PERCOBAAN 9 PEMROGRAMAN PENOMORAN ANTAR PABX

dokumen-dokumen yang mirip
PERCOBAAN 4 PEMROGRAMAN PENOMORAN DI PABX

PERCOBAAN 4 PEMROGRAMAN OUTGOING CALL

PERCOBAAN 10 PEMROGRAMAN OUTGOING DAN INCOMING CALL

PERCOBAAN 5 SERVICE RESTRICTION CLASS

PERCOBAAN 12 PEMROGRAMAN AUTHORIZATION CODE

PERCOBAAN 2 PEMROGRAMAN PENOMORAN LOKAL

PERCOBAAN 1 INSTALASI PABX PANASONIC KX-TES824

PERCOBAAN 7 INSTALASI PABX NEAX 2000 IPS

Praktikum VIII Konfigurasi Antar VoIP Server

Percobaan 1. Pengenalan IVR (Interactive Voice Response) dan Sample Program

PERCOBAAN 1 INSTALASI IVR SERVER

P A B X (Private Automatic Branch Exchange)

PERCOBAAN 10. Integrasi VoIP server dengan Jaringan Analog

PERCOBAAN 7. KONFIGURASI ANTAR VoIP SERVER

PERCOBAAN 11 KONFIGURASI ANTAR IP-PBX

RANCANG BANGUN SISTEM BILLING TELEPON BERBASIS VoIP

PABX DAN CENTREX. Mike Yuliana PENS-ITS

Modul 2 Peralatan Telepon dan Call Setup

Adapun kelengkapan-kelengkapan yang terdapat dalam PABX antara lain:

PERCOBAAN 8 KONSEP CONTEXT DAN SETTING FITUR DENGAN ASTERISK

INSTALLASI DASAR PRIVATE AUTOMATIC BRANCH EXCHANGE (PABX)

PERCOBAAN 5 SWITCHING NETWORK DENGAN SIMULASI PC

Panduan Penggunaan IP PHONE Yealink. di Lingkungan Direktorat Sistem dan Sumber Daya Informasi Tim Komunikasi 2018 Versi 0.1

PEMASANGAN DAN PEMROGRAMAN SISTEM KOMUNIKASI TELEPON PABX TYPE KX-TDA100D DI RSG-GAS

PERCOBAAN 10 INTEGRASI VOIP SERVER DENGAN JARINGAN TELEPON ANALOG

Bacalah buku petunjuk ini dan simpan

PESAWAT TELEPON. Komponen-komponen Pesawat Telepon. Fungsi Pesawat Telepon. Basic Call Setup

PERCOBAAN 2 MULTIFREQUENCY RECEIVER UNIT. Tabel 2.1. Kombinasi 2 Frekuensi pada Metode DTMF

: POB-SJSK-013 PROSEDUR OPERASIONAL BAKU Tanggal Berlaku : 1/01/2013 Backup & Recovery Nomor Revisi : 01

PERCOBAAN 2. MULTIPLEXER/DEMULTIPLEXER UNIT dan SWITCHING NETWORK UNIT

Aplikasi SIP Based VoIP Server Untuk Integrasi Jaringan IP dan Jaringan Teleponi di PENS - ITS

PERCOBAAN 1 SUBSCRIBER MATCHING UNIT

PERCOBAAN 6 INTEGRASI LENGKAP SENTRAL DIGITAL

TELEPHONE. Oleh Kholistianingsih, S.T., M.Eng.

MODEL: C 515 PETUNJUK PENGGUNAAN. Cordless Telephone

Teknik Pengoperasian CCU (Cardphone Connection Unit)

BAB III PERANCANGAN 3.1. SPESIFIKASI SISTEM

ISDN. (Integrated Services Digital Network)

RANCANG BANGUN VISUALISASI CALL SETUP UNTUK MODUL PEMBELAJARAN SISTEM TELEPON

Konfigurasi SIP Server Lanjut

BAB II LANDASAN TEORI

PERCOBAAN 6 TELEPONI MULTIUSER

Oleh: Mike Yuliana PENS-ITS

DGSM300 DELTA GSM MODEM INTERFACE

Integrated Telephone System. No. model S88 Caller ID dan Speakerphone Sistem FSK / DTMF. Petunjuk Penggunaan BACALAH PETUNJUK INI DAN SIMPAN

