RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 019/PUU-I/2003

dokumen-dokumen yang mirip
RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 023/PUU-I/2003

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 35/PUU-XVI/2018 Frasa Organisasi Advokat Bersifat Multitafsir

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 8/PUU-XVI/2018 Tindakan Advokat Merintangi Penyidikan, Penuntutan, dan Pemeriksaan di Sidang Pengadilan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 21/PUU-XVI/2018

KUASA HUKUM Ir. Tonin Tachta Singarimbun, S.H., dkk berdasarkan surat kuasa khusus tertanggal 28 Februari 2013

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 004/PUU-I/2003

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 80/PUU-XII/2014 Ketiadaan Pengembalian Bea Masuk Akibat Adanya Gugatan Perdata

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 128/PUU-XIII/2015 Syarat Calon Kepala Desa dan Perangkat Desa

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 88/PUU-XII/2014 Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 99/PUU-XIV/2016 Korelasi Perjanjian Kerja Untuk Waktu Tertentu dan Perjanjian Kerja Untuk Waktu Tidak Tertentu

I. PEMOHON Tomson Situmeang, S.H sebagai Pemohon I;

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Nomor 67/PUU-XIII/2015 Beban Penyidik untuk Mendatangkan Ahli dalam Pembuktian Perkara Pidana

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 55/PUU-IX/2011 Tentang Peringatan Kesehatan dalam Promosi Rokok

PENUNJUK ADVOKAT DAN BANTUAN HUKUM

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 108/PUU-XIV/2016 Peninjauan Kembali (PK) Lebih Satu Kali

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 ATAS TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 ADVOKAT TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 133/PUU-XIII/2015 Ketentuan Pengajuan Banding, Penangguhan Pembayaran Pajak, dan Pengajuan Peninjauan Kembali

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 24/PUU-XII/2014 Pengumuman Hasil Penghitungan Cepat

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 5/PUU-XIII/2015 Pengecualian Pembina dalam Menerima Gaji, Upah, atau Honorarium Pengurus

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 32/PUU-XIV/2016 Pengajuan Grasi Lebih Dari Satu Kali

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA : 33/PUU-X/2012

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 43/PUU-XIV/2016 Kewenangan Jaksa Agung Untuk Mengenyampingkan Perkara Demi Kepentingan Umum

Kuasa Hukum Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., dkk, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 2 Maret 2015.

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 105/PUU-XIV/2016 Kewajiban Mematuhi Putusan Mahkamah Konstitusi

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 98/PUU-XIII/2015 Izin Pemanfaatan Hutan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 37/PUU-X/2012 Tentang Peraturan Perundang-Undangan Yang Tepat Bagi Pengaturan Hak-Hak Hakim

I. PEMOHON 1. Perhimpunan Magister Hukum Indonesia (PMHI), diwakili oleh Fadli Nasution, S.H., M.H. 2. Irfan Soekoenay, S.H., M.H

Undang - undang No. 18 Tahun 2003

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 016/PUU-I/2003

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 102/PUU-XIII/2015 Pemaknaan Permohonan Pra Peradilan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 62/PUU-XV/2017

I. PEMOHON 1. Perhimpunan Magister Hukum Indonesia (PMHI), diwakili oleh Fadli Nasution, S.H., M.H. 2. Irfan Soekoenay, S.H., M.H

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XV/2017 Pembubaran Ormas yang bertentangan dengan Pancasila Dan Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 63/PUU-XII/2014 Organisasi Notaris

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 74/PUU-IX/2011 Tentang Pemberlakuan Sanksi Pidana Pada Pelaku Usaha

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 42/PUU-XV/2017 Tafsir Frasa Tidak dapat Dimintakan Banding atas Putusan Praperadilan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 67/PUU-XV/2017

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 063/PUU-II/2004

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 18/PUU-IX/2011 Tentang Verifikasi Partai

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 33/PUU-XIV/2016 Kewenangan Mengajukan Permintaan Peninjuan Kembali. Anna Boentaran,. selanjutnya disebut Pemohon

OBJEK PERMOHONAN Permohonan Pengujian Materiil Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen terhadap Undang-Undang Dasar 1945.

