I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BABI PENDAHULUAN A.LatarBelakang Sumber Daya Manusia merupakan aspek penting dalam melakukan suatu kegiatan budidaya, karena tanpa sumber daya

BUDIDAYA TIRAM. Di Malaysia sedikitnya ada dua jenis dari marga Crassostrea yaitu C. cucullatus dan C. rivalaris.

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March :22

TEKNIK BUDIDAYA LAUT TIRAM MUTIARA DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA Pinctada maxima METODE DONOR SPERMA DAN THERMAL SHOCK DI BALAI BUDIDAYA LAUT LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) BUDIDAYA MUTIARA

Teknik pembenihan ikan air laut Keberhasilan suatu pembenihan sangat ditentukan pada ketersedian induk yang cukup baik, jumlah, kualitas dan

LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M :

DINAMIKA EKOSISTEM PERAIRAN BUDIDAYA TIRAM DAN PEMANFAATANNYA. IRMA DEWIYANTI, S.Pi., M.Sc

Deskripsi. METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus)

JENIS POLIKAETA YANG MENYERANG TIRAM MUTIARA PINCTADA MAXIMA DI PERAIRAN PADANG CERMIN, LAMPUNG

Pembesaran udang galah Macrobrachium rosenbergii kini mengadopsi

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)

BAHAN DAN METODE. Bahan. Hewan uji yang digunakan tiram mutiara jenis Pteria Penguin sebanyak

PEMBENIHAN TERIPANG PUTIH (Holothuria scabra)

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV GAMBARAN UMUM 4.1 Profil Mutiara Karakteristik Mutiara Warna mutiara Lustre mutiara

BAB I PENDAHULUAN. memberikan beberapa kontribusi penting bagi masyarakat Indonesia. sumber daya alam dan dapat dijadikan laboratorium alam.

USAHA PEMBENIHAN IKAN (salah satu faktor penentu di dalam usaha budidaya ikan)

II. TINJAUAN PUSTAKA. seperti kijing, kaung-kaung, kapal kapalan, kedaung dan kemudi kapal. Menurut

APLIKASI PERBAIKAN MANAJEMEN DALAM PERBENIHAN TIRAM MUTIARA (Pinctada Maxima)

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

II. METODOLOGI 2.1 Prosedur Pelaksanaan Penentuan Betina dan Jantan Identifikasi Kematangan Gonad

Pengenalan Jenis-jenis Kima Di Indonesia. Kima Lubang (Tridacna crosea)

FILUM MOLLUSCA KELOMPOK 1

BAB I PENDAHULUAN UMUM

II. TINJAUAN PUSTAKA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) SAGO

BUDIDAYA LOBSTER (Panulirus sp.) DI VIETNAM DAN APLIKASINYA DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbesar di dunia,

KARYA ILMIAH MERAIH SUKSES DENGAN BISNIS BUDIDAYA IKAN LELE

Penanganan induk udang windu, Penaeus monodon (Fabricius, 1798) di penampungan

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

HIDROSFER VI. Tujuan Pembelajaran

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata

Sebagai acuan / pedoman pelaku percontohan budidaya lele dengan menggunakan pakan (pellet) jenis tenggelam.

bio.unsoed.ac.id di alternatif usaha budidaya ikan air tawar. Pemeliharaan ikan di sungai memiliki BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA DI PERAIRAN MENGALIR

1. PENDAHULUAN. berkembang pada substrat dasar yang kuat (Andi dan Sulaeman, 2007). Rumput laut

Karamba jaring apung (KJA) kayu untuk pembesaran ikan kerapu di laut

monovalve dan menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pada umumnya berbentuk

KAJIAN FAKTOR LINGKUNGAN HABITAT KERANG MUTIARA (STADIA SPAT ) DI PULAU LOMBOK, NUSA TENGGARA BARAT

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T

BAB II DESKRIPSI (OBJEK PENELITIAN)

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)

Peluang Usaha Budi Daya Ikan Lele

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Volume 6, No. 2, Oktober 2013 ISSN:

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/KEPMEN-KP/2016 TENTANG

II. TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia sebagai negara kepulauan terletak diantara samudera Pasifik dan

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan sumber utama untuk

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok Jawa Barat.