Penggunaan IP-PBX Sebagai Sentral Telefon Case Study pada Project Pengolahan Produksi Gas Donggi. Aspar Anggoro Wibowo Mentor: Budhi Satriya

LAPORAN KERJA PRAKTEK ANALISA SISTEM DISTRIBUSI TELEPON PABX DI PT.METISKA FARMA

PETUNJUK PENGGUNAAN MODEL: S 95 TELEPON CALLER ID. Bacalah petunjuk ini dan simpan

Petunjuk Penggunaan. No. model S767 Caller ID dan Speakerphone Sistem FSK / DTMF. Integrated Telephone System BACALAH PETUNJUK INI DAN SIMPAN

BAB IV ANALISA SISTEM DISTRIBUSI TELEPON GEDUNG CHASE TOWER

STUDI ANALISIS PERANGKAT SISTEM SWITCHING TELEPHONE TRAINER B4620 (Untuk Laboratorium Telematika Departemen Teknik Elektro)

Petunjuk Penggunaan. No. model S752 Caller ID dan Speakerphone Sistem FSK / DTMF. Integrated Telephone System BACALAH PETUNJUK INI DAN SIMPAN

Petunjuk Penggunaan. No. model S769 Caller ID dan Speakerphone Sistem FSK / DTMF. Integrated Telephone System BACALAH PETUNJUK INI DAN SIMPAN

1. Mahasiswa dapat melakukan instalasi dan konfigurasi 3CX Phone System 2. Mahasiswa dapat mengoperasikan 3CX Phone System


BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. pan-tit ini menggunakan model proses V-Model yang dituangkan dalam diagram

TUGAS AKHIR PENGENDALI GERBANG PAGAR DENGAN PEMANGGIL HANDPHONE DAN KEYPAD. Diajukan Guna Memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Program

Arsitektur Jaringan Secara Umum Jaringan Telekomunikasi terdiri dari :

PERCOBAAN V Komunikasi Data AT COMMAND MODEM

BAB II DASAR TEORI Prinsip Dasar Telepon. Gambar 2.1 Telepon

IMAXIndo di Indonesia

KONFIGURASI CISCO ROUTER

Modul 4 Teknik Pensinyalan dan Penomoran

VoIP. Merupakan singkatan dari Voice over Internet Protocol.

Buku Panduan Operasional. Aplikasi Caller ID

Praktikum VII Konfigurasi Server VoIP IP PBX Lokal

BAB V SIGNALING. (CAS dan CCS7 Lihat Software) Oleh : Suherman, ST.

VoIP. Merupakan singkatan dari Voice over Internet Protocol.

BAB III SISTEM PEMBANGKIT PBX

BAB II LANDASAN TEORI

Sentral Telepon. Syah Alam, M.T STTI JAKARTA

PERCOBAAN 10 INTEGRASI VOIP SERVER DENGAN PSTN

SISTEM PABX ERICSSON MD110 BC9 PT PERTAMINA (PERSERO) REFINERY UNIT IV CILACAP

METODE PENELITIAN. AT command. AT command merupakan instruksiinstruksi

Petunjuk Penggunaan. No. model S778 Caller ID dan Speakerphone Sistem FSK / DTMF. Integrated Telephone System BACALAH PETUNJUK INI DAN SIMPAN

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS

Apa itu IP PBX? Cara kerjanya

PERTEMUAN 9. Sistem Penomoran dan Pentarifan

untuk pengiriman isyarat suatu analog. Isyarat-isyarat mempunyai kanal jamak. Sistem telepon kanal jamak adalah sistem digital yang menggunakan

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB 4 PERANCANGAN. melakukan implementasi infrastruktur jaringan yang baru dan sistem IP Telephony

BAB 4. PERANCANGAN. Gambar 4.1 Desain Alur Registrasi Sumber: (Hasil olah data Penulis)

Komputer, terminal, telephone, dsb

Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Untuk membantu dalam proses pemantauan jaringan switch backbone

PERANCANGAN DAN REALISASI BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI

PENGANTAR TELEKOMUNIKASI

Trafik fik P t ar 1 Oleh: Mike Y l u iana liana PENS-ITS

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Telekomunikasi mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia. Selain

ANALISA RANGKAIAN CENTRAL OFFICE LINE INTERFACE PADA PRIVATE AUTOMATIC BRANCH EXCHANGE PANASONIC KX-T206SBX

ISDN. (Integrated Service Digital Network) -Overview - Prima K - PENS Jaringan Teleponi 1 1

Modul 5 Cisco Router

MODUL 2 Input Data dalam Arduino

Program Studi S1 - Teknik Telekomunikasi Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Telkom BANDUNG, 2012

Telepon secara konvensional adalah untuk komunikasi suara, namun demikian telah banyak telepon yang difungsikan untuk komunikasi data.

