KP 402 EKONOMI PUBLIK

dokumen-dokumen yang mirip
HAND OUT MATA KULIAH

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS)

Tabel 1a APBN 2004 dan APBN-P 2004 (miliar rupiah)

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SEMESTER I 2009

Tabel 1a APBN 2004 dan APBN-P 2004 (miliar rupiah)

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 31 AGUSTUS 2009

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2009

DATA POKOK APBN-P 2006 DAN APBN 2007 DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DATA POKOK APBN-P 2007 DAN APBN 2008 DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DATA POKOK APBN

KP 401 EKONOMI MONETER

DATA POKOK APBN-P 2007 DAN APBN-P 2008 DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Perkembangan Perekonomian dan Arah Kebijakan APBN 2014

Andri Helmi M, SE., MM. Sistem Ekonomi Indonesia

I. PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri

Kondisi Perekonomian Indonesia

KP 424 KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

DATA POKOK APBN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB III PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA INDONESIA DALAM APBN

Ekonomi Bisnis dan Financial

M E T A D A T A INFORMASI DASAR

PENJELASAN A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2000 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2004

DATA POKOK APBN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

PENJELASAN A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG

DATA POKOK APBN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi suatu negara di satu sisi memerlukan dana yang relatif besar.

PERKEMBANGAN DAN VOLATILITAS NILAI TUKAR RUPIAH

BAB I PENDAHULUAN. pembukaan Undang-Undang Dasar Pembangunan Nasional difasilitasi oleh

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2002 TENTANG

Makalah Penerimaan Negara

PE 105 STATISTIKA II

DATA POKOK APBN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2000 TENTANG

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

TABEL 2 RINGKASAN APBN, (miliar rupiah)


BAB II PROSES PEMULIHAN EKONOMI TAHUN 2003

Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2017 (Audited) LKPP TAHUN 2017 AUDITED

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun memberikan dampak pada

Desentralisasi dan Hubungan Pusat - Daerah

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KP425 Week 1 EKP501 PENGANTAR EKONOMI MIKRO

BAB I PENDAHULUAN. Kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) merupakan kunci dari kebijakan

INFOGRAFIS REALISASI PELAKSANAAN APBN 2017

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

Perekonomian Indonesia

STAN KEBIJAKAN FISKAL PENGANTAR PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA. oleh: Rachmat Efendi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2004 TENTANG PERHITUNGAN ANGGARAN NEGARA TAHUN ANGGARAN 2002 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UU 1/2002, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2000 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARATAHUN ANGGARAN 2001

INFOGRAFIS REALISASI PELAKSANAAN APBN 2017

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. Lab. Politik dan Tata Pemerintahan, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG

Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta KUPA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


PINJAMAN LUAR NEGERI DAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH. Oleh : Ikak G. Patriastomo 1

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Peran Pemerintah dalam Perekonomian

faktor yang dimiliki masing-masing negara, antara lain sistem ekonomi, kualitas birokrasi. Sistem ekonomi yang dianut oleh suatu negara akan

LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001

B.2. PENJELASAN PER POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN (BRUTO)

SOAL APBN DAN PAJAK MONETER

DATA POKOK APBN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

VII. SIMPULAN DAN SARAN

Keuangan Negara dan Perpajakan. Avni Prasetia Putri Fadhil Aryo Bimo Nurul Salsabila Roma Shendry Agatha Tasya Joesiwara

NOTA KEUANGAN DAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2012 REPUBLIK INDONESIA

KEBIJAKAN EKONOMI INDONESIA

DATA POKOK APBN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BAB II PROSPEK EKONOMI TAHUN 2005

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2000 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2001

BAB I PENDAHULUAN. Inflasi merupakan suatu isu yang tak pernah basi dalam sejarah panjang

LAPORAN REALISASI ANGGARAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2003 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2004


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 21 TAHUN 2002 (21/2002) TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

KP 402 EKONOMI PUBLIK

Subject Adviser ANI PINAYANI, DRS., MM. Indonesia University of Education FPIPS Building Room 93. Phone : (022) 5895016 (home) Handphone : 081573176826 Phone : (022) 2013163 ext. 2523 (office) Fax: (022) 2013163 Office contact hours : 08.00 16.00 E-mail: ani-pinayani@yahoo.co.id. Blog : pinayani.wordpress.com ps_pend_kop@upi.edu http://www. upi.edu

