Jawaban UAS PLKS 2014/2015

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 6 SISTEM OPERASIONAL PERBANKAN SYARIAH. AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH: Teori dan Praktik Kontemporer

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. perbankan, karena perbankan memegang peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. sekunder, maupun tersier dalam kehidupan sehari-hari. Adakalanya masyarakat tidak

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi Islam saat ini cukup pesat, ditandai dengan berkembangnya

BAB I PENDAHULUAN. intermediasi yang menghubungkan antara pihak-pihak yang kelebihan (surplus) dana

Perbedaan Antara Bank Syariah dan Bank Konvensional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur an

BAB I PENDAHULUAN. Tatanan serta operasionalisasi ekonomi yang berprinsip syariah di

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. keuangan menerapkan prinsip-prinsip syariah diantaranya adalah:

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat. Di Indonesia sendiri perbankan syariah menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. konsumtif sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terwujud.

Manusia selalu dihadapkan pada masalah ekonomi seperti kesenjangan. ekonomi, kemiskinan, dan masalah-masalah lainnya. Namun banyak masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

SILABUS EKONOMI ISLAM

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mendalam. Bank syariah yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan, hasil, prinsip ujoh dan akad pelengkap (Karim 2004).

BAB II Landasan Teori

Penyajian Laporan Keuangan Bank Syariah. Elis Mediawati, S.Pd.,S.E.,M.Si.

MENGENAL BANK SYARIAH LEMBAGA KEUANGAN UNTUK UMUM

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Dalam lembaga keuangan, khususnya lembaga perbankan yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. manufaktur dan jasa. Sedangkan sektor moneter ditumpukan pada sektor

Bank Kon K v on e v n e sion s al dan Sy S ar y iah Arum H. Primandari

SOAL DAN JAWABAN AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH

BAB 1 PENDAHULUAN. keuangan atau biasa disebut financial intermediary. Sebagai lembaga keuangan,

LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH THALIS NOOR CAHYADI, S.H. M.A., M.H., CLA

DASAR HUKUM. a. Kegiatan usaha dan produk-produk bank berdasarkan prinsip syariah. b. Pembentukan dan tugas Dewan Pengawas Syariah

MANAJEMEN KEUANGAN SYARIAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perbankan syariah berawal pada tahun 1950an.

PERBANKAN SYARIAH SISTEM DAN OPERASIONAL PERBANKAN SYARIAH AFRIZON. Modul ke: Fakultas FEB. Program Studi Akuntansi.

BAB I PENDAHULUAN. bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito. Biasanya sambil diberikan balas

Ketentuan Dasar dan Karakteristik. Pelaksanaan Kegiatan Usaha

BAB I PENDAHULUAN. suatu badan usaha atau institusi yang kekayaannya terutama dalam bentuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN,

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan masyarakat adalah kegiatan pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI. dengan mengambil judul Analisis Kelayakan Pembiayaan Mikro pada Bank

BAB 1 PENDAHULUAN. hidupnya. Untuk melakukan kegiatan bisnis tersebut para pelaku usaha

BAB I PENDAHULUAN. pihak lain untuk pembiayaan dengan prinsip bagi hasil (mudharabah),

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Menurut Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. nasional Indonesia menganut dual banking system yaitu, sistem perbankan. konvensional menggunakan bunga (interest) sebagai landasan

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

PRODUK DAN REGULASI PASAR MODAL SYARIAH. Training of Trainer Modul

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan

PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA. NOMOR : 35.3/Per/M.KUKM/X/2007 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan usahanya agar lebih maju. pembiayaan berbasis Pembiayaan Islami.

