PENGARUH CURRENT RATIO

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS PENGARUH RASIO PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM DI PERUSAHAAN MANUFAKTUR

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan operasional sehari-hari maupun untuk membiayai investasi jangka

PENGARUH KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN

Prosiding Akuntansi ISSN:

ANALISIS KEBANGKRUTAN DENGAN MODEL ALTMAN Z-SCORE PADA PERUSAHAAN SUBSEKTOR LOGAM & SEJENISNYA DI BEI PERIODE 2014

PENGARUH PERTUMBUHAN LABA, DIVIDEND PAYOUT RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO DAN RETURN ON EQUITY TERHADAP PRICE EARNING RATIO

Yuli Antina Aryani Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Sriwijaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang menerbitkan saham. Kismono (2001 : 416) menyatakan:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Horne dan Wachowicz (1997:135), rasio likuiditas membandingkan

PENGARUH RETURN ON ASSETS

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Harga saham merupakan salah satu indikator keberhasilan pengelolaan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan property dan real estate semakin marak diberbagai penjuru

BAB 1 PENDAHULUAN. Sesuai dengan teori Bird in the hand theory menyatakan bahwa investor lebih

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KINERJA KEUANGAN (PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI YANG GO PUBLIC DI BEI) ADIN FEBRIANO

PENGARUH RASIO KEUANGAN TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN AGROINDUSTRI YANG TERDAFTAR PADA INDEKS LQ45 DI BURSA EFEK INDONESIA ABSTRAK

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN DAN DAMPAKNYA TERHADAP HARGA SAHAM

DI BEI. Tugas dan. Diajukan Untuk. Memenuhi. Oleh:

ANALISIS PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP HARGA SAHAM (Studi Kasus Pada PT. Indosat Tbk Periode )

PENGARUH ROA, EPS, PER DAN DER TERHADAP PENETAPAN HARGA SAHAM SETELAH IPO (Studi Empiris Di Bursa Efek Indonesia)

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SITTI MURNIATI

Firman, Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Makanan dan...

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan berlomba-lomba untuk dapat menghasilkan keuntungan atau laba yang

ANALISIS PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL DAN RESIKO SISTEMATIK TERHADAP HARGA SAHAM PADA INDUSTRI PROPERTI DAN REAL ESTATE DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH PERPUTARAN MODAL KERJA DAN PERPUTARAN AKTIVA TETAP TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT MAYORA INDAH TBK

PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL INFORMASI KEUANGAN TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN DI BURSA EFEK INDONESIA

ANALISIS PENGARUH RASIO KEUANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN LABA PADA INDUSTRI ROKOK YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH RETURN ON EQUITY

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Disusun Oleh: NURUL FAJRINA B

PENGARUH RASIO KEUANGAN TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE

BAB V PENUTUP. on Asset, Return On Equity, Earning Per Share, Price Earning Ratio, dan Net

PENGARUH PRICE EARNING RATIO (PER) DAN PRICE TO BOOK VALUE (PBV) TERHADAP RETURN SAHAM PADA PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk

BAB II LANDASAN TEORI

PENGARUH CURRENT RATIO DAN RETURN ON ASSET (ROA) TERHADAP EARNING PER SHARE (EPS) PADA PT. UNILEVER INDONESIA, Tbk. Yeni Purwati

BAB I PENDAHULUAN. Miftahurrohman (2014), tujuan utama dari sebuah perusahaan adalah untuk

PENGARUH VARIABEL RETURN ON ASSETS, RETURN ON EQUITY, NET PROFIT MARGIN DAN EARNING PER SHARE TERHADAP HARGA SAHAM PADA SEKTOR PERBANKAN

FRIAN ALFRIANTO YUSAK. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi. Universitas Siliwangi ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Globalisasi yang terjadi saat ini memberikan dampak yang signifikan bagi

BAB V PENUTUP. perusahaan (Earning per Share, Return On Equity, Debt to Equity Ratio, Price to Book

BAB I PENDAHULUAN. tersebut. Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP RETURN SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. banyak diminati masyarakat saat ini. Menerbitkan saham merupakan salah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pasar modal adalah tempat bertemunya penawaran dan permintaan dana

ANALISIS PENGARUH RASIO PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN

BAB V PENUTUP. 1. Variabel Return On Asset (ROA) berpengaruh positif tetapi tidak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kepada para pemegang saham atau equity investor. Dividen merupakan bagian

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan berkembangnya perekonomian, banyak perusahaan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Laporan tahunan (annual report) adalah suatu laporan resmi mengenai keadaaan

DAFTAR PUSTAKA. Amirullah dan Haris Budiyono. (2004). Pengantar Manajemen. Yogyakarta:

PENGARUH EPS, DPS, PER, NPM DAN ROA TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG GO PUBLIC DI BURSA EFEK INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH EARNING PER SHARE (EPS) TERHADAP HARGA SAHAM (Studi pada Perusahaan PT. Kimia Farma Tbk. Periode )

Faizatur Rosyadah Suhadak Darminto Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saham juga berarti sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seorang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

ANALISIS PENGARUH RASIO PROFITABILITAS, AKTIVITAS DAN LEVERAGE

ANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN

Analisis Faktor Fundamental dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham Pada Industri Dasar dan Kimia di Bursa Efek Indonesia (BEI)

BAB I PENDAHULUAN. diperoleh untuk mempertahankan kelangsungan hidup (going concern) dari

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan usaha di Indonesia yang semakin ketat saat ini mendorong banyak

PENGARUH CURRENT RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, NET PROFIT MARGIN DAN WORKING CAPITAL TO TOTAL ASSET

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam praktiknya laporan keuangan oleh perusahaan dibuat dan disusun sesuai dengan

ANALISIS PENGARUH TINGKAT PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PASAR SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. diharapkan (Darmadji dan Fakhruddin, 2006:111). investasi dalam bentuk saham. Saham (stock atau share) adalah tanda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. investor untuk menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya. Tanpa

BAB V PENUTUP. Penelitian ini menggunakan uji analisis linier berganda untuk menguji

PENGARUH RETURN ON ASSETS (ROA) DAN NILAI BUKU TERHADAP HARGA SAHAM PADA PT ASTRA INTERNATIONAL, Tbk. DAN ENTITAS ANAK

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dan kondisi ekonomi terhadap harga saham perusahaan automotive and allied

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Penilaian kinerja adalah pendeskripsian nilai secara periodik dari efektivitas

Pengaruh Beberapa Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Whole Sale And Retail Trade Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

Oleh: Novia Kasyaretta Ananda Putri Administrasi Bisnis, Universitas Diponegoro, Indonesia Dosen Pembimbing:

ANALISIS PENGARUH BEBERAPA FAKTOR FUNDAMENTAL TERHADAP RETURN SAHAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

PENGARUH KEBIJAKAN DIVIDEN, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN PRICE EARNING RATIO PADA RETURN SAHAM

PENGARUH CURRENT RATIO DAN PERPUTARAN MODAL KERJA TERHADAP RETURN ON ASSET PADA PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR, TBK.

