SAP2000 Peranan Konfigurasi Batang pada Rangka Atap Baja

dokumen-dokumen yang mirip
KONFIGURASI BATANG PADA PERANCANGAN RANGKA ATAP BAMBU

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN. Untuk mempermudah perancangan Tugas Akhir, maka dibuat suatu alur

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

5ton 5ton 5ton 4m 4m 4m. Contoh Detail Sambungan Batang Pelat Buhul

PERBANDINGAN BERAT KUDA-KUDA (RANGKA) BAJA JENIS RANGKA HOWE DENGAN RANGKA PRATT

BAB V PEMBAHASAN. terjadinya distribusi gaya. Biasanya untuk alasan efisiensi waktu dan efektifitas

Kuliah ke-6. UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI FAKULTAS TEKNIK Jalan Sudirman No. 629 Palembang Telp: , Fax:

Susunan Beban Hidup untuk Penentuan Momen Rencana

BAB I. Perencanaan Atap

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

V. BATANG TEKAN. I. Gaya tekan kritis. column), maka serat-serat kayu pada penampang kolom akan gagal

BAB IV PERMODELAN DAN ANALISIS STRUKTUR

DAFTAR PUSTAKA. Analisis Harga Satuan Pekerjaan Kota Bandung. Dinas Tata Kota Propinsi Jawa Barat

BAB I PENDAHULUAN Umum. Pada dasarnya dalam suatu struktur, batang akan mengalami gaya lateral

BAB IV ANALISA STRUKTUR

Perbandingan Model Pertemuan Element Frame dengan Shell

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN. 3.1 Diagram Alir Perancangan Struktur Atas Bangunan. Skematik struktur

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III PEMODELAN STRUKTUR

PERBANDINGAN BIAYA STRUKTUR BAJA NON-PRISMATIS, CASTELLATED BEAM, DAN RANGKA BATANG

LANDASAN TEORI. Katungau Kalimantan Barat, seorang perencana merasa yakin bahwa dengan

KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU

BAB IV POKOK PEMBAHASAN DESAIN. Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi-dimensi

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

4.3.5 Perencanaan Sambungan Titik Buhul Rangka Baja Dasar Perencanaan Struktur Beton Bertulang 15

BAB I PENDAHULUAN. Pada suatu konstruksi bangunan, tidak terlepas dari elemen-elemen seperti

PERHITUNGAN IKATAN ANGIN (TIE ROD BRACING )

Jembatan Komposit dan Penghubung Geser (Composite Bridge and Shear Connector)

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder

STUDI PERBANDINGAN PENGGUNAAN BALOK ANAK KONSTRUKSI PROPPED PADA BANGUNAN TINGKAT DUA DENGAN VARIASI JARAK BALOK DAN PORTAL DARI SEGI TEKNIK DAN BIAYA

BAB 1 PENDAHULUAN...1

PENGARUH DAN FUNGSI BATANG NOL TERHADAP DEFLEKSI TITIK BUHUL STRUKTUR RANGKA Iwan-Indra Gunawan PENDAHULUAN

Analisis Balok Anak Konstruksi Propped pada Portal Tingkat Dua berdasarkan Variasi Jarak Balok dan Portal (Aspek Tehnis dan Biaya)

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

BAB III METEDOLOGI PENELITIAN. dilakukan setelah mendapat data dari perencanaan arsitek. Analisa dan

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR KONSTRUKSI BAJA GEDUNG DENGAN PERBESARAN KOLOM

MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN BANTAR III BANTUL-KULON PROGO (PROV. D. I. YOGYAKARTA) DENGAN BUSUR RANGKA BAJA MENGGUNAKAN BATANG TARIK

Studi Analisis Gording Baja pada Pembangunan Gedung Auto2000 Kabupaten Sukabumi

BAB III PEMODELAN DAN ANALISIS STRUKTUR

ANALISA DIMENSI DAN STRUKTUR ATAP MENGGUNAKAN METODE DAKTILITAS TERBATAS

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai

Pertemuan 8 KUBAH TRUSS BAJA

PERBANDINGAN PERENCANAAN SAMBUNGAN KAYU DENGAN BAUT DAN PAKU BERDASARKAN PKKI 1961 NI-5 DAN SNI 7973:2013

MODUL STRUKTUR BAJA II 4 BATANG TEKAN METODE ASD

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Torsi sekeliling A dari kedua sayap adalah sama dengan torsi yang ditimbulkan oleh beban Q y yang melalui shear centre, maka:

MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR BAJA KOMPOSIT PADA GEDUNG PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI JEMBER