Lecture 1 Subject Information Introduction to Introduction Public economics

Subject Information Tujuan Frekuensi Pertemuan Daftar Buku Bacaan Rencana Materi Perkuliahan Evaluasi Belajar Mengajar

Tujuan Mahasiswa dapat memahami peranan pemerintah dalam kehidupan ekonomi masyarakat untuk mencapai kesejahteraan umum dan mengalokasikan sumber daya yang optimal bagi seluruh masyarakat. Mahasiswa dapat menganalisis kegiatan-kegiatan ekonomi publik dengan menggunakan pendekatan ekonomi mikro maupun ekonomi makro. Frekuensi Pertemuan : 14 kali tatap muka

BUKU SUMBER John Cullis dan Philip Jones, (1992), Public Finance and Public Choise, McGraw Hill Book Company. New York. Mangkoesoebroto, Guritno, (1999), Ekonomi Publik, BPFE, Yogyakarta. Musgrave, Richard A. & Peggy B., (1984), Public Finance in Theory and Practice, Fourth Edition, McGraw Hill Book Company. New York. Reksohadiprodjo, Sukanto, 2001, Ekonomika Publik, BPFE, Yogyakarta.

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : Pokok Bahasan 1-2 Konsep Dasar dan Ruang Lingkup Ekonomi Publik Pengertian dan ruang lingkup ekonomi publik Kegagalan pasar dan campur tangan pemerintah Barang publik dan barang privat Eksternalitas

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : Pokok Bahasan 3-4 PENGELUARAN PEMERINTAH Model pembangunan tentang perkembangan pengeluaran pemerintah Hukum Wagner Teori Peacock dan Wiseman Penentuan permintaan Penentuan tingkat output

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : Pokok Bahasan 5 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Pengertian APBN Kebijakan anggaran defisit, surplus dan seimbang Analisis RAPBN dan realisasi APBN Indonesia dalam lima tahun terakhir

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : 6 7 Pokok Bahasan PENERIMAAN PEMERINTAH Sumber-sumber penerimaan negara Distribusi beban pemerintah Sistem perpajakan dan politik pajak Pergeseran beban pajak Kesejahteraan yang hilang karena pajak 8 UJIAN TENGAH SEMESTER

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : Pokok Bahasan 9-10 PAJAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEREKONOMIAN Pengaruh pajak terhadap produksi Pengaruh pajak terhadap komposisi produksi Pengaruh pajak terhadap distribusi pendapatan

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : Pokok Bahasan 11 Pemerintah dan Pencemaran Lingkungan Pencemaran dan public goods Pencemaran dan analisis ekonomi Kebijakan terhadap pencemaran

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : Pokok Bahasan 12 Peranan Pemerintah dalam mengatasi Pengangguran dan Inflasi Pengangguran merupakan penyakit atau masalah ekonomi makro yang mempunyai pengaruh, baik ekonomi maupun non ekonomi yang luas. Inflasi merupakan salah satu penyakit ekonomi makro yang utama dan pengaruhnya sangat luas, maka semua instrumen dapat digunakan secara serentak untuk mengatasi inflasi, baik kebijakan fiskal, moneter atau campuran dari dua kebijakan tersebut.

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : Pokok Bahasan 13 Kebijakan Fiskal dan Kebijakan di Sektor Riil Kebijakan Fiskal Kebijakan di Sektor Riil

Rencana Materi Perkuliahan Kuliah ke : Pokok Bahasan 14 REVIEW JURNAL 15 REVIEW JURNAL 16 UJIAN AKHIR SEMESTER

Evaluasi Belajar Mengajar Kehadiran kuliah bersifat wajib. Mahasiswa dan dosen diharapkan datang di kelas tepat waktu. Jika dengan alasan tertentu tidak bisa tepat waktu, maksimum keterlambatan 25 menit. Komponen nilai akhir terdiri atas nilai Ujian Akhir serta nilai Tugas ; dengan rincian bobot masing-masing - Ujian Tengah Semester : 35% - Ujian Akhir Semester : 50% - Tugas dan Quiz (take home test) : 15%

Structure Weeks 8 UTS Weeks 6 7 PENERIMAAN PEMERINTAH Weeks 5 APBN Weeks 3-4 PENGELUARAN PEMERINTAH Weeks 9-10 PAJAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEREKONOMIAN PUBLIC ECONOMICS Weeks 11 PEMERINTAH DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN Week 12 Peranan Pemerintah dalam mengatasi Pengangguran dan Inflasi Week 13 KEBIJKAN FISKAL DAN KEBIJKAN DI SEKTOR RIIL Week 14 REVIEW JURNAL Weeks 1-2 KONSEP DASAR DAN RUANG LINGKUPEKONOMI PUBLIK Week 16 UAS Week 15 REVIEW JURNAL