PENGKAYAAN STOK TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU

DAYA PENEMPELAN LARVA KERANG MUTIARA (Pinctada maxima) PADA KOLEKTOR DENGAN POSISI TEBAR DAN KEDALAMAN BERBEDA

Oleh: Tinggal Hermawan BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT AMBON DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN RI

SNI : Standar Nasional Indonesia. Benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas benih sebar

MODUL: PENEBARAN NENER

BUDIDAYA IKAN BELUT ( Synbranchus )

PENGARUH TAMBAHAN CANGKANG KERANG TERHADAP KUAT BETON

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) GALUNGGUNG SUPER

PEMIJAHAN LELE SEMI INTENSIF

BAB III BAHAN DAN METODE

3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

Harga tiap varietas dan ukuran Ikan Maskoki berbeda-beda. Namun yang paling menentukan

CARA PENANGKAPAN IKAN HIAS YA NG RA MA H LINGKUNGA N

I. PENDAHULUAN. Kepiting bakau (Scylla serrata) dapat dijumpai hampir di seluruh perairan pantai. Kepiting

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SPAT TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) DI PERAIRAN TERNATE SELATAN PULAU TERNATE

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Struktur Morfologis Klasifikasi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Budidaya Laut (BBL) stasiun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IKAN LOU HAN (Cichlasoma sp)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas

BAB I PENDAHULUAN. lain: waduk, danau, kolam, telaga, rawa, belik, dan lain lain (Wibowo, 2008).

Terbuka lebar peluang ekspor dari budidaya belut

SNI : Standar Nasional Indonesia. Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

BINGKAI BAMBU PENGGANTI POKET NET DALAM PEMELIHARAAN ANAKAN KERANG MUTIARA, Pinctada maxima. Pitjont Tomatala

BAB I PENDAHULUAN. ekonomis penting yang banyak dibudidayakan oleh petani. Beternak lele

PENDAHULUAN. perikanan laut yang sangat besar. Sebagai negara maritim, usaha budidaya laut


ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga. Pendahuluan

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 45/MEN/2006 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tergolong dalam genus Haliotis, hidup di zona intertidal sampai kedalaman 80-

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS LOBSTER

Beberapa contoh air, plankton, makrozoobentos, substrat, tanaman air dan ikan yang perlu dianalisis dibawa ke laboratorium untuk dianalisis Dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada prinsipnya, moluska bercangkang berpeluang menghasilkan mutiara secara alami. Namun tidak semua kerang bisa menghasilkan mutiara yang bagus dan memiliki nilai beli yang lumayan. Kerang penghasil mutiara umumnya berasal dari famili Pteriidae yang hidup di laut. Sedangkan moluska lain penghasil mutiara yang sejauh ini dikenal berasal dari kelompok abalone dan beberapa gastropoda lain serta beberapa jenis kerang bivalvia air tawar. Setiap jenis kerang mutiara menghasilkan mutiara dengan spesifikasi yang berbeda. Pinctada maxima menghasilkan mutiara relatif lebih besar dari semua jenis kerang penghasil mutiara, berwarna perak, emas dan krem. Jenis ini banyak dibudidayakan di Indonesia, Birma, Thailand dan Australia. Sedangkan kerang jenis Pinctada margaritifera merupakan primadona negara-negara pasifik selatan. Mutiara yang dihasilkannya bervariasi dari warna krem sampai warna hitam. Warna hitam merupakan warna yang diminati pelanggan mutiara dunia saat ini. Dengan demikian harganya sangat mahal. Diameter mutiara yang dihasilkan umumnya lebih kecil daripada yang diproduksi Pinctada maxima. Sementara Pinctada fucata adalah jenis yang banyak dibudidayakan di Jepang dan Pteria penguin tidak banyak dibudidayakan karena sejauh ini hasilnya diperuntukkan hanya pada kalangan tertentu mengingat bentuk mutiara yang dihasilkannya umumnya tidak bundar. Mutiara semula hanya diperoleh dari tiram mutiara yang hidup alami di laut. Berkat kemajuan teknologi saat ini, mutiara sudah dapat dibudidayakan, walaupun sebagian besar teknologinya masih didominasi atau dikuasai oleh bangsa lain. Di negara kita tiram mutiara yang banyak dibudidayakan adalah jenis Pinctada maxima. Jenis ini banyak ditemukan di perairan Indonesia Bagian Timur (Maluku, Nusa Tenggara Timur/ Barat, Sulawesi, Irian Jaya dan gugusan laut Arafura). Indonesia memiliki laut yang begitu luas dengan kondisi perairan yang sangat baik untuk usaha budidaya tiram mutiara serta iklim tropis sehingga 1