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

Struktur Baja 2. Kolom

BAB III METODE PENELITIAN

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder

Oleh : MUHAMMAD AMITABH PATTISIA ( )

Soal 2. b) Beban hidup : beban merata, w L = 45 kn/m beban terpusat, P L3 = 135 kn P1 P2 P3. B C D 3,8 m 3,8 m 3,8 m 3,8 m

Sambungan diperlukan jika

PERHITUNGAN GORDING DAN SAGROD

PENGGAMBARAN DIAGRAM INTERAKSI KOLOM BAJA BERDASARKAN TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG (SNI ) MENGGUNAKAN MATLAB

PERHITUNGAN PANJANG BATANG

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PERPUSTAKAAN PUSAT YSKI SEMARANG

BAB 1 PENDAHULUAN. metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan

5- STRUKTUR LENTUR (BALOK)

PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA 5 LANTAI DI WILAYAH GEMPA 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STUDI PERILAKU TEKUK TORSI LATERAL PADA BALOK BAJA BANGUNAN GEDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ABAQUS 6.7. Oleh : RACHMAWATY ASRI ( )

BAB IV PERENCANAAN AWAL (PRELIMINARY DESIGN)

Struktur Rangka Batang (Truss)

BAB I PENDAHULUAN. Istimewa Yogyakarta pada khususnya semakin meningkat. Populasi penduduk

Henny Uliani NRP : Pembimbing Utama : Daud R. Wiyono, Ir., M.Sc Pembimbing Pendamping : Noek Sulandari, Ir., M.Sc

PENGARUH BRACING PADA PORTAL STRUKTUR BAJA

BAB III METODE PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA KERETA API. melakukan penelitian berdasarkan pemikiran:

BAB 4 STUDI KASUS. Sandi Nurjaman ( ) 4-1 Delta R Putra ( )

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH BINA BANGSA JALAN JANGLI BOULEVARD SEMARANG

Struktur Rangka Batang Statis Tertentu

PERENCANAAN STRUKTUR RANGKA BAJA BRESING TAHAN GEMPA

TAMPAK DEPAN RANGKA ATAP MODEL 3

STUDI PERBANDINGAN STRUKTUR RANGKA ATAP BAJA UNTK BERBAGAI TYPE TUGAS AKHIR M. FAUZAN AZIMA LUBIS

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN. Studi kasus pada penyusunan Tugas Akhir ini adalah perancangan gedung

Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir

BAB I PENDAHULUAN. pesat yaitu selain awet dan kuat, berat yang lebih ringan Specific Strength yang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Dalam bidang konstruksi, beton dan baja saling bekerja sama dan saling

BAB IV PERMODELAN STRUKTUR

BAB I PENDAHULUAN. Metode evaluasi struktur bangunan gedung, jembatan dan kontruksi

PERANCANGAN ULANG STRUKTUR ATAS GEDUNG PERKULIAHAN FMIPA UNIVERSITAS GADJAH MADA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI. 3.1 Dasar-dasar Perancangan

PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG PUSAT KEGIATAN MAHASISWA POLITEKNIK NEGERI MALANG DENGAN SISTEM RANGKA PEMIKUL MOMEN MENENGAH (SRPMM)

APLIKASI TEKLA STRUCTURES DAN SAP 2000 PADA PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BAJA TUGAS AKHIR A. A. NGURAH GITA MANTRA

PERENCANAAN RANGKA ATAP BAJA RINGAN BERDASARKAN SNI 7971 : 2013 IMMANIAR F. SINAGA. Ir. Sanci Barus, M.T.

Perhitungan Struktur Bab IV

ANALISIS SAMBUNGAN PORTAL BAJA ANTARA BALOK DAN KOLOM DENGAN MENGGUNAKAN SAMBUNGAN BAUT MUTU TINGGI (HTB) (Studi Literatur) TUGAS AKHIR

Struktur Statis Tertentu : Rangka Batang

BAB 2 DASAR TEORI. Bab 2 Dasar Teori. TUGAS AKHIR Perencanaan Struktur Show Room 2 Lantai Dasar Perencanaan

PERENCANAAN PETRA SQUARE APARTEMENT AND SHOPPING ARCADE SURABAYA MENGGUNAKAN HEXAGONAL CASTELLATED BEAM NON-KOMPOSIT

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB III METODE PERANCANGAN. Dalam dunia konstruksi, tugas dari seorang civil structure engineer adalah

BAB I PENDAHULUAN. dengan banyaknya dilakukan penelitian untuk menemukan bahan-bahan baru atau

