Kesiapan LPEI dalam Penugasan Khusus

dokumen-dokumen yang mirip
Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia

Pembayaran Transaksi Ekspor Impor. Pertemuan ke-13

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Proses dan Prosedur Impor. Pertemuan ke-9

CARA PEMBAYARAN JUAL BELI: JENIS, KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DR. YETTY KOMALASARI DEWI KULIAH 5

KETERKAITAN PERBANKAN DALAM TRANSAKSI WAREHOUSE RECEIPT 1. Oleh: Dr. Ramlan Ginting, S.H., LL.M 2

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

TATA CARA PEMBAYARAN TRANSAKSI DALAM KONTRAK

Surat Kredit (LC) dan SKBDN

Berbagai Dokumen Penting Ekspor. Pertemuan ke-6

I. PENDAHULUAN. internasional negara-negara di dunia, khususnya yang didasarkan pada kepentingankepentingan

Module Asuransi Kredit

BAB I PENDAHULUAN. tahun terakhir merupakan refleksi minat masyarakat terhadap ekonomi syariah

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 3 TAHUN TENTANG PEMBENTUKAN PERSEROAN TERBATAS PENJAMINAN KREDIT DAERAH BANTEN

-2- teknologi, melindungi neraca pembayaran dan/atau neraca perdagangan, meningkatkan produksi, dan memperluas kesempatan kerja. Di lain sisi, pemilih

PRODUK & LAYANAN VALUTA ASING. Surabaya, 15 Desember 2016

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2017 TENTANG CARA PEMBAYARAN BARANG DAN CARA PENYERAHAN BARANG DALAM KEGIATAN EKSPOR DAN IMPOR

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

menyebabkan meningkatnya risiko gagal bayar (default risk). Hal ini berpotensi mengganggu kestabilan sistem keuangan dan ekonomi makro seperti yang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Pengenalan transaksi ekspor impor

Islamic Trade Finance & Percepatan Pembangunan Bangsa; Peluang dan Tantangan

Risiko Kredit Tabel 1 : Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah - Bank Secara Individu

Risiko Kredit Tabel 1 : Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah - Bank Secara Individu

Materi Minggu 7. Prosedur Dasar Pembayaran Internasional

MANAJEMEN KEUANGAN DAN SISTEM AKUNTANSI INTERNASIONAL

PRODUK DAN MANAJEMEN BANK UMUM

LAPORAN KEUANGAN BANK UMUM

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai pada setiap Negara, salah satunya Indonesia. Pada umumnya Usaha

(dalam jutaan rupiah) 30-Jun-17 Kategori Portofolio

Syariah Mandiri (BSM) menerapkan produk L/C ini untuk melayani transaksi. hanya terietak pada saat pembayaran weselnya saja. Untuk sight L/C, bank

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada tahun jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak dimana 99,7% atau

Season 1 : Export-Import Payment System: L/C

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21/PBI/2014 UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DAN SURAT EDARAN NO.16/24/DKEM

PROFIL SINGKAT INDONESIA EXIMBANK 2 PERTIMBANGAN INVESTASI STRUKTUR PENAWARAN DAN INDIKASI JADWAL 2 KEGIATAN USAHA 14 3 KINERJA KEUANGAN 20

BAB III SISTEM PEMBAYARAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENJAMINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Transaksi NPI terdiri dari transaksi berjalan, transaksi modal dan finansial.

Perbankan Komersial dan UKM

BAB III BERBAGAI KEBIJAKAN UMKM

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu pakar ekonomi dari Inggris, David Ricardo, menyatakan dalam teori

BAB II TINJAUAN UMUM RED CLAUSE L/C DALAM TRANSAKSI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

2 Mengingat d. bahwa penerapan prinsip kehati-hatian tersebut sejalan dengan upaya untuk mendorong pendalaman pasar keuangan domestik; e. bahwa penera

PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN EKONOMI SEPTEMBER 2015

RISIKO KREDIT 1. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah - Bank secara Individu

