SELAMA HIDUP DI DUNIA

dokumen-dokumen yang mirip
Nilai-nilai Ajaran Kepercayaan terhadap Tuhan YME sebagai Rujukan Pembentukan Karakter Bangsa MAJELIS LUHUR

SAMBUTAN KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN PADA PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA SAYA INDONESIA, SAYA PANCASILA. Jakarta, 1 Juni 2017

SEJARAH PERUMUSAN PANCASILA DAN BUTIR PENGAMALAN PANCASILA

NILAI-NILAI DAN NORMA BERAKAR DARI BUDAYA BANGSA INDONESIA

Sambutan Presiden RI pada Perayaan Natal Nasional, Jakarta, 27 Desember 2012 Kamis, 27 Desember 2012

Pendidikan Kewarganegaraan

Pancasila; sistem filsafat dan ideologi Negara

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Pancasila dan Implementasinya

Sambutan Presiden RI pada Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Yogyakarta, 10 Oktober 2012 Rabu, 10 Oktober 2012

Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Munas IX GM FKPPI tahun 2012, Jakarta, 24 Februari 2012 Jumat, 24 Pebruari 2012

PANCASILA DALAM KAJIAN SEJARAH BANGSA INDONESIA

PENDIDIKAN PANCASILA. Pancasila Sebagai Ideologi Negara. Modul ke: 05Fakultas EKONOMI. Program Studi Manajemen S1

Pendidikan Pancasila. Implementasi Sila Ke 2 dan 3 Pancasila. Dr. Saepudin S.Ag. M.Si. Modul ke: Fakultas EKONOMI. Program Studi Manajemen

PANCASILA SEBAGAI KESEPAKATAN BANGSA INDONESIA

KELAS: X. 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

Sambutan Presiden RI pd Dharma Santi Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi, di Jakarta, 25 Apr 2014 Jumat, 25 April 2014

Dikdik Baehaqi Arif, M.Pd

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

HAKIKAT PANCASILA TUGAS AKHIR. Disusun oleh : Sani Hizbul Haq Kelompok F. Dosen : Abidarin Rosidi, Dr, M.Ma.

TUGAS AKHIR PEMASYARAKATAN PANCASILA DALAM ERA GLOBALISASI

LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA

G. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SDLB TUNANETRA

Sambutan Presiden RI Pd Pertemuan dg Veteran dan Pejuang Perang..., tgl 23 Mar 2014, di Bali Minggu, 23 Maret 2014

Sambutan Presiden RI pada Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional, Jakarta, 7 November 2012 Rabu, 07 November 2012

NILAI HISTORIS PANCASILA DAN PERAN PANCASILA BAGI KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

PANCASILA. Dasar-dasar, Tujuan Penyelenggaraan, Capaian dan Metode Pembelajaran Pendidikan Pancasila. Poernomo A. Soelistyo, SH., MBA.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pancasila merupakan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PROGRAM PENYEBARAN DAN PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH Dl PERSADA NUSANTARA

BUPATI KULONPROGO Sambutan Pada Acara PERINGATAN EMPAT PULUH TAHUN IKATAN WARGA WATES (IWWT) KULONPROGO, YOGYAKARTA DI BANDUNG

Berilah tanda (X) pada huruf a, b, c, atau d sebagai jawaban yang paling tepat!

1. Arti pancasila sebagai way of life (pandangan hidup)

PLEASE BE PATIENT!!!

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SELAKU INSPEKTUR UPACARA PADA ACARA PERINGATAN HARI BELA NEGARA TAHUN 2015 JAKARTA, 19 DESEMBER 2015

NOMOR 77 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN LEMBAGA KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

17. Berikut ini yang bukan sebutan identik bahwa Pancasila sebagai dasar negara adalah... a. Ideologi negara

G. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SDLB TUNAGRAHITA

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa negara Indonesia adalah negara kepulauan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah laut

Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila

PANCASILA DAN IMPLEMENTASINYA

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Nuzulul Quran 1430 H, Senin, 07 September 2009

