Batang Perseksi 5.2.1. Sebaran Diameter dan Panjang Jati A. Batang Utama Tabel 3 menyajikan sebaran kelas diameter kayu bundar jati yang dapat dihasilkan dari batang utama. Berdasarkan kelas sortimen kayu bundar jati, bagian batang utama yang memiliki diameter 30 cm (sortimen AIII) merupakan sortimen yang terbanyak, dengan persentase sebesar 37,86%. Sortimen terbesar kedua adalah sortimen kelas diameter 20,029,9 cm (sortimen AII) dengan persentase sebesar 33,01%. Sedangkan untuk kelas diameter 10,0 19,9 cm (sortimen AI) memiliki persentase sebesar 29,12%.

Tabel 3. Distribusi batang utama berdasarkan kelas diameter Kelas Diameter (cm) Volume (m3) Jumlah seksi % jumlah seksi 10,0 19,9 1,367 30 29,12% 20,0 29,9 4,067 34 33,01% 30 15, 071 39 37,86% Jumlah 20,505 103 100% B. Cabang dan Ranting Tabel 4 menyajikan sebaran kelas diameter kayu bundar jati yang dapat dihasilkan dari cabang dan ranting. Berdasarkan kelas sortimen kayu bundar jati, bagian cabang dan ranting yang memiliki diameter 10,019,9 cm (sortimen AI) merupakan sortimen yang terbanyak, dengan pesentase sebesar 94,87%. Sortimen terbesar kedua adalah sortimen kelas diameter 20,029,9 cm (sortimen AII) dengan persentase sebesar 5,12%. Sedangkan untuk kelas diameter 30 cm (sortimen AIII) tidak ada sortimen pada kelompok cabang dan ranting. Tabel 4. Distribusi cabang dan ranting berdasarkan diameter Kelas Diameter (cm) Volume (m3) Jumlah seksi Persentase jumlah seksi (%) 10 19,9 2,874 74 94,87 20,0 29,9 0,327 4 5,12 30 0 0 0 Jumlah 3,201 78 100,0 5.2.2. Jenis Cacat Kayu Jati A. Batang Utama Berdasarkan standar pengujian SNI 015007.172001 diperoleh bahwa cacat kayu jati perseksi pada bagian batang utama adalah cacat bentuk seperti cacat kesilindrisan, kebundaran, kelengkungan, dan alur. Cacat badan seperti pecah belah, pecah banting, pecah sempler/lepas, lubang gerek, buncakbuncak, lengar dan cacat mata kayu. Untuk cacat bontos adalah gerowong/teras rapuh, pecah hati, pecah gelang, gabeng dan kunus. Contoh gambar cacat kayu bundar jati disajikan pada Gambar 20.

Gambar 20. Contoh cacat gerowong dan alur pada batang kayu jati. Dari cacat yang ditemukan, persentase cacat terbesar untuk cacat bentuk adalah cacat kesilindrisan dan kebundaran dengan persentase sebesar 22,13%. Sementara pada cacat badan, persentase cacat terbesar yang ditemukan adalah cacat mata kayu dengan persentase 8,72%. Sedangkan pada cacat bontos, cacat pecah hati merupakan cacat terbesar yaitu sebesar 4,04%. Rekapitulasi jenis cacat kayu yang ditemukan pada batang pohon yang ditebang disajikan pada Gambar 21. Gambar 21. Persentase cacat kayu pada pohon yang ditebang B. Cabang dan Ranting Pengujian kualitas kayu dari bagian cabang dan ranting, cacat kayu jati yang ditemukan adalah seperti kesilindrisan, kebundaran, dan kelengkungan. Sedangkan untuk cacat badan, jenis cacat yang ditemukan adalah pecah belah, pecah banting, pecah sempler/lepas, lubang gerek, buncakbuncak, Lengar dan cacat mata kayu. Untuk cacat bontos, cacat yang ditemukan adalah gerowong/teras rapuh, pecah hati, pecah gelang, gabeng dan kunus.