2013, No d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. dari pelepasan kredit dan pendapatan berbasis biaya (fee based income). Lambatnya

Tujuan makalah ini dibuat adalah untuk: ANJAK PIUTANG

I. PENDAHULUAN. Jumlah (Unit) Perkembangan Skala Usaha. Tahun 2009*) 5 Usaha Besar (UB) ,43

PERATURAN DAERAH PROVINSI PAPUA

TENTANG KREDIT PENGEMBANGAN ENERGI NABATI DAN REVITALISASI PERKEBUNAN MENTERI KEUANGAN

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA TENTANG PENYEDIAAN DANA OLEH BANK YANG DIJAMIN BANK LAIN GUBERNUR BANK INDONESIA,

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan Badan Usaha Milik Negara ( BUMN) memiliki peran, dan fungsi

a. nama dan/atau logo Bank; dan b. pernyataan bahwa Bank terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Pasal 6

BAB V PENUTUP. Berdasarkan uraian pada Bab-bab sebelumnya dapat diambil

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Pengungkapan Informasi Kuantitatif Eksposur Risiko PT. Bank BNI Syariah periode 30 Juni 2017

MAKALAH. IKI-83408T: Proteksi dan Teknik Keamanan Sistem Informasi. PT. Asuransi XYZ. Kelompok 107

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

2016, No Negara/Pemerintah Daerah beserta perubahannya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dalam perkembangannya perlu dilakukan penyesuaian d

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perdagangan internasional kegiatan beli disebut impor dan

Pengungkapan Permodalan dan Informasi Kuantitatif Eksposur Risiko PT. PRIMA MASTER BANK (Sesuai SE OJK Nomor 43/SEOJK.03/2016)

PT Bank KEB Hana Indonesia Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah - Bank Secara Individu

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 139 /PMK.06/2009 TENTANG

Transkripsi:

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia Kesiapan LPEI dalam Penugasan Khusus 27 Oktober 2015 1

Lembaga keuangan sovereign yang didirikan untuk Mendorong Ekspor Nasional Sejarah Berdirinya LPEI (Indonesia Eximbank) Jaringan Kantor Wilayah 1999 Cikal bakal LPEI Bank Ekspor Indonesia ( BEI ) berdiri Medan Makassar 2000 Pemerintah Republik Indonesia berkomitmen untuk mendirikan LPEI dengan IMF di dalam Letter of Intent 2009 LPEI resmi beroperasi 1 September 2009 untuk mendorong ekspor nasional Aset dan kewajiban serta hak dan kewajiban hukum BEI dialihkan kepada LPEI Jakarta (HQ) Surakarta Surabaya Lex specialist dan memiliki status Quasy Sovereign Tidak tunduk pada peraturan perundangundangan perbankan, BUMN, lembaga pembiayaan atau perusahaan pembiayaan dan usaha perasuransian Beroperasi secara independen dibawah UU No.2/2009 Kepemilikan Pemerintah Sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah. Hanya dapat dibubarkan oleh Undang- Undang Rating Setara dengan rating negara Baa3 (Stable) Moody s: Oktober, 2014 BBB- (Stable) Fitch: Maret, 2015 BB+ (Positive) S&P: Mei 2015 idaaa Pefindo: Februari, 2015 2

