DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

dokumen-dokumen yang mirip
Pendahuluan. Latar belakang

PEDOMAN PEMBANGUNAN PRASARANA SEDERHANA TAMBATAN PERAHU DI PERDESAAN

1. Kontruksi Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

SNI 7827:2012. Standar Nasional Indonesia. Papan nama sungai. Badan Standardisasi Nasional

PEDOMAN. Penggunaan tailing untuk lapis pondasi dan lapis pondasi bawah DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH. Konstruksi dan Bangunan

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BAB III LANDASAN TEORI

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III DASAR PERENCANAAN. Martadinata perhitungan berdasarkan spesifikasi pembebanan dibawah ini. Dan data pembebanan dapat dilihat pada lampiran.

DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN SEKSI 4.1 PELEBARAN PERKERASAN

KEPUTUSAN KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL NOMOR 110KEP/BSN/ 12/2008 /12/2005 TENTANG PENETAPAN 52 (LIMA PULUH DUA) STANDAR NASIONAL INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

KONSTRUKSI PONDASI Pondasi Dangkal Pasangan Batu bata/batu kali

PEDOMAN. Perencanaan Median Jalan DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH. Konstruksi dan Bangunan. Pd. T B

BAB III LANDASAN TEORI. Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara

REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA SPESIFIKASI KHUSUS INTERIM SEKSI 6.6

Lantai Jemuran Gabah KATA PENGANTAR

PEDOMAN. Perencanaan Separator Jalan. Konstruksi dan Bangunan DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH. Pd. T B

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMELIHARAAN JALAN: 13. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMELIHARAAN BERKALA JEMBATAN

GAMBAR KONSTRUKSI JALAN

PERENCANAAN JEMBATAN MALANGSARI MENGGUNAKAN STRUKTUR JEMBATAN BUSUR RANGKA TIPE THROUGH - ARCH. : Faizal Oky Setyawan

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah umum Jalan sesuai dalam Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, sebagai berikut :

BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN. perencana. Dengan kerjasama yang baik dapat menghasilkan suatu kerja yang efektif

PENANGANAN DAERAH ALIRAN SUNGAI. Kementerian Pekerjaan Umum

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. paling bawah dari suatu konstruksi yang kuat dan stabil (solid).

BAB III KABEL BAWAH TANAH

Cara uji CBR (California Bearing Ratio) lapangan

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

1 Membangun Rumah 2 Lantai. Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii\ Tugas Struktur Utilitas II PSDIII-Desain Arsitektur Undip

TATA CARA PELAKSANAAN BETON ASPAL CAMPURAN DINGIN DENGAN ASPAL EMULSI UNTUK PERKERASAN JALAN

Kepada Yth.: Para Pejabat Eselon I di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat SURAT EDARAN NOMOR : 46/SE/M/2015 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Cape Buton Seal (CBS)

OLEH : ANDREANUS DEVA C.B DOSEN PEMBIMBING : DJOKO UNTUNG, Ir, Dr DJOKO IRAWAN, Ir, MS

Cara uji kepadatan tanah di lapangan dengan cara selongsong

PEDOMAN Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil

BAB II LANDASAN TEORI

METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN PT.GUNUNG MURIA RESOURCES

METODE PENGUJIAN KEPADATAN RINGAN UNTUK TANAH

TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN TANAH

KONSTRUKSI BANGUNAN TEKNIK

DAFTAR ANALISA PEKERJAAN

Struktur dan Konstruksi II

BAB VI SPESIFIKASI TEKNIS PASAL 1 LINGKUP PEKERJAAN

ini, adalah proyek penggantian jembatan kereta api lama serta pembuatan 2 bentangan jembatan baru yang

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

PONDASI. 1. Agar kedudukan bangunan tetap mantab atau stabil 2. Turunnya bangunan pada tiap-tiap tempat sama besar,hingga tidak terjadi pecah-pecah.