Kuliah ke 1-2 EKONOMI PUBLIK Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami beberapa konsep dasar dan ruang lingkup pembahasan ekonomi publik Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan Konsep Dasar dan Ruang Lingkup Ekonomi Publik Pengertian dan ruang lingkup ekonomi publik Kegagalan pasar dan campur tangan pemerintah Barang publik dan barang privat Eksternalitas

KONSEP DASAR DAN RUANG LINGKUP EKONOMI PUBLIK Ekonomi publik adalah ilmu ekonomi yang mempelajari atau menganalisis peranan negara atau pemerintah dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Mekanisme pasar gagal dalam melaksanakan fungsinya untuk mengalokasikan sumber ekonomi secara efisien. Oleh karena itu diperlukan adanya campur tangan pemerintah yang berperan dalam alokasi, distribusi dan stabilisasi ekonomi. Adanya barang publik dan eksternalitas merupakan penyebab kegagalan pasar.

Kegagalan Pasar dan Campur tangan pemerintah Ketidaksempurnaan pasar Barang publik Eksternalitas Pasar tidak lengkap Kegagalan informasi Kegagalan pemerintah Anggaran, Birokrat dan Efisiensi Birokrat dan efisiensi alokatif

Barang Publik dan Barang Privat Teori Barang Publik Teori Pigou Teori Bawen Teori Erick Lindahl Teori Samuelson Teori Anggaran Teori Barang Swasta Efisiensi Konsumen Kondisi Pareto Optimum bagi konsumen Efisiensi Produsen Kriteria Kompensasi

EKSTERNALITAS Dampak eksternalitas Kasus eksternalitas produksi positif dan negatif Eksternalitas konsumsi negatif Jenis-jenis eksternalitas Cara memperbaiki alokasi sumbersumber ekonomi Pajak untuk mengatasi eksternalitas

Permasalahan Ekonomi Indonesia Tantangan Ekonomi : 2005-2009 Stabilitas Makro : Cadangan Devisa (± US$ 1,5 M/tahun) Sasaran Inflasi 7% (2005 3% (2009) Pengangguran terbuka 10,1% (2004) 5,1% (2009); Angka kemiskinan 17,4% (2003) 8,2% (2009) Dana Pembangunan/Investasi: APBN : ± 10 T/tahun Swasta : ± 25 T/tahun Net Importir ke Eksportir Minyak

Jan-03 Feb-03 Mar-03 Apr-03 May-03 Jun-03 Jul-03 Aug-03 Sep-03 Oct-03 Nov-03 Dec-03 Jan-04 Feb-04 Mar-04 Apr-04 May-04 Jun-04 Jul-04 Aug-04 Sep-04 Oct-04 Nov-04 Dec-04 Jan-05 (%) Jan-03 Feb-03 Mar-03 Apr-03 May-03 Jun-03 Jul-03 Aug-03 Sep-03 Oct-03 Nov-03 Dec-03 Jan-04 Feb-04 Mar-04 Apr-04 May-04 Jun-04 Jul-04 Aug-04 Sep-04 Oct-04 Nov-04 Dec-04 Jan-05 KONDISI MAKROEKONOMI 12 10 8 10.2 6.8 6.5 7.5 7.5 9.5 Tekanan inflasi sangat tinggi yang dipengaruhi oleh: 6 4 2 0 Kenaikan harga BBM Rencana kenaikan tarif listrik pertengahan tahun 2005 Dampak kenaikan BBM akan terasa pada perhitungan inflasi bulan Maret dan April. Target inflasi akhir tahun 2005 (BNISec) sebesar 7.5% berpeluang kuat terlampaui 8.7 7.6 7.2 7.6 2003 2004 2005 Avg. Inflation Avg. 1mo- SBI rate INFLASI 7.2 7.0 7.2 6.8 6.3 6.5 6.3 6.5 6.5 6.7 6.3 6.2 6.2 5.9 5.5 5.2 5.1 4.8 4.6 6.4 7.3 Kenaikan suku bunga akan lebih agresif, menanggapi kondisi makroekonomi dalam negeri dan global. Suku bunga SBI 1 bulan diproyeksikan meningkat ke 9.5% akhir tahun 2005. Kenaikan suku bunga diperlukan untuk menjaga level real interest rate yang competitive, stabilitas nilai tukar, capital outflow terutama dari pasar modal. Real interest rate RI mendekati 0%. Suku bunga dunia bergerak searah dengan kebijakan the Fed menaikan suku bunga. Setahun terakhir Fed rate sudah naik 150% dari 1% menjadi 1.5% terakhir. 4.0 4.6 4.2 3.4 3.3 2.6 2.8 2.4 REAL INT. RATE 3.0 3.2 3.0 2.9 2.3 2.3 2.0 1.4 0.9 0.5 0.7 0.2 1.1 1.2 1.2 1.0 0.1 14 12 10 8 6 4 2 - real interest inflasi SBI-1 bln