Aktivitas Utama dan National Interest Account Pembiayaan Indonesia Eximbank memberikan pembiayaan ( modal kerja dan / atau pembiayaan investasi ) untuk perusahaan dan perorangan, berdomisili di dalam atau di luar wilayah Negara Republik Indonesia (termasuk buyers credit, overseas investment financing). Pembiayaan dapat dilakukan berdasarkan Prinsip Syariah. Penjaminan Penjaminan bagi eksportir atas pembayaran yang diterima dari pembeli barang dan/atau jasa di luar negeri; Penjaminan bagi importir barang dan jasa di luar negeri atas pembayaran yang telah diberikan atau akan diberikan kepada Eksportir untuk pembiayaan kontrak ekspor atas penjualan barang dan/jasa yang dilakukan oleh suatu perusahaan Indonesia; Penjaminan bagi Bank yang menjadi mitra penyediaan pembiayaan transaksi Ekspor yang telah diberikan kepada Eksportir; dan/atau; Penjaminan dalam rangka tender terkait dengan pelaksanaan proyek yang seluruhnya atau sebagian merupakan kegiatan yang menunjang ekspor; Penjaminan dapat dilakukan berdasarkan Prinsip Syariah. Asuransi Asuransi atas risiko kegagalan ekspor; Asuransi atas kegagalan bayar; Asuransi atas investasiyang dilakukan oleh perusahaan Indonesia di luar negeri; dan/atau Asuransi atas risiko politik di suatu negara yang menjadi tujuan eskpor;. Jasa Konsultasi Indonesia Eximbank melakukan konseling dan konsultasi kepada Bank, Lembaga Keuangan, Eksportir, produsen barang ekspor, khususnya Usaha Mikro, Kecil, skala Menengah dan Koperasi. National Interest Account Indonesia Eximbank dapat melaksanakan penugasan khusus dari Pemerintah untuk Mendukung Program Ekspor Nasional atas biaya oleh Pemerintah. 3

Agenda Latar Belakang Pelaksanaan Penugasan Khusus Prioritas Target Penyaluran Penugasan Khusus Discounting Facility 4

Latar Belakang Perekonomian indonesia dalam beberapa bulan terakhir mengalami tekanan, terutama yang berasal dari faktor eksternal. Tekanan eksternal tersebut antara lain melemahnya perekonomian dunia, turunnya harga komoditi, dan ketidakpastian pasar keuangan internasional. Pelemahan ini berdampak negatif pada kinerja ekspor Indonesia, yang didominasi oleh sektor sumber daya alam dan sektor padat karya. Dalam rangka menekan dampak pelemahan ekonomi, LPEI ditugaskan oleh Pemerintah untuk mendukung Kebijakan Peningkatan Ketahanan Usaha dan Kesempatan Kerja yang bertujuan : 1. Mendorong Ekspor 2. Menjaga kelangsungan usaha 3. Menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 5

Skema Pelaksanaan Penugasan Khusus Pelaksanaan Penugasan Khusus kepada LPEI dapat dilaksanakan melalui 2 skema: 1. Dukungan diversifikasi pasar non tradisional Dukungan ini diberikan kepada eksportir (korporasi maupun UKM) yang mengalami penurunan volume ekspor sebagai akibat dari berkurangnya permintaan pembeli luar negeri. Melalui Penugasan Khusus ini diharapkan eksportir dapat melakukan ekspansi ke pasar non tradisional agar dapat mempertahankan volume ekspor tanpa harus melakukan pengurangan tenaga kerja. 2. Dukungan modal kerja kompetitif dan meningkatkan likuiditas pelaku usaha Dukungan ini diberikan kepada sektor industri berbasis ekspor yang berpotensi mengalami penurunan produksi/supply akibat kenaikan harga bahan baku dan kenaikan suku bunga pinjaman. Melalui Penugasan Khusus ini diharapkan pengusaha/eksportir mendapatkan modal kerja dengan tingkat bunga yang kompetitif sehingga dapat menekan biaya produksi tanpa harus melakukan PHK. Guna meningkatkan likuiditas pelaku usaha, maka LPEI dapat memberikan discounting facility (account receivable financing). 6

