6/1/21 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL DR. MOHAMMAD ABDUL MUKHI, SE., MM DEFINISI Kebijakan dengan mengatu jumlah uang beeda. Instumen kebijakan monete: Open Maket Opeation Melalui suat behaga milik pemeintah(sbi, SBPU) epuchase ageement Discount Rate Tingkat bungayang ditetapkanpemeintahatasbank-bank umum. Reseve Requiement Ratio Mengukuefekmultiplie daicadanganwajibyang dihauskan Moal Pesuation 1
6/1/21 PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP KESEIMBANGAN PASAR UANG -MODAL M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 1 2
6/1/21 M S M S 1 LM 2 f 2 2 f 2 LM 1 4 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 3 M D ( 1 ) 1 3 1 M S M S 1 LM LM 1 2 f 2 2 f 2 4 f 4 4 f 4 1 3 f 1 f 3 M D 1( ) M D ( 1 ) 1 1 3 f1 f 3 1 3
6/1/21 M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 1 M S 2 M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 2 3 1 4
6/1/21 M S 2 M S LM 2 6 f 6 6 f 6 LM 2 f 2 2 f 2 5 f 5 5 f 5 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 2 3 1 M S 2 M S M S 1 LM 2 6 f 6 6 LM f 6 LM 1 2 f 2 2 f 2 5 4 f 5 f 4 5 4 f 5 f 4 1 3 f 1 f 3 M D ( ) M D 1( 1 ) 2 1 1 3 f 1 f 3 1 5
6/1/21 PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP KESEIMBANAN EKONOMI LM E IS 6
6/1/21 LM LM 1 1 E E 1 1 IS LM 2 LM 2 E 2 E 2 IS 7
6/1/21 LM 2 LM 2 E 2 E LM 1 1 E 1 2 1 IS Efektivitas Kebijakan Fiskal 8
6/1/21 IS IS 1 9
6/1/21 IS 2 Efektivitas Kebijakan Monete 1
6/1/21 LM LM 2 11
6/1/21 LM 3 EFEKTIVITAS KEBIJAKAN FISKAL DAN MONETER 12
6/1/21 Inteval Keynesian (Keynesian Range) Inteval LM Antaa (Intemedia te Range) Inteval Klasik (Clasical Range) LM IS 1 IS 2 1 2 13
6/1/21 LM IS 3 IS 4 3 4 IS 5 IS 6 LM 5 14
6/1/21 IS 5 IS 6 LM IS 3 IS 4 IS 1 IS 2 1 2 3 4 5 IS 3 LM 1 c IS 2 b IS 1 a 1 2 4 15
6/1/21 IS 3 LM e IS 2 IS 1 a d 1 3 5 IS 3 LM 1 d LM e IS 1 a IS 2 b c 1 2 3 4 5 16
6/1/21 LM IS LM LM 1 IS 1 17
6/1/21 LM 2 LM IS 2 LM 2 LM LM 1 IS 2 1 18
6/1/21 LM IS LM LM 1 1 IS 1 19
6/1/21 LM 2 LM 2 IS 2 LM 2 LM LM 1 2 1 IS 2 1 2
6/1/21 IS Monete Kontaktif Monete Ekspansif LM IS Monete Kontaktif Monete Ekspansif LM 21
6/1/21 Efektivitas Kebijakan Monete Tehadap Output dan Tingkat Haga (Bunga) KURVA IS DATAR ELASTISITAS SEMPURNA KURVA IS INELASTIS SEMPURNA KURVA IS NEGATIF KURVA LM ELASTIS SEMPURNA (INTERVAL KENES) Tidak tedefinisikan Monete Ekspansif atau Kontaktif tidak efektif, * dan tingkat bunga tetap. Monete Ekspansif atau Kontaktif tidak efektif, * dan tingkat bunga tetep. KURVA LM INELASTIS SEMPURNA (INTERVAL KLASIK) 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tetap. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga tetap. Tidak tedefinisikan 1. Monete Ekspansif, * tuun, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga naik. KURVA LM POSITIF (INTERVAL ANTARA) 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tetap. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga tetap. 1. Monete Ekspansif, * tetap, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tetap, tingkat bunga naik. 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga naik. 22
