SEMINAR PERPAJAKAN PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP)

dokumen-dokumen yang mirip
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 17/PJ/2014 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER - 24/PJ/2012 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-17/PJ/2014 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR : PER - 24/PJ/2012 TENTANG

BAB II LANDASAN TEORI. pajak, diantaranya pengertian pajak yang dikemukakan oleh Prof. Dr. P. J. A. Adriani

Modul ke: Pertemuan 2. 02Fakultas EKONOMI. Perpajakan I. Program Studi AKUNTANSI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Mardiasmo (2001:118), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Prof. Dr. P.J.A. Adriani, Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

PERPAJAKAN I PENDAFTARAN NPWP, PENGAJUAN SPPKP & PEMBAYARAN PAJAK. Deden Tarmidi, SE., M.Ak., BKP. Modul ke: Fakultas Ekonomi dan Bisnis

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR - 44 /PJ/2008 TENTANG

RINGKASAN KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 43/PJ/2010 TENTANG

PENUNJUKAN BENDAHARA SEBAGAI PEMOTONG/PEMUNGUT PAJAK PAJAK NEGARA BAB I

KETENTUAN UMUM & TATA CARA PERPAJAKAN

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 146/PMK.03/2012 TENTANG TATA CARA VERIFIKASI

NPWP & Pengukuhan PKP. Beberapa Pengertian Yang Perlu Diketahui

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 05 /PJ/2012 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. untuk kesejahteraan rakyat. Pajak merupakan salah satu penerimaan terbesar negara perlu terus

BAB III GAMBARAN DATA TENTANG TATA CARA PENGHAPUSAN NPWP DAN PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK PADA KPP PRATAMA BINJAI

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-20/PJ/2013 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 20 /PJ/2013 TENTANG

PEMBERITAHUAN DALAM RANGKA PEMBUATAN, TATA CARA PEMBETULAN ATAU PENGGANTIAN, DAN TATA CARA PEMBATALAN FAKTUR PAJAK

BAB III GAMBARAN DAN PENYAJIAN DATA. Secara garis besar dasar hukumnya sebagai berikut :

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 24 /PJ/2009

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN BESERTA PERATURAN-PERATURAN PELAKSANAANNYA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. HAJ adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perusahaan dagang

TATA CARA PENDAFTARAN DAN PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK. Oleh: Suwardi, SE, M.Si, Akt.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG

Wajib Pajak mengubah data SPT saat Pemeriksaan atau Penyidikan Pajak?

SIAPA PEMBAYAR PAJAK: WAJIB PAJAK

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 20 /PJ/2013 TENTANG

Pengantar Perpajakan bagi Account Representative Dasar

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER- 05 /PJ/2012 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 28/PJ/2015 TENTANG DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15 /PJ/2010 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

NPWP (NOMOR POKOK WAJIB PAJAK), WAJIB PAJAK NON EFEKTIF, KODE AKUN PAJAK, SSP, JATUH TEMPO PEMBAYARAN

Account Representative

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15/PJ/2010 TENTANG

RESUME SANKSI PERPAJAKAN SANKSI BUNGA


Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak PJ.091/PPN/S/001/

Hukum Pajak. Kewajiban Perpajakan (Pertemuan #9) Semester Genap

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam analisa penghitungan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai, penulis

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR - 44/PJ/2008 TENTANG

BAB II KAJIAN PUSTAKA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (UU KUP)

BAGIAN 1 NOMOR POKOK WAJIB PAJAK. e-registration melalui laman Direktorat Jenderal Pajak

Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak PJ.091/PPN/S/001/

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN I SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-20/PJ/2014 TENTANG

KATA PENGANTAR DIREKTUR JENDERAL PAJAK

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK INDONESIA TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN BAB I KETENTUAN UMUM.

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 118/PMK.03/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK

BAB 4. Pembahasan Hasil Penelitian

Self assessment : WP membayar pajak sesuai UU tidak tergantung SKP

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB IV PEMBAHASAN. IV. 1 Analisis Mekanisme Pajak Penghasilan Pasal 22 di PT. KAS

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN Ditetapkan tanggal 17 Juli 2007 KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR - 14/PJ/2010 TENTANG

SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) BAGI PEMUNGUT PPN

PENGANTAR PERPAJAKAN BENDAHARA

PELATIHAN PENGISIAN SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI PADA USAHA KECIL

KETENTUAN UMUM & TATA CARA PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243/PMK.03/2014 TENTANG SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan PPh Pasal 22 Impor. 7 Pelayanan Penyelesaian Permohonan a. KPP Pratama dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan

BAB II LANDASAN TEORI. Pengertian Pengusaha menurut Mardiasmo (2008:36), Pengusaha merupakan

PELAKSANAAN VERIFIKASI DALAM RANGKA PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK SECARA JABATAN ATAS PENGUSAHA KECIL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

PENERAPAN E-FAKTUR DAN PERSEPSI PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP) (STUDI PADA PENGUSAHA KENA PAJAK DI KABUPATEN BULELENG)

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/PMK.03/2013 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN HAK DAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN HAK DAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 29/PJ/2008 TENTANG

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. hewan) yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai. IV.1.1 Analisis Perolehan Barang Kena Pajak (Pajak Masukan)

2018, No Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2018 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-52/PJ/2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PMK.03/2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN

SOSIALISASI PENOMORAN FAKTUR PAJAK

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

NPWP dan Pengukuhan PKP

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 05/PJ/2012 TENTANG

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MANFAAT MEMBAYAR PAJAK DAN PENGISIAN SPT BAGI WAJIB PAJAK. Oleh: Amanita Novi Yushita, M.Si.