PROTEKSI JALUR TELEPHONE OLEH MODUL DST-52 DAN DF-88 DENGAN TAMPILAN M1632 LCD

VoIP (Voice Over Internet Protocol)

Transkripsi:

PERCOBAAN 9 PEMROGRAMAN PENOMORAN ANTAR PABX 9.1. Tujuan : Setelah melaksanakan praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu : Mendisain jaringan antar PABX Memprogram penomoran antar PABX 9.2. Peralatan (untuk masing-masing PABX) : 1 buah PABX NEAX 2000 IPS 2 Pesawat Telepon DTerm (1 digunakan untuk Attendant Console) 2 Pesawat Telepon Analog 4 Roxette RJ 11 Indoor Telephone Cable (AWG 26) Kabel Telepon Modular 9.3. Teori : Pada instansi yang cukup besar, keberadaan sebuah PABX dengan jumlah jalur terbatas tidak akan mencukupi. Untuk itu diperlukan beberapa PABX yang akan melayani beberapa tempat. Antar PABX-PABX tersebut perlu ada integrasi, sehingga user di masing-masing PABX bisa saling berkomunikasi. Contoh integrasi antar PABX ditunjukkan pada gambar 9.1. Dari integrasi antar PABX ini yang perlu dipahami adalah masalah rute ke atau dari masing-masing PABX tersebut. Rute ini diperlukan untuk mengarahkan komunikasi dari sebuah PABX menuju PABX lain atau menuju jalur PSTN luar jika diperlukan. Gambar 9.1 menunjukkan hubungan 3 buah PABX, yaitu PABX A, B dan C. Masing-masing PABX terhubung ke 2 PABX yang lain. Sebagai contoh, PABX A terhubung dengan PABX B melalui rute A B, dan terhubung ke PABX C melalui rute A C. Selain itu PABX A juga terhubung ke jalur PSTN. Petunjuk Praktikum 110

Jalur ke PSTN Rute B A Rute B C Jalur ke PSTN Rute A B PABX B Rute C B Jalur ke PSTN Rute A C Rute C A PABX A PABX C Gambar 9.1. Integrasi 3 PABX Untuk merealisasikan jaringan terintegrasi antar PABX seperti di atas, perlu disediakan jalur yang menghubungkan antara MDF dari PABX satu ke MDF dari PABX yang lain. Pada masing-masing PABX harus disediakan COT (Central Office Trunk) card. Jalur COT adalah jalur yang menghubungkan sisi PABX dengan sisi di luar sistim PABX tersebut (untuk outgoing call). Yang dimaksud sisi luar di sini adalah jalur PSTN atau ke PABX yang lain. Jadi, jika sebuah PABX akan dihubungkan dengan dunia luar, maka jalur COT ini harus diaktifkan. Koneksi perkabelan dari MDF di masing-masing PABX seperti ditunjukkan pada gambar 9.2. Jika PABX ini dihubungkan dengan PSTN maka jalur COT harus dihubungkan dengan jalur PSTN, sedangkan jika PABX ini akan dihubungkan dengan PABX lain, maka jalur COT di PABX pemanggil harus dihubungkan dengan jalur analog di PABX tujuan. Perhatikan gambar 9.2, PABX A sebagai pemanggil mempunyai jalur COT di MDF A dengan nomor LEN 008 s/d 015. Jika direncanakan dibuat 2 buah jalur ke PABX B maka diambil 2 LEN yang kosong (misalkan LEN 009 dan 010) untuk COT Petunjuk Praktikum 111

A, sedangkan di sisi PABX B disiapkan 2 jalur analog kosong untuk koneksi dari COT A (jalur analog ini akan dinomori, tetapi tidak digunakan sebagai nomor ekstensi). Hal yang sama dilakukan di PABX B dan di PABX C. Untuk jalur COT yang akan dihubungkan ke jalur PSTN, berikan LEN yang kosong tersendiri (jumlah jalurnya terserah). Perhatikan, posisi jalur yang terkoneksi harus sesuai dengan yang diprogram. LEN COT LEN analog MDF B MDF A MDF C Keterangan : = jalur dari MDF A = jalur dari MDF B = jalur dari MDF C Gambar 9.2. Perkabelan antar MDF di PABX 9.3.1. Langkah-langkah Pemrograman Pemrograman di bawah ini dilakukan di masing-masing PABX. Sebelum memprogram, rencanakan dulu penomoran lokal ekstensi di masing-masing PABX. Selanjutnya, tentukan berapa jalur yang disediakan untuk menuju ke PSTN / PABX yang lain. Petunjuk Praktikum 112

