ASAS-ASAS HUKUM PERDATA

dokumen-dokumen yang mirip
HUKUM PERDATA ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI, ANISAH SE.,MM.

Hukum Perdata. Rahmad Hendra

BAB III ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK DALAM JUAL BELI PASAL 1493 KUH PERDATA

Hukum Perdata, Hukum Pidana Dan Hukum Administrasi Negara

BAB III HIBAH DALAM DALAM PASAL 1688 KUH PERDATA. A. Sekilas tentang Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Pengertian dan Ruang Lingkup Hukum Perdata

HUKUM PERDATA. Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas kuliah. Pengantar Hukum Indonesia (PHI) Dosen Pengampu: Dwi Nur Fauziah A, S.H, M.

Pengantar. Hukum PERDATA. ÉÄx{M. Joeni Arianto Kurniawan, S. H. Joeni Arianto K - Pengantar Hukum Perdata

PEMANFAATAN BARANG GADAI MENURUT PASAL 1150 KUH PERDATA

II. Istilah Hukum Perdata

BAB III HUKUM PERDATA

Prof. Dr. I Ketut Oka Setiawan, SH. MH. SpN. HUKUM PERDATA MENGENAI ORANG DAN KEBENDAAN

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan menurut Pendapat Umum, yang dimaksud dengan Hukum adalah:

Bahan Perkuliahan Hukum Perdata (Yusuf Faisal Ali., M.H)

Prof. Dr. I Ketut Oka Setiawan, SH. MH. CN. HUKUM PERDATA MENGENAI ORANG DAN KEBENDAAN. Edisi Revisi

B A B I P E N D A H U L U A N. Sebagaimana prinsip hukum perdata barat di dalam KUH Perdata tersebut, telah

HUKUM PERDATA H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI.

PERKEMBANGAN HUKUM PERDATA TENTANG ORANG DAN HUKUM J= LUAR A. 7{.MtJj No. Klass.. f\fo _ Tgl. Hadiah/Bef;

Sejarah Perkembangan Hukum Perdata di Indonesia

BURGELIJK WETBOEK (Menelusuri Sejarah Hukum Pemberlakuannya di Indonesia)

SISTEMATIKAN HUKUM PERDATA. Andri Budi Santosa, Drh, MBA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

POKOK-POKOK HUKUM PERDATA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Hukum Perdata disebut juga dengan hukum privat (privaatrechts) atau hukum sipil (civielrechts). Istilah perdata berasal dari bahasa Sangsekerta yang

Tanah merupakan salah satu faktor yang terpenting dalam kehidupan. manusia, hewan, dan juga tumbuh-tumbuhan. Fungsi tanah begitu penting dan

BAB I PENGANTAR 1.1 Pengertian Hukum Pidana Hukum Pidana Endah Lestari D.,SH,MH. Fakultas Hukum Univ. Narotama Surabaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN. Universitas. Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Mewaris adalah menggantikan hak dan kewajiban seseorang yang

HUKUM PERDATA DALAM PERSPEKTIF BW

1. Perbedaan PIH dan PHI 2. Hukum dalam masyarakat 3. Pengetian dasar sistem hukum 4. Sumber Hukum 5. Klasifikasi/Pembedaan Hukum 6.

Lex Crimen Vol. VI/No. 5/Jul/2017

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PERJANJIAN, JAMINAN DAN GADAI. politicon). Manusia dikatakan zoon politicon oleh Aristoteles, sebab

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-1 Hakikat Perlindungan dan Penegakkan Hukum

Perbandingan Hukum Orang di Belanda dan Indonesia.

