BAB III LEMBAGA SOSIAL

dokumen-dokumen yang mirip
NORMA & LEMBAGA SOSIAL. fitri dwi lestari

LEMBAGA SOSIAL. Oleh : Lia Aulia Fachrial, M.Si

Lembaga Kemasyarakatan

Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si.

NORMA-NORMA MENGALAMI PROSES

Lembaga Kemasyarakatan. Yesi Marince, S.IP., M.Si

Modul ke: Sosiologi INSTITUSI SOSIAL. Fakultas Psikologi. Farah Rizkiana Novianti, M.Psi.T. Program Studi Psikologi.

PRANATA SOSIAL. Daftar Isi. Pengertian Tujuan & Fungsi Karakteristik / Ciri-ciri Jenis-jenis Kategori Pranata Sosial

SOSIOLOGI UMUM (KPM 130)

SOSIOLOGI PERTANIAN ( )

VI LEMBAGA SOSIAL. Pengertian

CIRI-CIRI LEMBAGA SOSIAL A. Ciri utama lembaga sosial (J.B. Chitambar) Merupakan seperangkat pola perilaku yg diterima termasuk peranan-peranan dan

LEMBAGA KEMASYARAKATAN (LEMBAGA SOSIAL)

LEMBAGA KEMASYARAKATAN (LEMBAGA SOSIAL)

February 6, 2012 MK. ASKEB KOMUNITAS II : KONSEP DASAR MASYARAKAT : IG. DODIET ADITYA S, SKM

Inisiasi 3 INDIVIDU DAN MASYARAKAT: KEDUDUKAN DAN PERAN INDIVIDU SEBAGAI PRIBADI DAN SEBAGAI ANGGOTA MASYARAKAT

Nilai dan Norma Sosial

Manusia merupakan mahluk dinamis dalam hakekatnya sebagai mahluk sosial.

LEMBAGA-LEMBAGA KEMASYARAKATAN STRUKTUR SOSIAL

KONSEP-KONSEP POKOK DALAM SOSIOLOGI: KELOMPOK DAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN

KONSEP KEBUDAYAAN. Kuliah 2 - Geografi Kebudayaan

BAB II KAJIAN PUSTAKA Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan

PERTEMUAN KE 7 POKOK BAHASAN

Menurut E. B. Tylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat

LEMBAGA KEMASYARAKATAN. Mata kuliah Struktur dan Proses Sosial. Jurusan Pendidikan Sejarah. FPIPS UPI Bandung. Oleh : Drs.

PRANATA SOSIAL PRANATA SOSIAL 163

SEB E U B A U H H MAT A A T KULIAH

III NILAI-NILAI DAN NORMA SOSIAL

Sosiologi. Kelompok & Organisasi Sosial MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh 07

BAB VIII KELEMBAGAAN MAKANAN POKOK NON BERAS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Nilai & Norma DORIS FEBRIYANTI M,SI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ini merupakan sifat dasar masyarakat. Perubahan masyarakat tiada hentinya, jika

Norma Dalam Kehidupan Masyarakat

BAB IV SISTEM SOSIAL 4.1 Pengantar 4.2 Sistem Sosial

Lampiran 1. SK & KD Mapel IPS Kelas VIII

BAB II KAJIAN TEORI. Sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan dan

KEBUDAYAAN & MASYARAKAT

BAB I PENDAHULUAN. karakteristik semua kebudayaan. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam

BAB I PENDAHULUAN. interaksi manusia antara lain imitasi, sugesti, simpati, identifikasi, dan empati.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam suatu suku bangsa mempunyai berbagai macam kebudayaan, tiap

MODUL PERKULIAHAN Kapita Selekta Ilmu Sosial Masyarakat & Budaya

BAB II LANDASAN TEORI. Dengan demikian, istilah ilmu jiwa merupakan terjemahan harfiah dari

SOSIOLOGI PERTANIAN ( )

2 Kebiasaan (Folksway) Norma yang menunjukan perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama

TUGAS SOSIOLOGI KEAS X PK MAN 1 SURAKARTA MATERI : NILAI DAN NORMA SOSIAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MATERI 6 BENTUK DAN FUNGSI LEMBAGA SOSIAL

Bahan ajar handout Komunikasi Politik (pertemuan 3 dan 4 ) KOMUNIKASI POLITIK 1 Oleh: Kamaruddin Hasan 2

BAB I PENDAHULUAN. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir,

BAB VIII KELUARGA 8.1 Pengantar 8.2 Pengertian Keluarga

IV SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

Penduduk, Masyarakat dan kebudayaan

INTERAKSI SOSIAL DAN INSTITUSI SOSIAL

BAB II KAJIAN PUSTAKA. samping terutama untuk tempat tinggal, juga untuk semacam itu yakni yang

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dengan aktif di organisasi kemasyarakatan, mengikuti perkumpulan yang

I. PENDAHULUAN. Banyak istilah yang diberikan untuk menunjukan bahwa bangsa Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pertemuan 1. Pembahasan. 1. Norma 2. Budaya 3. Etika 4. Moral 5. Struktur Etika

MODUL SOSIOLOGI KOMUNIKASI Oleh : Heri Budianto, S. Sos. M.Si.

