KUAT TEKAN MORTAR DENGAN BERBAGAI CAMPURAN PENYUSUN DAN UMUR

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Heri Sujatmiko Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ABSTRAKSI

KUAT TEKAN BETON CAMPURAN 1:2:3 DENGAN AGREGAT LOKAL SEKITAR MADIUN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH PENAMBAHAN PECAHAN KERAMIK PADA PEMBUATAN PAVING BLOCK DITINJAU DARI NILAI KUAT TEKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. mencampurkan semen portland, air, pasir, kerikil, dan untuk kondisi tertentu

Pengaruh Variasi Jumlah Semen Dengan Faktor Air Yang Sama Terhadap Kuat Tekan Beton Normal. Oleh: Mulyati, ST., MT*, Aprino Maramis** Abstrak

BAB I PENDAHULUAN I 1

PEMANFAATAN CLAY EX. BENGALON SEBAGAI AGREGAT BUATAN DAN PASIR EX. PALU DALAM CAMPURAN BETON DENGAN METODE STANDAR NASIONAL INDONESIA

BAB IV METODE PENELITIAN

8KUAT TEKAN BETON BERDASARKAN SNI-DT PADA BERBAGAI VARIASI KADAR AIR AGREGAT

BAB V HASIL PEMBAHASAN

Vol.16 No.2. Agustus 2014 Jurnal Momentum ISSN : X

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pengujian agregat dan kuat tekan dilakukan di Laboratorium Bahan

Studi Mengenai Campuran Beton dengan Kadar Pasir Tinggi dalam Agregat Gabungan pada Cara SNI

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PENGGUNAAN PASIR DARI BEBERAPA DAERAH TERHADAP KUAT TEKAN BETON. Abstrak

PENGARUH VARIASI BENTUK PAVING BLOCK TERHADAP KUAT TEKAN

KUALITAS BATA BETON DARI BAHAN PASIR KALIJALI DENGAN CAMPURAN SEMEN PADA BERBAGAI VARIASI CAMPURAN LEBIH DARI 28 HARI

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH PERBANDINGAN AGREGAT HALUS DENGAN AGREGAT KASAR TERHADAP WORKABILITY DAN KUAT TEKAN BETON

PEMANFAATAN LIMBAH DEBU PELEBURAN BIJIH BESI (DEBU SPONS) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN PADA MORTAR

BAB IV METODE PENELITIAN

Jurnal Teknik Sipil No. 1 Vol. 1, Agustus 2014

STUDI EKSPERIMEN KUAT TEKAN BETON NON AGREGAT KASAR SEMEN PCC DENGAN SIKAMENT LN

Vol.17 No.1. Februari 2015 Jurnal Momentum ISSN : X PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR PADANG PANJANG PENGGANTI SEMEN UNTUK BETON NORMAL

PENGGUNAAN PASIR WEOL SEBAGAI BAHAN CAMPURAN MORTAR DAN BETON STRUKTURAL

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

BAB IV METODE PENELITIAN

PERBANDINGAN KUAT TEKAN MORTAR MENGGUNAKAN AIR SALURAN TARUM BARAT DAN AIR BERSIH

PENGARUH AIR LIMBAH PADA ADUKAN BETON TERHADAP KUAT TEKAN BETON NORMAL

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen PCC (Portland

KARAKTERISTIK MORTAR PADA LIMBAH ABU KELAPA SAWIT. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Kampus Binawidya Km 12,5 Pekanbaru, 28293, Indonesia

PEMANFAATAN FOAM AGENT DAN MATERIAL LOKAL DALAM PEMBUATAN BATA RINGAN

KUAT TEKAN MORTAR DENGAN MENGGUNAKAN ABU TERBANG (FLY ASH) ASAL PLTU AMURANG SEBAGAI SUBSTITUSI PARSIAL SEMEN

STUDI BETON BERKEKUATAN TINGGI (HIGH PERFORMANCE CONCRETE) DENGAN MIX DESIGN MENGGUNAKAN METODE ACI (AMERICAN CONCRETE INSTITUTE)

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH VARIASI SUHU TERHADAP KUAT TEKAN BETON

PERBANDINGAN KUAT TEKAN BETON MENGGUNAKAN AGREGAT JENUH KERING MUKA DENGAN AGREGAT KERING UDARA

PENGARUH GRADASI PASIR DAN FAKTOR AIR SEMEN PADA MORTAR TERHADAP KEKUATAN BETON PREPACKED

BAB III METODOLOGI DAN PELAKSANAAN PENELITIAN. Persiapan : - Studi literatur - Survey ke Ready Mix CV. Jati Kencana Beton