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 45/PJ/2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN HAK DAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Transkripsi:

PENGUKUHAN DAN PENGAWASAN PENGUSAHA KENA PAJAK (PKP) KELAS X-B Kelompok 6: 1. Dela Farhana (10) 2. Indra Ahmad Wijaya (17) 3. Risca Dessyanty (24) 4. Tesalonika Broery A (28) 5. Wahyu Hidayat (29) DIPLOMA IV KEUANGAN SPESIALISASI AKUNTANSI KURIKULUM KHUSUS SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

DAFTAR ISI Halaman Judul... i Daftar Isi... ii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Identifikasi Permasalahan... 1 C. Tujuan Penulisan... 2 D. Metodologi... 2 BAB II LANDASAN TEORI... 3 A. Dasar Hukum... 3 B. Pengertian... 3 BAB III PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK... 4 A. Tata Cara Pelaporan dan Pengukuhan PKP... 5 B. Pengukuhan PKP... 5 C. Verifikasi PKP... 6 D. Verifikasi PK Hak dan Kewajiban Pengusaha Kena Pajak... 7 E. Sanksi PKP yang Tidak Melaksanakan Ketentuan... 9 BAB IV PENGAWASAN ATAS PENGUSAHA KENA PAJAK... 11 A. Pelaksanaan Pengawasan PKP... 11 B. Program Pendukung Pengawasan PKP... 12 BAB V PENGUSAHA KENA PAJAK DI INGGRIS... 21 A. Umum... 21 B. Pengawasan / Inspeksi... 23 BAB VI CURRENT ISSUE DAN STUDI KASUS... 25 A. Current Issue... 25 B. Studi Kasus... 25 DAFTAR REFERENSI... 28 Pengusaha Kena Pajak ii

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pajak merupakan salah satu aset pemasukkan bagi negara dan tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar sumber pembiayaan negara berasal dari sektor pajak. Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplus nya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment (Soemitro, 1974). Penerimaan dari sektor pajak sangat mendukung terlaksananya pembangunan di berbagai sektor sebagai wujud pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Pemahaman akan peraturan perpajakan menjadi sangat penting bagi para wajib pajak agar bisa menghitung kewajiban pajaknya dengan tepat serta mengerti bagaimana melaksanakan hak dan kewajibannya yang terkait dengan pajak. Apalagi dengan sistem self assesment seperti yang diterapkan di Indonesia. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor:197/PMK.03/2013, wajib pajak badan yang sudah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang memiliki omzet lebih dari 4,8 miliyar pertahun wajib memiliki Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP), namun bagi wajib pajak badan yang memiliki omzet dibawah 4,8 milyar diperbolehkan tidak memiliki Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP). Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP) sendiri merupakan identitas bagi setiap wajib pajak badan yang dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berdasarkan undang - undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pengusaha Kena pajak (PKP) adalah pengusaha yang diwajibkan memungut, menyetor, dan melapor Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pengusaha Kena pajak (PKP) sendiri adalah orang pribadi atau badan hukum atau usaha yang menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) dan atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang dikenakan pajak berdasarkan Undang - undang PPN (Pasal 3A UU PPN). Perusahaan merupakan salah satu bentuk badan hukum yang berkewajiban membayar pajak, dimana dalam usahanya lebih berorientasi pada keuntungan perusahaan demi kelangsungan perusahaan tersebut. Keuntungan perusahaan dapat diperoleh apabila harga jual lebih tinggi dari biaya output, baik biaya oprasional atau non oprasional. Semua aktivitas perusahaan, baik penjualan produk maupun pembelian bahan baku harus dilaporkan setiap bulan, dalam bentuk Laporan Keuangan yang menjadi sumber informasi terkait bagi perusahaan. Laporan Keuangan juga merupakan alat komunikasi antara wajib pajak dan fiskus, dari sinilah wajib pajak dapat menghitung berapa pajak terutangnya. Laporan Keuangan fiskal adalah laporan keuangan yang disusun sesuai dengan aturan perpajakan yang digunakan untuk keperluan penghitungan pajak. Jenis pajak yang dilaporkan dalam laporan keuangan meliputi PPh 21,PPh 22, PPh 23, PPh pasal 4 ayat 2, PPh 25 dan PPN. Sistem self assessment yang dianut di Indonesia mewajibkan wajib pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri pajak terutangnya, termasuk kewajiban menentukan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhutang. Maka dari itu, data Laporan Keuangan harus disajikan dengan benar dan valid sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Pengusaha Kena Pajak 1

B. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mencoba merumuskan permasalahan yang akan ditulis sebagai berikut: 1. Bagaimana pengukuhan Pengusaha Kena Pajak? 2. Bagaimana pengawasan Pengusaha Kena Pajak? 3. Bagaimana perbandingan dengan Pengusaha Kena Pajak di Inggris? 4. Apa current issue mengenai Pengusaha Kena Pajak? C. MAKSUD DAN TUJUAN PENULISAN Maksud dan tujuan penulisan makalah ini selain dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Seminar Perpajakan, juga untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis terkait Pengusaha Kena Pajak. D. METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi kapustakaan, dimana bahan yang diolah dari berbagai sumber baik berupa peraturan perpajakan maupun literaturliteratur perpajakan online. Pengusaha Kena Pajak 2

BAB II LANDASAN TEORI A. Dasar Hukum Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undangundang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undangundang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Perpajakan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/ PMK.03/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.03/2008 Tentang Jangka Waktu Pendaftaran dan Pelaporan Kegiatan Usaha, Tata Cara Pendaftaran, Pemberian, dan Penghapusan NPWP serta Pengukuhan dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197/ PMK.03/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010 Tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 20/ PJ/2013 tentang Tata Cara Pendaftaran dan Pemberian NPWP, Pelaporan Usaha dan Pengukuhan PKP, Penghapusan NPWP dan Pencabutan PKP, serta Perubahan data dan Pemindahan WP B. Pengertian 1. Pengusaha Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean. 2. Pengusaha Kena Pajak Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) 1983 dan perubahannya, tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak 3. Pengusaha Kecil Pengusaha kecil merupakan pengusaha yang selama 1 (satu) tahun buku melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dengan jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). Pengusaha Kena Pajak 3