Persentase cacat terbesar untuk cacat bentuk adalah cacat bentuk kesilindrisan dan kebundaran dengan persentase sebesar 26,07%, sedangkan pada cacat badan persentase cacat terbesar yang ditemukan adalah cacat mata kayu dengan persentase 6,60%. Pada cacat bontos cacat kunus merupakan cacat terbesar dengan persentase 2,31%. Rekapitulasi jenis cacat kayu yang ditemukan pada cabang pohon yang ditebang disajikan pada Gambar 22. Gambar 22. Persentase cacat pada simulasi cabang dan ranting 5.3. Pembagian Batang di Lapangan 5.3.1. Sebaran Diameter Jati Kebijakan pembagian batang di Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) terbagi dalam 3 (tiga) kelas diameter AIII ( 30 cm), AII (20,029,9 cm), dan AI (14,019,9 cm). Keseluruhan sortimen yang diambil berasal dari batang utama, pihak KHJL hanya memanfaatkan sortimen kayu yang berasal dari batang utama, sedangkan cabang dan ranting tidak dimanfaatkan meskipun diameternya cukup besar, hal tersebut dilakukan karena KHJL beranggapan kayu yang diambil dari batang memiliki kualitas kayu yang lebih baik atau lebih kuat. Dari 33 pohon yang ditebang, total volume pembagian batang adalah sebesar 22,20 m 3 dengan ratarata volume perpohon sebesar 0,63 m 3 perpohon. Distribusi diameter terbesar pada pembagian sortimen di lapangan adalah kelas diameter AIII sebanyak 65 sortimen (42,48%) dan volume kayu 17,018 m 3. Sedangkan sortimen AII sebanyak 48 sortimen (31,37%) dengan volume kayu

4,49 m 3. Sebaran diameter terkecil pada pembagian sortimen di lapangan adalah kelas diameter AI dengan jumlah 40 sortimen (26,14%) volume total kayunya sebesar 1,054 m 3. Rekapitulasi sebaran diameter pembagian batang di lapangan disajikan pada Tabel 5 sebagai berikut. Tabel 5. Sebaran diameter pada pembagian batang di lapangan. Kelas Diameter (cm) Volume (m3) Jumlah sortimen Persentase jumlah sortimen (%) AIII ( 30 cm) 17,018 65 42,48 AII (20,029,9cm) 4,49 48 31,37 AI (10,019,9cm) 1,054 40 26,14 Jumlah 22,207 153 100 5.3.2. Cacat Kayu pada pembagian batang aktual Pengujian cacat kayu hasil pembagian batang di lapangan menemukan cacat kayu berupa cacat bentuk seperti kesilindrisan, kebundaran, alur dan kelengkungan. Cacat badan yang ditemukan berupa pecah belah, pecah banting, pecah sempler/lepas, lubang gerek, buncakbuncak, lengar dan cacat mata kayu. Untuk cacat bontos, cacat yang ditemukan adalah gerowong/teras rapuh, pecah hati, pecah gelang, gabeng,gubal, pecah bontos, pakah dan kunus. Persentase cacat terbesar untuk cacat bentuk adalah cacat bentuk adalah cacat kesilindrisan dan kebundaran dengan persentase sebesar 19,92%. Sedangkan pada cacat badan, persentase cacat terbesar yang ditemukan adalah cacat mata kayu dengan persentase 7,16%. Pada cacat bontos, cacat pecah bontos merupakan cacat terbesar dengan persentase 12,24%. Rekapitulasi cacat pada pembagian batang di lapangan disajikan pada Gambar 23 sebagai berikut.

Gambar 23. Persentase cacat pada pembagian batang aktual 5.4. Kualitas Kayu Bundar Jati 5.4.1. Kualitas Kayu Bundar Jati pada Simulasi Pembagian Batang Pada pengujian simulasi batang diperoleh bahwa kelas mutu terbesar adalah mutu P dengan jumlah sortimen sebanyak 34 atau dengan persentase sebesar 33,01%. Selanjutnya diikuti oleh kelas mutu U dengan persentase sebesar 24,27% (25 sortimen). Kelas mutu D sebesar 20,38% (21 sortimen). Kelas mutu M dan T berturutturut sebesar 11,65% (12 sortimen) dan 10,67% (11 sortimen). Rekapitulasi kualitas kayu pada pembagian batang di lapangan disajikan pada Tabel 6 sebagai berikut. Tabel 6. Kualitas kayu pada uji simulasi pembagian batang Sortimen Jumlah sortimen berdasarkan kelas mutu kayu U P D T M AI 0 16 6 4 4 AII 0 15 7 6 6 AIII 25 3 8 1 2 Jumlah sortimen 25 34 21 11 12 Pada kelas diameter AI, kelas mutu P merupakan kelompok dengan persentase terbesar dengan jumlah sortimen sebesar 16 seksi (53,33%). Berturutturut kemudian yaitu kelas mutu D dengan 6 seksi (20,0%), kelas mutu T dan M masingmasing dengan 4 seksi (13,0%).