BAB 1 PENDAHULUAN. peningkatan adalah mekanisme pembagian keuntungannya. Pada bank syariah,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perbankan syariah pada dasarnya merupakan pengembangan dari konsep

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

BAGIAN XI LAPORAN LABA RUGI

BAB II PASAR MODAL SYARIAH DAN PROSES SCREENING DES

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. pertama kali yang berdiri di Indonesia yaitu Bank Muamalat dapat membuktikan

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kelembagaan perbankan syariah di Indonesia mengalami

BAB I PENDAHULUAN. menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana. tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya (Kasmir,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kata syariah berasal dari bahasa Arab, dari kata syara a, yang berarti

BAB I PENDAHULUAN. (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usaha usaha berkategori terlarang

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut dikarenakan dari hasil penyaluran pembiayaan bank dapat

BAB II LANDASAN TEORI

2 MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam P

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan bunga baik tabungan, deposito, pinjaman, dll.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN. perhatian yang cukup serius dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin

PERBANKAN SYARIAH. Oleh: Budi Asmita SE Ak, MSi. Bengkulu, 13 Februari 2008

I. PENDAHULUAN. keberadaan bank sebagai lembaga keuangan telah bertansformasi menjadi dua

AKAD MURABAHAH DAN APLIKASINYA

JUDUL STRATEGI OPTIMALISASI PERAN BMT SEBAGAI PENGGERAK SEKTOR USAHA MIKRO Oleh : Prof.Dr.H.Hendi Suhendi, M.Si (Dekan Fakultas Syari ah dan Hukum

BAB I PENDAHULUAN. dengan metode pendekatan syariah Islam yang dapat menjadi alternatif bagi masyarakat,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Keberadaan bank syariah di Indonesia membawa angin segar bagi para

BAB I PENDAHULUAN. sejauh ini perbankan syariah telah menunjukkan eksistensinya dalam roda

MANAJEMEN KEUANGAN SYARIAH

UJIAN AKHIR SEMESTER

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penelitian sebelumnya. Berikut ini uraian beberapa penelitian terdahulu beserta

BAB I PENDAHULUAN. hal Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil, Bandung: Pustaka Setia, 2013,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 6/ 19 /PBI/2004 TENTANG PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan pesat. Pemerintah mengeluarkan UU No.7 Tahun disebut Bank Syariah, yang diawali dengan berdirinya Bank Muamalat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN. masyarakat muslim yang menginginkan agar adanya jasa keuangan yang sesuai

BAB I PENDAHULUAN. secara praktik operasionalnya. Dalam beberapa penelitian dan kajian, ekonomi islam

BAB I PENDAHULUAN. latar belakang pada penelitian ini. Fenomena masalah adalah hal yang

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini hampir semua kegiatan perekonomian. dilakukan oleh lembaga keuangan, misalnya bank, lembaga keuangan non bank,

OPERASIONAL BANK SYARIAH

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut UU Perbankan no.10 tahun 1998 Pasal 1: Menurut Ketut Rindjin pada penelitian Elionasari (2008) bank memiliki

Transkripsi:

Jawaban UAS PLKS 2014/2015 Soal Wajib 1. Soal Pasar Modal a. Screening dalam pasar modal syariah dibagi menjadi dua yaitu screening secara kualitatif dan kuantitatif. Screening kualitatif merupakan screening yang menentukan apakah perusahaan tersebut sudah memenuhi karakteristik untuk memasuki pasar modal syariah. Karakteristik kualitatifnya antara lain adalah melihat apakah perusahaan tersebut bergerak dalam usaha yang dilarang dalam Islam seperti usaha rokok, alkohol, menggunakan bahan yang haram dalam pembuatan produknya dan lain sebagainya. Sedangkan screening secara kuantitaif merupakan screening yang berbasis pada rasio laporan keuangan perusahaan yang akan masuk ke dakam Indeks Saham Syariah. Rasio tersebut adalah rasio bunga utang terhadap total aset atau rasio total hutang pada rata-rata modal perusahaan selama lebih dari satu tahun. Salah sau kriteria yang menjadi acuan screening kuantitatif adalah yang dibuat oleh DJIM (Dow Jones Islamic Index) yaitu antara lain: i. Rasio total hutang dibanding dengan operasi 1 tahun dari kapitalisasi pasar lebih besar atau sama dengan 33%. ii. Rasio jumlah kas dan jaminan bunga dibanding dengan operasi 1 tahun dari kapitalisasi pasar lebih besar atau sama denga 33%. iii. Rasio uang masuk dibanding dengan total asset lebih besar atau sama dengan 45% dari pendapatan. Di Malaysia sendiri, kriteria dalam seleksi kualitatif saham syariahnya sedikit lebih ketat dengan menambah kriteria untuk perusahaan yang memproduksi dan menyebarkan daging hewan (yang halal) yang disembelih tidak sesuai dengan prinsipp syariah maka tidak bisa masuk ke dalam indeks saham syariah. b. Pada dasarnya prinsip berinvestasi secara syariah di pasar modal adalah terbebas dari praktik ghoror (ketidakjelasan), maysir (spekulasi/perjudian), dan tadlis (penipuan) serta berinvestasi pada sektor yang halal dan diperbolehkan secara syariat. Asalkan terbebas dari dan memenuhi kriteria tersebut, maka sudah masuk kepada kategori berinvestasi secara syariah.