DINDING DINDING BATU BUATAN

DR. EVA RITA UNIVERSITAS BUNG HATTA

SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH

SPESIFIKASI KHUSUS-2 INTERIM SEKSI 6.6 LAPIS PENETRASI MACADAM ASBUTON LAWELE (LPMAL)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BIDANG KONSTRUKSI SUB BIDANG TUKANG BANGUNAN GEDUNG

Ada dua jenis tipe jembatan komposit yang umum digunakan sebagai desain, yaitu tipe multi girder bridge dan ladder deck bridge. Penentuan pemilihan

DAFTAR ANALISA BIAYA KONSTRUKSI

TATA CARA PERENCANAAN TEKNIK JEMBATAN GANTUNG UNTUK PEJALAN KAKI

Metode uji CBR laboratorium

LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB)

Metode uji CBR laboratorium

Panduan Praktis Perbaikan Kerusakan Rumah Pasca Gempa Bumi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. diimbangi oleh ketersediaan lahan, pembangunan pada lahan dengan sifat tanah

Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan

BADAN STANDARDISASI NASIONAL KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL

KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU

METODE PENGUJIAN KEPADATAN LAPANGAN DENGAN ALAT KONUS PASIR

TUGAS AKHIR SIMON ROYS TAMBUNAN

BAB V ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF JEMBATAN

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai

Spesifikasi lapis tipis aspal pasir (Latasir)

STANDAR LATIHAN KERJA

Jenis dan Profile Pondasi Sumuran dengan dinding tanah (khusus untuk tanah yang kering). Pondasi sumuran dengan dinding anyaman bambu. Pondasi Sumuran

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen

METHODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN GROIN GEOBAG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanah lempung adalah tanah yang memiliki partikel-partikel mineral tertentu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti

Cara uji kepadatan ringan untuk tanah

ADDENDUM-03. Maksud dan Tujuan

PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK

KONSTRUKSI JALAN PAVING BLOCK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Metode Pelaksanaan Pembangunan Jalan Lingkungan Datuk Taib Desa Leuhan < SEBELUMNYA BERIKUTNYA >

BAB IV ANALISA KONSTRUKSI PERKERASAN JALAN BETON. genangan air laut karena pasang dengan ketinggian sekitar 30 cm. Hal ini mungkin

TANAH DASAR, BADAN JALAN REL DAN DRAINASI

BAB VI KONSTRUKSI KOLOM

PERHITUNGAN KEPADATAN LAPIS PONDASI ATAS KELAS (A) DENGAN METODE SAND CONE DAN PELAKSANAAN PEKERJAAN JALAN SPT WAWONA-WAWONA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KONTROL ULANG PENULANGAN JEMBATAN PRESTRESSED KOMPLANG II NUSUKAN KOTA SURAKARTA

Cara uji berat isi, volume produksi campuran dan kadar udara beton

BAB VII METODE PELAKSANAAN

Bab 1 PENDAHULUAN. tanah yang buruk. Tanah dengan karakteristik tersebut seringkali memiliki permasalahan

BAB II TANAH DASAR (SUB GRADE)

Transkripsi:

PEDOMAN TEKNIK TATA CARA PELAKSANAAN PONDASI CERUCUT KAYU DI ATAS TANAH LEMBEK DAN TANAH GAMBUT No. 029/T/BM/1999 Lampiran No. 6 Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No. 76/KPTS/Db/1999 Tanggal 20 Desember 1999 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Diterbitkan oleh PT. Mediatama Saptakarya ( PT. Medisa ) YAYASAN BADAN PENERBIT PEKERJAAN UMUM

