PERATURAN KEPALA BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN,

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PEDOMAN PENILAIAN BALAI PENYULUHAN KECAMATAN BERPRESTASI BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN PELAKSANAAN KLASIFIKASI BALAI PENYULUHAN KECAMATAN (BPK)

2012, No juncto Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548); 4. Undang-Undang N

PEDOMAN PELAKSANAAN PENINGKATAN KAPASITAS BP3K

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 28/Permentan/OT.140/4/ / TENTANG PEDOMAN PENILAIAN BALAI PENYULUHAN KECAMATAN BERPRESTASI

PEDOMAN PENILAIAN BALAI PENYULUHAN KECAMATAN BERPRESTASI BAB I PENDAHULUAN

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 61/Permentan/OT.140/11/2008 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 61/Permentan/OT.140/11/2008 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 5 TAHUN 2010

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 03/Permentan/OT.140/1/2011 TENTANG

KEMENTERIAN PERTANIAN

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOKTANI DAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOKTANI BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN PELAKSANAAN PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN PENYULUH PERTANIAN SWADAYA TAHUN 2016

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.42/Menhut-II/2012 TENTANG PENYULUH KEHUTANAN SWASTA DAN PENYULUH KEHUTANAN SWADAYA MASYARAKAT

2018, No Menteri Pertanian sebagaimana dimaksud dalam huruf a perlu ditinjau kembali; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud da

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG PEMBIAYAAN, PEMBINAAN, DAN PENGAWASAN

PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH

BUPATI NGANJUK PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 05 TAHUN 2011 TENTANG

PEDOMAN SISTEM KERJA LATIHAN DAN KUNJUNGAN BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN BALAI PENYULUHAN NOMOR : 26/Permentan/OT.140/4/2012 TANGGAL : 19 April 2012

PEDOMAN PEMBINAAN TENAGA HARIAN LEPAS TENAGA BANTU PENYULUH PERTANIAN BAB I PENDAHULUAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 55/Permentan/KP.120/7/2007 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN PENYULUH PERTANIAN BERPRESTASI

PETUNJUK PELAKSANAAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTANIAN. Standar Minimal Sarana. Penyuluhan Pertanian.

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 17/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lemb

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 47 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 154 TAHUN 2014 TENTANG KELEMBAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

UU Nomor 16 Tahun 2006 Tentang SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN (SP3K)

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBIAYAAN, PEMBINAAN, DAN PENGAWASAN PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN.

PEDOMAN EVALUASI KINERJA PENYULUH PERTANIAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 154 TAHUN 2014 TENTANG KELEMBAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOKTANI (RDK) DAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOKTANI (RDKK)

BUPATI TEMANGGUNG BUPATI TEMANGGUNG,

Standar Operasional Prosedur Pengelolaan Sistim informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (SIMLUHTAN)

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BUPATI SUMBAWA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 42/Permentan/OT.140/3/2013 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN PETANI BERPRESTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2016, No Kehutanan tentang Penyuluh Kehutanan Swasta dan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 199

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN PENYULUH PERTANIAN SWADAYA TELADAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 54/Permentan/KP.120/7/2007 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN PETANI BERPRESTASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERAT URAN DAERAH K ABUP AT EN BAT ANG NOMOR

PERATURAN BUPATI TEMANGGUNG NOMOR 77 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 91/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN EVALUASI KINERJA PENYULUH PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.01/MEN/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.44/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN UNIT PERCONTOHAN PENYULUHAN KEHUTANAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 21 TAHUN TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 4 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 13/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN PENYULUH PERTANIAN TELADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 28 TAHUN 2008 T E N T A N G

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.78/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN KEHUTANAN

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 5 TAHUN 2008

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 103 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 03/Permentan/PP.410/1/2010 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN KELEMBAGAAN PELATIHAN PERTANIAN SWADAYA

PEDOMAN PENILAIAN PETANI BERPRESTASI BAB I PENDAHULUAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.78/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN KEHUTANAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.13/MEN/2011 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN PERIKANAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BUPATI PURWOREJO PERATURAN BUPATI PURWOREJO NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG

BUPATI MADIUN BUPATI MADIUN,

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PELAKSANA PENYULUHAN KABUPATEN BANTUL

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER. 13/MEN/2011 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN PERIKANAN

RENCANA KERJA TAHUNAN (RKT) Pusat Penyuluhan Pertanian. Tahun 2013

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN. NOMOR : 49/Permentan/OT.140/10/2009 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYULUHAN PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 95 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 85 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.454, 2014 KEMENTAN. Penilaian. Pusat Pelatihan. Pertanian. Pedesaan. Berprestasi. Pedoman.

BUPATI BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BONE NOMOR 84 TAHUN 2016 TENTANG

PEDOMAN PENILAIAN KELEMBAGAAN EKONOMI PETANI BERPRESTASI BAB I PENDAHULUAN

BAB II SASARAN DAN PERSYARATAN. A. Sasaran THL-TB Penyuluh Pertanian yang mempunyai wilayah kerja dan berdomisili di wilayah kerjanya.

BUPATI SIGI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 10 TAHUN 2010 T E N T A N G

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 25/Permentan/PL.130/5/2008 TENTANG PEDOMAN PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN USAHA PELAYANAN JASA ALAT DAN MESIN PERTANIAN

BUPATI BIMA PERATURAN BUPATI BIMA NOMOR 04 TAHUN 2010 TENTANG

WALIKOTA BATU PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 84 TAHUN 2016 TENTANG

ARAH KEBIJAKAN PENYULUHAN MENDUKUNG SWASEMBADA PANGAN

BUPATI LOMBOK BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LOMBOK BARAT,

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA BADAN PELAKSANA PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN, DAN KEHUTANAN

GAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

PEDOMAN PENILAIAN TENAGA HARIAN LEPAS TENAGA BANTU PENYULUH PERTANIAN TELADAN BAB I PENDAHULUAN

PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN KABUPATEN SUMBAWA.