MATERI 9 PERILAKU MENYIMPAG SEBAGAI BENTUK PELANGGARAN TERHADAP NILAI DAN NORMA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP 1) : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Memahami pranata sosial dan penyimpangan sosial

BAB II KAJIAN TEORI. "Adat" berasal dari bahasa Arab,عادات bentuk jamak dari عاد ة (adah), yang

Human Relations. Kebudayaan dan Human Relations. Amin Shabana. Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Hubungan Masyarakat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam pelaksanaan upacara perkawinan, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki

PENGANTAR SOSIOLOGI MASYARAKAT. Jilid 2. YESI MARINCE, S.IP., M.Si

BAB I PENDAHULUAN. keanekaragaman adat istiadat dalam pelaksanaan perkawinan. Di negara. serta dibudayakan dalam pelaksanaan perkawinan maupun upacara

Komunikasi Antar Budaya

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

GEOGRAFI BUDAYA Materi : 7

HUKUM DAN SISTEM HUKUM DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN

STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR TINGKAT SMP, MTs, DAN SMPLB

RPP PPKn Kurikulum 2013 Kelas VII

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat merupakan suatu perwujudan kehidupan bersama manusia sebagai makhluk

Sahabat. Assalamu alaikum Wr. Wb Orang bijak berkata;

BAB I PENDAHULUAN. buddayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.

BAB II. Tinjauan Pustaka. Teori Peran (Role Theory) adalah teori yang merupakan perpaduan

Wawasan Sosial Kemasyarakatan dan Pendekatan Sosial Dalam KKNM-PPMD Integratif Unpad

BENTUK-BENTUK. Sumber: Jawa Pos, 20 Februari 2006 Gambar 12.1 Manusia butuh manusia lain untuk berinteraksi dan saling memenuhi kebutuhan hidupnya.

Consumer Behavior Lecturers: Mumuh Mulyana Mubara Mumuh Mulyana Mubar k, SE.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa,

Berikut ini adalah pengertian dan definisi tentang masyarakat menurut beberapa ahli :

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Berasal dari bahasa latin karena merupakan akar dari segala bahasa

DIFERENSIASI SOSIAL (Kemajemukan)

BAB I PENDAHULUAN. lain dalam kelompok (Bungin, 2006:43). Komunikasi yang terjalin dalam sebuah

BAB I PENDAHULUAN. dorongan-dorongan alamiah yang dimiliki setiap manusia semenjak dilahirkan.

I. PENDAHULUAN. Manusia mengalami perubahan tingkat-tingkat hidup (the life cycle), yaitu masa

II. TINJAUAN PUSTAKA. Istilah yang paling lazim dipakai untuk menyebut kesatuan kesatuan hidup

BAB I PENDAHULAUAN. budaya yang mewarnai kehidupan bangsa ini. Dalam mengembangkan kebudayaan di

KURIKULUM Kompetensi Dasar. Mata Pelajaran PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN. Untuk KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2012

PERKAWINAN ADAT. (Peminangan Di Dusun Waton, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan. Provinsi Jawa Timur) Disusun Oleh :

2. TINJAUAN PUSTAKA Karakter Wanita Tani

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

II. TINJAUAN PUSTAKA. para ahli. Makna berasal dari bahasa Jerman meinen yang artinya ada di pikiran atau benar

Transkripsi:

BAB III LEMBAGA SOSIAL 3.1 Pengantar Lembaga kemasyarakatan sering juga disebut sebagai lembaga sosial merupakan terjemahan dari social institution dalam bahasa Inggris, Istilah social institution dalam bahasa Indonesia belum ada kesepakan, ada yang memakai kata lembaga sosial, lembaga kemasyarakatan, pranata sosial, dan bangunan sosial. Merujuk dari berbagai pustaka istilah social institution dalam tulisan ini adalah lembaga sosial atau lembaga kemasyarakatan. Dalam pemahaman lembaga sosial atau lembaga kemasyarakatan menunjuk pada suatu bentuk juga mengandung pengertian yang abstrak tentang adanya norma-norma dan peraturan-peraturan tertentu yang menjadi ciri suatu lembaga. 3.2 Pengertian Lembaga Sosial Batasan pengertian lembaga sosial cukup banyak. Menurut Soerjono (2003) lembaga sosial (kemasyarakatan) merupakan himpunan daripada norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Menurut Koentjaraningrat (2000) pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada serangkaian aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Dari batasan-batasan tersebut, dapat dikatakan bahwa dalam memahami lembaga sosial perlu diperhatikan tentang kebutuhan pokok manusia dan sistem perilaku yang terorganisasi. Secara umum lembaga sosial mempunyai dua aspek, yaitu lembaga sosial sebagai peraturan (regulative social institutions), dan lembaga sosial yang sesungguh-sungguhnya berlaku (operative social institutions). Lembaga sosial yang dianggap sebagai peraturan apabila norma-norma tersebut membatasi serta mengatur perilaku orang-orang,