Gladys Dorothy Program Studi Akuntansi STIE Widya Dharma Pontianak

BAB I PENDAHULUAN. Perdagangan surat berharga merupakan cara untuk menarik dana. masyarakat, dalam hal ini investor untuk mengembangkan perekonomian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1) Ni Luh Putu Ari Cintya Devi dan Luh Komang Sudjarni (2012)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. laporan keuangan yang dapat berfungsi sebagai alat ukur dalam menilai kinerja

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, dunia investasi bukan lagi merupakan kegiatan baru di dunia

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini globalisasi telah menjangkau kehidupan. Dampak yang

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DENGAN METODE RASIO KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEMEN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH RASIO KEUANGAN TERHADAP PERUBAHAN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH KINERJA KEUANGAN TERHADAP HARGA SAHAM DENGAN SENSITIVITAS SUKU BUNGA SEBAGAI VARIABEL MODERASI ARTIKEL ILMIAH

Transkripsi:

PENGARUH CURRENT RATIO (CR) DAN TOTAL ASSETS TURN OVER (TATO) TERHADAP HARGA SAHAM (Sensus pada Emiten Bursa Efek Indonesia Subsektor Logam dan Sejenisnya) Oleh: Neni Nuraeni 123403016 Kp.Ranjeng RT19/RW04 Desa Ciawang Kec. Leuwisari Kab. Tasikmalaya e-mail : neninuraeni406@yahoo.co.id Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi JL.Siliwangi No.24 Kotak Pos 164 Tlp (0265) 330634 Tasikmalaya 46115 e-mail : info@unsil.ac.id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Current Ratio (CR), Total Assets Turn Over (TATO) dan Harga Saham pada perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) terhadap Harga Saham pada perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) baik secara parsial maupun secara simultan. Metode penelitian yang akan digunakan dalam laporan ini adalah metode deskriptif dan verifikatif. Dalam penyusunan laporan penelitian perlu mencari dan mengumpulkan data serta informasi yang sesuai dengan sifat permasalahannya dan berkaitan dengan tujuan penulis agar dapat suatu susunan data yang lengkap untuk dipakai sebagai dasar pembahasan. Berdasarkan hasil analisis data penelitian dapat diambil kesimpulan dilihat dari Current Ratio (CR) pada Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara umum menunjukan nilai Current Ratio (CR) yang baik, artinya secara mayoritas perusahaan tersebut mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Jika dilihat dari Total Assets Turn Over (TATO) maka secara umum 1

mencerminkan nilai Total Assets Turn Over (TATO) yang baik, hal ini menunjukan bahwa mayoritas perusahaan mampu mengelola aktiva secara efektif dalam merealisasi penjualan perusahaan. Sedangkan dilihat dari harga saham mencerminkan nilai yang bervariatif. Secara parsial Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) berpengaruh positif terhadap Harga Saham pada Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini menunjukan bahwa kedua variabel tersebut memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap harga saham. Secara simultan Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) berpengaruh positif terhadap Harga Saham pada perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Variabel yang paling dominan pengaruhnya adalah variabel Total Assets Turn Over (TATO). Kata Kunci: Current Ratio (CR), Total Assets Turn Over (TATO), Harga Saham Abstract This study aims to identify and analyze the Current Ratio (CR), Total Assets Turn Over (TATO) and the company's stock price and Allied Metal Manufacturing subsector listed in the Indonesia Stock Exchange (BEI). Furthermore, to determine the influence of Current Ratio (CR) and Total Assets Turn Over (TATO) on stock price of the company Metal Manufacturing subsector and the like are listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) either partially or simultaneously. The research method used in this report is descriptive and verification methods. In preparing the research report need to find and collect data and information that is appropriate to the nature of the problem and deals with the author's purpose in order to complete an array of data to be used as a basis for discussion. Based on the analysis of research data can be concluded viewed from the Current Ratio (CR) on the Company's Manufacturing Subsector Metal and Allied listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) in general show the value of Current Ratio (CR) is good, which means that the majority of these companies are able to meet short-term obligations. If viewed from the Total 2

Assets Turn Over (TATO) then generally reflect the value of Total Assets Turn Over (TATO) is good, this shows that the majority of companies are able to manage assets effectively in realizing the company's sales. While the views of the stock price reflects the value that is varied. Partially Current Ratio (CR) and Total Assets Turn Over (TATO) positive impact on stock price of the company Metal Manufacturing subsector and the like are listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI). This shows that these two variables have a significant influence on stock prices. Simultaneously Current Ratio (CR) and Total Assets Turn Over (TATO) positive impact on stock price of the company Metal Manufacturing subsector and the like are listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI). The most dominant variable is the variable Total Assets Turn Over (TATO). Keywords: Current Ratio (CR), Total Assets Turn Over (TATO), Stock Price PENDAHULUAN Investasi merupakan penanaman modal satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu panjang dengan harapan mendapatkan keuntungan dimasa mendatang berupa keuntungan berulang dan pembagian dividen. Akan tetapi, sebelum melakukan investasi, seorang investor perlu memastikan apakah modal yang ditanamkan mampu memberikan ( return) yang diharapkan, yaitu dengan cara mengetahui kinerja perusahaan. Perusahaan yang kinerjanya baik akan memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik dibandingkan pada perusahaan yang berkinerja tidak baik untuk itu suatu kinerja baik akan memberikan tingkatan pengembalian yang lebih baik dibandingkan pada suatu perusahaan yang berkinerja tidak baik. Untuk ini diharapkan suatu kinerja yang baik pada perusahaan yang akan di jadikan tempat berinvestasi. Hal yang dilakukan adalah menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan yang bersangkutan dimana laporan keuangan yang diperoleh dari kondisi internal perusahaan dan informasi laporan keuangan. Harga saham sebagai nilai indikator perusahaan dan suatu perusahaan tersebut akan mengalami berbagai kemungkinan dan kenaikan ataupun penurunan 3