Dalam perspektif syariah, seseorang dikatakan sebagai investor apabila melakukan investasi sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah dijelaskan sebelumnya, karena dalam syariah yang dikedepankan dalam berinvestasi adalah keterbukaan informasi dan tidak adanya praktik ghoror, maysir, dan tadlis, sedangkan dalam perspektif syariah seseorang dikatakan spekulan karena dalam gayanya berinvestasi banyak melakukan tindakan yang dilarang secara hukum fiqh muamalah seperti contohnya melakukan praktik short selling karena menjual saham yang belum dimiliki oleh orang tersebut. c. Empat Kategori Aktivitas dalam Pasar Modal Konvensional: i. Short Selling: merupakan jenis praktik taghrir dalam pasar modal karena si spekulan menjual saham yang belum dia miliki. Jelas praktik ini melanggar ketentuan syariah karena adanya unsur ghoror di dalamnya. ii. Margin Trading: merupakan jenis transaksi di pasar modal yang dimana investor membeli saham lebih besar nominalnya dari modal yang dia miliki, dimana kekurangannya akan ditalangi oleh perusahaan sekuritas. Transaksi ini dilarang oleh syariah karena bersifat maysir dan mengandung riba (bunga) dalam pengembalian dana talangan perusahaan sekuritas dari investor. iii. Insider Trading: merupakan jenis transaksi di pasar modal yang dimana investor mendapatkan informasi mengenai perusahaan dari orang dalam perusahaan tersebut yang mungkin tidak diketahui publik lalu bertindak untuk membeli atau menjual saham perusahaan tersebut dalam kondisi mengetahui kondisi perusahaan yang sebenarnya. Praktik ini termasuk ke dalam konsep ghoror dan tadlis karena perusahaan tidak mengeluarkan seluruh informasinya yang berkaitan dan berhak diketahui piblik yang kemudian informasi tersebut hanya dinikmati dan didapatkan oleh sebagian orang saja di pasar modal untuk membeli saham. iv. Window Dressing: merupakan praktik di pasar modal dimana perusahaan mempercantik kondisi keuangan perusahaan. Praktik ini melanggar prinsip syariah karena masuk ke dalam kategori ghisysy dan tadlis dimana perusahaan tidak menampilkan kondisi perusahaan yang sebenarnya dan malah menyembunyikan cacat yang ada.

2. Soal Wajib Pasar Uang A. Perbedaan SBIS dengan SWBI Sertif. Bank Indonesia Syariah Menggunakan akad ju alah, dapat juga dengan akad mudharabah, musyarakah, dan qardh Memiliki return yang lebih besar dari SWBI dan memiliki syarat FDR (Finance to Deposit Ratio) untuk memiliki setifikat tersebut melalui mekanisme lelang. Kurang efektif sebagai kebijakan moneter karena memiliki return yang lebih tinggi dari SWBI, sehingga memancing cadangan likuiditas bank syariah untuk dijadikan SBIS sehingga uang tidak berputar di perekonomian. Memiliki jangka waktu simpanan lebih panjang dari SWBI yaitu 1-12 bulan. Sertif. Wadiah Bank Indonesia Menggunakan akad wadiah Tidak menghasilkan return kecuali uang di swbi diputar oleh BI, lebih efektif sebagai kebijkaan moneter karena menstimulasi Bank Syariah untuk memperbanyak memberi kredit kepada publik. Memiliki jangka waktu simpanan lebih pendek dari SBIS yaitu hanya satu minggu sampai satu bulan, sehingga lebih likuid B. Akad yang mendasari PUAS adalah akad mudharabah atau musyarakah dan bagi hasil yang diterbitkan dari PUAS berasal dari aset yang menjadi dasar penerbitan. Penjual dapat membeli kembali sertifikat PUAS dengan harga yang disepakati di awal dengan pembeli. Risiko yang akan ditanggung oleh pengguna PUAS adalah risiko yang sesuai dengan akad mudharabah atau akad musyarakah yaitu apabila ada kerugian atau nihil maka akan ditanggung bersama. Untuk pembeli adalah risiko pada kondisi dibeli kembali (buyback) jika penerbit PUAS tidak bisa membeli kembali dan menurut regulasi BI, apabila penerbit PUAS tidak bisa melakukan buyback maka akan dikenakan denda atas transaksi tersebut.