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 21/PUU-XII/2014 Penyidikan, Proses Penahanan, dan Pemeriksaan Perkara

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 132/PUU-XIII/2015 Ketentuan Pidana Bagi Penyedia Jasa dan Pemakai Pada Tindak Pidana Prostitusi

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Nomor 33/PUU-XIV/2016 Kewenangan Mengajukan Permintaan Peninjuan Kembali. Anna Boentaran,. selanjutnya disebut Pemohon

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 38/PUU-XV/2017

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 34/PUU-XVI/2018 Langkah Hukum yang Diambil DPR terhadap Pihak yang Merendahkan Kehormatan DPR

III. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI Penjelasan Pemohon mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk menguji Undang-Undang adalah:

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 45/PUU-XV/2017 Kewajiban Pengunduran Diri Bagi Anggota DPR, DPD dan DPRD Dalam PILKADA

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 39/PUU-XV/2017

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Nomor 41/PUU-XIII/2015 Pembatasan Pengertian dan Objek Praperadilan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 071/PUU-II/2004

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 24/PUU-XII/2014 Pengumuman Hasil Penghitungan Cepat

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 29/PUU-XV/2017 Perintah Penahanan yang Termuat dalam Amar Putusan

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 38/PUU-XI/2013 Tentang Penyelenggaraan Rumah Sakit

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 60/PUU-XV/2017 Verifikasi Partai Politik Peserta Pemilu

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 49/PUU-XV/2017 Pembubaran Ormas

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 73/PUU-XV/2017

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 44/PUU-XV/2017

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 56/PUU-X/2012 Tentang Kedudukan Hakim Ad-Hoc Pengadilan Hubungan Industrial

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 43/PUU-XI/2013 Tentang Pengajuan Kasasi Terhadap Putusan Bebas

PUTUSAN Nomor 88/PUU-X/2012 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 066/PUU-II/2004

I. PEMOHON Imam Ghozali. Kuasa Pemohon: Iskandar Zulkarnaen, SH., MH., berdasarkan surat kuasa khusus tertanggal 15 Desember 2015.

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 38/PUU-XI/2013 Tentang Penyelenggaraan Rumah Sakit

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 16/PUU-VIII/2010 Tentang UU Kekuasaan Kehakiman, UU MA dan KUHAP Pembatasan Pengajuan PK

KUASA HUKUM Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., dkk berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 20 Maret 2014.

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Nomor 2/PUU-XV/2017 Syarat Tidak Pernah Melakukan Perbuatan Tercela Bagi Calon Kepala Daerah

PERATURAN PERHIMPUNAN ADVOKAT INDONESIA TENTANG NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS PROFESI ADVOKAT DEWAN PIMPINAN NASIONAL

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 99/PUU-XIII/2015 Tindak Pidana Kejahatan Yang Menggunakan Kekerasan Secara Bersama-Sama Terhadap Barang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 84/PUU-IX/2011 Tentang Ketentuan Pidana Bagi Akuntan Publik

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 51/PUU-XIV/2016 Hak Konstitusional untuk Dipilih Menjadi Kepala Daerah di Provinsi Aceh

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 84/PUU-XI/2013 Penyelenggaraan RUPS

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 34/PUU-XIV/2016 Persyaratan Bagi Kepala Daerah di Wilayah Provinsi Papua

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 44/PUU-XII/2014 Alasan Pemberatan Pidana Bagi Pelaku Tindak Pidana Korupsi

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 74/PUU-XIII/2015 Pemberian Manfaat Pensiun Bagi Peserta Dana Pensiun

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 44/PUU-XIII/2015 Objek Praperadilan

KUASA HUKUM Fathul Hadie Ustman berdasarkan surat kuasa hukum tertanggal 20 Oktober 2014.

Transkripsi:

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 019/PUU-I/2003 I. PEMOHON/KUASA 1. APHI (Pemohon I) 2. Hotma Timbul H, S.H. (Pemohon II) 3. Saor Siagian (Pemohon III) 4. Mangapul Silalahi (Pemohon IV) 5. Piterson Tanos, S.H. (Pemohon V) 6. Jon B. Sipayung, S.H. (Pemohon VI) 7. Ester I Jusuf, S.H. (Pemohon VII) 8. Ahmad W.S.D.Lapang, S.H. (Pemohon VIII) 9. Charles Hutabarat, S.H. (Pemohon IX) 10. Norma Endawati, S.H. (Pemohon X) 11. Reinhart Parapat, S.H. (Pemohon XI) 12. Basir Bahuga, S.H. (Pemohon XII) II. PENGUJIAN UNDANG-UNDANG Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat 1. Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Yang dimaksud dengan berlatar belakang pendidikan tinggi hukum adalah lulusan fakultas hukum, fakultas syariah, perguruan tinggi ilmu kepolisian 2. Pasal 3 ayat (1) huruf d Untuk dapat diangkat menjadi menjadi advokat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.. b.. c. d. Berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun; e. dst...

