Darwin H Pangaribuan NPM

dokumen-dokumen yang mirip
Misiologi David Bosch

TATA GEREJA PEMBUKAAN

GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN

BAGIAN II--TEOLOGI KISAH PARA RASUL. l. Lukas adalah seorang Yunani, bukan seorang Yahudi-- Kol. 4:l0- l4

UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB III Tuntutan Ketaatan terhadap Pertumbuhan Gereja

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gereja Oikumenikal dan Evangelikal.

RENUNGAN KITAB 1Timotius Oleh: Pdt. Yabes Order

Pertanyaan Alkitab (24-26)

Yesus yang Asli. oleh Kermit Zarley

BAB IV TINJAUAN TEOLOGIS TERHADAP PENGHAYATAN ROH KUDUS JEMAAT KRISTEN INDONESIA INJIL KERAJAAN DI SEMARANG

Pendidikan Agama Kristen Protestan

SAUDARA MEMPUNYAI PENOLONG

Gereja Membaptis Orang Percaya

Gereja Memberitakan Firman

MENGAPA KITA HARUS BERBAHASA ROH? Bagian ke-1

MARILAH KITA PELAJARI RENCANA KESELAMATAN MENURUT ALKITAB BANGUNLAH, BERILAH DIRIMU DIBAPTIS (2)

BAB I PENDAHULUAN. beberapa tahap ketika kekristenan mulai berkembang tanah air Indonesia.

MARILAH KITA PELAJARI RENCANA KESELAMATAN MENURUT ALKITAB GEREJA YANG YESUS DIRIKAN

Pokok-Pokok. Iman. Gereja. Pendalaman Teologis Syahadat. Emanuel Martasudjita, Pr

Pendidikan Agama Kristen Protestan

Surat Roma ini merupakan surat Paulus yang paling panjang, paling teologis, dan paling berpengaruh. Mungkin karena alasan-alasan itulah surat ini

KISI-KISI PENULISAN SOAL UJIAN SEKOLAH TAHUN PELAJARAN

Buku buku Perjanjian Baru

Pelajaran Tiga. Yesus Adalah Mesias. Dari kitab Injil Yohanes, kita membaca, " Andreas mula-mula bertemu dengan

Dasar Kebersatuan Umat Kristen. Efesus 2: Pdt. Andi Halim, S.Th.

BAB I PENDAHULUAN. sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi Tuhan dalam konsep Tritunggal.

Surat-surat Am DR Wenas Kalangit

DIPENUHI & DIBAPTIS DENGAN ROH KUDUS

Pendidikan Agama Kristen Protestan

Pendidikan Agama Kristen Protestan

Dalam pelajaran ini saudara akan mempelajari... Definisi Keselamatan Permulaan Memasuki Keselamatan Akibat-akibat Keselamatan

PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

Apa Gereja 1Uhan Itu?

BAB I PENDAHULUAN UKDW

Bagaimana Saya Menjadi Sebagian dari Gereja Tuhan

KISI-KISI PENULISAN SOAL. kemampuan

Berkenalan dengan PB. DR Wenas Kalangit. Bina Teologia Jemaat GKI Kavling Polri 23 Oktober 2007 Jakarta

Status Rohani Seorang Anak

Pendidikan Agama Kristen Protestan

Surat-surat Paulus DR Wenas Kalangit

RESENSI BUKU Keselamatan Milik Allah Kami - bagi milik

TRAINING BERTEMPAT DI GEREJA SESI 1 - Model Untuk Training Pelayanan

Siapakah orang Kristen Baptis dan Apa yang mereka percayai?

KEPUTUSAN PIMPINAN PUSAT GKPS Nomor: 99/SK-1-PP/2013 tentang TATA GEREJA dan PERATURAN RUMAH TANGGA GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN (GKPS)

BAPTISAN ROH KUDUS. Baptisan Roh Kudus Baptism in the Holy Spirit Halaman 1

UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Paham Dosa Kekristenan

Pertanyaan Alkitabiah Pertanyaan Bagaimanakah Orang Yang Percaya Akan Kristus Bisa Bersatu?

oleh Gereja Iuhan Apayang Dilakukan untuk Allah

Pembaptisan Air. Pengenalan

PENDAHULUAN INJIL MARKUS

Eksposisi Surat 1 Petrus: Penerima Surat 1Pet.1:1 2 Ev. Calvin Renata

BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN

BAB 27 Berdiam Diri dalam Pertemuan- Pertemuan Jemaat

TEOLOGI PETRUS Surat Pertama Petrus

Pertumbuhan Iman Menuju Kesempurnaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya, sebagai umat yang

OTORITAS PAULUS DAN INJIL

oleh Gereja 1Uhan Apa yang Dilakukan untuk Dunia Ini

PERINTAH YESUS DITURUTI (KISAH 2) contoh orang yang secara tepat menuruti pengaturan Yesus.