BAB III PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK Pada dasarnya, Pengusaha Kena Pajak mencakup pengusaha orang pribadi dan badan. Sebuah badan otomatis dikenai kewajiban menjadi Pengusaha Kena Pajak apabila menyerahkan barang kena pajak dan atau jasa kena pajak, tanpa memandang omzet (peredaran bruto) pertahun. Untuk itulah, ketika sebuah badan melakukan pendaftaran memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) maka ia juga akan dikukuhkan sebagai PKP dan memperoleh Nomor Pengukuhan PKP (NPPKP) apabila usahanya mencakup seperti yang disebutkan di atas. Lain halnya dengan orang pribadi. Ketika orang pribadi melakukan usaha dimana terdapat penyerahan BKP dan atau JKP, seharusnya, orang pribadi tersebut juga otomatis akan menjadi PKP. Hanya saja, kantor pajak akan memantau peredaran usaha berdasarkan SPT masa yang dilaporkan. Bila dalam satu tahun tidak melebihi batasan omzet sebagaimana diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan, maka status PKP dapat dicabut dan beralih kepada Pengusaha Kecil, dimana kewajiban untuk memungut dan menyetor PPN akan hilang. Namun demikian, apabila tahun berikutnya omzetnya sudah melebihi batas pengusaha kecil, orang pribadi tersebut wajib melakukan permohonan pengukuhan PKP lagi. Adapun batasan omzet pengusaha kecil yang di atur dengan Peraturan Menteri Keuangan bersama dengan ketentuan-ketentuan sebelumnya adalah sebagai berikut : Perubahan Batasan Omzet Pengusaha Kecil Dasar Hukum Batasan Omzet Bruto Mulai Berlaku PMK-197/PMK.03/2013 Rp 4.800.000.000,- 1 Januari 2014 PMK-68/PMK.03/2010 Rp 600.000.000,- 1 Januari 2004 KMK-571/ KMK.03/2003 KMK-552/KMK.04/2000 KMK-648/KMK.04/1994 KMK-1288/KMK.04/1991 KMK-303/KMK.04/1989 KMK-430/KMK.04/1984 a. Penyerahan BKP tidak lebih dari Rp 360 juta, atau b. Penyerahan JKP tidak lebih dari Rp 180 juta. a. Penyerahan BKP tidak lebih dari Rp 240 juta, atau b. Penyerahan JKP tidak lebih dari Rp 120 juta. a. Penyerahan BKP tidak lebih dari Rp 120 juta, atau b. Penyerahan JKP tidak lebih dari Rp 60 juta. a. Penyerahan BKP tidak lebih dari Rp 60 juta, atau b. Penyerahan JKP tidak lebih dari Rp 30 juta. a. Penyerahan BKP atau JKP tidak lebih dari Rp 60 juta, atau b. Menggunakan modal usaha tidak lebih dari Rp 10 juta. 1 Januari 2001 1 Januari 1995 1 Januari 1992 1 April 1989 1 Juli 1984 Pengusaha Kena Pajak 4

A. Tata Cara Pelaporan dan Pengukuhan PKP Wajib Pajak (WP) mengisi formulir pendaftaran dan menyampaikan secara langsung atau melalui pos ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) setempat dengan melampirkan: Untuk WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha yang dibutuhkan adalah KTP bagi penduduk Indonesia atau paspor bagi orang asing. Sedangkan untuk WP Badan, persyaratannya yakni : Akte pendirian dan perubahan atau surat keterangan penunjukkan dari kantor pusat bagi BUT (Bentuk Usaha Tetap); KTP bagi penduduk Indonesia atau paspor bagi orang asing sebagai penanggung jawab; NPWP pimpinan/penanggung jawab Badan. Untuk WP Orang pribadi dan WP Badan yang melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, persyaratan tambahan yang diminta antara lain SIUP dan keterangan domisili dari pengelola gedung/kelurahan. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak ini harus melalui pembuktian alamat dari WP tersebut. B. Pengukuhan PKP Pengusaha yang dikenai PPN, wajib melaporkan usahanya pada KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP. Pengusaha orang pribadi atau badan yang mempunyai tempat kegiatan usaha berbeda dengan tempat tinggal, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan, juga wajib mendaftarkan diri ke KPP di tempat kegiatan usaha dilakukan. Pengusaha kecil yang memlilih untuk dikukuhkan sebagai PKP wajib mengajukan pernyataan tertulis untuk dikukuhkan sebagai PKP. Pengusaha kecil yang tidak memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP tetapi sampai dengan suatu masa pajak dalam suatu tahun buku seluruh nilai peredaran bruto telah melampaui batasan yang ditentukan sebagai pengusaha kecil, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat akhir masa pajak berikutnya. Fungsi Pengukuhan PKP Pengawasan dalam melaksanakan hak dan kewajiban PKP di bidang PPN dan PPn BM. Sebagai identitas PKP yang bersangkutan KPP dapat melakukan Pengukuhan PKP secara jabatan, apabila WP tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP, bila berdasarkan data yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak ternyata WP memenuhi syarat untuk memperoleh PKP. Pencabutan Pengukuhan PKP PKP pindah alamat; WP Badan yang telah dibubarkan secara resmi; PKP lainnya yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai PKP. Penghapusan NPWP dan Pencabutan Pengukuhan PKP dilakukan melalui proses pemeriksaan Pengusaha Kena Pajak 5

C. Verifikasi PKP Tujuan Verifikasi di antaranya adalah untuk mengukuhkan Pengusaha Kena Pajak (PKP) secara jabatan, mengukuhkan PKP berdasarkan permohonan Wajib Pajak, dan pencabutan pengukuhan PKP, baik secara jabatan maupun atas dasar permohonan PKP. Pengukuhan PKP Secara Jabatan Verifikasi dalam rangka mengukuhkan PKP secara jabatan dilakukan terhadap WP orang pribadi sebagai Pengusaha, dan/atau WP orang pribadi dan badan sebagai Pengusaha, sesuai hasil kegiatan ekstensifikasi yang dilakukan secara massal, yang berdasarkan data dan informasi menunjukkan telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sebagai Pengusaha Kena Pajak. Termasuk hasil kegiatan ekstensifikasi adalah hasil kegiatan sensus pajak nasional. Verifikasi dalam rangka pengukuhan PKP secara jabatan ini dilakukan untuk menentukan kebenaran pemenuhan persyaratan subjektif dan objektif sebagai PKP. Dengan demikian terdapat dua kegiatan yang dicakup dalam Verifikasi untuk mengukuhkan PKP secara jabatan ini yaitu pengujian pemenuhan persyaratan subjektif dan pengujian pemenuhan persyaratan objektif. Pengujian pemenuhan persyaratan subjektif meliputi: pengujian atas kelengkapan dokumen terkait dengan identitas Pengusaha, antara lain KTP Pengusaha, KTP Pengurus, akta pendirian, dan surat keterangan domisili; dan pengujian atas kebenaran status Pengusaha, kebenaran alamat Pengusaha, dan kebenaran keberadaan Pengusaha yang bersangkutan di alamat tersebut, antara lain peta lokasi kegiatan usaha, dan foto tempat kegiatan usaha. Sementara itu, pemenuhan persyaratan objektif meliputi kegiatan sebagai berikut; pengujian atas kelengkapan dokumen izin kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku, misalnya surat izin usaha perdagangan dan surat izin usaha jasa konstruksi; dan pengujian terhadap kesesuaian antara dokumen izin kegiatan usaha dengan kegiatan usaha yang dilakukan untuk memperoleh informasi antara lain mengenai gambaran kegiatan usaha, data peredaran usaha, dan daftar harta di tempat kegiatan usaha. Pengukuhan PKP Berdasarkan Permohonan Verifikasi dalam rangka mengukuhkan PKP berdasarkan permohonan Wajib Pajak dilakukan terhadap WP orang pribadi sebagai Pengusaha, termasuk WP orang pribadi pengusaha tertentu atau WP badan sebagai Pengusaha yang mengajukan permohonan untuk dikukuhkan sebagai PKP. Verifikasi dalam rangka pengukuhan PKP atas permohonan ini dilakukan untuk menentukan kebenaran pemenuhan persyaratan subjektif dan objektif sebagai PKP. Dengan demikian terdapat dua kegiatan yang dicakup dalam Verifikasi untuk mengukuhkan PKP secara jabatan ini yaitu pengujian pemenuhan persyaratan subjektif dan pengujian pemenuhan persyaratan objektif sebagaimana diuraikan di atas. Pencabutan Pengukuhan PKP Verifikasi dalam rangka mencabut pengukuhan PKP secara jabatan atau berdasarkan permohonan PKP terhadap: (1) PKP orang pribadi yang telah meninggal dunia; (2) PKP telah dipusatkan tempat terutangnya PPN di tempat lain; Pengusaha Kena Pajak 6