Transkripsi:

PERATURAN KEPALA BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN NOMOR : 112/Per/OT.140/J/10/14 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KLASIFIKASI BALAI PENYULUHAN PERTANIAN PERIKANAN DAN KEHUTANAN (BP3K) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mengoptimalkan tugas dan fungsi Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) sebagai Pos Simpul Koordinasi, sinkronisasi program dan pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian di wilayah kecamatan sekaligus sebagai pusat data dan informasi bagi petani; b. bahwa agar pengklasifikasian BP3K dapat terlaksana dengan baik, perlu disusun acuan bagi penyelenggara penyuluhan dalam melaksanakan pengklasifikasian sehingga diperoleh tingkat perkembangan dan kelas kemampuan BP3K yang akurat; c. bahwa atas dasar hal tersebut di atas, agar dalam penyelenggaraan klasifikasi BP3K dapat memenuhi kaidah-kaidah yang baik, perlu menetapkan Pedoman Pelaksanaan Klasifikasi BP3K i

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Nomor 4437) Sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548); 2. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 2006 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4660); 3. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara juncto Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2009 tentang Pembiayaan, Pembinaan, dan Pengawasan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 87 Tambahan Lembaran Negara Nomor 5018); 6. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; ii

7. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 8. Keputusan Presiden Nomor 145/M Tahun 2013 tentang Pengangkatan Pejabat Eselon I lingkup Kementerian Pertanian; 9. Peraturan Presiden Nomor 154 Tahun 2014 tentang Kelembagaan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan; 10. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61// OT.140/10/ 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian; 11. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26// OT.140/4/ 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Balai Penyuluhan; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KLASIFIKASI BALAI PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN Pasal 1 Pedoman Pelaksanaan Klasifikasi BP3K seperti tercantum pada Lampiran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan ini. iii

Pasal 2 Pedoman sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 Peraturan ini digunakan sebagai acuan dalam pembinaan dan pemberdayaan BP3K agar dapat berjalan lebih fokus dan optimal. Pasal 3 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal KEPALA BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN, WINNY DIAN WIBAWA NIP. 19590329 198403 1 002 SALINAN Peraturan ini disampaikan kepada Yth.: 1. Gubernur seluruh Indonesia; 2. Bupati/Walikota seluruh Indonesia; 3. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian; 4. Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian; 5. Pejabat Eselon II lingkup Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian; 6. Kepala Badan Koordinasi Penyuluhan/Kelembagaan yang menangani Penyuluhan Provinsi; 7. Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan/Kelembagaan yang menangani Penyuluhan Kabupaten/Kota. iv

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia- Nya, sehingga Pedoman Pelaksanaan Klasifikasi Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) dapat diselesaikan. Dalam rangka mengoptimalkan tugas dan fungsi BP3K di Kecamatan, Kementerian Pertanian telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian No. 26// OT.140/4/2012 dan Petunjuk Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013, sebagai dasar untuk melakukan pembinaan dan pemberdayaan BP3K. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian bahwa BP3K diperankan sebagai Pos Simpul Koordinasi, Sinkronisasi Program dan pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian di Kecamatan serta sekaligus berperan sebagai pusat data dan informasi bagi stakeholder terkait. Untuk mengimplementasikan kebijakan tersebut, terlebih dahulu diperlukan adanya pengklasifikasian BP3K agar lebih mudah melakukan pembinaan dan pemberdayaan untuk tercapainya swasembada pangan. Kami berharap dengan terbitnya Pedoman Pelaksanaan Klasifikasi ini pembinaan dan pemberdayaan BP3K dapat berjalan lebih fokus dan optimal. Jakarta, 17 Oktober 2014 Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dr. Ir. Winny Dian Wibawa, M.Sc. v

vi

DAFTAR ISI Hal PERATURAN KEPALA BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN... i KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vii I. PENDAHULUAN... 1 A Latar Belakang... 1 B Maksud dan Tujuan... 2 C Ruang Lingkup... 2 D Dasar Hukum... 3 E Pengertian... 4 II. KELEMBAGAAN PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN... 5 A Pengorganisasian... 5 B Tugas dan Fungsi... 6 C Prasarana dan Sarana... 6 D Manajemen Operasional... 8 E Aktivitas... 8 F Penyediaan Data dan Informasi... 9 G Dukungan Pembiayaan... 9 III. KLASIFIKASI BALAI PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN... 11 A Aspek Kemampuan BP3K... 11 B Indikator Kemampuan dan Bobot Penilaian BP3K... 11 C Kelas Kemampuan BP3K... 12 IV. MEKANISME PELAKSANAAN DAN PENETAPAN KLASIFIKASI BP3K... 13 vii

V. MONITORING, EVAUASI DAN PELAPORAN... 17 A Monitoring dan Evaluasi... 17 B Pelaporan... 17 VI. PEMBIAYAAN... 19 VII. PENUTUP... 21 viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan pembangunan pertanian serta sekaligus merupakan cermin keberhasilan pembangunan pertanian di wilayah Kecamatan. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (UU No.16 Tahun 2006 SP3K), kebijakan dalam pengembangan kelembagaan penyuluhan adalah : (a) mengutamakan prinsip kemitraan dalam pengembangan kelembagaan penyuluhan pertanian dan (b) memacu pengembangan kelembagaan penyuluhan pertanian melalui pemberian prioritas insentif pembiayaan. Strategi pengembangan kelembagaan penyuluhan adalah menempatkan kelembagaan penyuluhan pertanian sebagai penggerak utama kegiatan penyuluhan pertanian di masing-masing tingkatan wilayah administrasi pemerintahan; Sebagai penjabaran dari UU No. 16 Tahun 2006 dan Peraturan Presiden Nomor: 154 Tahun 2014 tentang Kelembagaan Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Kementerian Pertanian mengambil kebijakan menjadikan BP3K sebagai pos simpul koordinasi pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian di wilayah kecamatan yang berbasis kawasan komoditi unggulan dan atau wilayah. Selain itu, BP3K merupakan pusat data dan informasi bagi petani dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengembangan usaha pertanian di wilayah kecamatan. Secara empiris sampai saat ini, keberadaan BP3K umumnya masih belum dapat melaksanakan tugas fungsinya secara optimal, disebabkan antara lain : (a) terbatasnya dukungan sarana, prasarana, dan pembiayaan, (b) terbatasnya fasilitasi penyediaan dan penyebaran informasi, (c) terbatasnya jumlah dan kualitas penyuluh, dan (d) terbatasnya fasilitasi peningkatan kapasitas penyuluh 1

pertanian, dan (e) terbatasnya fasilitasi proses pembelajaran (percontohan dan model usaha tani). Oleh karena itu, kelembagaan BP3K perlu diperkuat dan diberdayakan agar mampu melaksanakan tugas dan fungsi penyuluhan pertanian secara lebih optimal. Salah satu upaya penguatan dan pengembangan kapasitas BP3K diawali dengan melakukan identifikasi dan klasifikasi terhadap kondisi dan potensi BP3K. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan dari kelembagaan penyuluhan tersebut, sehingga dapat dijadikan dasar dalam melakukan pembinaan selanjutnya. Agar klasifikasi BP3K berjalan efektif dan efisien, maka perlu disusun Pedoman Klasifikasi Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. B. Maksud dan Tujuan Pedoman ini disusun, dimaksudkan sebagai acuan bagi penyelenggara penyuluhan dalam melaksanakan klasifikasi BP3K, sedangkan tujuannya adalah diperolehnya kelas kemampuan BP3K di seluruh provinsi dan pada gilirannya dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan serta meningkatkan kapasitas BP3K terutama dalam melayani penyuluhan di wilayah kecamatan. C. Ruang Lingkup Ruang lingkup pedoman ini meliputi sebagai berikut: 1. Standar Minimal Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K); 2. Variabel dan Indikator Kemampuan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K); 3. Mekanisme Penilaian dan Penetapan kelas Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K); 4. Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan; 5. Pembiayaan. 2