Pada kelas diameter AII, kelas mutu P merupakan kelompok dengan persentase terbesar dengan jumlah sortimen sebesar 15 seksi (44,11%). Berturutturut kemudian yaitu kelas mutu D dengan 8 seksi (23,52%), kelas mutu T dan M dengan 6 seksi (17,64%), Pada kelas diameter AIII, kelas mutu U merupakan kelompok dengan persentase terbesar dengan jumlah sortimen sebesar 25 seksi (64,10%). Berturutturut kemudian yaitu kelas mutu D dengan 8 seksi (20,51%), kelas mutu P dengan 3 seksi (7,69%), kelas mutu M dengan 2 seksi (5,12%), dan kelas mutu T dengan jumlah sortimen 1 (2,56%). 5.4.2. Kualitas Kayu pada Simulasi Cabang dan Ranting Pada pengujian simulasi cabang dan ranting, kelas mutu P menunjukkan persentase terbesar dengan 33,0% (25 seksi), dimana keseluruhannya merupakan sortimen kelas diameter AI. Kelas mutu U (kelas mutu utama) menunjukkan persentase sebesar 0%. Kelas mutu D, T, dan M berturutturut menunjukkan persentase 22,0% (17 seksi), 27,0% (20 seksi), dan 18,0% (16 seksi). Rekapitulasi kualitas kayu pada uji simulasi batang disajikan pada Tabel 7 sebagai berikut. Tabel 7. Kualitas kayu pada uji simulasi cabang dan ranting Jumlah sortimen berdasarkan kelas mutu kayu Sortimen U P D T M AI 0 25 16 17 16 AII 0 0 1 3 0 AIII 0 0 0 0 0 Jumlah sortimen 0 25 17 20 16 Berdasarkan kelas diameter pada simulasi cabang dan ranting yang diukur, kelas diameter AI menunjukkan persentase terbesar dengan 94,87%, kelas diameter AII dengan persentase sebesar 5,12% dan kelas diameter AIII sebesar nol persen (0%) atau tidak ada sortimen dengan diameter diatas 30 cm.

5.4.3. Kualitas Kayu Bundar Jati pada Pembagian Sortimen KHJL di Lapangan Pada pengujian sortimen pada pembagian batang menurut kebijakan KHJL, kelas mutu D menunjukkan persentase terbesar dengan 25,0% (39 sortimen). Kelas mutu U (kelas mutu utama) menunjukkan persentase sebesar 15%. Kelas mutu P, T, dan M berturutturut menunjukkan persentase jumlah sortimen sebesar 35 sortimen (23,0%), 24 sortimen (16,0%), dan 32 sortimen (21,0%). Tabel 8. Kualitas kayu bundar jati pada pembagian batang aktual Sortimen Jumlah sortimen berdasarkan kelas mutu kayu U P D T M AI O 8 8 10 14 AII 2 13 10 13 10 AIII 21 14 21 1 8 Jumlah 23 35 39 24 32 5.5. Perbandingan Total Hasil Uji Simulasi Pembagian Batang dan Pembagian Batang Aktual KHJL A. Perbandingan Berdasarkan Jumlah Sortimen Kayu Persentase total pada pengujian simulasi ini, kelas diameter AI menunjukkan persentase terbesar dengan 104 sortimen (57,45%), kelas diameter AII dengan 38 sortimen (20,99%), dan kelas diameter AIII dengan 39 sortimen (21,54%). Untuk persentase total pada pengujian sortimen menurut kebijakan KHJL ini, kelas diameter AIII menunjukkan persentase terbesar dengan 65 sortimen (43,0%), kelas diameter AII dengan 48 sortimen (31%), dan kelas diameter AI dengan 40 sortimen (26%).