harga karena dipegang oleh berbagai variabel fundamental dan teknikal, variabel - variabel tersebut akan membentuk kekuatan pasar yang akan berpengaruh terhadap transaksi saham. Harga saham bisa dikatakan sebagai indikator keberhasilan dalam pengelolaan perusahaan untuk mendapatakan return yang diinginkan, yang ditunjukkan oleh kekuatan pasar dengan terjadinya transaksi dalam perdagang saham perusahaan di pasar modal. Transaksi yang terjadi didasarkan pada hasil pengamatan para investor terhadap prestasi di perusahaan dalam menghasilkan keuntungan keuangan dengan adanya kenaikan harga saham tersebut. Fluktuasi harga saham penting untuk diamati oleh investor karena akan mempengaruhi tingkat keuntungan dari investasi yang akan diperoleh. Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan keuntungan dengan membeli ketika harga akan naik lalu menjualnya ketika harga akan turun. Namun untuk bisa memperkirakan kapan harga akan naik atau turun bukanlah hal yang mudah. Adanya faktor yang mempengaruhi terjadinya fluktuasi tersebut faktor fundamental dan teknikal merupakan faktor yang mempengaruhi harga saham. Dalam melakukan investasi di pasar modal apakah investor akan mempertimbangkan faktor fundamental beberapa perusahaan, seperti kinerja perusahaan yang diproksikan dengan rasio keuangan untuk memperkirakan harga yang akan diterima dimasa yang akan datang. Rasio keuangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah variabel Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO). Asyik (2009: 96) mengemukakan bahwa rasio neraca dan laba rugi memiliki hubungan yang lebih kuat dengan return saham dibandingkan dengan rasio dan arus kas. Semakin baik prestasi suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan diperusahaan, maka akan semakin meningkat permintaan akan saham yang akan selanjutnya dan akan meningkat pula harga saham. Keadaan harga saham naik menjadi lebih tinggi dari pada harga pembelian, dikatakan oleh investor untuk memprediksi keuntungan investasi bagi investor dipasar modal. Hasil dari pengujian yang di lakukan dan menunjukkan bahwa variabel dalam informasi keuangan tersebut berpengaruh signifikan dalam prediktor laba dan arus kas untuk satu, dua, dan empat tahun ke depan. 4

Sebuah bursa saham sering kali menjadi komponen terpenting dari sebuah pasar saham. Tidak ada keharusan untuk menerbitkan saham melalui bursa saham itu sendiri dan saham juga tidak mesti diperdagangkan di bursa tersebut hal semacam ini dinamakan "off exchange". Untuk saham yang sudah terdaftar perdagangannya harus dilapor ke bursa yang bersangkutan. Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur, membutuhkan pengelolaan terhadap modal kerja secara lebih efisien. Hal ini karena aktiva lancar perusahaan manufaktur biasa menggunakan lebih dari separuh total aktivanya. Tingkat aktiva lancar yang berlebih dapat dengan mudah membuat perusahaan merealisasi pengembalian atas investasi (ROI) yang rendah. Akan tetapi, perusahaan dengan jumlah aktiva lancar yang terlalu sedikit dapat mengalami kekurangan dan kesulitan dalam mempertahankan operasi yang lancar. Untuk mengetahui seberapa besar modal kerja yang dialokasikan perusahaan untuk operasi perusahaan, dapat digunakan rasio lancar atau yang lebih dikenal dengan Current Ratio (CR). Perusahaan yang dipilih dalam penelitian ini adalah perusahaan yang sahamnya terdaftar di BEI periode 2014 dan termasuk dalam kelompok industri manufaktur subsektor logam dan sejenisnya. Pemilihan industri manufaktur subsektor logam dan sejenisnya ini didasarkan pada alasan bahwa industri manufaktur merupakan kelompok emiten yang terbesar dibandingkan kelompok industri yang lain yang sudah ada. Kelompok industri manufaktur subsektor logam dan sejenisnya yang diteliti berjumlah 16 perusahaan. Indeks harga saham merupakan salah satu pedoman dalam berinvestasi. Ada beberapa indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, salah satunya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menunjukan kondisi perusahaan yang tercatat. Harga saham mencerminkan seberapa minat investor terhadp saham suatu perusahaan, karena setiap saat dapat mengalami perubahan seiring dengan minat investor untuk menempatkan modalnya pada saham. Adapun fenomena yang berkaitan dengan perkembangan saham periode Tahun 2011 sampai dengan Tahun 2015 dapat digambarkan sebagai berikut: 5

IHSG 6000 5000 4000 3703.51 3821.99 4316.68 4274.17 5226.97 4592.99 3000 IHSG 2000 1000 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan Periode 2011-2015 Grafik tersebut menunjukan bahwa perkembangan harga saham dari tahun 2010 ke tahun 2014 mengalami peningkatan, terkecuali pada tahun 2015 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2010-2014 harga saham mengalami pertumbuhan yang baik. Dilihat pada tahun 2010 ke 2011 mengalami peningkatan sebesar 3,20% dan yang paling terlihat peningkatan IHSG pada tahun 2012 sebesar 12,94% yang menunjukan bahwa perekonomian Indonesia pun mengalami peningkatan yang positif, walaupun pada tahun 2013 sedikit menurun sebesar 0,98% tapi itu merupakan hal yang wajar dan peningkatan pada tahun 2014 sebesar 22,29%. Pada tahun 2015 IHSG mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 12,13% yang disebabkan perlambatan ekonomi secara global. Berdasarkan uraian latar belakang di atas menyangkut pengaruh Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) maka penulis merasa tertarik untuk mengkajinya. Untuk kajian ini, penulis mengambil judul Pengaruh Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) terhadap Harga Saham pada perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). 6

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisis: 1. Current Ratio (CR), Total Assets Turn Over (TATO) dan Harga Saham pada perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 2. Pengaruh Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) terhadap Harga Saham pada perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara parsial. 3. Pengaruh Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) terhadap Harga Saham pada perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara simultan. METODE PENELITIAN Menurut Sugiyono (2008:1) metode penelitian adalah: Cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data valid dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan dan dikembangkan suatu pengetahuan, sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah. Berdasarkan latar belakang dan kajian pustaka yang diperoleh maka metode penelitian yang akan digunakan dalam laporan ini adalah metode deskriptif dan verifikatif. Metode merupakan suatu cara atau langkah-langkah yang harus dilalui dalam menyelesaikan suatu masalah. Dalam penyusunan laporan penelitian perlu mencari dan mengumpulkan data serta informasi yang sesuai dengan sifat permasalahannya dan berkaitan dengan tujuan penulis agar dapat suatu susunan data yang lengkap untuk dipakai sebagai dasar pembahasan. Operasionalisasi Variabel Variabel penelitian adalah ubahan yang memiliki variasi nilai (Ferdinand:2006). Dalam penelitian ini menggunakan tiga variabel yang terdiri dari dua variabel bebas, dan satu variabel terikat sebagai berikut yaitu : 1. Variabel bebas (Independent Variable) Variabel bebas pertama dalam penelitian ini yaitu Current Ratio (X 1 ) dengan definisi operasional perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan kewajiban 7