(3) PKP yang pindah alamat tempat tinggal, tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha ke wilayah kerja KPP lainnya; (4) PKP yang jumlah peredaran usaha dan/atau penerimaan brutonya untuk 1 (satu) tahun buku tidak melebihi batas jumlah peredaran usaha dan/atau penerimaan bruto untuk pengusaha kecil dan tidak memilih untuk menjadi PKP; (5) PKP selain perseroan terbatas dengan status tidak aktif (non efektif) dan secara nyata tidak menunjukkan adanya kegiatan usaha; (6) Pengusaha Kena Pajak yang tidak menyampaikan SPT Masa PPN untuk Masa Pajak Januari sampai dengan Desember; (7) PKP yang menyampaikan SPT Masa PPN yang pajak keluaran dan pajak masukannya nihil untuk Masa Pajak Januari sampai dengan Desember; atau (8) PKP bentuk usaha tetap (BUT) yang telah menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia. Pencabutan pengukuhan PKP secara jabatan juga dapat dilaksanakan setelah Dirjen Pajak melakukan Verifikasi atas hasil sensus pajak nasional, hasil konfirmasi lapangan setelah pengukuhan PKP, atau hasil kegiatan lain yang dilaksanakan oleh Dirjen Pajak. Verifikasi dalam rangka pencabutan pengukuhan PKP dilakukan untuk tertib administrasi dan/atau menguji pemenuhan persyaratan subjektif dan objektif sebagai Pengusaha Kena Pajak. D. Hak dan Kewajiban Pengusaha Kena Pajak a. Hak-hak pengusaha kena pajak. Hak untuk melakukan pengkreditan pajak masukan. Sesuai dengan mekanisme PPN, pajak masukan dalam suatu masa pajak dapat dikreditkan dengan pajak keluaran dalam masa pajak yang sama. Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan dan/atau impor barang modal dapat dikreditkan. Pajak Masukan yang telah dikreditkan dan telah diberikan pengembalian wajib dibayar kembali oleh Pengusaha Kena Pajak dalam hal Pengusaha Kena Pajak tersebut mengalami keadaan gagal berproduksi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak Masa Pajak Pengkreditan Pajak Masukan dimulai Hak untuk melakukan Kompensasi Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak Keluaran, selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya. Atas kelebihan Pajak Masukan tersebut, dapat diajukan permohonan pengembalian pada akhir tahun buku. Hak untuk melakukan Restitusi Kelebihan Pajak Masukan dapat diajukan permohonan pengembalian (restitusi) pada setiap Masa Pajak oleh: (1) Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak Berwujud; (2) Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak kepada Pemungut Pajak Pertambahan Nilai; (3) Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang Pajak Pertambahan Nilainya tidak dipungut; Pengusaha Kena Pajak 7

(4) Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud; (5) Pengusaha Kena Pajak yang melakukan ekspor Jasa Kena Pajak; dan/atau (6) Pengusaha Kena Pajak dalam tahap belum berproduksi. Pengembalian kelebihan Pajak Masukan kepada Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4b) huruf a sampai dengan huruf e, yang mempunyai kriteria sebagai Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah, dilakukan dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan Perubahannya. b. Kewajiban PKP Pelaporan Usaha Kewajiban pengusaha yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menyerahkan BKP dan atau JKP dan atau, mengekspor BKP adalah melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai PKPberdasarkan pasal 3A ayat (1) UU PPN Jo. Pasal 2 ayat (2) UU KUP. Karena kewajiban melaporkan usaha merupakan kewajiban PKP, kewajiban ini timbul bersamaan dengan timbulnya status PKP menurut undang-undang. Memungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan PPnBM yang terutang Untuk menghitung PPN yang terutang adalah dengan mengalikan tarif PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP). PKP wajib menyetorkan : (1) PPN yang dihitung sendiri melalui pengkreditan pajak masukan dan pajak keluaran. Yang disetor adalah selisih pajak masukan dan pajak keluaran, bila pajak masukan lebih kecil daripada pajak keluaran. (2) PPnBM yang dipungut oleh PKP Pabrikan BKP yang tergolong mewah (3) PPN/PPnBM yang ditetapkan oleh DJP dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP PPN dan PPnBM yang terutang disetorkan oleh PKP ke Bank Persepsi/ kantor pos paling lama akhir bulan berikutnya sebelum penyampaian SPT masa PPN. Untuk PPN yang terutang dalam surat ketetapan, mengikuti aturan dalam KUP, sedangkan untuk PPN atas impor, dilunasi pada saat pembayaran bea masuk. PPN dan PPnBM yang dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa dan disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. PPN dan PPnBM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP yang telah dilunasi segera dilaporkan ke KPP yang menerbitkan. Pembuatan Faktur Pajak Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP). Pengusaha Kena Pajak wajib membuat Faktur pada: (1) saat penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak; (2) saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak; Pengusaha Kena Pajak 8