Tabel 9. Perbandingan uji simulasi dengan pembagian batang aktual berdasarkan jumlah sortimen Kelas Diameter Uji Simulasi Jumlah Sortimen Pembagian Sortimen KHJL AI 104 40 AII 38 48 Pada AIII uji simulasi pembagian 39 batang perseksi jumlah 65 sortimen yang dapat dimanfaatkan Total sebesar 181 sortimen, 181 sedangkan pada pembagian 153 batang yang dilakukan KHJL hanya sebesar 153 sortimen. Selisih yang besar tersebut karena pihak KHJL hanya memanfaatkan batang utama sedangkan cabang dan ranting tidak dimanfaatkan sama sekali. Dan pihak koperasi hanya menjual sortimen kayu jati diatas 10 cm yang berasal dari potongan sortimen batang utama. Diperlukan kebijakan optimalisasi pemanfaatan kayu oleh pihak Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) agar kayukayu yang terbuang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin, sehingga nilai ekonomis kayu lebih meningkat dibanding pemanfaatan yang ada sekarang. B. Perbandingan Kualitas Mutu Kayu yang dimanfaatkan Pada perbandingan mutu kayu antara pengujian kualitas melalui simulasi pembagian batang dan pembagian batang aktual, pada pengujian simulasi memiliki kualitas kayu yang lebih baik dibanding pada pembagian batang aktual, seperti jumlah sortimen dengan kualitas mutu U (utama) dan P (pertama) pada uji simulasi lebih tinggi dibanding pembagian batang aktual Kualitas mutu kayu melalui pengujian simulasi sedikit lebih baik dibanding pada pembagian batang aktual KHJL, artinya diperlukan

perencanaan pembagian batang agar pihak KHJL dapat meningkatkan kualitas mutu kayunya. Tabel 10. Perbandingan uji simulasi dan pembagian batang aktual berdasarkan kualitas kayu Kualitas kayu Perbandingan kualitas kayu Simulasi KHJL U 25 23 P 59 35 D 38 39 Cukup tingginya jumlah angka kayu sortimen dengan kualitas T 31 24 mutu M rendah disebabkan karena 28 beberapa faktor, baik 32 alami Cukup Total 181 153 Cukup tingginya jumlah angka kayu sortimen dengan kualitas mutu rendah disebabkan karena beberapa faktor, baik alami maupun karena faktor human error seperti kesalahan teknis di lapangan. Faktor alami antara lain disebabkan oleh cacat kayu secara alami serta faktor pohon jati yang ditebang berasal dari pohonpohon trubusan dimana pohonpohon jati tersebut merupakan pohon anakan dari induk terdahulu yang sudah ditebang. Selain itu kesalahan teknis dalam penebangan seperti kesalahan arah rebah pohon, mengakibatkan pohon pecah dan belah karena menimpa pohon lainnya merupakan salah satu penyebab rendahnya kualitas mutu kayu jati karena faktor teknis di lapangan (human error).

6.1. Kesimpulan BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Jenis cacat bentuk kayu jati yang dapat diidentifikasi di KHJL adalah kesilindrisan, kebundaran, kelengkungan, dan alur. Cacat badan yang berhasil diidentifikasi adalah pecah belah, pecah banting, pecah sempler/lepas, lubang gerek, buncakbuncak, lengar dan cacat mata kayu. Untuk cacat bontos, cacat yang ditemukan antara lain adalah gerowong/teras rapuh, pecah hati, pecah gelang, gabeng, pakah dan kunus. 2. Kualitas mutu kayu melalui pengujian simulasi sedikit lebih baik dibanding pada pembagian batang aktual, hasil simulasi pembagian batang terbesar adalah kelas mutu P, yaitu sebesar 32,59%. Kelas mutu terbesar kedua adalah mutu D dengan 20,99%. Mutu T dan M masingmasing 17% dan 15,46%, serta mutu U sebesar 13,81%. Hasil pembagian batang aktual terbesar adalah mutu kayu D, dengan persentase sebesar 25%. Mutu kayu T sebesar 16%, mutu kayu M (21%), mutu kayu P dengan 23%, dan mutu kayu U dengan persentase sebesar 15%. 6.2. Saran 1. Perlu dilakukan pelatihan yang berkala dan berkesinambungan terhadap operator pelaksana di lapangan terutama menyangkut teknis dan keterampilan penebangan dan pembagian batang 2. Pelatihan secara berkesinambungan terhadap pengelolaan hutan jati rakyat mulai dari persemaian sampai penebangan sehingga dapat meningkatkan kualitas mutu kayu jati koperasi