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PERENCANAAN PENELITIAN

PENGARUH VARIASI SUHU TERHADAP KUAT TEKAN BETON

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

ANALISA PERBANDINGAN KUALITAS BETON DENGAN AGREGAT HALUS QUARRY SUNGAI MARUNI MANOKWARI DAN KAMPUNG BUGIS SORONG

Jurnal Rancang Bangun 3(1)

BAB 3 METODOLOGI. yang dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai. Mulai. Tinjauan Pustaka. Pengujian Bahan/Semen

Spesifikasi lapis fondasi agregat semen (LFAS)

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Bahan atau Material Penelitian

untuk mencapai workabilitas dan nilai slump rencana terhadap kuat tekan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen PCC merek

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit

PENGARUH UKURAN MAKSIMUM DAN NILAI KEKERASAN AGREGAT KASAR TERHADAP KUAT TEKAN BETON NORMAL

PENGGUNAAN AGREGAT HALUS DENGAN SUMBER LOKASI BERBEDA UNTUK CAMPURAN BETON

BAB I PENDAHULUAN. Beton merupakan salah satu bahan material yang selalu hampir digunakan pada

4. Gelas ukur kapasitas maksimum 1000 ml dengan merk MC, untuk menakar volume air,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BETON STRUKTURAL MENGGUNAKAN AGREGAT PASIR - BATU ALAM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGGUNAAN PASIR SILIKA DAN PASIR LAUT SEBAGAI AGREGAT BETON The Use of Sea and Silica Sand for Concrete Aggregate

HUBUNGAN KUAT TEKAN BETON DENGAN JEDA WAKTU PENGECORAN

1.2. TUJUAN PENELITIAN

PENENTUAN MUTU AGREGAT HALUS DARI BERBAGAI QUARRY PADA PRODUKSI BETON

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perencanaan Campuran Beton WINDA TRI WAHYUNINGTYAS

PENGARUH PENGGUNAAN SERBUK CANGKANG LOKAN SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT HALUS TERHADAP KUAT TEKAN BETON NORMAL

USE OF CLAY EX. BENGALON AS AGGREGATE MADE AND SAND EX. MUARA BADAK IN MIXED CONCRETE METHOD STANDART NATIONAL INDONESIAN

JURNAL TUGAS AKHIR. PENGARUH AIR LAUT DAN NaCl TERHADAP KUAT TARIK BELAH MORTAR ABDUL FAJAR ALAMSYAH D

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Pemeriksaan Bahan

Cara uji kandungan udara dalam beton segar dengan metode tekan

PERBEDAAN KUAT TEKAN BETON MENGGUNAKAN DUA JENIS SEMEN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PENGARUH JENIS AIR PENCAMPUR DAN PERENDAMAN TERHADAP PERILAKU KEKUATAN TEKAN MORTAR CAMPURAN SEMEN-PASIR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III PERENCANAAN PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH PENGGUNAAN PASIR PANTAI YANG DIBERI PERLAKUAN DAN SUBSTITUSI CANGKANG BUAH SAWIT TERHADAP KUAT TEKAN MORTAR

BAB 4 HASIL DAN ANALISA

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Batako merupakan salah satu jenis batu yang biasanya digunakan sebagai


Analisis Pemakaian Abu Vulkanik Gunung Merapi untuk Mengurangi Pemakaian Semen pada Campuran Beton Mutu Kelas II

Studi Mengenai Keberlakuan Pengaruh Permukaan Spesifik Agregat terhadap Kuat Tekan dalam Campuran Beton

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PENGARUH BENTUK GEOMETRI TERHADAP KUAT TEKAN PADA PAVING BLOCK FAJAR AWALUDIN

KUAT TEKAN BETON YANG OPTIMUM DENGAN PENAMBAHAN BIO ENZIM

Pengaruh Waktu Perendaman Terhadap Uji Kuat Tekan Paving Block Menggunakan Campuran Tanah dan Semen dengan Alat Pemadat Modifikasi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II DASAR TEORI 2.1. UMUM. Beton adalah bahan yang diperoleh dengan mencampurkan agregat, air

STUDI PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI PENGISI DALAM PEMBUATAN BETON

BAB 3 METODOLOGI. penelitian beton ringan dengan campuran EPS di Indonesia. Referensi yang

BAB IV. Gambar 4.1 Pasir Merapi 2. Semen yang digunakan adalah semen portland tipe I merk Gresik, lihat Gambar 4.2.