6/1/21 Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan pemeintah untuk mengelola atau mengaahkan peekonomian ke kondisi yang diinginkan dengan caa mengubah-ubah peneimaan dan pengeluaan pemeintah. Klasifikasi Pajak a. Pajak Obyektif : pajak yang dikenakan bedasakan aktivitas ekonomi paa wajib pajak. b. Pajak Subyektif : pajak yang dipungut dengan melihat kemampuan wajib pajak. c. Pajak Langsung : beban pajak yang tidak dapat digese kepada wajib pajak lain d. Pajak tidak Langsung : beban pajak yang dapat digese kepada wajib pajak lain 23
6/1/21 Taif Pajak 1. Pajak Nominal : pajak yang pengenaannya bedasakan sejumlah nilai nominal tetentu. 2. Pajak Posentase : pajak yang pengenaannnya bedasakan pesentase tetentu dai dasa pengenaan pajak. a. Pajak Poposional : taif pesentasenya tetap. b. Pajak Pogesif : taif makin tinggi bila dasa pengenaan pajak makan tinggi. c. Pajak Regesif : taif makin endah bila dasa pengenaan pajak makin tinggi. Pengauh Pajak Tehadap Pendapatan dan Konsumsi Pajak Nominal: d = T C = C + b d C = C + b( T) C = C + b bt C = 1 +,8 d dan T = 25 C = 1 +,8( 25) C = 1 +,8 2 C = 8 +,8 24
6/1/21 C, C = 1 +,8 d 1 C, C = 8 +,8 8 25
6/1/21 C, C = 1 +,8 d C = 8 +,8 1 8 Pengauh Pajak Tehadap Pendapatan dan Konsumsi Pajak Poposional Pajak = t d = t = (1-t) C = C + b d C = C + b{(1 t)} C = C + b bt C = C + (b bt) C = 1 +,8 d dan T = 25% C = 1 +,8(1,25) C = 1 +,8(,75) C = 8 +,6 26
6/1/21 C, C = 1 +,8 d C, C = 8 +,6 27
6/1/21 C, C = 1 +,8 d C = 8 +,6 Pengauh Pajak Tehadap Keseimbangan Ekonomi C = 1 +,8 d = C + I + G I = 15 = 1 +,8 + 15 + 25 G = 25,8 = 5 T = 1 = 5/,2 = 25 = C + I + G = 1 +,8( 1) + 15 + 25 = 1 +,8 8 + 15 + 25,8 = 42 = 42/,2 = 21 28
6/1/21 Konsumsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah 6 5 4 3 2 1 = C = 1 +,8 G= 25 I=15 1 2 3 4 5 6 Pendapatan Nasional Konsusmsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah 45 4 35 3 25 2 15 1 5 = C = 2 +,8 G= 25 I=15 1 2 3 4 5 6 Pendapatan Nasional 29
6/1/21 Konsumsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah 6 5 4 3 2 1 = C = 2 +,8 C = 2 +,8 G= 25 I=15 1 2 3 4 5 6 Pendapatan Nasional Politik Anggaan a. Anggaan beimbang. b. Anggaan tidak beimbang G = Pendapatan Pemeintah (1- b) b. T = - Pajak (1- b) Anggaan Defisit Pengeluaan pemeintah lebih besa dai peneimaan pemeintah digunakan untuk menstimuli petumbuhan ekonomi, kaena peekonomian dalam keadaan esesi. 3
6/1/21 G T = + (1- b) (1- b) W = G - T G b T = + (1- b) (1- b) G - b T = (1- b) G + W - b T = (1- b) = T + W (1- b) Politik Anggaan Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 25 T = 15 T = 15 Kondisi keseimbangan awal : = C + I + G = 1 +,8( 25) + 15 + 25 = 5 +,8 2 = 3 +,8 = 3 /,2 = 15 Anggaan Defisit : Jika pemeintah menempuh anggaan defisit, (ΔG = 25 dan ΔT = 15). G 1 = 25 + 25 = 5 d1 = 25 15 = 4 31
6/1/21 C 1 = 1 +,8 d1 C 1 = 1 +,8 ( 4) C 1 = 1 +,8 32 C 1 = -22+,8 = C + I + G = 22,8 + 15 + 5 = 43 +,8 = 43 /,2 = 215 Δ = 215 15 = 65 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 15 + (1/(1-,8)) = 15 + 5 = 65 Anggaan Suplus (Kebijakan fiskal kontaktif): Peneimaan lebih besa dai pengeluaan, bila ΔC < ΔT, dimana ΔG danδt Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 15 T = 15 T = 25 Kondisi keseimbangan awal : = C + I + G = 1 +,8( 25) + 15 + 25 = 5 +,8 2 = 3 +,8 = 3 /,2 = 15 32