pertumbuhan lapisan mutiara dapat terjadi sepanjang tahun. Satu butir mutiara asli yang beratnya 3 gram harganya bisa mencapai lebih dari Rp.2.000.000,-. Usaha budidaya tiram mutiara prospeknya sangat menjanjikan, selain menambah lapangan pekerjaan usaha ini dapat menyumbang sumber devisa Negara karena permintaan mutiara di Negara-negara maju sangat tinggi. Umumnya mutiara dijadikan sebagai barang perhiasan serta sebagai bahan kosmetik maupun obatobatan dan hanya mampu dimiliki oleh masyarakat ekonomi menengah ke atas B. Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui cara pembudidayaan tiram mutiara sedangkan manfaatnya diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk melakukan penelitian tentang tiram mutiara serta dapat dijadikan sebagai sumber acuan atau informasi bagi pembaca. C. Perumusan Masalah Mutiara sebenarnya terbentuk akibat respon dari tiram untuk menolak rasa sakit oleh akibat masuknya benda asing ke dalam tubuhnya misalnya pasir. Mantel yang menyelimuti inti mutiara merupakan jaringan hidup yang dapat membentuk suatu lapisan mutiaran yang mengelilingi inti tersebut dan berlangsung secara alamiah, hingga terbentuk mutiara alam. Mutiara dari laut dapat ditemukan pada tiram, sedangkan mutiara dari perairan tawar pada kerang atau kijing. Banyak jenis tiram yang dapt memproduksi benda keras dalam tubuhnya, tetapi sedikit yang dapat memperlihatkan warna sehingga dapat digolongkan sebagai batu permata mutiara. Permasalahan yang dihadapi dalam membudidayakan tiram mutiara di Indonesia yaitu minimnya tenaga ahli atau terampil yang mampu mengembangkan usaha bididaya tiram untuk menghasilkan mutiara. Hal ini terbukti dengan banyaknya perusahaan mutiara yang sebagian besar dimiliki oleh Negara lain terutama Jepang. 2

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Tiram Mutiara Menurut Sutaman (1993), secara rinci jenis tiram mutiara dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Invertebrata Phyllum : Mollusca Klass : Pellecypoda atau Lamellibranchiata Orda : Anysomyaria Famili : Pteridae Spesies : Pinctada sp. Dan Pteria sp. Nama dagang : pearl oyster Jenis-jenis tiram mutiara yang ada di Indonesia umumnya adalah Pinctada maxima, P. margaritifera, P. fucuta, P. chemnitis dan Pteria penguin. Tetapi penghasil mutiara yang terpenting ada tiga jenis, yaitu Pteria penguin, Pinctada maxima dan, P. margaritifera. B. Morfologi dan Anatomi Organ bagian dalam dari tiram mutiara 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 3 Gonad Hati Perut Kaki Inti Mantel Otot adductor Otot retractor