LIMBAH PADAT PABRIK KERAMIK SEBAGAI BAHAN CAMPURAN BATAKO DITINJAU TERHADAP KUAT TEKAN

Transkripsi:

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur BMPTTSSI MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL KUAT TEKAN MORTAR DENGAN BERBAGAI CAMPURAN PENYUSUN DAN UMUR Rudi Yuniarto Adi 1 Diterima 7 November 2008 ABSTRACT In the implementation of construction, during this type of mortar of the new indicator is based on water-resistant and not waterproof. However, besides the function to actually hold water, mortar functions also have a burden. Often required in the implementation of that day in the walls of a maximum of 1 meter regardless of the composition of the mortar mix used. This is because the lack of discussion of the strength of mortar. The results of this study conclude that a strong press and mortar akan increased sharply since the age of 0 to 12 days, and a strong improvement over the press and mortar at the age of 13 days to 90 days. Keywords : Mortar, composition, mixture, strong, press, and age. ABSTRAK Dalam pelaksanaan konstruksi, selama ini pengelompokan jenis mortar baru berdasarkan indikator kedap air dan tidak kedap air. Namun sebenarnya disamping fungsi untuk menahan air, mortar mempunyai fungsi pula menahan beban. Dalam pelaksanaan sering disyaratkan bahwa dalam sehari pelaksanaan pemasangan dinding maksimal 1 meter tanpa memperhatikan komposisi campuran mortar yang dipergunakan. Hal ini dakarenakan masih kurangnya pembahasan kekuatan mortar. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kuat tekan mortar akan meningkat tajam sejak umur 0 sampai 12hari, dan peningkatan kuat tekan mortar semakin mengecil pada umur 13 hari sampai 90 hari. Kata kunci : Mortar, komposisi, campuran, kuat, tekan, umur. 1 Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto SH, Tembalang, Semarang Email : rudi_ya@yahoo.co.id ; rdyd@sipil.ft.undip.ac.id ; No hp : 08156512352 67

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 PENDAHULUAN Menurut SNI 03-6825-2002 mortar didefinisikan sebagai campuran material yang terdiri dari agregat halus (pasir), bahan perekat (tanah liat, kapur, semen portland) dan air dengan komposisi tertentu. Dalam pekerjaan konstruksi bangunan, biasanya Mortar merupakan bahan bangunan berupa campuran dari semen, pasir dan air dengan proporsi tertentu. Mortar digunakan sebagai bahan pengikat batu bata, batu dan blok beton. Mortar dapat difungsikan sebagai konstruksi struktural maupun konstruksi non struktural. Pada konstruksi struktural Mortar digunakan sebagai spesi dinding dan juga pondasi, sedang untuk konstruksi non struktural mortar digunakan sebagi pelapis dinding terluar. Sebagai konstruksi struktural, Mortar direncanakan untuk menahan gaya tekan ( sebagai pengikat batu bata pada dinding maupun pondasi). Untuk iu perlu diketahui besar kuat tekan yang dapat ditahan oleh mortar baik pada saat proses pembangunan maupun setelah konstruksi direncanakan dapat menahan seluruh beban. Dalam pelaksanaan konstruksi selama ini baru dikenal pembedaan mortar dengan indikator kedap air dan tidak kedap air. Untuk mortar kedap air dikenal campuran 1 Semen (Pc) : 2 Pasir (P) sampai dengan 1 Pc : 5 P. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat acuan praktis bagi pihak yang sering menggunakan mortar sebagai bahan konstruksi dalam menentukan kekuatan mortar menahan beban. METODE PENGUJIAN Hipotesis dari penelitian ini adalah : 1. mortar mengalami peningkatan sampai pada umur 90 hari. 2. Peningkatan kuat tekan mortar sebanding dengan peningkatan kuat tekan pada beton. Batasan masalah pada penelitian ini adalah: Komposisi bahan Pasir dan semen dengan proporsi campuran 1Pc:2Ps, 1Pc:3Ps, 1Pc:4Ps, 1Pc:5Ps, 1Pc:6Ps, 1Pc:7Ps serta tambahan air dengan FAS 0.4 Cara pembuatan mortar Pembuatan mortar dilakukan dengan adukan manual. Umur mortar Variasi umur pengerasan mortar yaitu 3, 7, 14, 21, 28 dan 90 hari. Jenis bahan Bahan yang digunakan adalah semen Gresik, pasir Muntilan dan air PDAM. Material Pasir yang digunakan adalah pasir muntilan dengan kondisi SSD dan lolos saringan 2,36 mm, semen dalam keadaan tersimpan baik. Bentuk dan ukuran benda uji Untuk benda uji kuat tekan mortar berbentuk kubus ukuran 50x50x50 mm. Jumlah benda uji Jumlah benda uji yang digunakan sebanyak 3 benda uji setiap proporsi campuran dan umur mortar. 68