Soal Pilihan 1. Soal BMT A. Secara konsep pada dasarnya Baitul Maal wat Tamwil (BMT) merupakan lembaga keuangan Islam yang memiliki fokus sebagai perantara keuangan dalam masyarakat dengan tujuan produktif maupun tujuan konsumtif. Bank syariah yang ada pada saat ini juga menjalankan fungsi sebagai BMT, sebagai contoh warung mikro BSM yang bertujuan untuk pembiayaan UKM atau mekanisme cicilan rumah yang termasuk pembiayaan konsumtif. BMT selain memiliki fungsi pembiayaan, juga memiliki fungsi sebagai penghimpun dan penyalur ZIS (Zakat, Infaq dan Shadaqah) kepada mustahiq dan yang membutuhkan penyaluran dana tersebut. mekanisme yang ada pada BMT tergantung pada jenis operasi yang dilakukan, untuk pembiayaan produktif yang lazim dilakukan oleh BMT adalah mekanisme akad mudharabah atau akad musyarakah, khusus pada koperasi atau BMT berbasis komoditas di desa, juga bisa melakukan akad Salam atau Istishna. Selain itu BMT juga bisa menjalani akad tabarru yaitu qardhun hasan kepada nasabahnya yang mengalami kesulitan keuangan. Untuk kredit konsumtif, BMT biasanya menggunakan akad ijarah muntahiya bit tamlik, untuk pembelian rumah, kendaraan, atau aset yang lain. B. Perbedaan substantif antara BMT dengan koperasi konvensional adalah sistem pembiayaan dan imbal hasil yang diberikan, yaitu sistem bunga dan non bunga (mudharabah, musyarakah, etc) C. Produk-produk pada BMT beserta akad-akadnya Sistem Pembiayaan Sistem Jual Beli Sistem Jasa (Bagi Hasil) A. Jual beli barang secara angsuran: Akad Ba i bi Tsamanin Ajil B. Jual beli biasa: Murabahah C. Pemesanan / Inden komoditas: Bai Salam A. Partnership dalam pembiayaan produktif: Mudharabah dan Musyarakah A. Pinjaman: Qardhun Hasan (tanpa riba) B. Jasa broker atau perwakilan: Wakalah C. Pengalihan Utang: Hawalah D. Gadai: Rahn

D. Pemesanan dengan kriteria tertentu: Istishna E. Pemberian benefit proyek: Kafalah E. Sewa-menyewa: Ijarah 2. Soal Kemitraan Dalam Islam A. Syariah Joint Venture adalah proyek joint venture yang menggunakan sistem syariah dan proyek atau bisnis yang dilakukan adalah bisnis atau proyek yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Akad yang biasanya mendasari joint venture syariah adalah akad musyarakah, karena pada umumnya jangka waktu pelaksanaan joint venture relatif pendek. B. Cara-cara joint venture syariah: 1. Sistem Mudharabah 2. Sistem Musyarakah 3. Mudharabah Muqayyad Dalam praktiknya musyarakah lebih disukai karena sifat pengawasannya jauh lebih tinggi daripada mudharabah. C. Aplikasi kemitraan dan investasi pada bank muamalat merupakan sebuah sistem untuk memperoleh permodalan untuk usaha produktif dari Bank Muamalat. Sistem ini menggunakan sistem syariah joint venture dengan akad musyarakah.