BAB I LANDASAN DAN TUJUAN PENDIDIKAN PANCASILA

TUGAS AKHIR KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA PEMASYARAKATAN PANCASILA DALAM ERA GLOBALISASI

TUGAS AKHIR PENDIDIKAN PANCASILA

POKOK-POKOK PIKIRAN TERKAIT PENGGUNAAN KONSEP EMPAT PILAR DALAM RANGKA PEMBERDAYAAN DPD RI. Sudijono Sastroatmodjo

G. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SMALB TUNAGRAHITA

C. Semangat dan Komitmen Kebangsaan Para Pendiri Negara dalam Perumusan dan Penetapan Pancasila

KESEPAKATAN PEMUKA AGAMA INDONESIA

MODUL 2 PANCASILA DAN IMPLEMENTASINYA

PENDIDIKAN PANCASILA

PANCASILA PANCASILA DAN AGAMA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Sistem Informasi.

Kualitas Sumber Daya Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pelestarian Nilai-Nilai Luhur

tercantum Meskipun yaitu : Indonesia Limaa berikut: Rakyat. Dia Pancasila yang dasar Sekarang S Setelah Rumusan

PANCASILA PENJABARAN NILAI-NILAI PANCASILA

PEMERINTAH KOTA SEMARANG DINAS PENDIDIKAN SMP NEGERI 37 SEMARANG

BUTIR BUTIR PANCASILA YANG TERBARU BESERTA CONTOH PENGAMALAN

Pancasila Idiologi dan Identitas Nasional. D.H.Syahrial/PPKn

MAKNA PANCASILA SILA PERTAMA SEBAGAI DASAR DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA DAN BERNEGARA

KEWARGANEGARAAN WAWASAN NUSANTARA. Modul ke: Fakultas FEB. Syahlan A. Sume. Program Studi MANAJEMEN.

SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI PADA PERINGATAN HARI AMAL BAKTI KE-69 KEMENTERIAN AGAMA TANGGAL 3 JANUARI 2015

Waktu: 8 x 45 Menit (Keseluruhan KD) Standar Kompetensi: Memahami Hakikat Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

PENGERTIAN PANCASILA SECARA ETIMOLOGIS DAN HISTORIS

Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua.

BAB I PENDAHULUAN. keadilan sosial. Didalamnya sekaligus terkandung makna tugas-pekerjaan yang harus

ESENSI DAN URGENSI IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI SALAH SATU DETERMINAN PEMBANGUNAN BANGSA DAN KARAKTER

Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera bagi kita semua.

Asas dan dasar negara Kebangsaan republik Indonesia. Asas dan dasar itu terdiri atas lima hal yaitu: 1. Peri Kebangsaan 2. Peri kemanusiaan 3.

MAKNA, HAKIKAT DAN RUANG LINGKUP PANCASILA

BERPERILAKU PANCASILA

PANCASILA & AGAMA STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Tugas akhir kuliah Pendidikan Pancasila. Reza Oktavianto Nim : Kelas : 11-S1SI-07

PANCASILA. Sebagai Ideologi Negara. Disampaikan pada perkuliahan Pancasila kelas PKK. H. U. Adil Samadani, SS., SHI.,, MH. Modul ke: Fakultas Teknik

BAB I PENDAHULUAN. Mengenal sejarah sangat penting, bukan saja karena dari sana orang belajar

PANCASILA DAN IMPLEMENTASINYA

TUGAS KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH

PANCASILA. Poernomo A. Soelistyo, SH., MBA. Modul ke: Makna dan Aktualisasi Sila Persatuan Indonesia dalam Kehidupan Bernegara

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PEMBUKAAN SENI BUDAYA MELAYU PROVINSI KALIMANTAN BARAT V TAHUN

WAWASAN NUSANTARA. Dewi Triwahyuni. Page 1

Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

Amanat Presiden RI pd acara Hari Pramuka ke-52 Th 2013, tgl. 14 Agustus 2013, Jakarta Rabu, 14 Agustus 2013

KULIAH BUNG KARNO UNTUK KEBANGSAAN DAN TEHNOLOGI TAHUN

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

PANCASILA : LAHIR, HIDUP DAN BERTAHAN

INTI SILA PERTAMA SAMPAI INTI SILA KELIMA

Sambutan Presiden RI pd Pelantikan Pamong Praja Muda IPDN XX Thn 2013, tgl. 28 Agt 2013, di Jabar Rabu, 28 Agustus 2013

Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

2.4 Uraian Materi Pengertian dan Hakikat dari Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia Sebagai pendangan hidup bangsa Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. kemasyarakatan. Pelaksanaan nilai-nilai budaya merupakan bukti legitimasi

HUBUNGAN GOTONG ROYONG DENGAN EKSISTENSI PANCASILA

Pancasila dan Implementasinya

BAB IV PENUTUP. dengan masuknya etnik Tionghoa di Indonesia. Medio tahun 1930-an dimulai. dan hanya mengandalkan warisan leluhurnya.