(3) saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau (4) saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pengusaha Kena Pajak dapat membuat 1 (satu) Faktur Pajak meliputi seluruh penyerahan yang dilakukan kepada pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak yang sama selama 1 (satu) bulan kalender yang disebut dengan Faktur Pajak gabungan. Di dalam mekanisme perdagangan, dikenal istilah nota retur untuk barang yang dikembalikan kepada supplier. PPN mengakomodir masalah tersebut dengan dasar hukum pasal 5A UU PPN; Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas penyerahan Barang Kena Pajak yang dikembalikan dapat dikurangkan dari Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang dalam Masa Pajak terjadinya pengembalian Barang Kena Pajak tersebut. Pembukuan Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut. yang wajib menyelenggarakan pembukuan adalah Wajib Pajak (WP) Badan dan Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, kecuali Wajib Pajak Orang Pribadi yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (Empat milyar delapan ratus juta rupiah). Dari isi UU KUP di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa batasan omzet pengusaha kecil untuk dikukuhkan sebagai PKP adalah sebesar Rp 4.8 Milyar sama dengan batasan melakukan pembukuan, dengan demikian PKP wajib melakukan pembukuan. Manfaat lainnya adalah apabila ada pemriksaan dari kantor pajak, terutama terkait restitusi PPN maka akan memudahkan penghitungan pajak terutang. E. Sanksi PKP yang Tidak Melaksanakan Ketentuan PKP yang alpa tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar Bila menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun. PKP yang dengan sengaja : Tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; atau menyalahgunakan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak; tidak menyampaikan SPT; atau menyampaikan SPT dan atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap; atau tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, tidak memperlihatkan atau tidak Pengusaha Kena Pajak 9

menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan, dikenai pidana 2 (dua) kali lipat dari ancaman pidana di atas. PKP yang tidak membuat Faktur Pajak PKP dikenai sanksi administrasi sebesar 2% dari Dasar Pengenaan Pajak apabila tidak membuat Faktur Pajak, tidak mengisi Faktur Pajak secara lengkap, dan melaporkan Faktur Pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan Faktur Pajak. Pengusaha Kena Pajak 10

BAB IV PENGAWASAN ATAS PENGUSAHA KENA PAJAK A. Pelaksanaan Pengawasan PKP Pengawasan kepatuhan atas PKP merupakan bagian dari pengawasan kepatuhan Wajib Pajak. DJP melakukan pengawasan kepatuhan PKP melalui unit instansi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) lebih tepatnya oleh Account Representative (AR) pada seksi Pengawasan dan Konsultasi. Account Representative (AR) pajak adalah aparat pajak yang berada di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang telah melaksanakan sistem administrasi modern dan bertugas untuk memberikan pelayanan, pengawasan dan pengarahan secara langsung kepada sejumlah wajib pajak tertentu yang telah ditugaskan kepada Account Representative (AR) tersebut. Setiap Account Representative (AR) secara langsung melayani beberapa wajib pajak yang harus diawasi dan diarahkan. Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 98/KOM.01/2006 tentang Account Representative pada Kantor Pelayanan Pajak yang Telah Mengimplementasikan Organisasi Modern pada pasal 2 disebutkan bahwa tugas AR adalah : 1. Melakukan pengawasan kepatuhan perpajakan Wajib Pajak. 2. Bimbingan/himbauan pengawasan kepatuhan perpajakan Wajib pajak. 3. Penyusunan profil Wajib Pajak. 4. Analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka intensifikasi. 5. Melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pengawasan kepatuhan PKP sebagai Wajib Pajak dilakukan secara terus menerus dan intensif. AR dapat melakukan penelitian atas pemenuhan kewajiban perpajakan PKP serta melakukan konfirmasi dan verifikasi atas pemenuhan kriteria PKP. Pengawasan kepatuhan atas PKP secara rutin dilakukan melalui aplikasi SIDJP yang telah dikembangkan dengan adanya menu Aplikasi Administrasi Pengawasan PKP yang dapat langsung diakses oleh petugas yang memiliki otorisasi yaitu Account Representative (AR). Pengawasan kepatuhan PKP juga dilaksanakan dengan mengacu pada kegiatan atau program khusus yang dilaksanakan oleh DJP secara nasional. Unit instansi lain yang melakukan pengawasan PKP secara tidak langsung adalah Kantor Wilayah DJP yang merupakan unit pemantau pelaksanaan pengawasan PKP dan program-program terkait pengawasan PKP. Dalam program Registrasi Ulang PKP misalnya, Kepala Kantor Wilayah memiliki tugas: a. Memantau pelaksanaan Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak Tahun 2012 dan memastikan bahwa hasil Verifikasi memenuhi tujuan yang diharapkan. b. Memantau tindak lanjut atas kesimpulan yang tertuang dalam laporan hasil Verifikasi. c. Membuat laporan rekapitulasi hasil Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak Tahun 2012 kepada Direktur Jenderal Pajak u.p. Direktur Peraturan Perpajakan I setiap bulan dan menyampaikannya paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya. d. Memberikan persetujuan atas Berita acara verifikasi pembatalan surat Pencabutan Pengukuhan PKP berdasarkan hasil pelaksanaan verifikasi kembali. Pengusaha Kena Pajak 11