Langkah-langkah pemrograman di setiap PABX adalah : Setelah memunculkan Command Code pada layar Console, lakukan pemrograman sebagai berikut : 1. Memberikan penomoran LC untuk ekstensi analog dan digital Cara melakukannya sama seperti praktikum di modul sebelumnya. CM 10 > LEN : XXXXXXXX untuk ekstensi analog CM 10 > LEN : FXXXXXXX untuk ekstensi digital 2. Menentukan panjang digit penomoran Cara melakukannya sama seperti praktikum di modul sebelumnya. CM 200 > Digit awal : 80X 3. Mengaktifkan tombol-tombol pada Console, untuk menjadi terminal digital Cara melakukannya sama seperti praktikum di modul sebelumnya. CM 9000 > No.ekstensi, jumlah tombol : No ekstensi pengaktifan display CM 93 > No.ekstensi : No ekstensi pengaktifan tombol speaker 4. Memberikan penomoran jalur COT (Central Office Trunk) Sebelum melakukan pemrograman ini, pastikan jalur pengkabelan MDF antar masing-masing PABX sudah terhubung. CM 10 > LEN : DXXXXXXX Contoh : Untuk menomori LEN ke 009 dengan nomor trunk 004, ketik perintah CM 10 > 009 : D004 Petunjuk Praktikum 113

5. Melakukan pengelompokan rute untuk masing-masing Trunk Masing-masing jalur yang disediakan akan dikelompokkan dalam rute-rute tertentu sesuai dengan rute tujuan. Sebagai contoh, PABX A akan mempunyai outgoing call dengan tujuan PSTN (1jalur), PABX B (2 jalur), PABX C (2 jalur). CM 3000 > nomor trunk : XX dimana : XX nomor rute Contoh : Untuk kasus PABX A diberikan Command sebagai berikut : CM 3000 > 000 : 00 rute 00 (disiapkan ke PSTN) CM 3000 > 001 : 01 rute 01 (disiapkan ke PABX B) CM 3000 > 002 : 01 CM 3000 > 003 : 02 rute 02 (disiapkan ke PABX C) CM 3000 > 004 : 02 6. Mengarahkan rute ke masing-masing tujuan CM 3500 > nomor rute trunk : XX dimana : XX = 00 untuk diarahkan sebagai CO Trunk (ke PSTN) = 04 untuk diarahkan sebagai Tie Trunk (ke PABX lain) Contoh : Untuk kasus PABX A diberikan Command sebagai berikut : CM 3500 > 00 : 00 rute 00 diarahkan sebagai CO Trunk CM 3500 > 01 : 04 rute 01 dan 02 diarahkan sebagai Tie Trunk CM 3500 > 02 : 04 Petunjuk Praktikum 114

7. Membuat kode awal untuk Outgoing Call Kode awal ini digunakan sebagai tanda bahwa user akan mengakses keluar dari sistim PABX-nya. Disebut juga sebagai kode Akses. CM 200 > kode akses : 1XX dimana : kode akses sembarang angka pada keypad, termasuk * dan #. Panjang digit juga tidak terbatas. XX nomor rute trunk 9.4. Prosedur Percobaan 1. Bagilah praktikan menjadi 3 grup. Masing-masing grup akan memprogram dan mengkoneksikan satu PABX. Setelah seluruh PABX diprogram, dilakukan pengujian panggilan. 2. Untuk masing-masing PABX, direncanakan ada 4 buah pesawat ekstensi (2 buah ekstensi digital dan 2 buah ekstensi analog). Masing-masing PABX memiliki 1 rute ke PSTN, 2 rute ke PABX kesatu dan 2 rute ke PABX kedua. 3. Lakukan pemrograman untuk penomoran lokal (nomor-nomor ini bisa diubah sesuai disain yang diinginkan) CM 10 > 000 : F100 Penomoran jalur untuk ekstensi digital CM 10 > 001 : F101 CM 10 > 016 : 102 Penomoran jalur untuk ekstensi analog CM 10 > 017 : 103 CM 10 > 018 : 104 Penomoran jalur untuk terhubung ke COT PABX lain 1 CM 10 > 019 : 105 CM 10 > 020 : 106 Penomoran jalur untuk terhubung ke COT PABX lain 2 CM 10 > 021 : 107 4. Lakukan pemrograman untuk menentukan panjang digit CM 200 > 1 : 803 5. Lakukan pemrograman untuk mengaktifkan tombol Console sebagai ekstensi digital CM 9000 > 100,16:100 CM 9000 > 101,16:101 Petunjuk Praktikum 115