Transkripsi:

SAP2000 Peranan Konfigurasi Batang pada Rangka Atap Baja Rangka atap baja pada bentang yang besar (L > 10 m) seperti ditunjukkan pada gambar perlu dilakukan peninjauan terhadap beberapa konfigurasi penempatan batang, dalam hal ini yang dilakukan adalah pada batang diagonal. Tujuan konfigurasi batang tersebut untuk mendapatkan struktur yang optimal dan efisien. Tumpuan rangka atap berada pada titik kolom, kondisi tumpuan dianggap sendi-sendi dengan alasan pergerakan horizontal tumpuan tertahan oleh angkur baut serta ditambahkan tertahan juga oleh gesekan bidang kontak tumpuan. Sebenarnya representasi kondisi tumpuan yang lebih realistis dengan menggunakan kekakuan translasi vertikal (K tv ) akibat kolom atau hubungan defleksi pelenturan balok penumpu, sedangkan kekakuan translasi arah horizontal (K th ) adalah kontribusi dari hubungan beban tumpuan (P), luas bidang kontak dan koefisien gesek antara material baja dan beton serta kontribusi dari geser baut angker. ½ P P P P P P P P 1,875 m P P P ½ P 1,50 m model A 1 2 15,00 m 5,675 m 1,875 m 0,9375 m 2,50 m 2,50 m 5,00 m Batang Diagonal (d), n d = 11 btg. (l = 2,401 m) Atas/Bawah (a/b), n a/b = 11 btg. (l = 1,875 m) Vertikal (v), n v = 12 btg. (l = 1,500 m) Peninjauan mengenai kestabilan dan ketidak tentuan statis dari struktur rangka atap diambil dari determination of the statical determinacy of trusses oleh O. Mohr (1874), dapat ditentukan dengan rumus pendekatan berikut : m + r = 2j, statis tertentu, stabilitas terpenuhi. m + r < 2j, tidak stabil m + r > 2j, statis tak tentu, stabilitas terpenuhi. Catatan Penggunaan SAP2000 Suyono Nt., 2007 hal 1 dari 8

dimana, m = jumlah batang r = banyaknya reaksi perletakan (untuk tumpuan sederhana, r = 3) j = jumlah titik buhul (joint) Cek stabilitas struktur, m + r = (11+22+12) + (2+2) = 49 > 2.j = 2*24 = 48 sehingga struktur statis tak tentu, stabilitas terpenuhi. Penyelesaian tidak dapat dilakukan dengan metode konvensional cara analitis (method of joints) maupun grafis (graphical solution of trusses). Namun jika ingin dilakukan perhitungan tangan sebagai perbandingan dapat digunakan metode yang diajukan oleh S. Whipple (1847) dan L.Cremona (1872) tersebut dengan cara membuat salah satu tumpuan menjadi rolled support sehingga jumlah total reaksi perletakan menjadi 3 yang tidak diketahui. Konfigurasi batang yang ditinjau ada 6 model, penggunaan software FE seperti SAP2000 akan sangat membantu karena dengan cepat pengguna cukup sedikit memodifikasi batang diagonal sesuai dengan model yang diharapkan. 1,875 m 50 m model B 15,00 m 5,675 m model C a d v model D b a model E model F Pembebanan yang ditinjau yaitu akibat beban mati (Dead Load) dan beban hidup/tidak tetap (Live Load) serta beban angin (Wind Load). Plafond termasuk rangka rusuk-rusuknya (eternit dari bahan semen asbes), W pfn = 11 kg/m 2 Penutup atap seng gelobang (BWG 24) tanpa gordeng, W atp = 10 kg/m 2 Rangka usuk, gording (perkiraan), W usgd = 25 kg/m 2 Beban air hujan, W ahj = 20 kg/m 2 Beban hidup akibat orang/pekerja, W horg = 50 kg/m 2 Beban angin, W agn = - 0,4. 25 = 10 kg/m 2 (ditinjau tekan) Catatan Penggunaan SAP2000 Suyono Nt., 2007 hal 2 dari 8