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA ALAMAT : JALAN PATTIMURA NO. 20 TELP. 7221960-7203165 - 7222806 FAX 7393938 KEBAYORAN BARU - JAKARTA SELATAN KODE POS 12110 KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA NOMOR : 76/KPTS/Db/1999 TENTANG PENGESAHAN LIMA BELAS PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menunjang pembangunan nasional di bidang kebinamargaan dan kebijaksanaan pemerintah untuk meningkatkan pendayagunaan sumber daya manusia dan sumber daya alam, diperlukan pedoman-pedoman teknik bidang jalan; b. bahwa pedoman teknik yang termaktub dalam Lampiran Keputusan ini telah disusun berdasarkan konsensus pihak-pihak yang terkait, dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan dan keselamatan umum serta memperkirakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh manfaat sebesarbesarnya bagi kepentingan umum sehingga dapat disahkan sebagai Pedoman Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga; c. bahwa untuk maksud tersebut, perlu diterbitkan Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga. Mengingat 1. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; 2. Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1984, tentang Susunan Organisasi Departemen; 3. Keputusan Presidcn Nomor 278/M Tahun 1997, tentang Pengangkatan Direktur Jenderal Bina Marga; 4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 211/KPTS/1984 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; 5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 111/KPTS/1995 tentang Panitia Tetap dan Panitia Kerja serta Tata Kerja Standardisasi Bidang Pekerjaan Umum; 6. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 28/KPTS/1995 tentang Pembentukan Panitia Kerja Standardisasi Naskah Rancangan SNI/Pedoman Teknik Bidang Pengairan/Jalan/ Permukiman; Membaca Surat Ketua Panitia Kerja Standardisasi Bidang Jalan Nomor UM 01 01-Bt.2005/768 tanggal 20 Desember 1999 tentang Laporan Panja Standardisasi Bidang Jalan. Memutuskan.../2.

MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA TENTANG PENGESAHAN LIMA BELAS PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Kesatu : Mengesahkan lima belas Pedoman Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga, sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ketetapan ini. Kedua : Pedoman Tenik tersebut pada diktum kesatu berlaku bagi unsur aparatur pemerintah bidang kebinamargaan dan dapat digunakan dalam perjanjian kerja antar pihak-pihak yang bersangkutan dengan bidang konstruksi. Keempat : Menugaskan kepada Direktur Bina Teknik, Direktorat Jenderal Bina Marga untuk: a. menyebarluaskan Pedoman Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga; b. memberikan bimbingan Teknik kepada unsur pemerintah dan unsur masyarakat yang bergerak dalam bidang kebinamargaan; c. menghimpun masukan sebagai akibat dari penerapan Pedoman Teknik ini untuk peyempurnaannya di kemudian hari. Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bahwa, jika terdapat kesalahan dalam penetapan ini, segala sesuatunya akan diperbaiki sebagaimana mestinya. 'I'embusan Keputusan ini disampaikan kepada Yth. : 1. Kepala Badan Penelitian dan pengembangan PU, selaku Ketua Panitia Tetap Standardisasi. 2. Direktur Bina Teknik Direktorat Jenderal Bina Marga, selaku Ketua Panitia Kerja Standardisasi Bidang Jalan. 3. Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan, selaku Sekretaris Panitia Kerja Standardisasi Bidang Jalan.

Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga Nomor : 76 /KPTS/Db/1999 Tanggal : 21 Desember 1999 PEDOMAN TEKNIK DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Nomor Urut JUDUL PEDOMAN TEKNIK NOMOR P'EDOMAN TEKNIK (1) (2) (3) 1 Pedoman Pelaksanaan Campuran Beraspal Dingin untuk 023/T/BM/I999 Pemeliharaan 2 Pedoman Pembuatan Aspal Emulsi Jenis Kationik 024/T/BM/1999 3 Pedoman Perencanaan Campuran Beraspal Panas dengan 025/T/BM/1999 Pendekatan Kepadatan Mutlak 4 Pedoman Perencanaan Bubur Aspal Emulsi (Slurry seal) 026/T/BM/1999 5 Jembatan untuk Lalu Lintas Ringan dengan Gelagar Baja Tipe Kabel, Tipe Simetris, Bentang, 125 meter (Buku 2) 027/T/BM/1999 6 Pedoman Penanggulangan Korosi Komponen Baja Jembatan dengan Cara Pcngecatan 028/T/BM/1999 7 Tata Cara Pelaksanaan Pondasi Cerucuk Kayu di Atas 029/T/BM/1999 Tanah Lembek dan Tanah Gambut 8 Tata Cara Pencatatan Data Kecelakaan Lalu Lintas (Sistem 030/T/BM/1999 3L) 9 Pedoman Perencanaan Geometrik Jalan Perkotaan 031/T/BM/1999 10 Pedoman Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki pada Jalan Umum 032/T/BM/1999 11 Persyaratan Aksebilitas pada Jalan Umum 033/T/BM/1999 12 Pedoman Pemilihan Berbagai Jenis Tanaman untuk Jalan 034/T/BM/1999 13 Pedoman Penataan Tanaman untuk Jalan 035/T/BM/1999 14 Pedoman Perencanaan Teknik Bangunan Perendam Bising 036/T/BM/1999 15 Tata cara Penentuan Lokasi Tempat Istirahat di Jalan Bebas Hambatan 037/T/BM/1999