B. Program Pendukung Pengawasan PKP 1. Program Registrasi Ulang PKP Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak adalah suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan, penertiban administrasi, pengawasan, dan untuk menguji pemenuhan kewajiban subjektif dan objektif Pengusaha Kena Pajak. Registrasi Ulang PKP adalah program utama terkait penertiban PKP yang telah selesai dilaksanakan pada 31 Desember 2012 dan output dari program ini telah dijadikan sumber data untuk pelaksanaan program selanjutnya terkait PKP antara lain E-Nofa (Elektronik nomor faktur) dan E-Faktur (Elektronik Faktur Pajak). Latar belakang diadakannya program Registrasi Ulang ini adalah semakin meningkatnya transaksi bisnis di Indonesia yang tentu saja dilakukan oleh pihak-pihak yang sebagian besar merupakan Pengusaha Kena Pajak (PKP) namun ternyata secara administratif tingkat kepatuhan atas peraturan perpajakan PKP masih rendah, hal tersebut menjadi indikasi tidak tepatnya pertimbangan atas pengukuhan PKP sehingga perlu ada penegasan kembali bahwa PKP terdaftar telah memenuhi kriteria pengukuhan PKP. Penertiban administrasi atas data PKP pun perlu dilakukan oleh DJP agar data dan informasi yang didapatkan terkait PKP menjadi valid dan dapat diandalkan. Pada intinya kegiatan yang dilakukan dalam program registrasi ulang PKP adalah pencabutan secara jabatan atas pengukuhan PKP yang telah terdaftar berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan oleh petugas. Definisi verifikasi secara umum adalah serangkaian kegiatan pengujian pemenuhan kewajiban subjektif dan objektif atau penghitungan dan pembayaran pajak, berdasarkan permohonan Wajib Pajak atau berdasarkan data dan informasi perpajakan yang dimiliki atau diperoleh Direktur Jenderal Pajak, dalam rangka menerbitkan surat ketetapan pajak, menerbitkan/menghapus Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau mengukuhkan/ mencabut pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Maka yang dimaksud dengan verifikasi pada program ini adalah verifikasi yang dilakukan terhadap Pengusaha Kena Pajak yang memenuhi kriteria tertentu yang dilakukan untuk mengetahui apakah Wajib Pajak benar-benar tidak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Berikut lebih jelas beberapa pasal dalam PER(dengan perubahan dalam PER-20/PJ/2012 tentang Perubahan Peraturan Direktur Jenderal Pajak PER-05/PJ/2012 tentang Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak) yang merupakan dasar tatacara pelaksanaan program Registrasi Ulang PKP oleh DJP. Pasal 2 (1) Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak terdaftar. (2) Jangka waktu pelaksanaan Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak dimulai sejak Februari 2012 sampai dengan 31 Desember 2012. (3) Registrasi Ulang Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dilakukan untuk seluruh Pengusaha Kena Pajak terdaftar. Pasal 3 (1) Dalam rangka Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak, Direktur Jenderal Pajak karena jabatan dapat melakukan pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. (2) Pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan Verifikasi. (3) Pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak berdasarkan Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan terhadap Pengusaha Kena Pajak yang memenuhi kriteria tertentu. Pengusaha Kena Pajak 12

(4) Verifikasi yang dilakukan terhadap Pengusaha Kena Pajak yang memenuhi kriteria tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan untuk mengetahui apakah Wajib Pajak benar-benar tidak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Pasal 4 (1) Persyaratan subjektif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) dipenuhi apabila Pengusaha Kena Pajak merupakan Pengusaha. (2) Pengusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa termasuk mengekspor jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean. (3) Persyaratan objektif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) dipenuhi apabila Pengusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean dan/atau melakukan ekspor Barang Kena Pajak berwujud, ekspor Jasa Kena Pajak, dan/atau ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud. Pasal 5 (1) Pengusaha Kena Pajak yang memenuhi kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3), yaitu: a. Pengusaha Kena Pajak yang telah dipusatkan tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai di tempat lain; b. Pengusaha Kena Pajak yang pindah alamat ke wilayah kerja kantor Direktorat Jenderal Pajak lainnya; atau c. Pengusaha Kena Pajak yang sudah tidak lagi memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sebagai Pengusaha Kena Pajak. (2) Pengusaha Kena Pajak yang tidak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sebagai Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, yaitu: a. Pengusaha Kena Pajak dengan status tidak aktif (Non Efektif); b. Pengusaha Kena Pajak yang tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa PPN untuk Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2011 sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini; c. Pengusaha Kena Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa PPN yang Pajak Keluaran dan Pajak Masukannya nihil untuk Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2011 sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini; d. Pengusaha Kena Pajak, yang pada Masa Pajak Januari sampai dengan Desember 2011 sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang pada bagian periode tersebut tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa PPN atau menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa PPN yang Pajak Keluaran dan Pajak Masukannya nihil; e. Pengusaha Kena Pajak yang tidak ditemukan pada waktu pelaksanaan Sensus Pajak Nasional; atau f. Pengusaha Kena Pajak yang tidak diyakini keberadaan dan/atau kegiatan usahanya. (3) Pengusaha Kena Pajak yang tidak diyakini keberadaan dan/atau kegiatan usahanya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f, yaitu: Pengusaha Kena Pajak 13

a. Pengusaha Kena Pajak yang tidak dilakukan kunjungan (visit) dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terakhir sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini; b. Pengusaha Kena Pajak yang tidak dilakukan pemeriksaan PPN dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terakhir sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini; atau c. Pengusaha Kena Pajak yang tidak dilakukan konfirmasi lapangan sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-62/PJ/2010 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-44/PJ/2008 tentang Tata Cara Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Perubahan Data dan Pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dan perubahannya. (4) Dikecualikan dari Pengusaha Kena Pajak yang tidak diyakini keberadaan dan/atau kegiatan usahanya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f adalah Pengusaha Kena Pajak yang ditemukan keberadaannya dan diyakini kegiatan usahanya pada waktu pelaksanaan Sensus Pajak Nasional. Pasal 6 Pasal 6 PER-05/PJ/2012 tentang Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak dalam ayat (3) menyebutkan bahwa apabila berdasarkan laporan hasil Verifikasi diketahui bahwa Pengusaha Kena Pajak termasuk dalam kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) maka kepada Pengusaha Kena Pajak tersebut diterbitkan Surat Pencabutan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Pasal 8 Pasal 8 ayat (1) dan (2) PER-05/PJ/2012 memungkinkan pembatalan atas pencabutan pengukuhan PKP yang telah dilakukan dengan persetujuan Kepala Kantor Wilayah yang merupakan unit vertical KPP terkait. Bunyi kedua ayat tersebut adalah: (1) Dalam hal kemudian diperoleh data dan/atau informasi bahwa Wajib Pajak yang telah dicabut Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak-nya ternyata memenuhi persyaratan subjektif dan objektif, maka Surat Pencabutan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) dibatalkan. (2) Untuk membatalkan Surat Pencabutan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan Verifikasi kembali. Saat ini program Registrasi ulang PKP telah selesai dilaksanakan, tepatnya pada 31 Desember 2012. Dengan berakhirnya program ini dapat diyakini bahwa PKP yang saat ini terdaftar adalah PKP yang memenuhi kriteria Objektif dan Subjektif untuk dikukuhkan sebagai PKP. Data hasil registrasi ulang PKP kemudian digunakan sebagai dasar pelaksanaan program E-Nofa (Elektronik Nomor Faktur) yang saat ini masih dilaksanakan serta program E-Faktur (Elektronik Faktur Pajak) yang saat ini baru digunakan oleh 45 WP besar dan sedang dipersiapkan untuk diterapkan secara nasional pada tahun 2016. 2. Elektronik Nomor Faktur (E-Nofa) Dasar pelaksanaan penomoran faktur pajak dengan nomor seri faktur yang ditetapkan oleh DJP adalah PER-24/PJ/2012 Tentang Bentuk, Ukuran, Tata Cara Pengisian Keterangan, Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan,Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian, Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak. Definisi menurut peraturan ini, Nomor Seri Faktur Pajak adalah nomor seri Pengusaha Kena Pajak 14

yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Pengusaha Kena Pajak dengan mekanisme tertentu untuk penomoran Faktur Pajak yang berupa kumpulan angka, huruf, atau kombinasi angka dan huruf yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Penetapan Nomor Seri Faktur Pajak oleh DJP dapat mempermudah pelaksanaan pengawasan atas kepatuhan perpajakan PKP. DJP dapat mudah melakukan pengawasan dengan melacak transaksi terkait PKP dengan melihat penggunaan nomor seri faktur pajak dan juga konfirmasi kebenaran faktur, karena data konfirmasi faktur berada pada internal DJP. Sistem ini pun dapat menurunkan tingkat terjadinya faktur pajak fiktif karena nomor seri faktur bersifat unik dan tidak didapatkan dengan mudah serta sulit disalahgunakan oleh Wajib Pajak. Peraturan yang berlaku saat ini terkait faktur pajak adalah PER -17/PJ/2014 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-24/PJ/2012 Tentang Bentuk, Ukuran, Tata Cara Pengisian Keterangan, Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan,Tata Cara Pembetulan Atau Penggantian, Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak. Ketentuan terkait pemberian Nomor Seri Faktur Pajak oleh DJP di dalam Perdirjen tersebut antara lain: Pasal 7 (1) PKP harus membuat Faktur Pajak dengan menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. (2) Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari 16 (enam belas) digit yaitu : a. 2 (dua) digit Kode Transaksi; b. 1 (satu) digit Kode Status; dan c. 13 (tiga belas) digit Nomor Seri Faktur Pajak yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Pasal 8 (1) PKP mengajukan surat permohonan Kode Aktivasi dan Password ke Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan sesuai dengan formulir sebagaimana diatur dalam Lampiran IA yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. (2) Surat permohonan Kode Aktivasi dan Password sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus: a. diisi dengan lengkap dan ditandatangani oleh PKP; dan b. disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan dengan menunjukkan asli kartu identitas sesuai dengan identitas yang tercantum dalam surat permohonan. (3) Dalam hal surat permohonan Kode Aktivasi dan Password ditandatangani oleh selain PKP, maka surat permohonan harus dilampiri dengan surat kuasa. (4) Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan Kode Aktivasi dan Password ke PKP dalam hal PKP memenuhi syarat sebagai berikut: a. PKP telah dilakukan Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP terdaftar berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Pengusaha Kena Pajak 15

PER-05/PJ/2012 dan perubahannya dan laporan hasil registrasi ulang/verifikasi menyatakan PKP tetap dikukuhkan; atau b. PKP telah dilakukan verifikasi berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.03/2012. (5) Dalam hal PKP memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), Kantor Pelayanan Pajak: a. menerbitkan surat pemberitahuan Kode Aktivasi yang ditandatangani oleh Kepala Seksi Pelayanan atas nama Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana diatur dalam Lampiran IB yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dan dikirim melalui pos dalam amplop tertutup ke alamat PKP; dan b. mengirimkan Password melalui surat elektronik (email) ke alamat email PKP yang dicantumkan dalam surat permohonan Kode Aktivasi dan Password. (6) Dalam hal PKP tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan surat pemberitahuan penolakan Kode Aktivasi dan Password sebagaimana diatur dalam Lampiran IC yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. (7) Dalam hal surat pemberitahuan Kode Aktivasi tidak diterima oleh PKP dan kembali pos (kempos), Kantor Pelayanan Pajak akan memberitahukan informasi tersebut melalui surat elektronik (email) ke alamat email PKP yang dicantumkan dalam surat permohonan Kode Aktivasi dan Password. (8) PKP sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dan/atau ayat (7) dapat mengajukan kembali surat permohonan Kode Aktivasi dan Password ke Kantor Pelayanan Pajak setelah memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan/atau telah menyampaikan surat pemberitahuan perubahan alamat ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai dengan prosedur pemberitahuan perubahan alamat. (9) Dalam hal PKP tidak menerima Password sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b karena kesalahan penulisan alamat email pada Surat Permohonan Kode Aktivasi dan Password, PKP harus melakukan update email. (10) Surat pemberitahuan Kode Aktivasi yang hilang dapat dimintakan kembali ke Kantor Pelayanan Pajak dengan menyampaikan surat permohonan cetak ulang Kode Aktivasi sebagaimana diatur dalam Lampiran ID yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini dengan melampirkan fotokopi surat keterangan kehilangan dari kepolisian dan fotokopi bukti penerimaan surat dari Kantor Pelayanan Pajak atas surat permohonan Kode Aktivasi dan Password. (11) Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan surat pemberitahuan Kode Aktivasi atau surat pemberitahuan penolakan Kode Aktivasi dan Password dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah surat permohonan diterima. (12) PKP harus melakukan aktivasi wadah layanan perpajakan secara elektronik (Akun Pengusaha Kena Pajak) yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan menggunakan Kode Aktivasi, melalui: a. Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan dengan menyampaikan surat Permintaan Aktivasi Akun Pengusaha Kena Pajak sebagaimana diatur dalam Lampiran IE yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini; atau Pengusaha Kena Pajak 16