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA

LAPORAN PENGAMATAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

TUGAS AKHIR PENERAPAN PANCASILA PADA MASA KINI

WAWASAN KEBANGSAAN a) Pengertian Wawasan Kebangsaan

TUGAS AKHIR PENDIDIKAN PANCASILA

EKSISTENSI PANCASILA DALAM KONTEKS MODERN DAN GLOBAL PASCA REFORMASI

I. Hakikat Pancasila. 1. Pancasila sebagai dasar Negara

STRUKTUR KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA DAN SMK/MAK

19. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SMP/MTs

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PADA HARI PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2016

Sambutan Presiden RI Pd Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tgl 5 Feb. 2014, di Pekalongan Rabu, 05 Pebruari 2014

Transkripsi:

Pada tanggal 17 September tahun 1942 yang lalu, bertempat di Yogyakarta, terjadilah pertemuan historis, antara Ir. Soekarno dan Bpk. Mei Kartawinata, disaksikan oleh pendiri Paguyuban Kamandaka sendiri (KRHT Arip M. Yahya Kartanagara), yaitu suatu dialog interaktif dan dinamis perihal intisari fondasi/dasar-dasar negara yang akan menjadi pedoman bernegara rencana pendirian Republik Indonesia. Pada saat itu Ir. Soekarno, secara langsung dibekali oleh Bpk. Mei Kartawinata (Tokoh kasepuhan Elmu Kasiliwangian-Pajajaran, tinggal di Jalan Sukasirna Bandung) tentang konsep bernegara berdasarkan akar budaya nusantara yang menjadi warisan para leluhur, yang mempunyai nilai strategik dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (dikenal NKRI, saat ini). Hasil dialog interaktif ini sebagai salah satu sumber, disamping inspirasi dari Prof Moh Yamin, Prof. Wongsonegoro, (dst), yang mengilhami Ir. Soekarno menyampaikan Pidato legendaris: Lahirnya Pancasila pada Tanggal 1 Juni 1945 di depan Sidang Paripurna BPU- PKI di Jakarta (dalam pidato tersebut, beliau menyampaikan bahwa ada seseorang ahli bahasa, yang membisiki saya tentang Pancasila, seseorang ini (yang tidak disebutkan namanya oleh beliau, sesuai dengan pesan Bpk. Mei Kartawinata sendiri adalah Bpk. Mei Kartawinata!, sejarah harus diluruskan, fakta kebenaran haruslah dikemukakan, sebagai suatu kebenaran sejarah, agar anak bangsa ini mengetahui secara pasti ideolog Pancasila yang sebenarnya), baca: Pidato Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, oleh Ir. Soekarno. Bagian-2: INTISARI PANCASILA Yang menjadi akar/intisari nilai-nilai Pancasila seperti yang disampaikan oleh Bpk. Mei Kartawinata ini dapatlah diuraikan sebagai berikut : SELAMA HIDUP DI DUNIA Bagian-1: Konsep Diri Bangsa Manusia - Ketuhanan Intisari-1: Maha Suci Dikersaning oleh Tuhan YME, bahwa saya dijelemakeun menjadi bangsa. Sebagaimana kehendak Ayah-Ibu, dan yang mencintai kepada diri saya, saya harus mau dijelemakeun, supaya menjadi jelema bener, cageur, bageur serta selamat, sedangkan saya-nya harus tetap suci (mempunyai konsep pamilih). Lampiran V 1