lancar yang diteliti pada tahun 2014. Adapun indikatornya adalah aktiva lancar dan utang lancar. Variabel bebas kedua dalam penelitian ini yaitu Total Assets Turn Over (X 2 ) dengan definisi operasional rasio untuk menghitung efektivitas penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi biasanya menunjukan manajemen yang baik, sebaliknya rasio yang rendah harus membuat manajemen mengevaluasi strategi, pemasaran, dan pengeluaran modalnya (investasi) yang diteliti pada tahun 2014. Adapun indikatornya adalah penjualan dan total aktiva. 2. Variabel terikat (Dependent Variable) Variabel terikat adalah Harga Saham (Y) dengan definisi operasional nilai sekarang ( present value) dari penghasilan-penghasilan yang akan diterima oleh pemodal dimasa yang akan datang. Adapun indikator harga rata-rata saham pada saat penutupan (closing price), saat laporan keuangan terbit pada akhir periode. Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut: Tabel Operasionalisasi Variabel Variabel Definisi Operasional Indikator Skala Current Perbandingan antara jumlah aktiva - Aktiva lancar Rasio Ratio (X 1 ) lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini menunjukan bahwa nilai kekayaan lancar (yang segera dapat dijadikan uang) ada sekian kalinya kewajiban dijadikan kewajiban jangka pendek. (Munawir, 2010:72) - Hutang lancar Total Assets Rasio untuk menghitung efektivitas - Penjualan Rasio Turnover (X 2 ) penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi biasanya menunjukan manajemen yang baik, sebaliknya rasio yang rendah - Total Aktiva harus membuat manajemen mengevaluasi strategi, pemasaran, dan pengeluaran modalnya (investasi). (Hanafi dan Halim, 2009: 81). 8

Harga Nilai sekarang ( present value) dari Harga rata-rata saham Rasio Saham (Y) penghasilan-penghasilan yang akan pada saat penutupan diterima oleh pemodal dimasa yang (closing price), saat akan datang. (Suad Husnan dan Enny laporan keuangan Pudjiastuti, 2004: 151). terbit pada akhir periode. Teknik Pengumpulan Data Jenis Data Jenis data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu data atau sumber informasi yang telah dikemukakan oleh para ahli yang kompeten di bidangnya masing-masing sehinga relevan dengan pembahasan yang diteliti, dalam melakukan studi kepustakaan ini penulis mengumpulkan data dengan cara mempelajari, meneliti, mengkaji, serta menelaah literatur-literatur berupa buku, situs resmi yang ada kaitannya dengan masalah yang sedang diteliti dan juga membaca dan mempelajari materi kuliah dan bahan tertulis lainnya. Populasi Sasaran Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin baik hasil menghitung atau pengukuran kuantitas maupun kualitas dari pada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap (Handari, 2005: 141). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang aktif sebanyak 16 perusahaan. Dalam penelitian ini mempergunakan pengambilan sampel dengan teknik Sampling jenuh, yaitu mengambil semua anggota populasi sebanyak 16 perusahaan. Teknik ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Riduwan (2007:248) Sampling Jenuh adalah teknik pengambilan sampel apabila semua populasi digunakan sebagai sampel dan dikenal juga dengan istilah sensus, maka jenis penelitian ini disebut sensus. Adapun populasi penelitian disajikan pada tabel sebagai berikut: 9

Populasi dan Sasaran No Nama Perusahaan Kode Perusahaan 1 Alakasa Industrindo Tbk ALKA 2 Alumindo Light Metal Industry Tbk ALMI 3 Saranacentral Bajatama Tbk BAJA 4 Betonjaya Manunggal Tbk BTON 5 Citra Tubindo Tbk CTBN 6 Gunawan Dianjaya Steel Tbk GDST 7 Indal Aluminium Industry Tbk INAI 8 PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk ISSP 9 Jakarta Kyoei Steel Works Tbk JKSW 10 Jaya Pari Steel Tbk JPRS 11 Krakatau Steel (Persero) Tbk KRAS 12 Lion Metal Works Tbk LION 13 Lionmesh Prima Tbk LMSH 14 Pelat Timah Nusantara Tbk NIKL 15 Pelangi Indah Canindo Tbk PICO 16 Tembaga Mulia Semanan Tbk TBMS Sumber: www.idx.co.id Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Studi kepustakaan yaitu dengan membaca literatur-literatur bidang ekonomi yang digunakan sebagai landasan kerangka berfikir dan teori yang sesuai dengan topik penelitian. 2) Penelitian dokumenter yaitu dengan menelaah dan menganalisa laporan-laporan mengenai akuntansi yang diterbitkan oleh pihak BEI melalui websitenya yaitu www.idx.co.id. Teknik Analisis Data Adapun analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah. Metode pengujian yang digunakan adalah pengujian satu arah. Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel, dimana dua variabel bebas (independent variable) yakni 10

Current Ratio (X 1 ) dan Return On Assets (X 2 ) dan variabel terikatnya (dependent variable) adalah Return Saham (Y). Teknik yang digunakan adalah analisa jalur ( path analysis). Tujuan digunakannnya teknik analisa jalur ( path analysis) adalah untuk mengetahui pengaruh seperangkat variabel X (independent variable) terhadap variabel Y dan untuk mengetahui hubungan antara variabel X. Dalam teknik analisa jalur ini dapat dilihat pengaruh dari setiap variabel secara bersama-sama. Selain itu, tujuan dilaksanakannya analisa jalur adalah untuk menerangkan pengaruh langsung atau tidak langsung dari beberapa variabel penyebab terhadap variabel lainnya sebagai variabel terikat. PEMBAHASAN Current Ratio (CR) Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2014 No Kode Aktiva Lancar Utang Lancar CR Perusahaan 1 (Rp) 2 (Rp) (1:2) x % 1 ALKA 219.581.000.000 173.277.000.000 126,72 2 ALMI 2.428.477.000.000 2.370.051.000.000 102,47 3 BAJA 652.967.000.000 780.658.000.000 83,64 4 BTON 125.564.000.000 24.838.000.000 505,53 5 CTBN 2.195.199.000.000 1.219.085.000.000 180,07 6 GDST 650.518.000.000 462.846.000.000 140,55 7 INAI 644.378.000.000 595.336.000.000 108,24 8 ISSP 3.579.690.000.000 2.636.139.000.000 135,79 9 JKSW 117.440.000.000 18.578.000.000 632,15 10 JPRS 224.070.000.000 482.000.000 46,49 11 KRAS 13.165.036.000.000 17.575.737.000.000 74,90 12 LION 488.269.000.000 132.155.000.000 369,47 13 LMSH 107.780.000.000 19.357.000.000 556,80 14 NIKL 1.141.413.000.000 1.022.960.000.000 111,58 15 PICO 457.862.000.000 276.069.000.000 165,85 16 TBMS 1.535.709.000.000 1.934.370.000.000 79,39 Rata-rata 213,73 11

