KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL

dokumen-dokumen yang mirip
Fiskal vs Moneter Kebijakan Mana Yang Lebih Effektif?

Keseimbangan Umum Pasar Barang dan Pasar Uang. Minggu 12

Keseimbangan Umum IS-LM

KEBIJAKAN FISKAL 30/04/2016. Kebijakan fiskal

KORELASI. menghitung korelasi antar variabel yang akan dicari hubungannya. Korelasi. kuatnya hubungan dinyatakan dalam besarnya koefisien korelasi.

ekonomi K-13 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL K e l a s A. PENGERTIAN KEBIJAKAN MONETER Tujuan Pembelajaran

Kebijakan Fiskal dan Keseimbangan Pendapatan Nasional. Pengantar Ilmu Ekonomi

BAB II METODE PENELITIAN. penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan

08. Tabel biaya dan produksi suatu barang sebagai berikut : Jumlah produksi Biaya tetap Biaya variabel Biaya total 4000 unit 5000 unit 6000 unit

BAB 3 SEJARAH SINGKAT BADAN PUSAT STATISTIK (BPS) 3.1 Sejarah Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia

KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER. Oleh : Muhlisin

Kebijakan Pemerintah KEBIJAKAN PEMERINTAH. Kebijakan Pemerintah. Kebijakan Pemerintah 4/29/2017. Tujuan

MODEL PEREKONOMIAN TERTUTUP 3 SEKTOR

Andri Helmi M, SE., MM. Sistem Ekonomi Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.

METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Karena

BAB I PENDAHULUAN. sebagai alat untuk mengumpulkan dana guna membiayai kegiatan-kegiatan

ANALISIS KORELASI. Konsep. Konsep (lanjutan) Arah hubungan. Agus Susworo Dwi Marhaendro

BAB I PENDAHULUAN. konsisten, perekonomian dibangun atas dasar prinsip lebih besar pasak dari pada

Perekonomian Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Cita-cita bangsa Indonesia dalam konstitusi negara adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN. mengalami krisis yang berkepanjangan. Krisis ekonomi tersebut membuat pemerintah

I. PENDAHULUAN. Salah satu tujuan negara adalah pemerataan pembangunan ekonomi. Dalam

I. PENDAHULUAN. membangun infrastruktur dan fasilitas pelayanan umum. pasar yang tidak sempurna, serta eksternalitas dari kegiatan ekonomi.

SISTEM EKONOMI DAN KEBIJAKAN

MODEL SEDERHANA PERMINTAAN AGREGAT PENAWARAN AGREGAT

I. PENDAHULUAN. Adanya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah serta Undang-

S T A T I S T I K A OLEH : WIJAYA

Malang Study Club. Latihan Ekonomi SMA XII IPS

BAB XII ANALISIS JALUR (PATH ANALYSIS) APA SIH?

ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

BAB I PENDAHULUAN. fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia. perekonomian suatu Negara. Pertumbuhan ekonomi juga diartikan sebagai

BAB II TINJAUAN TEORI. landasan teori yang digunakan dalam penelitian yaitu mengenai variabel-variabel

BAB I PENDAHULUAN. Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan

KEBIJAKAN FISKAL. Sayifullah, SE., M.Akt

HAND OUT STATISTIK NON PARAMETRIK

Perekonomian Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dalam

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi suatu negara di satu sisi memerlukan dana yang relatif besar.

Model IS-LM. Lanjutan... Pasar Barang & Kurva IS 5/1/2017. PASAR UANG & PASAR BARANG (Keseimbangan Kurva IS-LM)

I. PENDAHULUAN. Kegiatan konsumsi telah melekat di sepanjang kehidupan sehari-hari manusia.

SURVEI PERSEPSI PASAR

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang fokus terhadap

III. METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan pinjaman luar negeri merupakan sesuatu yang wajar untuk negaranegara

Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si.

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. Lab. Politik dan Tata Pemerintahan, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, subjek

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan

Teori Politik Keuangan Publik dan Kebijakan Anggaran. Manajemen Keuangan Publik Pert. 5

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 merupakan. dampak lemahnya fundamental perekonomian Indonesia.