Bentuk luar tiram mutiara seperti batu karang yang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kerang mutiara mempunyai sepasang cangkang yang disatukan pada bagian punggung dengan engsel untuk melindungi bagian dalam tubuh yang lunak agar terhindar dari benturan atau serangan hewan lain. Kedua belahan cangkang tidak sama bentuknya, cangkang yang satu lebih cembung dibanding lainnya. Sisi sebelah dalam dari cangkang terdapat nacre yang dapat membentuk lapisan mutiara dengan penampilan mengkilap. Gambar. Tiram Mutiara yang Telah Dibuka dan Menghasilkan Mutiara C. Kebiasaan Hidup Tiram mutiara jenis Pinctada sp. Banyak dijumpai di berbagai Negara seperti Filipina, Thailand, Myanmar, Australia dan perairan Indonesia yang menyukai hidup di daerah batuan karang atau dasar perairan yang berpasir dengan kedalaman 20 60 m. Cara makan tiram mutiara dilakukan dengan menyaring air laut dengan caramengambil makanan dilakukan dengan menggetarkan insang yang menyebabkan air masuk ke dalam rongga mantel. Kemudian dengan menggerakkan bulu insang, plankton yang masuk akan berkumpul di sekeliling insang, selanjutnya melalui gerakan labial palp plankton akan masuk ke dalam mulut. 4

D. Pertumbuhan dan Perkembangan Pertumbuhan tiram mutiara sangat tergantung pada suhu air, salinitas, makanan yang cukup dan persentase kimia dalam air laut. Tiram mutiara dapat tumbuh dengan baik pada musim panas dimana suhu air tinggi. Tiram mutiara adalah protandrous-hermaphrodite dengan kecenderungan perbandingan jantan : betina = 1 : 1, dengan adanya peningkatan umur. Pemijahan sering terjadi akibat perubahan suhu yang ekstrem atau tejadi perubahan lingkungan yang tiba-tiba. Pemijahan tiram mutiara di perairan tropis tidak terbatas hanya satu musim, tapi bisa sepanjang tahun. P. Margaritifera mendekati matang gonad pada tahun kedua, sedangkan P. maxima jantan matang gonad setelah berukuran cangkang 110-120 mm dalam tahun pertama hidupnya. Pertumbuhan merupakan aspek biologi yang penting bagi pembudidaya terkait dengan pendugaan keberhasilan usahanya. Tiram mutiara P.margaritifera mencapai ukuran diameter cangkang 7-8 cm dalam tahun pertama, dan mendekati ukuran sekitar 11 cm pada tahun kedua. Pertumbuhan jenis lain, P. maxima, mencapai diameter cangkang 10 16 cm pada tahun kedua. 5

III. PEMBAHASAN A. Wadah Pemeliharaan 1. Metode rakit Pada umumnya metoda rakit ini digunakan di perairan dengan kedalaman 5 m ke atas pada waktu air surut. Lokasi perairan untuk metoda rakit ini harus terlindung dari amukan angin dan gelombang. Spat-spat tiram dimasukkan dalam sangkar jaring atau dulang plastik, kemudian digantungkan pada rakit Gambar. Wadah pemeliharaan metode rakit Rakit apung selain sebagai tempat pemeliharaan induk, pendederan dan pembesaran, juga berfungsi sebagai tempat aklimatisasi (beradaptasi) induk pasca pengangkutan. Bahan rakit dapat dibuat dari kayu dengan ukuran 7m x 7m. selain kayu, bahan rakit dapat pula terbuat dari bambu, pipa paralon, besi ataupun alumunium. Bahan pembuat ini disesuaikan dengan anggaran, ketersediaan bahan, dan umur ekonomis. Untuk menjaga agar rakit tetap terapung, digunakan pelampung seperti pelampung yang terbuat dari styrofoam, drum plastik, dan drum besi. Agar rakit tetap kokoh, maka sambungan sambungan kayu diikat dengan kawat galvanizir. Apabila kayu berbentuk persegi, maka sambungan dapat menggunakan baut. Pemasangan rakit hendaknya dilakukan pada saat air pasang tertinggi dan diusahakan searah dengan arus air atau sejajar dengan garis pantai. Hal ini bertujuan untuk menghindari kerusakan rakit apabila terjadi gelombang besar. 6