DAFTAR ISI Keputusan Direktur Jenderal Bina Marga No. 76/KPTS/Db/1999 Tanggal 20 Desember 1999 DAFTAR ISI Halaman i BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Maksud dan Tujuan 1 1.2 Ruang Lingkup 1 1.3 Pengertian 1 BABII KETENTUAN 3 2.1 Umum 3 2.1.1 Keadaan Medan 3 2.1.2 Bahan 3 2.2 Teknik 3 2.2.1 Pelaksana 3 2.2.2 Peralatan 4 2.2.3 Bahan 4 BAB III CARA PELAKSANAAN 6 3.1 Persiapan 6 3.1.1 Penentuan Lokasi 6 3.1.2 Penyiapan Tanah Dasar 6 3.2 Pelaksanaan 7 3.2.1 Pemancangan Cerucuk Kayu dengan Tenaga 7 Manusia 3.2.2 Pemancangan Cerucuk denagan Alat Pemancang 8 3.2.3 Pemancangan Cerucuk dengan Back Hoe 8 3.2.4 Pemasangan Kepala tiang Cerucuk 9 3.3 Timbunan 11 3.3.1 Pemasangan Lapis Pemisah 11 3.3.2 Penimbunan Material 12

LAMPIRAN A : DAFTAR ISTILAH 13 LAMPIRAN B : LAIN LAIN 14 LAMPIRAN C : DAFTAR NAMA DAN LEMBAGA

BAB I DESKRIPSI 1.1 Maksud dan Tujuan Tata cara ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi para pelaksana dalam melaksanakan pekerjaan pondasi cerucuk kayu di atas tanah lembek dan tanah gambut. Tujuannya adalah untuk mempermudah cara pelaksanaan pondasi cerucuk kayu di atas tanah lembek dan tanah gambut 1.2 Ruang Lingkup Tata cara ini mencakup ketentuan bahan, dan cara-cara pelaksanaan pembuatan pondasi cerucuk kayu di atas tanah lembek dan tanah gambut. 1.3 Pengertian 1) Tanah Lembek adalah tanah yang secara visual dapat ditembus dengan ibu jari minimum sedalam ± 25mm, atau mempunyai kuat geser 40 kpa berdasakan uji geser baling lapangan. Tanah lembek dapat terdiri atas tanah lembek anorganik dan organik 2) Tanah Lembek Anorganik adalah tanah lembek yang pada umumnya terdiri atas lempung atau lanau dengan kadar organik dari 0 % sampai dengan 25 % atau kadar abu dari 100 % sampai 75 %. 3) Tanah Lembek Organik adalah tanah lembek yang mengandung kadar organik 25 % sampai 75 % atau dengan kadar abu 75 % sampai dengan 25%. 4) Tanah Gambut adalah tanah organik yang mengandung kadar abu lebih kecil dari 25 % atau kadar organik 75 %.