misalnya lembaga keluarga mengatur hubungan-hubungan antara anggota keluarga dengan masyrakat. Lembaga sosial sebagai yang sesungguhnya berlaku apabila sepenuhnya membantu pelaksanaan kebutuhan pokok atau pola-pola masyarakat. Lembaga sosial mencakup semua norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu keperluan pokok dalam suatu kehidupan masyarakat. Apapun himpunan norma-norma yang menjadi patokan dalam perilaku masyarakat adalah : 1. Usage (cara) 2. Folkways (kebiasan) 3. Mores (tata kelakuan) 4. Customs (adat Istiadat) Himpunan norma-norma di atas, memberikan arahan atau petunjuk bagi tingkah laku seseorang dalam berperilaku yang hidup dalam suatu masyarakat. Setiap tingkat menunjukkan pada kekuatan yang lebih besar yang digunakan oleh masyarakat untuk memaksa anggotanya supaya mentaati norma-norma yang terkandung didalamnya. Dengan demikian, kebiasaan lebih mengikat daripada cara, tata kelakuan lebih mengikat daripada kebiasaan, adat lebih mengikat daripada tata kelakuan. Kekuatan suatu norma dapat dilihat dari kuat dan lemahnya sangsi yang dikenakan pada para pelanggarnya. Disamping itu, dalam kehidupan masyarakat orang mempunyai berbagai kebutuhan pokok sepeti makanan, perkawinan, perumahan, pendidikan, keamanan, keindahan, keturunan, dan sebagainya, sehingga menimbulkan keragaman lembaga sosial diberbagai bidang. Dari penelaahan di atas, pengertian lembaga sosial adalah kesatuan dari adat istiadat yang dengan norma-normanya menguasai sejumlah tindakan dan kegiatan orang-orang atau kelompok sosial. Lembaga sosial merupakan tata abstraksi yang lebih tinggi dari kelompok, organisasi, maupun sistem sosial lainnya. Wujud kongkrit dari lembaga sosial adalah asosiasi (assosiation), contohnya universitas adalah lembaga sosial, maka UI, UGM, UNPAD, UNEJ, dan sebagainya

adalah assosiasi. Dalam hal ini, ada yang beranggapan baik lembaga maupun asosiasi sebagai bentuk-bentuk organisasi sosial, yaitu sebagai kelompok-kelompok, hanya lembaga lebih universal sifatnya dibandingkan dengan asosiasi yang lebih spesifik. Ada juga yang berpendapat bahwa lembaga sebagai kompleks peraturan serta peranan sosial secara abstrak, sedangkan asosiasi sebagai bentuk organisasi secara kongkrit. Tujuan dari lembaga sosial adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Adapun fungsi dari lembaga sosial menurut Soerjono (2003) adalah: 1. Memberikan pedoman pada para anggotanya, bagaimana mereka harus bertingkah laku atau bersikap dalam menghadapi masalah dalam masyarakat, terutama dalam rangka memenuhi kebutuhankebutuhan pokok mereka. 2. Menjaga keutuhan masyarakat. 3. Meberikan pegangan pada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control), artinya sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggotanya. 3.3 Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Sosial Lembaga-lembaga dalam masyarakat berkembang melaui proses pelembagaan sosial atau institutionalisation, yaitu suatu proses yang dilewatkan oleh suatu norma yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemasyarakatan (Soerjono,2003). Maksudnya adalah norma baru kemasyarakatan itu dikenal, diakui, dihargai, kemudian ditaati dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, proses pelembagaan dapat berlangsung lebih lanjut sehingga norma kemasyarakatan tidak hanya menjadi pelembagaan, tetapi menjadi internalized dalam kehidupan para anggotanya, maksudnya adalah suatu taraf perkembangan dimana para anggota masyarakat dengan sendirinya ingin berperilaku sejalan dengan perilaku yang memang sebenarnya memenuhi kebutuhan masyarakat. Lebih jauh lagi pemahaman internalized adalah pelembagaan norma-