D. Dasar Hukum 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, memberikan kewenangan kepada daerah membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat atau (pemberian otonomi yang luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan pemberdayaan dan peran serta masyarakat). 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006 tentang SP3K kelembagaan penyuluhan pada tingkat kecamatan berbentuk BP3K. Balai Penyuluhan tersebut bertanggung jawab kepada Badan Pelaksana Penyuluhan kabupaten/kota yang pembentukannya diatur lebih lanjut dengan peraturan bupati/walikota. 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, memberikan arah dan pedoman yang jelas kepada daerah dalam menata organisasi yang efisien, efektif, dan rasional sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah masing-masing serta adanya koordinasi, integrasi, sinkronisasi, dan simplikasi serta komunikasi kelembagaan antara Pusat dan daerah. Selain itu, lembaga teknis daerah yang berbentuk badan di kabupaten/kota dapat membentuk unit pelaksana teknis tertentu untuk melaksanakan kegiatan teknis operasional/teknis penunjang yang mempunyai wilayah kerja satu atau beberapa kecamatan. 4. Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2009 tentang Pembiayaan, Pembinaan, dan Pengawasan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. 5. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26//OT.140/4/2012 tentang Pedoman Pengelolaan Balai Penyuluhan. 6. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 28//OT.140/4/2012 tentang Pedoman Penilaian Balai Penyuluhan Kecamatan Berprestasi. 3

7. Pedoman Standar Pelayanan Minimal Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Peranian Kementerian Pertanian Tahun 2010. E. Pengertian Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan : 1. Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penyuluhan Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/Kota atau kelembagaan yang menangani penyuluhan di kabupaten/kota yang menyelenggarakan fungsi penyuluhan di kecamatan. 2. Standardisasi BP3K adalah standar minimal yang diperlakukan oleh BP3K untuk melaksanakan tugas fungsinya. 3. Klasifikasi BP3K adalah penilaian kelas kemampuan BP3K dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang dibagi ke dalam 4 (empat) kelas, yaitu BP3K kelas : 1) Pratama, 2) Madya, 3) Utama, dan 4) BP3K Aditama. 4. Sarana dan Prasarana penyuluhan adalah peralatan dan bangunan yang digunakan untuk melakukan penyelenggaraan penyuluhan di wilayah BP3K. 5. Pembiayaan penyuluhan pertanian adalah setiap pengeluaran untuk keperluan penyelenggaraan penyuluhan. 4

BAB II KELEMBAGAAN BALAI PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN (BP3K) A. Pengorganisasian Dalam pengorganisasian BP3K sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penyuluhan dari Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/Kota yang didukung dengan organisasi dan ketenagaan sebagai berikut: 1. Pimpinan Balai; 2. Urusan Ketatausahaan; 3. Kelompok Jabatan Fungsional(KJF), terdiri dari: - Penyuluh yang menangani urusan Programa; - Penyuluh yang menangani urusan Sumber Daya; dan - Penyuluh yang menangani urusan Supervisi. Pimpinan Balai adalah pejabat yang memiliki latar belakang dibidang penyuluhan atau pejabat fungsional penyuluh pertanian yang diberi kepercayaan untuk menjadi pemimpin/koordinator penyuluh di BP3K, sedangkan urusan Ketatausahaan dapat ditangani oleh fungsional umum. Selanjutnya untuk urusan programa, sumberdaya, dan supervisi dalam kelompok jabatan fungsional penyuluh ditetapkan oleh Pimpinan Balai dengan memperhatikan potensi pengembangan kawasan komoditas unggulan wilayah Kecamatan. Balai penyuluhan yang jumlah penyuluhnya terbatas, maka pimpinan, penyuluh urusan programa, sumberdaya, dan supervisi dalam kelompok jabatan fungsional dapat ditugaskan untuk menangani wilayah kerja penyuluh di desa sekitar BP3K. 5

B. Tugas dan Fungsi 1. Tugas Balai Penyuluh P3K mempunyai tugas: - Memfasilitasi penyusunan programa penyuluhan tingkat kecamatan yang sejalan dengan programa penyuluhan kabupaten/ kota; - Melaksanakan penyuluhan berdasarkan programa penyuluhan kecamatan; - Menyediakan akses terhadap penyebaran informasi teknologi, sarana produksi, pembiayaan penyuluhan, dan pasar; - Memfasilitasi pengembangan kelembagaan petani dan usahatani, pengembangan sejenisnya, kemitraan pelaku utama dan pelaku usaha; - Memfasilitasi peningkatan kapasitas penyuluh PNS, penyuluh swadaya dan penyuluh swasta melalui proses pembelajaran di BP3K secara berkelanjutan; dan; - Melaksanakan proses pembelajaran melalui percontohan dan pengembangan model usaha tani bagi pelaku utama dan pelaku usaha. 2. Fungsi Balai Penyuluhan P3K mempunyai fungsi sebagai tempat pertemuan para penyuluh, petani/pelaku utama, dan pelaku usaha dalam rangka fasilitasi pelaksanaan tugas BP3K. C. Prasarana dan Sarana Standar minimal prasarana dan sarana yang harus tersedia di BP3K meliputi: 1) bangunan fisik dan 2) peralatan yang digunakan untuk penyelenggaraan penyuluhan pertanian, berupa: 1. Prasarana Penyuluhan Pertanian Prasarana minimal di BP3K meliputi : prasarana perkantoran, prasarana lingkungan, dan prasarana penunjang. 6