1) Bilamana bersedia dijelemakeun, maka akan menjadi jelema yang ada bener-nya. 2) Bilamana ada bener-nya, maka mempunyai rasa malu (tahu malu), badan itu suka ada cageur-nya. 3) Bilamana ada cageur-nya, akan mengetahui ke-diri (tahu diri), prilaku tersebut selalu ada bageur-nya. 4) Bilamana ada bageur-nya, maka akan mempunyai rasa-ngarasa (tahu berterima kasih), tujuan hidup pada kesucian. Intisari-2: Suci Bahwasanya : 1) Yang menuju ke jelema (orang) harus ada ka-jelemaan-nya (merasa bakti ke-diri-nya), tidak pernah berbohong (mempunyai tekad bener, kata dan tindakan sama); 2) Yang menuju ke Bangsa, harus ada ke-bangsaan-nya (merasa bakti ke- Raos-nya) sehat badan dan pikirannya, berbudi dan berdaya. 3) Yang menuju ke Manusia, maka harus ada ke-manusiaan-nya (merasa bakti ke-manusia-annya), prilaku bageur dan baik hati. 4) Yang menuju ke Tuhan, harus ada ke-tuhanan-nya (merasa bakti kepada ke-tuhanan-nya), suci dalam segala tujuannya. Intisari-3: Menghormati Perintah Negara dan yang Ngersakeun Mahluk yang selamat, yaitu: dalam sepanjang pengembaraan di dunia tidak dikalahkan oleh penggoda setan (tidak ke-setan-an), Mahluk yang tidak ber-budi, maka kelakuannya jahat. Mahluk yang tidak ada daya, maka lemah hatinya. Mahluk yang tidak mempunyai kebudayaan, maka tidak bulat kebangsaannya. Mahluk yang tidak bisa di-jelemakeun, maka se-bangsa dengan binatang, burung atau ikan. Mahluk yang tidak ada ke-manusia-annya, maka lebih kejam dibandingkan binatang, burung dan ikan. Mahluk yang dikenai celaka, yaitu: yang tidak mau melakoni yang disebutkan diatas, tidak mau taat kepada perintah Negara dan kepada yang Ngersakeun. Setiap waktu hanya mengikuti nafsu yang salah, tidak menghargai pada Allah. Lampiran V 2

Intisari-4 : Bener Bener-nya jelema ada dalam kenyataan. Sehat-nya Bangsa, manusia bakti ke dunia, Bageur-nya manusia maka kemanusiaannya abadi di dunia. Suci-nya Ketuhanan, dirinya bakti kepada Tuhan. Lahir-nya Ke-manusia-an (Badannya bakti ke Nusa); Bathin-nya Ke-Tuhan-an (dirinya bakti kepada Tuhan). Intisari-5 : Kami-Kama-Nusa - Kami: saya tahu dan menyaksikan. Kama: sari-rasa-tunggal. Nusa: tanah air, jelema, manusia. - Negara perlu diisi oleh jelema/orang, yang bulat ke-bangsa-annya (cageur), ada Bangsa-nya. - Negara perlu diisi oleh bangsa, yang ada ke-manusia-annya (balageur), ada manusianya. - Negara perlu diisi oleh Manusia, yang ada ke-tuhan-annya (suci hatinya), ada Tuhan-nya. Negara perlu diisi oleh yang Rukun, kukuh serta bener, ke-rukunan (ka-roh-hayatan), ada Ruh dan hidupnya. - Negara perlu diisi oleh yang Adil hukumnya dan sosial hakimnya, ada adil dan sosial-nya. Intisari-6 : Selamat - Yang bener keyakinan-nya : sudah tidak berpisah denga ada-nya serta terasa, tidak akan kesasar prilakunya (laku: Rahmating Allah). - Yang Sehat badanya: sudah tidak terpisah dengan dunia-nya, tidak akan sengsara hidupnya (mengembara: Kersaning Allah). - Yang bageur prilaku-nya: sudah tidak terpisah dengan Raos-nya, tidak akan susah hidupnya (sendiri: karena Allah). - Yang suci hatinya: yang tidak terpisah dengan Tuhan-nya (dijalani: Lilah, pasrah kepada Allah). Kepada diri sendiri? Tetap Selamat, Insya Allah. Lampiran V 3