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, diketahui bahwa Current Ratio (CR) merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendek, oleh karena itu rasio tersebut menunjukan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo hutang. Agnes Sawir (2003:8). Perusahaan yang mempunyai persentase tertinggi adalah Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) sebesar 632,15%. Dengan standar 2:1, perolehan Current Ratio (CR) pada perusahaan Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) ini dapat membuat khawatir bagi investor. Karena semakin tinggi Current Ratio (CR) suatu perusahaan, akan terlihat bahwa banyaknya aktiva lancar mengangur yang tidak digunakan perusahaan untuk meningkatkan laba perusahaan. Hal ini berbeda dengan perusahaan yang mempunyai Current Ratio (CR) terendah yaitu Jaya Pari Steel Tbk (JPRS) sebesar 46,49%. Walaupun perusahaan Jaya Pari Steel Tbk (JPRS) memiliki Current Ratio (CR) yang rendah dan tidak memenuhi standar rasio lancar yang dinilai baik, akan tetapi setidaknya Jaya Pari Steel Tbk (JPRS) telah mampu menutup semua kewajiban jangka pendek perusahaan dengan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Jika memperhatikan standar Current Ratio (CR) yaitu 2:1, maka emiten yang memiliki Current Ratio (CR) di atas standar yaitu Betonjaya Manunggal Tbk (BTON), Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW), Lion Metal Works Tbk (LION) dan Lionmesh Prima Tbk (LMSH). Sedangkan emiten yang memiliki Current Ratio (CR) di bawah standar 2:1 yaitu Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), Jaya Pari Steel Tbk (JPRS), Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), dan Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS). Namun secara keseluruhan dengan ratarata Current Ratio (CR) sebesar 213,73% emiten subsektor logam dan sejenisnya yang terdaftar di BEI telah mampu menutup kewajiban jangka pendek perusahaan dengan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. 12

Total Assets Turn Over (TATO) Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2014 No Kode Penjualan Bersih Total Aktiva TATO Perusahaan 1(Rp) 2(Rp) 1:2x% 1 ALKA 1.230.365.000.000 244.879.000.000 502,44 2 ALMI 3.336.088.000.000 3.212.439.000.000 103,85 3 BAJA 1.229.845.000.000 974.633.000.000 126,19 4 BTON 96.008.000.000 174.158.000.000 55,13 5 CTBN 2.579.763.000.000 3.232.051.000.000 79,82 6 GDST 1.215.612.000.000 1.354.623.000.000 89,74 7 INAI 933.462.000.000 897.282.000.000 104,03 8 ISSP 3.367.873.000.000 5.443.158.000.000 61,87 9 JKSW 21.231.000.000 267.696.000.000 7,93 10 JPRS 313.636.000.000 370.968.000.000 84,55 11 KRAS 23.240.956.000.000 32.313.988.000.00 71,92 12 LION 377.623.000.000 600.103.000.000 62,93 13 LMSH 249.072.000.000 139.916.000.000 178,02 14 NIKL 2.026.023.000.000 1,509,967.000.00 134,18 15 PICO 694.332.000.000 626.627.000.000 110,80 16 TBMS 7.584.072.000.000 2.183.476.000.00 347,34 Rata-rata 132,55 Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, diketahui bahwa Total Assets Turn Over (TATO) merupakan ukuran efektifitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Semakin besar perputaran aktiva semakin efektif perusahaan mengelola aktivanya, rasio ini juga menunjukan bagaimana sumber daya telah dimanfaatkan secara optimal. Sutrisno (2009:221). Perusahaan yang mempunyai persentase tertinggi adalah Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) sebesar 502,44%. Dengan standar 2:1, perolehan Total Assets Turn Over (TATO) pada perusahaan Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) ini dapat membuat khawatir bagi investor. Karena semakin tinggi Total Assets Turn Over (TATO) suatu perusahaan, akan terlihat bahwa besarnya aktivitas penjualan yang tidak sebanding dengan total aktiva digunakan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang perusahaan. 13

Hal ini berbeda dengan perusahaan yang mempunyai Total Assets Turn Over (TATO) terendah yaitu Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) sebesar 7,93%. Walaupun perusahaan Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) memiliki Total Assets Turn Over (TATO) yang rendah dan tidak memenuhi standar rasio aktivitas yang dinilai baik, akan tetapi setidaknya Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) telah mampu melakukan aktivitas penjualan dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Jika memperhatikan standar Total Assets Turn Over (TATO) yaitu 2:1, maka emiten yang memiliki Total Assets Turn Over (TATO) di atas standar yaitu Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), dan Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS). Sedangkan emiten yang memiliki Total Assets Turn Over (TATO) di bawah standar 2:1 yaitu Betonjaya Manunggal Tbk (BTON), Citra Tubindo Tbk (CTBN), Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW), Jaya Pari Steel Tbk (JPRS), Krakat au Steel (Persero) Tbk (KRAS), dan Lion Metal Works Tbk (LION). Namun secara keseluruhan dengan rata-rata Total Assets Turn Over (TATO) sebesar 132,55% emiten subsektor logam dan sejenisnya yang terdaftar di BEI telah mampu meningkatkan efektivitas penggunaan total aktiva melalui aktivitas penjualan. Harga Saham Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2014 No Kode Harga Perusahaan Saham 1 ALKA 900 2 ALMI 268 3 BAJA 297 4 BTON 540 5 CTBN 5.700 6 GDST 103 7 INAI 350 8 ISSP 238 9 JKSW 98 14