- Prasarana perkantoran minimal yang harus tersedia di BP3K seperti: ruangan pimpinan, ruangan administrasi/tata usaha, ruangan kelompok jabatan fungsional, ruangan pertemuan/aula, ruangan perpustakaan, ruangan data dan sistem informasi, ruangan pameran, peragaan dan promosi, toilet dan kamar mandi, dapur, dan gudang. - Prasarana Lingkungan adalah sumber air bersih, penerangan listrik atau 1 (satu) unit genset cadangan, jalan lingkungan, pagar halaman, lahan percontohan balai dan papan nama balai. - Prasarana penujang adalah rumah dinas/rumah jaga, mushola dll. 2. Sarana minimal penyuluhan, meliputi: 1) sarana keinformasian, 2) alat bantu penyuluhan, 3) peralatan administrasi, 4) alat transportasi, 5) sarana perpustakaan (buku serta hasil publikasi), dan 6) perlengkapan ruangan. - Sarana keinfomasian, terdiri atas : 1 (satu) set perangkat komputer, 1 (satu) unit papan display, 1 (satu) unit kamera analog atau digital, 1 (satu) unit handycam, 1 (satu) set telepon dan mesin faksimile. - Alat bantu penyuluhan, terdiri atas : 1 (satu) unit overhead projector/ LCD, 1 (satu) unit perangkat pengeras suara, 1 (satu) set perangkat monitor televisi dan VCD/DVD, 1 (satu) unit tape recorder, 1 (satu) unit white board/panelboard, dan 1 (satu) unit laptop. - Peralatan Administrasi, terdiri atas : 1 (satu) set perangkat komputer, 1 (satu) unit mesin tik, 3 (tiga) unit kalkulator, 1 (satu) unit brankas, dan 2 (dua) unit rak buku. - Alat Transportasi, berupa 3 (tiga) unit kendaraan bermotor roda dua atau alat transportasi lain. - Sarana perpustakaan, terdiri atas: minimal 3 (tiga) unit rak buku, 1 (satu) unit meja, 6 (enam) unit kursi, dan buku-buku minimal 200 judul buku, dan hasil-hasil publikasi, dan 7

D. Manajemen Operasional Dukungan manajemen operasional yang wajib tersedia di BP3K: 1. Struktur organisasi BP3K. 2. Pembagian tugas pokok dan fungsi. 3. Programa penyuluhan kecamatan. 4. Jadual pelatihan di BP3K. 5. Jadual latihan dan kunjungan penyuluh, dan 6. Jadual supervise penyuluh. E. Aktivitas Dukungan aktivitas yang wajib ada di wilayah BP3K sebagai berikut: 1. Penyampaian dan penyebaran informasi inovasi teknologi. 2. Fasilitasi proses pembelajaran pelaku utama dan pelaku usaha. 3. Kaji terap/percontohan. 4. Pengembangan model usaha Tani. 5. Pemberian Rekomendasi dan aksesibilitas sumber teknologi. 6. Fasilitasi kerja sama peneliti, penyuluh, pelaku utama dan pelaku usaha. 7. Koordinasi dan Musyawarah Rembug Tani. 8. Koordinasi Mimbar Sarasehan. 9. Menumbuhkembangkan kepemimpinan kewirausahaan, kelembagaan petani, dan kelembagaan ekonomi petani. 10. Perakitan materi/media dan alat bantu penyuluhan spesifik lokasi. 11. Layanan terpadu hulu hilir (One Stop Service) dan layanan informasi berbasis teknologi informasi (cyber extension). 12. Layanan klinik konsultasi agribisnis. 13. Pemutakhiran data, dan 14. Supervisi, evaluasi, dan pembinaan kinerja penyuluh. 8

F. Penyediaan Data dan Informasi Jenis data dan informasi yang wajib tersedia di BP3K meliputi data dan informasi tentang sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan petani, keadaan demografis yang diperlukan dalam perencanaan kegiatan penyuluhan di wilayah BP3K. 1. Sumber Daya Alam, terdiri atas keadaan geografis, topografi wilayah, iklim, jenis tanah, luas lahan, luas tanam, produktivitas dan produksi usaha tani, dan komoditas unggulan yang berpeluang memiliki daya saing tinggi serta kerentanan terhadap bencana alam, kalender tanam, Dampak Perubahan Iklim (DPI), Indek Pertanaman (IP). 2. Sumber Daya Manusia, terdiri atas jumlah dan kapasitas SDM penyuluh (Pegawai Negeri Sipil, Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian, Penyuluh Pertanian Swadaya dan Penyuluh Pertanian Swasta). 3. Kelembagaan Petani dan Kelembagaan Ekonomi Petani data mencakup nama, alamat, nomor telepon, tanggal lahir, latihan yang pernah diikuti, target produksi dll, Kelembagaan petani meliputi jumlah kelompok tani/ Gapoktan, asosiasi petani, kelembagaan ekonomi petani (koperasi tani/ Badan Usaha Milik Petani), dan jejaring kemitraan usaha, dengan rincian kapasitas usaha masing-masing klasifikasi kelompoktani. 4. Keadaan demografis wilayah BP3K terdiri atas jumlah penduduk, keragaman, mata pencaharian, tingkat pertumbuhan pada pendidikan, nilai-nilai sosial budaya, tingkat partisipasi, dan produktivitas. G. Dukungan Pembiayaan Dukungan pembiayaan dalam pengelolaan BP3K dapat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota, Swasta, dan Swadaya. 9

10

BAB III KLASIFIKASI BALAI PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN (BP3K) Klasifikasi BP3K dilaksanakan berdasarkan penilaian terhadap beberapa aspek yaitu: A. Aspek Kemampuan BP3K Penilaian kemampuan BP3K dilakukan berdasarkan 5 (lima) aspek : 1) Kelembagaan, 2) Ketenagaan, 3) Penyelenggaraan, 4) Sarana Prasarana dan 5) Pembiayaan. Selanjutnya kelima aspek tersebut dijabarkan melalui beberapa variabel, antara lain : 1) organisasi, 2) ketenagaan, 3) pelaksanaan tugas dan fungsi dan lain-lain. Bobot penilaian maksimum sebesar 1.000 dengan nilai bobot masing-masing aspek, seperti terlihat pada Tabel 1. Tabel 1. Aspek Penilaian Kemampuan Balai Penyuluhan P3K No Aspek Bobot 1. Kelembagaan 224 2. Ketenagaan 64 3. Penyelenggaraan 532 4. Sarana dan Prasarana 150 5. Pembiayaan 30 Jumlah 1.000 B. Indikator Kemampuan dan Bobot Penilaian BP3K Indikator kemampuan BP3K didasarkan pada penilaian terhadap variabel-variabel penilaian. Indikator kemampuan ditetapkan berdasarkan kriteria yang spesifik, terukur, relevan, dalam batasan waktu yang jelas untuk mencapai tujuan dengan bobot penilaian, seperti pada terlihat pada Form 1. 11