6/1/21 Jikapemeintahmenempuhanggaandefisit, (ΔG = 15 danδt = 25). G 1 = 25 + 15 = 4 d1 = 25 25 = 5 C 1 = 1 +,8 d1 C 1 = 1 +,8 ( 5) C 1 = 1 +,8 4 C 1 = -3+,8 = C + I + G = -3,8 + 15 + 4 = 25 +,8 = 25 /,2 = 125 Δ = 125 15 = -25 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 25 -(1/(1-,8)) = 25-5 = -25 Anggaan Beimbang : Pengeluaan = peneimaan (G = T atau G = T) C kaena G = (1 - b) b. T kaena T = - (1 - b) C b. T = (1 - b) (1 - b) T b. T = (1 - b) (1 - b) (1 - b) =. T (1 - b) = T = G 33
6/1/21 Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 15 T = 15 T = 25 Bila pemeintah melakukan kebijakan anggaan beimbang dimanaδg = 15 danδt = 15. G 1 = 25 + 15 = 4 d1 = 25 15 = 4 C 1 = 1 +,8 d1 = 1 +,8 ( 4) C 1 = 1 +,8 32 = -22+,8 = C + I + G = -22,8 + 15 + 4 = 33 +,8 = 33 /,2 = 165 Δ = 165 15 = 15 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 15 (/(1-,8)) = 15 - = 15 34
6/1/21 Efektivitas Kebijakan Fiskal 1 IS Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal kontaktif 1 G = (1- b) IS 1 IS 1 35
6/1/21 Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal ekspansif 1 IS 1 IS IS 2 2 Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal kontaktif Fiskal ekspansif G = (1- b) 1 G = (1- b) G = (1- b) IS 1 IS IS 2 1 2 36
6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM * IS Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM 1 Ekspansi Fiskal * * 2 IS IS 1 37
6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM * IS Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi Ekspansi Monete LM LM1 2 * * 2 IS 38
6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi Ekspansi Monete LM LM1 1 Ekspansi Fiskal * * 2 * 1 IS IS 1 Efektivitas Kebijakan Fiskal Tehadap Output dan Tingkat haga (bunga) Kuva IS Elastis Sempuna Kuva IS Negatif Kuva IS Inelastis Sempuna Kuva LM Elastis Sempuna (Inteval Keynes Tidak tedefinisikan Kebijakan Fiskal efektif sempuna Fiskal Ekspansif: naik, tetap. Fiskal Kontaktif : tuun, tetap. Kebijakan Fiskal efektiff sempuna : Fiskal Ekspansif: naik, tetap. Fiskal Kontaktif : tuun, tetap. Kuva LM Positif (Inteval Antaa) Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Kuva LM Inelastis Sempuna (Inteval Klasik) Kebijakan Fiskal tidak efektif sempna Fiskal Ekspansif : tetap, naik. Kebijakan Fiskal tidak efektif sempna Fiskal Ekspansif : tetap, naik. Tidak tedefinisikan 39
6/1/21 APBN Indonesia APBN sebagai lokomotif petumbuhan ekonomi Tilogi Pembangunan (petumbuhan, pemeataan dan stabilisasi) Fungsi Fiskal : alokasi baang publik, distibusi pendapatan dan stabilisasi peekonomian. Fungsi APBN dilihat dai sisi peneimaan dan pengeluaan (dana mencakup 18 sekto) : 1. Saana, pasaana ekonomi : pembangunan jalan aya, pelabuhan, kapasitas listi, enegi dan lain-lain. 2. Peningkatan sumbedaya ma nusia : pendidikan, kesehatan dan peanan wanita. 3. Peningkatan kesejahteaan akyat ; pembangunan peumahan, pengembangan kehidupan beagama 4. Peningkatan kapasitas pemeintahan : anggaan pengembangan apaatu pemeintahan. Stuktu Dasa APBN Peneimaan A. Peneimaan Dalam Negei: 1. PeneimaanMigas 2. PeneimaanPajak 3. Peneimaan Bukan Pajak B. Peneimaan Pembangunan : 1. BantuanPogam 2. BantuanPoyek Pengeluaan C. Pengeluan Rutin: 1. Belanja Pegawai 2. Belanja Baang 3. Subsidi Daeah Otonom 4. Bunga dan Cicilan Hutang 5. Lain-lain D. Pengeluaan Pembangunan 1. Pengeluaan Pembangunan 2. Pembiayaan Rupiah A+B=C+D Tabungan pemeintah = Peneimaan dalam negei Pengeluaan utin 4
6/1/21 41
6/1/21 42