UKDW BAB I PENDAHULUAN

PENDIDIKAN TEOLOGI: PERAN STT DALAM PEMBERITAAN INJIL. Oleh: Pdt. Dr. Arnold Tindas

SPIRITUALITAS EKARISTI

MARILAH KITA PELAJARI RENCANA KESELAMATAN MENURUT ALKITAB. Kasih Allah Untuk Orang Berdosa

Mat. 16: Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Kristologi Dalam Paham Pluralisme Agama Suatu Kajian Kristologi Alkitabiah Terhadap Pandangan Kristologi Dalam Pluralisme. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam Perjanjian Baru terdapat empat Kitab Injil Yang menuliskan tentang kehidupan Yesus

Yesus Adalah Juru Selamat Manusia. pertanyaan : Mengapa manusia perlu seorang juru selamat? Apa artinya

LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran

UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi

KISI KISI PENULISAN SOAL ULANGAN KENAIKKAN KELAS SEMESTER GENAP ( II ) TAHUN

KISI KISI PENULISAN SOAL ULANGAN KENAIKAN KELAS SEMESTER GENAP (II) TAHUN PELAJARAN

Pada waktu itu Musa berkata kepada bangsanya tentang hal-ikhwal persembahan katanya,

KISI-KISI PENULISAN SOAL ULANGAN SEMESTER GENAP (II) TAHUN PELAJARAN

Firman Tuhan Datang Kepada Nabi William Marrion Branham

2: Perintah untuk Memuridkan Orang Lain BAGIAN PERTAMA: HIDUP YANG MEMURIDKAN ORANG LAIN (DISCIPLE MAKER)

BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan Dunia dalam berbagai bidang kehidupan mempengaruhi kehidupan

TUBUH KRISTUS. 1. Gambarkan dengan singkat datangnya Roh Kudus pada orang-orang percaya.

ROH KUDUS DAN JEMAAT Lesson 9 for March 4, 2017

Pdt Gerry CJ Takaria

Level 3 Pelajaran 6. RAJA DAN KERAJAAN-NYA Oleh Don Krow

Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a

KRISTUS TURUN DALAM KERAJAAN MAUT

PAULUS: RASUL UNTUK BANGSA LAIN. Lesson 1 for July 1, 2017

LOGIKA.

Misiologi David Bosch

Perumpamaan adalah: 1) kisah setempat/lokal/jasmani/sehari-hari tetapi mengajarkan kebenaran secara universal/global/

Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #38 oleh Chris McCann

Kebangkitan: Paskah Easter? atau Buah Pertama?

THE MISSION (part #A) - MISI (bagian #A)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I.1. PERMASALAHAN I.1.1.

Rencana Allah untuk Gereja Tuhan

SIKAP JEMAAT DALAM BERIBADAH

HUBUNGAN HUKUM TAURAT DENGAN ORANG PERCAYA PERJANJIAN BARU

SILABUS MATA PELAJARAN Satuan Pendidikan

Transkripsi:

TUGAS LAPORAN BUKU TRANSFORMASI MISI KRISTEN MATA KULIAH TEOLOGI MISI LANJUTAN Dosen Pengampu: Dr Drs Jerry Rumahlatu, M.Th. Darwin H Pangaribuan NPM 512036 PROGRAM PASCASARJANA TEOLOGI SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SYALOM BANDAR LAMPUNG 2013 0