C. Kelas Kemampuan BP3K Hasil penilaian berdasarkan indikator kemampuan BP3K di berbagai BP3K akan menghasilkan nilai yang beragam mulai dari nilai rendah sampai nilai tertinggi, yang merupakan gambaran dari kinerja BP3K. Hasil penilaian terhadap kemampuan BP3K menjadi dasar penetapan kelas kemampuan BP3K, dan menjadi bahan masukan dalam pembinaan serta merumuskan kegiatan-kegiatan untuk mengembangkan atau menaikkan kelas BP3K. Sesuai dengan kelasnya Klasifikasi BP3K dibagi ke dalam 4 (empat) kelas yakni: Kelas Pratama (nilai 475), Kelas Madya (nilai 476-650), Kelas Utama (nilai 651-825), dan Kelas Aditama (nilai 826-1.000). KELAS KEMAMPUAN BP3K BP3K ADITAMA BP3K PRATAMA BP3K MADYA NILAI : 476-650 BP3K UTAMA NILAI : 651-825 NILAI : 826-1.000 NILAI : 475 5 12

BAB IV MEKANISME PENILAIAN DAN PENETAPAN KELAS KEMAMPUAN BP3K Penilaian kelas kemampuan BP3K dilakukan antara 1 (satu) sampai 2 (dua) tahun sekali atau disesuaikan dengan perkembangan kondisi kelas kemampuan BP3K, melalui mekanisme sebagai berikut: 1) Tingkat Kecamatan Pimpinan BP3K bersama-sama dengan para penyuluh yang ada di BP3K melakukan klasifikasi melalui identifikasi dan penilaian secara mandiri (selfanalysis) terhadap BP3K yang dikelolanya. Klasifikasi didasarkan atas hasil penilaian terhadap kemampuan BP3K, meliputi aspek: kelembagaan, ketenagaan, penyelenggaraan, sarana dan prasarana serta pembiayaan. Hasil penilaian secara mandiri disampaikan kepada Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/Kota atau Kelembagaan yang membidangi penyuluhan di Kabupaten/Kota untuk selanjutnya di verifikasi. 2) Tingkat Kabupaten/Kota a. Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan/Pimpinan Kelembagaan yang membidangi penyuluhan di kabupaten/kota membentuk tim penilai klasifikasi kelas kemampuan BP3K, yang terdiri dari unsur pejabat struktural dan pejabat fungsional penyuluh pertanian kabupaten/kota. b. Tim penilai kabupaten/kota melakukan penilaian dengan langka-langkah sebagai berikut : - Menyampaikan informasi dan memverifikasi hasil penilaian BP3K dari kecamatan. - Menelaah dan menganalisis hasil verifikasi lapangan BP3K di wilayah kerjanya. 13

- Hasil rekapitulasi data dari seluruh BP3K, Tim Penilai menghitung dan mentabulasi nilai akhir dari masing-masing BP3K seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Rekapitulasi Nilai Akhir Kemampuan BP3K Kabupaten/Kota :. No Nama BP3K Aspek Kelembagaan Aspek Ketenagaan Nilai Aspek Penyelenggaraan Aspek Sarana dan Prasarana Aspek Pembiayaan Total Nilai Kelas Kemampuan Ketua Tim Penilai, (.) - Tim Penilai menyampaikan hasil penilaian tersebut kepada Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan/Pimpinan Kelembagaan yang membidangi penyuluhan di kabupaten/kota. - Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan/Pimpinan Kelembagaan yang membidangi penyuluhan kabupaten/kota mengusulkan hasil klasifikasi BP3K kepada Bupati/Walikota untuk ditetapkan lebih lanjut dalam Keputusan Bupati/Walikota. - Berdasarkan Surat Keputusan Bupati/Walikota tersebut, Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan/Pimpinan Kelembagaan yang membidangi penyuluhan kabupaten/kota memberikan sertifikat yang dilengkapi dengan tanda berwarna sesuai kelas kemampuan BP3K, yaitu: Merah untuk kelas Pratama, Kuning untuk kelas Madya, Hijau untuk kelas Utama dan Coklat untuk kelas Aditama (contoh Form 2). 14

- Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan/Pimpinan Kelembagaan yang membidangi penyuluhan di kabupaten/kota mengirimkan hasil klasifikasi BP3K yang telah ditetapkan Bupati/Walikota ke Badan Koordinasi Penyuluhan Provinsi dengan tembusan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian cq. Pusat Penyuluhan Pertanian melalui email : kelembagaan.pusluh@gmail.com 3) Tingkat Provinsi a. Kepala Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan/Pimpinan Kelembagaan yang membidangi penyuluhan di provinsi melakukan rekapitulasi kelas BP3K dari semua kabupaten/kota di wilayah kerjanya seperti pada Tabel 3. Tabel 3. Rekapitulasi Kelas Kemampuan BP3K Provinsi :.. No Kabupaten/ Kota Kecamatan Nama BP3K Nilai Kelas Kemampuan Kode Warna b. Hasil rekapitulasi penilaian tersebut, disampaikan kepada Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian cq. Pusat Penyuluhan Pertanian atau melalui email kelembagaan.pusluh@gmail.com 4) Tingkat Pusat Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian cq. Pusat Penyuluhan Pertanian melakukan rekapitulasi provinsi dan analisis dalam rangka pembinaan dan pengambilan kebijakan peningkatan kelas kemampuan BP3K yang diatur dalam petunjuk pelaksanaan. Selain itu, database klasifikasi BP3K akan disinergikan dengan program Direktorat Jenderal Teknis. Hasil klasifikasi BP3K akan dijadikan dasar upaya penilaian dan upaya peningkatan klasifikasi BP3K. 15

16

BAB V MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN A. Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan, baik kabupaten/kota, provinsi, pusat atau terpadu untuk melihat perkembangan kemampuan BP3K dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Monitoring dan evaluasi juga dilakukan untuk mengidentifikasi dan memberikan solusi pemecahan masalah yang dihadapi masing-masing tingkatan. Hasil monitoring dan evaluasi disusun dalam bentuk laporan tentang data dan informasi perkembangan kelas kemampuan BP3K. B. Pelaporan Pelaporan tentang perkembangan kelas kemampuan BP3K dilakukan setiap tahun secara berjenjang mulai dari kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan pusat. dengan format laporan seperti pada Form 3. 17