BAB VII. DAFTAR PUSTAKA Anggoro R. 2007. Identifikasi Potensi Limbah Pemanenan Jati di KPH Banyuwangi Utara Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. [Skripsi]. Bogor: Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB. [Anonim]. 2004. Outcome of the expert consultation on forest resources Assesment Kotka IV. [journal]. Unasylva 210 (83) : 7884 [Anonim]. 2004. Reinventing Forestry Education [journal]. Unasylva 216 (55) : 2 Assauri S. 1980. Manajemen Produksi. Lembaga penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta [BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2001. SNI 015007.172001 Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bundar Jati. Jakarta : BSN [BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2003. SNI 015007.12003 Kayu Bundar Jati. Jakarta : BSN Barly HN. 2001. Peningkatan Efisiensi Pemanfaatan Kayu. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan RI. Budiaman A. 2001. Kualitas dan Kemungkinan Penggunaan Kayu Bulat Limbah Pemanenan. Jurnal Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB XIV (1): 3245 Conway S. 1982. Logging Practice: Principle of Timber Harvesting System. San Fransisco : Miller Freeman Publication Dirjen Pengusahaan Hutan. 1993. Peraturan Pengukuran dan Pengujian Kayu Bulat Rimba Hutan. Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan Departemen Kehutanan RI: Jakarta Elias. 1998. Sistem Pemanenan Hutan Jati. Bogor : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Hadikusumo SA. 2001. Pola Pembelahan Jati Rakyat dan Sifat Fisik serta Mekanika Kayu Gergajiannya. Jurnal Kehutanan Fakultas Kehutanan UGM 47:114. Karlinasari L. 2006. Penentuan Kualitas berdasarkan Cacat kayu. Jurnal Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB. (tidak dipublikasikan)

Perum Perhutani. 1995. Himpunan Pedoman Kerja bidang Produksi Hutan. (Tidak dipublikasikan). Perum Perhutani. 1997. Pedoman Pembagian Batang Kayu Bundar Rimba. Jakarta : Perum Perhutani (tidak dipublikasikan) Prabowo RH. 2006. Perencanaan Pembagian Batang Secara Intensif pada Pengusahaan Hutan Tanaman Industri Kayu Mangium Acacia mangium di HPHTI PT.INHUTANI II Pulau Laut Kalimantan Selatan. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor Prastowo H. 1980. Pedoman Pelaksanaan Teknik Tebangan Untuk Hutan Jati. Tidak dipublikasikan. Rusyana Y. 2000. Analisa Penentuan Prestasi Kerja Operator Chainsaw pada Penebangan Jati ditinjau dari Ukuran Sortimen dan Ketepatan Pemotongan. [Skripsi]. Bogor : Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Soeparto RS. 1979. Pemanenan hasil Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Sofiyuddin M. 2007. Potensi Tegakan Hutan Rakyat jati dan Mahoni yang Tersertifikasi untuk Perdagangan Karbon (Studi Kasus di Desa Selopuro, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri). [Skripsi]. Bogor: Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Sumarna Y. 2001. Budi Daya Jati. Penebar Swadaya. Jakarta Winarto B. 2006. Kamus Rimbawan.. Jakarta : Yayasan Bumi Indonesia Hijau

LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel penetapan syarat mutu sortimen kayu bundar jati Tabel 1. Penetapan syarat mutu sortimen AI No. Karakteristik Mutu P D T M 1 Cacat bentuk Lengkung p 2 m p < 2 m 1 bh 1 % p 1 bh 1 % p 1 bh 2 % p 1 bh 3 % p 1 bh 3 % p 2 jml 2 % p 1 bh 5 % p 2 jml 5 % p Alur Asal tidak mereduksi 2 Cacat badan Pecah / belah Pecah banting Pecah slemper / lepas Lubang gerek besar Ingeringer Kulit tumbuh Buncakbuncak buncak besar buncak kecil Mata kayu : mata kayu sehat mata kayu busuk Lubang pelatuk Lengar 3 Cacat bontos Ingeringer Kulit tumbuh Gerowong / teras Busuk / teras rapuh Cacat sekitar hati pecah hati pecah busur / gelang gubal : d 47 cm d 1013 cm d 1619 cm pakah gebeng Kunus X X X 1 bh / btg X 1 bh / btg X ½ kel 1 bh / tmp Ǿ 5 cm 2 bh / tmp Ǿ 5 cm X X X X 1 bh / bo X X X X 1 cm 2 cm 3 cm X X X 25 % p X Lb ¼ kel Pj 10 % p 1 bh / tmp 10 %p 1 bh / tmp Lb ¼ kel 2 bh / tmp Ǿ 10 cm X X ¼ kel Pj 10 % p 10 % p 2 bh / bo 10 % d dlm 10 %p 10 % d X X Ǿ 15 % d 40 % p 20 % p Lb 1/2 kel Pj 20 % p 2 bh / tmp 25 % p 2 bh / tmp ½ kel 3 bh / tmp Ǿ 15 cm 3 bh / tmp 3 bh / tmp ½ kel Pj 25 % p 25 %p 25 % d dlm 25 % p 25 % d Ǿ 25 % d X 40 % p Pj 40 % p 40 % p Pj 50 % p 40 %p 40 % d dlm 40 % p 40 % d Keterangan : ( ) adalah tidak dibatasi ( x ) adalah tidak diperkenankan