5) Cerucuk Kayu adalah susunan tiang kayu dengan diameter atau ukuran sisi antara 8 dan 15 cm yang dimasukkan ke dalam tanah sehingga berfungsi sebagai pondasi. 6) Kepala Cerucuk adalah sesuatu konstruksi yang berfungsi untuk menyatukan kelompok tiang dalam menerima beban. Kepala cerucuk dapat berupa pengapit dan tiang-tiang kayu, matras, kawat pengikat, papan penutup atau balok poer.

BAB II KETENTUAN 2.1 Umum 2.1.1 Keadaan Medan 2.1.2 Bahan 1) Pada umumnya tanah lembek dan tanah gambut banyak terdapat di daerah rawa dengan muka air cukup tinggi, sehingg sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan konstruksi. 2) Umununya dipengaruhi pasang surut, yang sangat berpengaruh terhadap elevasi rencana kepala tiang. 3) Pada permukaan lahan sering dijumpai tunggul-tunggul kayu, yang umumnya tidak perlu dicabut. 1) Kulit kayu untuk bahan cerucuk tidak perlu dikupas. 2) Cerucuk kayu yang digunakan dapat berupa batang kayu atau hasil olahan dengan spesifikasi seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Persyaratan Cerucuk kayu Uraian Persyaratan Diameter Minimum 8 Cm,, maksimum 15 cm Panjang Minimum 3,5m, maksimum 6 in Kelurusan Cukup lurus, tidak belok dan bercabang Kekuatan Minimum kelas kuat II I PKKI 1973 Tegangan Minimum Was kuat III untuk mutu A PKKI 1973

2.2 Teknik 2.2.1 Pelaksanaan 1) Pemancangan cerucuk kayu dapat menggunakan tenaga manusia, alat pancang cerucuk atau dengan Back Hoe. 2) Lantai kerja, dengan muka air cukup tinggi, maka lokasi pemancangan cerucuk dapat diurug terlebih dahulu dengan material setempat. Bila menggunakan alat pancang cerucuk harus diberi landasan dari balok atau papan kayu. 3) Diatas pondasi cerucuk kayu yang diberi kepala tiang yang selanjutnya dibentuk timbunan badan jalan sesuai dengan spesifikasi bahan timbunan yang diuraikan pada lampiran B (diambil dari seksi 3.2, Spesifikasi Umum, Volume 3, Bina Marga), 1992. 4) Pelaksanaan cerucuk kayu harus sesuai dengan pedoman yang diuraikan dalam Tata Cara Perencanaan Pondasi di Atas Tanah Lembek, Organik dan Tanah Gambut. 2.2.2 Peralatan 1) Gergaji kayu 2) Kapak 3) Palu 5 kg 4) Linggis 5) Cangkul 6) Alat pengangkut tanah 7) Alat pancang cerucuk 8) Alas pemukul tiang 9) Perancah atau platform dari susunan drum-drum dan papan kayu 10) Back Hoer 11) Mesin Las

2.2.3 Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaanpembuatan pondasi cerucuk kayu di atas tanah lembek dan tanah gambut adalah sebagai berikut. 1) Lantai Kerja Berupa bahan lokal setempat yaitu tanah lempung, tanah organik, pasir kuarsa, dengan cara PLTB (Penyiapan Lahan Tanpa Bakar). 2) Bahan Timbunan Disesuaikan dengan persyaratan (biasanya sesuai dengan seksi3.1, Spesifikasi Bina Marga dalam Spesifikasi Umum Volume 3, lihat Lampiran B). 3) Kepala Tiang 1. Papan kayu 2. Tiang kayu dengan dimensi dan kekuatan yang sama dengan cerucuk. 3. Paku panjang minimum 1,5 diameter kayu yang akan dipaku 4. Tanah yang telah distabilisasi sehingga berfungsi untuk menyatukan kelompok tiang dalam menerima beban dan penyeragaman penurunan. 5. Kawat untuk mengikat tiang-tiang satu sama lain. 6. Pelat besi penutup tiang.