BAB III HARTA BERSAMA MENURUT PASAL 124 DAN 125 KUH PERDATA. dengan istilah Burgerlijk Wetboek (BW) adalah kodifikasi hukum perdata yang

HUKUM PERDATA TENTANG ORANG DAN BENDA. Kernel for Word to PDF Demo. Kernel for Word to PDF Demo. Kernel for Word to PDF Demo

BAB II PERJANJIAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA. tentang Pembuktian dan Kadaluwarsa/Bewijs en Verjaring.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SEJARAH BURGERLIJK WETBOEK (BW)

BAB I PENDAHULUAN. kehidupannya agar berjalan tertib dan lancar, selain itu untuk menyelesaikan

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

PERBANDINGAN ANTARA HAK MILIK ATAS TANAH MENURUT KETENTUAN KUHPerdata Dan UUPA

BAB I PENDAHULUAN. benua dan lautan yang sangat luas, maka penyebaran agama-agama yang dibawa. melaksanakan kemurnian dari peraturan-peraturannya.

SELAYANG PANDANG TENTANG ANAK DAN PENGANGKATAN ANAK. Oleh : Suwardjo. Dosen Fakultas Hukum Universitas surakarta. ABSTRAKSI

KEKUATAN YURIDIS METERAI DALAM SURAT PERJANJIAN

Ruang Lingkup Hukum Agraria

BAB III KEWARISAN DALAM HUKUM PERDATA. Hukum waris Eropa yang dimuat dalam Burgerlijk Wetboek

Pengantar Hukum Dagang. Copyright by dhoni yusra

BAB II KEBIJAKAN HUKUM PEMERINTAH INDONESIA DALAM PENCATATAN KELAHIRAN

Pertemuan ke 4 HUKUM ADAT DALAM HUKUM TANAH NASIONAL. Dosen: Dr. Suryanti T. Arief SH.MKn.MBA

PENGALIHAN HAK MILIK ATAS BENDA MELALUI PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA. Oleh : Deasy Soeikromo 1

PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS

1. Menghapuskan dualisme hukum tanah yang lama dan menciptakan

HUKUM WARIS. Hukum Keluarga dan Waris ISTILAH

BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana diatur oleh undang - undang termasuk dalam hal pengikatan antara

KEKUATAN MENGIKATNYA SURAT PENETAPAN PENGANGKATAN ANAK DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Namun di Indonesia hukum yang diterapkan adalah hukum secara terlulis.

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN. Istilah jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, yaitu zekerheid atau cautie.

BAB II KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM PENGUASAAN TANAH MENURUT UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA

BAB 1 PENDAHULUAN. meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan. Diantara ciptaan-nya, manusia

Sejarah Terbentuknya Hukum Perdata (BW)

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan serta penghidupan masyarakat baik dari segi sosial, ekonomi,

Lex Crimen Vol. VI/No. 10/Des/201. HAK-HAK KEBENDAAN YANG BERSIFAT JAMINAN DITINJAU DARI ASPEK HUKUM PERDATA 1 Oleh: Andhika Mopeng 2

BAB I PENDAHULUAN. harga-harga produksi guna menjalankan sebuah perusahaan bertambah tinggi

PENGANTAR ILMU HUKUM. Henry Anggoro Djohan

Block Book. Penyusun: MKK : MI007. ADIWATI. SH.MH AA. SRI INDRAWATI. SH.MH.

BAB III WASIAT PENGANGKATAN AHLI WARIS (ERSFTELLING) DALAM KUHPERDATA. yaitu segala hukum yang mengatur kepentingan-kepentingan perorangan.

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 8TAHUN 2010 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2010 TENTANG : TATA CARA PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

DIPONEGORO LAW JOURNAL Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Website :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Suatu Negara dikatakan sebagai Negara berdaulat jika memiliki

BAB III IMPLIKASI HAK KEWARISAN ATAS PENGAKUAN ANAK LUAR

KEDUDUKAN ANAK DAN HARTA DALAM PERKAWINAN SIRI DITINJAU DARI UU NOMOR 1 TAHUN 1974

SILABUS PENGANTAR HUKUM INDONESIA By CEKLI SETYA PRATIWI, SH. LITERATURE

BAB I PENDAHULUAN. Tanah merupakan suatu bagian dari pemenuhan kebutuhan manusia

HUKUM BISNIS (Pengantar) Untuk Manajemen FE UNY Oleh : Iffah Nurhayati

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan temuan penelitian dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut :

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perikatan merupakan hubungan hukum yang tercipta karena adanya peristiwa

BAB I PENDAHULUAN. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD/Wetboek van Koophandel/WvK)

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN. TENTANG PERSEKUTUAN PERDATA, PERSEKUTUAN FIRMA, DAN PERSEKUTUAN KOMANDITER

C. HUKUM MENURUT TEMPAT BERLAKUNYA

BAB I PENDAHULUAN. zoon politicon, yakni sebagai makhluk yang pada dasarnya. selalu mempunyai keinginan untuk berkumpul dengan manusia-manusia lainnya

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk, kebutuhan akan tanah terus

STATUS PERKAWINAN INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN PERKAWINAN. (Analisis Kasus WNI Yang Menikah Dengan Warga Negara Prancis di Jepang)

A. Keabsahan Kepemilikan Hak Atas Tanah Berdasarkan Asas Perlekatan. Vertikal Dihubungkan Dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960

BAB II TINJAUAN TERHADAP PERJANJIAN SEWA BELI. belum diatur dalam Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para pakar

Mengenal Hukum Bisnis

BAB IV HUKUM KELUARGA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia ada tata hukum yaitu tata tertib dalam pergaulan hidup

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau beberapa orang lain. Intinya adalah peraturan yang mengatur akibat-akibat

BAB III HAK WARIS ANAK SUMBANG. A. Kedudukan Anak Menurut KUH Perdata. Perdata, penulis akan membagi status anak ke dalam beberapa golongan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PENGANGKATAN ANAK. A. Pengertian Anak Angkat dan Pengangkatan Anak

BAB I PENDAHULUAN. Hukum Perdata (Burgerlijkrecht) ialah rangkaian peraturan-peraturan

Pengantar Ilmu Hukum. Disampaikan oleh : Fully Handayani R, SH,M.Kn

SUMBER HUKUM. A. Sumber Hukum Materiil menurut Prof. Mr. Dr. L.J. Apeldoorn B. Sumber Hukum Materiil menurut E. UTRECHT

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui kekuatan pembuktian alat bukti

Transkripsi:

ASAS-ASAS HUKUM PERDATA Hukum perdata yang dimaksud dalam hal ini adalah hukum perdata material (bukan hukum perdata formal), adalah keseluruhan peraturan atau norma hukum yang mengatur hubungan hukum antara kepentingan perseorangan. Dengan pengertian lain hukum perdata adalah segala peraturan atau hukum yang mengatur hak dan kewajiban dalam hubungan antara perseorangan yang mengutamakan kepentingan pribadi. Hukum perdata adalah segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perorangan. 1 Hukum Perdata, sebagai hukum yang mengatur kepentinganperseorangan. 2 Hukum Perdata, ialah hukum yang mengatur kepentingan antarara warganegara perseorangan yang satu dengan warga negara perseorangan yang lain. 3 Sumber pokok Hukum Perdata (Burgerlijkrecht) ialah Kitab Undang-undangHukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) disingkat KUH Perdata (B.W.) Burgerlijk Wetboek (B.W.) sebagian besar isinya adalah hukum perdataperancis (Code Civil) yaitu bagian dari Code Napoleon tahun 1811-1838.Akibat pendudukan Perancis di Belanda, Code Napolen (Code Civil)diberlakukan secara resmi di Negeri Belanda sebagai Kitab Undang-undangHukum Sipil. Sebagai bagian dari Code Napoleon. penyusunan Code Civilmengambil bahan-bahan hukum dan pendapat hukum dari bukubuku/literatur pengarang-pengarang bangsa Perancis tentang hukum Romawi(Corpus Juris Civilis) yang pada waktu dahulu dianggap sebagai hukum yangpaling sempurna. Selain itu juga diambil dari unsur-unsur hukum kanonik (hukum agama katolik) dan pengaruh hukum kebiasaan setempat. Peraturan-peraturan yang belum ada pada jaman Romawi, tidak dimasukkan dalam Code Civil, tetapi dalam kitab tersendiri ialah Code decommerce. 1 R. Subekti, op. cit, hlm. 9. 2 Wirjono Prodjodikoro, 1979, Asas-asas Hukum Perdata, Sumur, Bandung, hlm. 7-11. 3 Sri Sudewi Masjchoen Sofwan, 1975, Hukum Perdata: Hukum Benda, Liberty, Yogyakarta, hlm.1.