Kebijakan Ekonomi & Sasaran Program Ekonomi Target Ekonomi + Sosial 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Pertumbuhan Ekonomi 5.00% 5.50% 6.10% 6.70% 7.20% 7.60% Laju Inflasi Pengangguran Terbuka 6.40% 9.70% 7.00% 9.50% 5.50% 8.90% 5.00% 7.90% 4.00% 6.60% 3.00% 5.10% Penduduk Miskin 16.60% 14.60% 12.84% 11.29% 9.93% 8.20% Transaksi Berjalan (NonMigas) -4.60% -5.90% -1.70% -1.40% -2.20% -3.20% Sumber : Anggito Abimanyu, 2005

Kuliah ke 3 4 PENGELUARAN PEMERINTAH Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami mengenai Pengeluaran Pemerintah (government expenditure) dan faktor-faktor yang mepengaruhinya. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Model pembangunan tentang perkembangan pengeluaran pemerintah Hukum Wagner Teori Peacock dan Wiseman Penentuan permintaan Penentuan tingkat output

PENGELUARAN PEMERINTAH Peranan pemerintah menunjukkan tendensi makin meningkat dalam kehidupan ekonomi yang tercermin dari besarnya pengeluaran pemerintah, baik secara absolut maupun secara relatif dalam perbandingannya terhadap pendapatan nasional. Teori makro membagi pengeluaran pemerintah dalam tiga golongan yaitu model pembangunan tentang perkembangan pengeluaran pemerintah, Hukum Wagner serta Teori Peacock dan Wiseman Teori mikro mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah bertujuan untuk menganalisis faktor yang menimbulkan permintaan barang publik dan faktor yang mempengaruhi tersedianya barang publik.

Kuliah ke 5 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat menjelaskan tentang kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Pengertian APBN Kebijakan anggaran defisit, surplus dan seimbang Analisis RAPBN dan realisasi APBN dalam lima tahun terakhir

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Anggaran (budget) adalah suatu daftar atau pernyataan yang terperinci tentang penerimaan dan pengeluaran negara yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu/ biasanya satu tahun. Kebijakan anggaran terdiri dari kebijakan anggaran tidak seimbang (unbalanced budget) yaitu anggaran defisit atau surplus dan anggaran belanja seimbang (balanced budget) Kebijakan anggaran (APBN) kasus Indonesia : analisis RAPBN 2008 dan realisasi APBN 2006

PENERIMAAN PEMERINTAH Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami dan menganalisis Sumbersunber Penerimaan Pemerintah khususnya Pajak Penerimaan Pemerintah Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan Sumber-sumber penerimaan Negara Distribusi beban pemerintah Sistem perpajakan dan politik pajak Pergeseran beban pajak Kesejahteraan yang hilang karena pajak

Kuliah ke 6 dan 7 PENERIMAAN PEMERINTAH Sumber-sumber penerimaan Negara Distribusi beban pemerintah Sistem perpajakan dan politik pajak Pergeseran beban pajak Kesejahteraan yang hilang karena pajak

PENERIMAAN PEMERINTAH Sumber penerimaan negara : pajak, retribusi, keuntungan perusahaan, denda-denda, sumbangan masyarakat, pencetakan uang, hasil undian, pinjaman dan hadiah/hibah. Distribusi beban pemerintah : smith s canon, benefit approach dan ability to pay approach dan equal sacrifice. Sistem perpajakan dan politik pajak : pajak progresif, pajak proporsional, dan pajak regresif. Pergeseran beban pajak : pergeseran ke depan (forward shifting) dan pergeseran kebelakang (backward shifting) Kesejahteraan yang hilang karena pajak yaitu kelebihan beban yang ditimbulkan oleh pajak (welfare cost cost of taxation)