BAB III PELAKSANAAN 3.1 Persiapan 3.1.1 Penentuan Lokasi 1) Pasang patok-patok ukur untuk menentukan lebar dan panjang pondasi. 2) Tentukan tempat kedudukan tiang-tiang cerucuk yang akan dipancang dan diberi tanda dengan menggunakan patok-patok (lihat Gambar 1) Gambar 1.Persiapan Perletakan Cerucuk Kayu Keterangan: b = Lebar pondasi + Patok tanda penempatan cerucuk (dilihat dari atas) Tanda penempatan cerucuk (dilihat dari sampimg) 3.1.2 Penyiapan Tanah Dasar Lakukan penyiapan tanah dasar sesuai dengan gambar rencana dan lakukan hal-hal sebagai berikut: 1) Bersihkan tanah dasar yang dapat mengganggu pelaksanaan. 2) Ratakan lahan dengan cara Penyiapan lahan Tanpa Bakar (PLTB).

3) Bila rnuka air mencapai pcrmukaan tanah, maka timbun tanah dasar sehingga muka tanah timbunan di atas muka air. 3.2 Pelaksanaan 3.2.1 Pemancangan Cerucuk Kayu dengan Tenaga Manusia 1) Runcingkan bagian ujung bawah cenrcuk kayu agar mudah rnenembus ke dalam tanah. 2) Pasang perancah atau platform sedemikian rupa sehingga orang dapat dengan mudah memukul kepala tiang pada ketinggian tertentu (lihat Gambar 2). 3) Ratakan bagian ujung tiang yang akan dipukul dan beri topi tiang. 4) Tegakkan tiang cerurcuk dan masukkan sedikit ke dalarn tanah agar dapat dipukul dcngan stabil dan tetap tegak lurus. 5) Pukul tiang dengan palu pcmukul pada ujung atas cenrcuk yang sudah diberi topi sampai kedalaman rencana.

Gambar 2. Pemancangan Tiang Cerucuk dengan Tenaga Manusia 3.2.2 Pemancangan Cerucuk dengan Alat Pancang 1) Siapkan alat pancang tiang cerucuk dengan kedudukan yang dapat menjangkau pekerjaan pemancangan seefektip mungkin. 2) Siapkan tiang cerucuk pada kedudukan rencana. 4) Pasang tiang cerucuk berikut topi pemukulnya pada alat pancang, dan pastikan tiang berdiri tegak lurus. 5) Catat penurunan pemancangan sampai kedalaman rencana minimum 1 tiang untuk setiap 5 m kearah memanjang jalan.

Gambar 3. Pemancangan Cerucuk dengan AIat Pancang 3.2.3 Pemancangan Cerucuk dengan Back Hoe 1) Sipkan lantai kerja yang tcrdiri atas baok-balok kayu atau papan untuk operasional Back Hoe. 3) Siapkan sejunllah tiang yang akan dipancang pada tempat kedudukannya. 4) Tegakkan tiang pada posisi kedudukan rencana dengan bantuan tenaga manusia 5) Operasikan Bac khoe, dan pastikan bagian mangkok (Bucket) akan menekan tiang secara tegak lurus. 6) Tekan tiang dengan Bucket sampai masuk tanah sesuai dengan kedalaman rencana.

3.2.4. Pemasangan Kepala Tiang Cerucuk 1) Kepala Tiang dari Balok Kayu atau Papan a. Sistim Paku Hubungkan kepala tiang dcngan cenicuk mcn<s i inakan paku, yang dipakukan dart atas kepala tiang sampai masuk ke daam tiang cenicuk pada barisan arah melintang jalan. Agar tiang cenicuk menjadi satu kesatuan maka pada arah memanjang jalan dapat dipasang balok kayu atau papan dengan jarak dari sumbu ke sumbu 1,00 meter yang menumpu pada kepala tilling ar h mchntang jalan dan diperkuat deng.in paku (Gambar 4). Gambar 4. Hubungan Kepala Tiang dengan Ujung atau Cerucuk menggunakan Paku b. Sistiin Gapit Hubungan kepala tiang dengan cerucuk dibuat Sistim gapit.diperlukan 2 (dua) balok kayu arah melintang jalan untuk menggapit 1 (satu baris) cerucuk arah melintang jalan dengan cara dipaku. Arah sejajar memanjang jalan juga diberi kepala tiang dengan jarak sumbu ke sumbu 1,00 meter (Gainbar 5).