PELAKSANAAN PENUGASAN KHUSUS 7

Payung Hukum Penugasan Khusus kepada LPEI Undang- Undang PMK Undang-Undang No. 2 Tahun 2009 tentang LPEI Pasal 18 1) LPEI dapat melaksanakan penugasan khusus dari Pemerintah untuk mendukung program Ekspor nasional atas biaya Pemerintah. 2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hal-hal yang terkait dengan penugasan khusus pelaksanaan program Ekspor nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Peraturan Menteri Keuangan tentang Penugasan Khusus Memuat tata cara pengajuan usul program Ekspor nasional dari kementerian dan lembaga, sumber dana, denda, provisi penjaminan, premi asuransi, penggantian kerugian (coverage), pembentukan Komite Penugasan Khusus Ekspor dan pembayaran. KMK Keputusan Menteri Keuangan No.988/KMK.08/2015 tentang pembentukan Komite Penugasan Khusus Ekspor Keputusan Menteri Keuangan tentang Program Ekspor Peraturan Internal LPEI Peraturan Dewan Direktur tentang Kebijakan atas Pelaksanaan Penugasan Khusus Peraturan Direktur Eksekutif tentang Manual Produk Penugasan Khusus. Peraturan Direktur Eksekutif tentang Komite Pembiayaan Penugasan Khusus 8

Tata Cara Pengusulan Program & Transaksi/Proyek Tugas Komite PKE: Menetapkan Program Ekspor Yang Dianggap Perlu Pemerintah Tugas LPEI: Menetapkan transaksi/proyek PKE yang Secara Komersil Sulit Dilaksanakan Penilaian aspek ekonomi Penilaian aspek Finansial 1 2 3 4 K/L mengajukan Usulan Program Ekspor Komite menyetujui/ menolak program ekspor Pelaku Ekspor mengajukan transaksi /Proyek 5 6 LPEI menyetujui Transaksi/ Proyek SOSIALISASI/PEMBINAAN 9

Kriteria Penugasan Khusus kepada LPEI PMK 134/2015 tentang Penugasan Khusus Kepada LPEI Penugasan Khusus adalah penugasan yang diberikan Pemerintah kepada LPEI untuk menyediakan Pembiayaan Ekspor kepada: Transaksi atau proyek yang secara komersial sulit dilaksanakan Dianggap perlu oleh Pemerintah untuk menunjang kebijakan atau Program Ekspor. Transaksi/Proyek yang Secara Komersial Sulit Dilaksanakan Untuk mendapat Pembiayaan Ekspor Penugasan Khusus, Transaksi atau Proyek yang diajukan oleh Pelaku Ekspor kepada LPEI sekurang-kurangnya memenuhi kriteria: Sesuai dengan sektor ekonomi, komoditas, negara tujuan ekspor, kriteria pelaku ekspor, dan/atau bentuk fasilitas pembiayaan ekspor sebagaimana ditetapkan dalam KMK tentang Penugasan Khusus; Memiliki risiko pembiayaan yang tidak kompetitif bagi LPEI (sisi komersial); dan/atau Tidak mudah menemukan perusahaan yang menyediakan jenis penjaminan kembali/reasuransi untuk Transaksi/Proyek tersebut. Program Ekspor yang Dianggap Perlu oleh Pemerintah Program Ekspor sekurang-kurangnya memenuhi kriteria: Meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk Indonesia. Mendukung pertumbuhan industri dalam negeri. Memiliki potensi peningkatan dan pengembangan ekspor jangka panjang. 10

Instrumen dan Produk Penugasan Khusus Penugasan Khusus dapat diberikan dalam bentuk: Pembiayaan (Financing) Penjaminan (Guarantee) Asuransi (Insurance) Produk Penugasan Khusus, antara lain: Pembiayaan Ekspor, Discounting facility (Account Receivable Financing), Penjaminan bagi pelaku ekspor, atas pembayaran yang akan diterima dari pembeli barang dan/atau jasa di luar negeri, Asuransi gagal bayar. 11