PENGERTIAN KEBIJAKAN FISKAL

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) MATA KULIAH EKONOMI UMUM (EKO 160) Pengajar : TIM DOSEN

ANALISIS DINAMIK ANTARA KONSUMSI DAN TABUNGAN DALAM WAKTU KONTINU

PERMINTAAN DAN PENAWARAN AGREGAT

PE^fDAPATAN DAN PENGELUARAN PEMERINTAH TAHUN Zulkarnaini

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan verifikatif.


1 ANGKET PERSEPSI SISWA TERH

BAB I PENDAHULUAN. Monetaris berpendapat bahwa inflasi merupakan fenomena moneter. Artinya,

= Inflasi Pt = Indeks Harga Konsumen tahun-t Pt-1 = Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya (t-1)

PENGUKURAN INFLASI. Dalam menghitung Inflasi secara umum digunakan rumus: P P

BAB II KAJIAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh setiap daerah adalah bertujuan

faktor yang dimiliki masing-masing negara, antara lain sistem ekonomi, kualitas birokrasi. Sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara akan

EKONOMI MAKRO: MODEL ANALISIS IS-LM. Oleh : Nur Baladina, SP. MP.

ANALISIS PENERBITAN OBLIGASI TANPA JATUH TEMPO OLEH PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA DAN INFLASI TERHADAP JUMLAH TABUNGAN SIMPEDA PADA PT BANK SUMUT KANTOR CABANG MEDAN ISKANDAR MUDA PERIODE 2011 s/d 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk mengukur kinerja ekonomi suatu negara dapat dilakukan dengan menghitung

Daftar Isi. Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... vii 1. PENDAHULUAN...1

TEORI EKONOMI 2 JUMLAH SKS TAHUN AJARAN KETENTUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang

BAB 11 GRAVITASI. FISIKA 1/ Asnal Effendi, M.T. 11.1

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN

I. PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi yag pesat merupakan feneomena penting yang

VII. SIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESEIMBANGAN PASAR BARANG dan PASAR UANG ( Analisis IS LM )

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

*ANALISIS KORELASI* { }

BAB IV ANALISIS HUBUNGAN UMPAN BALIK DENGAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMP NEGERI 9 BATANG

BAB III METODE PENELITIAN

APBN Ekspansif, Utang Melonjak

BAB I PENDAHULUAN. untuk menciptakan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan dengan. mengurangi ketergantungan pada sumber dana luar negeri.

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO. PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NO~OR b TAHUN 2010 TENTANG PAJAK AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA \ I I

Contoh Soal APBN Dan APBD Beserta Jawabannya

Jenis-Jenis Inflasi. Berdasarkan Tingkat Keparahan;

Transkripsi:

6/1/21 KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL DR. MOHAMMAD ABDUL MUKHI, SE., MM DEFINISI Kebijakan dengan mengatu jumlah uang beeda. Instumen kebijakan monete: Open Maket Opeation Melalui suat behaga milik pemeintah(sbi, SBPU) epuchase ageement Discount Rate Tingkat bungayang ditetapkanpemeintahatasbank-bank umum. Reseve Requiement Ratio Mengukuefekmultiplie daicadanganwajibyang dihauskan Moal Pesuation 1

6/1/21 PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP KESEIMBANGAN PASAR UANG -MODAL M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 1 2

6/1/21 M S M S 1 LM 2 f 2 2 f 2 LM 1 4 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 3 M D ( 1 ) 1 3 1 M S M S 1 LM LM 1 2 f 2 2 f 2 4 f 4 4 f 4 1 3 f 1 f 3 M D 1( ) M D ( 1 ) 1 1 3 f1 f 3 1 3

6/1/21 M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 1 M S 2 M S LM 2 f 2 2 f 2 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 2 3 1 4

6/1/21 M S 2 M S LM 2 6 f 6 6 f 6 LM 2 f 2 2 f 2 5 f 5 5 f 5 1 f 1 M D 1( ) 1 f 1 M D ( 1 ) 2 3 1 M S 2 M S M S 1 LM 2 6 f 6 6 LM f 6 LM 1 2 f 2 2 f 2 5 4 f 5 f 4 5 4 f 5 f 4 1 3 f 1 f 3 M D ( ) M D 1( 1 ) 2 1 1 3 f 1 f 3 1 5