10 JPRS 242 11 KRAS 485 12 LION 9.300 13 LMSH 6.450 14 NIKL 134 15 PICO 160 16 TBMS 9.500 Rata-rata 2.172,81 Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, diketahui bahwa Harga Saham merupakan harga sebesar nilai sekarang atau present value dari aliran kas yang diharapkan akan diterima. Perhitungan harga saham dalam penelitian ini adalah harga rata-rata saham pada saat penutupan ( closing price), saat laporan keuangan terbit pada akhir periode. Perusahaan yang mempunyai harga tertinggi Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS) sebesar Rp. 9.500, -. Jika menetapkan harga standar Rp. 200,-, perolehan harga saham pada perusahaan Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS) ini dapat membuat khawatir bagi investor. Karena semakin tinggi harga saham suatu perusahaan, akan terlihat bahwa calon investor harus mengeluarkan kas lebih besar jika mau membeli saham perusahaan tersebut. Hal ini berbeda dengan perusahaan yang mempunyai harga saham terendah yaitu Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) sebesar Rp. 98,-. Walaupun perusahaan Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) memiliki harga saham yang rendah dan tidak memenuhi standar rasio harga saham yang dinilai baik, akan tetapi setidaknya Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW) telah memiliki harga saham sebesar nilai sekarang atau present value dari aliran kas yang diharapkan akan diterima. Jika memperhatikan standar harga saham yaitu Rp. 200,-, maka emiten yang memiliki harga saham di atas standar sebanyak 12 perusahaan. Sedangkan emiten yang memiliki harga saham di bawah standar Rp. 200,- yaitu Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST), Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW), Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL), dan Pelangi Indah Canindo Tbk (PICO). Namun secara 15

keseluruhan dengan rata-rata harga saham sebesar 2.172,81,- emiten subsektor logam dan sejenisnya yang terdaftar di BEI telah mampu memiliki harga saham sebesar nilai sekarang atau present value dari aliran kas yang diharapkan akan diterima. Correlations X1 X2 Y X1 Pearson Correlation 1.204.638 * Sig. (2-tailed).573.047 N 10 10 10 X2 Pearson Correlation.204 1.738 * Sig. (2-tailed).573.015 N 10 10 10 Y Pearson Correlation.638 *.738 * 1 Sig. (2-tailed).047.015 N 10 10 10 *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan SPSS (terlampir), besarnya pengaruh Current Ratio terhadap Total Assets Turn Over dinyatakan dalam koefesien beta ( ) atau koefisien standar (standardized coefficients). Nilai koefesien beta ( ) untuk pengaruh Current Ratio terhadap Total Assets Turn Over adalah sebesar 0,204 yang artinya bahwa ketika Current Ratio mengalami kenaikan maka akan menyebabkan kenaikan terhadap Total Assets Turn Over sebesar 20,4%. Sedangkan koefisien determinasinya menunjukan besarnya pengaruh Current Ratio terhadap Total Assets Turn Over, yakni ( X 1 X 2 ) 2 sebesar (0,204) 2 = 0,0416 atau 4,16% artinya bahwa 4,16% variabilitas dari variabel terikat (X 2 ) atau Total Assets Turn Over dipengaruhi oleh variabel bebas (X 1 ) yang dalam hal ini adalah Current Ratio sebesar 4,16%. Sisanya 1-0,0416 adalah sebesar 0,9584 atau 95,84% merupakan pengaruh dari faktor lain yang mempengaruhi Total Assets Turn Over. 16

Dari hasil pengolahan data spss di atas, dapat diartikan bahwa Current Ratio secara parsial berpengaruh positif terhadap Total Assets Turn Over. Hal ini sesuai dengan teori dari Darsono & Ashari (2005:33) bahwa semakin tinggi Current Ratio semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek. Selanjutnya teori dari Sartono (2014) yang mengungkapkan bahwa semakin tinggi Current Ratio maka total aktiva perusahaan semakin baik yang pada akhirnya akan menunjang peningkatan penjualan perusahaan. Coefficients a Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) -1.300.798-1.629.147 X1 10.695 3.684.509 2.903.023 X2 16.838 4.650.615 3.621.009 Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan SPSS Versi 16.0 (terlampir) untuk analisis jalur, besarnya pengaruh Current Ratio terhadap Harga Saham dinyatakan dalam koefisien beta ( ) atau koefisien standar (Standardized Coefficients). Nilai koefisien beta ( ) untuk pengaruh Current Ratio terhadap Harga Saham adalah sebesar 0,509 yang artinya bahwa ketika Current Ratio mengalami kenaikan maka akan menyebabkan kenaikan terhadap harga saham sebesar 50,09%. Sedangkan koefisien determinasinya menunjukan besarnya pengaruh Current Ratio terhadap Harga Saham, yakni ( YX 1 ) 2 sebesar (0,509) 2 = 0,259081 atau 25,91% artinya bahwa 25,91% variabilitas dari variabel terikat (Y) atau harga saham dipengaruhi oleh variabel bebas (X 1 ) yang dalam hal ini adalah Current Ratio sebesar 25,91%. Sisanya 1-0,259081 adalah sebesar 0,7409 atau 74,09% merupakan pengaruh dari faktor lain yang mempengaruhi harga saham. Dari hasil pengolahan data spss di atas, dapat diartikan bahwa Current Ratio secara parsial berpengaruh positif terhadap harga saham. Hal ini sejalan dengan teori dari Darsono & Ashari (2005:33) bahwa Current Ratio (CR) merupakan 17

kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki. Likuiditas jangka pendek ini penting karena masalah arus kas jangka pendek bisa mengakibatkan perusahaan bangkrut, semakin tinggi Current Ratio semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek. Selanjutnya teori dari Sartono (2014) yang mengungkapkan bahwa semakin tinggi Current Ratio maka total aktiva perusahaan semakin baik. Temuan ini juga sesuai dengan hasil penelitian dari Puspita Sari (2014), yang mengungkapkan bahwa Current Ratio (CR) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan SPSS Versi 16.0 (terlampir) untuk analisis jalur, besarnya pengaruh Total Assets Turn Over terhadap Harga Saham dinyatakan dalam koefisien beta ( ) atau koefisien standar (Standardized Coefficients). Nilai koefisien beta ( ) untuk pengaruh Total Assets Turn Over terhadap Harga Saham adalah sebesar 0,615 yang artinya bahwa ketika Total Assets Turn Over mengalami kenaikan maka akan menyebabkan kenaikan terhadap harga saham sebesar 61,5%. Sedangkan koefisien determinasinya menunjukan besarnya pengaruh Total Assets Turn Over terhadap Harga Saham, yakni ( YX 2 ) 2 sebesar (0,615) 2 = 0,378225 atau 37,82% artinya bahwa 37,82% variabilitas dari variabel terikat (Y) atau harga saham dipengaruhi oleh variabel bebas (X 2 ) yang dalam hal ini adalah Total Assets Turn Over sebesar 37,82%. Sisanya 1-0,378225 adalah sebesar 0,6217 atau 62,17% merupakan pengaruh dari faktor lain yang mempengaruhi harga saham. Dari hasil pengolahan data spss di atas, dapat diartikan bahwa Total Assets Turn Over secara parsial berpengaruh positif terhadap harga saham. Hal ini sejalan dengan teori dari Agnes Sawir, (2003:56) bahwa TATO yang meningkat menunjukkan jika perusahaan telah menggunakan asetnya secara efektif. Efektivitas tersebut akan menyebabkan operasi perusahaan berjalan dengan baik. Hal tersebut merupakan good news bagi investor seperti yang dinyatakan dalam signaling theory yang artinya akan berpengaruh terhadap harga saham yang menjadi meningkat. Selanjutnya teori dari Sartono (2014) yang mengungkapkan 18