PRIORITAS TARGET PENYALURAN PENUGASAN KHUSUS 12

Pelaksanaan Penugasan Khusus Tujuan Pembiayaan 1) Penugasan Khusus untuk penetrasi dan pengembangan ekspor ke non-traditional market. 2) Penugasan Khusus untuk ketahanan usaha dan pencegahan PHK. Prioritas Pembiayaan 1) Industri yang terkena dampak perlambatan ekonomi. 2) Segmentasi UKM dan korporasi. 3) Industri padat karya. 4) Memerlukan dukungan likuiditas. 5) Telah memiliki pengalaman usaha. 6) Memiliki underlying transaksi. 7) Diutamakan memiliki pengalaman dengan perbankan/lembaga keuangan. Skema Pembiayaan 1) Pembiayaan Modal Kerja Ekspor. 2) Discounting facility (Account Receivable Financing). 3) Penjaminan bagi pelaku ekspor atas pembayaran yang akan diterima dari pembeli barang dan/atau jasa di luar negeri. 4) Asuransi gagal bayar. Target yang Diharapkan 1) Produk Indonesia masuk non-traditional market (ex : Bangladesh, Myanmar, Timor Leste). 2) Sustainability usaha selama terjadinya kondisi perlambatan ekonomi. 3) Meminimalisir terjadinya PHK. 13

Prioritas Target Penyaluran Penugasan Khusus 1. Industri/komoditi yang terkena dampak krisis yang antara lain disebabkan oleh: Harga komoditas / produk ekspor turun, dan/atau Permintaan ekspor turun 2. Segmentasi Segmentasi UKM dan korporasi (termasuk anak perusahaan) Segmentasi berdasarkan wilayah Segmentasi berdasarkan sektor usaha 3. Karakteristik Padat karya Memerlukan dukungan likuiditas Telah memiliki pengalaman usaha Memiliki underlying transaksi Diutamakan memiliki pengalaman dengan perbankan / lembaga keuangan 14

Prioritas Komoditas Penugasan Khusus Furnitur/ Woodworking/ Handycraft Hasil pertanian dan perkebunan Kopi Kakao Karet Sawit lainnya Tekstil dan Produk Tekstil (termasuk garmen) Perikanan dan kelautan Alas kaki Industri pendukung lainnya 15

Potensi Wilayah Penyaluran Fasilitas TK : 2,500 TK : 200 TK : 100 TK : 1,000 1. Jumlah Perusahaan : +/- 30 Perusahaan. 2. Size Loan Perusahaan : IDR 1 50 Milyar dengan total kebutuhan pembiayaan sebesar IDR 695 M. 3. Komoditi : Furniture, woodworking, handycraft, tekstil & produk tekstil, perikanan & kelautan, alas kaki, hasil pertanian dan perkebunan. 4. Supporting Perbankan : BNI, BRI, Mandiri, Niaga, Danamon, Muamalat, UOB, Bank Papua, Modal Ventura, Leasing, dll. 5. Total Tenaga kerja (TK) : 26,688 orang TK : 1,330 TK : 1,000 TK : 570 TK : 50 TK : 5,520 TK : 3,680 TK : 1,600 TK : 2,470 TK : 700 TK : 5,468 16

DISCOUNTING FACILITY 17

Discounting facility DEFINISI 1. LPEI berperan dalam memberikan Discounting Facility (Account Receivable Financing) untuk transaksi Pembelian Tagihan dalam rangka ekspor. 2. Transaksi yang dapat diberikan discounting facility adalah tagihan yang dimiliki eksportir (langsung atau penunjang ekspor) atas piutang (account receivable) kepada buyer baik atas dasar LC/SKBDN maupun non-lc/non-skbdn. MANFAAT BAGI EKSPORTIR 1. Pemanfaatan Discounting Facility (Account Receivable Financing) melalui LPEI dapat meningkatkan likuiditas pelaku usaha. 2. Secara tidak langsung eksportir dapat memperluas jangkauan usaha dalam melakukan ekspor ke seluruh dunia melalui jaringan internasional yang dimiliki oleh LPEI 3. Diharapkan discounting facility yang diberikan oleh LPEI dapat memberikan peluang bagi eksportir untuk memasuki pasar baru. TARGET PASAR 1. Seluruh eksportir (langsung atau penunjang ekspor) yang memiliki tagihan kepada buyer. 2. Perusahaan dengan segmentasi UKM & Korporasi. 18