Buku ini merupakan buku teks ( texbook ) wajib bagi mahasiswa sekolah teologia yang mengambil mata kuliah Missiologi. Buku setebal 849 halaman ini adalah buku klasik tentang teologi misi yang ditulis oleh David J. Bosch, seorang tokoh utama bidang miologi modern yang diterima oleh kalangan oikumenis dan evangelikal. Dari judul buku ini yaitu Transformasi Misi Kisten, sejarah teologi misi yang mengubah dan berubah, kita dapat segera menangkap makna tersirat dari isi buku ini. Misi yang mengubah mengandung arti misi yang dipahami sebagai usaha mengubah realitas, sedangkan misi yang berubah bermakna misi itu sendiri dapat berubah sesuai zamannya. Buku ini dimulai dengan pemahaman misiologi dalam versi ganda. Versi tunggal definisi misi adalah versi yang seragam dengan mengingat pengalaman misi masa lalu. Namun, Bosch memulai tesis buku ini, yakni versi jamak dari misi, yaitu mendefinisikan misi dengan meninjau perubahan-perubahan dalam misi selama 20 abad terakhir dari sejarah gereja Kristen. Buku ini terbagi atas 13 bab yang dirangkum dalam 3 bagian. Bagian I dan II dapat dikatakan sebagai, sesuai judul buku ini, adalah misi yang mengubah dunia pada zamannya. Bagian I berkisar model-model misi dalam perjanjian baru. Bagian I dapat dikatakan sebagai model-model misi masa lalu, yang dimulai dengan refleksi terhadap perjanjian baru sebagai sebuah dokumen misi (bab 1, hal 21 86). Dilanjutkan dengan Bab 2 (hal. 87 129) yang membahas dari tinjauan kitab Matius, misi sebagai proses pemuridan. Bab 3 (hal 130 191) membahas kitab Lukas sampai Kisah Para Rasul: mempraktikkan pengampunan dan solidaritas dengan kaum miskin. Bagian ini diakhiri dengan bab 4 (hal 192 284) membahas misi Paulus: undangan untuk bergabung dengan komunitas eskatologis. Bagian II menguraikan aneka paradigma historis tentang misi. Bab 5 (hal. 285 298) menjelaskan perubahan-perubahan paradigma dalam misiologi. Bab 6 (hal 299 333) menguraikan paradigma misi gereja timur. Bab 7 (hal 333 370) membahas paradigma misi Katolik Roma abad pertengahan. Bab 8 (hal 371 404) menguraikan paradigma 1

misi reformasi protestan. Bab 9 (hal 405 535) menjelaskan misi pada masa awal zaman pencerahan. Bagian III pada dasarnya menguraikan misi sebagai obyek yang dapat berubah sesuai zamannya. Bagian ini dimulai dengan munculnya paradigma pasca-modern (bab 10, hal 535 539. Dilanjutkan dengan bab 11 (hal557 564 ) tentang misi dalam tahap percobaan. Bab 12 (hal 565 784) menguraikan unsur-unsur paradigma misi oikumenis yang sedang muncul. Buku ini diakhiri dengan Bab 13 yang menjelaskan misi dalam berbagai cara. Penulis buku ini mengawali dengan keyakinan bahwa ada pergeseran paradigma yang dasariah dalam pemikiran misi, yaitu sejak datangnya Yesus dan apa yang terjadi sesudah itu. Perjanjian Baru tidak mencerminkan suatu pandangan yang seragam tentang misi. Sifat misi Yesus adalah inklusif. Misi-Nya mencakup yang miskin dan yang kaya, yang tertindas dan yang menindas, yang berdosa dan yang saleh. Penulis berkeyakinan bahwa Perjanjian Baru harus dipahami sebagai sebuah dokumen misioner. Injil Matius pada hakekatnya adalah teks yang misioner. Matius menulis kitabnya bukan untuk menyusun suatu riwayat Yesus, melainkan untuk memberikan bimbingan kepada suatu komunitas yang mengalami krisis tentang bagaimana mereka harus memahami panggilan dan misinya. Ungkapan dalam amanat agung ajarlah mereka untuk melakukan segala sesuatu mengacu kepada kotbah di bukit, yang merupakan intisari etika Kristen. Memahami kitab Matius harus memulai dari perspektif pasal terakhir tentang Amanat Agung. Berbeda dengan Matius yang menonjolkan Amanat Agung, dalam Injil Lukas banyak teolog, termasuk teologi pembebasan, mengacu pada kotbahyesus di kampungnya di Nazaret, disituyesus menerapkan nubuat Yesaya 61:1 kepada diri-nya. Lukas menulis kedua buku, yaitu Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Pesan sentral penulis Lukas adalah pertobatan dan pengampunan untuk semua bangsa ; ia harus mulai dari Yerusalem, dilaksanakan oleh saksi-saksi dan akan dicapai di dalam kuasa Roh Kudus. Unsur-unsur 2