Gambar 5. Hubungan antara Kepala Tiang dengan Cerucuk dengan Sistim Gapit diperkuat Paku 6) Kepala Tiang dari Matras a. Buat lantai kerja untuk hamparan matras, dari bahan timbunan lokal yang berfungsi untuk meratakan tempat dudukan matras. b. Hampar matras, yang dapat. terdiri atas stabilisasi tanah dengan semen atau beton kurus. Usahakan agar bagian ujung atas cerucuk menyatu dengan matras pada ketebalan rencana (Gambar 6). Gambar 6. Matras sebagai Kepala Tiang Cerucu 7) Kepala Tiang dari Ikatan Kawat a. Tipe ikatan kepala (Gambar 7a)

i. Ikatkan bagian ujung atas tiang cerucuk dengan kawat,yang dihubungkan satu sama lain. ii. Pasang batang-batang kawat sebag l pcrkuatan yang inenyikung dan mengelilingi bagian atas tiang. b. Tipe Silang (Gambar 7b) i. pasang topi baja pada ujung atas tiang cerucuk. ii. Ikatkan pcrkuatan kawat dengan Las titik pada tiap ujung cerucuk. 3.3 Timbunan a. Tipe Ikatan Kepala b. Tipe Silang Gambar 7. Ikatan Kawat sebagai Kepala Tiang 3.3.1 Pemasangan Lapis Pemisah Lapis pemisah dipasang untuk mencegah lolosnya bahan timbunan yang melewati celah-celah kepala tiang. Bahan pemisah menggunakan geotekstil lokal atau dari bilik bambu. pasang bahan lapis pemisah selebar permukaan kepala tiang yang telah dipasang, dengan diberi tambahan lebar satu meter pada bagian kiri dan kanannya (lihatgambar8).

Gambar 8. Pemasangan Lapis Pemisah di Atas Kepala Cerucuk 3.3.2 Penimbunan Material 1) 'I'ebal tinbunan jalan minimum satu meter. 2) Bila lapis pemisah merupakan bahan hasil pabrikasi, timbunan lapisan pertama setebal ½ m padat harus berupa tanah berbutir. 3) Bila digunakan lapis pemisah anyaman bambu (bilik) maka timbunan lapis pertama 1/2 m padat tidak perlu digunakan tanah berbutir, tetapi tidak disarankan menggunakan bahan dari tanah organik atau tanah gambut. 4) Lapis timbunan berikutnya menggunakan bahan timbunan scsuai dengul persyaratan atau spesifikasi yang terdapat pada Seksi 3.1, Buku Volume 3: Spesifikasi Umum, Bina Marga.

LAMPIRAN A DAFTAR ISTILAH saling tindih bahan pemisa : overlap : separator

LAMPIRAN B LAIN LAIN Spesifikasi Bahan Timbunan (Seksi 3.1 Spesifikasi Umum Volume 3, Bina Marga) Jenis Urugan Spesifik:asi Keterangan 1 2 3 I. Un~gati.diiasa Tidak tenuasuk jeius tanah plastisitas tinggi (A-7-6 atau CI-I) Klasilikasi AASI IT O AI-145 atau klasil - ikasi unified. Bila pengguaan tanah plastisitas tinggi tidak dapat dihiudarkan, bahan tersebut hams digunakan hanya pada bagian dasar dan unigau atau pada umgan kemb;di yang tidak meuiedukau daya dukung yang tiuggi. Tanah plastis seperti itu tidak boleh digunakan saina sekali pada lapisan 30 cm di bawah tanah perkerasan alai balm. CBR >_ (%. sctelah pereudam:ui 4 hari dan dipadatkan 100/ kepadatan keiing maksinwm sesuai dengan SN I- 1742-1989-F. Tanah dengan pengembangan tiuggi yang unemilild nilai aktif > 1,25 tidak boleh diguuakan. Nilai aktif diukur sebagai perbandingan antara PI dan persentase ukuran leoqumg. 2. Untgan l'ilihau Memeuuhi persyaratan umgarn biasa. CBR>10"P ;P ;- setclah 4 had 1wremtaman bila dipadatkau sampai 100"/~. kepadatan kening maksimmn, sesuai dengan SN I- 1742-1989-F.