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur Parameter pengujian Pengujian yang dilakukan adalah pengujian kuat tekan mortar pada masing masing proporsi campuran dan umur mortar. Standar pengujian Standar pengujian kuat tarik lentur mortar menggunakan ASTM C 348 02 : Standart Test Method for Flexural Strength of Hydraulic-Cement Mortars. Untuk pengujian kuat tekan mortar menggunakan ASTM C 109 : Compressive Strength of Hydraulic Cement Mortars. Metode Pengujian : Proporsi campuran bahan untuk benda uji Mortar yang dibuat di laboratorium yang digunakan untuk menentukan sifat sifat menurut spesifikasi ini harus berisi bahan bahan konstruksi dalam susunan campuran yang telah ditetapkan dalam spesifikasi proyek (SNI 03-6882-2002). Pencampuran Mortar Semua bahan bersifat semen dan agregat harus dicampur dengan sejumlah air secukupnya selama 3 5 menit dengan menggunakan alat pengaduk mekanis untuk menghasilkan mortar yang mudah dikerjakan. Pencampuran mortar dengan tangan diperbolehkan bila ada ijin dari pihak yang menentukan persyaratan dengan memberikan prosedur cara pencampuran yang dimaksud (SNI 03-6882- 2002). Pemeliharaan Kelecekan Mortar yang telah mengeras harus diaduk kembali dengan tangan untuk mempertahankan kelecekannya, dan mortar yang telah mencapai lebih dari 2,5 jam sejak dicampur tidak boleh dipakai lagi (SNI 03-6882-2002). Faktor air semen (f.a.s) Faktor air semen adalah angka perbandingan antara berat air dan berat semen dalam campuran mortar. Dengan menganalogikan mortar dengan beton, semakin tinggi nilai f.a.s., semakin rendah mutu kekuatan mortar. Namun demikian, nilai f.a.s. yang semakin rendah tidak selalu berarti bahwa kekuatan mortar semakin tinggi. Nilai f.a.s. yang rendah akan menyebabkan kesulitan dalam pengerjaan, yaitu kesulitan dalam pelaksanaan dalam menggelar/ meratakan mortar yang pada akhirnya akan menyebabkan mutu mortar menurun. Menurut ( Tri Mulyono, 2004) dalam pembuatan mortar nilai f.a.s. minimum adalah berkisar 0,4 0,65, sedangkan menurut standar ASTM C 109M adalah 0,485 Jumlah Semen Pada mortar dengan f.a.s sama, mortar dengan kandungan semen lebih banyak belum tentu mempunyai kekuatan lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena jumlah air yang banyak, demikian pula pastanya, menyebabkan kandungan pori lebih banyak daripada mortar dengan kandungan semen yang lebih sedikit. Kandungan pori inilah yang mengurangi kekuatan mortar. Jumlah semen dalam mortar mempunyai nilai optimum tertentu yang memberikan kuat tekan tinggi. Umur Mortar Kekuatan mortar akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur 69

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 dimana pada umur 28 hari mortar akan memperoleh kekuatan yang diinginkan. Sifat Agregat \Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan ialah bentuk, kekasaran permukaan, kekerasan dan ukuran maksimum butir agregat. Bentuk dari agregat akan berpengaruh terhadap interlocking antar agregat. Tahapan Penelitian Tahapan kerja (flow chart) penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Tahap Persiapan Penelitian Tahap ini dimulai dengan mengkaji permasalahan yang ada kemudian melakukan studi literatur tentang penelitian sejenis yang pernah dilakukan. Tahap Pengujian bahan Dalam tahap ini dilakukan pengujian material meliputi pasir dan semen tujuannya untuk mengetahui apakah bahan penyusun mortar ini sesuai dengan persyaratan yang di tetapkan dalam ASTM maupun SNI. Apabila dalam pengujian bahan bahan tersebut memenuhi persyaratan, maka bahan bahan ini dapat digunakan dalam pembuatan mortar pada penelitian ini. Selain itu pengujian ini juga bertujuan untuk mengetahui sifat fisik material untuk dibandingkan dengan material pada penelitian sebelumnya apakah mempunyai kesamaan sehingga penelitian sebelumnya dapat dijadikan acuan karena material penyusunnya mempunyai kesamaan sifat. Air yang digunakan sebagai pencampur pasir semen menggunakan nilai FAS 0,4 hal ini disesuaikan dengan nilai FAS yang dipakai pada penelitian sebelumnya. Nilai FAS ini masih sesuai dengan yang dipakai pada pembuatan mortar dan beton pada umumnya antara 0,4 0,6 (Tri Mulyono, 2004). Tahap Pembuatan benda uji Setelah bahan bahan penyusun material selesai di uji dan memenuhi persyaratan sebagai bahan penyusun mortar, di lakukan pembuatan benda uji untuk kuat tekan mortar. Peralatan yang digunakan : Cetakan mortar (Specimens Mold), dengan dimensi 5x5x5 cm untuk tekan dan 4x4x16 cm untuk lentur, penumbuk, dan palu. Alat uji tekan (Compression Strength Apparatus) sesuai ASTM C 109, Compressive Strength of Hydraulic Cement Mortars. 70