ini merentang di seluruh Injilnya dan Kisah, yang mengikat kedua buku ini bersamasama. Paulus adalah teolog Kristen pertama dan misionaris Kristen pertama. Tiga strategi misi Paulus mula-mula adalah (1) berkotbah keliling yang berpindah-pindah, (2) orang-orang Kristen Yahudi berbahasa Yunani yang melaksanakan misi kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, (3) mengoreksi Injil yang keliru. Visi misioner Paulus bersifat mendunia. Motivasi misi Paulus adalah rasa bersyukur, rasa tanggung jawab dan rasa keprihatinan. Beberapa ciri paradigma misi Paulus adalah (1) gereja sebagai paguyuban baru; (2) misi di dalam konteks kemenangan Allah yang akan segera datang. Dalam bagian II penulis menekankan bahwa dalam penginjilan masa kini kita tidak perlu membandingkan dengan pola-pola penginjilan Matius, Lukas (PI untuk generasi pertama Kristen) dan Paulus (PI untuk generasi kedua Kristen). Lebih tepat, kita harus dengan kebebasan yang kreatif, namun bertanggungjawab, memperluas logika pelayanan Yesus dan jemaat perdana dalam cara yang imajinatif dan kreatif pada waktu dan konteks kita sendiri. Keseluruhan sejarah kekristenan dapat dibagi menjadi enam paradigma utama, yaitu (1) paradigma apokaliptik dari kekristenan perdana; (2) paradigma Helenis dari periode Bapa Gereja, (3) paradigma Katolik Roma Abad Pertengahan, (4) paradigma Protestan (Reformasi), (5) paradigma Pencerahan modern, (6) paradigma oikumenis. Dalam masa awal kekristenan, iman Kristen mengalami transformasi yaitu dari dari iman kristen memasuki dunia Yunani-Romawi. Yang penting pada masa itu adalah perilaku orang Kristen perdana dan bahasa kasih pada bibir dan kehidupan mereka. Dalam masa ini dilahirkan disiplin intelektual teologi dan rumusan-rumusan klasik tentang iman. Dalam pemikiran ortodoks, misi sepenuhnya berpusat kepada gereja. Sifat gerejawi misi berarti bahwa gereja adalah tujuan pemenuhan Injil, dan bukan alat atau sarana misi. Misi adalah pemanggilan orang untuk menjadi anggota dari paguyuban Kristen dalam bentuk konkret dan kelihatan. Dalam perspektif ortodoksi misi bersifat sentripetal dan bukan sentrifugal, organik dan bukan terorganisasi. 3

Periode abad pertengahan (tahun 600 1500) dimulai dengan kepausan Greogorius Agung dan dipengaruhi oleh semangat Yunani. Pada masa ini Augustinus menjadi teolog pertama yang dengan serius mengambil ajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman. Teologi Augustius cenderung menganggap keselamatan sebagai masalah pribadi dan mengabaikan dunia. Satu-satunya paradigma patristik Yunani adalah teks Yohanes 3:16. Sedangkan paradigma misi Katolik Roma abad pertengahan secara implisit ataupun eksplisit diambil dari teks Lukas 14:23. Gagasan ini hadir dan terus bekerja. Pada akhir abad pertengahan paradigma Katolik Roma mengalami krisis dan Martin Luther (1483 1546) memperkenalkan paradigma baru. Teks dalam Roma 1:16 adalah teks misi paradigma teologis Protestan dalam segala bentuknya yang beraneka ragam. Beberapa unsur Protestantisme pada kenyataannya adalah kelanjutan dari apa yang menjadi ciri model Katolik juga. Lima ciri teologi Protestan tentang misi, yaitu (1) pembenaran oleh iman adalah titik tolak teologi, (2) manusia harus dilihat dari perspektif kejatuhan ke dalam dosa sebagai ciptaan yang tersesat, (3) reformasi menekankan dimensi subyektif keselamatan, (4) imamat am orang percaya, (5) sentralitas kitab suci dalam kehidupan gereja. Misi pada awal zaman pencerahan ditandai dengan ciri-ciri pokok, yaitu (1) pencerahan adalah zaman penalaran, (2) pencerahan bekerja dengan skema subyek-obyek, (3) penghapusan maksud dari ilmu pengetahuan dan pengenalan kausalitas langsung sebagai kunci untuk memahami realitas, (4) keyakinannya akan kemajuan, (5) pengetahuan ilmiah itu bersifat faktual, bebas nilai, dan netral, (6) semua masalah pada prinsipnya dapat dipecahkan, (7) pencerahan menganggap manusia sebagai individu yang dibebaskan dan otonom. Dalam zaman pasca-modern membuktikan bahwa sains di dalam dirinya sendiri tidak bersikap bermusuhan dengan iman Kristen. Disini kita perlu mengambil yang terbaik dari sains modern, filsafat, metode historis dan analisis sosial dan terus menerus berpikir dan memikirkan ulang pemahaman teologis kita di dalam terang semuanya ini. 4