PANCASILA SEBAGAI FALSAFAH HIDUP BERNEGARA Bagian-2 : Akar Pancasila Sebagaimana diketahui bahwa, manusia selama menjalani hidup di dunia, tidak akan pernah terpisahkan dari dzat Tuhan (Gusti). Oleh karena itu diri manusia dilahirkan dalam keadaan mardika, yang menganut sifat pancadria (cageur), pancadarma (bageur), pancasila (bener) yang menuju pada Ratu yang Maha Esa. Jelema yang ber-ketuhanan (manusia), Jelema yang mempunyai ke-manusia-an (bangsa), Jelema yang mempunyai kebangsaan (rakyat), Jelema yang mempunyai ke-ra yat-an (adil) wong atua karo anu Maha Adil. Hidup yang mempunyai ke-manusia-an (suci). Hidup yang ke-suci-an (Bener), Hidup yang ke-bener-an (bener). Hidup yang ke-bageur-an (sosial) yang akan menciptakan guru yang Maha Welas Asih. Pawitan : Manusia Mardi-ika? Mempunyai badan yang sehat (serba ngeunah), prilaku bageur (segala geunah), berpengetahuan bener (tumaninah). Baru Jati. Marganing Perlaya : Menghilangkan sifat jelek, mengutamakan kesehatan dan kebaikan, menyempurnakan yang belum bener. Kewajiban manusia, bersedia : 1. Menerimakan Ke-Tuhan-an. (ke-maha Suci-an) 2. Memberikan ke-manusia-an (Ke-Suci-an). 3. Mengumpulkan ke-bangsa-an (Ka-bener-an). 4. Menyebarkan ka-ra yat-an (ke-baik-an) dan 5. Menyatukan ke-adil-an (ka-sosial-an). Bhinneka Tunggal Ika. Mei? (warna-warni tunggal ika). Karta? (Beres = Urus). Winata? (membereskan= urus). Sumber: Mei Kartawinata, 17 September,1942 Tergambar dengan jelas bahwa pada tahun 1942, sebagaimana diuraikan diatas, cikal bakal Pancasila berasal dari budaya warisan para leluhur, yang telah berabad-abad exist di bumi nusantara ini. Adalah kepiawaian Ir. Soekarno dalam meramu dan menggali budaya leluhur ini menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara yang kini menjadi dasar negara. Lampiran V 4

Sampai dengan saat ini eksistensi Pancasila tetap diakui telah menyelamatkan negara ini dari perpecahan. Pertanyaan yang mendasar adalah, ada apakah dibalik manifestasi Pancasila yang kita kenal saat ini? Apasajakah nilai-nilai latent yang belum diungkap secara transparan ke permukaan? Kenapa sampai dengan saat ini masih terdapat pertanyaan-pertanyaan yang menyatakan bahwa Pancasila hanya sebatas blue-print dalam bernegara, hanya sampai dengan sebatas simbol, dan belum dipraktekan secara benar? Bagaimanakah eksistensi Pancasila dengan Agama-agama yang ada di NKRI ini? Tugas kita saat ini, dalam suasana reformasi dan demokrasi kehidupan bernegara, sudah seyogyanya mengangkat kepermukaan, bahwa Pancasila merupakan suatu ideologi, falsafah hidup yang mempunyai tata-aturan-pedoman hidup yang runtun menyatu pada Tuhan YME dalam bentuk pengabdian pada Nusa, Bangsa dan Negara. Disinilah, menurut hemat penulis, diperlukan suatu pengembangan solidaritas dari segenap unsur masyarakat, dalam membangun dinamika bernegara dan berbangsa dengan menghilangkan sekat-sekat perbedaan yang ada di dalam masyarakat. Keraguan pada ekistensi Pancasila sebagai pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara, haruslah dikikis. Nilai-nilai yang terkandung didalammnya melebihi kontent agama-agama yang ada di bumi persada ini. karena keberadaan Pancasila sebagai warisan para leluhur kita, yang telah teruji kebenaranya, sebagai manusia pasti benarnya, pasti tujuan hidup-nya dan pasti visi-misi-nya, sudah selayaknya dikupas implementasi penghayatannya. Ini tantangan Pemerintah dan Masyarakat Indonesia kedepan. Agar Pancasila tidak sebatas jargon/simbol saja, tetapi dipelajari dan dihayati isi kandungannya yang terdalam. Oleh : Carinda Lampiran V 5