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur Mulai Persiapan Pengujian Bahan Semen Pasir Uji Karakteristik Semen Tidak Tidak Uji Karakteristik Pasir Analisis Fisik Semen Analisis Fisik Pasir Ya Varian 1 Pc : 2 Ps Varian 1 Pc : 3 Ps Varian 1 Pc : 4 Ps Varian 1 Pc : 5 Ps Varian 1 Pc : 6 Ps Varian 1 Pc : 7 Ps Pengujian kuat tekan dengan compression test ( 3, 7, 14, 21, 90 hari ) Data Analisa data uji tekan Standar yang dipakai: SNI PBI 1971 ASTM Pembahasan Kesimpulan Rekomendasi Selesai Gambar 1. Bagan Alir Tahapan Penelitian 71

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 Pembuatan benda uji mortar dilakukan pada proporsi campuran 1Pc:2Ps, 1Pc:3Ps, 1Pc:4Ps, 1Pc:5Ps, 1Pc:6Ps, 1Pc:7Ps. Cara pelaksanaan pembuatan benda uji adalah sebagai berikut : Pasir dengan semen dicampur terlebih dahulu dalam keadaan kering sesuai dengan takaran tiap proporsi campuran (1Pc:2Ps, 1Pc:3Ps, 1Pc:4Ps, 1Pc:5Ps, 1Pc:6Ps, 1Pc:7Ps) pada loyang yang telah disiapkan. Membuat lubang ditengah adukan dengan menambahkan 75% dari kebutuhan air yaitu besarnya faktor air semen yang telah ditentukan (F.A.S = 0,4) dan diaduk sampai merata, dan menambahkan sedikit demi sedikit air yang tersisa sampai didapatkan warna yang homogen. Masukkan mortar kedalam cetakan (Specimens Mold) yang telah diolesi dengan mould oil dalam 2 lapis. Untuk benda uji tekan tiap lapis dipadatkan dalam 32 kali dibagi dalam 4 lintasan (Gambar 2.). Simpan selama 24 jam kemudian cetakan dibuka dan rendam benda uji dalam air bersih sampai saat pengujian. Tahap Pengujian dan pengumpulan data Pengujian kuat tekan mortar dilakukan pada umur pengerasan mortar 90 hari. Sebelum pengujian, terlebih dahulu dilakukan pengu-kuran dimensi serta pengamatan visual terhadap benda uji kemudian menimbang dan mencatat berat benda uji. Untuk menghitung kuat tekan benda uji dengan rumus : Fm = P / A... (1) Dimana : Fm : Kuat Tekan Mortar P : Gaya Tekan (N) A : Luas (mm 2 ) lapis 1 dan 3 lapis 2 dan 4 Gambar 2. Konsfigurasi tumbukan pemadatan lapis mortar untuk benda uji tekan 72