Setelah pendudukan Perancis berakhir, oleh Pemerintah Belanda dibentuk suatu panitia yang diketuai oleh Mr. J.M. Kemper yang bertugas membuat rencana kodifikasi Hukum Sipil Belanda, dengan menggunakan Code Civil Perancis (Napoleon) sebagai sumber material hukum dan sebagian kecil darihukum Belanda Kuno.Meskipun penyusunan tersebut sudah selesai sebelum 5 Juli 1830, tetapihukum Sipil Belanda baru diresmikan dan diberlakukan di negara Belanda padatanggal 1 Oktober 1838. Hukum Sipil Belanda yang diberlakukan tersebut terdiri dari : 1. Burgerlijk Wetboek ( B.W.) atau KUH Perdata; 2. Wetboek van Koophandel ( W. v. K.) atau KUH Dagang (KUHD).Berdasarkan asas konkordansi, maka Kodifikasi Hukum Sipil Belanda(Burgerlijk Wetboek dan Wetboek van Koophandel) diumumkan pada tanggal30-4-1847 Staatblad No. 23 dinyatakan mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 1848di Indonesia (Hindia Belanda). Setelah Indonesia menjadi negara yang merdeka sejak pernyataan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, maka berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek) mengalami banyak perubahan. Perubahan yang dimaksudkan karena banyaknya pasal-pasal didalam KUH Perdata (B.W) dicabut oleh undang-undang yang sama atau sejenis atau dinyatakan tidak berlaku karena tidak sesuai dengan alam pikiranatau kesadaran hukum bangsa Indonesia yang modern dan religius.dalam perihal berlakunya B.W. setelah Indonesia menjadi negara yangmerdeka dan berdaulat saat ini ada beberapa penyebab atau momen yangmengakibatkan pasal-pasal B.W. tidak berlaku, yakni antara lain : 1. Gagasan Menteri Kehakiman R.I. Dr. Sahardjo, yang berpendapat bahwa,b.w. dianggap tidak lagi sebagai undang-undang, melainkan suatu kelompok hukum yang tidak tertulis yang hanya dipakai sebagai pedoman oleh semuawarga negara Indonesia. 2. Prof. Mahadi, SH berpendapat bahwa, B.W. sebagai kodifikasi sudah tidak berlaku lagi; yang masih berlaku ialah aturan-aturannya yang tidak bertentangan dengan semangat serta suasana kemerdekaan; diserahkankepada yurisprudensi dan doktrin untuk menetapkan aturan mana yang masihberlaku dan yang tidak berlaku; tidak setuju dilakukan tindakan legislatiftehadap B.W. untuk dicabut, dan menjadikannya hukum kebiasaan,