18

BAB VI PEMBIAYAAN Pembiayaan untuk klasifikasi BP3K bersumber dari APBN dan atau APBD serta sumber lain yang resmi dan tidak mengikat. 19

20

BAB VII PENUTUP Pedoman ini merupakan acuan bagi Pimpinan Kelembagaan Penyuluhan dan pihak terkait lainnya untuk mempercepat pengembangan dan pemberdayaan BP3K sebagai Pusat Koordinasi Program dan Pelaksanaan Kegiatan Pembangunan Pertanian di wilayah kecamatan untuk mendukung pembangunan pertanian. KEPALA BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN, Dr. Ir. Winny Dian Wibawa, M.Sc 21

22

Lampiran - lampiran 23

24

Form 1 PROVINSI KABUPATEN KECAMATAN NAMA BP3K/BPP KEPALA BP3K/BPP NO. TELP/HP PENILAIAN KLASIFIKASI BALAI PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN BP3K di KECAMATAN KEMENTERIAN PERTANIAN : : : : : : No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) A ASPEK KELEMBAGAAN 224 1 Dasar Pembentukan Kelembagaan 16 a. Perda; 16 b. Perbup; 10 c. Surat Penunjukan Bupati; 6 d. Belum terbentuk. 0 2 Pelaksanaan Tugas dan fungsi 196 a. Penyusunan programa penyuluhan 52 Cakupan Dokumen Programa Penyuluhan di Kecamatan 1) Identifikasi masalah perilaku 16 pelaku utama (PRA/Kaji Tindak); a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 2) Identifikasi kebutuhan 16 pengembangan usaha pelaku utama (RDK/RDKK); a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 3) Rumusan Programa Penyuluhan. 20 a. Sangat lengkap; 20 b. Lengkap; 14 c. Kurang lengkap; 6 b. Pelaksanaan penyuluhan berdasarkan programa penyuluhan; 58 1) Fasilitasi pembelajaran teknologi 20 (budidaya, pasca panen, pengolahan, pemasaran, kepemimpinan dan manajemen agribisnis; a. Sangat sesuai; 20 b. Sesuai; 14 c. Kurang sesuai; 6 d. Tidak sesuai. 0 2) Mengiktiarkan kemudahan (sarana 6 produksi, akses permodalan, dan akses pemasaran); a. Sangat berhasil; 6 b. Berhasil; 4 c. Kurang berhasil; 2 d. Tidak berhasil. 0 DOKUMEN VERIFIKASI No. 26 Tahun 2012 No. 72 Tahun 2011 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 KETERANGAN * berikan tanda check list sesuai yang ada 25

No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) 3) Penerapan metode penyuluhan 16 (kunjungan lapangan, demonstrasi lapangan, sekolah lapangan, kursus, dll); a. Sangat sesuai; 16 b. Sesuai; 10 c. Kurang sesuai; 6 d. Tidak sesuai. 0 4) Supervisi, evaluasi, dan pelaporan; 16 a. Sangat sesuai jadwal; 16 b. Sesuai jadwal; 10 c. Kurang sesuai jadwal; 6 d. Tidak sesuai jadwal. 0 c Penyediaan dan penyebaran informasi teknologi, sarana 28 produksi, pembiayaan dan pasar; 1) Jumlah dan jenis informasi 8 teknologi, sarana produksi, pembiayaan, pasar, dan kebijakan; DOKUMEN VERIFIKASI Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 KETERANGAN a. Sangat sesuai; 8 b. Sesuai; 6 c. Kurang sesuai; 2 d. Tidak sesuai. 0 2) Ketersediaan sarana pengumpulan 10 data dan informasi (IT, cyber extension, kaji terap, kaji tindak, apresiasi, dan konsultasi); a. Sangat lengkap; 10 b. Lengkap; 7 c. Kurang lengkap; 3 3) Kemasan informasi (liptan, brosur, 10 folder, dll); a. Sangat sesuai; 10 b. Sesuai; 7 c. Kurang sesuai; 3 d. Tidak sesuai. 0 d Fasilitasi pengembangan kelembagaan dan kemitraan pelaku 24 utama; 1) Keragaan (jumlah dan klasifikasi), 4 kelembagaan petani (poktan, gapoktan), kelembagaan ekonomi petani dan Posluhdes; a. Sangat berhasil; 4 b. Berhasil; 3 c. Kurang berhasil; 1 d. Tidak berhasil. 0 2) Pemetaan kondisi kelembagaan 4 (kemampuan manajemen, permodalan, skala usaha, dan kemitraan); a. Sangat lengkap; 4 b. Lengkap; 3 c. Kurang lengkap; 1 3) Pemberdayaan dan penguatan 16 kelembagaan; a. Sangat berhasil; 16 b. Berhasil; 10 c. Kurang berhasi; 6 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 * berikan tanda check list sesuai yang ada 26

No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) e Fasilitasi peningkatan kapasitas penyuluh PNS, penyuluh 26 swadaya dan penyuluh swasta 1) Ketersediaan data penyuluh (PNS, 8 Swadaya, dan Swasta); a. Sangat lengkap; 8 b. Lengkap; 6 c. Kurang lengkap; 2 2) Ketersediaan data inventarisasi 8 kebutuhan materi untuk peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap); a. Sangat lengkap; 8 b. Lengkap; 6 c. Kurang lengkap; 2 3) Ketersediaanrencana peningkatan 6 kapasitas penyuluh PNS, Swadaya, dan Swasta; a. Sangat tersedia; 6 b. Tersedia; 4 c. Kurang tersedia; 2 d. Tidak tersedia. 0 4) Ketersediaan rencana sertifikasi 4 keahlian/kompetensi penyuluh PNS, Swadaya, dan Swasta. a. Sangat Tersedia; 4 b. Tersedia 3 c. kurang tersedia; 1 d. Tidak tersedia. 0 f Pelaksanaan proses pembelajaran melalui percontohan dan pengembangan model usaha 8 Jumlah dan jenis percontohan dan 8 pengembangan model usaha padi (demplot/perorangan (0,1 Ha), demfarm/kelompok (5 Ha), demarea/gapoktan (50 Ha), demunit/asosiasi (1.000 Ha) a. Sangat lengkap 8 b. Lengkap; 6 c. Kurang lengkap; 2 d. Tidak lengkap. 0 3 Pengorganisasian BPP 6 Struktur organisasi dan pembagian 6 tugas pengelola dan tenaga penyuluh di BPK a. Sangat sesuai; 6 b. Sesuai; 4 c. Kurang sesuai; 2 d. Tidak sesuai. 0 4 BPP sebagai lembaga percontohan di wilayahnya. Menjadi pusat pembelajaran 6 6 pengembangan pertanian dan pelayanan masyarakat di wilayah kecamatan. a. Percontohan sangat lengkap; 6 b. Lengkap; 4 c. Kurang lengkap; 2 d. Tidak ada percontohan. 0 DOKUMEN VERIFIKASI Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K Tahun 2013 KETERANGAN * berikan tanda check list sesuai yang ada 27