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur A Hasil pengujian kuat tekan mortar dicatat dalam formulir pengujian kemudian data dikumpulkan untuk diolah dan dianalisis. Gambar 3. Pengujian dengan Compression Test Apparatus Analisis Data 5 cm Dari data yang telah dikumpulkan selanjutnya dengan menggunakan P 5 cm bantuan program komputer MS. Exel dilakukan analisa yang diharapkan menghasilkan: a. Hubungan kuat tekan dan kuat tarik lentur mortar proporsi campuran 1Pc:2Ps, 1Pc:3Ps, 1Pc:4Ps, 1Pc: 5Ps, 1Pc:6Ps, 1Pc:7Ps pada umur 3 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari, 28 hari dan 90 hari. Dari hubungan ini diharapkan dapat diketahui perilaku nilai kuat tekan dan tarik lentur mortar terhadap umur pengerasan dan variasi campuran, yang kemudian hasilnya dibandingkan dengan perilaku dari beton (Wood, Waddel, PBI 71) b. Formula perbandingan kuat tekan dengan kuat tarik lentur mortar proporsi campuran 1Pc:2Ps, 1Pc:3Ps, 1Pc:4Ps, 1Pc:5Ps, 1Pc: 6Ps, 1Pc:7Ps pada umur 3 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari, 28 hari dan 90 hari. Dari formula perbandingan ini diharapkan dapat diketahui nilai kuat tarik lentur mortar dari nilai kuat tekannya. c. Formula korelasi kuat tekan dan kuat tarik lentur mortar terhadap tahapan umur pengerasan mortar. Data ini digunakan untuk memprediksi nilai kuat tekan kuat tarik lentur mortar sebelum dan sesudah 28 hari sampai pada umur 90 hari. HASIL ANALISA DATA Hasil penelitian tentang hubungan kuat tekan mortar dalam berbagai variasi umur dan campuran dapat dilihat pada Tabel 1. 73

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 NO Tabel 1. Kuat Tekan Rata- Rata Mortar terhadap Variasi Umur sampai 28 hari. Proporsi Umur 3 Hari Umur 7 Hari Umur 14 Hari Umur 21 Hari Umur 28 Hari 1 1Pc : 2Ps 19,53 27,33 36,73 39,20 41,33 2 1Pc : 3Ps 16,73 26,27 34,53 37,33 39,47 3 1Pc : 4Ps 15,33 24,47 32,53 34,47 36,40 4 1Pc : 5Ps 15,00 23,40 31,87 34,00 35,73 5 1Pc : 6Ps 8,60 13,40 17,67 19,07 20,80 6 1Pc : 7Ps 5,73 8,87 11,53 12,53 13,80 Sumber : Penelitian TA HariyunitaW. Rani FP. 2007 Sumber : Penelitian TA HariyunitaW. Rani FP. 2007 Gambar 4. Grafik Kuat Tekan Mortar Sampai Umur 28 hari Penelitian hubungan kuat tekan mortar dalam berbagai variasi proporsi campuran serta umur mortar yang dilakukan oleh Hariyunita dan Rani Fadhilah hanya sampai pada umur mortar 28 hari. Padahal menurut penelitian yang telah di lakukan oleh Sharon L. Wood, kuat tekan mortar akan terus mengalami kenaikan sampai pada usia 90 hari. Untuk menguatkan penelitian dari Wood bahwa mortar akan terus mengalami peningkatan kuat tekan sampai pada umur 90 hari, maka peneliti mencoba melakukan penelitian dengan mencari kuat tekan mortar sampai pada umur 90 hari. Hasilnya kuat tekan rata rata mortar dapat di lihat pada Tabel 2. dan grafik Gambar 6. 74

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur Sumber : PCA, Sharon L. Wood, 1992 Gambar 5. Grafik Kuat Tekan Mortar oleh Sharon L. Wood NO Tabel 2. Kuat Tekan Rata- Rata Mortar terhadap Variasi Umur sampai 90 hari Varian Proporsi Mortar Umur 3 Hari Umur 7 Hari Umur 14 Hari Umur 21 Hari Umur 28 Hari Umur 90 Hari 1 1Pc : 2Ps 19,53* 27,33* 36,73* 39,20* 41,33* 44,83 2 1Pc : 3Ps 16,73* 26,27* 34,53* 37,33* 39,47* 42,28 3 1Pc : 4Ps 15,33* 24,47* 32,53* 34,47* 36,40* 38,93 4 1Pc : 5Ps 15,00* 23,40* 31,87* 34,00* 35,73* 36,43 5 1Pc : 6Ps 8,60* 13,40* 17,67* 19,07* 20,80* 22,57 6 1Pc : 7Ps 5,73* 8,87* 11,53* 12,53* 13,80* 15,75 Sumber : Penelitian TA HariyunitaW. Rani FP. 2007 Gambar 6. Grafik Kuat Tekan Mortar Sampai Umur 90 hari 75