Agar rakit tetap berada pada posisi semula, maka rakit diberi jangkar berupa pemberat yang terbuat dari semen seberat 50-60 kg. Tali jangkar yang digunakan antara 4-5 kali kedalaman tempat. Gambar. Rakit Pemeliharaan Untuk Tiram Mutiara 2. Metode cagak Pada lazimnya metoda cagak ini digunakan di perairan yang dangkal. Cagak yang terbuat dari batang-batang bambu atau kayu ditancapkan di dasar laut. Spat-spat tiram melekat pada cagak-cagak tersebut. Tiram-tiram yang sudah matang telur berangsur-angsur dipindahkan untuk mencegah terlampau berdesakkan. Gambar. Wadah pemeliharaan metode cagak 7

3. Metode dulang Dulang terbuat dari kawat ram tahan karat bermata 12,7 mm. Sebagai kerangkanya terbuat dari kayu. Metoda dulang ini biasanya digunakan di perairan yang dangkal dengan dasar pasir. Gambar. Wadah pemeliharaan metode dulang B. Penebaran Benih Benih yang telah terkumpul, baik dari pembenihan maupun dari kolektor (penangkapan di alam) dimasukkan ke dalam keranjang pemeliharaan yang telah disediakan. Setelah keranjang penuh kemudian diangkut kerakit pemeliharaan untuk digantung pada kedalaman 5 m atau bisa juga digantung pada palang cagak silang dengan kedalaman sama atau kurang dari 4 m. Untuk benih yang berukuran kurang dari 5 cm sebaiknya di pelihara dengan kedalaman 2 3 m. Pemeliharaan spat (benih) yang baru dipindahkan dari hatchery atau diperoleh dari kolektor, digunakan keranjang jaring ukuran 40 cm x 60 cm dengan kepadatan untuk 8 12 kerang/keranjang. Untuk spat ukuran 2-3 cm dipelihara dalam keranjang dengan lebar jaring ukuran 0,5 1 cm. Lebar mata jaring yang digunakan disesuaikan dengan ukuran spat. Semakin besar ukuran spat, maka digunakan jaring dengan mata jaring yang lebih besar pula agar sirkulasi air dapat terjaga dengan baik. 8

Gambar. Keranjang Pemeliharaan Untuk Tiram Mutiara C. Pakan Tiram mutiara mengkonsumsi pakan alami berupa plankton yang ada diperairan tersebut, sehingga selama pemeliharaan tidak diberi pakan tambahan. Untuk itu perairan yang dipilih hendaklah memiliki kesuburan yang tinggi agar tiram tidak kekurangan makanan. D. Perawatan Tiram dan Wadah Budidaya Tiram mutiara yang dipasangi inti mutiara perlu dilakukan pengaturan posisi pada waktu awal pemeliharaan, agar inti tidak dimuntahkan keluar. Disamping itu tempat dimasukkan inti pada saat operasi harus tetap berada dibagian atas. Pemeriksaan inti dengan sinar-x dilakukan setelah tiram mutiara dipelihara selama 2-3 bulan, dengan maksud untuk mengetahui apabila inti yang dipasang dimuntahkan atau tetap pada tempatnya. Pembersihan cangkang tiram mutiara harus dilakukan secara berkala agar tidak mengganggu tiram untuk menerap makanan, maksimal 3 4 bulan tergantung dari kecepatan/kelimpahan organisme penempel. Selain itu kondisi rakit atau keranjang pemeliharaan perlu di kontrol secara khusus, jangan sampai ada yang rusak atau rapuh dan jika itu terjadi segera diperbaiki. 9