6/1/21 PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP KESEIMBANAN EKONOMI LM E IS 6

6/1/21 LM LM 1 1 E E 1 1 IS LM 2 LM 2 E 2 E 2 IS 7

6/1/21 LM 2 LM 2 E 2 E LM 1 1 E 1 2 1 IS Efektivitas Kebijakan Fiskal 8

6/1/21 IS IS 1 9

6/1/21 IS 2 Efektivitas Kebijakan Monete 1

6/1/21 LM LM 2 11

6/1/21 LM 3 EFEKTIVITAS KEBIJAKAN FISKAL DAN MONETER 12

6/1/21 Inteval Keynesian (Keynesian Range) Inteval LM Antaa (Intemedia te Range) Inteval Klasik (Clasical Range) LM IS 1 IS 2 1 2 13

6/1/21 LM IS 3 IS 4 3 4 IS 5 IS 6 LM 5 14

6/1/21 IS 5 IS 6 LM IS 3 IS 4 IS 1 IS 2 1 2 3 4 5 IS 3 LM 1 c IS 2 b IS 1 a 1 2 4 15

6/1/21 IS 3 LM e IS 2 IS 1 a d 1 3 5 IS 3 LM 1 d LM e IS 1 a IS 2 b c 1 2 3 4 5 16

6/1/21 LM IS LM LM 1 IS 1 17

6/1/21 LM 2 LM IS 2 LM 2 LM LM 1 IS 2 1 18

6/1/21 LM IS LM LM 1 1 IS 1 19

6/1/21 LM 2 LM 2 IS 2 LM 2 LM LM 1 2 1 IS 2 1 2

6/1/21 IS Monete Kontaktif Monete Ekspansif LM IS Monete Kontaktif Monete Ekspansif LM 21

6/1/21 Efektivitas Kebijakan Monete Tehadap Output dan Tingkat Haga (Bunga) KURVA IS DATAR ELASTISITAS SEMPURNA KURVA IS INELASTIS SEMPURNA KURVA IS NEGATIF KURVA LM ELASTIS SEMPURNA (INTERVAL KENES) Tidak tedefinisikan Monete Ekspansif atau Kontaktif tidak efektif, * dan tingkat bunga tetap. Monete Ekspansif atau Kontaktif tidak efektif, * dan tingkat bunga tetep. KURVA LM INELASTIS SEMPURNA (INTERVAL KLASIK) 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tetap. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga tetap. Tidak tedefinisikan 1. Monete Ekspansif, * tuun, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga naik. KURVA LM POSITIF (INTERVAL ANTARA) 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tetap. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga tetap. 1. Monete Ekspansif, * tetap, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tetap, tingkat bunga naik. 1. Monete Ekspansif, * naik, tingat bunga tuun. 2. Monete Kontaktif, * tuun, tingkat bunga naik. 22

6/1/21 Kebijakan Fiskal Kebijakan Fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan pemeintah untuk mengelola atau mengaahkan peekonomian ke kondisi yang diinginkan dengan caa mengubah-ubah peneimaan dan pengeluaan pemeintah. Klasifikasi Pajak a. Pajak Obyektif : pajak yang dikenakan bedasakan aktivitas ekonomi paa wajib pajak. b. Pajak Subyektif : pajak yang dipungut dengan melihat kemampuan wajib pajak. c. Pajak Langsung : beban pajak yang tidak dapat digese kepada wajib pajak lain d. Pajak tidak Langsung : beban pajak yang dapat digese kepada wajib pajak lain 23

6/1/21 Taif Pajak 1. Pajak Nominal : pajak yang pengenaannya bedasakan sejumlah nilai nominal tetentu. 2. Pajak Posentase : pajak yang pengenaannnya bedasakan pesentase tetentu dai dasa pengenaan pajak. a. Pajak Poposional : taif pesentasenya tetap. b. Pajak Pogesif : taif makin tinggi bila dasa pengenaan pajak makan tinggi. c. Pajak Regesif : taif makin endah bila dasa pengenaan pajak makin tinggi. Pengauh Pajak Tehadap Pendapatan dan Konsumsi Pajak Nominal: d = T C = C + b d C = C + b( T) C = C + b bt C = 1 +,8 d dan T = 25 C = 1 +,8( 25) C = 1 +,8 2 C = 8 +,8 24