Perhitungan beban titik pada joint mengikuti konsep tributary loaded areas ditunjukkan pada gambar dengan daerah yang di arsir. Jarak antar kuda-kuda rangka atap baja, L krka = 5 m jarak antar gording, L grd = 1,875 m Luas pembebanan, A tl = 1,875 * 5 = 9,375 m 2 Beban titik pada node/joint P pfn = 11 * 9,375 = 103,13 Kgf (½ P pfn = 103,13/2 = 51,57 Kgf) P atp = 10 * 9,375 = 93,75 Kgf (½ P atp = 93,75/2 = 46,88 Kgf) P usgd = 25 * 9,375 = 234,38 Kgf (½ P usgd = 234,38/2 = 117,19 Kgf) P ahj = 20 * 9,375 = 187,50 Kgf (½ P ahj = 187,50/2 = 93,75 Kgf) P horg = 50 * 9,375 = 468,75 Kgf (½ P horg = 468,75/2 = 234,38 Kgf) P agn = 10 * 9,375 = 93,75 Kgf (½ P agn = 93,75/2 = 46,88 Kgf) Berat sendiri profil batang rangka diperhitungkan langsung sebagai selfweight dengan faktor 1,0 Kombinasi pembebanan yang ditinjau mengikuti metode beban kerja/tegangan izin (Allowable Stress Design) yaitu 1,0D+1,0W+1,0L Sifat-sifat bahan dan tegangan-tegangan dasar baja yang digunakan (PPBBI-1983 Pasal 2.1 dan 2.2) adalah sebagai berikut : - Berat Jenis Baja, γ bj = 7.850 kg/m 3 - Modulus elastisitas, E = 2,10 x 10 6 kg/cm 2 - Modulus geser, G = 0,81 x 10 6 kg/cm 2 - Angka perbandingan poisson, µ = 0,30 Jenis baja yang digunakan adalah BJ37, besarnya tegangan leleh, σ leleh = 2400 kg/cm 2 (240 Mpa) dan σ ijin = 1600 kg/cm 2 (160 Mpa) Penampang Profil yang digunakan untuk estimasi awal yaitu siku double L 70.70.7 Beban Titik akibat berat plafond (Kgf) Beban Titik akibat berat penutup atap (Kgf) Beban Titik akibat berat usuk dan gording (Kgf) Catatan Penggunaan SAP2000 Suyono Nt., 2007 hal 3 dari 8

Beban Titik akibat berat air hujan (Kgf) Beban Titik akibat beban hidup orang/pekerja (Kgf) Beban Titik akibat angin tekan (Kgf) Analisa yang ditinjau adalah jenis analisa rangka atap bidang (plane truss) dengan 2 derajat ketidak tentuan kinematis (DOF's) 2 translasi tiap titik node. Pada SAP2000 secara default batang adalah jenis frame yang mempunyai kekakuan lentur menahan momen, untuk kesesuaian ini dapat dilakukan dengan mengeset member end release pada M33(major) pada kedua ujung member atau dengan cara lain merubah nilai Inersia Penampang I x dan I y menjadi nol (0). Sebenarnya kondisi ini juga kurang realistis karena pada kenyataannya tergantung dari jenis sambungan yang digunakan pengaruh kekakuannya menahan lentur, apalagi jika digunakan sambungan las maka akan cenderung moment resisting frames. Kondisi sambungan sesungguhnya berada diantara kedua keadaan tersebut. Member End Realese M33 (major) (Computers and Structures Inc., 1998) Catatan Penggunaan SAP2000 Suyono Nt., 2007 hal 4 dari 8

Hasil keluaran diagram gaya aksial dan deformasi struktur ditampilkan sebagai berikut : Warna Merah = Tekan/Negatif (Compression) Kuning = Tarik/Positif (Tension) Model A (Gaya Aksial P beban kombinasi) Model A (deformed shape beban kombinasi) Model B (Gaya Aksial P beban kombinasi) Model C (Gaya Aksial P beban kombinasi) Catatan Penggunaan SAP2000 Suyono Nt., 2007 hal 5 dari 8

Model D (Gaya Aksial P beban kombinasi) Model E (Gaya Aksial P beban kombinasi) Model F (Gaya Aksial P beban kombinasi) Perbandingan hasil analisa dari berbagai model ditabelkan sebagai berikut. Tinjauan Gaya Aksial Terbesar Batang (Kgf) Defleksi Vertkal (mm) Atas (a) Bawah (b) Diagonal (d) Vertikal (v) Titik (1) Titik (2) Model A -9.204,88-5.955,84-8.398,77-1.125,61-6,29-2,16 Model B -9.349,73-7.289,65-8.398,77-4.375,29-6,67-2,04 Model C -9.349,73-11.700,39-6.335,54-9.632,26-6,98-2,02 Model D -9.349,73-11.647,57-6.064,95-6.382,58-7,13-2,27 Model E -9.349,73-7.164,18-8.398,77-1.125,61-5,14-3,25 Model F -9.349,73-10492,06 +8.398,77-9.632,26-8,34-1,38 Catatan Penggunaan SAP2000 Suyono Nt., 2007 hal 6 dari 8