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 Di lihat dari Tabel dan grafik kuat tekan mortar di atas, kenaikan kuat tekan mortar masih terjadi sampai pada usia mortar 90 hari. Kenaikan kuat tekan ini terjadi pada semua proporsi campuran mortar dari 1 : 2 sampai 1 : 7. Pendekatan nilai kenaikan kuat tekan mortar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan model dua fungsi logaritma dan linier untuk umur 3 sampai 90 hari dan menggunakan satu fungsi logaritma untuk umur 3 sampai 90 hari. Ke dua cara ini dapat di tulis sebagai berikut : Proporsi Campuran 1 : 2 a. Satu Fungsi (logaritma) f c = 7,805 ln(t) + 13,28...(2) : 2 (1 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 7. b. Dua fungsi (logaritma dan fungsi linier) f c = 137,8 (t) 0,344...(3) (umur 3 28 hari) f c = 0,056(t) + 39,75...(4) (umur 28 90 hari) Grafik kuat tekan rata rata mortar 1 : 2 (2 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 8. Proporsi Campuran 1 : 3 a. Satu fungsi (logaritma) f c = 7,769 ln(t) + 11,32...(5) : 3 (1 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 9. b. Dua fungsi (logaritma dan linier) f c = 116,2 (t) 03864... (6) (umur 3 28 hari) f c = 0,0453 (t) + 38,19...(7) (umur 28 90 hari) : 3 ( 2 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 7. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 2 (1 fungsi) 76

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur Gambar 8. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 2 (2 fungsi) Gambar 9. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 3 (1 fungsi) Proporsi Campuran 1 : 4 a. Satu fungsi (logaritma) f c = 7,135 ln(t) + 10,66...(8) : 4 (1 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 11. b. Dua fungsi (logaritma dan linier) f c = 107,0 (t) 0,389...(9) (umur 3 28 hari) f c = 0,040 (t) + 35,25...(10) (umur 28 90 hari) : 4 (2 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 12. 77

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 Gambar 10. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 3 (2 fungsi) Gambar 11. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 4 (1 fungsi) Proporsi Campuran 1 : 5 a. Satu fungsi (logaritma) f c = 6,644 ln(t) + 11,06...(11) : 5 (1 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 13. b. Dua fungsi (logaritma dan linier) f c = 103,0 (t) 0,395...(12) (umur 3 28 hari) f c = 0,011 (t) + 35,42...(13) (umur 28 90 hari) : 5 (2 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 14. 78

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur Gambar 12. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 4 (2 fungsi) Gambar 13. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 5 (1 fungsi) Proporsi Campuran 1 : 6 a. Satu fungsi (logaritma) f c = 4,258 ln(t) + 5,265...(14) : 6 (1 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 15. b. Dua fungsi (logaritma dan linier) f c = 58,87 (t) 0,392...(15) (umur 3 28 hari) f c = 0,0286 (t) + 19,99...(16) (umur 28 90 hari) : 6 (1 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 16. 79

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 Gambar 14. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 5 (2 fungsi) Gambar 15. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 6 (1 fungsi) Proporsi Campuran 1 : 7 a. Satu fungsi logaritma f c = 3,014 ln(t) + 3,048...(17) : 7 (1 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 17. b. Dua fungsi (logaritma dan linier) f c = 3,930 (t) 0,388...(18) (umur 3 28 hari) f c = 0,031 (t) + 12,92...(19) (umur 28 90 hari) : 7 (2 fungsi) dapat dilihat pada Gambar 18. 80

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur Gambar 16. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 6 (2 fungsi) Gambar 17. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 7 (1 fungsi) Gambar 18. Grafik Kuat Tekan Mortar 1 : 7 (2 fungsi) 81

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 Nilai Korelasi Kuat Tekan Mortar Terhadap Umur Untuk memprediksi kuat tekan mortar sebelum dan sesudah 28 hari dapat dicari dengan memakai nilai korelasi kuat tekannya. Dengan di ketahuinya nilai kuat tekan mortar pada masing masing proporsi campuran berdasarkan umurnya melalui penelliptian ini, maka dapat ditentukan nilai korelasinya. Adapun nilai korelasi kuat tekan mortar berdasarkan penelitian yang kemudian dibandingkan dengan nilai korelasi dari penelitian lain adalah seperti pada Tabel 3. dan Gambar 19. Tabel 3. Nilai Korelasi Kuat Tekan Mortar dan Beton Pada berbagai Umur Prosentase Perbandingan Kuat Tekan Mortar dan Beton Benda Uji Umur (hari ) 3 7 14 21 28 90 Waddel (beton) 35 59 71 82 100 161 PBI'71 (beton) 40 65 88 95 100 135 Wood (Mortar) 40 68 80 92 100 110 1PC : 2PS 47 66 89 95 100 108 1PC : 3PS 42 67 89 95 100 107 1PC : 4PS 42 67 89 95 100 107 1PC : 5PS 42 65 89 95 100 102 1PC : 6PS 42 64 85 92 100 109 1PC : 7PS 45 64 84 91 100 114 Gambar 19. Grafik Korelasi Kuat Tekan Mortar dan beton 82