6. Lakukan pemrograman untuk mengaktifkan tombol Speaker CM 93 > 100:100 CM 93 > 101:101 7. Ujilah koneksi dari pesawat-pesawat ekstensi terhadap PABX-nya dengan melakukan 2 panggilan ke 2 tujuan yang berbeda secara bersama-sama. Lakukan juga untuk mendapatkan kondisi sibuk dan kondisi tidak tersedianya nomor yang dipanggil. 8. Lakukan pemrograman untuk penomoran jalur COT CM 10 > 008:D000 CM 10 > 009:D001 CM 10 > 010:D002 CM 10 > 011:D003 CM 10 > 012:D004 9. Lakukan pemrograman untuk pengelompokan rute CM 3000 > 000:00 jalur 000 untuk rute 00 CM 3000 > 001:01 CM 3000 > 002:01 jalur 001 dan 002 untuk rute 01 CM 3000 > 003:02 jalur 003 dan 004 untuk rute 02 CM 3000 > 004:02 10. Lakukan pemrograman untuk pengarahan rute CM 3500 > 00:00 CM 3500 > 01:04 CM 3500 > 02:04 rute 00 diarahkan sbg CO Trunk ke PSTN rute 01 dan 02 diarahkan sbg Tie Trunk ke PABX lain 11. Lakukan pemrograman untuk membuat kode akses ke tujuan CM 200 > 9:100 Tekan 9 + nomor tujuan sbg outgoing call melalui CO Trunk CM 200 > 7:101 Tekan 7 + nomor tujuan sbg outgoing call melalui Tie Trunk ke 1 (rute 01) CM 200 > 6:102 Tekan 6 + nomor tujuan sbg outgoing call melalui Tie Trunk ke 2 (rute 02) 12. Ujilah koneksi antara 2 PABX dengan cara melakukan panggilan dari pemanggil di PABX ke satu ke nomor tujuan di PABX yang lain. Kemudian lakukan 3 panggilan Petunjuk Praktikum 116

bersama-sama ke nomor tujuan yang berbeda. Apa yang terjadi dengan pemanggil ke 3? Mengapa bisa demikian. Jelaskan. 13. Ujilah koneksi antara 3 PABX dengan cara melakukan panggilan secara bergantian. Setiap PABX melakukan panggilan ke 2 PABX yang lain secara bersama-sama. Amati apa yang terjadi? Kemudian, lakukan panggilan sebagai berikut : saat 2 pemanggil dari PABX kesatu sedang melakukan panggilan ke PABX kedua, lakukan panggilan dari pesawat PABX kedua ke pesawat tujuan di PABX ke satu. Apakah panggilan ini bisa sukses dilaksanakan. Mengapa bisa terjadi demikian? 10.5. Pertanyaan & Tugas 1. Jelaskan proses pengkabelan untuk menghubungkan 2 PABX 2.Lakukan instalasi dan pemrograman PABX, dengan perencanaan sebagai berikut: Untuk PABX A : Lt 1 1 digital : 1000 2 analog : 1001; 1002 Lt2 1 digital : 2000 2 analog : 2001; 2002 Lt3 1 digital : 3000 2 analog : 3001 ; 3002 trunk yang dipakai menuju PT. Telkom hanya 2 trunk, dan yang menuju PABX lain 1 buah Untuk PABX B : Lt 1. 1 digital : 100 2 analog : 101, 102 Lt.2 1 digital : 200 2 analog : 201, 202 Lt.3 1 digital : 300 2 analog : 301, 302 trunk yang dipakai ke PT. Telkom 1 buah, yang menuju PABX lain 1 buah Koneksikan ke-dua PABX di atas dengan pemrograman antar PABX. Petunjuk Praktikum 117