bahwa perputaran total aktiva ( Total Assets Turn Over) menunjukan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dalam kaitannya untuk mendapatkan laba. Temuan ini juga sesuai dengan hasil penelitian dari Puspita Sari (2014), yang mengungkapkan bahwa Total Assets Turn Over (TATO) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan. Pengaruh secara simultan dapat diketahui dari pengolahan data SPSS 16.0 (lampiran). Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai R antara variabel X 1 dan X 2 terhadap Y sebesar 0,765 dengan kategori keterikatan hubungan yang kuat karena berada diantara 0,600 0,799. Maka secara simultan Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) terhadap harga saham mempunyai hubungan sebesar 76,5% dengan arah positif. Koefisien jalur ( yx 1 X 2 ) sebesar 0,765 dan koefisien determinasinya ( yx 1 X 2 ) 2 yaitu (0,765) 2 = 0,585 atau 58,5%. Hal ini dapat diartikan bahwa besarnya pengaruh total semua variabel yaitu Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) terhadap harga saham sebesar 58,5%. Sisanya akar dari 1 0,585 sebesar 0,644 atau 64,4% ini menunjukan pengaruh dari faktor lain yang mempengaruhi harga saham selain Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO). Berdasarkan perhitungan koefisien jalur dan analisis dapat diketahui bahwa aktiva lancar, kewajiban jangka pendek, penjualan, dan total aktiva berpengaruh terhadap harga saham. Untuk mengetahui besarnya pengaruh secara tidak langsung antara Current Ratio dan Total Assets Turn Over perusahaan terhadap Harga Saham maka dilakukan analisis jalur yaitu yang disajikan dalam Tabel. Tabel Total Pengaruh X 1 dan X 2 terhadap Y Variabel Total Pengaruh X 1 terhadap Y Pengaruh Langsung 0,509 x 0,509 0,259 Pengaruh Tidak Langsung 0,509 x 0,204 x 0,615 0,064 Pengaruh X 1 terhadap Y 0,323 (32,3%) 19

X 2 terhadap Y Pengaruh Langsung 0,615 x 0,615 0,378 Pengaruh Tidak Langsung 0,509 x 0,204 x 0,615 0,064 Pengaruh X 2 terhadap Y 0,442 (44,2%) Total pengaruh X 1 dan X 2 terhadap Y 0,765 (76,5%) Pengaruh residu (1-0,765) 0,235 Total Pengaruh 1 Tabel tersebut menunjukan bahwa variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap Harga saham adalah Total Assets Turn Over (TATO) dibandingkan dengan Current Ratio (CR). Artinya bahwa Total Assets Turn Over (TATO) memiliki porsi yang kuat dibandingkan dengan Current Ratio (CR) dalam hal mempengaruhi harga saham. Hal ini pun menunjukan bahwa efektivitas pemanfaatan aktiva dalam mencapai penjualan yang optimal merupakan salah satu faktor yang kuat mempengaruhi terhadap harga saham pada Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Total Assets Turn Over (TATO) berpengaruh dominan terhadap harga saham, hal ini sejalan dengan teori dari teori dari Agnes Sawir, (2003:56) bahwa efektivitas Total Assets Turn Over (TATO) akan menyebabkan operasi perusahaan berjalan dengan baik dan merupakan good news bagi investor yang artinya akan berpengaruh terhadap harga saham yang menjadi meningkat. Selanjutnya menurut Sartono (2014) mengemukakan bahwa semakin tinggi Current Ratio maka total aktiva perusahaan semakin baik. Perputaran total aktiva (Total Assets Turn Over) menunjukan bagaimana efektivitas perusahaan menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dalam kaitannya untuk mendapatkan laba. Sehingga dapat disimpulkan bahwa current ratio dan total assets turn over berpengaruh baik secara parsial maupun scara simultan terhadap harga saham. Temuan ini juga sesuai dengan hasil penelitian dari Puspita Sari (2014), bahwa Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) baik secara parsial maupun simultan berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan. 20

PENUTUP Berdasarkan hasil analisis data penelitian mengenai pengaruh Current Ratio (CR) (X 1 ), Total Assets Turn Over (TATO) (X 2 ), terhadap Harga Saham (Y) pada Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Dilihat dari Current Ratio (CR) pada Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara umum menunjukan nilai Current Ratio (CR) yang baik, artinya secara mayoritas perusahaan tersebut mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Jika dilihat dari Total Assets Turn Over (TATO) maka secara umum mencerminkan nilai Total Assets Turn Over (TATO) yang baik, hal ini menunjukan bahwa mayoritas perusahaan mampu mengelola aktiva secara efektif dalam merealisasi penjualan perusahaan. Sedangkan dilihat dari Harga Saham mencerminkan nilai yang bervariatif. 2. Secara parsial Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) berpengaruh positif terhadap Harga Saham pada Perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini menunjukan bahwa kedua variabel tersebut memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap Harga Saham. 3. Secara simultan Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) berpengaruh positif terhadap Harga Saham pada perusahaan Manufaktur Subsektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Variabel yang paling dominan pengaruhnya adalah variabel Total Assets Turn Over (TATO). Berdasarkan temuan yang diperoleh, saran dari penelitian ini adalah aspekaspek yang penting dalam upaya meningkatkan Harga Saham melalui optimalisasi Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO), adalah sebagai berikut: 1. Bagi Perusahaan Perusahaan sebaiknya mempertahankan Current Ratio (CR) perusahaan pada titik optimal yaitu pada titik dimana perusahaan mampu membayar kewajiban jangka pendeknya tanpa mengganggu aktivitas penjualan, karena 21

dengan optimalnya Current Ratio (CR) akan mendorong perusahaan melakukan ekspansi berupa peningkatan penjualan serta penambahan aktiva dengan tetap memperhatikan kelancaran perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. 2. Bagi Investor Mempertahankan dan menciptakan Total Assets Turn Over (TATO) yang memadai yaitu pada tingkat pencapaian penjualan yang diharapkan perusahaan sehingga aktiva yang dimiliki perusahaan digunakan secara efektif untuk mendukung penjualan yang optimal. 3. Peneliti Lain Peneliti selanjutnya dapat menggunakan faktor-faktor lainnya yang kemungkinan mempengaruhi harga saham selain Current Ratio (CR) dan Total Assets Turn Over (TATO) misalnya Return On Asset (ROA), Price Earning Ratio (PER), Debt Equity Ratio (DER), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS) dan Economic Value Added (EVA). 22