Rudi Yuniarto Adi Kuat Tekan Mortar dengan Berbagai Campuran Penyusun dan Umur Dari tabel dan grafik di atas terlihat bahwa nilai korelasi kuat tekan mortar sebelum umur 28 hari akan cenderung sama dengan nilai korelasi kuat tekan beton, namun pada umur 90 hari nilai korelasi kuat tekan mortar akan cenderung mengalami penurunan jika dibandingkan dengan nilai korelasi kuat tekan beton walaupun secara nilai kuat tekan, mortar dan beton masih mengalami kenaikan. KESIMPULAN. Dari hasil pengolahan dan analisa data yang telah dilakukan dalam penelitian kuat tekan mortar ini maka dapat di simpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Pada semua proporsi campuran ( 1 : 2 1 : 7) sampai pada umur 90 hari, mortar masih mengalami kenaikan kuat tekannya. 2. Semakin besar proporsi perbandingan campuran semen dan pasir, pada umur yang sama mortar akan mengalami penurunan kuat tekannya. 3. Nilai kuat tekan mortar akan mengalami penurunan siknifikan dari proporsi campuran 1 : 5 ke 1 : 6, hal itu disebabkan pada proporsi campuran 1 : 6 dengan FAS 0,4 air yang digunakan terlalu sedikit untuk mencampur pasir dan semen sehingga campuran tidak homogen serta susah untuk dipadatkan (Tri Muldjono, 2004). 4. Penelitian ini menguatkan penelitian yang dilakukan oleh Wood dimana mortar masih mengalami kenaikan kuat tekan sampai pada umur 90 hari. 5. Pada umur yang sama, mortar dengan proporsi campuran yang berbeda mempunyai nilai korelasi kuat tekan yang relatif sama. 6. Sampai pada umur 90 hari, Mortar mengalami kenaikan kuat tekannya. Namun jika dibandingkan dengan tingkat kenaikan kuat tekan pada umur 28 hari sampai dengan 90 hari, tingkat kenaikan kuat tekan mortar lebih rendah daripada beton. DAFTAR PUSTAKA Wood, Sharon L., (1992). Evaluation of Long Term Properties of Concrete, Research and Development Bulletin RD 102 T, PCA, Skokie Illinois. Waddell, Joseph J., (2002). Concrete Construction Hand Book, Third Edition, McGraw-Hill, INC. Allen Edward, (1998). Dasar Dasar Konstruksi Bangunan Bahan Bahan dan Metodenya Edisi Ketiga. Hariyunita dan Rani F, (2007). Penelitian Penelitian Pengaruh Waktu Terhadap Kuat Tekan Pada Mortar Untuk Berbagai Macam proporsi campuran., Tugas Akhir, Universitas Diponegoro Semarang. ASTM Standards, (2004). ASTM C 91-03a Standar Specification for Masonry Cement, ASTM International, West Conshohocken, PA. ASTM Standards, (2002). ASTM C 109/C 109M - 02 Standard Test Method for Compressive Strength of Hydraulic Cement Mortars (Using2 -in. or 50-mm Cube Specimens), ASTM International, West Conshohocken, PA. ASTM Standards, (2004). ASTM C 150 150 04 Standards Specification For 83

TAHUN 17, NO. 1 PEBERUARI 2009 Portland Cement, ASTM International, West Conshohocken, PA. ASTM Standards, (2002). ASTM C 185 02 Standards Test Method for Air Content of Hydraulic Cement Mortar, ASTM International, West Conshohocken, PA. ASTM Standards, (2003). ASTM C 778 02 Standards Specification for Standard Sand, ASTM International, West Conshohocken, PA. Departemen Pekerjaan Umum, (1979). Peraturan Beton Bertulang 1971, Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan Cipta Karya, Jakarta. Mulyono, Tri, Ir., (2004). Teknologi Beton, Andi Publishing, Yogyakarta Neville, A.M, (2003). Properties of Concrete, Fourth and Final Edition Standards Updated to 2002, Pearson Education Limited, England. Raina, V. K, (1993). Concrete for Construction, Tata Mc Graw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi. Razak Abdul Bin Lateh, (2004). Pengaruh Mortar Terhadap Kepujian Tanpa Musnah Bagi Konkrit, Fakulti Kejuruteraan Awam University Teknologi Malaysia Skudai, Johor. Teychenne, Franklin and Erntroy, (1988). Design of Normal Mixes Second Edition, Building Research Establishment, Oxford. 84