6/1/21 C, C = 1 +,8 d 1 C, C = 8 +,8 8 25

6/1/21 C, C = 1 +,8 d C = 8 +,8 1 8 Pengauh Pajak Tehadap Pendapatan dan Konsumsi Pajak Poposional Pajak = t d = t = (1-t) C = C + b d C = C + b{(1 t)} C = C + b bt C = C + (b bt) C = 1 +,8 d dan T = 25% C = 1 +,8(1,25) C = 1 +,8(,75) C = 8 +,6 26

6/1/21 C, C = 1 +,8 d C, C = 8 +,6 27

6/1/21 C, C = 1 +,8 d C = 8 +,6 Pengauh Pajak Tehadap Keseimbangan Ekonomi C = 1 +,8 d = C + I + G I = 15 = 1 +,8 + 15 + 25 G = 25,8 = 5 T = 1 = 5/,2 = 25 = C + I + G = 1 +,8( 1) + 15 + 25 = 1 +,8 8 + 15 + 25,8 = 42 = 42/,2 = 21 28

6/1/21 Konsumsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah 6 5 4 3 2 1 = C = 1 +,8 G= 25 I=15 1 2 3 4 5 6 Pendapatan Nasional Konsusmsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah 45 4 35 3 25 2 15 1 5 = C = 2 +,8 G= 25 I=15 1 2 3 4 5 6 Pendapatan Nasional 29

6/1/21 Konsumsi, Investasi, Pengeluaan Pemeintah 6 5 4 3 2 1 = C = 2 +,8 C = 2 +,8 G= 25 I=15 1 2 3 4 5 6 Pendapatan Nasional Politik Anggaan a. Anggaan beimbang. b. Anggaan tidak beimbang G = Pendapatan Pemeintah (1- b) b. T = - Pajak (1- b) Anggaan Defisit Pengeluaan pemeintah lebih besa dai peneimaan pemeintah digunakan untuk menstimuli petumbuhan ekonomi, kaena peekonomian dalam keadaan esesi. 3

6/1/21 G T = + (1- b) (1- b) W = G - T G b T = + (1- b) (1- b) G - b T = (1- b) G + W - b T = (1- b) = T + W (1- b) Politik Anggaan Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 25 T = 15 T = 15 Kondisi keseimbangan awal : = C + I + G = 1 +,8( 25) + 15 + 25 = 5 +,8 2 = 3 +,8 = 3 /,2 = 15 Anggaan Defisit : Jika pemeintah menempuh anggaan defisit, (ΔG = 25 dan ΔT = 15). G 1 = 25 + 25 = 5 d1 = 25 15 = 4 31

6/1/21 C 1 = 1 +,8 d1 C 1 = 1 +,8 ( 4) C 1 = 1 +,8 32 C 1 = -22+,8 = C + I + G = 22,8 + 15 + 5 = 43 +,8 = 43 /,2 = 215 Δ = 215 15 = 65 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 15 + (1/(1-,8)) = 15 + 5 = 65 Anggaan Suplus (Kebijakan fiskal kontaktif): Peneimaan lebih besa dai pengeluaan, bila ΔC < ΔT, dimana ΔG danδt Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 15 T = 15 T = 25 Kondisi keseimbangan awal : = C + I + G = 1 +,8( 25) + 15 + 25 = 5 +,8 2 = 3 +,8 = 3 /,2 = 15 32

6/1/21 Jikapemeintahmenempuhanggaandefisit, (ΔG = 15 danδt = 25). G 1 = 25 + 15 = 4 d1 = 25 25 = 5 C 1 = 1 +,8 d1 C 1 = 1 +,8 ( 5) C 1 = 1 +,8 4 C 1 = -3+,8 = C + I + G = -3,8 + 15 + 4 = 25 +,8 = 25 /,2 = 125 Δ = 125 15 = -25 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 25 -(1/(1-,8)) = 25-5 = -25 Anggaan Beimbang : Pengeluaan = peneimaan (G = T atau G = T) C kaena G = (1 - b) b. T kaena T = - (1 - b) C b. T = (1 - b) (1 - b) T b. T = (1 - b) (1 - b) (1 - b) =. T (1 - b) = T = G 33