% PDB PENERIMAAN PERPAJAKAN Rasio Pajak thd PDB Langkah dan Kebijakan 14.0 13.5 13.0 12.5 12.0 11.5 11.0 10.5 10.0 9.5 9.0 8.5 8.0 7.5 7.0 6.5 6.0 5.5 5.0 10.3 1999-2000 13.5 13.0 12.6 11.9 2000 2001 2002 2003 Real 13.6 13.6 2004 2005 APBN RAPBN Amandemen UU Perpajakan Penyesuaian Tarif Lapisan PPh Kenaikan PTKP 300% Perluasan subjek & objek pajak Pengurangan distorsi Administrasi Perpajakan Single Indentification Number (SIN) WP Menengah dan Kecil Peningkatan Kepatuhan Perbaikan Audit dan Penagihan Administrasi Kepabeanan Fasilitas Perdagangan Prosedur kepabeanan Kebijakan Cukai Pita Cukai Polos dan Palsu Barang Kena Cukai CD/VCD/DVD/LD

BELANJA PEMERINTAH PUSAT Belanja Pegawai : Mempertahankan pendapatan nominal pegawai dan pensiunan Memperbaiki besaran manfaat Tunjangan Hari Tua (THT) Memperbaiki sharing beban pembayaran pensiun Menampung anggaran untuk penambahan pegawai Subsidi : Kebijakan harga BBM tetap seperti sekarang Non-BBM (listrik, pangan, pupuk, kredit program, PSO, dll) tetap disediakan Pendanaan stok beras nasional Belanja Modal : Investasi sarana dan prasarana pembangunan.

DANA PERIMBANGAN DAU : 25,5% dari Penerimaan dalam negeri bersih 40 35 30 25 20 15 10 5 0 DANA PERIMBANGAN % BELANJA Daerah Pembangunan Pendidikan 2000 2001 2002 2003 2004 2005

APBN 2004 dan RAPBN 2005 dalam triliun rupiah 2004 2005 Keterangan APBN % thd PDB RAPBN % thd PDB A. Pendapatan Negara dan Hibah 349,9 17,5 377,9 17,2 I. Penerimaan Dalam Negeri 349,3 17,5 377,1 17,2 1. Penerimaan Perpajakan 272,2 13,6 297,5 13,6 2. Penerimaan Bukan Pajak 77,1 3,9 79,6 3,6 II. Hibah 0,6 0,0 0,8 0,0 B. Belanja Negara 374,4 18,7 394,8 18,0 I. Belanja Pemerintah Pusat 255,3 12,8 264,9 12,1 II. Belanja Daerah 119,0 6,0 129,9 5,9 C. Surplus/Defisit Anggaran (A - B) (24,4) (1,2) (16,9) (0,8) D. Pembiayaan 24,4 1,2 16,9 0,8 I. Pembiayaan Dalam Negeri 40,6 2,0 37,1 1,7 II. Pembiayaan Luar negeri (neto) (16,1) (0,8) (20,2) (0,9)

Tabel Pendapatan Negara dan Hibah, APBN 2004 dan RAPBN 2005 dalam triliun rupiah 2004 2005 Keterangan APBN % thd PDB RAPBN % thd PDB A. Pendapatan Negara dan Hibah 349,9 17,5 377,9 17,2 I. Penerimaan Dalam Negeri 349,3 17,5 377,1 17,2 1. Penerimaan Perpajakan 272,2 13,6 297,5 13,6 a. Pajak Dalam Negeri 260,2 13,0 285,1 13,0 i. Pajak penghasilan 134,0 6,7 141,9 6,5 1. Migas 13,1 0,7 13,6 0,6 2. Non Migas 120,8 6,0 128,3 5,9 ii. Pajak pertambahan nilai 86,3 4,3 98,8 4,5 iii. Pajak bumi dan bangunan 8,0 0,4 10,3 0,5 iv. BPHTB 2,7 0,1 3,2 0,1 v. Cukai 27,7 1,4 28,9 1,3 vi. Pajak lainnya 1,6 0,1 2,0 0,1 b. Pajak Perdagangan Internasional 12,0 0,6 12,4 0,6 i. Bea masuk 11,6 0,6 12,0 0,5 ii. Pajak/pungutan ekspor 0,3 0,0 0,3 0,0 2. Penerimaan Bukan Pajak 77,1 3,9 79,6 3,6 a. Penerimaan SDA 47,2 2,4 50,9 2,3 i. Migas 44,0 2,2 47,1 2,2 - Minyak bumi 28,2 1,4 31,9 1,5 - Gas alam 15,8 0,8 15,3 0,7 ii. Non Migas 3,2 0,2 3,8 0,2 - Pertambangan umum 1,6 0,1 2,0 0,1 - Kehutanan 1,0 0,1 1,1 0,1 - Perikanan 0,6 0,0 0,7 0,0 b. Bagian Laba BUMN 11,5 0,6 9,4 0,4 c. PNBP Lainnya 18,4 0,9 19,3 0,9 II. Hibah 0,6 0,0 0,8 0,0