b. laman (website) yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan mengikuti petunjuk pengisian (manual user) yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (13) Aktivasi Akun Pengusaha Kena Pajak dilakukan secara jabatan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk PKP yang telah memperoleh Kode Aktivasi dan Password sebelum 1 Juli 2014. Definisi : Kode Aktivasi adalah kode yang berupa karakter yang dapat terdiri dari angka, huruf, atau Kombinasi angka dan huruf yang diberikan Direktorat Jenderal Pajak kepada PKP melalui surat pemberitahuan kode aktivasi. Password adalah kode yang berupa karakter yang dapat terdiri dari angka, huruf, atau kombinasi angka dan huruf yang diberikan Direktorat Jenderal Pajak kepada PKP melalui surat elektronik (email). Pasal 9 (1) PKP dapat melakukan permintaan Nomor Seri Faktur Pajak melalui: a. Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan; dan/atau b. laman (website) yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (2) Tata cara permintaan Nomor Seri Faktur Pajak: a. melalui Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan dilakukan dengan menggunakan surat permintaan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana diatur dalam Lampiran IF yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini. b. melalui laman (website) yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak: 1) untuk PKP yang telah memiliki sertifikat elektronik; dan 2) mengikuti petunjuk pengisian (manual user) yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (3) Nomor Seri Faktur Pajak hanya diberikan kepada PKP yang telah memenuhi syarat sebagai berikut: a. telah memiliki Kode Aktivasi dan Password; b. telah melakukan aktivasi Akun Pengusaha Kena Pajak; dan c. telah melaporkan SPT Masa PPN untuk 3 (tiga) masa pajak terakhir yang telah jatuh tempo secara berturut-turut pada tanggal PKP mengajukan permintaan Nomor Seri Faktur Pajak. (4) PKP yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), tidak dapat diberikan Nomor Seri Faktur Pajak. (5) Atas surat permintaan Nomor Seri Faktur Pajak yang disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak dan memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan surat pemberian Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana diatur dalam Lampiran IG-1 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini ke PKP. (6) Atas permintaan Nomor Seri Faktur Pajak yang disampaikan melalui laman (website) yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan memenuhi Pengusaha Kena Pajak 17

syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), PKP akan menerima surat pemberian Nomor Seri Faktur Pajak dalam bentuk elektronik sebagaimana diatur dalam Lampiran IG-2 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini ke PKP. (7) Dalam hal Surat pemberian Nomor Seri Faktur Pajak hilang, rusak, atau tidak tercetak dengan jelas, PKP dapat: a. meminta surat pemberian Nomor Seri Faktur Pajak tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak; atau b. melakukan cetak ulang surat pemberian Nomor Seri Faktur Pajak melalui laman (website) yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak Pasal 9A (1) Direktorat Jenderal Pajak memberikan sertifikat elektronik kepada PKP yang berfungsi sebagai otentifikasi pengguna layanan perpajakan secara elektronik yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak, berupa: a. layanan permintaan Nomor Seri Faktur Pajak melalui laman (website) yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak; dan b. penggunaan aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk pembuatan Faktur Pajak berbentuk elektronik. (2) Sertifikat elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada PKP setelah PKP mengajukan permintaan sertifikat elektronik dan menyetujui syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (3) Pengajuan permintaan sertifikat elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh PKP mulai 1 Januari 2015, melalui: a. Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan dengan menyampaikan surat Permintaan Sertifikat Elektronik sebagaimana diatur dalam Lampiran IH yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini; atau b. laman (website) yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan mengikuti petunjuk pengisian (manual user) yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (4) Pemberian sertifikat elektronik dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada PKP melalui Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP dikukuhkan atau melalui laman (website) yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Dalam pelaksanaan ketentuan tersebut DJP telah menggunakan aplikasi tersendiri untuk pemberian Nomor Seri Faktur Pajak yaitu E-Nofa (Elektronik Nomor Faktur) yang otorisasi dan pelaksanaan atas pemberian nomor faktur dilaksanakan oleh Seksi Pelayanan Kantor Pelayanan Pajak. 3. Elektronik Faktur Pajak (E-Faktur Pajak) Pasal 9 A ayat (2) huruf b, pada PER-17/PJ/2014 telah menyebutkan bahwa Direktorat Jenderal Pajak memberikan sertifikat elektronik kepada PKP yang berfungsi sebagai otentifikasi pengguna layanan perpajakan secara elektronik yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak, berupa penggunaan aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk pembuatan Faktur Pajak berbentuk elektronik. Dari ketentuan tersebut dapat kita lihat bahwa DJP tengah secara nyata mempersiapkan prosedur dan sistematisasi yang Pengusaha Kena Pajak 18

terintegrasi atas layanan perpajakan elektronik yang diantaranya adalah faktur pajak elektronik atau E-Faktur Pajak. Faktur pajak berbentuk elektronik atau E-Faktur, adalah faktur pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. e-faktur Pajak merupakan bagian dari rangkaian pembenahan sistem perpajakan terkait PPN. Sebelumnya DJP melaksanakan pembenahan sistem PPN melalui program registrasi ulang PKP, pengembangan aplikasi pengawasan PKP, penomoran faktur pajak secara elektronik (e-nofa). Peluncuran e-faktur diatur dalam Per Dirjen Pajak Nomor PER-16/PJ/2014 tentang Tata Cara Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik. Latar Belakang ditetapkannya E-Faktur Pajak adalah : Manfaat E-Faktur Pajak bagi PKP maupun DJP : Pengusaha Kena Pajak 19

Pasal 10 dan 11 PER-16/PJ/2014 tentang Tata Cara Pembuatan dan Pelaporan Faktur Pajak Berbentuk Elektronik. Memuat ketentuan tentang bentuk dan pelaporan E-Faktur Pajak. Pasal 10 (1) Bentuk e-faktur adalah berupa dokumen elektronik Faktur Pajak, yang merupakan hasil keluaran (output) dari aplikasi atau sistem elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. (2) e-faktur tidak diwajibkan untuk dicetak dalam bentuk kertas (hardcopy). Pasal 11 (1) e-faktur wajib dilaporkan oleh Pengusaha Kena Pajak ke Direktorat Jenderal Pajak dengan cara diunggah (upload) ke Direktorat Jenderal Pajak dan memperoleh persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. (2) Pelaporan e-faktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan aplikasi atau sistem elektronik yang telah ditentukan dan/atau disediakan Direktorat Jenderal Pajak. (3) Direktorat Jenderal Pajak memberikan persetujuan untuk setiap e-faktur yang telah diunggah (upload) sepanjang Nomor Seri Faktur Pajak yang digunakan untuk penomoran e-faktur tersebut adalah Nomor Seri Faktur Pajak yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Pengusaha Kena Pajak yang membuate-faktur sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (4) e-faktur yang tidak memperoleh persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak bukan merupakan Faktur Pajak. Pemberlakuan E-Faktur Pajak kepada Pengusahan Kena Pajak (PKP) tertentu di Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Kantor Pelayanan Pajak Khusus, dan Kantor Pelayanan Pajak Madya di Jakarta mulai 1 Juli 2014. 1 Juli 2015 e-faktur Pajak akan diberlakukan untuk seluruh PKP di Kantor Pelayanan Pajak Pulau Jawa dan Bali. Sedangkan pemberlakukan e-faktur Pajak secara nasional akan dimulai pada 1 Juli 2016. Pengusaha Kena Pajak 20