3. Pasal 32 ayat (3) Untuk sementara tugas dan wewenang Organisasi Advokat sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini, dijalankan bersama oleh Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultasi Hukum Pasar Modal (HKHPM) dan Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) Bertentangan dengan UUD 1945: 1. Pasal 24 Ayat (1) kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan ; Ayat (2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi ; Ayat (3) Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang. 2. Pasal 27 ayat (1) Segala warga negara bersama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya 3. Pasal 28 D ayat (1) Ayat (1) Setiap orang berhak atas pengakuan jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum 4. Pasal 28 E ayat (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat

III. ALASAN-ALASAN 1. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat bertentangan dengan Pasal 24 UUD 1945 karena: a. Lulusan perguruan tinggi hukum militer, yang mana mahasiswa dan lulusannya adalah dari anggota militer aktif, merupakan anggota militer yang terikat pada struktur dan hirarki komando (unity of command) kemiliteran, sehingga ia tidak bersifat mandiri dan bebas. Demikian pula dengan lulusan perguruan tinggi ilmu kepolisian, yang mana mahasiswa dan lulusannya adalah dari anggota polisi aktif, merupakan anggota polisi yang terikat pada struktur dan hierarki mandiri dan bebas ditambah lagi dalam perguruan tinggi ilmu kepolisian bukanlah merupakan perguruan tinggi hukum oleh karena ilmu hukum hanya merupakan bagian ilmu yang dipelajari disamping ilmu-ilmu lainnya, seperti politik dan lain-lain; b. dengan demikian ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang memasukan lulusan perguruan tinggi hukum militer, dan perguruan tinggi ilmu kepolisian dalam pengertian berlatar belakang pendidikan tinggi hukum adalah bertentangan dengan ketentuan Pasal 24 UUD yang menghendaki profesi advokat sebagai profesi yang bebas dan mandiri; 2. Pasal 3 ayat (1) huruf d Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 jo Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945 karena: a. Pembatasan usia untuk menjadi advokat adalah 25 tahun sebagaimana ditentukan dalam dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d merupakan perlakuan yang tidak adil dan diskriminatif terhadap para lulusan sarjana hukum yang berusia 21 atau 22 tahun. Sehingga bertentangan dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945. dikarena ; 3. Pasal 32 ayat (3) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat bertentangan dengan Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945 karena: a. APHI termasuk anggota-anggotanya yang merupakan pengacara/advokat (Pembela HAM), telah menjadi organisasi yang mendorong pemajuan,

penegakan, perlindungan HAM Indonesia, yang ternyata tidak termasuk organisasi advokat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) a quo; b. APHI merupakan organisasi profesi pengacara/advokat yang sampai saat ini konsisten dalam membela kepentingan masyarakat luas dan tertindas serta masyarakat tidak mampu, sebagai bentuk panggilan luhur untuk memberikan bantuan hukum, memperjuangkan penegakan hukum dan hak asasi manusia. Ternyata tidak termasuk organisasi advokat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) a quo; c. Tidak ada satupun organisasi profesi pengacara yang dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) a quo yang menjadikan organisasinya sebagai organisasi profesi pengacara/advokat (pembela) hak asasi manusia yang konsisten dalam pembelaan HAM bahkan sebagai counter part pemerintah dalam penegakan hukum dan HAM; d. Tidak termasuknya APHI sebagai organisasi advokat yang dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) a quo telah bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945; e. Pembatasan hanya kepada 8 organisasi advokat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 32 ayat (3) adalah bertentangan dengan UUD 1945 khususnya Pasal 28 e ayat (3);. IV. PETITUM 1. Menerima dan mengabulkan seluruh permohonan pengujian ini; 2. Menyatakan ketentuan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat sepanjang menyangkut bagian: perguruan tinggi hukum militer, dan perguruan tinggi ilmu kepolisian adalah bertentangan dengan Pasal 24 UUD 1945; 3. Menyatakan ketentuan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat sepanjang menyangkut bagian: perguruan tinggi hukum militer, dan perguruan tinggi ilmu kepolisian tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;