Pendapatan Negara dan Hibah, APBN 2004 dan RAPBN 2005 dalam triliun rupiah 2004 2005 Keterangan APBN % thd PDB RAPBN % thd PDB A. Pendapatan Negara dan Hibah 349,9 17,5 377,9 17,2 I. Penerimaan Dalam Negeri 349,3 17,5 377,1 17,2 1. Penerimaan Perpajakan 272,2 13,6 297,5 13,6 a. Pajak Dalam Negeri 260,2 13,0 285,1 13,0 i. Pajak penghasilan 134,0 6,7 141,9 6,5 1. Migas 13,1 0,7 13,6 0,6 2. Non Migas 120,8 6,0 128,3 5,9 ii. Pajak pertambahan nilai 86,3 4,3 98,8 4,5 iii. Pajak bumi dan bangunan 8,0 0,4 10,3 0,5 iv. BPHTB 2,7 0,1 3,2 0,1 v. Cukai 27,7 1,4 28,9 1,3 vi. Pajak lainnya 1,6 0,1 2,0 0,1 b. Pajak Perdagangan Internasional 12,0 0,6 12,4 0,6 i. Bea masuk 11,6 0,6 12,0 0,5 ii. Pajak/pungutan ekspor 0,3 0,0 0,3 0,0 2. Penerimaan Bukan Pajak 77,1 3,9 79,6 3,6 a. Penerimaan SDA 47,2 2,4 50,9 2,3 i. Migas 44,0 2,2 47,1 2,2 - Minyak bumi 28,2 1,4 31,9 1,5 - Gas alam 15,8 0,8 15,3 0,7 ii. Non Migas 3,2 0,2 3,8 0,2 - Pertambangan umum 1,6 0,1 2,0 0,1 - Kehutanan 1,0 0,1 1,1 0,1 - Perikanan 0,6 0,0 0,7 0,0 b. Bagian Laba BUMN 11,5 0,6 9,4 0,4 c. PNBP Lainnya 18,4 0,9 19,3 0,9 II. Hibah 0,6 0,0 0,8 0,0

PEMBIAYAAN ANGGARAN Kebutuhan Pembiayaan: Rp93,4T (4,3% PDB) Defisit APBN Rp16,9T (0,8% PDB) Pokok Utang DN dan LN, termasuk Pembayaran Charges kepada BI Rp76,5T (3,5% PDB) Sumber pembiayaan Dalam Negeri Rp66,7T (3,0% PDB) Rekening Pemerintah Penjualan Aset (eks BPPN) dan Privatisasi BUMN Penerbitan obligasi Luar Negeri Rp26,6T (1,2% PDB) Pinjaman Program Pinjaman Proyek

Pembiayaan, APBN 2004 dan RAPBN 2005 dalam triliun rupiah 2004 2005 Keterangan APBN % thd PDB RAPBN % thd PDB E. Pembiayaan 24,4 1,2 16,9 0,8 I. Pembiayaan Dalam Negeri 40,6 2,0 37,1 1,7 1. Perbankan dalam negeri 19,2 1,0 9,0 0,4 2. Non-perbankan dalam negeri 21,4 1,1 28,1 1,3 a. Privatisasi & Penj aset prog restrukt perbankan 10,0 0,5 7,5 0,3 b. Surat Utang Negara (neto) 11,4 0,6 20,6 0,9 i. Penerbitan 32,5 1,6 50,2 2,3 ii. Pembayaran pokok & Pembelian kembali (21,1) (1,1) (20,9) (1,0) iii. Penambahan Modal BI - - (8,7) (0,4) II. Pembiayaan Luar negeri (neto) (16,1) (0,8) (20,2) (0,9) 1. Penarikan Pinjaman LN (bruto) 28,2 1,4 26,6 1,2 a. Pinjaman Program 8,5 0,4 8,6 0,4 b. Pinjaman Proyek 19,7 1,0 18,0 0,8 2. Pembyr. Cicilan Pokok Utang LN (44,4) (2,2) (46,8) (2,1)