karenamasih ada aturan-aturan dalam B.W. yang di kemudian hari menjadi hukumnasional yang tertulis dalam bentuk undang-undang. 3. Prof. Wiryono Prodjodikoro, sependapat dengan gagasan Menteri KehakimanR.I. tersebut, dengan mengusulkan pencabutan B.W. tidak dengan undang-undang melainkan dengan suatu pernyataan dari Pemerintah atau darimahkamah Agung. 4. Berdasarkan gagasan para ahli hukum tersebut, maka pada tanggal 5Sepember 1963, Mahkamah Agung R.I. mengeluarkan Surat Edaran MahkamahAgung No. 3 Tahun 1963, selanjutnya disingkat SEMA. SEMA tersebut mencabutbeberapa pasal B.W. yang dianggap tidak sesuai dengan zamankemerdekaan Indonesia. Pasal-pasal B.W. yang dicabut oleh SEMA No. 3 Tahun1963 terdiri dari 8 (delapan) pasal antara lain pasal 108 dan 110, pasal 284(ayat 3), pasal 1238, pasal 1460, pasal 1579, pasal 1603 x ayat (1) dan ayat (2),dan pasal 1682 B.W. 5. Diberlakukannya Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria (UUPA). Dengan dikeluarkannya UUPA pada tanggal 24September 1960, maka Buku II B.W. yang mengatur tentang benda tidak bergerak atau megenai bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dinyatakan tidak berlaku, kecuali hipotik masih tetap berlaku. 6. Diberlakukannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1961 tentang PenggantianNama. Berdasarkan Undang-undang tersebut maka Buku I B.W. yang mengatur tentang nama dinyatakan tidak berlaku sepanjang telah diatur dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1961. 7. Diberlakukannya Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.Dengan diberlakukannya Undang-undang Perkawinan ini, maka Buku I B.W.yang mengatur perkawinan dan pendewasaan (handlichting) dinyatakandicabut atau tidak berlaku. Pasalpasal yang dicabut dengan berlakunyaundang-undang Perkawinan adalah pasal 26s/d. pasal 418a (tentangperkawinan dan perceraian), pasal 419 s/d. pasal 432 tentang pendewasaan(handlichting). 8. Dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah,maka pasal-pasal hipotik dalam Buku II B.W. yang obyeknya tanah beserta benda-benda

yang berkaitan dengan tanah dinyatakan dicabut atau tidak berlaku. Dengan demikian obyek hipotik, sekarang tinggal benda-benda tetap yang bukan tanah (misal: kapal laut, pesawat udara, yang isi muatannya 20m 3 atau lebih). Sistematika Hukum Perdata Sistematika hukum perdata diatur dalam Kitab Undang-Undang HukumPerdata atau disingkat KUH Perdata atau yang lebih dikenal dengan Burgerlijk Wetboek disigkat (B.W). KUH Perdata (B.W.) terdiri atas 4 (empat) Buku, yaitu: a. Buku I, tentang Orang (van Personen), memuat Hukum Perseorangan dan Hukum Kekeluargaan; b. Buku II, tentang Benda (van Zaken), memuat Hukum Benda dan HukumWaris; c. Buku III, tentang Perikatan (van Verbintennissen), memuat Hukum hartakekayaan yang mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berlakuterhadap orang-orang atau pihak-pihak tertentu; d. Buku IV, tentang Pembuktian dan Kadaluwarsa atau Lewat Waktu (van Bewijsen Verjaring ), yang memuat ketentuan alat-alat bukti dan akibat-akibat lewatwaktu terhadap hubungan-hubungan hukum. Menurut Ilmu Pengetahuan, Sistematika Hukum Perdata dibagi dalam 4(empat) bagian, yaitu: 1. Hukum Perorangan (Personenrecht) yang memuat antara lain: a. peraturan-peraturan tentang manusia sebagai subyek hukum; b. peraturan-peraturan tentang kecakapan untuk memiliki hak-hak dan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak-haknya, serta hal-hal yang mempengruhi kecakapankecakapan itu. 2. Hukum Keluarga (Familierecht) yang memuat antara lain: a. perkawinan beserta hubungan dalam hukum harta kekayaan antarasuami/isteri; b. hubungan antara orang tua dan anak-anaknya (kekuasaan orang tua(ouderlijke macht); c. perwalian (voogdij); d. pengampuan (curatele)

3. Hukum Harta Kekayaan (Vermogensrecht), yang mengatur tentanghubungan-hubungan hukum yang dapat dinilaikan dengan uang.hukum Harta Kekayaan meliputi: a. hak mutlak (absolute rechten) yaitu kekuasaan (kewenangan) hukum yangberlaku terhadap setiap orang. b. hak perorangan ( relatieve rechten) yaitu keuasaan (kewenangan) hukumyang berlaku terhadap orang-orang tertentu. 4. Hukum waris (Erfrecht), yang mengatur tentang benda atau kekayaanseorang jika ia meninggal dunia (mengatur akibat-akibat dari hubungankeluarga terhadap harta peninggalan seseorang).