DAFTAR PUSTAKA Agnes Sawir. (2003). Analisa Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka. Agus Susanto. (2001). Teknik Manufaktur. 7 Juli 2001. http://agssutanto.wordpress.com/teknik-manufaktur/ Arifin. (2001). Teori Keuangan dan Pasar Modal. Yogyakarta: Ekonisia Anditya Soeroso. (2013). Faktor Fundamental (Current Ratio, Total Debt to Equity Ratio, Total Assets Turover, ROI) terhadap Risiko Sistematis di BEI. Jurnal EMBA Vol. 1 No. 4 Desember 2013, Hal 1687-1696. Ariwan Joko Nusbantoro. (2009). Analisis Rasio Keuangan pada Perusahaan makanan dan minuman yang Listed di BEI. Jurnal Akuntansi Universitas Jember. Asyik, Nur Fadjrih, dan Soelistyo. (2009). Kemampuan Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Laba.Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol 15 No 3. Bambang Riyanto. (2001). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE. Bramantyo Nugroho. (2013). Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham. Diponegoro Journal Of Accounting Volume 2, Nomor 1. Brigham & Houston. (2006). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Alih Bahasa : Yanivi dan Nurwahyu. Jakarta: Salemba. Darmadji dan Fakhruddin. (2006). Pasar Modal di Indonesia Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta Salemba Empat. Darsono & Ashari, (2005). Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan. Edisi Pertama, Andi Yogyakarta. Fariahtus Sholiha. (2013). Analisis Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Total Assets Turn Over, dan Net Profit Margin Terhadap Perubahan Laba. Jurnal Aplikasi Manajemen2013. Vol. 10 No.3. Ferdinand, Augusty. (2006). Metode Penelitian Manajemen. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 23

Gitman. (2006). Principles of Manajerial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hanafi dan Halim. (2009). Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: AMP.YKPN. Handari. (2005). Metode Penelitian. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Indonesian Capital Market Directory (ICMD). 2004. Indrawanta. (2004). Determinasi Capital Structure pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2004, Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Vol. 3, No. 1 Januari-Juni, Hal 77-105. Jogiyanto. (2000). Teori Portofolio Dan Analisis Investasi, Jogjakarta: BPFE.... (2008). Teori Portofolio Dan Analisis Investasi, edisi kedua. Jogjakarta: BPFE John, Wild, K.R. Subramanyam, dan Robert F. Halsey. (2004). Analisis Laporan Keuangan. Edisi Delapan, Buku Kesatu. Alih Bahasa : Yanivi dan Nurwahyu. Jakarta: Salemba Empat. Jumingan. (2006). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Kieso. (2007). Accounting Princilples. Jakarta: Salemba. Koetin, E. (2000). Buku Pintar Pasar Modal. Jakarta: Media Soft Indonesia. Leonardus Susanto. (2013). Analisis Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI. (Jurnal). FENOMENA, Maret 2009, Vol. 7, No. 1Hal. 13-21. ISBN 1693-4296. Martono dan Hartijo. (2008). Manajemen Keuangan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Munawir. (2010). Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. Natarsyah, Syahib. (2012). Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham: Kasus Industri Barang Konsumsi yang Go Publik di Pasar Modal Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 15, No.3:294-312. Puspita Sari. (2014). Pengaruh Current Ratio, Net Profit Margin, Return on Assets, Debt to Equity Ratio, Total Assets Turnover dan Earning Per Share terhadap Harga Saham. Jurnal Mitra Ekonomi dan Manajemen Bisnis, Vol.3,No. 2, Oktober 2014, 211-222. 24

Riduwan. (2007). Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung: Alfabeta. Sasmita Nurvinda Laili. (2014). Analisis Pengaruh Faktor Fundamental dan Makroekonomi Terhadap Return Saham. Penelitian dilakukan di Bursa Efek Indonesia. Junal Aplikasi Bisnis, Vol.3, No. 1 Oktober 2014. Sartono. (2014). Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: BPEF. Salim. (2012). Pasar Modal & Manajemen Portofolio. Jakarta: Erlangga. Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta.... (2008). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta. Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti.(2004). Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YPKN. Sukamdiani, MG. (2008). Pengaruh Kinerja Keuangan Perusahaan terhadap Price Earning Ratio Saham pada Perusahaan Properti yang terdaftar di BEI. Jurnal Forum Akademika, STIE Wijaya Mulya Surakarta. Sunariyah, (2004). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Jogjakarta: UPP AMP YKPN... (2006). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Jogjakarta: UPP AMP YKPN Susan Irawati. (2006). Manajemen Keuangan. Bandung:Pustaka. Sutrisno. (2009). Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. Yogyakarta: Ekonisia. Tandelilin, Eduardus. (2010). Analisis Investasi Dan Manajemen Portofolio. Yogyakarta. BPFE. Tendi, dkk. (2005). Pengaruh Faktor Fundamental, Ekonomi Makro dan Risiko Sistematis terhadap Pengembalian Saham Individu. Bandung: Universitas Widiyatama. Tri Laksita Asmi. (2014). Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Total Assets Turnover, Return on Assets, Price to Book Value sebagai Faktor Penentu Return Saham. Management Analysis Journal 3 (2) 2014, http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/maj. 25

Van Horne, & Wachowicz, Jr. (2005). Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. Wahid Al Hayat. (2014). Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Return Saham. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol.8, No.2, Juli 2014. Weygandt. (2008). Akuntansi Intermediate. Edisi 12. Jakarta: Erlangga. Weston J.Fred dan Copeland E.Thomas. (2004). Manajemen Keuangan. Bandung: Edisi Sembilan. Jakarta: Binarupa.Aksara. Widoatmodjo, Sawidji. (2000). Cara Sehat Investasi di Pasar Modal, PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Wijayanto. (2005). Sistem Informasi Akuntansi. Yogyakarta: YPKN Yanivi dan Nurwahyu. (2006). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. 26