1 2 3 Bila diguuakan pemadatan dalam keadaan jenuh atau banjir tidak dapat dihindari, maka urugan pilihan barus digunakan pasir atau kerikil atau bahan berbutir bersih lainnya dengan indeks plastisitas maksim 6%. Bila digunakan pada lereng atau pekerjaan stabilisasi timbunan atau pada situasi lainnya yang kuat gesernya penting tetapi dijumpai kondisi pemadatan normal dan kering, maka urugan pilihan dapat digunakan kerikil lempung bergradasi baik atan lempung berpasir atau lempung berplastisitas rendah. Tipe bahan yang dipilih tegantung pada kecuraman lereng atau pada tekanan yang akan dipikul.

LAMPIRAN C DAFTAR NAMA DAN LEMBAGA 1). Pemrakarsa Pusat Penelitian dan Pengembangan jalan, Badan Penelitian dan Pengembangan PU. Direktorat Bina Teknik, Direktora Jenderal Bina Marga 2). Penyusun : 4). Kelompok Kerja Bidang Geoteknik Jalan Ir. Suhaimi Daud Pusat Litbang Jalan (SK Ketua Panja No.: 13/KPTS/Bt/1999) Ketua: 3). Tim Pembahas : Ir. Hartom, M.Sc Ditjen Bina Marga DR. Ir. Hedy Rahadian, M.Sc Pusat Litbang jalan W akil Ketua: Ir. Lanny Hidayat Ditjen Bina Marga DR. Ir. Hedy Rahadian, M.Sc Pusat Litbang lalan Ir. Suhaimi Daud Pusat LitbangJalan Anggota: Ir. Slamet Prabudi Pusat Litbang lalan Ir. Djoko Slistyono, MSc Ditjen Bina marga Drs. Oman Suherman Pusat LitbangJalan Ir. Didt Irahadi Ditjen Bina Marga Ir. Lanneke Tristanto Pusat Litbang lalan Ir. Gjw Fernandez Ditjen Bina Marga Ir. Edy Sunaryo Pusat LitbangJalan Ir. Eddy Soenaryo, MSc Ditjen Bina Marga Term Rustandie, BE Pusat Litbang lalan Ir. Herman Tjahyati, MSc Ditjen Bina Marga Ir. Saroso BS Pusat Litbang Jalan Drs. HM. Suherman Pusat LitbangJalan Zubirhan Lubis, BE Pusat Litbang lalan Ir. Suhaimi Daud Pusat Litbang lalan Ir. Benny Mustafa Pusat Litbang lalan Ir. And: Renald Pusat Litbang lalan Ir. Saroso BS Pusat Litbang lalan Ir. Theo Nayoan Pusat Litbang lalan Ir. Agus Sumaryono, DipLlng Pusat Litbang Pengatran Ir. Tatang Sutardjo, NISc Pusat Litbang Pengairan DR. Ir. Isdiana, MSc Pusat Litbang Pengairan Ir. Rismantoyo Pusat Litbang Pengairan Ir. Habibbullah Rots Assosiasi Prolzsi Ir. Willy Tumewu, M.Sc Assostasi Protest DR. Ir. Paulus Pramono R., M.Sc. Perguruan TinggiDR. Ir. Nlashur Irsam, hisc Pergunian Tinggi