Sedangkan singkatan lainnya mengacu pada SNI 015007.172001 tentang pengukuran dan table isi kayu bundar jati Tabel 2. Penetapan syarat mutu sortimen AII No. Karakteristik Mutu P D T M 1 Cacat bentuk Kesilindrisan Hsi Lengkung Alur: ½ p > ½ p 1 bh 2 % p ( 6 cm ) 1 bh 14% d >1bh 13% d 1 bh 13% d >1bh 12% d 1 bh 3 % p ( 8 cm ) 2 bh 3 % p ( 6 cm ) 1 bh 17%d >1bh 15%d 1 bh 15%d >1bh 14%d 1 bh 5 % p ( 12 cm ) 2 bh 5 % p ( 9 cm ) 1 bh 21%d >1bh 18%d 1 bh 18%d >1bh 16%d 2 Cacat badan Pecah belah : Bhd 60 % p 100 % p Tbhd 30 % p ( 45 cm ) Pecah banting Pj X Lb X 50 % p ( 45 cm ) 20 % p ¼ kell 100 % p ( 45 cm ) 30 % p 1/3 kell 20 % p Pecah slemper x Lb ¼ kell Pj 30 % p Lb ½ kell Pj 50 % p Pecah lepas x Lb ¼ kell b ½ kell Lubang gerek besar 1bh / btg 3 bh / tmp 6 bh / tmp Ingeringer x 20 % p 30 % p Kulit tumbuh jml luas Buncakbuncak bcb bcr Mata kayu mks mkb 1 bh / tmp @ 10 cm2 1/8 kel ¼ kel 2 bh / tmp Ǿ 10 cm x 2 bh / tmp @ 10 cm2 ¼ kel ½ kel 3 bh / tmp Ǿ 15 cm 3 bh / tmp Ǿ 8 cm ½ kel 3 bh / tmp Ǿ 20 cm 3 bh / tmp Ǿ 10 cm 4 bh / tmp Ǿ 25 cm 4 bh / tmp Ǿ 13 cm Lubang pelatuk 2 bh / btg 3 bh / btg 5 bh / btg Lengar ¼ kel ½ kel ¾ kel Pj 25 % p Pj 40 % p Pj 75 % p