6/1/21 Kasus : C = 1 +,8 d I = 15 G = 25 G = 15 T = 15 T = 25 Bila pemeintah melakukan kebijakan anggaan beimbang dimanaδg = 15 danδt = 15. G 1 = 25 + 15 = 4 d1 = 25 15 = 4 C 1 = 1 +,8 d1 = 1 +,8 ( 4) C 1 = 1 +,8 32 = -22+,8 = C + I + G = -22,8 + 15 + 4 = 33 +,8 = 33 /,2 = 165 Δ = 165 15 = 15 Δ = ΔT + (W/(1 b) = 15 (/(1-,8)) = 15 - = 15 34

6/1/21 Efektivitas Kebijakan Fiskal 1 IS Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal kontaktif 1 G = (1- b) IS 1 IS 1 35

6/1/21 Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal ekspansif 1 IS 1 IS IS 2 2 Efektivitas Kebijakan Fiskal Fiskal kontaktif Fiskal ekspansif G = (1- b) 1 G = (1- b) G = (1- b) IS 1 IS IS 2 1 2 36

6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM * IS Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM 1 Ekspansi Fiskal * * 2 IS IS 1 37

6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi LM * IS Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi Ekspansi Monete LM LM1 2 * * 2 IS 38

6/1/21 Kebijakan Fiskal Ekspansif Tehadap Inflasi Ekspansi Monete LM LM1 1 Ekspansi Fiskal * * 2 * 1 IS IS 1 Efektivitas Kebijakan Fiskal Tehadap Output dan Tingkat haga (bunga) Kuva IS Elastis Sempuna Kuva IS Negatif Kuva IS Inelastis Sempuna Kuva LM Elastis Sempuna (Inteval Keynes Tidak tedefinisikan Kebijakan Fiskal efektif sempuna Fiskal Ekspansif: naik, tetap. Fiskal Kontaktif : tuun, tetap. Kebijakan Fiskal efektiff sempuna : Fiskal Ekspansif: naik, tetap. Fiskal Kontaktif : tuun, tetap. Kuva LM Positif (Inteval Antaa) Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Fiskal Ekspansif: naik, naik. Fiskal Kontaktif : tuun, tuun. Kuva LM Inelastis Sempuna (Inteval Klasik) Kebijakan Fiskal tidak efektif sempna Fiskal Ekspansif : tetap, naik. Kebijakan Fiskal tidak efektif sempna Fiskal Ekspansif : tetap, naik. Tidak tedefinisikan 39

6/1/21 APBN Indonesia APBN sebagai lokomotif petumbuhan ekonomi Tilogi Pembangunan (petumbuhan, pemeataan dan stabilisasi) Fungsi Fiskal : alokasi baang publik, distibusi pendapatan dan stabilisasi peekonomian. Fungsi APBN dilihat dai sisi peneimaan dan pengeluaan (dana mencakup 18 sekto) : 1. Saana, pasaana ekonomi : pembangunan jalan aya, pelabuhan, kapasitas listi, enegi dan lain-lain. 2. Peningkatan sumbedaya ma nusia : pendidikan, kesehatan dan peanan wanita. 3. Peningkatan kesejahteaan akyat ; pembangunan peumahan, pengembangan kehidupan beagama 4. Peningkatan kapasitas pemeintahan : anggaan pengembangan apaatu pemeintahan. Stuktu Dasa APBN Peneimaan A. Peneimaan Dalam Negei: 1. PeneimaanMigas 2. PeneimaanPajak 3. Peneimaan Bukan Pajak B. Peneimaan Pembangunan : 1. BantuanPogam 2. BantuanPoyek Pengeluaan C. Pengeluan Rutin: 1. Belanja Pegawai 2. Belanja Baang 3. Subsidi Daeah Otonom 4. Bunga dan Cicilan Hutang 5. Lain-lain D. Pengeluaan Pembangunan 1. Pengeluaan Pembangunan 2. Pembiayaan Rupiah A+B=C+D Tabungan pemeintah = Peneimaan dalam negei Pengeluaan utin 4

6/1/21 41

6/1/21 42