Kurs (Rp/US$) SBI (%) Inflasi (%) Harga Minyak (US$/bbl) Prod/Lifting (jt bbl/hr) : 8.600 (APBN) : 8.5 (APBN) : 6.5 (APBN) : 22 (APBN) 32 (APBN-P) :1.150 (APBN) - 1.072 (APBN-P) Penerimaan + Belanja - APBN PPh Migas PNBP Migas Subsidi BBM Bagi Hasil Migas Tambahan (T) 6.3 29.2 31.0 14.3 Dampak Neto APBN -1,3

Tabel 1. Perubahan Nilai PDB Nominal Akibat Perubahan Tahun Dasar (miliar Rp) PDB Atas Dasar Harga Berlaku (Nominal) Tahun Dasar 2000 Selisih Tahun Dasar 1993 2000 1,389,769.6 124,850.9 1,264,918.7 2001 1,684,280.5 216,625.7 1,467,654.8 2002 1,897,800.0 287,235.0 1,610,565.0 2003 2,086,757.7 300,066.8 1,786,690.9 Tabel 3 Perubahan Rasio Perpajakan dan Defisit APBN Akibat Perubahan Tahun Dasar (miliar Rupiah) ahun Pajak Defisit APBN PDB Nominal PDB Thn. Dasar 1993 PDB Thn. Dasar 2000 Thn. Dsr. 1993 Thn. Dsr. 2000 Tax Ratio Defisit APBN Tax Ratio Defisit APBN 2001 185,540.9 40,484.9 1,467,654.8 1,684,280.5 12.64% 2.76% 11.02% 2.40% 2002 210,087.5 23,574.4 1,610,565.0 1,897,800.0 13.04% 1.46% 11.07% 1.24% 2003 241,626.9 37,691.9 1,786,690.9 2,086,757.7 13.52% 2.11% 11.58% 1.81% 2004 272,175.1*) 24,417.5*) 1,999,663.9*) 2,301,079.4*) 13.61% 1.22% 11.83% 1.06% 2005 297,510.0*) 16,592.8*) 2,190,796.7*) 2,558,731.3*) 13.58% 0.76% 11.63% 0.65%

KULIAH KE 9 10 PAJAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEREKONOMIAN Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat menganalisis pengaruh penerimaan pemerintah khususnya Pajak terhadap kegiatan ekonomi. Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan Pengaruh pajak terhadap produksi Pengaruh pajak terhadap komposisi produksi Pengaruh pajak terhadap distribusi pendapatan

PAJAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEREKONOMIAN Pengaruh pajak terhadap produksi Pengaruh pajak terhadap komposisi produksi Pengaruh pajak terhadap distribusi pendapatan

Tantangan Fiskal: 2005-2009 Penerimaan Negara: Tambahan Penerimaan Pajak:1,5 % PDB (30-40 T /tahun) PNBP menurun 5,3%PDB (2004) 2,4%PDB (2009); Belanja Negara: Penurunan subsidi secara gradual Kenaikan Dana Perimbangan 2007 dan 2008 Tekanan stimulus Pembangunan Kenaikan Gaji dan beban Pensiunan Keuangan dan Pasar Modal Pengamanan Penjaminan Pemerintah NPL Resiko Pembiayaan jangka Panjang Peringkat Indonesia ke Investment Grade Pembiayaan: Mempertahankan Stok Utang Privatisasi + aset terbatas Puncak Pembayaran Pokok dan Bunga Utang 2006-2008 Saldo Rekening Pemerintah menurun

Tantangan Terberat : Puncak Kewajiban Utang Pemerintah : 2006-2009 (Triliun Rp) Bunga Pokok 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009

Kuliah ke 11 Pemerintah dan Pencemaran Lingkungan Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami mengenai peranan pemerintah dalam menangani Pencemaran lingkungan (ISO 14000), Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan Pencemaran dan public goods Pencemaran dan analisis ekonomik Kebijakan terhadap pencemaran

Pemerintah dan Pencemaran Lingkungan Pencemaran dan public goods Fumgsi pemerintah adalah penyedia barang-barang publik (public goods). Aspek negatif penyedia public goods adalah usaha untuk mencegah atau mengurangi akibat negatif public bads khususnya pencemaran lingkungan. Pencemaran dan analisis ekonomik Dalam analisis ekonomi pencemaran lingkungan dicari dimanakah letaknya ongkos pengendalian dan ongkos atau pengorbanan pencemaran yang minimal Kebijakan terhadap pencemaran Kebijakan pengendalian dan pelestarian lingkungan, pengendalian pencemaran mempunyai kaitan erat dengan unsur-unsur kebijakan seperti subjek, tujuan dan instrumen.