Terima Kasih 19

Proses Pelaksanaan Penugasan Khusus di LPEI (Fasilitas Pembiayaan) 20

Proses Pelaksanaan Penugasan Khusus di LPEI (Fasilitas Penjaminan dan Asuransi) 21

SKEMA DISCOUNTING FACILITY 22

Lampiran Detail Transaksi Pembelian Tagihan Atas Dasar Non-LC/SKBDN 1. Open Account (Invoice) Financing 2. Documentary Collection Financing - Documentary Collection against Payment (D/P) - Documentary Collection against Acceptance (D/A) Pembelian Tagihan Atas Dasar Documentary Credit (LC/SKBDN) 1. Bills Purchase/Financing LC/SKBDN Sight 2. Bills Purchase/Financing LC/SKBDN Usance 23

Open Account (Invoice) Financing Export (6) Payment Instruction (4) Financing Request (5) Financing Import Country Indonesia Buyer s Bank (7) Payment LPEI Buyer (1) Sales Contract/PO (2) Shipment/ Delivery of Goods (3) Invoice & Documents Seller 24

Documentary Collection Financing Export (5) Payment/Acceptance (6) Documents (3) Documents/ Financing Request (5) Financing Import Country Indonesia Buyer s Bank (7) Payment/Acceptance (4) Documents LPEI Applicant/ Importer/ Buyer (1) Sales Contract/PO (2) Shipment/ Delivery of Goods Beneficiary/ Exporter/ Seller 25

Documentary Credit Bills Purchase Sight LC (2) Apply Issue LC (LC Opening Notice) (9) Notification (10) Payment at Sight (4) Advise LC (6) Documents Presentation (7) Bills Purchase/Financing Other Country Indonesia Issuing Bank (3) Issue LC (8) Docs Presentation (11) Payment at Sight Advising/ Negotiating/ Collecting Bank Applicant/ Importer/ Buyer (1) Sales Contract/PO (5) Shipment/ Delivery of Goods Beneficiary/ Exporter/ Seller 26

Documentary Credit Bills Purchase Usance LC (2) Apply Issue LC (LC Opening Notice) (9) Notification (10) Acceptance (12) Payment at maturity (4) Advise LC (6) Documents Presentation (7) Bills Purchase/Financing Other Country Indonesia Issuing Bank (3) Issue LC (8) Documents Presentation (11) Acceptance (13) Payment at maturity Advising/ Negotiating/ Collecting Bank Applicant/ Importer/ Buyer (1) Sales Contract/PO (5) Shipment/ Delivery of Goods Beneficiary/ Exporter/ Seller 27

DOCUMENTARY CREDIT Sight LC 1. Sales Contract/ Purchase Order between Applicant & Beneficiary 2. Applicant apply LC 3. Issuing Bank Issue LC to Advising Bank 4. Advising Bank advise LC to Beneficiary 5. Shipment/ Delivery of Goods from Beneficiary to Applicant 6. Documents Presentation from Beneficiary to Negotiating Bank 7. Bills Purchase/ Financing 8. Documents Presentation (S/R) from Negotiating Bank to Issuing Bank 9. Notification from Issuing Bank to Applicant to prepare payment 10. Payment from Applicant to Issuing Bank 11. Payment from Issuing Bank to Negotiating Bank Usance LC 1. Sales Contract/ Purchase Order between Applicant & Beneficiary 2. Applicant apply LC 3. Issuing Bank Issue LC to Advising Bank 4. Advising Bank advise LC to Beneficiary 5. Shipment/ Delivery of Goods from Beneficiary to Applicant 6. Documents Presentation from Beneficiary to Negotiating Bank 7. Bills Purchase/ Financing 8. Documents Presentation (S/R) from Negotiating Bank to Issuing Bank 9. Notification from Issuing Bank to Applicant to prepare acceptance 10. Acceptance from Applicant to Issuing Bank to pay at maturity 11. Acceptance from Issuing Bank to Negotiating Bank to pay at maturity 12. Payment from Applicant to Issuing Bank at maturity 13. Payment from Issuing Bank to Negotiating Bank at maturity 28