No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) B ASPEK KETENAGAAN 64 1 Ketenagaan Pengelola Balai Penyuluhan Kecamatan 64 a Pengelola BPK 32 1) Pimpinan Balai 16 (Kepala/Koordinator); a. Sangat sesuai dengan kriteria; 16 DOKUMEN VERIFIKASI No. 26 Tahun 2012 KETERANGAN b. Sesuai; 10 c. Kurang sesuai; 6 d. Tidak sesuai. 0 2) Urusan Ketata Usahaan. 16 a. Sangat sesuai dengan kriteria; 16 b. Sesuai; 10 c. Kurang sesuai; 6 d. Tidak sesuai. 0 b Tenaga fungsional penyuluh 32 1) Ketersediaan Penyuluh Urusan 16 Program, Urusan Sumber Daya dan Urusan Supervisi sesuai Kriteria ; a. Sangat sesuai; 16 b. Sesuai; 10 c. Kurang sesuai; 6 d. Tidak sesuai 0 2) Ketersediaan Penyuluh Pertanian di 16 WKPP sesuai Kebutuhan Potensi Wilayah BPK; a. Sangat sesuai; 16 b. Sesuai; 10 c. Kurang sesuai; 6 d. Tidak sesuai 0 C ASPEK PENYELENGGARAAN 532 1 Perencanaan Penyelenggaraan Penyuluhan di Kecamatan 157 a Perencanaan manajemen BPK 80 Dokumen perencanaan pengelolaan BPK terdiri dari: 1) Data identifikasi potensi wilayah 16 dan permasalahan perilaku petani ; a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 2) Data inventarisasi kelembagaan 16 pelaku utama dan pelaku usaha; a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 3) Penetapan skala prioritas 16 pengembangan usaha; a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 4) Pemetaan komoditas unggulan; 16 a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 No. 75 Tahun 2011 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K tahun 2013 Juklak Penyuluhan Pertanian di BP3K tahun 2013 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 * berikan tanda check list sesuai yang ada 28

No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) 5) Dokumen rencana kebutuhan 16 administrasi sarana dan prasana a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 b Programa penyuluhan; 77 Dokumen Programa Penyuluhan di Kecamatan meliputi: 1) Data hasil identifikasi masalah 20 perilaku pelaku utama (PRA/Kaji Tindak); a. Sangat lengkap; 20 b. Lengkap; 14 c. Kurang lengkap; 6 2) Data hasil identifikasi kebutuhan 16 pengembangan usaha pelaku utama (RDK/RDKK); a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 3) Notulen Penyusunan Programa 16 Penyuluhan yang melibatkan petani dan penyuluh melalui mimbar sarasehan; a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang lengkap; 6 4) Rumusan Programa; 25 a. Sangat lengkap; 25 b. Lengkap; 15 c. Kurang lengkap; 10 2 Pelaksanaan dan fasilitasi penyuluhan dan pembelajaran 75 sudah dilaksanakan sesuai peraturan yang ada 1) Rencana Kerja Tahunan Penyuluh; 25 DOKUMEN VERIFIKASI No. 26 Tahun 2012 No. 25 Tahun 2009 No. 25 Tahun 2009 No. 25 Tahun 2009 No. 25 Tahun 2009 No. 25 Tahun 2009 KETERANGAN a. Sangat lengkap; 25 b. Lengkap; 15 c. Kurang lengkap; 10 2) Jadwal latihan dan kunjungan 30 (LAKU); a. Sangat lengkap; 30 b. Lengkap; 20 c. Kurang lengkap; 10 3) Laporan pelaksanaan kegiatan; 20 a. Sangat lengkap; 20 b. Lengkap; 14 c. Kurang lengkap; 6 No. 25 Tahun 2009 No. 25 Tahun 2009 * berikan tanda check list sesuai yang ada 29

No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) 3 Mekanisme dan tata hubungan kerja 86 BPK sebagai Pusat Koordinasi Program dan Pelaksanaan Kegiatan Pertanian di Kecamatan yang meliputi: DOKUMEN VERIFIKASI No. 45 Tahun 2011 KETERANGAN 1) Rencana kegiatan peningkatan dan 25 pengembangan program; a. Sangat lengkap; 25 b. Lengkap; 15 c. Kurang lengkap; 10 2) Dukungan peneliti pendamping 20 dalam penerapan rekomendasi spesifik lokasi; a. Sangat mendukung; 20 b. Mendukung; 14 c. Kurang Mendukung; 6 d. Tidak ada dukungan. 0 3) Dukungan petugas teknis RIHP 16 sesuai dengan tupoksinya; a. Sangat mendukung; 16 b. Mendukung; 10 c. Kurang Mendukung; 6 d. Tidak ada dukungan. 0 4) Pengawalan dan pendampingan 25 penyuluh pada program pembangunan pertanian prioritas. No. 45 Tahun 2011 No. 45 Tahun 2011 No. 45 Tahun 2011 a. Sangat sesuai rencana; 25 b. Sesuai rencana; 15 c. Kurang Sesuai rencana; 10 d. Tidak ada rencana. 0 4 Kerjasama dan kemitraan penyuluhan dengan pemangku kepentingan berjalan baik 16 No. 45 Jumlah dan bentuk kerjasama 16 dengan lembaga pemerintah dan swasta; a. Sangat sesuai; 16 b. Sesuai; 10 c. Kurang Sesuai; 6 5 Pemantauan dan evaluasi dilakukan secara tertib dan teratur 65 1) Adanya instrumen supervisi, 20 monitoring dan evaluasi; a. Sangat tersedia; 20 b. Tersedia; 14 c. Kurang tersedia; 6 2) Jadwal supervisi, monitoring dan 25 a. Sangat tersedia; 25 b. Tersedia; 15 c. Kurang tersedia; 10 3) Laporan dan umpan balik. 20 a. Sangat lengkap; 20 b. Lengkap; 14 c. Kurang Lengkap; 6 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 * berikan tanda check list sesuai yang ada 30