Dalam masa pencobaan gereja menyadari bahwa misi sedang menghadapi sebuah dunia yang secara hakiki berbeda dari apa pun yang pernah dihadapi sebelumnya. Hal ini menuntut pemahaman baru tentang misi. Tesis studi buku ini adalah bahwa dalam bidang agama, sebuah pergeseran paradigma selalu berarti kesinambungan dan perubahan, kesetiaan pada masa lampau dan keberanian untuk melibatkan masa depan, kesinambungan dan kemungkinan, tradisi dan transformasi. Bukannya Injil yang telah berubah; kitalah yang kini telah mulai memahaminya dengan lebih baik. Lima tipe gereja menurut Avery Dulles adalah gereja dapat dipandang sebagai lembaga, sebagai tubuh yang mistis dari Kristus, sebagai sakramen, sebagai bentara, atau sebagai hamba. Misi dapat dipahami berasal dari hakikat Allah sendiri (missio Deii) sebagai Allah Bapa yang mengutus Anak-Nya, dan Allah Bapa dan Anak mengutus Roh, dan akhirnya Allah Tritunggal mengutus gereja ke dalam dunia. Hasil Konsili Vatican II 1959 diyakini bahwa keselamatan tidak dapat didefinisikan dalam pemahamapemahaman keagamaan (atau gerejawi ) saja tetapi juga dalam pemahamanpemahama tentang apa yang terjadi di tempat lain. Dua mandat dalam misi adalah mandat rohani yaitu memberitakan kabar baik keselamatan melalui Yesus Kristus; dan mandat sosial yaitu bertanggung jawab dalam memajukan kesejahteraan manusia dan keadilan. Penulis meyakini bahwa misi dan penginjilan adalah tidak sinonim. Penulis memahami bahwa misi lebih luas daripada penginjilan. Karenanya penginjilan tidak boleh disamakan dengan misi. Penginjilan dapt dipandang sebagai dimensi yang hakiki dari keseluruhan kegiatan Gereja. Penginjilan yang otentik selalu bersifat kontekstual yang berarti (1) misi sebagai kontekstualisasi adalah penegasan bahwa Allah telah berpaling kepada dunia. (2) Misi sebagai kontekstualisasi melibatkan pembangunan berbagai teologi lokal. Teologi pembebasan adalah teologi Dunia Ketiga, yang berkembang sebagai teologi Amerika Latin atau teologi Asia Pasifik. Teologi pembebasan adalah sebuah varian dari teologi liberal. Iman Kristen harus dipikirkan kembali, dirumuskan ulang, dan dihayati secara baru dalam masing-masing budaya manusia (misi inkulturasi). Datum teologis yang mendasar adalah keesaan gereja Kristus. Penulis berkeyakinan bahwa koordinasi bersama terhadap misi dan keesaan tidak bisa ditawar-tawar. Gereja-di dalam-misi yang bersatu adalah sangat penting 5

mengingat kenyataan bahwa misi gereja tidak akan pernah berakhir. Keesaan dalam misi dan misi dalam keesaan tidak semata-mata melayani gereja melainkan melalui gereja, berfungsi untuk melayani umat manusia. Teologi Kristen tidak akan lagi tinggal sematamata sebagai sebuah teologi untuk para imam dan pendeta, tetapi juga untuk kaum awam dalam panggilan-panggilan mereka di dalam dunia. Tidak semua hal dapat dikatakan suatu misi. Misi dalam transformasi berarti bahwa misi itu harus dipahami sebagai suatu kegiatan yang mentransformasikan realitas dan bahwa ada suatu kebutuhan yang terus menerus bagi misi itu sendiri untuk ditransformasikan. Arti misi dapat ditinjau dari peristiwa keselamatan utama yang digambarkan dalam Perjanjian Baru yaitu (1) penjelmaan Kristus, (2) kematian-nya pada salib, (3) kebangkitan-nya pada hari yang ketiga, (4) kenaikan-nya, (5) pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, (6) parousia. Peristiwa ke enam kristologis di atas tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Misi adalah missio Dei, yang berusaha meletakkan di dalam dirinya missiones ecclesiae. Bukannya gereja yang mengusahakan misi; melainkan missio Deilah yang menciptakan gereja Buku yang sangat tebal ini memang sangat padat dan mendalam isinya. Pembaca akan diajak menyelami misi secara mendalam dan mendetail. Buku ini sangat baik dibaca oleh semua mahasiswa teologia yang sedang studi tentang missi. Terjemahannya mudah untuk dipahami walaupun cenderung menggunakan kalimat-kalimat yang panjang. Buku ini akan menyadarkan pembaca akan hakekat misi yang sebenarnya, yaitu teologi misi yang mengubah dan berubah sekaligus mengubah pembaca dari paradigma lama tentang misi menjadi paradigma baru dalam bermisi. 6