Kuliah ke 12 Peranan Pemerintah dalam mengatasi Pengangguran dan Inflasi Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami mengenai peranan pemerintah dalam mengatasi pengangguran dan inflasi Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan Pengangguran merupakan penyakit atau masalah ekonomi makro yang mempunyai pengaruh, baik ekonomi maupun non ekonomi yang luas. Inflasi merupakan salah satu penyakit ekonomi makro yang utama dan pengaruhnya sangat luas, maka semua instrumen dapat digunakan secara serentak untuk mengatasi inflasi, baik kebijkan fiskal, moneter atau campuran dari dua kebijakan tersebut.

Peranan Pemerintah dalam mengatasi Pengangguran dan Inflasi Pengangguran merupakan penyakit atau masalah ekonomi makro yang mempunyai pengaruh, baik ekonomi maupun non ekonomi yang luas. Inflasi merupakan salah satu penyakit ekonomi makro yang utama dan pengaruhnya sangat luas, maka semua instrumen dapat digunakan secara serentak untuk mengatasi inflasi, baik kebijkan fiskal, moneter atau campuran dari dua kebijakan tersebut.

Kuliah ke 13 Kebijakan Fiskal dan Kebijakan di Sektor Riil Tujuan Pembelajaran Mahasiswa dapat memahami mengenai peranan Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Sektor Riil dalam menanggulangi masalah ekonomi. Pokok Bahasan/Sub Pokok Bahasan Kebijakan Fiskal Kebijakan di Sektor Riil

Kebijakan Fiskal dan Kebijakan di Sektor Riil Untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi ekonomi telah banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah, diantaranya melalui kebijkan fiskal atau kebijakan moneter. Ironisnya kebijakan di sektor riil yang melibatkan usaha kecil menengah yang jumlahnya banyak masih relatif langka/jarang. Sehingga pertumbuhan ekonomi tidak dipengaruhi oleh kenaikan investasi di sektor riil tetapi lebih banyak disebabkan oleh konsumsi masyarakat.

Kebijakan Fiskal Sebagai Kebijakan Ekonomi Hubungan Kebijakan Makro Ekonomi Sektor Riil 1. Pertumbuhan Ekonomi 2. Inflasi 3. Iklim Investasi Sektor Pemerintah (Fiskal) 1. Pendapatan 2. Belanja 3. Budget Deficit Sektor Eksternal 1. Neraca Transaksi berjalan 2. Neraca Modal 3. Cadangan Devisa Sektor Moneter 1. Nilai Tukar 2. Suku Bunga 3. Kredit

KEBIJAKAN Fiskal di Indonesia RPJM : Target Fiskal (Dalam % PDB th.2000) 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Defisit APBN -1.40% -1.00% -0.70% -0.30% -0.00% 1.00% Keseimbangan Primer 1.60% 1.80% 1.70% 1.90% 1.90% 2.00% Penerimaan Pajak 12.10% 11.60% 11.60% 11.90% 12.60% 13.60% Rasio Utang LN 25.30% 21.60% 19.30% 16.70% 14.40% 12.60% Rasio Utang DN 28.60% 25.30% 24.60% 22.80% 21.00% 19.20% Sumber : Anggito Abimanyu, 2005

Structure Weeks 8 UTS Weeks 6 7 PENERIMAAN PEMERINTAH Weeks 5 APBN Weeks 3-4 PENGELUARAN PEMERINTAH Weeks 9-10 PAJAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEREKONOMIAN PUBLIC ECONOMICS Weeks 11 PEMERINTAH DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN Week 12 Peranan Pemerintah dalam mengatasi Pengangguran dan Inflasi Week 13 KEBIJKAN FISKAL DAN KEBIJKAN DI SEKTOR RIIL Week 14 REVIEW JURNAL Weeks 1-2 KONSEP DASAR DAN RUANG LINGKUPEKONOMI PUBLIK Week 16 UAS Week 15 REVIEW JURNAL