No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) 6 Partisipasi dan dukungan petani diwilayahnya sangat tinggi 66 dalam pembangunan pertanian 1) BPK menjadi tempat pertemuan 30 dan konsultasi petani dan penyuluh swadaya; a. Sangat berfungsi; 30 b. Berfungsi; 20 c. Kurang berfungsi; 10 d. Tidak berfungsi. 0 2) Kontribusi petani dalam kegiatan 20 rembug tani, mimbar sarasehan, programa, dan percontohan; DOKUMEN VERIFIKASI No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 KETERANGAN a. Sangat mendukung; 20 b. Mendukung; 14 c. Kurang mendukung; 6 d. Tidak ada dukungan. 0 3) BPK sebagai wadah pembinaan 16 wanita tani dan pemuda tani; a. Sangat berfungsi; 16 b. Berfungsi; 10 c. Kurang berfungsi; 6 d. Tidak berfungsi. 0 7 Pengelolaan lingkungan sekitarnya sangat baik 16 1) Percontohan pengelolaan 16 perkantoran dan usahatani berwawasan lingkungan a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang Lengkap; 6 8 Terbentuknya Kawasan/ Cluster Pengembangan Kawasan 51 Pertanian di Kecamatan 1) Adanya pengembangan kegiatan 16 usaha berbasis komoditas unggulan yang dilakukan oleh pelaku utama dan pelaku usaha; a. Sangat tersedia; 16 b. Tersedia; 10 c. Kurang tersedia; 6 2) Data hasil peningkatan 20 produktivitas komoditas unggulan kawasan; a. Sangat tersedia; 20 b. Tersedia; 14 c. Kurang tersedia; 6 3) Data peningkatan pendapatan dan 15 kesejahteraan pelaku utama dan pelaku usaha. a. Sangat tersedia; 15 b. Tersedia; 10 c. Kurang tersedia; 5 D Aspek Sarana dan Prasarana 150 1 Sarana dan Prasarana memenuhi Standar Minimal 150 1) Sarana ke informasian; 16 a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang Lengkap; 6 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 50 Tahun 2012 No. 50 Tahun 2012 No. 50 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 * berikan tanda check list sesuai yang ada 31

No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) 2) Sarana alat bantu penyuluhan; 20 a. Sangat lengkap; 20 b. Lengkap; 14 c. Kurang Lengkap; 6 3) Sarana peralatan administrasi; 16 a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang Lengkap; 6 4) Sarana alat transportasi; 16 a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang Lengkap; 6 5) Sarana perpustakaan; 20 a. Sangat lengkap; 20 b. Lengkap; 14 c. Kurang Lengkap; 6 6) Sarana perlengkapan ruangan); 18 a. Sangat lengkap; 18 b. Lengkap; 10 c. Kurang Lengkap; 8 7) Prasarana perkantoran; 18 a. Sangat lengkap; 18 b. Lengkap; 10 c. Kurang Lengkap; 8 8) Prasarana lingkungan; 16 a. Sangat lengkap; 16 b. Lengkap; 10 c. Kurang Lengkap; 6 9) Prasarana penunjang 10 a. Sangat lengkap; 10 b. Lengkap; 7 c. Kurang Lengkap; 3 DOKUMEN VERIFIKASI No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 No. 26 Tahun 2012 KETERANGAN * berikan tanda check list sesuai yang ada 32

No VARIABEL INDIKATOR BOBOT SCORE HASIL VERIFIKASI *) E ASPEK PEMBIAYAAN 30 1 Pengelolaan pembiayaan dan administrasi sesuai peraturan 30 yang ada (bagi BPK yang mendapatkan dana APBN/Dekon dan/atau APBD) Adanya pengelolaan anggaran yang tertib sesuai dengan peraturan yang berlaku meliputi pembiayaan Operasiona, Pertemuanpertemuan, percontohan, penyediaan dan penyebaran informasi, Pembelajaran petani, peningkatan kapasitas penyuluh, peningkatan kapasitas kelembagaan petani dan ekonomi petani serta kemitraan. 30 DOKUMEN VERIFIKASI PP No. 43 Tahun 2009 KETERANGAN TOTAL Keterangan: 1. Score BP3K Pratama 2. Score BP3K Madya 3. Score BP3K Utama 4. Score BP3K Aditama : : : : a. Sangat sesuai dan lengkap; 30 b. Sesuai dan Lengkap; 20 c. Kurang sesuai dan kurang 10 lengkap; 1.000 475 476-650 651-825 826-1.000., tanggal bulan.. Petugas Verifikasi tahun. (... ) * berikan tanda check list sesuai yang ada 33

34

Form 2 contoh: SERTIFIKAT KLASIFIKASI BP3K Nomor: Lambang warna Keterangan : - Kelas Pratama = Merah - Kelas Madya = Kuning - Kelas Utama = Hijau - Kelas Aditama = Coklat Yang bertandatangan di bawah ini Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan/Lembaga yang menangani Penyuluhan. Berdasarkan Keputusan Bupati/Walikota di Kabupaten/Kota No... memberikan sertifikat kelas kemampuan kepada Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K)....... dengan kategori..... Dengan Sertifikat Klasifikasi BP3K ini, maka dapat dipergunakan sebagai dasar pembinaan peningkatan kelas kemampuan BP3K setingkat lebih tinggi atau pembinaan lanjutan...., 2014 Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan/Lembaga yang menangani Penyuluhan Kabupaten/Kota... (...) 35

36

a. Laporan Perkembangan Kelas Kemampuan BP3K Kecamatan : Kabupaten : No Nama BP3K Alamat Form 3 Perkembangan Kelas Kelas Kemampuan Tahun Sebelumnya (Tahun..) Kelas Kemampuan Tahun., 2014 Kepala BPK (...) 37

38

b. Rekapitulasi Laporan Perkembangan Kelas Kemampuan BP3K Kabupaten : Provinsi : No Nama BP3K Alamat Perkembangan Kelas Kelas Kemampuan Tahun Sebelumnya (Tahun..) Kelas Kemampuan Tahun., 2014 Kepala Bapeluh (...) 39

40

c. Rekapitulasi Laporan Perkembangan Kelas Kemampuan BP3K Provinsi : Tahun : No Kabupaten Nama BP3K Alamat Perkembangan Kelas Kelas Kemampuan Tahun Sebelumnya (Tahun..) Kelas Kemampuan Tahun., 2014 Kepala Bakorluh (...) 41

42