Kesimpulan Berdasarkan peninjauan beberapa model dari rangka atap baja menunjukkan bahwa untuk kriteria kekakuan maka konfigurasi batang diagonal pada Model E yang menunjukkan prediksi defleksi vertikal arah z yang kecil. Sedangkan untuk kriteria efisiensi batang ditinjau dari gaya batang tekan (compression) karena pengaruh tekuk (buckling), dari berbagai model dipilih yang terkecil. Tabel di atas menunjukkan bahwa konfigurasi batang diagonal pada Model A, B dan E menghasilkan nilai yang terkecil. Perbandingan selisih gaya tekan (batang bawah) dari beberapa model tersebut terlihat cukup signifikan yaitu mencapai 48,87%. Berdasarkan tinjauan beberapa model tersebut, dapat dipahami bahwa konfigurasi batang yang bertemu pada tumpuan joint yang di restraint apabila semakin banyak batang yang bertemu tersebut maka struktur rangka akan semakin kaku serta penyebaran tegangan aksial batang akan lebih merata dan mengecil. Saran Peninjaun ulang terhadap representasi tumpuan, karena biasanya rangka kuda-kuda atap baja tidak selalu menumpu pada titik kolom melainkan sering ditemui menumpu pada bagian bentang balok. Perlu representasi kekakuan translasi tumpuan yang lebih realistis. Perhitungan berat gording ditinjau secara perkiraan saja, seharusnya berdasarkan berat gording per m' yang dikalikan dengan lebar tributary area (dalam permasalahan ini, L ta = 5 m). Untuk perhitungan dan desain final agar teliti seharusnya data profil batang Luas dan Inersia Penampang serta Tegangan Leleh baja F y diambil dari tabel pabrik baja. Pustaka Darmawan, L. W., 1993, Konstruksi Baja 2, Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta Liepins, A. A., and Bell, G.R., 1992, How to Avoid Common Pitfalls in Structural Analysis by Computer, presented at ASCE 1992 International Convention and Exposition, 14-17 Sept. LPMB Bandung, 1981, Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung LPMB Bandung, 1983, Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung Computers and Structures Inc., 1998, SAP2000 Basic Analysis Refference, Berkeley California Catatan Penggunaan SAP2000 Suyono Nt., 2007 hal 7 dari 8

LAMPIRAN Peninjauan Awal Kebutuhan Profil untuk Batang Atas Data perhitungan : Gaya aksial, P = - 9.349,138 Kgf, berupa gaya tekan (Model E) Panjang sistem, l s = 1,875 m Dipilih profil siku sama kaki double L 70.70.7 Tebal pelat penyambung, t plt = 1,0 cm. 2 t pfl t plt 2. 0,7 1,0 cm. ( o. k. ) Data profil sebagai berikut : - Luas penampang, F = 17,92 cm 2 - Momen inersia, I x = 84,41 cm 4 g = E s 0,7 l = 2,1 106 0,7 2400 = 111,07 Tekuk ditinjau terhadap sumbu lemah i x-x x = l kx i x = 187,5/2,17 = 86,41 s = x = 86,41/111,07= 0,78 g untuk 0,183 < λ s < 1, maka : = 1,41 1,593 s = 1,41 1,593 0,78 = 1,73 Tegangan kritis menurut PPBBI-1983 subbab 4.1.1 kr = P A = 1,73 9349,14 = 902,57 kg/cm 17,92 2 < σ ijin 1600 kg/cm 2 (ok, rasio 0,56) rasio kekuatan dapat diperbesar lagi, profil dibuat lebih kecil. Perhitungan tersebut di atas hanya meninjau akibat tegangan aksial saja, tegangan sekunder lentur akibat berat sendiri struktur serta kekangan ujung (momen tak terduga) belum ditinjau. Dalam analisa ini hubungan antar joint adalah sendi-sendi, momen lentur akibat berat sendiri profil yang terjadi kecil dan dapat diabaikan dulu. Berat profil double L70.70.7 = 0,001792 * 7.850 = 14,07 Kgf/m' M sfw = 1/8. q. l 2 = 1/8 * 14,07 * 1,875 2 = 6,18 Kgf.m Tegangan akibat lentur bnd = M y = 618,0 W x 17,13 = 36,08 Kgf/cm2 Sekitar 4 % dari tegangan aksial. Catatan Penggunaan SAP2000 Suyono Nt., 2007 hal 8 dari 8