4. Menyatakan ketentuan Pasal 3 ayat (1) huruf d Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat adalah bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945; 5. Menyatakan ketentuan Pasal 3 ayat (1) huruf d Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat; 6. Menyatakan tidak adanya ketentuan yang mengatur mengenai pemberian sanksi terhadap adanya tindakan yang membatasi atau menghalangi hak-hak advokat tersebut di atas dalam menjalankan profesinya, sebagai suatu bentuk jaminan dan perlindungan hukum, dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 adalah bertentangan dengan Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945; 7. Memerintahkan untuk melakukan penambahan terhadap ketentuan Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat, yaitu Pasal 31 a, yang berbunyi : setiap orang yang dengan sengaja membatasi hak-hak advokat atau menghalang-halangi advokat dalam menjalankan profesinya, sebagaimana diatur dalam undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah); 8. Menyatakan ketentuan Pasal 32 ayat (3) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat adalah bertentangan dengan Pasal 28 e ayat (3) UUD 1945; 9. Menyatakan ketentuan Pasal 32 ayat (3) Undang-undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat; 10. Memerintahkan untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan Pasal 32 ayat (3) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, agar dapat mempunyai kekuatan hukum mengikat, Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, dengan menambahkan APHI (Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia), sehingga ketentuan Pasal 32 ayat (3) berbunyi: Untuk sementara tugas dan wewenang Organisasi Advokat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini, dijalankan bersama oleh Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan

Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultasi Hukum Pasar Modal (HKHPM) dan Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) dan Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (APHI); 11. Memerintahkan pemuatan petitum ini dalam Lembaran Negara RI dan Tambahan Lembaran Negara RI.

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 019/PUU-I/2003 Perbaikan Tgl. 19 Desember 2003 I. PARA PEMOHON 1. APHI (Pemohon I) 2. Hotma Timbul H, S.H. (Pemohon II) 3. Saor Siagian (Pemohon III) 4. Mangapul Silalahi (Pemohon IV) 5. Piterson Tanos, S.H. (Pemohon V) 6. Jon B. Sipayung, S.H. (Pemohon VI) 7. Ester I Jusuf, S.H. (Pemohon VII) 8. Charles Hutabarat, S.H. (Pemohon VIII) 9. Norma Endawati, S.H. (Pemohon IX) 10. Reinhart Parapat, S.H. (Pemohon X) 11. Basir Bahuga, S.H. (Pemohon XI) II. PENGUJIAN UNDANG-UNDANG Undang-undang Nomor. 18 Tahun 2003 tentang Advokat 1. Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Yang dimaksud dengan berlatar belakang pendidikan tinggi hukum adalah lulusan fakultas hukum, fakultas syariah, perguruan tinggi ilmu kepolisian 2. Pasal 3 ayat (1) huruf d Untuk dapat diangkat menjadi menjadi advokat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.. b.. c. d. Berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun; e. dst...

3. Pasal 32 ayat (3) Untuk sementara tugas dan wewenang Organisasi Advokat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini, dijalankan bersama oleh Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultasi Hukum Pasar Modal (HKHPM) dan Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) Bertentangan dengan UUD 1945: Pasal 24 Ayat (1) kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan Ayat (2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi Ayat (3) Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang Pasal 27 ayat (1) Segala warga negara bersama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya Pasal 28 D ayat (1) Ayat (1) Setiap orang berhak atas pengakuan jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum Pasal 28 E ayat (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat

III. ALASAN-ALASAN 1. Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat bertentangan dengan Pasal 24 UUD 1945 karena: a. Lulusan perguruan tinggi hukum militer, yang mana mahasiswa dan lulusannya adalah dari anggota militer aktif, merupakan anggota militer yang terikat pada struktur dan hirarki komando (unity of command) kemiliteran, sehingga ia tidak bersifat mandiri dan bebas. Demikian pula dengan lulusan perguruan tinggi ilmu kepolisian, yang mana mahasiswa dan lulusannya adalah dari anggota polisi aktif, merupakan anggota polisi yang terikat pada struktur dan hierarki mandiri dan bebas ditambah lagi dalam perguruan tinggi ilmu kepolisian bukanlah merupakan perguruan tinggi hukum oleh karena ilmu hukum hanya merupakan bagian ilmu yang dipelajari disamping ilmu-ilmu lainnya, seperti politik dan lain-lain; b. dengan demikian ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang memasukan lulusan perguruan tinggi hukum militer, dan perguruan tinggi ilmu kepolisian dalam pengertian berlatar belakang pendidikan tinggi hukum adalah bertentangan dengan ketentuan Pasal 24 UUD yang menghendaki profesi advokat sebagai profesi yang bebas dan mandiri; 2. Pasal 3 ayat (1) huruf d Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 jo Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945 karena: a. Pembatasan usia untuk menjadi advokat adalah 25 tahun sebagaimana ditentukan dalam dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d merupakan perlakuan yang tidak adil dan diskriminatif terhadap para lulusan sarjana hukum yang berusia 21 atau 22 tahun. Sehingga bertentangan dengan ketentuan Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945. dikarena ; 3. Pasal 32 ayat (3) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat bertentangan dengan Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945 karena: a. APHI termasuk anggota-anggotanya yang merupakan pengacara/advokat (Pembela HAM), telah menjadi organisasi yang mendorong pemajuan,

penegakan, perlindungan HAM Indonesia, yang ternyata tidak termasuk organisasi advokat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) a quo; b. APHI merupakan organisasi profesi pengacara/advokat yang sampai saat ini konsisten dalam membela kepentingan masyarakat luas dan tertindas serta mesyarakat tidak mampu, sebagai bentuk panggilan luhur untuk memberikan bantuan hukum, memperjuangkan penegakan hukum dan hak asasi manusia. Ternyata tidak termasuk organisasi advokat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) a quo; c. Tidak ada satupun organisasi profesi pengacara yang dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) a quo yang menjadikan organisasinya sebagai organisasi profesi pengacara/advokat (pembela) hak asasi manusia yang konsisten dalam pembelaan HAM bahkan sebagai countert part pemerintah dalam penegakan hukum dan HAM; d. Tidak termasuknya APHI sebagai organisasi advokat yang dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) a quo telah bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945; e. Pembatasan hanya kepada 8 organisasi advokat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 32 ayat (3) adalah bertentangan dengan UUD 1945 jhusunya Pasal 28 e ayat (3);. IV. PETITUM 1. Menerima dan mengabulkan seluruh permohonan pengujian ini; 2. Menyatakan ketentuan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat sepanjang menyangkut bagian: perguruan tinggi hukum militer, dan perguruan tinggi ilmu kepolisian adalah bertentangan dengan Pasal 24 UUD 1945; 3. Menyatakan ketentuan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat sepanjang menyangkut bagian: perguruan tinggi hukum militer, dan perguruan tinggi ilmu kepolisian tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;

4. Menyatakan ketentuan Pasal 3 ayat (1) huruf d Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat adalah bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945; 5. Menyatakan ketentuan Pasal 3 ayat (1) huruf d Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat; 6. Menyatakan tidak adanya ketentuan yang mengatur mengenai pemberian sanksi terhadap adanya tindakan yang membatasi atau menghalangi hak-hak advokat tersebut di atas dalam menjalankan profesinya, sebagai suatu bentuk jaminan dan perlindungan hukum, dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 adalah bertentangan dengan Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945; 7. Memerintahkan untuk melakukan penambahan terhadap ketentuan Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat, yaitu Pasal 31 a, yang berbunyi : setiap orang yang dengan sengaja membatasi hak-hak advokat atau menghalang-halangi advokat dalam menjalankan profesinya, sebagaimana diatur dalam undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah); 8. Menyatakan ketentuan Pasal 32 ayat (3) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat adalah bertentangan dengan Pasal 28 e ayat (3) UUD 1945; 9. Menyatakan ketentuan Pasal 32 ayat (3) Undang-undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat; 10. Memerintahkan untuk melakukan perubahan terhadap ketentuan Pasal 32 ayat (3) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, agar dapat mempunyai kekuatan hukum mengikat, Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, dengan menambahkan APHI (Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia), sehingga ketentuan Pasal 32 ayat (3) berbunyi: Untuk sementara tugas dan wewenang Organisasi Advokat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini, dijalankan bersama oleh Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia (AAI), Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), Serikat Pengacara Indonesia (SPI), Asosiasi Konsultan

Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultasi Hukum Pasar Modal (HKHPM) dan Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) dan Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (APHI). 11. Memerintahkan pemuatan petitum ini dalam Lembaran Negara RI dan Tambahan Lembaran Negara RI;