norma baru dalam masyarakat yang telah mencapai taraf mendarah daging atau menghayati norma-norma itu. Dalam pelembagaan sosial ada proses yang mengatur dan membina pola-pola prosedur disertai sangsi-sangsi dalam masyarakat. Kekuatan suatu norma dapat dilihat dari kuat lemahnya sangsi yang dikenakan pada para pelanggarnya berkaitan dengan tingkatan kekuatan daya pengikat norma, yaitu cara, kebiasaan, tata kelakuan, serta adat istiadat masyarakat baik di bidang sosial, politik, maupun ekonomi. Ruang lingkup lembaga sosial sangat luas, misalnya lembaga yang mengatur hubungan kekerabatan, perkawinan, warisan, hutang piutang, pendidikan, kesehatan, birokrasi, dan lain sebagainya. Lembaga sosial yang cukup penting dalam mengatur kehidupan masyarakat antara lain: lembaga keluarga, lembaga keagamaan, dan sebagainya. Lembaga ekonomi seperti bank. Lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah dari play group sampai perguruan tinggi. Lembaga pemerintahan, dan sebagainya. Lembaga keluarga sangat penting karena mengatur keturunan, menyalurkan kebutuhan biologis yang sehat, ada hubungan primer yang akrab diantara para anggota keluarga. Lembaga keagamaan penting juga karena mempunyai norma-norma yang harus dihormati dalam usaha orang beribadat berdasarkan kepercayaan masing-masing agama. Lembaga keuangan penting seperti bank dalam rangka mengatur lalu lintas keuangan. Lembaga pendidikan sangat penting dalam upaya mencerdaskan masyarakat. Lembaga-lembaga kenegaraan penting dalam rangka mengatur penggunaan kekuasan, pemerintahan, dan sebagainya. 3.4 Ciri-ciri umum Lembaga Sosial Menurut Chitambar (dalam Sajogyo,1978) ciri-ciri umum dari lembaga sosial adalah : 1. Lembaga sosial merupakan seperangkat pola-pola perilaku yang diterima dalam pola ajar. Termasuk tata cara atau perilaku yang diwajibkan.

2. Pola-pola perilaku biasanya berpusat pada kebutuhan-kebutuhan pokok manusia, karena terorganisasi maka dapat mengarahkan perilaku orang di dalam memenuhi kebutuhan tersebut. 3. Pola-pola perilaku itu telah berlangsung cukup lama dan secara menyeluruh dapat dipandang relatif murah. Adapun Gillin and Gillin (dalam Soerjono,2003) mengatakan ciri-ciri umum lembaga sosial adalah: 1. Lembaga sosial merupakan pola-pola pemikiran dan perilaku yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan hasilnya. 2. Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri semua lembaga sosial. 3. Lembaga sosial mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu. 4. Lembaga sosial mempunyai alat-alat kelengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. 5. Lambang biasanya juga merupakan ciri khas lembaga sosial. 6. Suatu lembaga sosial mempunyai suatu tradisi tertulis atau yang tak tertulis. Dari kedua pendapat di atas mengenai ciri-ciri umum dari lembaga sosial berkaitan dengan pola perilaku, adat istiadat, tujuan, yang terwujud dalam aktivitas manusia yang sudah dianggap mantap dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok manusia itu sendiri. 3.5 Tipe-tipe Lembaga Sosial Dalam setiap masyarakat akan dijumpai berbagai macam lembaga sosial, dimana lembaga sosial tersebut mempunyai sistem nilai yang dapat menentukan lembaga sosial mana yang dijadikan pusat dan kemudian dianggap berada di atas lembaga sosial lainnya. Menurut Soerjono (2003) tipe-tipe lembaga Sosial dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Dari sudut perkembangan. Cresicive Institutions, yaitu merupakan lembaga yang primer, tumbuh dari adat istiadat masyarakat seperti agama, perkawinan, dan sebagainya.

Evated Institutions, sengaja dibentuk untuk memenuhi kebutuhan seperti lembaga pendidikan, lembaga utang piutang, dan sebagainya. 2. Dari sudut sistem nilai yang diterima masyarakat. Basic Institutions, dianggap sanggat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat seperti negara, keluarga, sekolah, dan sebagainya. Subsidiary institutions, dianggap kurang penting seperti untuk rekreasi. 3. Dari sudut penerimaan masyarakat. Socially santioned institutions, lembaga yang dapat diterima masyarakat seperti sekolah, perusahaan dan sebagainya. Socially unsactioned institution, lembaga yang ditolak masyarakat seperti preman 4. Dari sudut penyebarannya. General institutions, dikenal hampir semua masyarakat di dunia seperti religi atau agama Restricted institutions, dianut oleh masyarakat tertentu di dunia seperti agama kristen, agama islam, dan sebagainya.