3. Cacat bontos Lubang gerek besar Jml dlm 15 cm Ingeringer Kulit tumbuh jml luas Gerowong / teras Busuk / teras rapuh 1 bo, Dlm 10 % p Jml dlm 25 cm 1 bo, Dlm 20 % p Jml dlm 45 cm 1 bo, Dlm 30 % p 1 bh 2 cm2 2 bh 5 cm2 3 bh 10 cm2 x 1 bo Ǿ 20%d 2bo Ǿ 20%d Dlm 20 % p Jml dlm 20% p Cacat sekitar hati x 1 bo Ǿ 20%d 2bo Ǿ 20%d 2boǾ 40%d Jml dlm 50% p Pecah hati 2 bo, 2 bh, pj 2 bo,, pj 75 50 % d % d Pecah busur Pj 30 % d Pj 50 % d Pj 100 % d Gubal 2.5 cm 3 cm Pakah x x Gabeng x Ǿ 50 % d Ǿ 50 % d kunus x Keterangan : ( ) adalah tidak dibatasi ( x ) adalah tidak diperkenankan Sedangkan singkatan lainnya mengacu pada SNI 015007.172001 tentang pengukuran dan table isi kayu bundar jati Table 3. Penetapan syarat mutu sortimen AIII No. Karakteristik Mutu U P D T M A Persyaratan cacat 1 Cacat bentuk Kesilindrisan hsi hsi Lengkung 1bh 3% p ( 6 cm ) 1bh 5 %p ( 10 cm ) 1bh 7%p ( 12 cm ) 2bh 9 %p ( 10 cm ) 1bh 9%p ( 16 cm ) 2bh 11 %p ( 12 cm ) 1bh 11%p ( 20 cm ) 2bh 13 %p ( 14 cm ) Puntiran 1 : 11 1 : 9 1 : 7 1 : 6 1 : 5 Alur : 1. ½ p 2. > ½ p 2 Cacat badan Pecah / belah : bhd tbhd 1bh 35%p >1bh 20% p 1bh 20%p >1bh 15% p 2bh 25%p 20%p 1bh 45%p >1bh 30%p 1bh 30%p >1bh 25%p 2bh 60%p 30%p 1bh 55%p >1bh 40%p 1bh 40%p >1bh 35%p 1bh 65%p >1bh 50%p 1bh 50%p >1bh 45%p 1bh 75%p >1bh 60%p 1bh 60%p >1bh 55%p 2bh 100%p Pecah banting : pj x 20 % p 30 % p 40 % p 50 % p

lb ¼ kel ½ kel ¾ kel ¾ kel Pecah lepas x x Lb ¼ kel Pj 40 % p Lb 1/3 kel Pj 75 % p Lb ½ kel Lgb 1 bh/tmp 3 bh/tmp 5 bh/tmp Lgk / Lgs Pada gubal Ingeringer x 10 % p 20 % p 30 % p 40 % p Kulit tumbuh : jml luas jr 2 bh/btg @ 10 cm2 1.0 m Buncakbuncak : bcb bcr X Mata kayu : mks (psgl) Mkb (psgl) 1/8 kel 2 bh/tmp Ǿ 15 cm 2 bh/tmp Ǿ 25 cm X x 2 bh/tmp @ 10 cm2 1/8 kel ¼ kel 3 bh/tmp Ǿ 25 cm 3 bh/tmp Ǿ 35 cm X x 3 bh/btg @ 15 cm2 ¼ kel ½ kel 4 bh/tmp Ǿ 35 cm 4 bh/tmp Ǿ 45 cm 2 bh/tmp Ǿ 18 cm 2 bh/tmp Ǿ 23 cm ¾ kel 5bh/tmp Ǿ 45cm Lubang pelatuk x 1bh / btg Ǿ 6 cm Dlm 8 %d Lengar x ¼ kel Pj 25 % p 3 Cacat bontos Lgb 1bh/btg, 2bh/btg, dlm 2½ %p dlm 5 % p Ingeringer x 1 bo dlm 10 % p Kulit tumbuh : jml 1 bh/btg 3 bh/bo luas 2 cm2 10 cm2 Gr / Tb / Tr x 1boǾ 20% d Dlm 10%p 4bh / btg Ǿ 6 cm Dlm 8 %d Jr 0.75 m ½ kel Pj 50 % p 6bh / btg Ǿ 6 cm Dlm 10 %d Jr 0.50 m ¾ kel Pj 75 % p 6 bh / btg 2bo jml dlm 20 % p 4 bh/bo 30 cm2 2boǾ 30% d Jml dlm 25%p 2bo jml dlm 30 % p 5 bh/bo 2boǾ 40% d Jml dlm 40%p 2bo jml dlm 40 % p 2boǾ 50% d Jml dlm 55%p Cacat sekitar hati Pecah hati X d 60 cm 2 bh 1bo,1bh, 1bo 15%d d 40 cm 2 bh 2bo,2bh, 2bo 20%d d 30 cm 2 bh 1bo,, 2bo 30%d 2bo 40%d pj 25%d pj 50%d pj 75%d Pb / Pg pj 25% d pj 45% d pj 70% d pj 100% d pj 150% d Gubal Gs 2 cm 3 cm Pakah x x x Gabeng x Ǿ 25% d Ǿ 50% d Ǿ 75% d Kunus x dlm 10%p dlm 20%p