Gambar. Keranjang Kawat Tiram Mutiara E. Pengendalian Hama dan Penyakit Hama dan penyakit dapat menyebabkan proses budidaya menjadi gagal, pertumbuhan tiram dapat terganggu bahkan dapat mematikan tiram, untuk itu perlu dilakukan pengendalian. Hama umumnya menyerang bagian cangkang. Hama tersebut berupa jenis teritip, racing, dan polichaeta yang mampu mengebor cangkang tiram. Hama yang lain berupa hewan predator, seperti gurita, bintang laut, rajungan, kerang hijau, teritip, golongan rumpu laut dan ikan sidat. Upaya pencegahan dengan cara membersihkan hama-hama tersebut dengan manual pada periode waktu tertentu. Penyakit tiram mutiara umumnya disebabkan parasit, bakteri, dan virus. parasit yang sering ditemukan adalah Haplosporidium nelsoni. Bakteri yang sering menjadi masalah antara lain Pseudomonas enalia, Vibrio anguillarum, dan Achromobacter sp. Sementara itu, jenis virus yang biasanya menginfeksi tiram mutiara adalah virus herpes. Upaya untuk mengurangi serangan penyakit pada tiram mutiara antara lain a) Selalu memonitor salinitas agar dalam kisaran yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tiram, b) Menjaga agar fluktuasi suhu air tidak terlalu tinggi, seperti pemeliharaan tiram tidak terlalu dekat kepermukaan air pada musim dingin, c) Lokasi bodi daya dipilih dengan kecerahan yang cukup bagus, dan d) Tidak memilih lokasi pada perairan dengan dasar pasir berlumpur. 10

IV PENUTUP Tahapan- tahapan dalam produksi mutiara pada tiram mutiara adalah sebagai berikut. a) Memilah-milah tiram dewasa untuk disuntik. pemilihan didasarkan atas ukuran, umur dan kondisi kesehatan tiram. b) Menyiapkan potongan mantel berukuran sekitar 4-5 mm 2 dan inti berukuran 3,03-9,09 mm. potongan mantel (saibo) tersebut diambil dari tiram yang secara sengaja disiapkan/ dikorbankan untuk keperluan itu. c) Preconditioning (Melemahkan) tiram untuk memudahkan pembukaan cangkang sewaktu penyuntikan inti da trasplantasi potongan mantel atau saibo. d) Menoreh irisan pada pangkal kaki menuju dekat gonad. Ke dalam torehan tersebut disisipkan inti dan saibo yang diletakkan bersinggungan. e) Mengangkat ganjal baji dan menutup cangkang, lalu meletakkan tiram ke dalam keranjang. Keranjang tersebut terbuat dari jaring berbentuk empat persegi panjang. Untuk tiap keranjang ukuran 40 cm x 60 cm, diletakkan 8 12 ekor tiram. f) Merawat tiram dengan cara membersihkan keranjang dan cangkang luar, membalikkan tiram dan memeriksa apakah mutiara sudah terbentuk atau belum dengan menggunakan sinar x-ray. Perawatan ini dilakukan setiap 4 hari selama 2 bulan, kecuali pemeriksaan dengan sinar x-ray. g) Memindahkan tiram ke dalam wadah pemeliharaan berbentuk keranjang berkantong terbuat dari jaring. Dalam tiap lempeng terdapat 4 buah kantong. Setiap kantong diisi seekor tiram. Wadah tersebut digantung pada bentangan tambang atau longline. Tiram dan kantong dibersihkan setiap bulan. 11

DAFTAR PUSTAKA Agromania. 2007. Seputar Budidaya Tiram Mutiara. http://dir.groups.yahoo.com/ group/agromania/message/10652 Blogspot.com. 2009. Budidaya Tiram Mutiara. http://hobiikan.blogspot.com/ 2009/04/budidaya-tiram-mutiara.html Sutaman. 1993. Tiram Mutiara, Teknik Budidaya dan Proses Pembuatan Mutiara. Kanisius. Yogyakarta. 78 hal Trobos.com. 2007. Bisnis Mutiara: Modal Masih Kendala. http://www. trobos.com/show_article.php?rid=14&aid=583 Wordpress.com. 2008. Aspek Produksi Budidaya Mutiara. http://ikanmania. wordpress.com/2008/01/23/aspek-produksi-budidaya-mutiara/ 12

Lampiran Gambar. Bak Pencucian Tiram Mutiara dari Fiberglass Gambar. Cangkang Luar dan Bagian dalam dari Cangkang Tiram Mutiara Gambar. Mutiara Yang Siap Dijual 13

Gambar. Alat Yang Digunakan Untuk Memasukkan Mantel dan Inti Gambar. Operasi Untuk Penyisipan Mantel dan Inti ke dalam Nucleus Gambar. Penyiapan saibo atau potongan mantel 14